Anda di halaman 1dari 20

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang Waham adalah keyakinan yang salah dan kuat dipertahankan walaupun tidak diyakini oleh orang lain dan bertentangan dengan realitas social.( Gail W. Stuart). Waham dibangun atas unsure unsur yang tidak berdasarkan logika, individu tidak mau melepaskan wahamnya, walaupun telah tersedia cukup bukti bukti yang objektif tentang kebenaran itu. Biasanya waham digunakan untuk mengisi keperluan atau keinginan keinginan dari penderita itu sendiri. Waham merupakan suatu cara untuk memberikan gambaran dari berbagai problem sendiri atau tekanan tekanan yang ada dalam kepribadian penderita biasanya: a. Keinginan yang tertekan. b. Kekecewaan dalam berbagai harapan. c. Perasaan rendah diri. d. Perasaan bersalah. e. Keadaan yang memerlukan perlindungan terhadap ketakutan.

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang didapat beberapa rumusan masalah,yaitu: 1. Apa saja jenis-jenis waham? 2. Apa saja tanda dan gejala waham? 3. Bagaimana sumber koping waham?

1.3 Tujuan

1. Menjelaskan jenis jenis waham 2. Menjelaskan tanda dan gejala waham 3. Menjelaskan sumber koping waham

1.4 Manfaat Penulisan 2. Mengetahui jenis jenis waham 3. Mengetahui tanda dan gejala waham 4. Mengetahui sumber koping waham

BAB II KAJIAN TEORI

2.1 Pengertian waham 1. Waham adalah keyakinan yang salah yang secara kokoh dipertahankan walaupun tidak diyakini oleh orang lain dan bertentangan dengan realita sosial (Stuart dan Sunden, 1990 : 90). 2. Waham adalah suatu kepercayaan yang salah/ bertentangan dengan kenyataan dan tidak tetap pada pemikiran seseorang dan latarbelakang sosial budaya (Rowlins, 1991: 107) 3. Waham adalah bentuk lain dari proses kemunduran pikiran seseorang yaitu dengan menca,puri kemampuan pikiran diuji dan dievaluasi secara nyata (Judith Heber, 1987: 722). 4. Waham adalah keyakinan tentang suatu isi pikir yang tidak sesuai dengan kenyataan atau tidak cocok dengan intelegensi dan latar belakang kebudayaan biarpun dibuktikan kemustahilannya itu (W. F.Maramis 1991 : 117). Berdasarkan pengertian di atas maka waham adalah suatu gangguan perubahan isi pikir yang dilandasi adanya keyakinan akan ide-ide yang salah yang tidak sesuai dengan kenyataan, keyakinan atau ide-ide klien itu tidak dapat segera diubah atau dibantah dengan logika atau halhal yang bersifat nyata. 2.2 Rentang respon waham Rentang respon gangguan adaptif dan maladaptif dapat dijelaskan sebagai berikut : Rentang respon neurobiologis di atas dapat dijelaskan bila individu merespon secara adaptif maka individu akan berpikir secara logis. Apabila individu berada pada keadaan diantara adaptif dan maladaptif kadang-kadang pikiran menyimpang atau perubahan isi pikir terganggu. Bila individu tidak mampu berpikir secara logis dan pikiran individu mulai menyimpang maka ia akan berespon secara maladaptif dan ia akan mengalami gangguan isi pikir waham.

