Peradilan Rakyat

Putu Wijaya Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum. "Tapi aku datang tidak sebagai putramu," kata pengacara muda itu, "aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini." Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung. "Apa yang ingin kamu tentang, anak muda?" Pengacara muda tertegun. "Ayahanda bertanya kepadaku?" "Ya, kepada kamu, bukan sebagai putraku, tetapi kamu sebagai ujung tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini." Pengacara muda itu tersenyum. "Baik, kalau begitu, Anda mengerti maksudku." "Tentu saja. Aku juga pernah muda seperti kamu. Dan aku juga berani, kalau perlu kurang ajar. Aku pisahkan antara urusan keluarga dan kepentingan pribadi dengan perjuangan penegakan keadilan. Tidak seperti para pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Bahkan tidak seperti para elit dan cendekiawan yang cemerlang ketika masih di luar kekuasaan, namun menjadi lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan untuk menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya. Kamu pasti tidak terlalu jauh dari keadaanku waktu masih muda. Kamu sudah membaca riwayat hidupku yang belum lama ini ditulis di sebuah kampus di luar negeri bukan? Mereka menyebutku Singa Lapar. Aku memang tidak pernah berhenti memburu pencuri-pencuri keadilan yang bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan gedung-gedung bertingkat. Merekalah yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negeri ini. Kamu bisa banyak belajar dari buku itu." Pengacara muda itu tersenyum. Ia mengangkat dagunya, mencoba memandang pejuang keadilan yang kini seperti macan ompong itu, meskipun sisa-sisa keperkasaannya masih terasa. "Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri." Pengacara tua itu meringis. "Aku suka kau menyebut dirimu aku dan memanggilku kau. Berarti kita bisa bicara sungguh-sungguh sebagai profesional, Pemburu Keadilan." "Itu semua juga tidak lepas dari hasil gemblenganmu yang tidak kenal ampun!" Pengacara tua itu tertawa. "Kau sudah mulai lagi dengan puji-pujianmu!" potong pengacara tua. Pengacara muda terkejut. Ia tersadar pada kekeliruannya lalu minta maaf. "Tidak apa. Jangan surut. Katakan saja apa yang hendak kamu katakan," sambung pengacara tua menenangkan, sembari mengangkat tangan, menikmati juga pujian itu, "jangan membatasi dirimu sendiri. Jangan membunuh diri dengan diskripsi-diskripsi yang akan

menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam, karena kamu sangat diperlukan oleh bangsamu ini." Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang. "Aku datang kemari ingin mendengar suaramu. Aku mau berdialog." "Baik. Mulailah. Berbicaralah sebebas-bebasnya." "Terima kasih. Begini. Belum lama ini negara menugaskan aku untuk membela seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Pihak keluarga pun datang dengan gembira ke rumahku untuk mengungkapkan kebahagiannya, bahwa pada akhirnya negara cukup adil, karena memberikan seorang pembela kelas satu untuk mereka. Tetapi aku tolak mentah-mentah. Kenapa? Karena aku yakin, negara tidak benar-benar menugaskan aku untuk membelanya. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler, bahwa di negeri yang sangat tercela hukumnya ini, sudah ada kebangkitan baru. Penjahat yang paling kejam, sudah diberikan seorang pembela yang perkasa seperti Mike Tyson, itu bukan istilahku, aku pinjam dari apa yang diobral para pengamat keadilan di koran untuk semua sepak terjangku, sebab aku selalu berhasil memenangkan semua perkara yang aku tangani. Aku ingin berkata tidak kepada negara, karena pencarian keadilan tak boleh menjadi sebuah teater, tetapi mutlak hanya pencarian keadilan yang kalau perlu dingin danbeku. Tapi negara terus juga mendesak dengan berbagai cara supaya tugas itu aku terima. Di situ aku mulai berpikir. Tak mungkin semua itu tanpa alasan. Lalu aku melakukan investigasi yang mendalam dan kutemukan faktanya. Walhasil, kesimpulanku, negara sudah memainkan sandiwara. Negara ingin menunjukkan kepada rakyat dan dunia, bahwa kejahatan dibela oleh siapa pun, tetap kejahatan. Bila negara tetap dapat menjebloskan bangsat itu sampai ke titik terakhirnya hukuman tembak mati, walaupun sudah dibela oleh tim pembela seperti aku, maka negara akan mendapatkan kemenangan ganda, karena kemenangan itu pastilah kemenangan yang telak dan bersih, karena aku yang menjadi jaminannya. Negara hendak menjadikan aku sebagai pecundang. Dan itulah yang aku tentang. Negara harusnya percaya bahwa menegakkan keadilan tidak bisa lain harus dengan keadilan yang bersih, sebagaimana yang sudah Anda lakukan selama ini." Pengacara muda itu berhenti sebentar untuk memberikan waktu pengacara senior itu menyimak. Kemudian ia melanjutkan. "Tapi aku datang kemari bukan untuk minta pertimbanganmu, apakah keputusanku untuk menolak itu tepat atau tidak. Aku datang kemari karena setelah negara menerima baik penolakanku, bajingan itu sendiri datang ke tempat kediamanku dan meminta dengan hormat supaya aku bersedia untuk membelanya." "Lalu kamu terima?" potong pengacara tua itu tiba-tiba. Pengacara muda itu terkejut. Ia menatap pengacara tua itu dengan heran. "Bagaimana Anda tahu?" Pengacara tua mengelus jenggotnya dan mengangkat matanya melihat ke tempat yang jauh. Sebentar saja, tapi seakan ia sudah mengarungi jarak ribuan kilometer. Sambil menghela napas kemudian ia berkata: "Sebab aku kenal siapa kamu." Pengacara muda sekarang menarik napas panjang. "Ya aku menerimanya, sebab aku seorang profesional. Sebagai seorang pengacara aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku

sebagai pembela. Sebagai pembela, aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang seadil-adilnya." Pengacara tua mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti. "Jadi itu yang ingin kamu tanyakan?" "Antara lain." "Kalau begitu kau sudah mendapatkan jawabanku." Pengacara muda tertegun. Ia menatap, mencoba mengetahui apa yang ada di dalam lubuk hati orang tua itu. "Jadi langkahku sudah benar?" Orang tua itu kembali mengelus janggutnya. "Jangan dulu mempersoalkan kebenaran. Tapi kau telah menunjukkan dirimu sebagai profesional. Kau tolak tawaran negara, sebab di balik tawaran itu tidak hanya ada usaha pengejaran pada kebenaran dan penegakan keadilan sebagaimana yang kau kejar dalam profesimu sebagai ahli hukum, tetapi di situ sudah ada tujuan-tujuan politik. Namun, tawaran yang sama dari seorang penjahat, malah kau terima baik, tak peduli orang itu orang yang pantas ditembak mati, karena sebagai profesional kau tak bisa menolak mereka yang minta tolong agar kamu membelanya dari praktik-praktik pengadilan yang kotor untuk menemukan keadilan yang paling tepat. Asal semua itu dilakukannya tanpa ancaman dan tanpa sogokan uang! Kau tidak membelanya karena ketakutan, bukan?" "Tidak! Sama sekali tidak!" "Bukan juga karena uang?!" "Bukan!" "Lalu karena apa?" Pengacara muda itu tersenyum. "Karena aku akan membelanya." "Supaya dia menang?" "Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar. Sebab kebenaran sejati, kebenaran yang paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai. Kalah-menang bukan masalah lagi. Upaya untuk mengejar itu yang paling penting. Demi memuliakan proses itulah, aku menerimanya sebagai klienku." Pengacara tua termenung. "Apa jawabanku salah?" Orang tua itu menggeleng. "Seperti yang kamu katakan tadi, salah atau benar juga tidak menjadi persoalan. Hanya ada kemungkinan kalau kamu membelanya, kamu akan berhasil keluar sebagai pemenang." "Jangan meremehkan jaksa-jaksa yang diangkat oleh negara. Aku dengar sebuah tim yang sangat tangguh akan diturunkan." "Tapi kamu akan menang." "Perkaranya saja belum mulai, bagaimana bisa tahu aku akan menang." "Sudah bertahun-tahun aku hidup sebagai pengacara. Keputusan sudah bisa dibaca walaupun sidang belum mulai. Bukan karena materi perkara itu, tetapi karena soal-soal sampingan. Kamu terlalu besar untuk kalah saat ini." Pengacara muda itu tertawa kecil. "Itu pujian atau peringatan?" "Pujian." "Asal Anda jujur saja." "Aku jujur." "Betul?" "Betul!" Pengacara muda itu tersenyum dan manggut-manggut. Yang tua memicingkan

matanya dan mulai menembak lagi. "Tapi kamu menerima membela penjahat itu, bukan karena takut, bukan?" "Bukan! Kenapa mesti takut?!" "Mereka tidak mengancam kamu?" "Mengacam bagaimana?" "Jumlah uang yang terlalu besar, pada akhirnya juga adalah sebuah ancaman. Dia tidak memberikan angka-angka?" "Tidak." Pengacara tua itu terkejut. "Sama sekali tak dibicarakan berapa mereka akan membayarmu?" "Tidak." "Wah! Itu tidak profesional!" Pengacara muda itu tertawa. "Aku tak pernah mencari uang dari kesusahan orang!" "Tapi bagaimana kalau dia sampai menang?" Pengacara muda itu terdiam. "Bagaimana kalau dia sampai menang?" "Negara akan mendapat pelajaran penting. Jangan main-main dengan kejahatan!" "Jadi kamu akan memenangkan perkara itu?" Pengacara muda itu tak menjawab. "Berarti ya!" "Ya. Aku akan memenangkannya dan aku akan menang!" Orang tua itu terkejut. Ia merebahkan tubuhnya bersandar. Kedua tangannya mengurut dada. Ketika yang muda hendak bicara lagi, ia mengangkat tangannya. "Tak usah kamu ulangi lagi, bahwa kamu melakukan itu bukan karena takut, bukan karena kamu disogok." "Betul. Ia minta tolong, tanpa ancaman dan tanpa sogokan. Aku tidak takut." "Dan kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau kamu perlukan, juga bukan karena kamu ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negaramu, bukan?" "Betul." "Kalau begitu, pulanglah anak muda. Tak perlu kamu bimbang. Keputusanmu sudah tepat. Menegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan, seakan-akan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran. Tetapi semua rongrongan itu hanya akan menambah pujian untukmu kelak, kalau kamu mampu terus mendengarkan suara hati nuranimu sebagai penegak hukum yang profesional." Pengacara muda itu ingin menjawab, tetapi pengacara tua tidak memberikan kesempatan. "Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku sudah sangat rindu kepada dia." Pengacara muda itu jadi amat terharu. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. Tetapi orang tua itu mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. Nampaknya sudah lelah dan kesakitan.

"Pulanglah sekarang. Laksanakan tugasmu sebagai seorang profesional." "Tapi..." Pengacara tua itu menutupkan matanya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Sekretarisnya yang jelita, kemudian menyelimuti tubuhnya. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda. "Maaf, saya kira pertemuan harus diakhiri di sini, Pak. Beliau perlu banyak beristirahat. Selamat malam." Entah karena luluh oleh senyum di bibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu, pengacara muda itu tak mampu lagi menolak. Ia memandang sekali lagi orang tua itu dengan segala hormat dan cintanya. Lalu ia mendekatkan mulutnya ke telinga wanita itu, agar suaranya jangan sampai membangunkan orang tua itu dan berbisik. "Katakan kepada ayahanda, bahwa bukti-bukti yang sempat dikumpulkan oleh negara terlalu sedikit dan lemah. Peradilan ini terlalu tergesa-gesa. Aku akan memenangkan perkara ini dan itu berarti akan membebaskan bajingan yang ditakuti dan dikutuk oleh seluruh rakyat di negeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung di udara. Dan semoga itu akan membuat negeri kita ini menjadi lebih dewasa secepatnya. Kalau tidak, kita akan menjadi bangsa yang lalai." Apa yang dibisikkan pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yelyel dan poster-poster raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya diburu-buru. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. Tetapi itu pun belum cukup. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah. Pengacara tua itu terpagut di kursi rodanya. Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak di seluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu. "Setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai profesional, anakku," rintihnya dengan amat sedih, "Aku terus membuka pintu dan mengharapkan kau datang lagi kepadaku sebagai seorang putra. Bukankah sudah aku ingatkan, aku rindu kepada putraku. Lupakah kamu bahwa kamu bukan saja seorang profesional, tetapi juga seorang putra dari ayahmu. Tak inginkah kau mendengar apa kata seorang ayah kepada putranya, kalau berhadapan dengan sebuah perkara, di mana seorang penjahat besar yang terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat seperti bencana yang melanda negeri kita sekarang ini?" ***

besarnya bisa sebesar betis. menyampaikan segenap rahasia yang bagai tidak akan pernah terungkapkan. hanya langit itulah yang ditunggu-tunggu Barnabas. Ya. naluri ikan terhadap bahaya bekerja dengan kepekaan tinggi. karena Barnabas setiap harinya menyelam jua kecuali. berombongan maupun terpisah dan tersesat. yang kali ini tampaknya masih akan bertahan cukup lama. Bahkan Barnabas tak pernah lagi makan ikan yang diburunya itu. Ikan-ikan tak berotak. yang mana pun takkan lepas dari sambaran tombaknya yang sebat. Namun apalah artinya hujan rintik-rintik bagi seseorang yang menyelam dan memburu ikan. pantaslah begitu mudah ditombak. apabila kedua jenis ikan itu lewat meski melesat. seminggu. pada hari Minggu. Kacamata yang digunakannya untuk menyelam memang sudah terlalu tua dan agak kabur jika digunakan untuk melihat dalam keremangan. Dari dalam air. tangannya hanya akan bergerak menombak secepat kilat bagaikan tak menunggu perintah otak. tanpa ikan-ikan itu harus tahu betapa jiwanya sedang terancam. bukan? Barnabas terus berenang di dalam air nyaris seperti ikan. tiga hari. . Ikan yang terlepas dari rombongan dan kebingungan kadang lebih menarik perhatian Barnabas. karena apabila kemudian ia menyelam di dekat batang-batang pohon ke bawah permukaan danau untuk menombak ikan. Ia telah memperhatikan. tahulah Barnabas hujan rintik telah menitik di seluruh permukaan danau. Ia suka mengintai dan mengincarnya dengan hati-hati. sedap jika dibakar. persembahan bagi ibu-ibu yang baru melahirkan. karena langit mendung dan mega hitam bergumpal-gumpal. tanpa harus melirik ke permukaan. memburu ikan. mengapung seperti kayu. tak penting benar berapa lama. Memang hanya langit. hanya bergerak. ketika hanya dengan sudut matanya pun ia tahu mana bukan ikan gabus mana bukan ikan merah. tentu kecuali. saat angin dingin menyapu permukaan danau sehingga air berdesis pelan. sehingga memang tak sadar bahaya mengancam. untuk pada saat yang tepat menombaknya tanpa ikan itu sempat mengelak. betapa ikan dalam rombongan akan lebih kurang berhati-hati daripada ikan yang berenang sendirian. Tentu ia mengenal ikan seperti mengenal dirinya sendiri. tetapi Barnabas beranggapan minyak goreng bukanlah bagian dari kehidupannya. Jadi Barnabas pun tetap harus menipunya. menyelam seperti pemberat dan sekali tangannya bergerak. sangat amat pelan. mungkin karena merasa aman bersama banyak ikan. tak kalah sedap digoreng. secercah cahaya pun cukuplah untuk melihat segala sesuatu yang bergerak. justru karena otak ikan sangat amat kecil. tiada lain selain bergerak. setidaknya dua puluh sampai tiga puluh ikan yang bernasib malang di tangannya sudah tergantung di salah satu tiang dermaga. Namun Barnabas juga tahu. karena pada hari itu Barnabas beribadah. karena memang tak pernah membelinya. Ikan gabus artinya ikan khahabei. nyaris seperti berbisik. Ikan merah artinya ikan gabus merah. Makanya ia pun berenang seperti ikan. kadang tanpa kentara memojokkannya.Mayat Yang Mengambang Di Danau Barnabas mulai menyelam tepat ketika langit bersemu keungu-unguan. dua hari. pikirnya. Jumlah yang cukup guna menyambung hidup untuk sehari. memang harus melesatkan tombaknya lebih cepat dari bekerjanya naluri ikan. Jika langit yang keungu-unguan itu telah menjadi lebih terang. sehingga tidak mencukupi untuk berpikir.

begitu biasa. pikirnya pula. atau dari pulau ke daratan. dan sungguh Barnabas sama sekali tiada keberatan karenanya. membuang sisik dan isi perutmu. batinnya. Dari masa kecil diketahuinya orang-orang menyelam tanpa kacamata dan bahkan bisa mendapatkan ikan lebih banyak darinya sekarang. Langit dan bumi bersenyawa tanpa peduli detak arloji dan Barnabas lebih suka menjadi bagian langit maupun bagian bumi daripada arloji. Barnabas tiba-tiba teringat. aku ingin jadi pemburu ikan. Dari pulau ke pulau. tanpa peduli apakah itu cepat ataukah lambat karena memang tiada waktu yang terlalu tepat maupun terlambat. Langit memang gelapnya agak lebih lama karena mendung dan hujan dan tentu saja ini harus dianggap biasa saja. karena memasang bubu bukanlah berburu dan memasang jala juga bukanlah berburu. setiap orang harus cukup bersabar menantikan makhluk yang akan menyerahkan jiwa hari ini demi kelanjutan hidup pembunuhnya. Homo homini lupus . Aku sabar menunggumu ikan. bagaikan tiada lagi yang lebih biasa. Ia memang tak suka memasang bubu dan tak juga suka memasang jala seperti banyak orang lainnya di pulau-pulau di dalam danau. jadi ke manakah mereka pergi hari ini? Bukanlah karena hujan maka ikan-ikan tidak terlihat. perjalanan dari pulau kecil yang satu ke pulau kecil lain di dalam danau yang dikelilingi perbukitan itu tetap bisa berlangsung. karena pada akhirnya aku akan membawamu ke pasar dan pedagang ikan akan segera memajang dirimu di meja kayu murahan. mungkin juga tiada sebab apa pun selain sedang berombongan mencari makan di tempat lain dengan moncongnya yang tak habis bergerak memamah-mamah. membelimu. tetapi tanpa bantuan penumpang pun. sedangkan ia hanya ingin jadi pemburu ikan dan tiada lain selain berburu ikan seperti yang selama ini dianggapnya sebagai panggilan. Mungkinkah air danau dahulu tidak seperti air danau sekarang? Lebih jernih karena memang lebih bersih dan mata penyelam tak harus menjadi pedas meskipun menyelam berlama-lama? Barnabas tentu ingat betapa pada masa lalu di danau itu segala sesuatunya tidaklah sama dengan sekarang. karena perahu bolotu tidak bermesin tempel. Maka tiada yang dikhawatirkan Barnabas jika pagi ini ikan-ikan seperti bersembunyi. Dulu tidak ada raungan Johnson. Klemen anaknya. pikirnya lagi. pikir Barnabas. .Pada hari apa pun ikan-ikan tidak beribadah. lantas menggorengmu bagi santapan para wisatawan yang akan membuang tulang-tulang dan kepalamu untuk menjadi rebutan ikan-ikan emas di kolam yang tak tahu menahu betapa cepat atau lambat mereka juga segera akan jadi santapan dan tulang-tulang serta kepalanya juga akan dilempar sebagai pertunjukan kebuasan dunia yang tampaknya justru meningkatkan selera makan. orang-orang menggunakan bolotu yang hanya perlu didayung. yang putus sekolah teologia. pernah mengucapkan suatu kata yang tak dimengertinya. Apalah artinya menahan lapar sejenak untuk hidup lebih lama? Nikmatilah hidupmu yang amat sementara itu ikan. tempat koki restoran di tepi danau itu akan menunjukmu. Ada orang ingin jadi pendeta. Namun tetap saja Barnabas merasa jengkel karena ini membuatnya terpaksa memburu ikan lebih lama. Kadang penumpang bantu mendayung.

