Anda di halaman 1dari 64

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Permasalahan Kawasan Asia Timur sejak lama merupakan bagian dunia yang penuh dinamika. Ketika dunia masih diliputi Perang Dingin, Asia Timur dalam penilaian strategis Amerika Serikat (AS) sama pentingnya dengan Eropa Barat, malahan lebih penting daripada Timur Tengah karena timur tengah perekonomiannya didorong oleh sumber daya minyak yang melimpah yang menjadikan fokus utama Amerika Serikat. Setelah Perang Dingin selesai dengan keunggulan dunia Barat yang dipimpin AS, AS menurunkan perannya menjadi one and halve war strategy. Suatu kondisi dimana AS mempertahankan kemampuan perang penuh untuk Asia Timur dan setengah perang untuk Timur Tengah dan tiada kemampuan disediakan untuk Eropa Barat.
1

Kawasan Asia Timur yang terdiri dari Asia Timur Laut dan Asia Tenggara merupakan pertemuan kepentingan banyak negara besar. Di wilayah itu ada China dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia. Selain itu ada Jepang sebagai bangsa industri Asia pertama dan kemajuan yang menonjol dalam teknologi dan ekonomi. Dua bangsa itu diketahui

implikasi peningkatan kapabilitas militer China terhadap kawasan Asia Timur http://publikasi.umy.ac.id/index.php/hi/article/viewFile/380/1303, di unduh pada tanggal 13 Mei 2011 pukul 20:30 WIB

mempunyai hubungan tradisional yang bersifat love hate relationship. 2 Sebagian wilayah Rusia pun ada di Asia Timur dengan kekayaan alam, khususnya sumber daya energi, yang amat penting bagi umat manusia. Meskipun dilihat dari sudut jumlah penduduk dan luas wilayah tidak setara dengan tiga bangsa itu, posisi geografis Korea di jazirah bagaikan pedang mengarah dari daratan Asia ke kepulauan Jepang. Kawasan Asia Timur merupakan kawasan yang pertumbuhan GNP tertinggi (rata-rata sekitar 7% per tahun) bahkan beberapa negara sudah menyandang gelar sebagai The new industrializing countrie's.3 China merupakan salah satu negara yang mempunyai kemungkinan menjadi kekuatan utama (major power), dan merupakan negara yang mempunyai ambisi besar untuk menjadi kekuatan dunia (world power). Ketua PKC Mao Zedong, melalui formulasi teori tiga dunia (Sange Shijie),bercita-cita menjadikan RRC sebagai kekuatan dan pemimpin negara-negara yang sedang berkembang di dunia ketiga (disan Shijie).
4

Dalam hal ini, bangkitnya China merupakan peristiwa yang lebih umum. Saat ini yang kita saksikan adalah pertumbuhan kekuatan masa depan yang dramatis dengan sumber daya yang tiada bandingnya, cita cita mulia, kekuatan posisi tawar menawar serta kekuatan finansial dan

Hubungan bilateral yang dijalin baik oleh kedua Negara dimana hubungan tersebut saling menguntungkan satu sama lain. Disamping terjalin baik oleh kedua Negara, hubungan ini juga dapat bersidat saling mencurigai karena salah satu pihak merasa terancam. 3 implikasi peningkatan kapabilitas militer china terhadap kawasan Asia Timur , Ibid. 4 Ibid.

teknologi yang dari semua itu terbangunlah persebaran bisnis yang berkeahlian dan mantap. Dampaknya bangkitnya China bagi Negaranegara di dunia baik Negara berkembang maupun Negara maju menjadi sangat luar biasa sehingga mereka perlu menghadapi tanntangan itu.

Beberapa

pengamat

mengatakan

bahwa

angka-angka

pertumbuhan China adalah hal yang dilebih-lebihkan, tetapi mengabaikan hal itu, seperti yang mereka katakan bahwa laju pertumbuhan GDPnya sebesar 7-8% masih menjadikan China sebagai Negara yang

pertumbuhannya paling cepat dibandingkan dengan Negara maju dan Negara berkembang lainnya. Di bidang industri, terutama industri padat karya, China menjadi pemain global yang dominan pada saat ini. Pabrikpabrik China memproduksi 70% mainan, 60% sepeda, setengah industri memproduksi sepatu dan sepertiga memproduksi tas di dunia. 5

Kawasan ini dikenal sebagai kawasan yang memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi, terutama sebelum terjadinya krisis moneter yang melanda kawasan ini, sehingga beberapa negara yang berada dalam kawasan Asia Timur ini disebut juga sebagai The New Industrializing Countries (NIC's). Akan tetapi walaupun kawasan ini sempat dilanda krisis moneter yang bergulir menjadi krisis ekonomi yang

John dan Dorris Naisbitt, China s Megatrends: 8 Pilar yang Membuat Dahsyat China , (Jakarta: Gramedia, 2000) hal 11

berkepanjangan, ekonominya.

kembali

bangkit

dan

mengalami

pertumbuhan

Pasca Perang Dingin, salah satu isu terpenting di kawasan ini adalah konflik Selat Taiwan. Konflik ini bermuara pada terjadinya perang sipil yang memaksa pemerintahan Chiang Kai-Shek keluar dari China dan lari ke Taiwan karena kekalahan melawan gerakan komunis yang dipimpin Mao Zedong pada tahun 1949. Baik China maupun Taiwan bersikeras mempertahankan pemerintahan mereka yang dianggap sah mewakili China, mencakup daratan China dan Pulau Taiwan. Polemik tersebut mereda dengan semakin diterimanya One China Policy.6

Pemerintahan China menganggap Taiwan hanya sebagai salah satu provinsi China yang ingin dipersatukan kembali. Dengan kata lain, Taiwan bukan dianggap sebagai satu entitas independen dan berdaulat sendiri. Baik Taipei maupun Beijing telah melakukan diplomasi guna kepentingan masing-masing. Namun diplomasi China lebih berhasil dengan pengakuan dari dunia internasional sedangkan Taiwan hanya diakui oleh beberapa negara di Amerika Tengah. Dalam perkembangannya, hubungan ChinaTaiwan selalu diliputi oleh kecurigaan dan konflik yang tak berkesudahan. 7

http://luar-negeri.kompasiana.com/2011/01/14/konflik-china-taiwan-dan-campurtangan-as/ di akses pada tanggal 1 Juni 2011 pukul 23:30 WIB 7 Ibid.

Berdasarkan latar belakang permasalahan yang dikemukakan, maka penulis memilih judul China Pengaruh Amerika Serikat dalam Hubungan 2009 .

Taiwan di Bidang Ekonomi Periode 2004

B. Perumusan Masalah Untuk itu, penulis merumuskan permasalahan yang akan dibahas dalam menanggapi perekonomian yang meningkat pesat dari Negara China serta peran Negara tersebut. Berdasarkan penjelasan didalam latar belakang, penulis terdorong untuk mencari data dalam menentukan masalah yang akan dibahas dalam bentuk research question sebagai berikut: Seberapa Besar Pengaruh Amerika Serikat dalam

hubungan China-Taiwan di Bidang Ekonomi periode 2004-2009? Periode ini dipilih karena pada saat itu China sedang bergiat memajukan perekonomian dalam negerinya sebagai upaya Negara tersebut kembali ke masa kejayaan yang telah lalu. Sementara itu, Taiwan menerapkan kebijakan Open Door kepada China sebagai upaya

merevitalisasi perekonomiannya.

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian Adapun tujuan dari skirpsi ini adalah: 1. Mengetahui latar belakang peran China dalam kawasan Asia timur di bidang ekonomi 2. Menjelaskan faktor-faktor yang menjadi pendorong China untuk berperan aktif di kawasan Asia Timur. 3. Menganalisa serta mengetahui apa saja Peran China di dalam kawasan serta pengaruh AS di Asia Timur terutama dalam peningkatan stabilitas perekonomian di kawasan Asia Timur.

D. Kerangka Pemikiran 1. Tinjauan Pustaka a. Menurut Oded Shenkar, dalam bukunya The Chinese Century mengatkan bahwa perekonomian China yang dinilai sangat maju saat ini membuat Negara-negara disekitarnya sangat focus terhadap kemajuan Negara tersebut. Dalam buku ini juga dijelaskan bahwa bagaimana China sedang berupaya memulihkan kegemilangan kerajaannya dengan cara memasukkan teknologi modern dan ekonomi pasar ke dalam system nondemokratik yang dikendalikan oleh partai Komunis dan birokrasi. Shenkar juga memaparkan alasan menagapa pertumbuhan China yang kian cepat itu berbeda dari para pendahulunya seperti

Jepang dan Korea Selatan dan bagaimana kondisi itu akan mengarah pada terjadinya restrukturisasi radikal dalam system bisnis dunia khusunya kaawasan Asia Timur. b. Menurut John & Doris Naisbitt, dalam bukunya mengatakan

bahwa China yang sekarang ini adalah bukan China yang dahulu. Perekonomian yang maju pesat membuat China yang sekarang menjadi Negara yang sangat diperhitungkan khususnya di wilayah Asia yaitu Asia Timur. Dalam buku ini juga dikatakan bahwa China memiliki beberapa pilar atau factor yang menajdi pendorong majunya perekonomian negara tersebut. China juga mempunyai programprogram yang bagus dan dijalankan dengan baik sehingga mereka bisa menyaingi beberapa Negara yang memang sudah terlebih dahulu maju.

2. Kerangka Teori a. Kepentingan nasional Dalam kerangka teori ini menggunakan pemikiran K.J Holsti tentang kebijakan luar negeri. Salah satu tujuan penting dari kebijakan luar negari suatu Negara dalam menjamin kepentingan nasionalnya adalah bahwa kepentingan nasional suatu Negara harus seimbang dengan

kapabilitasnya. Dalam pencapaian kepentingan nasional, suatu Negara

bukan hanya menyadari

kepentingannya sendiri, tapi juga harus

menyadari kepentingan nasional Negara-negara lain. Holsti merumuskan pengertian kepentingan nasional, cita-cita atau tujuan bangsa yang berusaha dicapainya melalui hubungan dengan Negara lain. Hubungan tersebut bias berupa interaksi bilateral sedangkan jika lebih dari dua Negara disebut dengan interaksi multilateral. Hubungan kerjasama yang kooperatif biasanya dikenal dengan kerjasama bilateral merupakan manifestasi pencapaian kepentingan bersama antara kedua pihak yang bersifat khusus. Kondisi semacam ini didasari oleh 4 landasan yaitu: a) Memiliki kesamaan kepentingan, tujuan dan kebutuhan Negara. b) Pembagian biaya, resiko,beban dan penghargaan yang pantas antara kedua Negara yang bekerja sama. c) Percaya bahwa komitmen yang sudah di sepakati dapat dipenuhi.kecil kemungkinannya untuk gagal. d) Memiliki reputasi yang baik dalam memberikan suatu hubungan timbal-balik8

K.J.Holsti, International Politics: A Frame Work For Analysis,(University of British, Columbia,1993),hal 89

Pola-pola interaksi politik dalam hubungan internasional pasca Perang Dingin sudah melibatkan interaksi antara aktor negara dengan aktor non negara bangsa seperti perusahaan multinasional, organisasi non-pemerintah, dan bahkan kelompok non-negara lainnya seperti organisasi teroris. Dalam interaksi antarnegara, interaksi dilakukan berdasarkan kepentingan nasional masing-masing negara, maka teori yang digunakan adalah teori kepentingan nasional. Menurut Donald Nuechterlein, kepentingan nasional merupakan segala kebutuhan dan kepentingan dari sebuah negara berdaulat dalam hubungannya dengan negara berdaulat lainnya. Kepentingan nasional suatu negara merupakan elemen-elemen yang membentuk kebutuhan negara yang paling vital seperti pertahanan, keamanan dan kesejahteraan ekonomi.