2.3 Faktor predisposisi Faktor predisposisi dari perubahan isi pikir : waham kebesaran dapat dibagi menjadi 2 teori yang diuraikan sebagai berikut : 1. Teori Biologis 1 Faktor-faktor genetik yang pasti mungkin terlibat dalam perkembangan suatu kelainan ini adalah mereka yang memiliki anggota keluarga dengan kelainan yang sama (orang tua, saudara kandung, sanak saudara lain). 2 Secara relatif ada penelitian baru yang menyatakan bahwa kelainan skizofrenia mungkin pada kenyataannya merupakan suatu kecacatan sejak lahir terjadi pada bagian hipokampus otak. Pengamatan memperlihatkan suatu kekacauan dari selsel pramidal di dalam otak dari orang-orang yang menderita skizofrenia. 3 Teori biokimia menyatakan adanya peningkatan dari dopamin neurotransmiter yang dipertukarkan menghasilkan gejala-gejala peningkatan aktivitas yang berlebihan dari pemecahan asosiasi-asosiasi yang umumnya diobservasi pada psikosis. 2. Teori Psikososial Teori sistem keluarga Bawen dalam Lowsend (1998 : 147) menggambarkan perkembangan skizofrenia sebagai suatu perkembangan disfungsi keluarga. Konflik diantara suami istri mempengaruhi anak. Penanaman hal ini dalam anak akan menghasilkan keluarga yang selalu berfokus pada ansielas dan suatu kondsi yang lebih stabil mengakibatkan timbulnya suatu hubungan yang saling mempengaruhi yang berkembang antara orang tua dan anak-anak. Anak harus meninggalkan ketergantungan diri kepada orang tua dan anak dan masuk ke dalam masa dewasa, dan dimana dimasa ini anak tidak akan mamapu memenuhi tugas perkembangan dewasanya. Teori interpersonal menyatakan bahwa orang yang mengalami psikosis akan menghasilkan hubungan orang tua anak yang penuh akan kecemasan. Anak menerima pesan-

pesan yang membingungkan dan penuh konflik dan orang tua tidak mampu membentuk rasa percaya terhadap orang lain. Teori psikodinamik menegaskan bahwa psikosis adalah hasil dari suatu ego yang lemah. Perkembangan yang dihambat dan suatu hubungan saling mempengaruhi antara orang tua, anak. Karena ego menjadi lebih lemah penggunaan mekanisme pertahanan ego pada waktu kecemasan yang ekstrim menjadi suatu yang maladaptif dan perilakunya sering kali merupakan penampilan dan segmen diri dalam kepribadian. 2.4 Faktor presipitasi Faktor presipitasi dari perubahan isi pikir waham, yaitu : Stressor biologis yang berhubungan dengan neurobiologis yang maladaptif termasuk gangguan dalam putaran umpan balik otak yang mengatur perubahan isi informasi dan abnormalitas pada mekanisme pintu masuk dalam otak yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara selektif menanggapi rangsangan. Stres lingkungan Secara biologis menetapkan ambang toleransi terhadap stres yang berinterasksi dengan sterssor lingkungan untuk menentukan terjadinya gangguan prilaku. Pemicu gejala Pemicu yang biasanya terdapat pada respon neurobiologis yang maladaptif berhubungan dengan kesehatan lingkungan, sikap dan prilaku individu, seperti : gizi buruk, kurang tidur, infeksi, keletihan, rasa bermusuhan atau lingkungan yang penuh kritik, masalah perumahan, kelainan terhadap penampilan, stres gangguan dalam berhubungan interpersonal, kesepain, tekanan, pekerjaan, kemiskinan, keputusasaan dan sebagainya.

BAB III PEMBAHASAN

3.1

Jenis-jenis waham

Waham terbagi atas beberapa jenis, yaitu : Waham Kejar Individu merasa dirinya dikejar-kejar oleh orang lain atau sekelompok orang yang bermaksud berbuat jahat kepada dirinya, sering ditemukan pada klien dengan stres anektif tipe depresi dan gangguan organik. Waham Kebesaran Penderita merasa dirinya paling besar, mempunyai kekuatan, kepandaian atau kekayaan yang luar biasa, misalnya adalah ratu adil dapat membaca pikiran orang lain, mempunyai puluhan rumah, dll. Waham Somatik Perasaan mengenai berbagai penyakit yang berada pada tubuhnya sering didapatkan pada tubuhnya. Waham Agama Waham dengan tema agama, dalam hal ini klien selalu meningkatkan tingkah lakunya yang telah ia perbuat dengan keagamaan. Waham Curiga Individu merasa dirinya selalu disindir oleh orang-orang sekitarnya sehingga ia merasa curiga terhadap sekitarnya.
6