Ibunya sudah lama meninggal karena cacing pita dan mereka hanya hidup berdua saja. Perutnya terasa agak lapar tetapi tenaganya sama sekali belum berkurang. tetapi pagi ini tampaknya belum ada yang akan mati. dan syidos tahu persis siapa pelaku penembakan di gidinya. Setidaknya di dekat permukaan ini. menjadi pendeta adalah kehidupan terpuji. tapi kudu hati-hati. menyia-nyiakan tabungan hasil berpuluh-puluh tahun berburu ikan. bahwa pendeta yang tidak bicara tentang kemerdekaan gerejanya akan sepi. katanya. Barnabas sungguh tak mengerti apa yang harus dikatakannya. bukit-bukit menghijau. Namun inilah jawaban Klemen anak tunggalnya itu. sampai Klemen pergi ke kota. yang telah memberikan kepadanya mega-mega terindah di langit biru. Klemen tampak sering tepekur. atas restu pendeta. Mereka adalah (self-censorship oleh pengarang) yang menyamar sebagai pasukan sagangrod Tjhitgosoe ede dede nyalabi. senjatanya yang beda. Ya. Negerinya hanyalah sebatas danau dengan tiga puluhan pulau yang dikelilingi tebing serba terjal dan meliuk berteluk-teluk itu. Bahkan jika ikan yang ditombaknya cukup besar dan ikan-ikan terbesar suka menyendiri maka seekor atau dua ekor pun justru akan dibayar lebih tinggi daripada sepuluh ikan yang biasa. batin Barnabas. Aku masih di hongyeb. kami media tinggal tunggu siapa otoritas yang berani sebut siapa mereka. Jangan percaya omongan para petinggi munafik . tempat setiap bukit berpuncak salib. tapi membiarkan darah mengotori bumi . *** Hujan tampak menderas dan ketika Barnabas mengambil napas di permukaan danau memang sepanjang mata memandang hanyalah dunia yang kelabu karena tirai hujan dengan latar belakang bayangan punggung perbukitan di kejauhan. bekas nyahongyeb Dadbdedsya katanya punya data nama-nama pelaku penembakan. Kampus tempat belajar agama pun diobrak-abrik tentara. dan kedalaman di balik permukaan danau tempatnya memburu ikanikan yang baginya merupakan segala dunia yang lebih dari cukup. . Ditambah khotbah para pendeta yang menyejukkan setiap akhir pekan dan pesta rakyat dari segenap pulau setiap tahun. Ia tidak pernah tahu dan tidak butuh apa pun yang lain selain cakrawala negeri danaunya itu. tetapi jika hanya membawa sepuluh atau lima belas pun tidak ada yang harus disesalinya sama sekali. Ia bisa membawa ikatan dua puluh sampai tiga puluh ekor ikan ke pasar.Saat itu Barnabas memang bertanya. beberapa hongibi. untuk belajar menjadi pendeta. seragamnya sama dengan sagangrod ini. apa maknanya Klemen tidak melanjutkan sekolah untuk menjadi pendeta. meninggalkan sekolah di kota untuk selama-lamanya. Di negeri danau. Namun Barnabas merasakan perubahan yang terjadi belakangan ini. itu semua sudah lebih dari apa pun yang bisa dimintanya. tempat kecipak air danau selalu terdengar dari bawah lantai papan dari malam ke malam. Klemen pernah membacakan pesan pada benda kecil yang sering digunakannya pula untuk bicara. ikan-ikan tak tahu kapan akan mati. benarkah sudah cukup kita hanya berdoa? Barnabas bukan tak mendengar orang-orang berbicara dengan nada rendah tentang penembakan dan kerusuhan di berbagai tempat lainnya. Apalah artinya memuja langit. Selama tinggal di rumah mereka. Ini informasi A1. yang pada suatu hari tiba-tiba saja muncul kembali dari balik kabut di atas danau sambil mendayung bolotu.

Barnabas tahu benar. Mereka yang terbiasa menyendiri memang harus menghadapi segala sesuatunya sendirian. dan ikan-ikan kecil lain. Sudah beberapa hari Klemen menghilang. apakah manusia tidak memakan manusia? Barnabas tidak terlalu peduli apakah ia pernah menjawab pertanyaannya sendiri. Manusia kadang masih seperti ikan. Barnabas tidak dapat melihat apa pun. tetapi juga udang dan jengkerik . dan ikan mas. yang masih banyak tinggal ikan-ikan hewu atau ikan pelangi. Di danau itu telah dimasukkan ikan dari tempat asing. yang memisahkan dirinya secara alamiah karena tak dapat lagi berombongan ke sana kemari dengan ikan-ikan kecil meskipun dari jenisnya sendiri. Dari balik kacamata selamnya yang . dan sekarang hanya enam belas jenis. mengepulkan lumpur yang segera saja menutupi pandangan. Perahu bolotu yang digunakan Klemen juga masih di tempatnya. ke tempat ikan besar biasanya menyendiri. dahulu setidaknya terdapat dua puluh sembilan jenis ikan. termasuk ikan laut yang masuk dari muara sungai di sebelah timur. Tak urung. mungkin karena makin jauh bersembunyi. di dasar danau ini tak dapat juga memperlihatkan sesuatu kepada Barnabas. Memang banyak hal tak dimengertinya pula dari gagasan-gagasan Klemen. menyentuh tubuhnya juga dalam perjalanan ke permukaan danau. Seekor ikan khahabei besar yang waspada berkelebat. sesuatu yang mengambang karena gerakan ikan khahabei itu telah melepaskan keterikatannya dari akar-akaran di dasar danau. tak hanya memakan telur-telur ikan gabus. Cahaya yang sejak pagi tidak pernah lebih terang dari kekelabuan dalam hujan. ikan nilem. ketika beberapa malam lalu mendadak terdengar deru perahu Johnson di kejauhan pada tengah malam. ikan tambakan. anak-anak ikan gabus. keberbedaan yang mungkin menurun kepada Klemen. Ikan gabus asli yang disebut khahabei itu harus dicari para penyelam di bagian danau terdalam. Namun di antara kepulan lumpur pekat Barnabas merasakan sesuatu datang dari dasar danau dan ia segera menghindarinya. bahkan sampai menyentuh lumpur di dasar danau. dan di antara pemburu yang biasanya bekerja siang atau malam. tetapi ikan kehilo semakin susah dicari. dan menyelam semakin dalam. mereka bukan sesama penduduk di negeri danau yang saling mengenal sejak dilahirkan. mengingatkan Barnabas kepada dirinya. Sedangkan ikan lohan yang juga asing di danau itu. ikan gete-gete besar dan kecil. ikan gabus hitam yang dahulu berlimpah kini hanya tertangkap dalam jumlah sedang. pikirnya. Penduduk yang masih terjaga saling berpandangan. Maka ikan-ikan asli lain seperti ikan seli. Sedikit pemburu di antara penjala dan pemasang bubu. apalagi ketika ia bicara tentang pernyataan untuk merdeka . mungkin juga memang tinggal sedikit sekali. ikan gabus merah. Barnabas menyelam makin dalam. melesat dan menyusul sesuatu yang segera jelas merupakan sesosok mayat. menyelam. ikan gastor.Maka Barnabas menyelam. Namun gagasan tentang ikan besar yang menyendiri ini. yang ternyata lebih suka memakan telur ikan gabus asli dari danau itu maupun ikan-ikan lainnya. tak dapat bercampur baur dan hanya nyaman dengan golongan sejenisnya. Tetangganya menyampaikan kadang ada orang datang bertanya-tanya tentang Klemen bukan. ikan sepat siam. hanyalah Barnabas yang selalu bekerja tepat menjelang fajar merekah jelas membuatnya berbeda. Tempat mereka telah diisi ikan-ikan asing yang disebut ikan mata merah. ikan nila. itu pun tinggal sembilan jenis yang asli. seperti ikan gabus Toraja. Ia terkesiap dan melepaskan dirinya dari kepulan lumpur. Ikan makan ikan.

Bus kota datang. matanya terpaku kepada sosok itu. Untuk usaha yang ketiga kalinya. dan pengikatnya adalah robekan bendera bergaris biru putih. roknya semi-mini. yang perlahan tetapi pasti menuju ke atas sampai mengapung di permukaan danau. Semua orang yg mencium kakak juga saya tagih lima ratus! ???!!! . belum sampai dia menurunkan lagi resleting roknya. Ini seribu untuk tutup mulut! Terima kasih. Tumini melihat ke belakang ingin tahu siapa yang mendorongnya. sedangkan mulutnya disumpal dengan kain merah. Ia mengulangi untuk menurunkan lagi resleting roknya. Menyadari keketatan roknya. sehingga bodinya yang seksi semakin kelihatan lekuk likunya. Angin keras menyapu seluruh permukaan danau. ia menemui lelaki itu. tangan kiri menjulur ke belakang untuk menurunkan sedikit resleting roknya supaya agak longgar. Yang nggak sopan itu situ. kok pakai uang kembalian segala? Saya tidak mau nakal. Seperti biasa pakaian yang dikenakan cukup ketat. Di antara deru angin yang menarik-narik daun pohon nyiur di semua pulau. Tapi. tumini berusaha naik lewat pintu belakang. ini uang kembaliannya lima ratus! Lho. tapi jangan keras-keras. tapi kakinya kok tidak sampai di tangga bus. Klemeeeeeeeennnn! Salah Nurunin Resleting Tumini seorang wanita dewasa pegawai sebuah kantor swasta asing pagi itu mau berangkat kerja dan lagi menunggu bus kota di mulut gang rumahnya. meskipun tidak terlalu jelas. Pemeras Kecil Seorang anak kecil yang bandel melihat kakaknya dicium oleh teman lelakinya. Barnabas dapat memastikan bahwa tangan dan kaki mayat itu terikat. masih juga belum bisa naik. Hei. ternyata ada pemuda gondrong yang cengar-cengir melihat Tumini. Dengan cahaya yang sedikit lebih baik daripada di dasar danau. Belum bisa naik juga ke tangga bus. Masak belum kenal aja berani-beraninya nurunin resleting celana gue. tiba-tiba ada tangan kuat mendorong pantatnya dari belakang sampai Marini terloncat dan masuk ke dalam bus. sehingga air hujan yang turun dari langit tersibak bagaikan tirai raksasa yang melambai-lambai. terdengarlah jeritan panjang dari tengah danau. Di permukaan itu hujan bukan semakin mereda tetapi menderas. Abang semalam mencium kakakku bukan? Ya. Esok harinya.buram. ough. Bang. Mbak. Berani-beraninya nggak sopan pegang-pegang pantat orang! Si pemuda menjawab kalem. kurang ajar kau.

.!" .. kok kamu sekarang berubah.. ia memberitahukan anaknya untuk segera mengadakan pesta besar perpisahan..si Nyonya ketemu dengan pembantunya yang dulu tapi dengan pakaian yang mewah dengan banyak perhiasan emas.dasar org goblok.. mengapa Ayah berbohong atas penyebab kematian Ayah? Ayahnya menjawab : Sssst...kamu ini gimana. Ditengah kawan-kawannya ia menyatakan : Maaf teman-teman... Saya mengumpulkan Kalian agar tahu bahwa Saya tak lama lagi akan meninggalkan Kalian... hiduplah seorang nyonya yang cukup (sedikit mampu) dengan pembantunya yang selalu buat masalah. kalau kerja itu jangan pake ini (sambil nunjuk kepalanya.." makanya Bu. pembantu itu memecahkan piring untuk kesekian kalinya. 5 tahun kemudian. bahwa mereka sedang bergurau dan bermain dokterdokteran.. makanya kalau kerja itu jangan pake ini (sambil nunjuk lututnya) tapi pake ini (sambil nunjuk kepalanya."?#$#@" Kalau Main Dokter-Dokteran Jangan di Ruang Tamu Sepasang suami istri tertangkap basah oleh anak mereka ketika sedang melakukan hubungan badan di ruang tamu. akhirnya nyonya itu memanggil pembantunya sambil memaki berkata. Anaknya dengan heran bertanya : Ayah.kamu saya pecat. otak-red) tapi pake ini donk (sambil nunjuk dii antara pahanya).. Mendengar khabar tak mengenakkan hati. "Kalau mau main dokter-dokteran jangan di ruang tamu. AIDS telah merongrong tubuh Saya.."akhirnya pembantunya pergi. Suatu hari. Pasangan suami istri itu berusaha menjelaskan kepada anak mereka yang setengah remaja itu... di suatu Supermarket. aku tak mau salah seorang dari mereka akan tidur dengan Ibumu yang cantik setelah aku meninggal kelak ! Kalo Kerja Pake Ini Kerja pake ini Di suatu pinggiran kota... Si-nyonya memanggil. otak-red).. Dengan santai si anak menasihati orang tuanya itu.Sakit kanker ato Aids?? Seorang penderita kanker di beritahukan oleh dokternya bahwa hidupnya tidak lama lagi hanya sekitar 2 minggu lagi.menjadi kaya. nanti kalau ada orang ngeliat kan disangka sedang melakukan hubungan suami-istri." Minah.." Minah.kok bisa???? Si-pembantunya menjawab....

Sebuah Pesawat TNI terbang tidak seimbang karena kebanyakan muatan. gmn kabarnya. dan orang amerika(Jack). kenapa menangis?" tanya tentara lain.. meminum-minuman keras. mungkin karna di rawat sejak kecil dan latihan yang rutin. masih banyak minyak! malah bagi orang2 sana." Amerika kan kaya. " Tenang aja! Indonesia kaya banget kok! Masih banyak.Ada orang jawa(bejo). memperkosa."Dik. masih banyak dollar. Dia lempar orang keturunan Betawi disampingnya ke luar pesawat. orang arab(Hasan). Kali ini dia tidak menangis..Ada seorang preman yg sangat sekali jahat suka mencuri. Si anak malah tertawa.. air lebih berharga dari minyak!" jawab Hasan. lalu dilempar ke luar pesawat. Hasan menjawab." tanya sang ustad bingung. digunakan untuk membersihkan mulut. Lalu mereka melihat anak yang menangis lebih keras. tinggal ucab alahamdulilah langsung tancap. saya ini preman. Bejo kaget lagi. Mereka bertiga naik pesawat bersama-sama. Orang Arab." Arab kan kaya. ." Lho!!?? kenapa kamu buang orang betawi tadi?? Kan kasihan?" tanya Hasan.Kecepetan Cerpen Lucu .. " askum. Kali ini Hasan dan Jack yang jantungnya nyaris copot. apa bila di panggil langsung datang.. Pada saat setelah makan siang.langsung berhenti. Bejo kaget bukan main. mereka membuang pistol. suatu hari dia bertemu seorang ustad dan berkata"pak ustad. "Buang beberapa barang" perintah komandan. " karena saat saya melewati jembatan shirathall musthakim karena neraka letaknya dibawah surga pada saat malaikat melempar saya dan sangat benci dengan tingkah laku saya."Dik. "Kenapa kamu buang duit 100 dollarmu itu?" tanya bejo. Lalu mereka melanjutkan perjalanan dan melihat anak lagi. "loh kenapa anda tidak yakin ?.alkisah pada tahun 2000... pada saat di taman bunga di daerah tretes. Hasan mengeluarkan minyak wangi yang masih baru dan penuh. "Aku kejatuhan pistol. Lalu bejo tak mau kalah.."kata anak tersebut. mereka terlalu kencang melempar dan akhirnya nerakanya kelewatan dan saya malah masuk Pesawat TNI sialan! Cerpen Lucu . kalo mau berhenti tinggal ucap astaufirloh. Lalu bejo melirik ke Hasan. saya tahu dosa saya banyak namun. Akhirnya pesawat dapat dikendalikan kembali. Saat mereka naik mobil. menyemprotkanya ke dada sedikit. "Tadi aku bersin dan rumah itu meledak" kata anak tersebut. mereka melihat anak kecil menangis. kenapa tertawa? apa yang lucu?" tanya komandan.. ia nie kuda penurut."Aku kejatuhan sniper" kata anak tersebut. kenapa menangis?" tanya seorang tentara. saya tidak yakin saya akan mampir ke neraka" ucapnya angkuh. dia bertemu dengan temannya."Dik. ama Amerika Cerpen Lucu . Jawa."Lagi!" lalu mereka membuang sniper."? "baik."Lagi!" lalu mereka membuang rudal. Nama kuda itu adalah alhamdulilah. kuda itu sangat penurut. jack mengeluarkan uang 100 US dollar. Jack menjawab. lalu dibuang. kalau di suruh berjalan ." Lho!!?? Kenapa kamu buang tuh minyak? kan isinya masih banyak?" tanya bejo.. di kota malang ada seseorang yang memelihara kuda mulai kecil. kudanya bagus bangeeet. orang betawi yang hidup disana."hahahahaha" tawa anak itu." Jawab Bejo alhamdulilah namanya Cerpen Lucu .".

karna ucapanya itu.. gkgkgkgk Saking tersentaknya si ibu muda tersebut sampai2 Daster yang ia pakai tersingkap hingga bagian pangkal pahanya. Bu guru: Kalo James Watt.. " aku boleh nyobak gak" " ohh.tinggal ucab hamdalah dia akan berangkat.... karena Bis telah penuh." Tiba-tiba kuda itu berhenti pas di depan jurang itu... dia mengucapkan istifar untuk yang terakhir kalinya.. " ASTAUFIRLOH... kuda tiba-tiba berjalan dan. siapa dia.Suatu ketika di pemberhentian sebuah Bis.tapi belum brhasil juga. tapi Anak dalam celana nie kasihan!!" CERPEN Bu guru: Andi. siapa itu Thomas Alfa Edison.sampai-sampai orang itu tidak bisa mengendalikanya. di depan terlihatlah jurang yang sangat dalam ." kuda itu masih belum bisa berhenti. "ROSULALLAH. "Ehhhmmm" gumam si Pemuda tsb sambil berdiri memberikan tempat duduknya kepada si Ibu muda. monggo...? Andi: Tidak tau bu guru ... tapi Anak dalam perut nie kasihan!!" Dengan muka masam Pemuda tsb kembali memenuhi permintaan Si ibu muda ini sambil menggerutu dalam hati (uuuuggh sudah dikasih tempat duduk.! coba kamu jawab.. ALHAMDULLLIILAHH. tak lama kemudian Pemuda ini sambil berdiri dekat Si ibu muda menyalakan rokoknya. Dia sudah putus asa . "PLAK. Tiba-tiba bis berhenti mendadak berhenti membuat seluruh penumpang tersentak & kaget termasuk Pemuda dan ibu muda yg sedang dalam cerita ini. alhasil perbuatannya menuai protes dari si ibu muda "Boleh ga Rokoknya dimatikan? kalo cuma saya sih ga apa2.dan ." sang teman mulai mengucabkan hamdalah untuk menjalankannya." kua itu berjalan dengan cepat . " INALILAH. tapi Anak dalam perut nie kasihan!!" katanya dengan agak manja dan sedikit memelas. naiklah seorang Ibu muda yang tengah hamil kurang lebih 5 bulan....kuda belum berhenti.? Andi: Ndak tau juga bu guru.. semua kata-kata keluar dari mulutnya.. "Alhamdulilah ya Allah kau masih menolongku". sampai sampai dia memukul dan mengucapkan alhamdullah dengan keras. Namun Ibu muda ini merasa agak kesal setelah naik Bis tsb. pembaca pasti tau apa kelanjutanya? AYO APA??? 'Anak' dalam Celana Cerpen Lucu . boleh gak tuh paha ditutupin!kalo cuma saya sih ga apa2." kuda itu masih tak mau behenti. orang itu sangat senang.. si pemuda meliat hal itu sebagai ajang balas dendam dengan berkata Mbak. dia mengucapkan puji syukur kepada Allah. Bu guru: Andi! Bagaimana sih kamu ini? ditanya ini itu pasti jawab tidak tau Tidak pernah .. dan kalau mau berhenti tingal ucab istifar". dia memukul kuda supaya berjalan lebih cepat . "alhamdulilah berangkatlah kuda" dia merasa bosan karna kudanya jalannya terlalu pelan. "ALLAH'.. ngelarang orang ngerokok lagi)gumamnya... namun tiba2 ia punya ide >gmna klo dia minta kursi sama seorang Pemuda tanggung yg ada di dekatnya. " Boleh ga saya minta tempat duduknya Mas? kalo cuma saya sih ga apa2. kemudian ia berkata kepada pemuda tsb.. karna sangat gugub orang itu lupa kata-kata untuk memberhentikannya...

? Bu guru: Tidak tau Andi: Kalau Bambang Setiono Ibu tau? Bu guru: Tidak tau Emang siapa mereka itu. Kalo cowok ganteng pendiam cewek-cewek bilang: woow. kita khan pasti punya kenalan sendiri-sendiri....belajar ya? Andi: Belajar kok bu guru Lah coba Andi tanya.? Andi: Yaa itulah Bu . kalo cowok ganteng jomblo cewek-cewek bilang: pasti dia perfeksionis kalo cowok jelek jomblo cewek-cewek bilang: sudah jelas..kagak laku. kalo cowok ganteng dapet cewek cantik cewek-cewek bilang: klop. kalo cowok jelek dapet cewek cantik cewek-cewek bilang: pasti main dukun.. Beda Cowok Ganteng Ama Cowok Jelek.. cool banget....... bu guru tau ndak siapa Arifin Widodo.. kalo cowok ganteng berbuat jahat cewek-cewek bilang: nobody's perfect kalo cowok jelek berbuat jahat cewek-cewek bilang: pantes.tampangnya kriminal kalo cowok ganteng nolongin cewek yang diganggu preman cewek-cewek bilang: wuih jantan. kalo cowok jelek pendiam cewek-cewek bilang: ih kuper.. .kayak di filem-filem kalo cowok jelek nolongin cewek yang diganggu preman cewek-cewek bilang: pasti premannya temennya dia...serasi banget........

... kalo cowok jelek diputusin cewek cewek-cewek bilang:.. kalo cowok jelek ngaku indo cewek-cewek bilang: pasti ibunya Jawa bapaknya robot.... kalo cowok jelek naek motor gede cewek-cewek bilang: awas!! mandragade . kalo cowok ganteng naek motor gede cewek-cewek bilang: wah kayak lorenzo lamos .... kalo cowok ganteng ngaku indo cewek-cewek bilang: emang mirip-mirip bule sih..bikin lemas. kalo cowok ganteng bawa BMW cewek-cewek bilang: matching... kalo cowok ganteng penyayang binatang cewek-cewek bilang: perasaannya halus.. khan masih ada aku. tapi telunjuknya meliuk-liuk dari atas ke bawah. kalo cowok ganteng males difoto cewek-cewek bilang: pasti takut fotonya kesebar-sebar kalo cowok jelek males difoto cewek-cewek bilang: nggak tega ngeliat hasil cetakannya ya?...(terdiam...kalo cowok ganteng diputusin cewek cewek-cewek bilang: jangan sedih.keren luar dalem kalo cowok jelek bawa BMW cewek-cewek bilang: mas majikannya mana?.... liat dulu dong bentuknya).penuh cinta kasih kalo cowok jelek penyayang binatang cewek-cewek bilang: sesama keluarga emang harus menyayangi....