Untuk mencapai kepentingan nasionalnya, suatu negara tidak dapat melepaskan dari politik luar negeri yang menjadi pengejawantahan politik dalam negerinya. Menurut Henry Kissinger, politik luar negeri berada pada perbatasan antara aspek dalam negeri suatu negara (domestik) dan aspek internasional (eksternal) dari kehidupan suatu negara. Oleh karena itu, politik luar negeri tidak dapat menisbikan struktur dan proses baik dari sistem internasional maupun sistem politik domestik.

b. Interdependensi (saling ketergantungan) Dasar permasalahan kebijakan luar negeri bagi para pembuat kebijakan adalah menyusun suatu kebijakan yang mengarahkan Negara untuk meraih keuntungan maksimum dalam pertukaran internasionalnya sementara juga meminimalisasikan kerugian. Jika Negara dapat menarik diri dalam isolasi diri atau kecukupan diri tiap kali harga yang harus ditanggung dalam berhubungan dengan Negara-negara lain menjadi terlalu memberatkan, maka tidaklah penting mempelajari pengaruh polapola interaksi pada perpolitikan dunia dan perilaku Negara-negara. Bagaimanapun, Negara-negara secara sederhana tidak akan bisa

menghindar untuk terlibat dalam hubungan dengan Negara lainnya. Dalam dunia modern autarki (situasi atau kebijakn ekonomi suatu Negara yang bebas dari ketergantungan perdagangan internasional dan impor barang-barang kebutuhan hidup) bukanlah suatu pilihan. Terlebih lagi, sementara dalam beberapa anggota internasional akan mengalami kesulitan-kesulitan yang jauh lebih besar daripada anggota-anggota yang lainnya dalam mengeksploitasi atau mengatasi keterhubungan ini maka semua anggota lain akan mengalami perasaan lepas dari kendali takdir mereka sendiri. Kombinasi interdependensi seperti inilah ditambah perasaan lepas , merupakan cirri interdependensi dan mengarahkan

Negara bekerja sama dengan Negara lainnya.

10

c. Kerjasama Menurut Rosencrance, tumbuhnya saling ketergantungan ekonomi dibarengi oleh merosotnya nilai yang sesuai dan arti penting penaklukan teritorial bagi Negara. Dalam dunia kontemporer, manfaat perdagangan dan kerjasama antara Negara-negara jauh melebihi kompetisi militer dan kontrol teritorial. Hal ini mempunyai dua pengaruh yaitu:

1. Era independen, keadaan lingkungan internasional yang bipolar, telah berakhir. Lapisan-lapisan saling ketergantungan ekonomi yang kompleks memastikan bahwa Negara tidak dapat berbuat agresif tanpa resiko mendapat hukuman ekonomi dari anggota komunitas internasional lainnya 2. Penaklukan teritorial di era nuklir dalam hal ini pasca perang dingin adalah berbahaya dan juga mahal bagi Negara-negara besar. Alternatifnya, pertumbuhan ekonomi melalui perdagangan dan investasi asing, adalah strategi yang kemungkinan besar lebih bermanfaat dan lebih menarik.9 Pendapat yang senada juga di berikan oleh Robert Keohane untuk mempermudah menganalisa hubungan kerjasama ini. Menurut Keohane bahwa kekuatan hegemonik mambantu membentuk kerjasama

internasional dalam bidang tertentu seperti keuangan, perdagangan dan

Scott Burchill & Andrew Linklater, Teori-teori Hubungan Internasional, (Jakarta: Nusamedia, 2009) hal. 49-50

11

migas. Ketika kekuatan hegemonik menurun, kerjasama tidak pecah. Keohane menyimpulkan bahwa kekuatan hegemonik mungkin menjadi penting bagi awal pembentukan kerjasama. Negara-negara tersebut memiliki kekuatan dan menjalankan kerjasama untuk diri mereka sendiri juga mampu meningkatkan kerjasama lebih jauh bahkan dalam

lingkungan penurunan hegemonik.

E. Asumsi Peran Amerika Serikat dalam dunia internasional telah menjadi perhatian. Hal itu dikarenakan, perekonomian yang maju yang saat ini dialami oleh Amerika Serikat. Tidak hanya itu saja, perannya di kawasan Asia Timur pun menjadi pusat perhatian Negara-negara tetangga seperti China. Hal ini juga didorong oleh beberapa faktor yang melatar belakangi perannya di kawasan tersebut.

Pembangunan stabilitas kawasan di bidang ekonomi menjadi salah satu peran serta upaya Amerika Serikat di dunia internasional. Peran tersebut diantara lain membina hubungan dengan Taiwan yang dulunya adalah wilayah China. Pengaruh besar China di Asia Timur menjadi salah satu factor yang melatarbelakangi hubungan antara China dan Taiwan saat ini.

12

F. Model Analisis

Unit analisis
Fenomena Yang diteliti Pengaruh Amerika Serikat dalam hubungan antara China-Taiwan di Bidang Ekonomi dengan periode 2004-2009

Fenomena yang diteliti sebagai preseden


Peran dan Pengaruh RRC dalam dunia internasional cukup menjadi perhatian. Hal itu dikarenakan, perekonomian yang maju pesat yang saat ini dialami oleh RRC. Tidak hanya itu saja, perannya di kawasan Asia Timur pun menjadi pusat perhatian Negara-negara tetangga China. Hal ini juga berpengaruh terhadap hubunganya dengan Taiwan yang sampai saat ini masih dianggap daerah sebagai daerah yang memberontak oleh China.

Definisi Konseptual
Pertumbuhan Ekonomi yang kian pesat membuat China menjadi perhatian utama terutama di kawasan Asia Timur. Untuk itu China sangat berperan aktif dan menebarkan pengaruhnya dalam membangun stabilitas kawasan Asia Timur terutama di Bidang Ekonomi. Kebijakan One China Policy yang diterapkan China mebawa pengaruh yang besar terhadap dinamika hubungan dengan Taiwan. Pemerintahan China menganggap Taiwan hanya sebagai satu provinsi yang memberontak terhadap pemerintahan di Beijing. Dengan kata lain, Taiwan bukan dianggap sebagai satu entitas independen dan berdaulat sendiri. Baik Taipei maupun Beijing telah melakukan diplomasi guna kepentingan masing-masing. Namun diplomasi China lebih berhasil dengan pengakuan dari dunia internasional sedangkan Taiwan hanya diakui oleh beberapa negara di Amerika Tengah. Dalam perkembangannya, hubungan China-Taiwan selalu diliputi oleh kecurigaan dan konflik yang tak berkesudahan.

Definisi Operasional
Pengaruh Amerika Serikat yang besar dalam hubungan China-Taiwan menyebabkan sedikit terganggunya hubungan perekonomian antara China-Taiwan. Akan tetapi hal ini bisa diimbangi oleh China yang ingin menjadi satu kekuatan yang baru dan dapat mengimbangi kekuatan Amerika Serikat.

13

G. Metode Penelitian 1. Jenis dari penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah penelitian deskriptif analisis, yaitu peneliti menggambarkan informasi mengenai fakta dan fenomena yang menjelaskan secara sistematis dan menyeluruh, sehingga terciptanya pemahaman mengenai masalah yang akan diteliti. 2. Metode pengumpulan data yang digunakan penulis untuk penelitian ini adalah studi kepustakaan. Dengan teknik dokumentasi yang terdiri dari buku, majalah, surat kabar, internet dan dokumendokumen lain yang berhubungan dengan penulisan. 3. Sifat penelitian adalah kualitatif; dimana seluruh data dan informasi yang digunakan berupa data non-angka atau bersifat campuran.

H. Sistematika Penulisan Didalam suatu penulisan karya tulis, baik yang bersifat ilmiah maupun non-ilmiah, diperlukan suatu sistematika tertentu agar dapat menguraikan dengan jelas isi dari tulisan tersebut. Adapun sistematikanya sebagai berikut: BAB I : Pendahuluan Memuat latar belakang, perumusan masalah, tujuan penelitian, tinjauan pustaka, kerangka teori, hipotesa, model analisis, metode penelitian dan sistematika penulisan. BAB II : Dinamika Hubungan China-Taiwan

14

Bab ini membahas hubungan China dan Taiwan serta posisi kedua Negara di Asia Timur. BAB III: Pengaruh Amerika Serikat dalam Hubungan China-Taiwan di Bidang Perekonomian. Bab ini membahas tentang pengaruh AS dalam hubungan Chinadengan Taiwan bidang Ekonomi. BAB IV: Kesimpulan

15

BAB II DINAMIKA HUBUNGAN CHINA-TAIWAN

A. Sejarah China-Taiwan

Rasa frustrasi karena penolakan Dinasti Qing untuk melakukan reformasi serta karena kelemahan Cina terhadap negara-negara lain, membuat timbulnya revolusi yang terinspirasi oleh ide-ide Sun Yat-sen untuk menghapuskan sistem kerajaan dan menerapkan sistem republik di Cina. Pada tanggal 12 Februari 1912, kaisar terakhir Qing, Kaisar Xuantong turun tahta, menyusul Revolusi Xinhai. Sebulan setelahnya, pada 12 Maret 1912, Republik Cina didirikan dengan Sun Yat-sen sebagai presiden pertamanya.

Perbudakan di Cina dihapuskan pada tahun 1910. Pada tahun 1928, setelah konflik berkepanjangan antara panglima-panglima perang yang terjadi antara 1916-1928, sebagian besar Cina dipersatukan di bawah Kuomintang (KMT) oleh Chiang Kai-shek. Sementara itu, Partai Komunis Cina (PKC) yang berhaluan komunis mulai juga menancapkan

pengaruhnya dan menjadi pesaing utama Kuomintang yang menimbulkan Perang Saudara Cina.

16

Kedua partai Cina ini secara nominal sempat bersatu dalam menghadapi pendudukan Jepang yang dimulai tahun 1937, yaitu selama Perang SinoJepang (1937-1945) yang merupakan bagian Perang Dunia II. Mengikuti kekalahan Jepang tahun 1945, permusuhan KMT dan PKC berlanjut kembali setelah usaha-usaha rekonsiliasi dan negossi gagal mencapai kesepakatan.

Di akhir Perang Dunia II tahun 1945 sebagai bagian dari penyerahan kekuasaan Jepang, pasukan Jepang di Taiwan menyerah kepada pasukan Republik Cina di bawah Chiang Kai-shek yang memegang kendali atas Taiwan. Konflik antara partai-partai Cina yang dimulai sejak 1927 berakhir secara tak resmi dengan pengunduran diri Kuomintang ke Taiwan pada tahun 1949 dan menjadikan Partai Komunis Cina sebagai penguasa tunggal di Cina daratan. Sampai sekarang, pemerintah yang memerintah Taiwan masih menggunakan nama resmi "Republik Cina" walaupun secara umum dikenal dengan nama "Taiwan"

B. Konflik Politik China-Taiwan

Seperti yang sudah dijelaskan diatas, Pasca Perang Dunia II, Taiwan sempat menguasai China daratan di bawah Partai Kuomintang (Nasionalis) yang dipimpin oleh Chiang Kai-Shek. Gerakan ini ampuh mengakhiri penjajahan Jepang yang berlangsung selama lima puluh tahun. Kai-Shek membentuk status pulau tersebut menjadi propinsi China.

17

Taiwan

memperoleh

kemerdekaan

dari

Jepang.