Waham Intulistik Bahwa sesuatu yang diyakini sudah hancur atau bahwa dirinya atau orang lain sudah mati, sering ditemukan pada klien depresi. 3.2 Tanda dan gejala waham Tanda dan gejala dari perubahan isi pikir waham yaitu : klien menyatakan dirinya sebagai seorang besar mempunyai kekuatan, pendidikan atau kekayaan luar biasa, klien menyatakan perasaan dikejar-kejar oleh orang lain atau sekelompok orang, klien menyatakan perasaan mengenai penyakit yang ada dalam tubuhnya, menarik diri dan isolasi, sulit menjalin hubungan interpersonal dengan orang lain, rasa curiga yang berlebihan, kecemasan yang meningkat, sulit tidur, tampak apatis, suara memelan, ekspresi wajah datar, kadang tertawa atau menangis sendiri, rasa tidak percaya kepada orang lain, gelisah. 3.3 Sumber koping waham Ada beberapa sumber koping individu yang harus dikaji yang dapat berpengaruh terhadap gangguan otak dan prilaku kekuatan dalam sumber koping dapat meliputi seperti : modal intelegensi atau kreativitas yang tinggi. Orang tua harus secara aktif mendidik anakanaknya, dewasa muda tentang keterampilan koping karena mereka biasanya tidak hanya belajar dan pengamatan. Sumber keluarga dapat berupa pengetahuan tentang penyakit, finansial yang cukup, ketersediaan waktu dan tenaga dan kemampuan untuk memberikan dukungan secara berkesinambungan.

Pohon masalah waham :

Kerusakan komunikasi verbal

Akibat

Contoh pertanyaan yang dapat digunakan sebagai panduan untuk mengkaji pasien dengan waham :

1.

Apakah pasien memiliki pikiran atau isi pikiran yng berulang-ulang diungkapkan atau menetap?

2.

Apakah pasien takut terhadap objek atau situasi tertentu, atau apakah pasien cemas secara berlebihan tentang tubuh atau kesehatannya?

3. 4.

Apakak pasien pernah merasakan bahwa ia berada diluar tubuhnya ? Apakah pasien pernah merasa diawasi atau dibicarakan oleh orang lain? Apakah pasien berpikir bahwa pikiran atau tindakannya dikontrol oleh orang lain atau kekuatan dari luar?

5.

Apakah pasien menyatakan bahwa ia memiliki kekuatan fisik atau kekuatan lainnya atau yahin bahwa orang lain dapat membaca pikirannya?

Tindakan keperawatan pasien dengan waham : 1. Membina hubungan saling percya antara perawat dengan klien: a. Bina hubungn saling percaya dengan klien: beri salam terapeutik (panggil nama klien), sebutkan nama perawat, jelaskan tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat kontrak yang jelas (topic yang dibicarakan,waktu, dan tempat)

b. Jangan membantah dan mendukung waham klien. -katakan perawat menerima klaen : ekspresi menerima - katakana perawat tidak mendukung : sukar bagi sya untuk mempercayainya disertai ekspresi ragu tapi empati. - tidak membicarakan isi waham klien c. yakinkan klien berada dalam keadaan aman dan terlindungi : - anda berada di tempat aman, kami akan menemani anda. - gunakan keterbukaan dan kejujuran. - jangan tinggalkan klien sendirian. d. 2. observasi apakah waham klien mengganggu aktivitas sehari-hari dan perawatan diri. saya menerima keyakinan andadisertai

klien dapat mengidentivikasi kemampuan yang dimiliki : a. Beri pujian pada penampilan dan kemampuan klien yang realistis b. Diskusikan dengan klien kemampuan yang dimiliki pada waktu dulu dan saat ini yang realistis (hati-hati terlibat diskusi dengan waham). c. Tanyakan apa yang bisa klien lakukan (kaitkan dengan aktifitas sehari-hari dan perawatan diri) kemudian anjurkan untuk melakukannya saat itu. d. Jika klien selalu bicara tentang wahamnya, dengarkan sampai kebutuhan waham tidak ada. Perawat perlu memperlihatkan bahwa klien penting. e.