Michelle. emang gitu. Aku. Aku yang lulusan S2 sebuah PTN terkenal di Jakarta tak mungkin bersama gadis yang hanya lulusan SMA.. CERPEN Ternyata aku memang mencintainya. Aku tak bisa melupakannya. tak mungkin bisa jatuh cinta pada seorang gadis biasa seperti dia. aku tak mungkin bersama dia. aku sangat mengagumimu. Yah. seorang pemilik bisnis komputer yang cukup terkenal. Aku yang terus berprestasi sepanjang masa studiku hingga sekarang berkarir. lalu berkata "life is beautifull" kalo cowok jelek baca ini. Yah. Entah apa yang membuatku begitu mengaguminya diantara gadis- . Sampai hari ini tiba. di warung milik ayahnya. dan akhirnya mengikat janji dengan gadis yang tak setara denganku?Dan aku yakin bisa menghilangkan rasa yang sebenarnya telah tumbuh sejak pertama bertemu dengannya. kalo cowok ganteng nuangin air ke gelas cewek cewek-cewek bilang: ini baru cowok gentlemen kalo cowok jelek nuangin air ke gelas cewek cewek-cewek bilang: naluri pembantu. ternyata semua prediksiku salah. kalo cowok ganteng bersedih hati cewek-cewek bilang: let me be your shoulder to cry on kalo cowok jelek bersedih hati cewek-cewek bilang: cengeng amat!!. Sosok yang begitu sederhana.laki-laki bukan sih? Kalo cowok ganteng baca e-mail ini langsung ngaca sambil senyum-senyum kecil. Semakin aku mengenalnya. sedetik pun. tak mungkin berniat serius dengan anak seorang pemilik warung pinggir jalan seperti dia. Terlebih akhir-akhir ini.. alasan itulah yang selama ini membuatku tak berani meneruskan rasa ini. seakan aku tak bisa lepas lagi darinya. trus triak sekeras-kerasnya. ngambil tali jemuran. Sungguh.lewat.. 6 bulan lebih aku tetap pada pemikiranku itu. Apa kata dunia bila aku pacaran. Setiap malam aku memikirkan ini.. Frustasi. Keyakinanku goyah.. dan sekarang baru aku merasa yakin kalau rasa ini memang hanya untuknya..

Warungnya memang masih sepi. menawarkan menu andalan warungnya. es kelapa muda dan soto Babat tapi tanpa nasi. Aku hanya mengagumi saja. Ternyata ayah Michelle open mind person. juga senyumnya. sekilas tak ada yang menarik dari wajahnya. Tapi toh akhirnya aku masuk juga. Akrab sekali. dan sangat bijak menyikapi suatu masalah. disiplin. Dia pintar. tapi aku tak pernah bisa memilih. Sampai saat aku melihatnya tersenyum pada ayahnya sewaktu mereka asyik bercanda. Aku terpesona pada dirinya. Entah kenapa tiba-tiba saja aku menghentikan laju mobilku dan memutuskan mengikutinya. bukan mencintai. Aku akui setahun yang lalu aku pernah berniat serius dengan salah satu branch office managerku di kantor cabang daerah Surabaya. sampai pada hari ke delapan pengintaianku. Sebuah keputusan sulit karena sebelumnya aku tak pernah makan di pinggir jalan. Membicarakan obrolanobrolan ringan seputar topik-topik hangat yang menjadi headline di surat kabar. Dan hal itu berlanjut terus hingga satu minggu. dari keluarga yang disegani. Ternyata dia lalu masuk di sebuah warung pinggir jalan tak jauh dari tempatku berdiri memandangnya. setelah . Menanggapi omongan ayahnya yang kadang memang suka diselingi dengan canda. karena mungkin memang masih terlalu pagi. aku memutuskan untuk makan di warung itu. berkenalan dengan ayahnya. Dengan tangannya yang cekatan dia membersihkan meja. Dan aku memang sengaja memilih waktu ini agar aku bisa menemukan jawaban atas kelakuan anehku seminggu ini. Yap. Aku termasuk orang yang sangat berhati-hati dengan makanan. Ada banyak pilihan buatku. melayani pesananku dengan bantuan seorang lelaki paruh Baya yang akhirnya aku kenal sebagai ayahnya. Tanpa sadar. disamping perasaan lain yang aku rasakan semakin tumbuh subur pada Michelle. Dia sibuk melayani pembeli. keramahannya. Hingga berbulanbulan aku selalu sarapan di warung itu. hanya karena status sosial dan keadaan Michelle yang sangat sederhana. Aku seakan merasa begitu dekat dengan mereka. kenyataannya. Dan aku merasa berbeda dengan Michelle. aku jadi mak comblang untuk orang yang katanya aku sayangi. dan mulai memilih makanan apa yang akan aku santap. Tapi aku juga tak mengerti kenapa tiba-tiba saja perasaan itu hilang justru setelah kami semakin saling mengenal. dan akhirnya aku membiarkan dia dinikahi seorang staff perbankan rekanan bisnisku. Tak jarang Michelle turut menyela saat dia tak sibuk melayani pembeli. Dari obrolan biasa. sesekali menyeka keringat yang menetes di dahinya. Tapi pagi ini. Aku sedang jatuh cinta! *** Saat itu aku melihatnya sedang membantu seorang nenek menyebrang di jalanan yang memang sangat ramai. istilahnya. semangatnya. berwawasan. Saat dia datang lagi dengan pesananku. aku benar-benar tak mengerti apa yang membuatku nekat melakukan ini. Tapi seperti apa yang aku ungkap sebelumnya. Tak ada satu gadispun yang sanggup menyita waktu dan pikiranku seperti Michelle. rasa percaya dirinya. Pandanganku terus mengikutinya. menerima pembayaran dari pembeli. Walaupun sebelumnya ada banyak penyangkalan dan pemikiran rasional atas perasaanku padanya. Dia berlalu. Akhirnya aku temukan. loyal. dan yang paling penting. hingga masalah serius menyangkut masa depanku aku bicarakan padanya. aku tahu jawabannya. pintar. Kesahajaannya. gadis selevel. Aku tak pernah canggung dibuatnya. hingga cerita soal keluarganya.gadis lainnya. berkarir. Dia datang. Dia biasa saja. mengantar pesanan. Aneh kan? Akhirnya setelah aku mengenal Michelle. aku mengakui sekarang. dia juga berniat serius denganku. hampir dua jam aku disana memandangnya. Aku tetap berdiri disana. aku tak berani mengakui kalau ini adalah rasa cinta. Aku mengikuti sarannya. karena aku tak biasa mengenyangkan diri di pagi hari.

Lalu datang ayah Michelle. Huff!! Aku menarik nafas lega. Rasa ingin tahunya sangat tinggi. Untung aku cepat menguasai keadaan hingga mobilku bisa berhenti di pinggir jalan sebelum sempat menabrak pohon beringin besar di sisi jalan itu. Yah. Nenek itu baik-baik saja. bahwa mereka. melihat keadaan dan menenangkan Michelle. juga ayahnya. terlebih Michelle tak berorientasi pada status dan materi bila mengenal seseorang. Tak meneruskan studi tak membuat Michelle berhenti belajar. berbeda dengan orang-orang yang selama ini berada di dekatku. Tapi seakan dia tak melihatku. lahir dan batin. Lirih juga kudengar dia menyebut namaku. Aku tak mengerti. Aku tak berniat membohongi mereka. agar dia yakin aku bisa mencukupi kebutuhan materinya. termasuk Michelle. Yang mereka tahu aku hanya seorang wiraswasta yang sedang meniti karir. aku ingin sekali membuatnya bahagia. Segera saja kudekati Michelle. Tapi sudah ada banyak orang yang datang dan menolongnya. Aku heran melihatnya. aku akan mengubahnya.semalaman aku berpikir keras. tapi aku masih bisa mengenalinya. Tapi kelihatannya dia baik-baik saja. Ternyata ada banyak orang di sekeliling mobilku. Aku sudah tahu banyak tentang latar belakang Michelle. membuat aku semakin tak bisa melepas pesonanya. Melihat Michelle yang masih terus menangis. Studinya mandek bukan karena otak Michelle tak mampu. hanya keadaan yang kurang menguntungkan baginya. penuh darah. Tapi Michelle terus menatap ke arah mobilku sambil meneteskan air matanya. Dia segera memeluk nenek tua itu sebelum dia menjerit dengan kerasnya. aku sudah mantap pada pilihanku. dan berjalan mendekat. Dia adalah aku . tapi karena dia mengalah untuk adik-adiknya. Aku heran. Segera kupacu Soluna hijau metalikku dengan hati yang tak menentu. hanya agak terkejut sedikit mungkin. hanya saja aku tertarik dengan ketulusan dan keramahan mereka pada setiap orang. Aku keluar. Lalu aku melihat wajah itu. Aku tak tahan melihatnya menangis tersedu seperti ini. Setelah tikungan itu aku akan segera sampai. Dan itu menjadi satu bukti padaku. tapi ups!!! Nyaris saja aku menabrak seorang nenek tua yang menyebrang tertatih. tak perduli status sosial mereka. berlari mendekati mobilku. Karena aku yakin sanggup menafkahinya. gadis yang ingin kunikahi itu. termasuk menyekolahkan kedua adiknya. bahkan sekarang bisa berdiri tanpa bantuan Michelle. hanya ingin mengetahui keadaaan nenek tua itu. Dan sekarang. Aku semakin mantap dengan keputusan ini. Selama ini aku memang tak mengenalkan diriku yang menjadi direktur utama Perusahaan spare part komputer dengan banyak kantor cabang di seluruh Indonesia. Berhenti memikirkan nafkah untuk keluarganya. Kali ini aku berniat memarkirnya di depan warung ayah Michelle. menarik tubuh seorang lelaki muda yang bersimbah darah dari kursi depan mobilku. Banyak yang dia tahu. Ada segulir air mata jatuh di pipinya. Yah. termasuk masalah komputer.

Lho. tiba-tiba Sum sedikit membentak. Rumah kita masih bocor. Kamu itu mimpi . betapa pun belum pernah menikmatinya. Matanya terasa basah. Sum mencoba menjelaskan. Ia lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. musim hujan tahun lewat dan sebelumnya juga. Kita harus hati-hati bawa tart sangat istimewa itu. lakinya membentak.Tart di Bulan Hujan Ternyata harganya tiga ratus tujuh puluh lima ribu. Uncok memberi komando. Barang apa yang kau bicarakan itu. Sum tenang saja. Pak. Kok kamu mikirin roti tart yang. Jangan biarkan di situ. polisi. seakan ia hendak menangis. Kau ini edan. Kilat sesekali menggebyar. menteri. roti yang diberi gula yang berbentuk bunga mawar itu harganya tiga ratus lima puluh ribu. Ah. alangkah lebih bahagia ia jika bisa memberikan sesuatu yang dinilainya luar biasa. Kemudian hujan pun rintik-rintik. alangkah bahagia diriku. Biarkan tiris membasahi rumah. kata lakinya. Beli roti bagaimana? Uncok gantian membentak. Nyediain nasi aja susah. kata Sum kepada lakinya. Enggak ada copet. si bocah itu pasti seneng banget. kan. Kedua tangannya dilekatkan pada dada dan membentuk sembah. Roti itu besar. Itu makanan menteri. Itu rezeki kita: air. dan wali kota serta para koruptor. Pulangnya naik becak aja. kata Uncok lagi sambil mendongak. Lakinya tetap tak paham. Kita bisa naik bus Trans Yogya Pak. Bayangan di depan matanya sangat jelas: tart dengan bunga-bunga mawar. kata Sum. Tahu?! Kita makan nasi aja sama sambal . harganya triliunan rupiah. Di langit ada mendung yang memberi sasmita akan hujan. Kurang beberapa hari lagi. apalagi mencicipi. sahut Sum. jaksa. Pikirannya masih melanglang ke toko roti. mau hujan. sekarang naik dua puluh lima ribu. Dan kau malah mau beli tart lima triliun. Pak. bisik Sum. Sum sendiri belum pernah mendapat hadiah seperti itu. Uncok tak tahan. menunduk. saya bilang. Apanya yang kurang beberapa hari lagi? Uncok membentak. bupati. kok beli roti mewah kayak gitu. Edan kau itu! Sum diam. Sum tak menyahut. Kalau dia bisa seneng. . Hakim. Tapi. Uncok. kok mahal amat? bertanya suaminya. Saking kepinginnya beli tart. Naaah. cukup untuk satu keluarga dengan beberapa tamu. Lakinya menegaskan. kata Sum memecah kesunyian. Ngerokok lagi. anggota DPR nyolong semua. Tuhan. Ngerampok? Kau punya pistol atau bedil? Enggak! Kau cuma punya pisau dapur dan silet untuk mengerok bulu ketiakmu . Duitnya sapa? Nyolong? Tak ada yang bisa kita colong. aman. Betapa bahagianya anak yang diberi hadiah itu. buat kita. Tapi. Belum bisa beli plastik tebal penahan tiris. dengan tulisan Happy Birthday. Ia menarik rokok sebatang dari bungkusnya dan mencoba menyalakan korek. ya. Kamu kok semakin edan. Malam merambat larut. tempat tiris deras . Pindah-pindahin bantal-bantal. Tiba-tiba sepi. Pak. pengacara. perkenankan saya membeli tart untuk ulang tahun si anak miskin itu. Tidak diketahui dengan pasti apakah malam itu jadi hujan atau tidak. Apa enggak bisa uangnya sedikit disimpan untuk tambahan beli roti. Pak. Kiamatnya apa gimana? Kita memang mau kiamat. Tak mendengarkan omelan suaminya.

Aku hanya ingin si bocah bahagia pada hari ulang tahunnya. gumamnya. saat ulang tahunnya di bulan hujan nanti. jawabnya. Tapi aku harus beli tart itu. deket toko onderdil motor itu. Di mana tokonya. rumahnya di Surabaya. buat si bocah. Ia bakal senang. Buat si bocah. Dua tahun lalu. Oh. malah ada yang naik mobil. Aku harus membeli tart itu. aku ingin ingatkan kalau untuk anak-anak gelandangan. Sum. Bu. Perjalanan makin panjang. Cukup beberapa potong roti santen apa roti bocongan atau roti teles yang seribuan ditambah minuman dawet. Anakmu ulang tahun? desak Bu Somyang. Kadang harus cari jalan lain. Tapi gini: semoga ia senang. tapi kalau dianggap anak saya. Bu? tanya Sum. Kalau ada tamu. Artinya bensin boros. Kamu mau beli? tanyanya. O. tanya Sum lagi. gumam Sum. Astaga! Gaji Sum kerja di home stay hanya dua ratus lima puluh ribu sebulan. ya enggak papa. Sum menunduk. seperti menyala dalam hatinya. melihat roti itu. . Sum diam. gumamnya lagi. Ketika kembali ke home stay. Tiga ratus lima puluh ribu. Oooo. apa pun yang terjadi. Sum mengangguk. enggak. yang sopir bus. kalau mau. tetapi cuma cukup buat beli soto Pak Gareng tiga ribuan. anak yatim piatu di panti asuhan yang kamu pungut? Bu Somyang mendesak. memanggil taksi dan meluncur ke toko roti Oberlin. Padahal. Bisa tuman.*** Gagasan beli tart dengan bunga-bunga mawar itu sudah lama muncul di benak Sum. tak selalu bisa bawa uang cukup. saya butuh sekali bahagia dengan melihat si bocah bahagia. padahal bahan bakar mesti dibeli sendiri. Sering macet. kurang baik. jawab Bu Somyang. Ia pun membeli tart ulang tahun dengan tulisan Happy Birthday dengan lima lilin menyala. indahnya. Kebanyakan tamu yang datang sedikitnya naik motor. menginap lima hari di Yogyakarta karena urusan disertasi. enggak begitu mikirnya. ia teringat ulang tahun anaknya. jawab Sum. Ah. Kalau anak-anak dibiasakan makan-minum yang mewah-mewah. Jantungnya terasa tertusuk oleh kata-kata yang diucapkan karena ketidaktahuan. Ia masih harus memikirkan seragam anaknya. Astaga. Jalan makin padat. Ia membawa putranya. Buuukan anak saya. Tapi. belum pernah ada yang membawa tart. Dan tepat satu hari kemudian. Ia berkata. Tuhan. gumamnya. Kata-kata itu mendengung kembali di telinganya ketika ia menatap mulut Bu Somyang yang mengerikan. hina dan sakit orang yang tak paham kalau ia tak paham. malanglah dia orang yang tak tahu kalau ia tak tahu. perkenankan ia senang menerima persembahan roti dari saya. Aku harus beli tart itu. Sum aku tak paham. Tuhan. ya enggak usah tart kayak gini. ia memang sering mendapat tip. Waktu itu Bu Somyang Kapoyos. Berapa harganya. Lilinnya menyala. ketagihan. Suaminya. Tergetar. Itu pun tiap gelas cendolnya lima belas atau enam belas biji saja. Cepat-cepat ia berganti pakaian. jawab Sum. Motor jutaan memenuhi jalanan. yang sedang menyapu lantai. Bukan. Selama bertahun-tahun aku menyaksikan perayaan ulang tahun si kecil. mereka bisa beli. Heran! Bagaimanakah pikiran orang-orang itu. Di ulang tahunnya di bulan hujan. Beberapa tahun silam pernah seorang penyair diminta berkhotbah di gereja. Apa pun komentar orang aku tidak peduli.

warga sudah sering kumpul-kumpul menyiapkan pesta ulang tahun. Aku akan buruh nyuci di kos-kosannya Pak Nur Jentera. setahun.Dua minggu setelah menyaksikan tart yang menggetarkan. Aku ingin sekali merasakan bahagia ketika bocah itu bahagia. Saya mau beli sendiri. pelayan mendesak. Sum menegaskan. Ia berkeringat dingin. Di malam hujan. Tapi tidak sekarang. Akhirnya. kan. Ada apa Bu. ya? Pak Karta tidak menjawab. ia menggiring Sum ke luar toko. Masih ada waktu. aku lega banget. jawab Sum sangat pelan hampir tak terdengar. Ibu mau beli roti? desak pelayan toko. Iyaa. Pokoknya. Sum memutuskan menabung di rumah sendiri. alangkah kecewa ketika ia menengok di toko roti Oberlin. Oooo. Uang para nasabah dibawa lari oleh petugas bank sendiri dan bank tidak bertanggung jawab. kan. gumamnya. dan mulai curiga. Perempuan itu melangkah ke luar. tiga ratus enam puluh ribu. si Domble. Ia merencanakan menyisihkan uangnya lima belas ribu setiap bulan. Sum menggeleng. Kurang empat puluh lima ribu. Tiba di rumah. Oooo. Dan pandangannya berkunang-kunang. gumamnya sambil menghitung uang receh. semua bakal beres. Kalau ia sukses lebih menekan kebutuhan. Tapi kalau aku berhasil nyuci pakaian di kos-kosan Pak Nur Jentera. Ia ingat. Bagaimanapun masih ada kekuatan. Aku tetap bahagia di neraka. kegiatan menabungnya hampir genap dua tahun. Kalau yang aku lakukan dianggap keliru oleh sidang malaikat dan aku harus masuk neraka ya enggak papa. Slamet bilang. Pak Karta Wedang memberi tahu bahwa bank kadang-kadang tak bisa dipercaya. Lalu. Ia menjadi pucat. Ya. begitu? Sum menggeleng. enaknya gimana. ia harus membeli nasi buat anaknya. tetapi keleknya terasa basah sekali. *** Esoknya sudah mulai memasuki bulan hujan. Haaah? Pelayan toko kaget sambil memandangi penampilan Sum. Tuhan. Mau beli. Karena itu. Di lingkungannya. Yang mana? Sum menuding tart mahal itu. gitu . Dua tahun. aku bisa beli tart buat si kecil. Ia sedikit lemas. mati dengan bahagia sekali karena sudah bisa mempersembahkan roti tart di bulan hujan. Tapi. Dan pada bulan hujan tahun ini. Di minggu hujan. Ya. kamu disuruh majikanmu lihat-lihat harganya. Pak Jentera baik banget sama orang duafa. Ia tak sabar lagi. tart yang dibayangkan sudah naik harganya. Hatinya bersorak-sorai . Saya sudah menabung. kata Sum. Dan masih sisa sepuluh ribu. Beda banget dengan Wak Zettep yang pelit banget dan tukang mempermainkan orang. bulan hujan tahun ini aku harus beli tart untuk si kecil. Horeeeee! Dua tahun lagi. Ketua Lingkungan menyarankan agar Sum menabung di bank. Ketika dikonsultasikan. gumamnya. Tart itu untuk si bocah. dengan cara halus. Di gereja banyak . Pelayan toko tak paham. di bawah pakaian. biarkan saya percaya bisa membeli tart untuk si bocah. ia langsung mengambil uang tabungannya yang disembunyikan di dalam lemari. Ia pun menghitung hari. Apalagi lalu lintas hiruk-pikuk. jawab Sum. Kalau aku sudah berhasil membeli tart untuk si bocah. seratus delapan puluh ribu. Sum menunduk. Aku rela mati. Pelan sekali. Tapi. sakit? tanya pelayan toko. Sum lemas. Sum memutuskan menabung. Punggung terasa sedikit basah.

ya. jawab Sum. Enggak. kata Sum dalam hati. Sum tak pernah diajak. perayaan Natal dengan tart di depan Kanak-Kanak Yesus itu menurut ayat Kitab Suci yang mana. apakah Bu Jentera ini malaikat utusanmu. Sum selalu merasa tak pantas duduk sama rendah berdiri sama tinggi dengan mereka. jawab Sum. Alasan ibu-ibu kaya. Ya Tuhan. Apa boleh Bu Sum membawa tart masuk gereja. Ia langsung duduk dan mendengarkan cerita istrinya tentang rencana Sum. bahkan boleh dikatakan setiap hari. sebelum saat pembelian tart tiba. Tapi Sum tetap tenang. . sangat baik cantik sekali. Sum selalu merasa dirinya orang duafa yang tempatnya di pinggiran. menemui suaminya. Bahkan lebih. engkau begitu dermawan. aku tak paham. Kan anak-anak pasti akan datang.pengumuman tentang kegiatan menyongsong pesta itu. Sum hampir tak memercayai telinganya. Tanpa menggubris. Hujan pun turun. kata-kata Bu Somyang di ulang di sini. Apalagi ia membawa uang berlebih untuk beli seragam si Domble. kan. Sementara itu. Ah. Uncok terdiam mendengar cerita Sum tentang Bapak Lingkungan. mendekap istrinya. Tapi baiklah. jerit gembira hati Sum. tak ragu-ragu ia memberi Sum upah tambahan. Sekali ia memanggilnya ke rumah. bukan dia anak baik-baik. luar biasa ibu ini. sambungnya. Di samping itu. menderas. tapi kalau dibilang anak saya. Juga uang buat rokok. teologinya apa . bagus. di tangannya sudah ada uang cukup. sibuk bantu rumah tangga sana-sini. kata Bu Jentera lagi. Tepat pada saat itu. Uncok. O. anak pungut? Di panti asuhan dekat rumah Wak Zettep yang terkenal pelit itu? Bu Jentera bertanya lagi. lelaki itu terpesona dengan cara kerjanya yang cekatan. Hatinya bersorak-sorai. Bukan anak saya Bu. Ia berdiri lalu tangan kanannya merogoh dompet di saku belakang. kata Bu Jentera. ada tambahan tiga ratus. katanya dengan tenang. kalau mau beli tart. Maka. Sum. Sepi. Dengan senang Pak Jentera menerima Sum. Tart? Tart? Siapa yang ulang tahun? Anakmu? Bu Jentera kaget dan bertanya setengah mencecar. ya enggak papa. Ia pun lari ke Bapak Ketua Lingkungan menceritakan rencananya. apalagi meletakkan tart itu di depan patung Kanak-Kanak Yesus di dalam Goa? Pak Koster pasti takut gerejanya kotor. kemudian. enggak pesta kok. Mbak Sum mesti beli roti lain untuk tambahan. Bu. Ah. kata Pak Jentera. pandangan matanya menggetarkan. Bu Jentera juga luar biasa perhatiannya. cuma mau beli tart. Ya Tuhan. kata Sum dalam hati. Nih. jawab Sum. Nih. Wuuuah. Hati Uncok trenyuh. gumam Sum. aku ngiur dua ratus ribu. Sum berangkat ke toko roti. Mana ada waktu buat gini-gini. Karena itu. Pastor paroki akan tanya. bagus. kata Bu Jentera sambil senyum sangat manis. yang kebetulan tak nyopir. ramerame. Laki itu merasa harus berbela rasa dengan istrinya. kalau ia diajak. Dengan gemetar Sum menerima uang itu. Ooooooooo. Lho. Kamu mau pesta apa pada natalan nanti. yang baik sekalian. Pak Nur Jentera tiba di rumah dari sepeda-an bersama persekutuannya. Lama. Tampaknya. Sebelumnya mampir ke rumah dulu.