Namun

dalam

pemerintahan Kai-Shek banyak terjadi korupsi dan eksploitasi sumber daya alam Taiwan setelah rekonstruksi pasca perang dengan Jepang.
10

Industri Taiwan secara langsung mensuplai kebutuhan Beijing sehingga ekonomi di kepulauan (Taiwan) menjadi krisis. Pengangguran banyak terjadi yang mengakibatkan demonstrasi masif pada tahun 1947 dan berlanjut pada peristiwa Teror Putih yaitu pembunuhan sekitar 18.000 sampai 300.000 elit akademik dan elit politik penduduk asli di Taiwan oleh Chiang Kai-Shek untuk menunjukkan kontrolnya. Kontrol ini justru menimbulkan gerakan komunis.
11

Sebelumnya RRC mengklaim bahwa Pulau Formosa yang berganti nama menjadi Taiwan adalah bagian dari RRC berdasarkan sejarah yang tercatat tahun 304 M dengan nama Pulau Yizh Liuqiu. Di masa Dinasti Sui, penduduk China daratan mulai memasuki pulau ini. Berbagai dinasti China selanjutnya juga tercatat menguasai pulau ini hingga akhirnya terjajah oleh Jepang. Kembalinya Taiwan kepada RRC tertuang dalam Deklarasi Postdam yang ditandatangani China, Amerika Serikat, dan Inggris pada 26

10

China Taiwan Conflict , http//: www.dismalworld.com/disputes/china_taiwan_conflict.php diakses pada 8 Agustus 2011 pukul 13.40 WIB 11 Ibid

18

Juli 1945. Berdasarkan kenyataan ini, RRC mempunyai klaim kuat secara de facto dan de jure bahwa Taiwan adalah bagian dari negara China.12

Reunifikasi Taiwan ke dalam RRC adalah bagian dari perang saudara tahun 1949 yang belum terselesaikan. Bagi RRC, terbentuknya Taiwan adalah akibat dari intervensi AS. Menurut RRC, pelarian kelompok nasionalis yang kalah dalam perebutan kekuasaan melawan komunis tahun 1949 tdak akan akan dapat bertahan tanpa intevensi AS. Bagi RRC, keutuhan adalah harga mati sehingga kemerdekaan Taiwan dinilai

sebagai kegagalan pemerintah mempertahankan RRC. Hal ini penting karena akan menyulut potensi adanya gerakan separatism dari wilayah Mongolia, Tibet dan Xinjiang yang berbeda secara etnis, agama dan budaya dari etnis Han yang mendominasi.

Kemudian Partai Komunis China (PKC) yang dipimpin oleh Mao Zedong mengadakan perang kebebasan yang berhasil menaklukkan Partai Kuomintang (PKMT) pada Oktober 1949. Kemudian Mao mengambil alih China daratan dengan diproklamirkannya Republik Rakyat China (RRC) dan PKC adalah partai tunggal sah di China. Chiang Kai-Shek akhirnya mengundurkan diri dan membawa pasukan beserta para pengungsi ke Pulau Formosa atau Taiwan dan cadangan emas RRC. Pada

12

China-Taiwan History , http://www.pbs.org/newshour/bb/asia/china/chinataiwan.html. diakses pada 8 April 2010 pukul 14.09 WIB

19

perkembangannya, Chiang menginginkan Taiwan sebagai negara baru yang berdaulat dan tidak berada di bawah pemerintahan RRC.
13

Melalui One China Policy RRC menginginkan Taiwan kembali bersatu dengan RRC, menyusul masuknya Hongkong dan Makau untuk bergabung kembali. RRC selalu membujuk Taiwan atas sistem One Nation, Two States agar Taiwan dapat bergabung dengan RRC. Secara de jure maupun de facto Taiwan adalah bagian dari RRC dan di mata PBB dengan resolusi 2758, RRC adalah pemerintahan yang sah. Namun masih banyak hambatan yang dihadapi oleh RRC dalam usaha reunifikasi dengan Taiwan. Setiap presiden Taiwan memimpin negaranya, tidak ada satu pun yang menyatakan kesediannya untuk bergabung RRC.14

One China Policy berarti hanya ada satu China yaitu China daratan (RRC), Tibet, Hongkong, Makau, Xinjiang, maupun Taiwan adalah bagian dari China. Hal ini adalah alasan utama bahwa RRC dan Taiwan harus melakukan unifikasi. Dalam kasus yang dialami oleh AS, One China Policy dalam Shanghai Communique pada tahun 1972 menyatakan: The United States acknowledges that Chinese on either side of the Taiwan Strait maintain there is but one China and that Taiwan is a part of China. The United States does not challenge that position. , maka dari itu dapat ditarik benang merah bahwa One China Policy yang dipahami AS berbeda
13

Wang, T.Y. dan I-Chou Liu, Contending Identities in Taiwan: Implication for CrossStrait Relations . Asian Survey. Vol.4, Issue 4, Agustus 2004. 14 Ibid

20

dengan yang digariskan RRC ke dunia internasional, yaitu RRC dan Taiwan berada pada satu pemerintahan. AS tidak menyatakan dengan tegas mengenai apakah Taiwan adalah negara merdeka atau tidak, sebaliknya AS menyatakan penjelasannya terhadap klaim RRC bahwa Taiwan adalah bagian dari China.15

One China Policy juga menjadi prasyarat bagi pemerintahan China untuk berdialog mengenai cross-strait relations dengan kelompok yang datang dari Taiwan. Kebijakan ini menolak rumusan Two China atau One China, One Taiwan dan dengan jelas bahwa upaya pembagian kedaulatan China akan berakibat kepada perang militer. RRC telah menawarkan dialog dengan partai-partai di Taiwan dan pemerintahan di Taiwan berdasarkan konsensus tahun 1993 yang menyatakan bahwa ada satu China, tetapi terdapat pemahaman yang berbeda mengenai satu China di kedua wilayah.

Dalam Resolusi PBB Nomor 2758 pada Sidang Majelis Nasional PBB tahun 1971 yang memulihkan hak-hak RRC dan pemerintah nasionalis Taiwan dikeluarkan oleh PBB. Adapun isi dari resolusi tersebut adalah sebagai berikut:

15

Ibid

21

a. Mengingat pemulihan hak-hak yang sah menurut hukum RRC adalah penting bagi perlindungan Piagam PBB dan PBB harus melayani berdasarkan piagam tersebut.

b.

Mengakui

bahwa

pemerintah

RRC

adalah

satu-satunya

pemerintahan yang sah di PBB dan RRC adalah salah satu diantara lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB.

c. Memutuskan untuk memulihkan semua hak RRC dan untuk mengakui bahwa pemerintahannya adalah satu-satunya

pemerintahan yang sah di depan PBB, dan memaksa keluar dengan segera pemerintahan Chiang-Kai Shek yang tidak sah di PBB dan semua organisasi yang berhubungan dengannya.16

Resolusi di atas hanya membahas hak perwakilan RRC di lembaga internasional dan tidak menyatakan bahwa Taiwan adalah bagian dari RRC, tidak memberikan hal perwakilan Taiwan kepada RRC maupun kepada organisasi lainnya di bawah PBB. Sejak RRC berdiri pada tahun 1949, RRC tidak pernah memerintah di Taiwan. Dengan kata lain, Taiwan adalah negara merdeka, memiliki pemerintahan sendiri yang terpisah dari China daratan.

16

Yun-Han Chun, The Security Challenge for Taiwan in the Post Cold War Era: The Implications of Systemic Change and Domestic Transformation for the Cross-Straits Relations, (East Asian Institute: Columbia University, 1995.)

22

Munculnya militer RRC juga menjadi salah satu isu terpenting dalam upaya reunifikasi. Militer RRC merupakan sarana yang paling ampuh untuk memaksa Taiwan. Ditopang dengan lebih dari 3,5 juta tentara, kekuatan Angkatan Darat dan Angkatan Laut yang handal, bukan tidak mungkin RRC sewaktu-waktu akan menyerang Taiwan jika Taiwan memproklamirkan kemerdekaannya.

Pada tahun 2005, RRC mengeluarkan UU Anti Pemisahan (AntiSecession Law) yaitu undang-undang yang disahkan oleh konferensi ke-3 Kongres Rakyat Nasional dari pemerintah RRC. Terdapat tiga skenario dalam UU yang memprekondisikan penggunaan tindakan non damai

dalam menghadapi Taiwan: jika separatis Taiwan mengambil tindakan untuk memisahkan Taiwan dari RRC dengan segala tujuan atau segala bentuk; terdapat insiden besar yang menjadi sebuah petunjuk Taiwan terhadap usaha memisahkan diri dari RRC; dan kemungkinan untuk unifikasi secara damai sudah dalam tahap melelahkan. UU ini merupakan UU Status Quo yang dibuat polanya untuk menjaga situasi terakhir di Selat Taiwan.

Usaha Taiwan untuk memerdekakan diri tidak mendapatkan dukungan dunia internasional, termasuk Amerika Serikat. Washington sebagai pembela utama Taipei tidak menghendaki adanya negara Taiwan merdeka karena AS sudah terikat dengan Three Sino-US Joint

23

Communiques dengan RRC. Isu kemerdekaan Taiwan juga mendapat hambatan karena sebagian rakyat Taiwan juga tidak menghendaki adanya negara Taiwan merdeka karena nantinya akan berlangsung konflik yang melibatkan militer.

Alasan Taiwan merdeka dapat diterima karena wilayahnya relatif sempit dengan perekonomian lebih stabil dibandingkan RRC. Taiwan menganggap bahwa keikutsertaan RRC dalam perekonomian negaranya akan menghambat laju pertumbuhan ekonomi, karena nantinya jika Taiwan kembali bergabung dengan RRC, dengan sendirinya

perekonomiannya diatur oleh RRC. Bantuan militer AS juga menjadi alasan mengapa Taiwan ingin merdeka. Didukung oleh persenjataan yang canggih dari AS, Taiwan semakin percaya diri untuk menjaga pertahanan dan keamanan negaranya dari invasi militer RRC.

Kondisi

status

quo

Taiwan

merupakan

kekuasaan

yang

memerintah dengan merdeka yang tidak tunduk kepada aturan dari negara-negara lain. Reunifikasi dengan RRC merupakan pilihan bagi Taiwan, salah satu dari berbagai macam pilihan masa depan Taiwan adalah dengan diputuskan oleh rakyat Taiwan. Pandangan ini didukung penuh oleh masyarakat Taiwan. Seperti pada penelitian yang dibuat oleh Profesor Yun-Han Chu pada tahun 1996 sampai dengan 2002 yang menyatakan bahwa masyarakat Taiwan yang mengidentifikasi sebagai

24

bagian dari bangsa China telah menurun dari 20,8 persen menjadi 7,8 persen.

Sementara yang mengatakan bahwa bangsa Taiwan dan sebaliknya yang menyatakan bahwa bangsa Taiwan bukan bagian bangsa China meningkat dari 35,7 persen ke 38 persen dan dari 40,5 persen menjadi 50,6 persen. Survey yang lain mengatakan bahwa dua per tiga masyarakat Taiwan berpendapat bahwa budaya Taiwan merupakan budaya dari bangsa China dan 80 persen dari mereka mengidentifikasikan hanya pulau itu yang menjadi negara merdeka dan hanya orang Taiwan yang menjadi jawaranya.