3. Klien dapat mengidentifikasi kebutuhan yang tidak terpenuhi : a. Observasi kebutuhan klien sehari-hari. b. Diskusikan kebutuhan klien yang tidak terpenuhi, baik selama dirumah maupu di rumah sakit (rasa takut, ansietas, marah). c. Hubungan kebutuhan yang tidak terpenuhi dan timbulnya waham. d. Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan klien dan memerlukan waktu dan tenaga (aktivitas dapat dipilih bersama klien, jika mungkin buat jadwal). e. Atur situasi agar klien mempunyai waktu untuk menggunakan wahamnya. 4. Klien dapat berhubungan dengan realistis : a. Berbicara dengan klien dalam konteks realitas ( realitas diri, realitas orang lain, realitas tempat, dan realitas waktu ). b. Sertakan klien dalam terapi aktivitas kelompk : orientasi realitas. c. Berikan pujian pada tiap kegiatan positif yang dilakukan klien. 5. Klien dapat menggunakan obat dengan benar : a. Diskusikan dengan klien dan keluarga tentang obat, dosis, frekuensi, dan efek samping akibat penghentian. b. Diskusikan perasaan klien setelah makan obat. c. Berikan obat dengan prinsip lima benar ( benar orangnya, benar obatnya, benar dosisnya, benar cara penggunaannya, dan benar waktu penggunaanya ). Tindakan Keperawatan Keluarga Pasien dengan Waham : 1. Diskusikan masalah yang dihadapi keluarga saat merawat pasien di rumah. 2. Diskusikan dengan keluarga tentang waham yang dialami pasien. 3. Diskusikan dengan keluarga tentang : a. Cara merawat pasien waham di rumah. b. Follow up dan keteraturan pengobatan. c. Lingkungan yang tepat untuk pasien. 4. Diskusikan dengan keluarga tentang obat pasien ( nama obat, dosis, frekuensi, efek samping, akibat penghentian obat ). 5. Diskusikan dengan keluarga kondisi pasien yang memerlukan konsultasi segera. 6. Latih cara merawat.
10

7. Menyusun rencana pulang pasien bersama keluarga. Strategi Pelaksanaan Komunikasi Pasien dengan Waham: 1. Strategi pelaksanaan komunikasi pasien dengan waham pertama. Membina hubungan saling percaya, mengidentifikasi kebutuhan yang tidak terpenuhi dan cara memenuhi kebutuhan, mempraktikkan pemenuhan kebutuhan yang tidak terpenuhi.

ORIENTASI :

Om swastiastu, perkenalkan nama saya Ani, saya perawat yang dinas pagi ini di ruang Melati. Saya dinas dari jam 07.00 14.00, saya yang akan merawat bli hari ini. Nama bli siapa, senangnya dipanggil apa? Bisa kita berbincang bincang tentang apa yang bli B rasakan sekarang ? Berapa lama bli B mau kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau 15 menit ? Di mana enaknya kita berbincang bincang bli ?

KERJA :

Saya mengerti bli B merasa bahwa bli B adalah seorang nabi, tapi sulit bagi saya untuk mempercayainya karena setahu saya semua nabi sudah tidak adalagi, bisa kita lanjutkan pembicaraan yang tadi terputus bli ? Tampaknya bli B gelisah sekali, bisa bli ceritakan apa yang bli B rasakan ? O, jadi bli B merasa takut nanti diatur atur oleh orang lain dan tidak punya hak untuk mengatur diri bli sendiri ? Siapa menurut bli B yang sering mengatur atur diri bli ? Jadi ibu yang terlalu mengatur ngatur ya bli, juga kakak dan akik bli yang lain ? kalau bli sendiri inginnya seperti apa ? O, bagus abang sudah punya rencana dan jadwal untuk diri sendiri. Coba kita tuliskan rencana dan jadwal tersebut bli. Wah, bagus sekali, jadi setiap harinya bli ingin ada kegiatan di luar rumah karena bosan kalau di rumah terus ya ?
11

TERMINASI :

Bagaimana perasaan B setelah berbincang bincang dengan saya ? Apa saja tadi yang telah kita bicarakan? Bagus. Bagaimana kalau jadwal ini bli coba lakukan, setuju bli ? Bagaimana kalau saya dating kembali dua jam lagi ? Kita bercakap cakap tentang kemampuan yang pernah bli miliki? Mau dimana kiata bercakap cakap? Bagaimana kalau di sini lagi?

2. Strategi pelaksanaan komunikasi pasien dengan waham kedua : Mengidentifikasi kemampuan positif pasien dan membantu mempraktekkannya.

ORIENTASI :

Om swastiastu bli B, bagaimana perasaannya saat ini ? Bagus. Apakah bli B sudah mengingat ingat apa saja hobi atau kegemaran bli ? Bagaimana kalau kita bicarakan hobi tersebut sekarang ? Di mana enaknya kita berbincang bincang tentang hobi bli B tersebut ? Berapa lama bli B mau kita berbincang bincang? Bagaimana kalau 20 menit ?