Sum memeluk suaminya. kata Tanpoting. tapi ada senyum dan tawa meriah. Mereka memperkenankan aku memakai ini semua. pulang dulu. ketika dengan kejamnya Lik Sol mengenalkan arti perih sesungguhnya. hebatnya dikau. Pukul setengah empat sore Sum tiba di rumah. Sum tak bisa berkata apa-apa. Si Domble pun ikut menari-nari sambil sesekali nyuri mencolek tart yang dibalut gula-mentega-cokelat yang lezat luar biasa. Tidak masuk akal. Nanti malam. lambah-lambah. pemilik toko roti itu. Mereka menari-nari di depan patung Kanak-Kanak Yesus dan tart. Patung Kanak-Kanak Yesus menatap mereka dengan senyum. Anak-anak berebut membersihkan rumah yang basah dan kotor luar biasa. Kegembiraan meluap. Tapi. Mereka akan menyanyi panjang umurnya. Sum tersedu karena haru dan bahagia . Mereka tak percaya Sum punya uang untuk beli tart hampir empat ratus ribu. Ego yang berbalut nafsu itu biang keladinya. Lalu anak-anak akan menyantap tart. Menjelang pukul sembilan malam. tapi mengapa nasibku jadi berputar seratus delapan puluh derajat? Sebelas tahun usiaku waktu itu. asal Dukuh Menjangan. panjang umurnya. kata Uncok. tapi mengapa nasib tak berpihak juga? Namaku Limbuk. Alangkah kagetnya dia melihat goa dengan Kanak-Kanak Yesus di dalamnya sudah disiapkan lakinya di tengah rumah. kata lakinya. Hidupku isinya cuma kesedihan. kata suaminya. anak-anak kita undang ke rumah ini merayakan ulang tahunnya. kecuali di atas tart. Kue-kue lainnya pun disiapkan. Persis hujan turun dengan sangat deras dan rumah sepasang merpati itu tiris di sana-sini. Tuhaaan. Diam-diam Sum menatap pandangan mata anak-anak yang datang. panjang umurnya serta mulia . Suaminya berubah tiba-tiba. Lagipula tak ada yang aneh dengan kesedihan di negeri ini bukan? Namun aku selalu ingat kata simbok dulu. singgah untuk minum. Padahal hanya sedikit noda darah pada celana dalam. seperti bersinar Sum berjongkok dan memeluk mereka satu demi satu. Keharuan mendesak paru-paru dan tenggorokannya. Sum tak bisa berkata-kata apa-apa. Berangkatlah. Keceriaan adalah hal yang absurd bagiku. Di toko roti. hidup ini memang sekadar mampir ngombe. . Seluruh rumah basah. Mulutnya terkunci. baru mereka percaya. persis di depan Kanak-Kanak Yesus terbaring. Ketika Sum akhirnya mengeluarkan uang lebih dari harga tart. Seperti bersinar. pelayan-pelayannya memandang dengan sebelah mata. selesai Misa Natal.Selepas dari toko. Biarlah rumah kita kotor. Pulangnya mampir ke rumah dulu sebelum ke gereja. Tak pernah aku mengerti arti perawan sampai suatu hari simbok bilang aku tak perawan lagi. Patung kecilkecil itu rupanya dipinjam dari asrama para suster. Tak perlu di gereja. anak-anak langsung menyerbu rumah Sum dan Uncok selepas dari misa di gereja. Air matanya menetes karena haru. kata suaminya. Di Persimpangan Pantura Tak pernah sekalipun aku tampil dengan rok mini dan paha mengundang apalagi bahu terbuka dan dada menantang. Sum dan Uncok tertawa terbahak-bahak sambil berpelukan. Taruhlah tart di sini.

Untung kamu masih bau kencur Istri Lik Sol ketus memarahiku sambil panjatkan seribu syukur. Aku tak mau lagi pergi bermain. Menyiapkan air mandi. Patokbeusi ini kota. cukuplah uang jajan ala kadarnya. Tidur bagai kepompong. Nama yang aneh. Ia melangkah pongah dengan dagu terangkat. Aku mengikuti langkah-langkah lebarnya dengan senyum dikulum. sayang uang jajanku tak pernah cukup untuk beli obat serangga. ia sering menangis diam-diam ketika mengelus-elus kepalaku di tengah malam. aku seperti kejatuhan bintang. Perempuan-perempuan muda penumbuk padi jadi aneh memandangiku. Gantung diri jelas tak menarik minat. Toh . Esok hari pagi-pagi buta. Aku tak berani tanya-tanya lagi karena matanya melotot waktu kutanya kantornya di mana. tak ada lagi aib yang ditutupi. ia mengadu nasib di kota dan kadang-kadang pulang tengah malam. Untuk diriku. tapi sejak saat itu tak pernah lagi aku melihat Lik Sol berkeliaran di desa. Apalagi bapak sudah lama lari dengan perempuan nakal. pantai utara Jawa. Istrinya tak peduli asal dapurnya bisa tetap berasap. Ia mengajak ke kota untuk sekadar bantu-bantu di rumahnya. Kenapa belum terlihat pantainya? Yu Silam mendengus. tapi tak ada gedung bertingkat dan Monas seperti di buku pelajaran. Aku tak mau ambil pusing selama ia rajin mengirimi uang kepada simbok sebagai bayaran tenagaku. Mata mereka isyaratkan birahi. Tentu ia paham penderitaanku. Pantas saja ia harus bergincu begitu rupa dengan bahu terbuka. Lama-lama aku mulai menduga-duga Yu Silam kerja apa. Aku Ningce. apa nama kota memang aneh-aneh begitu? Ini daerah pantura. Penghasilan simbok sebagai buruh tani tentu jauh untuk dikatakan layak. Bibirnya mencang-mencong tak mengerti apa yang menarik dari tubuh kurus keringku. keluar rumah hanya untuk sekolah atau disuruh simbok ke warung. berbalut seprai putih sambil berharap tak bangun lagi esok pagi. Benih suaminya tak bisa membuahiku. Yu Silam pulang kerja menjelang pagi. Tatapan mereka seperti menelanjangi dari kepala sampai kaki. Yu Silam? Ssssttt jangan pernah panggil aku dengan nama itu di sini!! bentaknya. Godaan untuk bunuh diri bukan tak ada. Aku tahu simbok berat hati melepasku. Kata orang. Apa daya bayangan uang kirimanku kelak begitu menggodanya. Mungkin saja simbok lega dengan kepergianku. bodoh! Ini Patokbeusi. Aku tahu. Limbuk kecil makin terpuruk tak tahu bagaimana bersihkan lumpur yang melekat. Alu besar tetap dihunjamkan ke dalam lumpang. Aku ingat selalu mandi berlama-lama karena merasa tak pernah bisa bersih lagi. Meski rumahrumah di sana lebih bagus daripada di desa. tapi lirikan dan bisikan mereka tak bisa mengelabuiku. Ternyata yang dimaksud bantu-bantu itu mengurusi Yu Silam. Berangkatnya waktu Isya dijemput ojek langganan. Tak tahu aku ada kesepakatan apa antara simbok dengan keluarga Lik Sol. jelasnya tak sabar. termasuk menyediakan minuman hangat sepulang kerja. Ini bukan Jakarta. bukankah selama sembilan bulan kami pernah berada pada raga yang sama? Ternyata bayangan kota di benakku selama ini amat jauh dengan kenyataannya. masak. negeri seribu impian sergah Yu Silam memotong tanya ini dan ituku. Pemuda-pemuda desa menggodaku dengan kata-kata kotor. ia telah menghilang. Ketika tawaran Yu Silam datang. Pasti sakit sekali mati dengan cara seperti itu.

perempuan setengah baya ini dari luar tampak perhatian dan penuh kasih. Tak ada nada cemooh dalam suara Yu Silam. mereka sekadar melepas lelah ataukah sejenak melupakan beban hidup? Kupikir jadi dongdot di sini bukan hanya karena terimpit kemiskinan. Kadang-kadang Yu Silam pulang membawa fuyunghai. Sesungguhnya ia hanya mengincar keperawananku yang punya harga tinggi di sini. Aku masih diam saja. bilang Mami kalau ada apa-apa Duh Gusti. Kebanyakan mereka berasal dari daerah tak jauh dari sini. bapak berharap aku semontok Limbuk. Kamu mesti sabar dan tekun sampai tiba nanti saatnya senang-senang. nanti piringnya pecah. Yu Silam mengeluh tak sekuat dulu lagi. tokoh punakawan. Mungkin waktu aku lahir. tapi hatiku serasa disilet-silet. Mbuk? Coba kamu ingat-ingat siapa yang rumahnya paling mentereng di desa kita selain Pak Lurah? Aku cuma termangu dan membisu. dikelilingi gelak dan bisik undangan syahwat. Aku tersenyum malu. Nama yang aneh untuk masakan telor dadar dengan isi macam-macam. Makin malam makin ramai pesanan makanan dan minuman. Ia mulai sering masuk angin. Aku terkekeh. Pedih dan perih. Toh kamu sudah pernah disentuh laki-laki. Ternyata tak ada yang berubah. Demikianlah akhirnya aku terbawa masuk lingkungan warung remang-remang itu. Yu Silam terus saja memanggil nama asliku. ataukah memang usiaku yang masih belum cukup? Mungkin saja memang seperti itu jenjang yang harus ditempuh untuk menjadi dongdot 1). tapi sudah jadi gengsi. Di siang hari aku bisa bernapas lebih lega. Ia melangkah keluar dapur sambil berbisik di telingaku. Gurau Yu Silam. Tak tahu harus bicara apa. Ada yang menganggap sebutan jablay sebagai kebanggaan. ketahuan bekerja tak sepenuh hati. simbok pasti belum pernah ketemu makanan seperti ini seumur hidupnya. Kakak beradik bisa bekerja di satu warung bahkan kabarnya ada yang seizin orangtua. Dua tahun berlalu. Apa kamu ndak mau jadi seperti aku tho. Tak tahu pasti aku. sebab malam hari telingaku tersiksa mendengar tawa mereka yang berubah seperti ringkik kuda. Seandainya ia tahu kisah sedihku. Jadi ini memang kantornya Yu Silam. Truk besar banyak diparkir di luar. Pasti ada seseorang yang membawanya ke sini dulu. Jangan mau digoda tamu. Jangan takut. Kudengar ia berkata kepada temannya kalau pelanggannya tak sebanyak dulu. Kadang-kadang juga bantu keperluan perempuan-perempuan di situ. Kelihatannya hanya Yu Silam yang satu-satunya pendatang. Untung saja Mami di situ masih punya nurani. Jangan melamun saja. Musik dangdut berdentum keras. Enaknya luar biasa. Mami menepuk bahuku perlahan. Jadi aku cuma bantu-bantu cuci piring dan bersih-bersih. kalau kau rajin suntik tidak akan apaapa. Senyumku terhenti di tenggorokan. Ganti namamu.aku selalu makan kenyang di rumahnya. . Sopir-sopir dengan wajah berkilat oleh keringat sejenak melepas lelah. Beberapa dari mereka kemudian menghilang ke kamar-kamar di belakang. Aku sudah hafal saat ia mulai sibuk mencari duit benggol untuk kerokan. Yu Silam tersenyum manis sekali. tak ada Limbuk yang sekurus tubuhmu.

mulailah belajar menemani tamu di meja. Katanya mereka dari tempat Yu Silam biasa berobat. anak baru diterima sebagai teman juga sebagai pesaing. Mami menggeleng dengan senyum menggoda. memotong maksud tamu itu untuk menjelaskan. Sebab jadi primadona di sini tak bisa lama-lama. paling-paling pakai bahasa asing yang tak kupahami. Percumalah aku bertanya jenis penyakitnya. Yu Silam kelihatan lega aku tak tanya-tanya soal penyakitnya. Tak bosan-bosan mengingatkan mereka kapan waktunya suntik. Tempatnya pasti jauh karena pergi pagi dan pulang malam hari. Aku tak tahu ia sakit apa sebab banyak sekali keluhannya. Paling buaya di dunia buaya. Kudengar beberapa tamu berbisik keras di telinga Mami sambil memandangiku. Satu tamu pergi datang tamu lainnya. Berapa? Jantungku berdetak sekeras musik di situ. Jangan mau diajak ke kamar dulu ya! suaranya tetap rendah tapi tegas. Minggu depan tak mungkin tugasku masih sama. itu pasti kersaning Gusti Allah 2). Ia pura-pura menarikku ke meja lain. Ngapain kamu di sini? Mending jadi istriku saja. Selama seminggu itu aku cuma menemani tamu minum-minum. Beberapa perempuan di sana ikut juga tersenyum. Ada dua orang lelaki di sana yang menyambut dengan senyum penuh arti. Besok malam. Biasa itu. Untung Mami keburu menyelamatkanku. sergah Yu Silam kasar. . Kalaupun aku harus tertular. ada yang tulus ada juga yang dengan bibir setengah terangkat. Lho. Kemudian semua anjuran dua orang tamu tempo hari kujalani sungguh-sungguh. *** Dua orang tamu datang ke rumah. seperti kerbau dicocok hidung aku didorong Mami bergabung dengan kelompok kecil di sudut ruangan. Tanpa basa-basi ajarkan bagaimana mencegah penularan penyakitnya. Jarum jam seperti lambat bergerak menunggu malam usai. kelihatannya ia punya rencana tersembunyi. Suatu hari Mami memberiku baju baru dan mengajari dandan. dan lebih segar. Kadang-kadang juga menegur cara berdandan dan berpakaian. Aku mengangguk sambil tersenyum. Aku tak yakin. malah kadang-kadang tak pulang dua hari. Ia rutin pergi berobat entah ke mana. *** Empat bulan aku di sini. Ia diam sejenak sambil menggerak-gerakkan kuas kecil di pipiku. meski aku lebih banyak berdiam diri. Mungkin lelaki itu sudah terkenal buaya di sini. memangnya Yu sakit apa? Pokoknya aku tinggal menunggu mati. Mulutku juga pegal tersenyum dari tadi. Yu Silam jarang kerja lagi karena sakit-sakitan sampai suatu hari berhenti sama sekali. Tubuhku sudah lelah dan betisku pegal-pegal karena sepatu berhak tinggi. apa benar masih ada tamu dengan selera seperti itu. Senyumnya lebar seperti senyum keledai. selalu saja ada yang baru datang. Kamu baru ya? lelaki di samping menyenggolku dengan sikutnya. Malam berikutnya. Pulangnya selalu dengan obat satu tas keresek. Sama leganya waktu ia tahu aku mulai menemani tamu minum di warung Mami.Mami memang perhatian kepada anak-anak asuhnya. Ada yang bilang Mami juga dosen alias dongdot senior yang masih menerima tamu sewaktuwaktu jika dibutuhkan.

bukan di desa. Takut-takut aku melanjutkan. Memangnya kau tak ingin uang banyak? Atau ada anak sini yang menjahatimu? tanyanya beruntun. Juga pandangan mata penuh birahi pemudapemuda desa. cuci piring. Aku menggeleng juga sambil tersenyum. Saya saya saya sudah tak perawan lagi. Kamu mau tinggalkan aku kan?? Kamu mau balik ke desa ya?? Yu Silam meradang. Namun. Biarkan aku membusuk di sini!!! teriaknya parau. Aku tak berani menatap matanya. Sudah kucoba Yu. . Aku tak bisa kembali ke desa lagi. Aku menggeleng cepat-cepat. Biarlah simbok hidup dengan adik lelakiku. Aku tak bisa kembali ke sana. Tapi setidaknya aku bukan sampah dan aku tak mau jadi sampah. Dengan latar belakang segelap itu. Saya korban perkosaan. lanjutku lirih. Mereka tak pernah menganggapku manusia lagi sejak musibah itu. Pergilah sejauh yang kau suka. Saya hanya ingin bantu bersih-bersih saja di sini. Mami ikut menggeleng-geleng. Tak bisa kujelaskan dengan kalimat bahwa ia adalah malaikat penyelamatku. Biaya berobat masih ditanggungnya sendiri dari sisa uang tabungannya. Sisa bayaran dari Mami masih ada sedikit untuk pegangan dan dikirim ke simbok. Kupeluk ia dengan air mata. Tubuhnya yang tak lagi langsing bergoyang-goyang. aku mau jadi buruh cuci saja. Mulut Mami terbuka dan bergerak-gerak tapi tak ada suara yang keluar. *** Mami terbelalak waktu kuutarakan keinginan untuk tetap kerja di bagian dapur. dan membuang sampah-sampah. Perempuan setengah baya itu terbelalak. Pisang goreng yang sedang dimakannya seperti menyangkut di tenggorokan. Suatu hari akan kutinggalkan tempat ini untuk memulai hidup baru bersama Yu Silam. Tidak Yu tidak kalaupun Yu harus mati akan kurawat dirimu baik-baik. Jadi tukang cuci juga saya mau. Tak sanggup kuhadapi mereka nanti bila kulakukan perbuatan atas nama kelamin yang berkesadaran. Tapi kenapa? Kenapaaa?? kedua tangannya terbuka lebar. Rasanya malu mengakui itu tapi di hati terasa lega luar biasa. Aku ndak bisa Yu. Sesuatu yang terpaksa kulakukan karena ancaman Lik Sol. Aku tak mau jadi dongdot. pelan-pelan kuambil alih biaya pengeluaran di rumah Yu Silam. tapi aku ndak bisa. Jeritku dalam hati. Pandangan perempuan-perempuan penumbuk padi itu tak pernah pergi dari benakku. mungkin dipikirnya aku tak cukup sehat mental untuk melayani tamu-tamu di sini. Mi bisikku pelan. Yu. Bagaimana menjelaskannya? Sudah kucoba. bersihbersih. Di tempat yang benarbenar baru. Ia mengangguk lemah. Aku melangkah dengan pasti menuju dapur. kerja macam itu. aku harus bicara jujur pada Yu Silam. Yu Silam terbelalak. Mami kelihatan tak puas. seperti ingin bertanya sesuatu tapi tak jadi.Tanpa kesepakatan. Aku siap kembali ke tugas lama. mungkin tak rela harga perawanku melayang terbang.