C. Hubungan Ekonomi China-Taiwan Dibalik konflik yang terjadi antara China dan Taiwan, terdapat hubungan yang sangat erat yaitu hubungan ekonomi. Hubungan ekonomi antara Taiwan dan China telah berkembang sangat pesat karena motivasi bisnis yang kuat di kedua masyarakat. Pemerintah Taiwan akan kekhawatiran bahwa Beijing mungkin memanfaatkan peningkatan

ekonomi China dengan menggunakan sanksi-sanksi ekonomi untuk mencapai tujuan politik jika interdependensi asimetris dalam mendukung China telah muncul. Sejak Taiwan membuka pintu pada tahun 1987 untuk

memungkinkan warga untuk mengunjungi keluarga mereka di daratan,


25

kontak lintas-selat terus meningkat. Perdagangan dua-arah tahunan (sebagian besar dilakukan secara ilegal) sebesar hanya 460 juta dolar pada tahun 1981 namun menggelembung hingga 32 miliar dolar pada 2001, meningkat tujuh puluh kali. Pengusaha Taiwan tahu apa-apa tentang investasi di daratan (memang, di mana saja di luar Taiwan) pada awal tahun 1980, namun pada akhir abad lalu mereka telah muncul sebagai salah satu kontributor terbesar investasi asing langsung di daratan, di samping Hong Kong, Amerika Serikat, dan Jepang. Lompatan besar dalam perdagangan dapat dilihat dalam 22 juta kunjungan ke RRC diambil oleh Taiwan selama dekade terakhir, dengan sebagian besar wisatawan ini melakukan bisnis di sana.17 Seperti teori integrasi menunjukkan, pertukaran ekonomi dan perdagangan antara kedua sisi Selat Taiwan memang bercabang dan tumpah ke daerah lain. Dalam rangka untuk benar memulangkan imigran melintasi Selat Taiwan dan memasukkan Taiwan secara ilegal, perwakilan dari dua Asosiasi Palang Merah, disahkan oleh pemerintah masing-masing, bertemu pada bulan September 1990 untuk pertama kalinya untuk menemukan solusi. Sebulan kemudian, Presiden Lee Teng-hui

mengundang perwakilan dari semua partai politik di Taiwan untuk

17

Chien Min Chao, Will Economic Integration between Mainland China and Taiwan Lead to a Congenial Political Culture? Asian Survey, Vol. 43, No. 2 (Mar. - Apr., 2003), hal 280-304

26

membentuk Dewan Unifikasi Nasional, dan disahkan Pedoman Unifikasi Nasional. Pada tahun 1990 dibuat SEF Taipei sebagai perantara dan penghubung dalam kebijakan keterlibatan baru dengan China. Setelah beberapa bulan ragu-ragu, Beijing mengikutinya dengan membentuk organisasi sendiri itu, Asosiasi untuk Hubungan di Selat Taiwan. Dengan demikian, era baru diantar, dan dalam beberapa tahun ke depan dua mantan musuh bebuyutannya terlibat dalam lebih dari dua lusin putaran negosiasi, "2 berpuncak pada pertemuan puncak bersejarah April 1993 di Singapura antara Koo Chen-fu dan Wang Dao han, kepala SEF dan ARATS, masing-masing. Dua perjanjian yang dicapai pada pertemuan tersebut, menandai dokumen pertama saling kebobolan oleh kedua pemerintah sejak Perang Saudara China pada 1940-an. Rapat kerja di berbagai tingkat antara kedua organisasi juga membahas tentang institusional. Yang lebih penting adalah bahwa SEF dan ARATS sepakat untuk "mengungkapkan secara lisan 'satu prinsip China masing-masing" sebelum pertemuan Singapura. Sebelum akhir tahun, kedua belah pihak bahkan diuji perairan pada kemungkinan memasuki negosiasi politik pertama sejak perpecahan mereka pada 1949.18 Fakta-fakta ini membuktikan kenyataan sebagai berikut. Pertama, sejak mantan Presiden Chiang Ching-kuo kebijakan pembatasan menjadi
18

Ibid

27

renggang pada tahun 1987 dan memungkinkan warga Taiwan untuk melakukan perjalanan ke daratan atas dasar kemanusiaan, hubungan bilateral antara Taiwan dan daratan China telah berubah dalam istilah kuantitatif serta kualitatif. Pertukaran ekonomi dan perdagangan telah bercabang dan tumpah ke daerah budaya, media berita, pariwisata, dan bahkan politik. Kontak telah meningkat, perselisihan dan friksi mulai untuk pudar, dan pejabat menjadi erat terlibat dalam apa yang disebut "pertemuan swasta" antara dua organisasi resmi, SEF dan ARATS. Kondisi ini terus dan mungkin jalur resmi komunikasi telah diaktifkan. Ia bahkan telah berpendapat bahwa jika setiap pengunjung Taiwan adalah untuk bertemu dengan tiga orang China daratan, dan orang-orang itu untuk

menyebarkan bercerita pengalaman mereka untuk kerabat dan temanteman, tidak terbayangkan bahwa mungkin ada 200 juta orang China daratan yang mungkin terpengaruh cerita orang Taiwan. Jika budaya populer adalah termasuk dalam hitungan, diwujudkan dalam bentuk musik pop, film, dan novel, maka dampak yang dihasilkan oleh pembukaan kontak bahkan lebih mengejutkan Didorong oleh motivasi bisnis yang kuat di kedua masyarakat, hubungan ekonomi antara Taiwan dan China telah berkembang sangat pesat. Menurut statistik Taiwan, pada akhir tahun 2002 China adalah penerima terbesar Penanaman Modal Asing (PMA) dengan total akumulasi
28

mencapai 25.5 milyar dolar, 48,3 persen dari total FDI Taiwan. Namun demikian, Perng Fai-Nan, Gubernur Bank Sentral Taiwan, diperkirakan bahwa pada akhir tahun 2002 angka riil dari investasi kumulatif Taiwan di China adalah sekitar 66,8 milyar dolar. Menurut perkiraan resmi Taiwan, perdagangan dua arah melintasi Selat Taiwan pada tahun 2002 mencapai 41 miliar dolar, dengan Taiwan menikmati perdagangan 25 miliar dolar surplus membuat pasangan ketiga China Taiwan perdagangan terbesar dan pasar ekspor terbesar.19 Pemerintah Taiwan merasa tidak nyaman memiliki seperti

hubungan ekonomi dekat dengan saingan kuat politiknya, sebagian karena ketakutan pulau bahwa banjir investasi dan perdagangan dari Taiwan akan membuat pulau itu secara ekonomi tergantung pada China, merusak kemerdekaan de facto politik Taiwan. Bahkan, ketakutan

Taiwan telah dipicu dan diperkuat oleh fakta-fakta bahwa Beijing menganggap secara eksplisit hubungan ekonomi lintas-Selat menjadi sumber penting dari pengaruh politik terhadap Taiwan. Beijing melakukan hubungan pertukaran ekonomi lintas Selat dengan dua strategi politik yaitu: "yi min bi guan" (mengeksploitasi masyarakat untuk menekan para pejabat) dan "yi shang wei zheng" (mengeksploitasi pengusaha yang berada pada ruang lingkup

pemerintah). Kekhawatiran Taipei bahwa, jika interdependensi asimetris


19

Ibid

29

dalam mendukung China muncul di wilayah itu (Selat Taiwan), Beijing mungkin memanfaatkan peningkatan ekonomi China melalui penggunaan sanksi-sanksi ekonomi untuk mencapai tujuan politik. Tentu saja, tidak akan muncul menjadi tingkat tertentu terhadap sebuah timbal balik ketika Taipei dan Beijing telah berinteraksi dengan satu sama lain dalam era baru ini. Beijing dibalik permusuhan Perang Dingin, terdapat perjanjian yang diresmikan pada tahun 1979 untuk pertama kalinya. Penyediaan sementara untuk Promosikan Perdagangan dengan Taiwan dalam kontaknya dengan Taiwan yang bersifat nonkekerasan. Beberapa saat kemudian, sebuah peraturan serupa

dikeluarkan, pemberian barang yang dibuat di Taiwan status "produk dalam negeri," dan karenanya membebaskan tugas pada mereka. Akibatnya, Taiwan melepaskan pembatasan atas barang-barang yang diproduksi di RRC, dan diangkut melalui Hong Kong. Dalam menarik investor Taiwan, memutuskan Dewan Negara RRC melewati Peraturan Tentang Investasi dari rekan-rekan di Taiwan pada bulan Juli 1988. Hampir sebulan kemudian, Taiwan mulai mempertimbangkan kebijakan mengajaknya Investor Taiwan, dan diberikan tempat penduduk kedua hak untuk bepergian ke sisi lain dari Selat. Hukum, Statuta yang Mengatur Hubungan antara Rakyat Daerah Taiwan dan Daratan Area, disahkan pada bulan November 1990.

30

Seperti pada penjelasan diatas dalam pembahasan konflik politik yang terjadi di kedua wilayah tersebut, Pada 1995-1996 dan 1999-2000 insiden Selat Taiwan menciptakan ketegangan yang signifikan antara Taiwan dan China. Beijing berusaha untuk memaksa Taipei, baik untuk kembali ke status quo sebelumnya dengan menerima "prinsip satu China" dan untuk mencegah Taipei menyatakan kemerdekaan Taiwan. Republik Rakyat China (RRC) mengancam penggunaan kekuatan terhadap Taiwan melalui mobilisasi militer moderat dan ekspansi dalam lingkup latihan militer yang dilakukan di wilayah dekat Taiwan dari Juli 1995 sampai Maret 1996 dan dari bulan Juli sampai September 1999. Beijing telah benar benar membuktikan secara efektif,

bagaimanapun, dalam memanfaatkan peningkatan ekonomi melalui sanksi ekonomi terhadap Taiwan, bahkan selama ketegangan lintas-Selat 19951996 dan 1999-2000. Selama krisis rudal 1995-1996, Beijing melakukan upaya signifikan untuk meyakinkan pengusaha Taiwan bahwa investasi mereka di China aman. Beijing juga menunjukkan yang pada masa

pemerintahan

Presiden

Taiwan

Lee

Teng-hui

mengomentari

hubungan khusus tentang perihal negara ke negara pada 9 Juli 1999. Setelah kemenangan Chen Shui-bian (sekali lagi pemimpin oposisi yang pro kemrdekaan) pada Maret 2000 dalam putaran pemilihan presiden Taiwan, bagaimanapun, Beijing terang-terangan memperingatkan

beberapa tokoh pengusaha Taiwan bahwa kepentingan mereka di China

31

akan terpengaruh jika mereka mendukung Taiwan merdeka. Meskipun peringatan China belum ditindaklanjuti sebagai ancaman dengan sanksi konkret.20 Mengingat motivasi tinggi Beijing untuk membujuk Taipei dalam menegaskan kembali "prinsip satu China" dan mencegah Taipei menuju kemerdekaan Taiwan, pertanyaan lain yang harus dijawab adalah mengapa China melakukan pembatasan besar seperti tidak dalam menerapkan sanksi ekonomi terhadap Taiwan dalam hal ini. Republik Rakyat China (RRC) dengan cepat menjadi kekuatan regional yang dominan, dan tidak terbayangkan mungkin suatu hari melampaui Jepang sebagai ekonomi terbesar di dunia, hingga menyaingi ke Amerika Serikat. Bahkan, laporan yang dilakukan oleh lembaga keuangan internasional terbesar menunjukkan angka statistik baru bahwa ekonomi China sudah lebih besar dari Jepang. Bukti tampaknya memang membuktikan adanya integrasi secara tidak langsung. Meskipun ada hampir terdapat kontak politik antara kedua belah pihak sebelum tahun 1980-an, pada akhir abad 19 bahwa perdagangan dua arah China-Taiwan sebesar 32 miliar dolar pada tahun 2001, sementara pengusaha Taiwan menginvestasikan modal secara kumulatif sekitar 60 miliar dolar dalam kontrak-investasi modal ke pasar China
20

George Gilboy and Eric Heginbotham, China s Coming Transformation , Foreign Affairs, vol. 80, No. 4 (Jul-Aug, 2001) hal 26-39