KERJA :

Apa saja hobi bli? Saya catat ya bli, terus apa lagi ? Wah, rupanya bli B pandai main voly ya, tidak semua orang bisa bermain voly seperti itu lo bli ( atau hobi lain sesuai yang diucapkan pasien ). Bisa bli B ceritakan kepada saya kapan pertama kali belajar main voly, siapa yang dulu mengajarkannya kepada bli B, dimana ? Bisa bli B peragakan kepada saya bagaimana bermain voly yang baik itu ? Wah, baik sekali permainannya. Coba kita buat jadwal untuk kemampuan bli B ini ya, berapa kali sehari/seminggu bli B mau bermain voly ?
12

Apa yang bli B harapkan dari kemampuan bermain voly ini ? Ada tidak hobi atau kemampuan bli B yang lain selain bermain voly ?

TERMINASI :

Bagaimana perasaan bli B setelah kita bercakap cakap tentang hobi dan kemampuan bli ? Setelah ini coba bli B lakukan voly sesuai dengan jadwal yang telah kita buat ya ? Besok kita ketemu lagi ya bli ? Bagaimana kalau nanti sebelum makan siang? Di kamar makan saja, setuju ? Nanti kita akan membicarakan tentang obat yang hrus bli B minum, setuju ?

3. Strategi pelaksanaan komunikasi pasien dengan waham ketiga. Mengajarkan dan melatih cara minum obat yang benar. ORIENTASI : Om swastiastu bli B . Bagaimana bli sudah dicoba latihan volynya? Bagus sekali. Sesuai dengan janji kita 2 hari yang lalu, bagaimana kalu sekarang kita membicarakan tentang obat yang bli minum ? Dimana kita mau membicarakannya? Dikamar makan ? Berapa lama bli mau kita memebicarakannya? 20 menit atau 30 menit ?

KERJA : Bli B berapa macam obat yang diminum, jam berapa saja obat diminum? Bli B perlu minum obat ini agar pikirannya jadi tenag, tidurnya juga tenang. Obatnya ada 3 macam bli, yang warnanya orange namanya CPZ gunanya agar tenang, yang putih ini namanya THP gunanya agar rileks, dan yang merah jambu ini namanya HLP gunanya agar pikiran jadi teratur. Semuanya ini diminum 3xsehari jam 7 pagi, jam 1 siang, dan jam 7 malam. Bila nanti setelah minum obat mulut bli B terasa kering, untuk membantu mengatasinya bli bisa banyak minum dan mengisap isap es batu.
13

Sebelum minum obat ini bli B dan Ibu mengecek dulu label di kotak obat apakah benar nama B tertulis disitu, berapa dosis atau butir yang harus diminum, jam berapa saja harus diminum. Baca juga apakah nama obatnya sudah benar! Obat obat ini harus diminum secara teratur dan kemungkinan besar harus diminum dalam waktu yang lama. Agar tidak kambuh lagi sebaiknya bli B tidak mengentikan sendiri obat yang harus diminum sebelum berkonsultasi dengan dokter.

TERMINASI : Bagaimana perasaan bli B setelah kita bercakap cakap tentang obat yang bli minum? Apa saja nama obatnya? Jam berapa minum obat? Mari kita masukkan pada jadwal kegiatan bli! Jangan lupa minum obatnya dan nanti saat makan minta sendiri obatnya pada suster! Jadwal yang telah kita buat kemarin dilanjutkan ya bli!

Bli, besok kita ketemu lagi untuk melihat jadwal kegiaatan yang telah dilaksanakan. Bagaiaman kalau seperti biasa, jam 10 dan ditempat sama? Sampai besok. Strategi pelaksanaan komunikasi keluarga pasien dengan waham: 1. Strategi pelaksanaan keluarga pasien denganwaham pertama : Membina hubungan saling percaya dengan keluarga, mengidentifikasi masalah menjelaskan proses terjadinya masalah, dan obat pasien. ORIENTASI : Om swastiastu pak, bu, perkenalkan nama saya Ani, saya perawat yang dinas di ruang Melati ini. Saya yang merawat bli B selama ini. Nama bapak dan ibu siapa, senangnya dipanggil apa ? Bagaimana kalau sekarang kita membicarakan tentang masalah bli B dan cara merawat B di rumah ? Di mana kita mau berbicara? Bagaiman kalau di ruang wawancara ? Berapa lama kita berbincang? Bagaimana kalau 30 menit ?