Dan ia. Ibu punya uang? Tidak. ibu menandai bayangan tubuhnya saat berjalan menuju rumah kami. yang selalu membuat ibuku ketakutan setiap mendengar suara sumbangnya melengking parau dari balik pintu. yang selalu takut. Serentak kami meninggalkan permainan. setiap kali ia datang. melangkah pasti sambil menjejaki jalan setapak perkampungan. ketika berpapasan. Ya. karena utang ibu belum lunas hingga membuat ibu waswas. Kami. wajah ibu tiba-tiba pias dan tampak . di antara kami berdesakan membisikinya. Tukang bendring itu mendatangi kampung kami ketika pagi menjelang siang. sekali lagi. suaranya mirip seperti erangan hewan yang terluka. serta sandal hingga suasana rumah terkesan sudah lama ditinggal bepergian oleh penghuninya. yang selalu kami tunggu kehadirannya. agar ia mau membujuk ibu untuk membeli baju dagangannya. Bibir Mami bergetar. tidak bagi ibuku. Di depan pintu ibu berdiri dengan gelisah. membayangkan sebuah baju baru. Semua itu ibu lakukan karena semata-mata ibu malu lantaran tak bisa menepati janji untuk membayar utang. ketika dari jauh terdengar lengking anak-anak meneriaki tukang bendring. Ibu mau ke mana? tanyaku. Kadang. pada suatu ketika. kalau bayangan itu adalah bayangan tukang bendring. bentuk bayangannya lebih panjang. jawabnya tegas. saat bapakbapak kami sedang berada di tegalan. Kadang juga. Berlenggak. Seperti biasa. senantiasa menjadi ancaman bagi ibuku. Pernah juga. ibu sedang bepergian. bisikku. Banyak cara ibu lakukan. kami langsung menggiringnya masuk ke halaman rumah. Tak terkecuali ibuku. Tak jarang. Dan yang khas. Tetapi. Anak-anak saat melihatnya dari jauh. ibu segera mengemasi baju-baju basah dari atas jemuran. Aneh. ia hanya mengangguk disertai sungging senyum penuh harap. Tukang bendring datang . Pinggulnya bergoyang ke kanan ke kiri. Ketika itulah. dan aku mengira. adalah dari bentuk bayangan kepalanya yang lebih panjang dan lebar. Bahkan. Bagi ibuku. dan ibu tak ada cara lain untuk menghindarinya ke rumah. Menunggu tukang bendring. namun ternyata tidak. Tangan kirinya menyingkap ujung sarungnya hingga beberapa inci dari mata kaki. Meski sebenarnya. Menyambutnya dengan gegap gempita sambil berharap ia akan menoleh.Panggilan lembut Mami menghentikan langkahku. ibu segera mengunci pintu halaman dari luar hingga ia mengira. Pagi-pagi. Untuk menghindari kedatangan. Kadang kala. Mbuk Sehelai Kain Kafan Ia bergegas. tanpa ragu-ragu ibu keluar. Barangkali. Kadang. Begitulah dulu. Atau ibu khawatir keinginan untuk berutang baju baru lagi tak terkendali. Nasibmu sama seperti diriku dulu. Biasanya. kami membuntuti dari belakang. ibu mau menghindar. Entah. untuk menyambut. Sementara lentik jemari tangan kanannya mengapit sisi bundelan kain agar tak tergelincir dari kepalanya. Layaknya seorang penari memainkan satu komposisi. Bukannya selama ini ibu selalu menghindar? Dan ketika perempuan tukang bendring itu sampai di pertigaan jalan kampung. bagi kami serupa seorang istimewa. ia tak lebih dari sesosok hantu. saat tiba pada waktu tagihan. dan teriakannya yang sumbang itu. sering ibu kami menyambutnya dengan wajah cemberut.

Di luar. Sementara ibu. teriaknya lagi. Bukannya diam-diam belakangan Lastri juga menjadi tukang bendring. Khawatir kalau-kalau para tetangga lainnya keluar. Selarik cahaya tipis menyelinap masuk lewat celah-celah jendela. buka pintu. Sementara di tempat yang lain. biasanya ibu tak bisa mengelak. Harganya? Lastri memotong. Bu? Baju lebaranmu belum lunas. hanya mengangguk. bayaran bisa dicicil seminggu sekali. segera mengambil satu baju berwarna hijau. teriaknya. salah satu di antara para perempuan itu. . Mungkin ia segera bergegas pulang. Meski tak pasti. Intonasi suaranya ditekan. Mata perempuan yang berkerumun terbelalak saat melihat aneka ragam baju baru tergelar di depannya. Lastri melirik kepada para ibu. Mengerut dan berucap sinis. Melampiaskan kekecewaannya. Menggoda mata untuk segera memiliki. Itu baju sudah ada yang pesan. dan mencibir. Pada mulanya suara itu samar-samar. Baju baru . membentak. dengan galak. Untuk menghindari semua itu. tukang bendring itu terus bergegas. Toh. Bagaimana mungkin. Ju. Orang-orang melirik tak senang. persis di pertigaan. umpat ibu. alasan tak ada uang. Harga? Dijamin. di beranda. perempuan itu berbelok ke arah kiri. ibu tetap berdiri di situ. Ju. Barangkali Lastri cari perbandingan harga. Sepasang matanya kembali menatap catatan-catatan tagihan yang belum lunas. 2/ Dan kini. tampak seseorang mondar-mandir. Tetapi tidak. tiba-tiba dari luar halaman terdengar suara sumbang seseorang. Murah. Ini. ibu mengintip dari sela lubang pintu. dengan malu-malu ibu terpaksa membukakan pintu. Kemudian masuk ke sebuah gang sebelum akhirnya dengan ragu memasuki pekarangan rumah seseorang. tetapi setelah beberapa saat suara itu kian lantang. Dengan muka pucat dan gemetar. bukannya . Bu. menapaki jalan setapak. Mungkin sedang bergunjing. Sebelumnya. lalu mendatangi rumah kami. dan ketika perempuan tukang bendring itu mulai mendekat. Lastri belum melunasi utang-utang baju sebelumnya. perempuan yang kini menyajikan baju-baju baru itu dengan gayanya yang khas memberi mereka kelonggaran. sontak mengajakku masuk. beberapa perempuan duduk memanjang saling menisik rambut. Tak penting. menawarkan barang dagangannya. Adalah Lastri. sebagaimana dulu. Sekilas sungging senyum terkembang. Dan ia? Perempuan dengan bundelan sarung di kepalanya tanpa ragu-ragu segera masuk. orang-orang berkerumun. seakan minta pendapat perihal baju yang dipegangnya hingga membuat mereka heran. Sontak perempuanperempuan itu menyambutnya. Di halaman. utangmu! Sialan. Dan ia. Namun tak lama berselang.murung. pedagang baju keliling? Las. seketika ibu merasa lega. Ketika ia sudah berteriak-teriak. yang barangkali sudah memuncak. Kenapa.

. Sebentar lagi petang. meski kadang hasilnya tak sebanding. tukang bendring itu. berapa harga baju ini? ketus Lastri. agar tidak telat pergi mengaji. bajunya dipakai ngelonte. rasanya sulit dipercaya kabar. tapi tidak di sini. Astaga. sejak dua puluh dua tahun silam aku meninggalkan kampung halaman. Sebagai tukang bendring. yang kondisi tanahnya kelewat gersang. sebelum akhirnya menyuruh kami pulang. Bukannya ia juga pedagang baju? *** Sudah setengah hari Markoya berkeliling. yang baru saja kudengar dari ibuku itu. *** Dan kini. Perempuan itu tak menjawab. teman sepermainanku dulu. Lelehan keringat tak membuatnya merasa gerah. Melewati jalan setapak perkampungan. Ah. ia suka membawakan kami oleh-oleh jajanan pasar. Sesama pedagang. Tentu.Sudahlah. Kami sambil menunggunya datang. Kamu masih ingat namanya. ketika kami masih asik bermain di belakang rumahnya hingga sore menjelang malam. Tiba-tiba tanpa ditanya ibu menambahkan. bisik ibu. Kenapa dengan Lastri. Lastri. Barangkali kesal dengan sikap Lastri. Markoya. Markoya. ia umpamakan lelehan keringat itu sebagai air peneduh setelah berjam-jam berkeliling dari kampung ke kampung. yang sudah berjanji akan melunasi utang bendring. perempuan tukang bendring itu sudah mulai menjauh. Tidak percaya di kampungku yang sekecil ini ada seorang senok. dan itu Lastri. Ya. sambil mengintip mereka dari balik jendela. Bagaimana mungkin. namanya. Sudah lama ia berpisah dengan Madrihmah. Ya. pelacur. Lantaran? Senok! Dan Markoya itu tak mau ngasih utang kepada senok? Mungkin ia takut. yang tak dapat kulupa sampai sekarang. begitu ia menjawab setiap pertanyaan orang tentang pekerjaannya. Bu? Senok. Termasuk Lastri? Kusingkap jendela. Bahkan. Lastri memang belakangan menjadi tukang bendring. dan tukang bendring yang sudah renta itu. Melewati jalan setapak yang teramat terik. Sebagaimana juga dulu. Sepulang dari berkeliling sebagai pedagang baju bendring. Nak? tanya Ibu. begitu katanya. namun sebaliknya. dalam tempurung kampung sekecil ini hidup seorang senok. desisku tak percaya dengan ucapan ibu tentang Lastri. ia menjadi tukang bendring. alangkah bijaknya perempuan itu. Atau dengan ibuku? Tak sembarang orang sekarang boleh mengambil barang dagangannya. aku hanya mengintipnya dari balik jendela. Ia tampak tergesagesa. Lalu. Besok lagi mainnya. tak jarang ia mendapatkan laporan bahwa diam-diam Lastri tak keberatan jika ada seorang lelaki ingin membayar tubuhnya daripada baju dagangannya. Bertemu banyak orang jauh lebih penting. kemudian dibagi-bagikan secara rata. Berkunjung dari rumah ke rumah. Ia. bersama ibu. jawabku. Markoya. Ia tahu. Entah sejak kapan. Tak membuatnya putus asa. Menyerah. Sesekali ia menoleh. 3/ Ini hanya cerita. meski tidak di kampungnya sendiri.

Ya. Ke Brudin. Dan tak lama berselang. Las? Ngamar. Tadi Ke Brudin pesan. dan menuju langgar yang terletak di ujung barat. Tak lama berselang. Banyak rumah mesti ia kunjungi. dengan berat hati menyambutnya dengan senyum. Hari sudah menjelang sore. Sudah tua. samping rumah utama. Sudah ketemu Ke Brudin? Markoya menyeduh kopi hangat. Doa tak membuat orang kenyang. ia berucap salam. yang miring. masih banyak orang mesti ia temui. Maksudmu. sebagaimana sering Markoya lakukan setiap memasuki rumah seseorang. desisnya. Bagaimana mungkin. Ia hanya . bajunya cuma satu. Selarik cahaya senja membentuk garis tipis masuk lewat celah-celah bilik langgar tempat ia duduk bersandar pada tiangnya. desisnya. Tak mungkin gitu-gituan. Diam-diam ia membenarkan pernyataan Lastri. Pelepah nyiur dan janur seperti malas berayun. kemudian masuk. Tampak pada lekuk-lekuk tubuhnya pasir putih masih melekat. dan tak lama berselang Lastri muncul dengan membawa secangkir kopi. begitu saja datang menyamperi Markoya. yang tempo hari memesan kain kafan. Lalu? Kain kafan. Lastri dengan tubuh hanya dibaluti sarung hingga setinggi dada. Ke Brudin. Markoya membuka buku catatan. suara Markoya. salah satunya. Beliau ingin pesan baju baru untuk dipakai hari Jumat. Dalam bimbang ia terusik. Bukannya ini hari sudah sore? Maka. Seketika Markoya tercengang. Pasir-pasir berhamburan. Dan Markoya. ujarnya sambil mengikat antara ujung kain. ujarnya. sebuah bisikan tanpa ia jelang datang. kalau sampean datang suruh ke sana. menggiringnya pada sesosok lelaki tua renta. Ke Brudin sampai sekarang masih segar bugar. Mulutmu. Sore hari di halaman. Minum dulu. sambil memelankan langkahnya. Minggu depan. bermotif batik. Dengan apa ia akan membayar? Dengan doa. meski ucapan itu terasa janggal. Beberapa. Ngawur. Baju baru? tanyanya. Kasihan. Sesekali cahaya senja bergetar samar. sesamar gerakan kedipan matanya. desisnya lirih. Ke Brudin juga pesan kain kafan. Utangmu belum lunas. Satu hal yang tak boleh dilupakan oleh seorang pedagang. Tentu. desisnya. Kenapa? Ke Brudin . Guru mengaji itu? tanya Markoya. Kini. Setelah melewati perbatasan kampung. Buktinya. Markoya duduk bersandar pada salah satu tiang penyangga.Dagang hanya sampingan. Markoya tersenyum simpul. lalu tanpa menunggu jawaban ia bergegas masuk. Lastri mengambil salah satu baju. serak dan serasa berat. Kasihan. Ia pun tak heran ketika di beranda tak terlihat seseorang. selorohnya. ia tiba di sebuah pekarangan rumah Lastri. bisiknya.

pernah menjanjikan Ke Bruddin kain kafan. Banjir dan genangan air kemudian menyusul di beberapa tempat. saya tak membawakan anak-anak oleh-oleh. Dulu. yang sedang melangkah atau berkendaraan di jalan raya atau berdiri di tempat Kimpul duduk saat itu. Kimpul Awan hitam merangkak pelan. Mudah-mudahan ada orang yang singgah ke tempatnya walaupun hanya satu orang karena selama dua hari belakangan ini tidak seorang pun menyapanya dan duduk di kursi di depannya. lekas mengikat ujung kain sarungnya. Mungkin tak lama lagi ajal juga menjemputku. Para penumpang kereta api dari luar kota yang turun di Stasiun Besar umumnya makan dan minum di lahan kosong ini. Di keempat sisi lapangan rumput itu terdapat parit yang membatasi lapangan dengan lahan kosong yang lebarnya lima belas meter di sekeliling lapangan. Entah. Ke sanalah ia berlari dan berlindung selama hujan mencurah. Tapi sesaat ia kembali dan bertanya. Baju koko? Baju koko untuk shalat. dengan leluasa dapat melihat lapangan di belakang toko-toko buku itu. Ya. dan teringat. ia baru bergerak setelah hujan rintik-rintik turun dan berlari jika rintik-rintik air itu bertambah besar. Dan Lastri. Dan segera bergegas. Kimpul masih menunggu dan berharap. seperti mukjizat lain muncul mengusik. Awan seperti itu setiap hari mengancam pada musim hujan dan merupakan isyarat tak lama lagi hujan akan mencurah deras. mengajari mengaji. spontan Lastri menyahut. karena di sana banyak gerobak yang menjual makanan dan minuman. Saya harus segera ke sana. Jika hujan tidak lagi berderai Kimpul kembali ke tempatnya semula. toko-toko yang menghambat pemandangan ke lapangan di belakangnya. Tempat berteduh yang nyaman bagi Kimpul adalah Stasiun Besar di seberang jalan raya yang jaraknya kira-kira tiga puluh meter dari tempatnya bekerja. tukang bendring itu menghilang di pekarangan. Sejak pukul delapan pagi hingga pukul dua belas tengah hari itu belum seorang pun singgah dan meminta jasanya. semua toko buku itu tidak ada dan setiap orang yang berada di Stasiun Besar.menghabiskan waktunya untuk anak-anak. Curah hujan belakangan ini memang tinggi. Biasanya. Lastri menahan tawa. tibatiba Lastri merasakan sesuatu yang aneh. suara Markoya lirih. sudah lama. Betul. . Ah. Selepas Markoya. Terkadang ia terpaksa siap untuk basah kuyup karena hujan deras mendadak turun tanpa memberi kesempatan kepadanya untuk berlindung di tempat berteduh. Kimpul belum bergerak dari tempat duduknya. Saya segera ke sana. ilmu dunia dan akhirat. menunggu siapa saja yang membutuhkan jasanya. Tidak sedikit orang lalu lalang di lahan kosong ini. Ia menatap toko-toko buku baru dan buku bekas yang berjejer tidak jauh di depannya. Utangmu minggu depan. Berlari dan berlindung seperti itu setiap hari harus dilakukannya selama musim hujan. Mereka belajar mengaji kepada Ke Brudin.

Balai itu sirna sudah karena di lokasi itu telah dibangun sebuah pusat perbelanjaan yang senantiasa rampai pengunjung. Kimpul mengambil cermin dari tiang yang dipancangnya. melipat kursi yang sejak pagi didudukinya. Karena kondisi yang berubah ini. Semua penjual obat berlomba memamerkan kehebatan mereka berorasi agar pengunjung yang melingkar di sekitar mereka mau membeli obat yang mereka jajakan. Hari kembali cerah hingga sore hari. Masih erat melekat dalam ingatan Kimpul bahwa seorang penjual obat kaki lima itu berhasil meningkatkan diri menjadi bintang film. mencabut tiang itu. Di selatan lapangan rumput itu terdapat hotel megah peninggalan penjajah Belanda. Kimpul membatin. Dan.Pada tengah hari. Ternyata tidak ada orang yang ingin meminta jasanya untuk memangkas rambut. setiap orasi pastilah memuji kemujaraban obat. Setelah itu dengan mengayuh sepeda ia pulang tanpa memperoleh uang sepeser pun seperti dua hari sebelumnya. Semula ia hanya menjadi figuran dalam film Lewat Jam Malam yang disutradarai Usmar Ismail. Sekarang. karena sebagian pohon telah ditebang. lahan kosong pun semakin sempit. Tapi. Kalau dulu tanah kosong yang mengelilingi lapangan terasa teduh karena beberapa pohon rimbun berdiri kukuh di sana. Hujan juga tidak jadi berkunjung. Kimpul merasa perubahan terjadi begitu cepat tanpa menyadari bahwa ia telah empat puluh tahun menjual jasanya di pinggir lapangan itu sejak berusia dua puluh lima tahun. Begitu cepatnya keadaan berubah. kini tanah kosong itu lenyap sudah karena seluruhnya ditelan ruko-ruko yang beroperasi hingga malam hari. Di lahan kosong yang sempit itulah Kimpul dan seorang temannya membuka praktik sebagai pemotong rambut yang lazim disebut tukang pangkas. Hebat si Djoni. Ketika magrib memperlihatkan wajahnya. terdapat sebuah tempat pertemuan orang-orang Belanda yang setelah kemerdekaan diberi nama Balai Prajurit. lapangan luas itu selalu digunakan untuk tempat berbagai rapat umum dan upacara peringatan hari kemerdekaan sambil mendengarkan pidato Bung Karno. Ribuan murid sekolah SMP dan SMA diwajibkan hadir di sana untuk mendengarkan pidato berapi-api Pemimpin Besar Revolusi yang gagah itu. Kalau dulu banyak orang yang satu profesi dengan Kimpul bekerja di bawah pohon rindang di pinggir lapangan. ia siap melayani siapa saja. Ia kelihatan beberapa detik di layar putih. setelah itu ia muncul dalam beberapa film lain sebagai pemeran utama. Dulu. Begitu orasi selesai biasanya ada saja pengunjung yang langsung membeli obat mereka. Cahaya matahari langsung jatuh di toko-toko buku itu. Dengan hanya bermodalkan sebuah kursi lipat. para penjual obat kaki lima berteriak-teriak berkampanye di lahan kosong yang teduh di bawah kerimbunan pohon-pohon besar yang telah puluhan tahun berdiri di sana. *** . hingga menjelang magrib. mengambil tas kumuh yang berisi alat-alat cukur dan membuang air yang tersimpan dalam botol. Kini hotel itu tidak kelihatan lagi karena telah berganti dengan gedung milik sebuah bank dengan lapangan parkir yang luas. seperangkat alat pemotong rambut yang dibawanya di sebuah tas kecil yang kumuh dan sebotol air. Di utara lapangan. Awan hitam yang merangkak tidak lagi kelihatan. nasib Kimpul turut berubah. karena hanya berperan sebagai orang yang harus berjalan kaki dari sebuah pintu ke pintu lain yang jaraknya hanya tujuh meter. di Jalan Rumah Bola. Kimpul masih menunggu. ujar Kimpul kepada dirinya sendiri. sebuah cermin yang diikatkan ke sebuah tiang. kini hanya dia dan seorang lagi yang masih menawarkan jasa di sana.

Pak Kimpul. Karena saya harus segera kembali ke kantor. tapi Kimpul yang lain. Saya langsung pergi dengan janggut. Cuma. Hingga hujan berhenti dan semua orang meninggalkan emper stasiun. Cukup lama memang. Ia tidak berhasil. Mungkin saja yang dicarinya memang Kimpul. Lima tahun lalu saya pangkas di sini. Kimpul semakin tidak mengerti semua yang diucapkan laki-laki itu. Saya buru-buru karena mempersiapkan kepindahan saya ke Jakarta dua hari setelah itu. Kimpul benar-benar tidak tahu apa yang akan dilakukannya dengan uang Rp 100. Pak. kalau tidak ingat. kumis dan cambang saya. Laki-laki itu menolak dengan sopan dan tetap berdiri. Benar. Karena itu ia menggeleng dengan sopan.000 di tangannya itu. pikir Kimpul. Kalau sempat saya akan datang lagi. Pak Kimpul yang memotong rambut saya. Dasuki memberikan uang itu ke tangan Kimpul dan menggenggamkannya. saya harus pergi sekarang untuk rapat. ia diam saja dan tidak berani menerima uang yang diulurkan kepadanya. Kimpul menduga laki-laki itu akan memotong rambut. Begitu selesai mengucapkan kalimat itu ia mengambil uang dari sakunya dan menyerahkan Rp 100. Jangan-jangan dia salah alamat. Ia pasti salah alamat. Seorang lelaki muda berusia sekitar tiga puluh lima tahun berdiri di depannya sambil tersenyum.000 kepada Kimpul. Setelah itu ia berlari-lari kecil di keempat sisi lapangan. Ia menyilakan laki-laki itu duduk di kursi lipat yang sebelumnya didudukinya. Lima tahun. katanya sambil menunjuk ke arah Stasiun Besar. kata orang yang bernama Dasuki itu sambil melangkah pergi. kumis dan cambang yang belum dicukur. namun laki-laki tidak ditemukannya. . pada saat saya sedang bertugas ke kota ini. Maklum peristiwanya sudah lama sekali. Kimpul merasa uang yang tergenggam di tangannya itu bukan miliknya. Karena itu hari ini saya sempatkan ke sini. Kimpul mendengarkan dengan serius. Ketika Bapak akan mencukur janggut. Karena Kimpul masih tidak memahami cerita laki-laki itu. Tidak apa-apa. Karena itu Kimpul buru-buru berjalan ke arah laki-laki itu pergi. Pak Kimpul. saya benar-benar tidak tahu di mana persisnya Pak Kimpul berteduh. Saya Dasuki. tiba-tiba turun hujan deras. Saya ingin membayar utang saya itu. Lima tahun saya terganggu karena belum membayar ongkos pangkas rambut itu. Laki-laki yang menyebut namanya Dasuki itu tidak ingin melihat wajah Kimpul yang bengong seperti itu.Ketika Kimpul terangguk-angguk karena mengantuk. Permisi. Saya menyambar sepeda motor dan segera memacunya ke stasiun itu untuk berteduh. saya Kimpul . Masih kenal saya. Ia kembali ke tempatnya bekerja dengan napas tersengal-sengal. kan? kata lelaki muda itu bertanya. saya juga tidak melihat Pak Kimpul. Sekali lagi ia tidak berhasil. Kimpul masih dengan tekun mendengarkan penjelasan orang yang bernama Dasuki itu. karena banyak orang di sana. Dasuki? Kimpul kembali mencoba membangunkan memorinya. ia mendengar seseorang memanggil namanya. saya tidak kembali lagi ke tempat Bapak bekerja. memperhatikannya dan mencoba menggali ingatannya. Saya melihat Pak Kimpul berkemas dan membawa semua peralatan Bapak ke stasiun. Pak? Kimpul menatap laki-laki itu. Ia segera membuka mata dan berdiri.