32

daratan. Pada

tahun 2001, rakyat Taiwan

melakukan perjalanan

3.441.960 kali ke China daratan. Secara kumulatif, lebih dari 26 juta perjalanan tersebut telah dilakukan di Selat Taiwan sejak 1988. Bahkan lebih mencengangkan, telah dilaporkan bahwa lebih dari 300.000 Taiwan telah menetap di wilayah metropolitan Shanghai. Akibatnya, jalur Selat Taiwan telah menjadi salah satu bandara tersibuk di dunia, karena perdagangan, perorangan, dan arus modal perusahaan dari satu sisi ke sisi lain.21 Setelah melihat satu pulau yang terselimuti oleh putaran

kesengsaraan ekonomi belum pernah terjadi sebelumnya, Presiden Chen Shui-bian mengadakan pertemuan kabinet Pembangunan Penasehat Ekonomi pada bulan Agustus 2001. Pertemuan yang dilaksanakan sebulan itu diakhiri dengan langkah untuk menggantikan yang lama,

pelaksananaan pembatasan tidak terburu-buru, kebijakan yang ditetapkan oleh Lee Teng hui mantan Presiden Taiwan pada tahun 1996 sebagai tindakan pencegahan untuk mencegah Taiwan di terlalu tergantung pada pasar China, dengan aktif membuka dan memanajemen kebijakan yang efektif. Secara keseluruhan, 332 proposal yang dibuat, termasuk saran tentang perpajakan dan reformasi keuangan. Di antara mereka, 36 proposal yang bertujuan untuk mengembangkan hubungan ekonomi yang
21

Ibid

33

lebih dekat dengan China, yang paling signifikan yaitu pencabutan ditutupnya 50 juta dolar setiap investasi tunggal di China daratan, serta membatasi investasi oleh total perusahaan yang terdaftar. Pertemuan ini juga mendesak pemerintah untuk secara aktif mengejar perdagangan langsung dan jalur transportasi (yang disebut "tiga hubungan langsung") dengan China. Beberapa bulan kemudian, Partai Progresif Demokratik (PPD) memutuskan untuk mengangkat 1999 "Resolusi tentang Masa Depan Taiwan" (di mana Republik China [ROC, yaitu, Taiwan] ditegaskan secara resmi untuk pertama kalinya oleh partai sebagai entitas yang berdaulat) menjadi setara dengan "klausa kemerdekaan Taiwan" (tergabung dalam platform partai pada tahun 1991). Perkembangan ini telah dikutip sebagai bukti bahwa hambatan memang sedang dikesampingkan karena

kekhawatiran komersial membuat jalan mereka ke dalam arena sampai sekarang didominasi oleh pertimbangan politik dan keamanan. Hal ini juga percaya sekarang bahwa karena kedua entitas sejak bergabung dengan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), perdagangan kedua wilayah dan hubungan komersial akan lebih diperkuat. Tapi sementara integrationists telah merayakan perjuangan

mereka, kesenjangan antara kedua belah pihak telah melebar. Meskipun Taiwan telah membolos kebijakan konservatif ekonomi dan memuluskan jalan untuk dua arah pertukaran dan komunikasi, dan DPP yang berkuasa
34

telah melunak posisi kaku di Taiwan kemerdekaan, Beijing menunjukkan sikap garis keras dalam menghalangi partisipasi mantan Wakil Presiden ROC Lee Yuan-tsu di Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) pertemuan KTT di Shanghai pada Oktober 2001, membuktikan bahwa pertemuan sederhana pemimpin antara kedua archrivals masih sulit. Memang, hampir satu dekade telah berlalu sejak perwakilan dari dua semi-resmi organisasi, Selat Taiwan exchange Foundation (SEF) dan mitranya, Asosiasi untuk Hubungan di Selat Taiwan (ARATS)-diciptakan oleh kedua pemerintah pada tahun 1990 dan 1991, masing-masing, untuk menangani masalah yang berasal dari peningkatan gelombang interaksiterakhir bertemu di Singapura.22 Satu fakta ada di Taiwan adalah rasa besar kepala dalam beberapa tahun terakhir adalah menujukan peningkatan jumlah orang-orang Taiwan yang telah kecewa dengan pemerintah Beijing dan ketidaksenangan mereka dengan menolak penyatuan sebagai bahan solusi yang mungkin di masa depan. Tampaknya kedua belah pihak memiliki perbedaan tidak hanya dalam kedaulatan dan representasi, tetapi juga dalam

mendefinisikan makna demokrasi, kebebasan, dan hak asasi manusia. Setelah lebih dari satu abad pemisahan dengan interval singkat unifikasi, Taiwan dan daratan China sudah terbiasa dengan nilai-nilai

22

Ibid

35

politik, orientasi, dan cara berpikir. Tenggelam dalam hal baru yang ditransplantasikan dengan gaya Barat didalam nilai-nilai demokrasi, Taiwan telah melihat pertumbuhan masyarakat sipil secara penuh dengan individualisme pada intinya. Daratan China, di sisi lain, sarat dengan sejarah pelanggaran imperialis kontemporer dan sisa-sisa sebuah kolektif cara pandang yang ditinggalkan oleh sisa-sisa ideologi sosialisme.

36

BAB III PENGARUH AMERIKA SERIKAT DALAM HUBUNGAN CHINA-TAIWAN DI BIDANG PEREKONOMIAN

A. Pengaruh AS di Wilayah China-Taiwan Pasca Perang Korea tahun 1950, Presiden AS Harry S.Truman menempatkan Pasukan Laut Ketujuh (The Seventh Fleet) di Taiwan untuk mencegah serangan komunis RRC ke Taiwan. Hal ini adalah intervensi pertama kalinya dalam konflik Cina (daratan) dan Taiwan (pulau). Washington menilai bahwa Taipei mampu menghalau komunis di Asia dan menyediakan bahan-bahan yang diperlukan dalam rangka menjaga keamanan seperti keamanan dan peraltan militer.
23

Pada bulan Desember 1954, AS dan pihak-pihak yang berwenang di Taiwan mengesahkan Perjanjian Pertahanan Bersama (Mutual-Defense Treaty) yang menetapkan posisi Taiwan berada dalam naungan AS. Hal ini dinilai salah karena campur tangan AS terlalu jauh dalam konflik yang melibatkan RRC dan mengakibatkan konflik tersebut berlangsung dalam

23

Chu, Yun-Han. Taiwan National Identity Politics and the Prospect of Cross-Strait . Asian Survey, Vol.44, No.4.

37

jangka panjang. Isu ini juga membuat ketegangan hubungan antara Washington dan Beijing.
24

Selama Perang Dingin, AS melakukan hubungan kembali dengan RRC sebagai upaya untuk pencegahan terhadap ekspansi Uni Soviet. RRC sebagai negara yang kuat menjadi mitra strategis bagi AS untuk menghadapi ekspansi tersebut. Ancaman nuklir Uni Soviet akan

mengganggu keamanan dunia dan mengganggu kepentingan nasional Amerika Serikat. RRC bagi Amerika Serikat adalah mitra strategis dari ancaman nuklir Uni Soviet.

Pada tanggal 21 Februari 1972, Presiden AS Richard Nixon mengunjungi Beijing. Kunjungan tersebut disebut ice breaking karena untuk pertama kali Presiden AS datang ke RRC sejak RRC merdeka tahun 1949. Dalam kunjungan ini Richard Nixon dan Perdana Menteri RRC Chou Enlai menandatangani Shanghai Communique. Dalam perjanjian ini, lahir sebuah nota kesepahaman bernama Nixon s Five Points sebagai berikut:

a. Menentukan status Satu Cina , Taiwan bagian dari Cina

b. Tidak mendukung kemerdekaan Cina

c. Berusaha menahan Jepang (seiring meningkatkan pengaruhnya di Taiwan)


24

Ibid

38

d. Mendukung resolusi damai

e. Mengusahakan normalisasi

Adanya perbedaan pemahaman akan One China Policy membuat RRC meragukan kesungguhan AS untuk mendukungnya karena dinilai tidak bisa meninggalkan kewajiban Taiwan karena AS masih terikat dengan Mutual-Defense Treaty dengan Taiwan. Pemerintah AS

menormalisasi hubungan dengan RRC dengan menerima 3 prinsip kerjasama diplomatik yang dibuat oleh RRC dengan nama Joint Communique on the Establishment of Diplomatic Relations (Normalization Communique) pada akhir 1978 dan baru aktif pada 1 Januari 1979 dengan isi: AS memutuskan hubungan diplomatik dengan pihak berkuasa Taiwan, AS memmbatalkan Mutual-Defense Treaty dengan Taiwan, dan menarik mundur pasukan AS di Taiwan. Maksud dari perjanjian ini adalah adanya pengakuan sah AS akan RRC dengan memutuskan hubungan diplomatik dengan Taiwan dan mulai kembali membina hubungan diplomatik dengan RRC. Langkah AS dimaksudkan karena AS menyetujui Cina dengan One China Policy dan meninggalkan pakta pertahanan terhadap Pulau Taiwan. Menurut AS, Taiwan adalah bagian dari RRC. 25

25

Wang, T.Y. dan I-Chou Liu, Contending Identities in Taiwan: Implication for CrossStrait Relations . Asian Survey. Vol.4, Issue 4, Agustus 2004.

39

Untuk menyelesaikan masalah perdagangan senjata AS-Taiwan melalui TRA (Taiwan Relation Act), RRC bersama AS mengadakan perundingan pada tanggal 17 Agustus 1982 dan mengeluarkan Joint Communique ketiga tentang hubungan RRC dengan AS yang juga disebut August 17, 1982, Joint Communiques. Dalam perjanjian itu ditunjukkan bahwa AS tidak akan melaksanakan dasar tentang penjualan senjata ke Taiwan dalam jangka waktu lama dan berangsur-angsur menguranginya. Dengan menandatangani Three Sino-US Joint Communiques ini, RRC sukses menghentikan usaha Taiwan untuk mendapatkan senjata dengan karakter bertahan (penangkal) dari AS.

Untuk menjaga perdamaian, keamanan dan stabilitas di Pasifik Barat dan melanjutkan hubungan komersial. Budaya, dan hubunganhubungan lain antara AS dan Taiwan, maka AS membuat Taiwan Relations Act (TRA) atau Undang-Undang Hubungan dengan Taiwan. TRA ditandatangani oleh Presiden Jimmy Carter pada tahun 1979 dan berisi mengenai hubungan diplomatik AS dengan pemerintah RRC. UU ini memberikan kekuasaan khusus kepada institusi AS di Taiwan (American Institute of Taiwan atau AIT) kepada tahap de facto dan menegakkan segala kewajiban internasional sebelumnya yang dibuat antara AS dan RRC berdasarkan perjanjian yang telah dibuat sebelumnya. UU ini

40

mendefinisikan Taiwan sebagai kepulauan Taiwan dan Pescadores dengan tidak memasukkan Kepulauan Kinmen dan Matsu.26

Dalam

perjalanannya,

TRA

menetapkan

bahwa

AS

akan

mempertimbangkan segala usaha menentukan masa depan Taipei dengan maksud menjaga perdamaian, termasuk boikot dan embargo senjata Taipei, yang mengancam perdamaian dan keamanan Pasifik Barat yang menjadi perhatian penting AS. UU ini juga diperlukan AS untuk menyediakan senjata penangkal dan menjaga kekuatan AS untuk pertahanan dari segala upaya penyerangan atau cara lain dengan kekerasan yang dapat mengganggu keamanan atau sosial ekonomi bagi rakyat Taiwan.

Bagaimanapun juga, UU ini juga tidak menjadi syarat AS dalam mengambil langkah militer melawan RRC dari semua peristiwa

penyerangan. TRA telah digunakan oleh administrasi suksesif AS untuk menjustifikasi penjualan persenjataan kepada Taiwan, walaupun AS menganut kebijakan satu Cina , yang berbeda dengan perjanjian antara AS dan RRC. TRA ini secara untuk umum memerintahkan kecukupan AS untuk

memperbolehkan pertahanan diri.