14

KERJA : Pak, bu, apa masalah yang bapak dan ibu rasakan dalam merawat bli b ? Apa yang sudah dilakukan di rumah? Dalam menghadapi sikap anak ibu dan bapak yang selalu mengaku ngaku sebagai seorang dewa tetapi tetapi nyatanya bukan dewa merupakan salah satu gangguan proses berpikir. Untuk itu akan saya jelaskan sikap dan cara menghadapinya. Setiap kali anak bapak dan ibu berkata bahwa ia seorang dewa, bapak dan ibu bersikap dengan mengatakan : pertama, bapak/ibu mengerti B merasa seorang dewa, tapi sulit bagi bapak dan ibu untuk mempercayainya karena setahu kita semua dewa sudah meninggal. Kedua, bapak dan ibu harus lebih sering memuji B jika ia melakukan hal hal yang baik. Ketiga, hal hal sebaiknya dilakukan oleh seluruh keluarga yang berinteraksi dengan B. Bapak dan ibu dapat bercakap cakap dengan B tentang kebutuhan yang diinginkan B, misalnya: bapak dan ibu percaya B punya kemampuan dan keinginan. Coba ceritakan kepada bapak dan ibu, B kan punya kemampuan. (kemampuan yang pernah dimiliki oleh anak). Keempat, bagaimana kalau dicoba lagi sekarang? (jika anak mau mencobanya, berikan pujian). Pak, bu, B perlu minum obat ini agar pikirannya jadi tenang, tidurnya juga tenang. Obatnya ada tiga macam, yang warnanya orange namanya CPZ gunanya agar tenang, yang putih ini namanya THP guanya supaya rileks, dan yang merah jambu ini namanya HLP gunanya agar pikirannya tenang. Semuanya harus diminum secara teratur 3 kali sehari, jam 7 pagi, jam 1 siang, dan jam 7 malam, jangan dihentikan sebelum

berkonsultasi dengan dokter karena dapat menyebabkan B kambuh kembali. (Libatkan keluarga saat memberikan penjelasan tentang obat kepada klien). Bli B sudah mempunyai jadwal minum obat. Jika dia minta obat sesuai jamnya, segera berikan pujian!

TERMINASI : Bagaimana perasaan bapak dan ibu setelah kita bercakap cakap tentang cara merawat B di rumah? Setelah ini coba bapak dan ibu lakukan apa yang sudah saya jelaskan tadi setiap kali berkunjung ke rumah sakit.
15

Baiklah, bagaimana kalau dua hari lagi bapak dan ibu dating kembali kesini dan kita akan mencoba melakukan langsung cara merawat B sesuai dengan pembicaraan kita tadi? Jam berapa bapak dan ibu bisa kemari? Baik saya tunggu, kita ketemu lagi di tempat ini ya pak, bu.

2. Strategi pelaksanaan keluarga pasien dengan waham kedua melatih keluarga cara merawat pasien. ORIENTASI : Om swastiastu pak, bu, sesuai janji kita dua hari yang lalu kita sekarang ketemu lagi. Bagaimana pak, bu, ada pertanyaan tentang cara merawat yang kita bicarakan dua hari yang lalu? Sekarang kita akan latihan cara cara merawat tersebut ya pak, bu. Kita akan coba di sini dulu, setelah itu baru kita coba langsung pada B ya? Berapa lama bapak dan ibu punya waktu ?

KERJA : Sekarang anggap saya B yang sedang mengaku sebagai dewa, coba bapak dan ibu praktikkan cara bicara yang benar bila B sedang dalam keadaan yang seperti ini ! Bagus, betul begitu caranya. Sekarang coba praktikkan cara memberikan pujian atas kemampuan yang dimiliki B. bagus ! Sekarang coba cara memotivasi B minum obat dan melakukan kegiatan positifnya sesuai jadwal ! Bagus sekali, ternyata bapak dan ibu sudah mengerti cara merawat B. Bagaimana kalau sekarang kita mencobanya langsung kepada B? (ulang lagi semua cara di atas langsung kepada pasien).

TERMINASI : Bagaimana perasaan bapak dan ibu setelah kita berlatih cara merawat B? Setelah ini coba bapak dan ibu lakukan apa yang sudah dilatih tadi setiap kali bapak dan ibu membesuk B! Baiklah, bagaimana kalau dua hari lagi bapak dan ibu dating kembali kesini dan kita akan mencoba cara merawat B sampai bapak dan ibu lancer melakukannya?

