Anda di halaman 1dari 9

askep hipertensi

LAPORAN PENDAHULUAN HIPERTENSI A. DEFINISI PENYAKIT Tekanan darah adalah tekanan di dalam pembuluh arteri ketika darah di pompa oleh jantung ke seluruh anggota tubuh. Tekanan darah dapat dilihat dengan mengambil dua ukuran dan biasanya ditunjukkan dengan angka seperti berikut: 120/80 mmHg. Angka 120 menunjukkan tekanan pada pembuluh arteri ketika jantung berkontraksi, disebut dengan tekanan sistolik. Angka 80 menunjukkan tekanan ketika jantung sedang berelaksasi, disebut dengan tekanan daistolik. (www.fortune star indonesia/health/info penyakit/hipertensi(tekanan darah tinggi).htm) Hipertensi adalah ditetapkannya tekanan darah secara menetap dimana tekanan sistolik diatas 140 mmHg, dan diastolnya diatas 90 mmHg. (Bongkman, 2000:216) Hipertensi adalah tekanan darah persisten dimana tekanan sistolnya diatas 140 mmHg, dan tekanan diastolnya diatas 90 mmHg. (Smelzen, 2002:296) Hipertensi adalah suatu keadaan dimana tekanan darah meningkat melebihi batas normal. Batas tekanan darah normal bervariasi sesuai dengan usia. Berbagai faktor dapat memicu terjadinya hipertensi, walaupun sebagian besar (90%) penyebab hipertensi tidak diketahui. B. ETIOLOGI Hipertensi dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis yaitu: 1. Hipertensi Primer atau Esensial (95% kasus hipertensi) yang penyebabnya tidak diketahui. 2. Hipertensi Skunder (5% kasus hipertensi) yang dapat disebabkan oleh penyakit ginjal, penyakit endokrin, penyakit jantung, gangguan anak ginjal, dll. Faktor-faktor resiko yang dapat menimbulkan terjadinya hipertensi adalah: 1. Keturunan 2. Usia 3. Berat badan 4. Konsumsi garam berlebihan 5. Pola makan dan gaya hidup 6. Aktivitas olahraga 7. Stress 8. Konsumsi alkohol dan merokok C. PATOFISIOLOGI Peningkatan tekanan darah/hipertensi dipengaruhi oleh curah jantung yang meningkat dan tekanan pada dinding perifer yang meningkat sebagai faktor seperti keturunan, obesitas, konsumsi garam yang berlebihan, konsumsi alkohol, merokok. Olahraga yang kurang berperan penting dalam peningkatan tekanan darah pada hipertensi primer. Pada tahap awal hipertensi primer curah jantung meningkatkan dan tekanan perifer normal disebabkan oleh peningkatan aktifitas saraf simpatik. Pada tahap selanjutnya curah jantung dan tekanan perifer meningkat karena reflek antiregulasi (mekanisme tubuh untuk mempertahankan keadaan hemodinamik yang normal) karena curah jantung meningkat terjadi konstriksi shugfer pre kapiler. Hal ini disebabkan oleh adanya kelainan struktural pada pembuluh darah terjadi hipertensi dinding pembuluh darah, sedangkan pada jantung terjadi pencegahan dinding ventrikel

adanya penyempitan pada dinding pembuluh darah dan mengakibatkan terjadinya vase kontraksi pembuluh darah. Vase kontraksi dari pembuluh darah dapat mengakibatkan aliran darah ke ghinal menyebabkan pelepasan renin, produksi renin di pengaruhi oleh stimulasi syaraf simpatis, renin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi Angiotensin II yang merangsang skresraldosteron oleh kortek adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal menyebabkan peningkatan volume intravaskuler. Akibat dari vase kontriksi pembuluh darah mengakibatkan perifer meningkat sehingga terjadi peningkatan tekanan darah. Hal ini menyebabkan kerusakan vaskuler. Kerusakan vaskuler akibat hipertensi terlihat jelas pada seluruh pembuluh perifer. Perubahan vaskuler dapat berupa perubahan vaskuler retina yang dapat mengganggu fungsi penglihatan. (Tembayang, 2000: 899) Pelepasan Norepineprin

Vaso kontriksi Pembuluh Darah

Sistem Syaraf Simpatis PATHWAY:

MerangsangKelenjar adrenal

Penurunan darah ke ginjal

Vol. Intravaskuler

Merangsangaldosteron pada korteks adrenal

Angiotensinogen I

Angiotensinogen II

Tekanan Darah

Pelepasan ranin

D. MANIFESTASI KLINIS Salah satu tanda dan gejala yang ditemukan hipertensi adalah peningkatan tekanan darah. Gejala yang sering ditemukan:  Sakit kepala  Epitaksis  Pusing  Cepat marah  Telinga berdengung  Susah tidur  Rasa berat di tengkuk/leher  Mata berkunang-kunang  Mudah lelah (Susalit, 2002:459-460) E. KOMPLIKASI  Stroke  Gagal ginjal

 Kebutaan  Gagal jantung F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK 1. Pemeriksaan laboratorium  Hb/Ht  BUN/Kreatinin  Glukosa  Urin 2. CT Scan 3. EKG 4. LUP 5. Photo Dada G. PENATALAKSANAAN 1. Penatalaksanaan non farmakologis  Diet pembatasan atau pengurangan konsumsi garam. Penurunan BB dapat menurunkan tekanan darah dibarengi dengan penurunan aktivitas rennin dalam plasma dan kadar adosteron dalam plasma.  Aktivitas Klien disarankan untuk berpartisipasi pada kegiatan dan disesuaikan dengan batasan medis dan sesuai dengan kemampuan seperti berjalan, joging, bersepeda, dll. 2. Penatalaksanaan farmakologis Secara garis besar terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian atau pemilihan obat anti hipertensi yaitu:  Mempunyai efektivitas yang tinggi  Mempunyai toksitas dan efek samping yang ringan atau minimal  Memungkinkan penggunaan obat secara oral  Tidak menimbulkan intoleransi  Harga obat relatif murah shingga terjangkau oleh klien  Memungkinkan penggunaan jangka panjang Golongan obat-obatan yang diberikan pada klien dengan hipertensi seperti golongan: diuretik, betabloker, antagonis kalsium, penghambat konversi rennin angiotensin. H. FOKUS PENGKAJIAN 1. Aktivitas/istirahat Gejala : Kelemahan, letih, nafas pendek. Tanda : Frekuensi jantung meningkat, perubahan irama jantung takipnea. 2. Sirkulasi Gejala : Asterosklerosis, penyakit jantung kronis. Tanda : Kenaikan tekanan darah dan penyakit serebrovaskuler. 3. Integritas ego Gejala : Ansietas ego, depresi, eliforid, riwayat perubahan, kepribadian. Tanda : Gelisah, penyempitan kontinyu, perhatian otot mulai tegang, gerakan fisik cepat, peningkatan pola bicara. 4. Eliminasi Gejala : Gangguan ginjal saat ini atau yang lalu. 5. Makanan/cairan Gejala : Makanan yang disukai yang dapat mencakup makanan tinggi garam, tinggi lemak, tinggi kolesterol, mual-muntah, perubahan BB ( / ).

Tanda : Adanya edema. 6. Neurosensori Gejala : Keluhan pusing, ganggua penglihatan, epitaksis. Tanda : Status mrntal, perubahan keterjagaan proses pikir respon motorik, penurunan kekuatan genggaman tangan/reflek tendon dalam. 7. Nyeri (ketidaknyamanan) Gejala : Angina, nyeri hilang timbul pada tungkai, sakit kepala, oksipital berat, seperti yang pernah terjadi sebelumnya, nyeri abdomen/mussa. 8. Pernafasan Gejala : Distress, respirasi, bunyi nafas tambahan (krakles/mengisianosis). Tanda : Dispenia yang berkaitan dengan aktivitas, takipnea, batuk tanpa sputum, riwayat merokok. 9. Keamanan Gejala : Ganggua koordinasi/cara berjalan, hipotensi, postura. (Doengus, 2000:39)

I.

ANALISA DATA No Data Penunjang 1 DS: Klien mengatakan sesak nafas. Do: y Klien tampak menggunakan oksigen dengan kanul binasal (3-5 liter) y Klien tampak sesak nafas y Tanda-tanda vital: TD: 160/80 mmHg RR: 30x/menit N: 110/menit T: 37o C

Penyebab Peningkatan tekanan darah Penyempitan tekanan arteri Penurunan suplai O2 dalam darah Peningkatan kebutuha O2 Peningkatan ventilasi sesak Pola nafas inefektif Peningkatan tekanan darah Penyempitan arteri Suplai O2 menurun Asam laktat meningkat

Masalah Pola nafas inefektif

y y y y

DS: Klien mengatakan nyeri dada. DO: Klien tampak memegang dada Klien tampak meringis Klien tampak nyeri, skala nyeri 6 (0-10) Tanda-tanda vital: TD: 160/80 mmHg