Dialah yang memberikan nama Kimpul itu kepadaku.000 sedangkan biaya pangkas lima tahun lalu cuma Rp 5. kepalanya botak dan tubuhnya ceking. Karena kasihan aku segera menghampirinya. Dasuki menunggu reaksi istrinya. Aku tidak tahu. Ingatannya cukup kuat untuk mengetahui semua itu.000. Aku harapkan begitu. aku rasa berusia lebih dari enam puluh tahun. Aku melihatnya begitu aku selesai makan gado-gado yang enak di pinggir lapangan itu. . Kamu yakin bukan itu orang yang kamu cari? Aku belum lupa wajah orang yang dulu memangkas rambutku. Padahal sebelumnya aku berniat memotong rambut di barber shop di sebelah kantorku. Dia bengong dan mulanya tidak mau menerima uang itu. Lalu aku datangi orang tua itu dan kuberikan Rp 100. bertemu dengan orang tua itu. Kemudian ia menengadah dan menatap istrinya. *** Bagaimana Das? Ketemu dengan orang yang kamu cari? Tidak. sahut Dasuki menjawab pertanyaan istrinya.000.000 itu berambut lebat. Pipinya kempot. Lalu bagaimana? Aku mengelilingi lapangan itu. Dasuki yang merasa perlu memberikan penjelasan lebih lanjut. jatuh kasihan dan memintanya memangkas rambutku. Yang satu masih muda dan yang seorang lagi. beruban dan tidak kurus. Tapi aku berikan uang itu kepadanya dengan menggenggamkannya.Ia berpikir keras dan menggedor ingatannya. Sebelum aku menghampiri orang tua itu aku bertanya dulu kepada penjaga toko buku bekas yang kumasuki sebelumnya. Hanya karena aku ingin makan gado-gado dulu makanya aku pergi ke pinggir lapangan itu. Kimpul bergumam. duduk di kursi kayunya dan memintanya memotong rambutku. Lalu mengapa ia memberikan Rp 100. Hanya dua orang tukang pangkas yang aku temukan. Istri Dasuki menunggu kelanjutan cerita suaminya. Mungkin sekitar enam puluh lima tahun. Kamu yakin akan merasa tenang setelah membayar utang itu walaupun bukan kepada orang yang berhak menerimanya? Lama Dasuki menunduk dan terdiam. dari mana pula orang bernama Dasuki itu tahu namaku. Setelah itu aku pergi dan berjanji akan datang lagi kalau aku masih punya waktu luang. padahal aku tidak pernah menyebutkan namaku kepada pelanggan karena memang tidak ada yang pernah bertanya. Tapi dengan memberikan uang itu aku merasa utangku telah terbayar. Melihat Dasuki menceritakan hal itu dengan lancar istrinya tersenyum dan tidak bertanya apa pun. Orang yang kuberi Rp 100. Aku ceritakan alasan mengapa aku memberikan uang itu. Akhirnya ia sampai kepada kesimpulan bahwa semua yang diungkapkan laki-laki itu tidak benar dan tidak pernah terjadi.

dan memakai maskara hijau. menjahit. mengenakan sepatu bot. Sama seperti semua remaja yang mulai berjerawat. dan kita tidak ingat kapan ibu pernah tidak begitu. menyeduh kopi. dan lidahnya. Bila mengenakan kemeja batik. termasuk hari minggu. memberi makan kucing. Setelah minum seteguk. Mungkin itu disebut sensasi mengekspresikan diri. Namun. Tatkala kita memberinya sepasang Crocs warna ungu Lebaran lalu. kancing pada bagian perutnya sering lepas mempertontonkan pusernya karena ia tidak juga mengenakan singlet. Saat bertemu. Kacamata ayah adalah yang ia pakai ketika meminang ibu. Ia hanya menjajani kita bila hendak meminta tolong kita membantunya mengerjakan sesuatu atau membujuk kita merahasiakan kesalahannya. Selesai mandi. sudah tersedia segelas kopi.Mudik Ayah adalah ayah dan kita tahu orang tua tidak berubah. Cinta monyet. Kita cemas ia tidak mau meneruskan sekolah dan memilih menikah muda. tetapi ia dapat disebut berhasil dalam sekolah serta kariernya dan kita tahu pasti itu berkat doa ayah-ibu selain bahwa ia memang tidak bodoh. Kakak malas. mencuci pakaian. persis saat masih sekolah. menyiapkan sarapan. apalagi terharu. ayah akan mengeluarkan skuternya dari garasi dan menghidupkannya. Bangun pagi-pagi. bahkan kita tidak pernah ingat melihatnya berganti sandal baru. Minta uang. sejak dulu sampai sekarang. hari libur. bahkan untuk ukuran ayah dan ibu. Setiap tahun kita membelikannya sarung tetapi ia menyimpannya di lemari. menanak nasi. Ibu mengajari kita agar membawa jeruk bila mengunjungi orang sakit. Di atas meja rotan dekat vas berisi kembang plastik. Ibu pula yang menyapu. Ayah memakai sandal yang ia pakai tahun lalu. Ibu tidak mengomel soal uang belanja layaknya istri kita merecoki kita. Adik selalu merongrong. Demikian ritual yang dijalankan ayah tiap pagi sejak dua puluh-tiga puluh tahun lalu sampai saat kita mudik kali ini. yang menindik hidung. Kakak ada kalanya bersikap manis tetapi lebih sering sinis. Bila datang bulan. Tak jarang ia lupa menaikkan retsleting celananya pula. Dahlan siswa yang jorok. Setelah menjadi pejabat pun ia tidak pandai berpakaian. Ibulah yang melarang kita mengajak anak gadis orang nonton bioskop sebelum yakin hendak menikahinya. Ibu rajin bin tabah. Tahun ini ia akan lulus SMA dan uang yang ia minta semakin banyak. atau Lebaran seperti sekarang. Dari ibu kita tahu riwayat sanak saudara dan tetangga-tetangga. pacar adik itu cukup sopan. memasak. kita juga melihat anak itu menyemir rambutnya. mendidihkan air. ayah akan duduk di beranda. Ia bangun untuk melakukan shalat subuh. adik berpacaran. Untuk itu kini ia memiliki . Hanya penampilannya menjengahkan dan bisa membuat orang salah menilainya. Pulang mudik bersama suaminya. Kita pikir adik sudah gila atau kena guna-guna. ia seperti tersinggung alih-alih tersanjung. puser. Ibu tidak pernah meminta ayah keluar malam-malam seperti istri kita menyuruh kita membelikannya martabak pada pukul sebelas malam. dua tahun lalu. Ke mana-mana ia membagikan kartu nama. Ia sudah menjabat direktur sebuah BUMN dan suka main golf. mereka masih tidur meskipun matahari sudah tinggi dan baru bangun menjelang siang. mengepel. seorang entah gadis entah tidak lagi. Di Aliyah dulu. *** Dahlan sekarang sudah menjadi orang. tiga tahun lalu. dan menyiram tanaman. Tahun ini ia pulang mudik membawa Honda CRV edisi terbaru. Soalnya ia sudah memperkenalkan pacarnya. ia menjadikan kita bulan-bulanannya.

Sebagian lahan telah dibangun kelas-kelas baru di atasnya. sekarang menjadi koruptor. Pak Maman sudah dipecat sebab tidak dibutuhkan lagi orang untuk memukul lonceng dan memotong rumput. Maka. banyak cinta kehilangan sihir dan sarinya setelah meninggalkan halaman Aliyah. Rambutnya sudah beruban dan kacamatanya menebal. Ia tidak pernah punya inisiatif memulai pertemanan sehingga orang menganggapnya tertutup dan menjaga jarak dengannya. kecuali KPK. selalu tragis. entah mengapa. Tak tersisa cukup tempat untuk bermain alip-alipan lagi. dadanya. Tahun ini orangtuanya berancang-ancang menjodohkannya dengan seorang peternak sapi. Joko tidak korupsi. Kita tidak bisa melupakan Santi. Sampai mudik ke berapa pun. pinggangnya. Sumarni menjadi perancang program komputer. sudah wafat akibat TBC. Ternyata koruptor selama ini menganggap kesempatan yang diperolehnya merupakan limpahan rezeki berkat doa-doanya dan doa orangtuanya. Namun. Semua orang. kenapa sirik? cetus Joko membela diri. Joko. Kembali dari Swiss ia berangkat lagi mencari pengalaman ke Massachusetts. Pak Camat konon memperoleh sampai Rp 40 juta entah untuk apa. Dulu. melihat Joko tokoh yang sukses dan murah hati. Ia siap membantu warga kampung. lehernya. Kita merasa jengkel dan menyesal. Santi telah menikah tiga tahun lalu dengan juragan tahu asal Sukabumi. kata Ustaz Jamil. Sepertinya usaha suaminya berhasil dan kita hanya bisa berharap Santi menikmati hidupnya sebagai istri juragan. matanya.asisten yang senantiasa mengingatkannya. Ia mendapat semuanya karena rajin berdoa. Pak Lurah mendapat Rp 25 juta untuk membantu petani membeli pupuk. Arlojinya kini Rolex Perpetual berantai emas 22 karat. Perlu keberanian untuk membawa cinta keluar dari sekolah. Lonceng yang dipukul sudah diganti dengan bel listrik yang diatur otomatis berbunyi pada waktu tertentu. Pohon beringin di tengah pekarangan sekolah sudah ditebang dan bekasnya dipasangi paving block. melihat atap rumahnya saja kita sudah senang bukan alang kepalang. Ia tidak jelek. anak-anak sekarang bermain bola melalui PlayStation. baik pria maupun wanita. Ibu Jumilah yang mengajar geografi telah pensiun dan kini sakit-sakitan. Itu sudah rezeki gue. Dulu ia menolak dikawinkan setelah lulus kuliah dan bersikeras melanjutkan pendidikan ke Jepang. Kehidupan guru. Setiap kali mudik kita mencari tahu kabar Santi. betisnya. jemarinya. Nasib orang tidak ada yang tahu. ia cukup menyiasati kemungkinan keteledorannya dengan mengenakan baju yang lebih longgar dan panjang. Alisnya. Sumarni biasanya langsung menyingkir. Pak RT menerima Rp 10 juta untuk membangun rumah Mak Icih yang hampir roboh. padahal punya banyak peluang menyatakan cinta kepada Santi. Ia mudik untuk meminta maaf kepada ayah-bundanya dan memohon didoakan agar diberkahi rezeki. Orangtua Dahlan sangat bahagia dan suka bercerita mengenai anak mereka. Halaman rumputnya terlihat sudah mengering dan menciut skalanya. gaya berdandan. pernah membuat jiwa dan raga kita meradang menerjang. Kita pasti mampir ke sana. Kini Sumarni pulang membawa sejumlah gelar. dan seks. Pak Silitonga. Bila orang mulai bicara soal cowok. Cinta memang kadang-kadang tidak mudah. pinggulnya. Santi terlihat cantik dan bersih. Pulang dari Jepang ia pergi menuntut ilmu ke Swiss. Padahal. di zamannya siswa paling ganteng di kelas. Ia mampu memecahkan semua masalah teknis pelik. guru fisika. bibirnya. Setiap kali . Tahun ini kita tahu Santi telah diboyong suaminya ke Ciamis. Kita malu menjadi pengecut. termasuk S-4. hanya tidak terlalu suka bergaul. *** Sekolah merupakan monumen masa lampau.

beberapa jilid buku memasak dan menjahit. Dan Siti menatap takjub beratus-ratus pasangan bangau yang sedang berkencan itu. Para pembunuh terbakar. Siti bertanya. berlari. Mudik seperti kembali ke masa lampau. Mengapa bangau-bangau ini jadi ganas semua? Tak ada keindahan seanggun tarian burung bangau yang sedang bercumbu. Becak-becak yang menutupi sebagian jalur jalan di depan pasar pun ikut bertahan. melompat lagi.mudik dan mampir ke sekolah. Jika sedang berdampingan. Bersyukurlah bahwa kita masih sempat mudik untuk menikmati dan menghormati masa silam. bangau-bangau itu berdiri tegap saling menatap dengan paruh menusuk ke langit. kadang-kadang ritmis. Toko kitab Pak Wongso masih buka. . Mereka mengayunkan sayap dalam gerak yang kadang-kadang lamban. Pangeran Denmark. Orang sekarang bisa memilih membayar rekening listrik dan tagihan PAM atau telepon melalui ATM dan tidak perlu mengunjungi fasilitas pelayanan di gedung-gedung tua yang menyeramkan. anaknya sudah menutup toko buku ini dan membuka kafe di sini. bahkan pegawainya masih yang dulu-dulu juga. masih berjualan. Ajaibnya. dan Telkom masih melayani dari gedung yang sama. Pasar Lama masih bertahan. Tak ada buku pelajaran dijual di sini sebab sudah diatur penyalurannya melalui sekolah yang bekerja sama dengan penerbit buku. penjual ikan asin yang suka berkata jorok menggoda ibu-ibu. Burung Api Siti Burung-burung api itu melesat dan menembus jantung para pembantai. Semuanya buku lama atau buku yang asalnya baru tetapi jadi lusuh lantaran lama tak laku-laku. Bila harga sayur-mayur. Ia tak tahu kenapa sang pejantan hanya mengeluarkan suara sekali dan para betina berkali-kali. Ke kantor pos? Untuk apa? Bukankah sejak sepuluh tahun terakhir ini kita tidak pernah berkirim-kirim surat lagi? Waktu seperti berhenti di sini. Tubuh mereka menyala. Mereka juga melompat. ia masih terlihat memakai kacamata kulit kura-kura yang sama yang mungkin akan dikenakannya hingga akhir hayatnya. kadang-kadang cepat. Masih menjual buku mewarnai. Kalau Pak Wongso tidak keras kepala. Kantor pos. Barangkali sebentar lagi Wak Alang akan mati. Burung-burung itu serempak mencericitkan kicau mirip tangisan paling pedih yang memekakkan telinga tetapi pada saat sama mereka bergerak mirip penari keraton. Kiranya suasananya tidak sesibuk dulu. Sekarang dia tidak banyak ngomong lagi sejak sering sesak napas belakangan ini. Pak Wongso tidak mengenal kita lagi tetapi kita mengenalinya. Mbok Umi mengurangi porsinya sehingga harga jualnya tetap. kadangkadang sembarangan. Ia sudah uzur sekali dan kini tidak memiliki gigi. dan kacang naik. kita dapat mempelajari perubahan zaman dari sosok Mbok Umi dan putrinya. Dan yang membuat lelaki kencur 10 tahun itu lebih takjub. tahu. Mbok Umi masih berjualan gado-gado dan harganya masih tiga ribu. komik terbitan lokal. kita tidak dapat menahan air mata yang tahu-tahu sudah berlinang. PDAM. dan berlari lagi. Wak Alang. PLN. Kotornya dan baunya juga. Tukang-tukang becaknya mengingatkan kita kepada waktu yang berlalu bergegas. Pembeli bertambah sejak Mbok Umi berjualan didampingi putrinya yang saban hari mengenakan tank-top dan jins low-waist. serta novel-novel lama seperti Cintaku di Kampus Biru dan Hamlet.

kata Siti sambil mengacung-acungkan oncor kepada ular-ular yang ia bayangkan sangat ganas itu. Akan tetapi. Isya sudah usai menghampiri kampung di ujung tanjung itu tetapi satwa-satwa tropis ini tetap saja membisu. selongsong siput. Para pembantai itu meneriakkan nama Allah berulang-ulang sebelum dengan hati dingin mengayunkan parang. mengapa kalian tidak menari? teriak Siti sekali lagi. Dan dalam benak lelaki kencur itu hewan melata yang menjijikkan itu mula-mula menyambar sayap. dengan oncor (1) yang terus menyala Siti akan mengusir binatangbinatang menyeramkan itu. Ratusan bangau itu justru nyekukruk (2) meskipun tetap mencericitkan suara-suara kacau yang memekakkan. dan aneka kerang. Kami harus membunuh mereka karena sebelumnya mereka akan membunuh kami. sebelum dengan kegembiraan bukan alang kepalang menusukkan bayonet ke lambung. Kami harus membantai orang-orang yang menistakan agama ini karena mereka telah membunuh para jenderal terlebih dulu. Akibat air menyurut ujung tanjung itu berubah menjadi alunalun penuh pasir. Tentu jika memang benar ular-ular raksasa itu melahap secara sembarangan burungburung bangau kesayangan. Siti sama sekali tidak tahu sesungguhnya alam punya cara merahasiakan segala peristiwa buruk kepada anak-anak. *** Apa yang disembunyikan oleh bangau-bangau dan pohon bakau? Jika saja telinga Siti tidak ditulikan oleh kicauan bangau. serta anak-anak kecil dari kampung sebelah . Siti menduga ada ratusan ular raksasa yang menelan mereka. sesungguhnya ada jerit panjang terakhir yang menyayat dari sebelas perempuan dan laki-laki dewasa yang lehernya dipancung oleh para pembantai dari kampung sebelah. di antara pohon-pohon bakau. Ayolah. dan meng-kremus kepala-kepala mereka. Siti yang dari masjid hendak bergegas ke rumah. ia akan bisa dengan seksama melihat segala yang terjadi pada burung-burung bangau yang berkerumun di tanah becek. Tetap hanya angin amis yang menampar-nampar tubuh Siti yang terlalu rapuh untuk berhadapan dengan amuk malam. sesungguhnya ada puluhan perempuan dan laki-laki dewasa. Tetap tak ada jawaban. Ternyata tidak ada yang mencurigakan. burung-burung bangau itu nyaris tidak melakukan gerak apa pun. hari itu. Karena penasaran. Tak ada satu pun bangkai bangau yang berdarah-darah. kata seorang pemuda berjubah serbaputih. Tak ada ular-ular raksasa yang berkeliaran. Saking rapat mereka menyembunyikan segala hal yang terjadi di balik gerumbul bakau dan benteng bangau. Mengapa kalian tak menari? Tak ada jawaban. kata seorang serdadu. tiba-tiba berbalik arah menuju ke tanah lapang yang dikelilingi hutan bakau tak jauh dari makam yang dikeramatkan. Kalian tak boleh menyakiti temantemanku. Dari tanah lapang itulah. Apa yang disembunyikan oleh bangau-bangau dan pohon bakau? Jika saja mata Siti tidak dibutakan oleh ratusan bangau yang membentuk semacam dinding pembatas. Bangau-bangau dan pohon-pohon bakau itu malam itu seakan-akan menjadi benteng kokoh yang tidak bisa ditembus oleh mata lemah Siti. lalu menghajar. Siti hanya melihat semacam dinding tebal hitam memisahkan tanah lapang dari ujung tanjung. pada Oktober 1965 saat angin laut begitu asin dan amis.Itulah pemandangan yang berulang-ulang dilihat oleh Siti dan berulang-ulang pula membuat dia kehilangan cara untuk mengungkapkan ketakjuban.