16

Jam berapa bapak dan ibu bisa kemari? Baik saya tunggu, kita ketemu lagi di tempat ini ya pak, bu.

3. Strategi pelaksanaan komunikasi keluarga ketiga. Membuat perencanaan pulang bersama keluarga.

Om swastiastu pak, bu, karena B sudah boleh pulang, maka kita bicarakan jadwal B selama di rumah. Bagaimana pak, bu, selama bapak dan ibu besuk apakah sudah terus dilatih cara merawat B? Nah, sekarang bagaimana kalau kita bicarakan jadwal di rumah? Mari bapak dan ibu duduk di sini! Berapa lama bapak dan ibu punya waktu? Baik 30 menit saja, sebelum bapak dan ibu menyelesaikan administrasi di depan.

KERJA : Pak, bu, ini jadwal B selama di rumah sakit. Coba perhatikan! Apakah kira-kira dapat dilaksanakan semuanya di rumah? Jangan lupa memperhatikan B, agar ia tetap melakukannya di rumah, dan jangan lupa memberi tanda M (mandiri), B (bantuan), atau T (tidak mau melaksanakan)> Hal hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut adalah perilaku yang ditampilkan oleh anak ibu dan bapak selama di rumah. Misalnya B mengaku sebagai seorang dewa terus menerus dan tidak memperlihatkan perbaikan, menolak minum obat atau memperlihatkan perilaku membahayakan orang lain. Jika hal ini terjadi segera hubungi Suster E di Puskesmas Nirwana, puskesmas terdekat dari rumah ibu dan bapak, ini nomor teleponnya:! selanjutnya Suster E yang akan membantu perkembangan B selama di rumah.

17

TERMINASI : Apa yang ingin bapak dan ibu tanyakan? Bagaimana perasaan bapak dan ibu? Sudah siap melanjutkannya di rumah? Ini jadwal kegiatan hariannya. Ini rujukan untuk Suster E di puskesmas Nirwana. Kalau ada apa apa bapak dan ibu boleh juga menghubungi kami. Silahkan menyelesaikan administrasi ke kantor depan!

18

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil pembahasan didapat beberapa kesimpulan yaitu: 2. Jenis-jenis waham  Waham Kejar  Waham Somatik  Waham agama  Waham curiga  Waham Intulistik 3. Tanda dan gejala dari perubahan isi pikir waham yaitu : klien menyatakan dirinya sebagai seorang besar mempunyai kekuatan, pendidikan atau kekayaan luar biasa, klien menyatakan perasaan dikejar-kejar oleh orang lain atau sekelompok orang, klien menyatakan perasaan mengenai penyakit yang ada dalam tubuhnya, menarik diri dan isolasi, sulit menjalin hubungan interpersonal dengan orang lain, rasa curiga yang berlebihan, kecemasan yang meningkat, sulit tidur, tampak apatis, suara memelan, ekspresi wajah datar, kadang tertawa atau menangis sendiri, rasa tidak percaya kepada orang lain, gelisah. 4. Ada beberapa sumber koping individu yang harus dikaji yang dapat berpengaruh terhadap gangguan otak dan prilaku kekuatan dalam sumber koping dapat meliputi seperti : modal intelegensi atau kreativitas yang tinggi. Orang tua harus secara aktif mendidik anak-anaknya, dewasa muda tentang keterampilan koping karena mereka biasanya tidak hanya belajar dan pengamatan. Sumber keluarga dapat berupa pengetahuan tentang penyakit, finansial yang cukup, ketersediaan waktu dan tenaga dan kemampuan untuk memberikan dukungan secara berkesinambungan.

19

DAFTAR PUSTAKA

CAPTAIN, C, ( 2008). Assessing suicide risk, Nursing made incredibly easy, Volume 6(3), May/June 2008, p 4653 Varcarolis, E M (2000). Psychiatric Nursing Clinical Guide, WB Saunder Company, Philadelphia. Stuart, GW and Laraia (2005). Principles and practice of psychiatric nursing, 8ed. Elsevier Mosby, Philadelphia Dr. Budi Anna Keliat,skp. 2009. Model Praktik Keperawatan Jiwa Profesional. Jakarta : EGC

20