Taiwan

menjaga

kapabilitas

26

Chu, Yun-Han. The Security Challenge for Taiwan in the Post Cold War Era: The Implications of Systemic Change and Domestic Transformation for the Cross-Straits Relations , East Asian Institute: (Columbia University,1995)

41

Kemudian Six Assurances

(SA)

merupakan

pedoman untuk

memimpin hubungan Taiwan dan AS guna menjaga perdamaian di Selat Taiwan. SA diajukan Taiwan pada tahun 1982 selama adanya perundingan antar AS dengan RRC mengenai penjualan senjata AS ke Taiwan. SA digunakan oleh Presiden AS Ronald Reagan dan disetujui oleh Kongres AS pada tahun 1982 dengan isi sebagai berikut:

a. AS tidak akan menetapkan waktu untuk menghapuskan penjualan senjata ke Taiwan. b. AS tidak akan merubah isi dari TRA. c. AS tidak akan berunding dengan RRC sebelum membuat keputusan mengenai penjualan senjata AS ke Taiwan. d. AS tidak akan menjadi penengah antara RRC dan Taiwan. e. AS tidak akan mengubah posisinya mengenai kedaulatan Taiwan yang berarti keputusannya dilakukan secara damai oleh RRC dan tidak akan menekan Taiwan untuk berunding dengan RRC. f. AS secara formal tidak mengakui kedaulatan RRC atas Taiwan.27

Lalu untuk mengatasi serangan RRC karena kenaikan anggaran militernya, kongres AS mengeluarkan Taiwan Enchanment Act (TSEA) pada 1 Februari 2000 dengan tujuan menyediakan dukungan militer AS yang lebih besar kepada Taiwan, termasuk pelatihan dan peralatan militer.

27

Ibid

42

TSEA juga menetapkan hubungan komunikasi secara langsung antara AS dengan Taiwan. UU ini juga dimaksudkan untuk mempertegas dan memperbaharui TRA yang diluluskan setelah pengadilan penghentian hubungan antara AS dengan Taiwan di mana AS mengakui RRC sebagai negara sah dan tertuang dalam Normalization Communique.28

Bermula dari kunjungan bersejarah Presiden Nixon pada tahun 1972, Washington telah membangun hubungan yang lebih dekat dengan Cina dan mereduksi status diplomatik Taiwan bukan sebagai negara. Presiden Reagan telah menandatangani Shanghai Communiqu pada tahun 1982, berjanji untuk mengurangi penjualan senjata ke Taiwan secara perlahan dan untuk menghindari penjualan senjata yang bersifat ofensif. Penjualan senjata ke Taiwan oleh AS menurun selama 1980-an ketika AS mulai membantu Cina daratan teknologi persenjataannya.

Fenomena ini menjadi terbalik setelah peristiwa Tiananmen 1989 di Beijing. Niat baik AS untuk membantu pengembangan senjata Cina terhenti. Perdagangan senjata ke Taiwan meningkat dan Taiwan mengimpor senjata lebih besar dari pada Cina di sepanjang tahun 1990an. Pada kenyataannya Shanghai Communiqu hanya menjadi perjanjian mati. Dewasa ini kekuatan militer Taiwan membuat Cina tidak bisa bertindak menggunakan instrumen militer untuk menghadapinya.

28

Ibid

43

Derasnya pasokan militer dari Amerika Serikat membuat Taiwan lebih dari cukup untuk memimpin dalam perlombaan senjata dengan Cina. Taiwan melebihi kebutuhan minimum untuk memastikan balance of power di selat Taiwan. Cina, yang mana persediaan senjatanya lebih sedikit, mungkin akan terdorong untuk menambah pengeluarannya untuk membeli senjata baru, mendorong perlombaan senjata yang lebih parah di Asia Timur, dan membahayakan stabilitas keamanan di kawasan.

Pada tahun 2003, Presiden George W. Bush memutuskan untuk menawarkan Taiwan paket senjata terbesar semenjak ayahnya menjual bermacam-macam kapal perang dan pesawat F-16 ke Taiwan dekade yang lalu. Bush menolak Taiwan untuk pembelian barang paling mahal dan kontroversial : empat Arleigh Burke-class destroyers dilengkapi dengan system radar Aegis. Bush benar-benar menyetujui dua sistem senjata yang lain yang ditentang Cina : delapan kapal selam dan 12 pesawat patroli anti-kapal selam P-3C . Juga ditawarkan oleh AS empat Kidd-class penghancur rudal. Walaupun ini tidak secanggih Arleigh Burkeclass, tetapi lebih besar dua kali lipat dari semua kapal perang Taiwan yang pernah ada dan lebih kuat dari penghancur milik Cina. Ini akan menjadi tambahan yang sangat berarti bagi angkatan laut Taiwan.
29

29

China Taiwan Conflict , dalam www.dismalworld.com/disputes/china_taiwan_conflict.php diakses pada 8 Oktober 2011 pukul 13.40 WIB

44

Namun yang terpenting adalah kapal selam. Baru-baru ini, Taiwan mampu menggagalkan usaha Cina untuk memblokade pulau Taiwan. Angkatan Udara Taiwan bisa menyebabkan kerugian bagi kegiatan perkapalan Cina dalam sekitar 1000 km dari Taiwan. Dengan kapal selam barunya, bagaimanapun, akan memberikan kemampuan untuk menyerang kegiatan perkapalan Cina di seluruh laut di Asia Timur. Taiwan dapat menghancurkan kegiatan perdagangan melalui laut. Kemampuan Cina untuk mengganggu perdagangan Taiwan lebih terbatas.

Washington telah menggagalkan penjualan kapal selam modern kepada Taiwan untuk beberapa tahun karena kapal selam tersebut merupakan senjata ofensif yang tidak diperlukan pertahanan Taiwan. Taiwan pada saat itu hanya mempunyai dua kapal selam buatan Belanda dan dua kapal selam bekas AS, yang sangat tua, digunakan untuk latihan. AS dan Inggris hanya membuat kapal selam tenaga nuklir dengan harga yang mahal. Kapal-kapal Taiwan kemungkinan dibuat oleh Jerman, Belanda, Perancis, Italia, Jepang, Rusia, atau Swedia. Sehubungan dengan ini dua negara pertama sepertinya akan menjadi kandidat kuat karena mereka tidak begitu peduli akan nantinya menyinggung Cina dari pada negara lain.

Pada tahun 1995 Presiden Taiwan Lee Teng-hui menguatkan hubungannya dengan AS, beliau mengunjungi Washington dan bertemu

45

dengan Presiden Clinton. Tindakan ini dibalas oleh Cina dengan mengadakan percobaan penembakan misil, tindakan ini banyak disebutsebut orang sebagai tindakan untuk mempengaruhi pemilihan umum dengan pamer kekuatan. Taiwan yang sudah melakukan hubungan dengan AS mendapatkan dukungan dari negara adikuasa tersebut, AS merespon tindakan Cina dengan pengiriman kapal perang ke Teluk Taiwan.

Negeri Paman Sam melakukan hal ini karena tidak ingin Cina menjadi the only big power di Asia Pasifik. Cina membalas tindakan ini dengan berbagai pengembangan senjata, bahkan pada bulan maret 2006 Taiwan mengeluh pada Cina yang telah mengembangkan kemampuan penyerangan militernya secara besar-besaran. Bahkan disebut-sebut bahwa Cina mengarahkan sedikitnya 700 buah misil balistiknya ke arah Taiwan. Situasi ini diprotes mati-matian oleh rakyat Taiwan yang mengatakan bahwa nasib Taiwan bukan ditentukan oleh 1,3 milyar penduduk Cina melainkan di putuskan oleh 23 juta penduduk Taiwan.

Perkembangan terakhir dari isu ini terlihat pada kunjungan Presiden Hu Jintao ke AS, Presiden Hu Jintao menyatakan bahwa Cina tetap berambisi untuk menyatukan Taiwan dengan One China Policy-nya. Apabila Taiwan melakukan tindakan-tindakan yang ekstrim maka Cina mungkin akan menggunakan kekuatan militernya terhadap Taiwan

46

sehingga dapat dapat disimpulkan bahwa kekuatan militer Cina semakin bertambah kuat tahun demi tahun.

B. Sikap China-Taiwan

Kebijakan AS terhadap Selat Taiwan telah sering digambarkan sebagai salah satu "ambiguitas strategis." Pada awalnya, kebijakan itu terutama sikap politik: Washington mempertahankan posisi agnostik tentang status akhir dari Taiwan, hanya membutuhkan bahwa masalah ini akan diselesaikan secara damai, dengan kesepakatan bersama, dan tanpa paksaan. Seiring waktu, bagaimanapun, kebijakan tersebut menjadi semakin inmilitary istilah yang didefinisikan. Washington tidak membuat jelas apa tindakan itu akan mengambil dalam peristiwa konflik lintas-selat, hanya mengikuti perjanjian yang dipakai pada Taiwan Relations Act bahwa Amerika Serikat akan "mempertimbangkan upaya untuk menentukan masa depan Taiwan oleh lainnya dari cara-cara damai ... ancaman terhadap perdamaian dan keamanan wilayah Pasifik Barat dan

memprihatinkan ke Amerika Serikat. Washington menahan diri dari yang lebih eksplisit tentang respon, percaya bahwa ketidakpastian akan menghalangi baik Beijing dan Taipei dari membuat gerakan provokatif.30

30

Kurt M. Campbell and Derek J. Mitchell, Crisis in the Taiwan Strait?, Foreign Affairs, Vol. 80, No. 4 (Jul. - Aug., 2001), hal. 14-25

47

Pada Desember 1949, masa pemerintahan Chiang Kai-Shek menegaskan bahwa Taipei adalah ibukota sementara Cina dan berjanji akan menguasai daratan Cina. Beliau mengeluarkan undang-undang keadaan darurat (martial law) terhadap RRC. Sebagai bagian untuk mewakili Cina, segala institusi di pemerintahan RRC dipindahkan ke Taiwan, termasuk parlemen. Selain itu juga menjatuhkan larangan terhadap kebebasan sipil dan berpolitik, memenjarakan dan menghukum lawan-lawannya, dan mengawasi secara ketat dialek asli Taiwan.

Dalam menjalankan roda pemerintahan, Chiang Kai-Shek adalah seorang diktator yang didukung oleh agen rahasia militer, Taiwan Garrison Command. Posisinya menghadapi dua tantangan. Di satu sisi, penduduk asli Taiwan yang ingin memerdekakan Taiwan, menolak aturan yang ditegakkan oleh RRC. Di sisi lain, munculnya ancaman invasi dari komunis RRC. Chiang Kai-Shek mengawali pemerintahan baru dengan menampung generasi muda dan penduduk asli Taiwan dengan fokus utama pada perubahan dari menaklukkan kembali RRC menjadi pembangunan di Taiwan itu sendiri,

Pada akhir 1960-an, Taiwan mengalami penurunan dukungan dari AS karena politik Perang Dingin. Pada tahun 1971, Taiwan kehilangan kursinya dalam mewakili Cina di Dewan Keamanan Perserikatan BangsaBangsa dan Taiwan akhirnya keluar dari PBB. RRC yang sejak berdirinya

48

PBB pada tahun 1946 telah menjadi anggota Dewan Keamanan tetap eksis bersama AS, Inggris, Perancis dan Rusia sebagai pemenang Perang Dunia II.

Presiden Chiang Kai-Shek wafat pada tahun 1975 dan pada tahun 1978, tampuk kepemimpinan turun kepada anaknya, Chiang Ching-Kuo dari PKMT. Pengangkatan Chiang Ching-Kuo menandakan bahwa dinasti Chiang masih tetap eksis dan menyebabkan adanya penentangan dari dalam negeri Taiwan. Pada tahun 1979, kelompok penentang melakukan protes terhadap keadaan di dalam negeri yang menunjukkan Hari HAM Internasional. Selama pemerintahan Chiang Ching-Kuo, skandal keuangan menghancurkan pemerintahan Kuomintang dan kecaman terhadap aturan satu partai tumbuh. Pada tahun 1985, Chiang Ching-Kuo membuka pembicaraan dengan posisi dalam negeri dan pada tahun 1986 partai oposisi pertama Taiwan muncul, yaitu Democratic Progressive Party (DPP).

Penurunan terhadap perang di tahun 1987 dan kematian Presiden Chiang Ching-Kuo pada tahun 1988 membuka era baru terhadap perpolitikan Taiwan. Pada tahun 1988 Lee Teng-hui yang sebelumnya menjabat sebagai wakil presiden diangkat menjadi presiden pertama yang berasal dari penduduk asli Taiwan. Pada tahun 1989, pemilu parlemen pertama dilaksanakan dengan partai yang berbeda dengan Kuomintang, yaitu DPP. Setahun kemudian, anggota parlemen yang mewakili provinsi

49

Cina pension, mengakhiri tuntutan Cina atas Taiwan untuk menjadi satu pemerintahan Cina.

Pada masa ini, Taiwan menawarkan kebijakan Two China atau Dua Cina. Dengan prinsip ini Taiwan mengakui One China Policy. Di lain pihak, Taiwan menginginkan adanya pengakuan terhadap negara Taiwan sebagai satu entitas tersendiri yang terpisah dari RRC. Taiwan mencabut kemauannya untuk dianggap sebagai wakil Cina di forum internasional dan menghendaki peningkatan cross strait relations yang telah terjalin sebagai hubungan antarnegara (special state-to-state relations). Kebijakan tersebut sesungguhnya bertentangan dengan One China Policy karena Taiwan menginginkan adanya pengakuan sebagai entitas tersendiri dari RRC.

Berakhirnya pemerintahan Kuomintang selama 50 tahun ditandai dengan kemenangan Presiden Chen Shui-Bian pada tahun 2000 dari Partai Demokrasi Progresif. Di awal pemerintahannya, presiden ini berjanji akan menghindari kebijakan politik terhadap RRC yang dinyatakan sebagai lima pantangan atau Five No s yaitu:

1. Taiwan tidak akan memproklamirkan kemerdekaan.

2. Taiwan tidak akan mengubah identitas nasional sebagai bagian dari bangsa Cina

50

3. Taiwan tidak akan memposisikan hubungan Taiwan dan RRC sebagai hubungan antarnegara karena kedua pihak adalah sama-sama mewakili negara Cina.

4. Taiwan tidak akan melakukan referendum untuk mengubah posisi status quo yang terjadi selama ini.

5. Taiwan tidak akan mengurangi peran Dewan Unifikasi Nasional.

Referendum adalah solusi politik bagi Taiwan untuk membawa peta perpolitikan Taiwan di masa yang akan datang. Akan tetapi, referendum pada masa ini gagal karena sosok Chen Shui-Ban yang ambisius. Beliau dianggap tidak dapat dipercaya karena melanggar kebijakan politik terhadap RRC yang dinyatakan sebagai melakukan referendum kepada rakyat Taiwan. Lima Pantangan dengan

Ma Ying-Jeou terpilih menjadi Presiden Taiwan pada 20 Mei 2008 dengan wakilnya Vincent Siew dengan dukungan 58,45 persen suara. Sejak masa kampanye, Ma berusaha memulihkan hubugan Cina dan Taiwan serta merevitalisasi perekonomian. Presiden Ma Ying-Jeou

menginginkan kerjasama yang lebih baik dengan Cina, mengingat keduanya mewarisi filosofi, tradisi, dan nilai kebudayaan yang sama. Hal ini dipengaruhi oleh kebiasaan masa kecilnya yang begitu tertarik dengan

51

ajaran dan filosofi para filsuf klasik China, seperti Lao Tse, yang begitu menekankan pentingnya harmoni dalam kehidupan.

Secara umum, terdapat dua prioritas utama hubungan Cina-Taiwan pada masa inii, yaitu: pertama, yakni pemulihan hubungan ekonomi; dan kedua yakni kesepakatan damai. Beliau cenderung lebih bersikap damai, berbeda dengan pendahulu sebelumnya, yakni Chen Shui-bian, yang sangat anti dengan RRC dan sikap pro-kemerdekaannya memicu kemarahan pemerintah Beijing.

Sinyal awal membaiknya hubungan politik RRC dan Taiwan ditunjukkan saat Presiden Cina Hu Jintao mengirimkan telegram atas terpilihnya Ma Ying-jeou sebagai pemimpin Kuomintang yang merupakan komunikasi langsung pertama kali antara dua pemimpin RRC dan Taiwan sejak berakhirnya perang sipil pada tahun 1949. Pesan tersebut menunjukkan niat yang baik untuk memperbaiki hubungan serta mencapai win-win solution.

Dewasa ini, dalam konteks hubungan RRC dan Taiwan, memang agak berbeda, namun pada dasarnya sama, yakni motif ekonomi yang saling menguntungkan. Meskipun secara politik bermusuhan, namun tidak dapat dinafikan bahwa keduanya saling membutuhkan satu sama lain. Taiwan dapat memperoleh keuntungan dari pertumbuhan Cina yang solid,

52

sebaliknya Cina juga dapat berinvestasi pada perekonomian Taiwan yang berkembang pesat.

Kontak perdagangan antara RRC dan Taiwan berawal pada tahun 2000 ketika parlemen Taiwan menghentikan larangan hubungan dagang dan transportasi dengan Cina, dan membolehkan terciptanya beberapa rute dagang. Kini, interdependensi keduanya satu sama lain makin meningkat, seiring dibukanya keran berbagai hubungan dagang. Pada tahun 2008, RRC berhasil mengalahkan AS sebagai sumber impor utama Taiwan. Sementara itu, RRC juga menjadi sumber destinasi Foreign Direct Investment (FDI) utama bagi Taiwan. Intinya, ini merupakan hubungan yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak.31

Dalam sebuah kesepakatan, Taiwan dan RRC juga sepakat untuk melipatgandakan penerbangan langsung ke Selat Taiwan menjadi 270 per minggu, dari 108 saat ini, dan menambah enam destinasi ke Cina dari sebelumnya 21. Demikian juga dengan penerbangan kargo, yang akan ditingkatkan dari 60 kali menjadi 112 kali sebulan atau 28 kali per minggu. Sebelum adanya penerbangan langsung, perdagangan bilateral antara kedua negara bahkan mencapai $130 miliar. Dalam waktu dekat, kedua pemerintahan diperkirakan akan menjalin kesepakatan perekonomian,

31

Chien-min Chao, Will Economic Integration between Mainland China and Taiwan Lead to a Congenial Political Culture?, University of California Press, Asian Survey, Vol. 43, No. 2 (Mar. - Apr., 2003), hal. 280-304

53

yang menurut Ma diperkirakan akan menciptakan 273,000 lapangan kerja serta mendongkrak ekspor sebesar 4.87% hingga 4.99%.
32

Bahkan, keduanya juga akan membuat suatu sistem foreignexchange clearing, yang akan makin menghapus batasan antara pasar permodalan dan keuangan keduanya. Sebagai langkah awal, keduanya akan memilih satu atau dua bank untuk melakukan tukar mata uang yuan Cina dan dollar Taiwan. Seiring dengan meningkatnya hubungan perdagangan dan investasi antara Taiwan dan Cina, salah satu wacana yang mengemuka adalah kemungkinan untuk menggunakan mata uang Yuan Cina sebagai cadangan devisa Taiwan.

Diawali dari jalinan hubungan ekonomi yang baik, diharapkan ini akan menjadi langkah awal yang mengarah kepada bersatunya kedua Cina, yakni RRC dan Republik Cina (Taiwan). Hubungan yang saling menguntungkan antara kedua negara tersebut tentunya menjadi factor utama yang dapat membuat kedua pemerintah mengesampingkan konflik, dan memilih untuk berdamai.

Akan tetapi, upaya Ma menjalin kerja sama dalam harmoni dengan China daratan membuat sebagian kecil warga Taiwan diliputi kecemasan. Yang ditakutkan, para pelaku ekonomi China akan kembali menguasai Taiwan lewat jalur ekonomi. Tetapi Ma menjamin dia tidak akan
32

Ibid

54

menggadaikan Taiwan. Ma hanya yakin jika China dan Taiwan bisa bermitra secara sejajar, otomatis martabat Taiwan akan terangkat dengan sendirinya di mata dunia internasional. Akhirnya dapat dikatakan bahwa, Ma menginginkan normalisasi hubungan ekonomi dan budaya antara China dan Taiwan yang dianggap sebagai solusi paling masuk akal dan sama-sama menguntungkan.

Selama beberapa tahun terakhir, Taiwan telah menanggapi secara santai tentang pembatasan kontak resmi dengan RRC, dan interaksi lintasSelat telah menjamur. Pada Januari 2001, Taiwan secara resmi mengizinkan "tiga mini-link" (perdagangan langsung, perjalanan, dan jaringan pos) dari Kinmen (Quemoy) dan Matsu Kepulauan untuk Provinsi Fujian dan diizinkan langsung lintas-selat perdagangan pada Februari 2002. Lintas-Selat perdagangan telah berkembang pesat selama 10 tahun terakhir. Cina adalah mitra dagang terbesar Taiwan, dan Taiwan adalah Cina terbesar ketujuh. Perkiraan investasi Taiwan di daratan, baik resmi disetujui oleh otoritas Taiwan dan investasi yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan Taiwan melalui pihak ketiga, berkisar dari 150 miliar dolar untuk lebih dari 300 miliar dolar, membuat Taiwan dan Hong Kong dengan beberapa tindakan dua investor terbesar di RRC

55

perdagangan ini umumnya berjalan dalam mendukung Taiwan dan terus tumbuh, menyediakan mesin lain bagi perekonomian pulau itu.
33

Pada tanggal 29 Juni, 2010 setelah 6 bulan negosiasi, Taiwan dan RRC menandatangani Perjanjian Kerangka Kerjasama Ekonomi (ECFA), bertujuan untuk membawa tentang liberalisasi lintas-Selat perdagangan produk dan jasa, dan akhirnya menciptakan dasar rezim perdagangan bebas . ECFA mulai berlaku pada tanggal 12 September, dan tarif produk obat-obatan dikurangi untuk perdagangan bilateral lebih dari 500 produk dimulai pada tanggal 1 Januari 2011. Ma melihat ECFA pejabat pemerintahan sebagai langkah pertama penting dalam menghindari marginalisasi ekonomi daerah Taiwan dan membuka jalan bagi hubungan perdagangan diperluas dengan Asosiasi Bangsa Bangsa Asia Tenggara (ASEAN), Amerika Serikat, dan mitra dagang utama lainnya.

Pada Februari 2003, Taiwan dan RRC sepakat untuk memungkinkan operator Taiwan untuk terbang non-stop (meskipun diarahkan melalui Hong Kong atau Makau wilayah udara) untuk membawa warga Taiwan pada daratan rumah untuk liburan Tahun Baru Imlek. Kedua belah pihak sepakat untuk melakukan carter penerbangan Tahun Baru Imlek lagi pada tahun 2005, dengan penerbangan yang dioperasikan oleh kedua wilayah Taiwan dan RRC. Seiring waktu penerbangan ini diperluas untuk
33

http://www.state.gov/r/pa/ei/bgn/35855.htm, diakses pada tanggal 8 Oktober 2011 pukul 16:30 WIB

56

mencakup tiga hari libur besar lainnya. Pada bulan Juli 2008, operator Taiwan dan RRC mulai beroperasi carter penerbangan lintas-selat setiap akhir pekan. Penerbangan ini terbuka untuk turis daratan, serta Taiwan dan wisatawan asing.

Harian langsung lintas-Selat layanan penerbangan carter dimulai pada Desember 2008, dan kedua belah pihak juga telah mulai penerbangan charter kargo, pengiriman langsung, pelayanan pos

langsung, dan kerja sama pada isu-isu keamanan pangan. Untuk memenuhi permintaan yang meningkat pesat angkutan udara, kedua pihak sepakat untuk meningkatkan jumlah penerbangan penumpang dan kargo ke 270 per minggu pada tahun 2009; pembawa dari setiap sisi mengoperasikan 135 penerbangan per minggu..
34

Pengembangan hubungan lintas-Selat memiliki pasang surut. Pada bulan April 1993, putaran pertama tingkat tinggi lintas-Selat perundingan diselenggarakan di Singapura antara kepala dua organisasi perantara swasta - Selat Taiwan Exchange Foundation (SEF) dan Asosiasi RRC untuk Hubungan Lintas Selat Taiwan (ARATS). Pembicaraan ini ditujukan terutama masalah teknis yang berkaitan dengan interaksi lintas-Selat. Beijing menangguhkan pembicaraan tingkat rendah-1995-97 setelah kunjungan Presiden AS.

34

Ibid

57

Ketua SEF Koo Chen-fu mengunjungi daratan pada bulan Oktober 1998 untuk putaran kedua pembicaraan tingkat tinggi. Pada 1999 Beijing sekali lagi menangguhkan dialog lintas-Selat, membatalkan rencana kunjungan Ketua ARATS Wang Daohan ke Taiwan, karena pernyataan oleh Presiden Lee bahwa hubungan antara RRC dan Taiwan harus dilakukan sebagai "negara-negara untuk-" atau setidaknya sebagai "khusus untuk negara-negara hubungan." Setelah pelantikan 20 Mei 2000, itu, Presiden Chen menyerukan melanjutkan dialog lintas-Selat tanpa prasyarat, tetapi RRC bersikeras Presiden Chen pertama mengakui apa yang diklaim adalah "konsensus 1992" pada satu China yang dicapai oleh kedua belah pihak. Dialog lintas-Selat tetap ditangguhkan selama 8 tahun berikut dua istilah pemerintahan Presiden Chen. Meskipun demikian, hubungan ekonomi dan sosial terus berkembang pesat meskipun rintangan "satu Cina" dan dendam Taiwan selama RRC Maret 2005 "AntiSecession Law," dan kedua belah pihak mampu melalui organisasi perantara untuk mencapai kesepakatan di hari libur lintas-Selat piagam penerbangan. Kuomintang mulai dialog sendiri dengan Beijing pada tahun 2005.

Presiden Ma telah bergerak cepat untuk melanjutkan dialog SEFARATS, memperluas penerbangan, dan, dalam sebuah langkah besar untuk meningkatkan hubungan lintas-Selat, menandatangani Perjanjian Kerangka Kerjasama Ekonomi (ECFA) dengan Beijing. Amerika Serikat

58

telah menyambut dan mendorong dialog lintas-Selat teratur sebagai proses yang memberikan kontribusi pada pengurangan ketegangan dan lingkungan yang kondusif untuk resolusi damai akhirnya beredar perbedaan antara kedua belah pihak. Amerika Serikat percaya bahwa perbedaan antara Taipei dan Beijing harus diselesaikan secara damai dengan cara yang diterima orang-orang di kedua sisi Selat Taiwan. Selama 2 tahun terakhir, SEF dan ARATS telah mengadakan enam putaran perundingan dan menandatangani perjanjian 15, termasuk ECFA itu. Presiden Ma telah menekankan pentingnya orang-ke-orang kontak, dan pada tahun 2010 Yuan Legislatif merevisi Hukum Universitas, UU Junior College, dan Salib-selat UU Hubungan RRC yang akan memungkinkan mahasiswa untuk datang ke Taiwan untuk sarjana dan studi gelar sarjana.

Melalui dekade kerja keras dan manajemen ekonomi yang sehat, Taiwan telah mengubah dirinya dari sebuah pulau, terbelakang pertanian untuk sebuah kekuatan ekonomi yang merupakan produsen utama barang-barang teknologi tinggi. Pada tahun 1960, investasi asing di Taiwan membantu mengenalkan modern, teknologi padat karya ke pulau itu, dan Taiwan menjadi eksportir utama produk padat karya. Pada 1980an, fokus bergeser ke arah yang semakin canggih, produk-produk padat modal dan teknologi-intensif untuk ekspor dan untuk mengembangkan sektor jasa. Pada saat yang sama, apresiasi dolar Taiwan Baru (NTD), biaya tenaga kerja meningkat, dan kesadaran lingkungan yang meningkat

59

di Taiwan disebabkan industri padat karya, seperti pabrik sepatu, untuk pindah ke Cina dan Asia Tenggara.
35

Taiwan bergabung dengan ekonomi regional lain dalam resesi pertama sejak tahun 1949. Dari 2002-2007, pertumbuhan ekonomi Taiwan berkisar dari 3,5% menjadi 6,2% per tahun. Dengan penurunan ekonomi global, ekonomi Taiwan terpuruk ke dalam resesi pada semester kedua 2008. GDP riil, pertumbuhan berikut 5,7% pada tahun 2007, naik 0,73% pada tahun 2008 dan dikontrak 1,93% pada tahun 2009. Perdagangan luar negeri telah menjadi mesin pertumbuhan yang cepat Taiwan selama 50 tahun terakhir.

Ekonomi Taiwan tetap berorientasi ekspor, sehingga tergantung pada rezim perdagangan dunia yang terbuka dan tetap rentan terhadap fluktuasi dalam ekonomi dunia. Nilai total perdagangan meningkat lebih dari lima kali lipat pada 1960-an, hampir sepuluh kali lipat pada tahun 1970, dua kali lipat pada 1980-an, hampir dua kali lipat lagi pada 1990-an, dan tumbuh lebih dari 85% dalam dekade terakhir. Komposisi Ekspor berubah dari komoditas pertanian terutama untuk barang-barang industri (sekarang 98%). Sektor elektronik adalah sektor ekspor terpenting

35

Chien-Min Chao, Ibid

60

industri Taiwan. Taiwan menjadi anggota Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) sebagai wilayah pabean khusus pada Januari 2002.
36

Perusahaan Taiwan pemasok terbesar di dunia monitor komputer dan pemimpin di bidang manufaktur PC, meskipun sekarang banyak perakitan akhir dari produk ini terjadi di luar negeri, biasanya di Cina. Impor didominasi oleh bahan baku dan barang modal, yang menyumbang lebih dari 90% dari total. Taiwan impor batubara, minyak mentah, dan gas untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan energi. Mencerminkan investasi Taiwan yang besar di Cina, RRC menggantikan Amerika Serikat sebagai mitra dagang terbesar Taiwan pada tahun 2003. Pada tahun 2010, Cina (termasuk Hong Kong) menyumbang lebih dari 29,0% dari total perdagangan Taiwan dan 41,8% dari ekspor Taiwan. Jepang dagang terbesar kedua Taiwan bermitra dengan 13,3% dari total perdagangan, termasuk 20,7% dari impor Taiwan.
37

Amerika Serikat sekarang ketiga terbesar mitra dagang Taiwan, mengambil 11,5% dari ekspor Taiwan dan memasok 10,1% dari impor. Pada tahun 2010, Taiwan 9-mitra dagang terbesar Amerika Serikat '; dua arah perdagangan Taiwan dengan Amerika Serikat sebesar 619 milyar dolar pada tahun 2010. Impor dari Amerika Serikat sebagian besar terdiri dari mesin dan peralatan serta bahan baku pertanian dan industri. Ekspor
36 37

Ibid http://www.state.gov/r/pa/ei/bgn/35855.htm, Log.cit

61

ke Amerika Serikat terutama elektronik dan barang-barang konsumen. Amerika Serikat, Hong Kong, Cina, dan barang-barang Jepang untuk 60% dari ekspor Taiwan, dan Amerika Serikat, Jepang, dan Cina menyediakan hampir 46% dari impor Taiwan.
38

Sebagai per kapita Taiwan tingkat pendapatan telah meningkat, permintaan untuk impor, barang berkualitas tinggi konsumen telah meningkat. Defisit perdagangan AS dengan Taiwan pada tahun 2010 adalah 988 milyar dolar, naik 3 juta dolar dari 2009. Meskipun Taiwan mempertahankan hubungan diplomatik resmi dengan mitra dagang, Taiwan mempertahankan kantor perdagangan di hampir 100 negara. Taiwan adalah anggota dari Asian Development Bank, WTO, dan AsiaPacific Economic Cooperation (APEC). Taiwan juga seorang pengamat di Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD). Pada tahun 2009, Taiwan menyetujui Perjanjian Pengadaan Pemerintah WTO. Perkembangan ini mencerminkan kepentingan ekonomi Taiwan dan keinginan untuk menjadi lebih terintegrasi ke dalam ekonomi global.39

38 39

Ibid Ibid

62

BAB IV KESIMPULAN
Di bab terakhir ini penulis akan memberikan kesimpulan serta pandangan terhadap pengaruh AS dalam hubungan China-Taiwan di bidang ekonomi. AS menebarkan pengaruhnya di kawasan Asia Timur Pasca Perang Korea tahun 1950, Presiden AS Harry S.Truman

menempatkan Pasukan Laut Ketujuh (The Seventh Fleet) di Taiwan untuk mencegah serangan komunis RRC ke Taiwan. Hal ini adalah juga merupakan intervensi pertama kalinya dalam konflik Cina (daratan) dan Taiwan (pulau). Washington menilai bahwa Taipei mampu menghalau komunis di Asia dan menyediakan bahan-bahan yang diperlukan dalam rangka menjaga keamanan seperti keamanan dan peraltan militer.

Pada akhir 1960-an, Taiwan mengalami penurunan dukungan dari AS karena politik Perang Dingin. Pada tahun 1971, Taiwan kehilangan kursinya dalam mewakili Cina di Dewan Keamanan Perserikatan BangsaBangsa dan Taiwan akhirnya keluar dari PBB. RRC yang sejak berdirinya PBB pada tahun 1946 telah menjadi anggota Dewan Keamanan tetap eksis bersama AS, Inggris, Perancis dan Rusia sebagai pemenang Perang Dunia II.

63

Akan tetapi seiring berjalannya waktu, pengaruh AS di Taiwan semakin memudar terutama bidang ekonomi yang menjadi bahasan penulis kali ini. Hal ini bisa kita liat RRC menggantikan Amerika Serikat sebagai mitra dagang terbesar Taiwan pada tahun 2003. Pada tahun 2010, Cina (termasuk Hong Kong) menyumbang lebih dari 29,0% dari total perdagangan Taiwan dan 41,8% dari ekspor Taiwan. Jepang dagang terbesar kedua Taiwan bermitra dengan 13,3% dari total perdagangan, termasuk 20,7% dari impor Taiwan.

Amerika Serikat sekarang ketiga terbesar mitra dagang Taiwan, mengambil 11,5% dari ekspor Taiwan dan memasok 10,1% dari impor. Pada tahun 2010, Taiwan 9-mitra dagang terbesar Amerika Serikat '; dua arah perdagangan Taiwan dengan Amerika Serikat sebesar 619 milyar dolar pada tahun 2010. Impor dari Amerika Serikat sebagian besar terdiri dari mesin dan peralatan serta bahan baku pertanian dan industri. Ekspor ke Amerika Serikat terutama elektronik dan barang-barang konsumen. Amerika Serikat, Hong Kong, Cina, dan barang-barang Jepang untuk 60% dari ekspor Taiwan, dan Amerika Serikat, Jepang, dan Cina menyediakan hampir 46% dari impor Taiwan.

64

Anda mungkin juga menyukai