Karena itu agar bisa meredam kemarahan para pemuja Azwar. kali ini tak terhindarkan harus menjadi makhluk buruan paling dibenci. desis seorang perempuan nyaris tak terdengar oleh orang lain. Apa yang juga tak didengar dan dilihat oleh Siti? Tangis bangau dan jerit pohon bakau. Lalu makin malam laut kian pasang. Ia berbicara untuk dirinya sendiri. Bunuh. Segalanya sunyi diam. yakni iblis-iblis yang senantiasa mengibar-ngibarkan bendera palu arit dan menari-nari sambil bernyanyi-nyanyi saat menghajar para jenderal dan para pemeluk teguh. kau tahu. Pasir yang semula digenangi darah dengan cepat terhapus. Tak perlu kalian anggap ini sebagai kekejaman yang tak terampuni. Para pembantai telah kembali ke rumah. Membunuh lelaki kencana yang senantiasa menjadi suluh kampung dalam segala tindakan akan membuat warga kalap. Para makhluk yang dianggap manusia paling laknat dan bersekutu dengan setan itu. mengacung-acungkan parang. dipaksa untuk menggali kubur bagi dirinya sendiri di tanah lapang berpasir. Setelah semuanya selesai orang-orang yang merasa paling suci menusukkan bayonet dan mengayunkan parang sesuka hati ke leher atau ke punggung ringkih. Azwar! Selamatkan warga kampung dari iblis laknat ini! Bunuh. tidak ada cara lain puluhan pembantai harus disiagakan. ayah Siti. hanya karena tidak pernah mau bergabung dengan para serdadu dan orang-orang yang mengaku paling suci. Mereka gigrik menyaksikan segala peristiwa yang terjadi saat itu karena Allah tidak menyembunyikan sorak-sorai dan tarian suka cita para pembantai setelah makhluk bantaian terbunuh kepada mereka. Tetapi mengutus serdadu yang ringih tidaklah mungkin. Puluhan orang dari kampung sebelah tentu bersama para serdadu dan lelaki beringas berjubah serbaputih menyerbu kampung di ujung tanjung setelah Isya yang sangat tenang itu. pembela para pembenci Allah ini! Bunuh dia! Bunuh dia! . Sorak-sorai menghilang. pada masa depan mereka akan membantai seluruh keturunan kami. Untuk membantai Azwar. Warga kampung di ujung tanjung sangat mencintai Azwar. Tanah lapang di ujung tanjung telah tenggelam. Azwar. desis seorang serdadu nyaris tak terdengar oleh serdadu lain. *** Akan tetapi Oktober yang kian panas dan ganas tetap saja tak memiliki cara lembut untuk memperkenalkan kematian kepada Siti.mengarak sebelas makhluk malang dibelit tali ke ujung tanjung. Jangan menganggap kami kejam . seharusnya cukup seorang serdadu menusukkan bayonet ke lambung. Mereka mengasah amarah sambil menjulur-julurkan lidah. Para pembantai yang dari bisik-bisik di kampung sebelah telah dirasuki arwah para jenderal yang dibunuh di kota yang jauh sepanjang siang sepanjang malam mencari siapa pun yang dianggap sebagai para pemuja iblis. Ia berbicara untuk dirinya sendiri. Segalanya dilupakan oleh para pembantai dan saksi mata pembunuhan kejam itu.Jika sekarang mereka tak mati. Ini tugas negara. dan meneriakkan kebesaran Allah berulang-ulang agar segala tindakan tersucikan dari kesalahan.

bangau-bangau yang riuh mencericitkan semacam zikir itu lalu meliuk-liuk ke arah pembantai dan setiap liuknya menebarkan api. Lalu teriakan pun berbalas teriakan. Azwar berteriak membelah malam. Karena itu sebelum leher Azwar dipancung. Bunuhlah aku jika kalian anggap dengan membunuhku kalian akan jadi manusiamanusia paling suci! Tak ada jawaban. Bangau-bangau tetap tak menginginkan kekejaman dan kekerasan diendus oleh anak-anak sekencur Siti. beberapa orang terhantam gagang pendayung sampan. Acungan parang dan bayonet pun berbalas acungan gagang pendayung. Bangau-bangau itu sebagaimana burung ababil menjatuhkan batu-batu sijil dari neraka ke tubuh para pembantai. Pertumpahan darah akan segera terjadi jika tak seorang pun berusaha mencegah pertempuran pada malam yang hanya disinari oleh separo bulan itu. menembus dada para . Tak ada celah sekecil apa pun yang memungkinkan Siti melihat darah yang mengucur dari lambung atau bacokan parang di punggung. Sebuah parang mengayun di punggung Azwar. Beberapa orang tertebas parang.Siti yang saat itu sedang mengaji dan mempercakapkan dengan Azwar tentang perbedaan burung-burung bangau di tanjung dari burung-burung ababil yang menghajar tentara gajah. Tak ada jawaban. Teriakan-teriakan para pembantai kian keras. Sebuah bayonet ditusukkan ke lambung Azwar. beberapa orang tertusuk bayonet. Akan tetapi Oktober yang kian panas dan ganas tetap saja tak memiliki cara lembut untuk memperkenalkan kematian kepada Siti. tetapi Azwar tetap berusaha membelah kerumunan dan bergegas menghadapi para pembantai yang berteriak-teriak tak keruan. warga kampung melakukan perlawanan. Ia juga melihat puluhan warga kampung dengan gagang pendayung sampan mencoba menghalau para pembantai. Di mana Siti? Siti tidak melihat pemandangan mengerikan itu. Azwar membuka pintu dan dengan langkah yang sangat tenang menyibak kerumunan. kecuali burung-burung bangau di ujung tanjung itu harus mengulang peristiwa bertahun-tahun lalu yang pernah dilakukan oleh nenek moyang mereka. Setelah ia bertanya. sebelum tubuh Azwar diseret dan dibuang ke laut. Pada saat sama burungburung bangau yang menghuni hutan bakau di kampung itu terbang bersama-sama dan mengepung orang-orang yang sedang bertikai. Tanah berpasir di tanjung pun memerah hingga ke ujung. Lalu parang-parang dan bayonet pun beradu dengan gagang pendayung. Semuanya bisa terjadi jika Allah mengizinkan. Apakah para bangau bisa menjadi burung api? dan dijawab Azwar. Siti lalu mengintip dari lubang jendela dan mendapatkan puluhan orang mengacung-acungkan parang dan mengacungkan bayonet. Bunuhlah aku jika kalian anggap dengan membunuhku hidup kalian lepas dari iblis paling laknat. terperanjat mendengar teriakan-teriakan itu. Tak ada cara lain untuk menghentikan pertempuran sia-sia itu. Batu-batu api itu bergesek dengan udara. hingga ke relung-relung cangkang siput dan kerang murung. di luar dugaan Siti. Teriakan-teriakan yang dibantai juga tak kalah keras. Tentu saja warga kampung di ujung tanjung tak bisa membiarkan Azwar dibantai di depan mata mereka. Warga kampung menghalang-halangi. Atas izin Allah. Darah mengucur. Pada situasi yang semacam itu.

pohon. menyodorkan ajakan dan kepastian. Siapa pun yang bisa meraih detik ketika tertidur. Orang-orang kemudian menyebut tempat itu sebagai pedukuhan Astungkara. suara serangga. Siti hanya melihat Azwar tertatih-tatih dengan luka di lambung dan leher yang terus mengucurkan darah berjalan ke arah masjid dan sisa-sisa kilatan api para bangau yang terus riuh mencericitkan semacam zikir menggores langit Oktober yang perih. jambu. ke wilayah mana kami akan tamasya. Benda-benda. beristirahat di gubuk beratap alang-alang. Melihat tubuh para pembunuh menyala. Niscaya ia bisa memilih saat melepas roh dari raga untuk mati. Bisikan-bisikan menjadi percakapan nan merdu. Kami diminta memejamkan mata.pembantai sehingga tubuh-tubuh para pembunuh itu terbakar. tempat mencari keheningan dan pelepasan. yang sehari-hari sibuk mengurus kebun. Batas-batas itu oleh Guru Tung diajarkan kepada kami sebagai peralihan antara terjaga dan tidur. Guru Tung memberi aba-aba dengan helaan napas supaya kami bersujud pada sunyi. mengintip dengan perasaan dan . Orang-orang memercayai. Seorang guru akan membimbing kami. jernih dan jelas sumbernya. di pedukuhan itu kami berbaring terlentang menatap angkasa. tubuh pun melayang-layang. ujar Guru. Jika sudah siap. kemudian memanggilnya Guru Tung. ilmu sederhana tapi bukan main sulit mendapatkannya. atau durian. Yang lain terbaring begitu saja di atas rumput sehingga sekujur tubuh berselimut embun. Sebelum berangkat kami akan berkumpul di lembah Astungkara. tak seorang tahu detik ketika ia tertidur. Siti hanya Batas Tidur Jika hendak tamasya. memusatkan lamunan pada bintang-bintang dengan rentang sekian juta tahun cahaya. kami akan pergi ke batas tidur. saat berada persis pada batas gelap dan terang. Siti hanya tahu kampung pada akhirnya jadi sunyi kembali seperti tak pernah terjadi kekejaman agung yang tak tepermanai. ia akan tetap terjaga. pada sekat tipis wilayah gemuruh dan sunyi. dan desau angin. agar bersua dengan kosong sejati. Dan karena para pembantai itu berlarian tak keruan dan alhamdulillah Allah mengizinkan dan tak berhasrat membunuhnya dari kejauhan tampak seperti panah-panah api yang melesat menembus kegelapan malam. gedung. terayun-ayun seringan kapas. Semua orang bisa memilih saat hendak istirahat tidur. dan ternak terangkat. mangga. laut. gunung. Tak seorang pun tahu asal Sang Guru. rohnya melayang bisa melihat raga sendiri. Siti bertanya. Saat itulah Siti melihat segala peristiwa yang mengerikan itu. Tapi. memohon pada hening dan sepi. di hamparan yang kami sebut campuhan. Mengapa bangau-bangau ini jadi ganas semua? Tak ada jawaban. Kami mengenalnya begitu kami mulai berkumpul di lembah Astungkara. dengan tiang-tiang dan sekat bilik dari kayu. namun tetap terpegang erat di tempatnya. Jika hendak tamasya. campuhan adalah lembah suci. Beberapa tergolek nyaman di bawah pohon wani. Kicau burung. Kami pun dibimbing untuk menguasai aji batas tidur. Ada yang nyaman telentang dalam bilik atau di emperan pondok yang menghadap ke sungai. terbentuk oleh pertemuan dua sungai: Tukad Telagawaja dan Tukad Tugtugan. Dalam kosong kami bisa mendengar detik-detik terakhir kami di bumi.

tak boleh dipindahkan dari kedudukannya. tergesa-gesa. waktu mereka sempit. karena siapa tahu tiba-tiba ada yang berkunjung. Ketika Dingkling tak juga bergerak. seorang terpidana mati yang divonis tujuh tahun lalu. karena ditinggalkan peminat. yang sering terjadi justru kami terlelap tanpa tahu jam dan detik berapa kami tertidur. dikunjungi banyak orang dari berbagai benua dan pelosok negeri. Guru Tung bercita-cita menciptakan rumus aji batas tidur agar mudah dikuasai dan dihayati kapan pun oleh siapa saja. dan akan menjadi malamnya yang terakhir karena dini hari ia akan berhadapan dengan regu tembak. Menurut Guru Tung. Guru Tung selalu dengan senang hati membantu kami melepas roh dari raga. Karena berkelakuan sangat baik. orang sakit parah tak tersembuhkan tak perlu sengsara karena bisa memilih hari kematian yang diinginkan tinimbang minum obat mahal tak kunjung menyembuhkan dan terus memiskinkan. Izinkan saya mampir ke pedukuhan Astungkar. Tadi malam Dingkling datang ke pedukuhan. Dua sipir siaga menjaganya penuh awas. Di antara kami yang berhasil adalah Dingkling. saat-saat menjelang tidur. Dingkling memilih berbaring menatap angkasa raya di bawah pohon leci. Kita angkat ke dalam. bingung melihat kami terserak ketiduran. Jika digeser. sedikit orang asing yang bisa ikut tamasya dengan bimbingan Guru Tung karena sebagai pelancong. di hamparan rumput. Biasanya kami meminta bantuan satu atau beberapa orang untuk tidak ikut tamasya. Kami yang menemani Dingkling tamasya segera masuk ke dalam kosong. Tapi. . Tak akan ada orang digencet sakit hati dan putus asa tewas gantung diri atau menenggak racun. sehingga bisa menyadari detik terakhir terjaga. di antara rentang akar-akar yang menyembul ke atas tanah. untuk mendapat doa restu Guru Tung dan murid-muridnya. sipir itu panik. gagal memohon pada sunyi dan hening. membuat iri para pemilik wisata spiritual di hotel dan vila dengan menu tapayoga-semadi.khayalan. datang belajar untuk mati dengan pertolongan ilmu batas tidur. untuk masuk ke dalam kosong. lalu menggoyang-goyang dan menggeser raga kami untuk membangunkan. dua sipir itu membangunkan Dingkling. ia sering diizinkan bermalam di pedukuhan Astungkara. matilah orang itu. Jika banyak orang menguasai aji batas tidur. dengan gembira ia menjawab. sehingga kami bisa tamasya melayang-layang seringan kapas. ayo! teriak sipir yang kurus. ia bisa dijabarkan dengan matematika. namun sebuah pilihan yang kapan pun bisa diselesaikan sesuai keinginan. setengah menyeret tubuh diam itu. Kami merayakan perpisahan itu dengan tamasya bersama ke batas tidur. Kendati kami belum menguasai ilmu batas tidur. Tapi. karena kematian adalah kepastian. dibimbing Guru Tung ikut tamasya bersama ke batas tidur. Ketika ditanya permintaan terakhir sebelum dieksekusi. Tubuh pun melayang-layang. roh tak bisa kembali memasuki raga. benda-benda terangkat mengambang. Menjelang dini hari. Kematian bukan lagi maut yang seram menakutkan dan merepotkan. bertugas menjaga ketetapan posisi jasad kami. bisa dihitung seperti bilangan. Seperti rumus Phytagoras yang memudahkan orang membuat sudut sembilan puluh derajat setelah membuat kuadrat sisi miring sama dengan jumlah kuadrat sisi siku-siku. Bule-bule banyak di sini. menggoyang-goyang tubuhnya. karena ia akan memilih mati teduh lewat batas tidur. tak pernah sanggup bersujud pada sepi. dalam bilik. terayun-ayun seringan kapas. Raga yang kami tinggalkan di bawah pohon. Pedukuhan Astungkara pun jadi terkenal.

Pemimpin yang berkepala gundul menghampiri kami sembari berujar dengan datar. Banyak yang dikenal sebagai pemadat. Katakan pada gurumu. Seingat kami. penghuni pedukuhan Astungkara tengah menekuni ajaran sesat. dengan bibir sinis menyeringai. Tapi. Mungkin mereka menduga itu abu sisa pemujaan. siap dilempar ke pondok. Gurumu boleh-boleh saja jadi pemimpin. dia salah seorang tokoh yang punya vila dengan wisata spiritual tapa-yoga-semadi. Bergegas kami bangkit dari tempat masing-masing di atas rumput dan bawah pohon. menghambur ke dalam bilik. tak tahu bagaimana harus menjelaskan kepada komandan karena kelalaian mereka membuat regu tembak yang sudah siaga urung bertugas. Sekarang. ujar Guru lembut. Mereka berdua maju dan menendang . pengikut empat pemimpin ini sungguh sangar dan berlumur dengki. Sudah sejak lama berembus kabar. Kami saling pandang karena tahu Dingkling tak bakal kembali. Berita terpidana hukuman mati tewas di pedukuhan Astungkara beberapa jam menjelang eksekusi menjadi berita besar. Bakarrrrr ! Bunuhhhhh ! teriak mereka sengit merangsek maju menerobos pagar tanaman. Dua orang sipir itu ternganga. berdesak-desak hiruk-pikuk sampai di tepi sungai. ujar Guru. Biarkan mereka masuk. para penuduh itu punya kesempatan melampiaskan amarah. Dosa besar kalau gurumu mengajarkan tentang semesta kepada kalian. dan bersahaja. gerombolan orang riuh di depan pedukuhan. Kami gemetar. Kami hanya menemukan onggokan abu di tempat Guru tadi bersila. Kami masuk bilik menemui guru yang duduk bersila di lantai. Di dalam. pemakai narkoba yang kemudian mengidap AIDS. mantan preman. jangan memelihara iblis dan setan! seru pemimpin yang bersarung. mari kita berdoa. kami tercengang. Ikhlaskan. secepatnya kembali dari tamasya. Nyala obor yang diacung-acungkan kian terang karena petang akan sempurna. Guru menatap tubuh Dingkling yang lunglai di ubin. tapi jangan menyesatkan umat. Lelaki berdestar dan pemimpin bersarung tertawa terbahak menyaksikan onggokan abu itu. tenang. Empat pemimpin mereka berdiri di pintu pagar pepohonan. sekarang saat menunjukkan siapa kita. Kami masuk ke pondok diikuti empat pemimpin itu. selebihnya menggenggam batu yang diambil dari sungai.Kami terjaga. sengsara menunggu ajal. manusia-manusia yang dikucilkan karena depresi menderita sakit tak tersembuhkan. ujar pemimpin yang mengenakan jas dan berdasi. Ada yang mengacung-acungkan obor. Empat pemimpin itu memasuki halaman. Orang-orang sangat meyakini itu karena yang datang ke tempat kami adalah kaum terbuang. Ia meninggal dalam tamasya batas tidur karena sipir memindahkan raganya dari bawah pohon leci ke dalam bilik. berteriak-teriak kasar menantang dan mengumbar bermacam tuduhan. namun tak menyebut-nyebut kebesaran Tuhan. Dingkling sudah pergi dengan damai. merambat cepat lewat pesan singkat telepon seluler. Mana Pak Pektung?! teriak pemimpin yang mengenakan destar melecehkan nama Guru. Menjelang petang. Beberapa orang mengacungkan kelewang. disiarkan televisi berulang-ulang. namun pasrah dan mencoba tenang. Bakarrrrr ! Bunuhhhhh ! jerit mereka galak berulang-ulang. kami menyongsong mereka dengan memaksakan keberanian. guru tak ada lagi. hari sebentar lagi malam.

Disambarnya jubah mandi. menghadap ke atap. seseorang yang sempurna menguasai aji batas tidur. meresapi aji batas tidur. Kami tahu yang seharusnya kami lakukan: segera telentang di lantai. moksa. Namun sel-sel otaknya mengingatkan ada pergantian jadwal siaran. mencoba masuk ke dalam kosong.gundukan abu itu berulang-ulang sembari terus terbahak. Kedua kaki lancipnya berlari menuju klinik 24 jam di lingkungan apartemen. Epitaf bagi Sebuah Alibi Jam meja memekik-mekik membangunkan Flayya. Kami mengerti. Tiba-tiba cahaya terang benderang menyilaukan menyergap. menggelepargelepar menahan panas pada mata. tangan bersedekap di dada. bersujud pada sunyi. Tangannya yang selicin pualam itu bergerak spontan hendak mematikan alarm. Jumlah ulat tak berkurang di mulutnya. agar segera melayang masuk angkasa. Mereka menjerit-jerit keluar halaman pedukuhan. Kami melihat Guru berdiri. ia akan mengeluarkan energi panas membakar raga sendiri jadi abu. tak sanggup melihat apa pun. Kami akan terus di campuhan ini. sehingga dia harus siap di studio dalam waktu 60 menit ke depan. tuli. kapan pun ia mau. Dipandanginya lagi cermin. Romero sang legislator sudah semalaman begadang menyempurnakan daftar pertanyaan dengar pendapat yang akan ditayangkan langsung televisi swasta tempat Flayya bekerja. memohon pada hening dan sepi. Rom sangat paham bahwa acara ini sebuah kesempatan emas untuk menyepuh popularitas. Lengking tawa bercampur gulungan debu beterbangan memenuhi bilik. Daging lembut merah muda itu dipenuhi kerumunan ulat yang menggeliat. Setelah peristiwa petang itu. Di tempat lain. kami akan telentang menatap angkasa. melanjutkan kembara mimpi dari ranjang kamar apartemennya yang asri. Sekarang mereka tahu siapa kita. setengah jam bermobil jauhnya dari klinik. seperti empat pemimpin itu. ia akan menjadi seberkas cahaya yang bisa menampakkan diri. sembari menanggalkan secuil busana yang masih tersangkut di ranum raga. sanggup bercakapcakap dengan siapa saja. Badan lampainya melayang turun menuju kamar mandi. seperti usai gemuruh dentuman ledakan bom. Dan yang tidak paham ketika berhadapan dengan peristiwa pelepasan akan terbakar. Telinga mereka mendenging. memberontak dalam semburan brutal yang mengubur wastafel putih gading di depannya menjadi entah apa warnanya. Kami terperangkap dalam kilatan dahsyat cahaya. jika memilih saat untuk mati. hidup kekal abadi. Aji batas tidur adalah jalan pelepasan. Abu terserak ke mana-mana. Astaga! pekik Fla saat melihat lidahnya di cermin. terus menggeliat. agar bisa memilih sendiri hari mati. harus secepatnya memejamkan mata karena silau cahaya benderang itu akan merusak kornea. Kerongkongan tercekat oleh hawa panas. Guru Tung pernah bercerita. menuju pembebasan yang sempurna. . akan membuat mereka gagap dan terbata-bata kalau bicara. buta. agar bisa bersua dengan kosong sejati. jika hendak bertemu Guru Tung. ujar Guru pelan. Guru Tung telah menjadi cahaya. karena kornea mereka binasa oleh sergapan kilatan benderang cahaya. Setelah itu. Dibukanya keran air panas sebesar-besarnya untuk mengusir anyir. Sebagai anggota dewan yang lebih sering tampil di layar infotainment ketimbang menghadiri rapat komisi. Isi perutnya bergolak. memusatkan lamunan pada bintang-bintang jutaan tahun cahaya.