Nyeri dada

RR: 25x/menit N: 110x/menit T: 37o C

Reseptor nyeri Nyeri dada

DS: Klien mengatakan saat ini aktivitas masih dibantu keluarga. DO: Aktivitas tampak dibantu keluarga

Peningkatan tekanan darah Penyempitan arteri Penurunan suplai O2 Penurunan metabolisme Kelelahan/mal aise Intoleransi aktivitas

Intoleransi aktivitas

J. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL 1. Pola nafas inefektif b.d peningkatan kebutuhan oksigen dalam jaringan miokard. 2. Nyeri dada b.d iskemik jaringan arteri koroner 3. Intoleransi aktivitas b.d kelemahan K. INTERVENSI/PERENCANAAN KEPERAWATAN 1. Pola nafas inefektif berhubungan dengan peningkatan kebutuhan oksigen dalam jaringan miokard. Kriteria hasil: Pola nafas kembali adekuat, RR dalam batas normal. Intervensi Rasional 1. Memberikan oksigen sesuai kebutuhan 1. Membantu memenuhi kebutuhan O2 2. Berikan posisi yang nyaman Membantu mengembalikan keadekuatan 2. (Semifowler) nafas 3. Mengajari tekhnik relaksasi 3. Meningkatkan relaksasi 4. Kolaborasi pemberian deuretik 4. Mengurangi sesak dengan pengurangan cairan 2. Nyeri akut berhubungan dengan iskemik jaringan arteri koroner Kriteria hasil: Nyeri dada hilang atau terkontrol Intervensi Rasional 1. Pantau, catat karakter nyeri, catat Variasi penampilan dan perilaku klien 1. laporan verbal dan respon hemodinamika karena nyeri terjadi sebagai temuan 2. Kaji nyeri dan klien termasuk lokasi pengkajian. intensitas lamanya dan penyebaran 2. Nyeri sebagai pengalaman subjektif dan harus digambarkan oleh klien. Bantu klien untuk nyeri dengan membandingkan dengan pengalaman

3.

Anjurkan klien untuk melaporkan yang lain apabila ada nyeri dengan segera 3. Nyeri berat dapat menyebabkan syok dengan merangsang sistem syaraf simpatis, mengakibatkan kerusakan 4. Berikan lingkungan yang tenang lanjutan 4. Menurunkan rangsangan eksternal dalam 5. Ajarkan melakukan tekhnik relaksasi meningkatkan koping 5. Membantu dalam penurunan persepsi atau respon nyeri, dan memberikan 6. Kolaborasi kontrol situasi 6. Untuk meningkatkan jumlah O2 yang y Berikan O2 sesuai indikasi ada, mengurangi ketidaknyamanan, dan y Berikan obat sesuai indikasi untuk mengontrol serta menghilangkan nyeri

3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan Kriteria hasil: Dapat melakukan aktivitas minimal Intervensi Rasional 1. Catat frekuensi jantung atau irama TD 1. Kecenderungan menentukan klien sebelum dan sesudah aktivitas terhadap aktivitas, mengidentivikasi penurunan O2 di miokard 2. Tingkatkan istirahat dan batasi aktivitas2. Menurunkan kerja miocard atau konsumsi O2, menurunkan resiko 3. Anjurkan klien untuk menghindari komplikasi peningkatan tekanan abdomen. 3. Aktivitas yang memerlukan menahan Contoh: Mengedan saat BAB nafas dan menunduk mengakibatkan brakikardi, menurunkan curah jantung dan takikardi dengan peningkatan TD

L.

DAFTAR PUSTAKA Doengoes, Marilynn E, Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan pasien, Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, 2000 Gunawan, Lany. Hipertensi : Tekanan Darah Tinggi , Yogyakarta, Penerbit Kanisius, 2001 Kodim Nasrin. Hipertensi : Yang Besar Yang Diabaikan, @ tempointeraktif.com, 2003 Brunner & Suddarth. Buku Ajar : Keperawatan Medikal Bedah Vol 2, Jakarta, EGC, 2002 Engram, Bankono, 1999. Rencana ASUHAN KEPERAWATAN Edisi 8, EGC : Jakarta Smeltzer S.C. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Vol. 2, EGC : Jakarta Sulalit, E, DKK. 2001. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. PKUI : Jakarta Wijaya Kusuma H. Pembuluh Darah. Dkk. 2004. Ramuan Tradisonal Untuk Pengobatan Darah Tinggi. Swadaya : Jakarta