Tiba-tiba ujung matanya menangkap gerakan aneh di bibir cangkir kopi. ketika Rom mengelus perutnya semalam. Merosotnya kesehatan Guru Kalip membuat seluruh saluran televisi membatalkan acara yang sudah mereka programkan. yang sempat tak mau sarapan kecuali disuapi sang ayah. Jadi mungkinkah? Dada mancung Fla bergemuruh. Ponselnya kembali berdenting memberitahu pesan masuk yang baru. Pemred bilang mbak segera check-up. katanya seperti mengutip buku teks. menemukan notifikasi pesan pendek yang belum sempat dibacanya: dari Rom. Tak ada jawaban yang diharapkan dari seberang. atau akibat kontak mulut dengan orang lain yang sedang terjangkit. kauy ta akn percya. Dengan panik diambilnya ponsel. Tem ui ku @ Medici Int l hosptl. Guru Kalip masih bersemangat dalam acara talk show berjudul Mengupas Akar Korupsi Massal dan Erosi Moral yang dipandu Flayya. (2) Terjangkit infeksi lingkungan juga tak mungkin. infeksi lingkungan. Lalu. dan tak ada kabar mereka sakit. *** Dokter jaga tak bisa memberikan diagnosis akurat penyakit Fla. ketika para bocah yang antre makan menjerit ngeri melihat tempat makan mereka dipenuhi ulat yang sempat mereka kira potongan cakwe. Sinting! Muiz adalah Produser Eksekutif dan Gazi juru kamera. Ambil cuti dulu. Dengan keduanya Fla tak pernah memiliki hubungan asmara. diantar pulang tanpa mampir ke mana pun. Kanal TV lain mewartakan kegemparan di sebuah kampus ketika dari mulut pengajar Filsafat Politik berhamburan ulat yang membuat banyak mahasiswi pingsan ketakutan. menekan tombol panggilan cepat. sebab sehabis siaran dia langsung pulang. bagaimana pula Aline. asisten produser yang jarang bicara. Rom mengetik pesan pendek. dengan degup jantung melebihi kecepatan mobil dinasnya melesat di jalan tol. selain menebar sejumlah dugaan. Rom melongok isi cangkir kopi luwak itu. bisa terjangkit penyakit serupa? Dua jam kemudian televisi berlomba-lomba memberitakan stop press yang tak lazim: penyakit misterius menyerang mulut warga. Kedut seekor ulat tengah berjuang mengangkat tubuhnya yang gendut. Ada yang memberitakan heboh di sebuah TK. Kalimat itu sudah cukup membuat Fla melakukan kalkulasi. Badannya sontak menggigil: isi cangkir tak ubahnya sauna ulat. Soon! Sebuah pesan pendek yang hancur lebur dan meledakkan cemas: Mungkinkah Rom juga terjangkit? Atau justru dirinya yang terinfeksi oleh lelaki beranak dua dari dua istri berbeda itu? Mereka memang sempat bertukar saliva dalam beberapa menit yang bergelora sebelum berpisah. Luv. Dari Sekretariat Redaksi tempatnya bekerja: Mbak Fla. Tak ada siaran langsung dengar pendapat dari gedung . Saluran televisi tempat Fla bekerja menyajikan tayangan paling mencekam: Guru Kalip sekarat di ranjang rumah sakit. baru menyadari ada kedutan yang sama di sana. Tak percaya. Atau lebih tepatnya. (1) Dari makanan jelas mustahil. Rom memasukkan jari telunjuk ke dalam mulutnya. anak Muiz. Penyebabnya bisa dari makanan. Semalam dia makan bersama tiga narasumber tayangan talk show yang dipandunya di studio. Padahal semalam. Juga mas Gazi & mbak Aline. pak Muiz terkena infeksi mulut serius. Pandangannya menyusuri layar ponsel. Tak satu pun dari mereka yang tahu bahwa bencana pagi itu dimulai dari rumah Bagas.

Ulat-ulat itu juga hamba Tuhan yang harus disayangi dengan cinta sejati. Wali Negeri. Saya nyatakan itu tidak benar! ujar Wali Negeri dengan suara menggelegar. lidah itu harus dibuang. bahwa yang saya sampaikan kepada Guru Kalip hanyalah imbauan agar selalu menyampaikan kebenaran setiap saat. lebih bersedih hati adalah karena munculnya desasdesus bahwa penyakit misterius Guru Kalip muncul beberapa saat setelah Guru bertemu empat mata dengan saya. Kepanikan langsung menggila karena dokter terahli pun masih belum tahu wabah yang terjadi. Tim dokter memutuskan. Guru Kalip menolak dengan alasan yang membuat alis para dokter melengkung keheranan. meski harus mengorbankan keluarga dan orang yang kita cintai! . ujar Guru Kalip. di hadapan rakyat yang saya cintai. Kebenaran akan mengungkapkan dirinya sendiri. Lidahnya sudah membusuk sampai ke pangkal. Wartawan yang mewawancarai istri Guru Kalip hanya mendapatkan jawaban singkat Ulat-ulat itu baru muncul kemarin. Mengira dirinya berhalusinasi. Akibatnya. di setiap tempat. Awak media massa berlomba-lomba mewawancarai lusinan dokter ahli untuk mendapatkan informasi akurat tentang penyakit Guru Kalip. Keadaan Guru Kalip kian memburuk. karena Guru Kalip adalah guru dari semua guru yang pernah mengajar anggota Dewan. hingga tak sedikit yang menjulukinya sebagai Mercusuar Nurani Bangsa . Guru Kalip juga yang menjadi tumpuan akhir banyak pihak. jawab sang istri. Pasti ada alasan mengapa Tuhan menempatkannya di lidah saya. Dua jam sebelum mentari bertengger di pucuk hari. katanya dengan ekspresi seperti sedang berdeklamasi. karena jijik dan mual melihat gerombolan ulat yang seakan tak ada habisnya di dalam mulut tua yang. Wali Negeri menyampaikan belasungkawa yang disiarkan langsung oleh seluruh saluran televisi. Negeri kita karam dalam duka mendadak yang lebih perih dari segala pedih penyebab sedih. seperti Tuhan pernah menempatkan mereka bertahun-tahun di kulit Ayub manusia mulia. anehnya. Mereka tak boleh dibunuh semena-mena. Warga dianjurkan tetap di rumah. Ketika konflik sosial pecah di beragam tempat. Hal terpenting yang saya sampaikan kepada Guru Kalip adalah untuk terus mengingatkan masyarakat bahwa hukum dan keadilan harus dijunjung tinggi. Hari ini kita kehilangan sosok luar biasa yang selalu jujur dalam bicara dan bertindak. rumah sakit terus kebanjiran pasien dengan gejala serupa di bagian mulut. Apalagi setelah dari menit ke menit. Tiga ekor ulat mendadak nemplok di layar televisi. muncul keterangan resmi dari Wali Negeri bahwa bencana nasional sedang terjadi. Sesaat kemudian jiwanya bercerai dari badan.Parlemen. Baiklah saya ungkapkan di sini. setelah pagi harinya Guru Kalip bertemu empat mata dengan Wali Negeri. mengikuti perkembangan keadaan melalui televisi dan sebuah situs web. Apa maksudnya? tanya wartawan yang merekam wajah Sang Guru dari kejauhan. Itu fitnah tak bertanggung jawab! Flayya yang sudah tergolek lemah di ranjang rumah sakit terbelalak ketika melihat seekor ulat melayang dari mulut Wali Negeri yang sedang merintih sedih. Tiga jam berikutnya pemakaman Guru Kalip dimulai dengan tembakan salvo dan rangkaian acara kenegaraan. Yang membuat saya. selalu tersenyum itu. muncul tuduhan-tuduhan tak bertanggung jawab bahwa sayalah yang sebenarnya membuat Guru Kalip jatuh sakit. Fla memindahkan saluran ke kanal berbeda dan melihat Wali Negeri sedang mengepalkan tangan dengan suara membahana.

hanya kau satu-satunya perempuan yang tercatat dalam akta nikahku. begitu mual. Setelah anak kita ini lahir Fla. Emang elu bunting Sit? Ira main ceplos aje ketika melihatnya. dan Wali Negeri sudah bersedia menjadi saksi. Seorang sekretaris tua.Puluhan ulat berukuran besar dan kecil terus beterbangan dari mulut Wali Negeri selama dia bicara. hmm. Tidakkah itu menjadikanmu sebagai perempuan paling berbahagia di muka bumi ini. membawa tumpukan surat yang sudah dipilahnya ke ruangan menteri. Tadi pun belum-belum ia sudah tampak seperti mau muntah di wastafel. Empeeeeeeeeeetttt banget!! Ah elu! Empat-empet-empat-empet aje dari tadi! Empet kenape Sit? Di tengah pesta nikah putrinya. Pokoknya gue empet ngerti nggak? Empeeeeeeet banget! Kenape emang? Tanya Ira. Hueeeeeekkk! Perutnya mual. Bikin muntah? Yo-i! Bikin muntah . Mata perempuan seindah mutiara itu langsung membasah. sohibnya. Dia tak bisa lagi berkata-kata mesti begitu ingin. Dicobanya lagi untuk mengeluarkan suara. hatinya berdarah. bagaikan tiada lagi yang bisa lebih mual. Cinta? Karangan Bunga dari Menteri Belum pernah Siti begitu empet seperti hari ini. . Meski sebegitu jauh tiada sesuatu pun yang bisa dimuntahkannya. ketika menteri yang rambutnya tak boleh tertiup angin itu sudah berujar dengan kesal melihat tumpukan surat tersebut. Fla hampir mematikan televisi ketika melihat sebaris teks berjalan: Legislator Romero meninggal dunia dengan gejala yang sama seperti dialami Guru Kalip. Namun yang datang hanyalah kenangan saat Romero mengelus perutnya semalam. Ingin rasanya dia berteriak menuntut kepada Tuhan agar kekasihnya kembali dihidupkan. jadi sedikit-sedikit ia bisa menggambarkan adegan di kantor seorang menteri seperti berikut. Guru Kalip akan memimpin pernikahan kita. 25 tahun perkawinan. di gedung pertemuan termewah di Jakarta. Ia belum lagi membuka mulut. seorang perempuan dengan seragam pegawai negeri yang seperti sudah waktunya pensiun. Bunting pale lu botak! Gue ude limapulu. tau? Yeeeeeee! Mane tau elu termasuk keajaiban dunie! Usia 50. Siti merasa perutnya mual. Siti pernah diajari caranya menulis naskah sandiwara dalam eks-kul. seperti baru sekarang ia mengenal sisi yang membuatnya bikin muntah dari suaminya. Tetapi ulatulat laknat di dalam mulutnya yang terus menggeliat sudah mengunyah lebih dari separuh lidahnya. Marah dan jijik melihat ulat-ulat terus menggeliat ke mana pun dia memindahkan saluran. Bagaimana tidak bikin muntah coba! Nah! Pegimane? *** Waktu masih SMU. semakin memenuhi layar televisi yang hanya menyisakan sedikit bidang bersih.

Musim kawin? Jaing kali ! Namanya juga menteri reformasi. Ah. Pengalaman melayani lima menteri sejak zaman Orde Baru. kite-kite disuru dateng setiap kali ada yang anaknya kawin. Sayang sekali tidak. Hadir? Untuk apa? Cuma foto bersama terus pergi lagi begitu.Hmmmhh! Lagi-lagi undangan kawin? Kan musim kawin Pak. membasuh air di matanya dengan tissue. bukan sahabat apalagi kerabat. cuma kenal gitugitu aja. Negeri kayak gini. seperti biasanya? Kirim karangan bunga saja? Iyalah. Masa Bapak tidak tahu? Coba Ibu saja yang bilang! Perempuan berseragam pegawai negeri itu hanya tersenyum bijak dan menggeleng. Sudah lima menteri silih berganti memanfaatkan pengalamannya. doi sudah empet dengan basa-basi. Hueeeeeeekkkk!!! Perempuan itu masih tetap berada di sana ketika menteri tersebut muncul kembali dengan mata berair. Ia terus saja mengomel sambil menengok tumpukan kartu undangan yang diserahkan itu. Bapak itu seperti pura-pura tidak tahu saja . Bapak muntah? Menteri yang kini rambutnya seperti baru tertiup angin kencang. bukan sanak bukan saudara. Belum habis tumpukan kartu undangan itu ditengok. mengapa sebuah acara keluarga seperti pernikahan itu begitu perlunya dihadiri seorang menteri. kapan bisa mengejar Jepang? Perempuan tua itu tersenyum dingin sembari memungut kartu-kartu undangan pernikahan yang berserakan di mana-mana. kata menteri itu seperti ngedumel lagi. Satu per satu dilemparkannya dengan kesal. sang menteri menaruhnya seperti setengah melempar ke mejanya yang besar dan penuh tumpukan berkas proyek. jawabnya. tapi wajahnya tak menunjukkan bahwa ada sesuatu yang tidak diketahuinya. bahkan kalau perlu bukan hanya seorang. yang tentu saja tidak bisa berjalan jika tidak ditandatanganinya. kok masih di sini Bu? Kan Bapak belum bilang mau menghadiri undangan yang mana. Mereka pikir gue kagak punya kerjaan apa ya? Memang acaranya selalu malam. Heran. kalau menteri-menterinya nggak kerja lembur. sahut sekretaris tua itu dengan cuek. Ngepet bener. melainkan beberapa menteri! Ia ingin mengatakan sesuatu. meski hanya ada angin dari pendingin udara di ruangan itu. Jadi. tetapi menteri itu sudah bergegas lari ke toilet pribadinya. Bapak tidak ingin tahu siapa-siapa saja yang mengundang? Huh! . Tidak tahu apa? Menteri itu memang seperti bertanya. tapi justru waktu malam itulah sebenarnya gue bisa ngelembur dengan agak kurang gangguan. menteri reformasi ini pun tentunya tahu belaka. membuatnya cukup paham perilaku manusia di sekitar para menteri. Dari luar perempuan berseragam pegawai negeri itu seperti mendengar suara orang muntah. sehingga ada kalanya ia memang seperti ngelunjak. Baginya.

maupun berurutan.B (Pokoknya Asal Bergelar). agar bapak menteri yang terhormat sudi datang ke acara pernikahan anak mereka. Pake nanya lagi! *** Seperti penulis skenario film. dan genderang basa-basi seperti karangan bunga yang datang dari para menteri. Ini karangan bunga tanpa karangan. Apa lagi Bu? Karangan-karangan bunga untuk semua undangan tadi . tak jadi soal benar jika tidak dihadiri menteri. genderang ketakutan untuk disalahkan. demi perjuangan untuk mengundang dengan terbungkuk-bungkuk. Mau menggunakan dana apa? Menteri itu menggertakkan gerahamnya. Tepatnya dipameri. Satu per satu karangan bunga itu akan diurutkan di depan atau di samping kiri dan kanan pintu masuk sesuai urutan kedatangan. berbarengan. Ia merasa bersyukur karena sekretaris tua yang tiba-tiba muncul lagi itu tidak mendengarnya. Karangan bunga? Hmm. agar para tamu resepsi bisa ikut mengetahui siapa sajakah kiranya yang berada dalam jaringan pergaulan sang pengundang. memasuki halaman gedung pernikahan yang telah menjadi saksi segala kepalsuan. putra-putri Bapak Pengoloran Sa. tanpa risiko kalah sama sekali. Kadang-kadang orang yang mengawinkan anak ini tak cukup hanya mengirim undangan. agar pokoknya ada seorang menteri menghadiri pernikahan mereka? Jelas tidak! Menteri itu terkejut mendengar suaranya sendiri. Siti jadi mengerti. Apakah pengantin itu yang telah memohon kepada orangtuanya. Bukan ikut mengetahui. Tetap sahih meskipun buruk rupa. Maksudnya tentu bukan ikebana yang artistik karena sentuhan rasa. boros sekaligus mubazir. pikir Siti. tetapi mengarahkan pembayangan secara luar biasa. akan berdatangan dengan derap langkah maju tak gentar diiringi genderang penjilatan. Lantas karangan bunga empat persegi panjang yang besar. Ya. karena yang penting adalah tulisan dengan aksara besar sebagai ucapan selamat dari siapa. Siti bisa membayangkan adegan-adegan selanjutnya. bahwa memang ada karangan bunga dari menteri. yang berbunyi SELAMAT & SUCCESS ATAS PERNIKAHAN PAIMO & TULKIYEM. Karangan bunga untuk pamer. dan kesemuan dunia dari hari ke hari sejak berfungsi secara resmi. yang datang karangan bunganya pun jadi! . Bukan. Ya kenapa? Menteri itu melihat sekilas senyum merendahkan dari perempuan berseragam pegawai negeri tersebut. asal para tamu melihat sendiri. Menteri itu menggeleng-gelengkan kepala tak habis mengerti. Ini juga berarti para pengundang seperti berjudi.L (Sarjana Asal Lulus) Direktur PT Sogok bin Komisi & Co. yang sepintas lalu sederhana. memble. beriringan. hanya mengotorngotori dan memakan tempat. pamer. kebohongan. dan dari siapa lagi jika bukan dari Menteri Negara Urusan Kemajuan Negara Bapak Sarjana Pa. karena meski yang diundang adalah sang menteri. melainkan datang sendiri melalui segala saluran dan berbagai cara. dalam jumlah yang banyak dari segala arah.Sekretaris tua itu segera menghilang ke balik pintu. Pertama tentu pesanan kepada pembuat karangan bunga. tapi diarahkan untuk mengetahui.

Tentu pernah juga mereka berdua berada dalam suatu rapat bersama orang-orang lain. Siti terpana melihat perilakunya. karena ia merasa sepantasnyalah kelak membalasnya dengan ucapan terima kasih. bukan nama-nama dengan embelembel jabatan. dan pasti telah menyisihkan uang belanja agar dapat mengirimkan karangan bunga itu kepadanya. setelah 25 tahun pernikahan. Siti telah mengaturnya sesuai urutan kedatangan. nama perusahaan atau kementerian dan gelar berderet. agar terjamin bahwa ketika melewati pintu masuk. Yang ini ditaruh di mana Pak? Siti melihat seorang pekerja bertanya tentang karangan bunga dari Sinta. atau mengusahakan datang jika diundang pihak yang mengirim karangan bunga. Siti tentu saja tahu suaminya telah mengundang tiga orang menteri. Mengirim karangan bunga karena merasa dekat dan betulbetul tidak bisa datang.Begitulah. Suaminya juga minta dipotret di depan ketiga karangan bunga itu! Ia merasa mau muntah. saat karangan-karangan bunga itu datang. mengirim karangan bunga seperti itu. Tiga karangan bunga dari menteri. Di sana memang hanya tertulis: dari Sinta. Dengan terharu. Hueeeeeeeeeekkkk!!! *** Itulah yang terjadi saat Ira bertanya. dalam pesta pernikahan putri mereka. cukup sederhana untuk mengira karangan bunga empat persegi panjang seperti itu indah. setiap tamu yang datang akan menyaksikan betapa terdapat kiriman karangan bunga dari tiga menteri. Namun ketika suaminya datang memeriksa. antara lain juga karena tiba paling awal. Emang elu bunting. nyaris di dekat pintu masuk ke tempat parkir di lantai dasar. berada jauh di urutan belakang. Ah. Terserahlah di mana! Pokoknya jangan di sini! Siti melihat suaminya dari jauh. sahabatnya yang sederhana. tetapi sudah jelas bahwa menteri yang mana pun bukanlah kawan apalagi sahabat dari suaminya itu. Ia mengawasi sendiri. Siti menaruh karangan bunga dari Sinta di dekat pintu. Itulah. atau setidaknya mengirimkan karangan bunga yang sama-sama buruk dan sama-sama mengotori seperti itu. Sama sekali bukan. masih ada yang ternyata belum dikenalnya. Suaminya. Maka. memerintahkan sejumlah pekerja untuk mengambilnya. Sit? . yang proyek-proyek kementeriannya sedang ditangani perusahaan suaminya itu. Ia mencatat dari siapa saja karangan bunga itu datang. karena datangnya cukup siang. meski hanya tanda tangan menteri dapat membuat proyeknya menggelinding. Suaminya hanya kenal baik dengan para pembantu menteri tersebut. dari Sinta! Ternyata ada juga yang tulus. bagi Siti pun karangan bunga dari menteri itu tidak harus lebih istimewa dari karangan bunga lainnya. sahabat Siti semasa SMU. yang agak gusar melihat tiga karangan bunga dari tiga menteri saling terpencar dan berada jauh dari pintu masuk. Sinta.

Si Burung mengira lagi bahwa mati tak bisa bernapas. dia semakin bersemangat memacu terbangnya lebih ke utara lagi. Namun apa yang terjadi kemudian. Namun perlahan lahan. Begitu bulunya bersih. dan mengeluarkan kotoran ke atas tubuh si burung.Cermin seekor Burung Ketika musim kemarau baru saja mulai. makin lama makin tebal. Hmm tak sulit untuk menarik garis terang dari kisah ini. Dia lalu memutuskan untuk meninggalkan tempat yang sejak dahulu menjadi habitatnya. Si burung pipit semakin marah dan memaki maki si kerbau. makin ke utara makin sejuk. Burung pipit itu adalah cermin yang memantulkan wajah kita . dia tak merasakan sayapnya yang mulai tertempel salju. dia hanya berdiri. dan akhirnya dia jatuh ke tanah karena tubuhnya terbungkus salju. menyangka bahwa riwayatnya telah tamat. terbang jauh ke utara. dan merasa bangga dengan nikmat yang sekejap. lalu mengumpat pada lingkungan yang dituduhnya tidak bersahabat. dan tamatlah riwayat si burung pipit ditelan oleh si kucing. pelan pelan dia merasakan kesejukan udara. menjilati. mencari udara yang selalu dingin dan sejuk. mengulurkan tangannya. dia dapat bernapas lega dan melihat kembali langit yang cerah. Si burung pipit berteriak kegirangan. Terbawa oleh nafsu. penampilan acap menjadi ukuran. kemudian kencing tepat di atas burung tersebut. si burung bernyanyi dan menari kegirangan. Namun si burung kecewa mengapa yang datang hanya seekor kerbau. seekor anak kucing menghampiri sumber suara. Seketika itu si burung tidak dapat bicara karena tertimbun kotoran kerbau. salju yang menempel di sayapnya justru bertambah tebal. Lagi-lagi si kerbau tidak bicara. seketika itu juga dunia terasa gelap gulita bagi si burung. salju yang membeku pada bulunya pelan-pelan meleleh oleh hangatnya tahi kerbau. Si kerbau tidak banyak bicara. dia mengira telah mendapatkan teman yang ramah dan baik hati. mengais tubuh si burung dan kemudian menimang nimang. Dia merintih menyesali nasibnya. Sampai ke tanah. yang buruk acap dianggap bencana dan tak melihat hikmah yang bermain di sebaliknya. Mendengar suara rintihan. Dia menghardik si kerbau agar menjauh dan mengatakan bahwa makhluk yang tolol tak mungkin mampu berbuat sesuatu untuk menolongnya. dia merasakan kehangatan. dia maju satu langkah lagi. Seekor burung pipit mulai merasakan tubuhnya kepanasan. Benar. sesuatu yang acap terjadi dalam kehidupan kita: halaman tetangga tampak selalu lebih hijau. Si burung pipit tak mampu berbuat apa apa. seekor kerbau yang kebetulan lewat menghampirinya. bernyanyi keras sepuas puasnya. mengelus dan membersihkan sisa-sisa salju yang masih menempel pada bulu si burung. Mendengar ada suara burung bernyanyi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful