Anda di halaman 1dari 21

Laporan Pendahuluan Kanker Kolon

Oleh : Yulianti NIM. PO 62 20 1 10 079 Yuwilma NIM .PO 62 20 1 10 080

Keperawatan Reguler XIII B

Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Palangka Raya 2012

A. Konsep Penyakit I. Pengertian Sembilan puluh persen dari kanker kolon dan rektum (kolorektal) terdiri dari adenorkarsinoma, sedangkan sisanya merupakan limfoma ekstranodal,

leiomiosarnoma dan liposarkoma. Dinegara maju adenokarsinoma kolorektal merupakan penyebab kematian terbanyak setelah kanker paru pada laki-laki dan kanker payudara pada wanita. Pengertian dari kanker kolon menurut Brooker adalah bentuk keganasan dari masa abnormal/neoplasma yang muncul dari jaringan epithelial kolon dan rektal. Tumbuhnya sel kanker yang ganas di dalam permukaan usus besar atau rektum (Boyle & Langman) Pertumbuhan sel yang bersifat ganas yang tumbuh pada kolon dan menginvasi jaringan sekitarnya. (Tambayong) Polip adenoma, femilial poliposis dan kolitis ulserosa dikenal sebagai kelompok resiko besar karena kelainan ini sering mendahului pertumbuhan

adenokarsinoma. Penangulangan dini penyakit ini bermanfaat dalam upaya pencegahan pertumbuhan adenokarsinoma kolorektal.

II. Etiologi/Penyebab Saat ini, proses pemulaian kanker kolon hanya sedikit diketahui. Mungkin dasar etiologi adalah virus, yang memberikan akibat onokogen pada saat ini, dan penelitian sebelumnya yang memperlihatkan sitomegalovirus dalam jaringan kolon ganas. Kemungkinan lain mencakup berbagai metabolit protein, yang mencakup agen amonia,fenol yang mudah menguap atau triptofan,srta senyawa N-nitroso. Karsinogen bisa juga merupakan akibat cara masak tertentu,terutama ikan dan daging goreng dan panggang. Tetapi, tak ada yang telah ditentukan dengan baik dalam manusia sebagai karsinogen.Teori pertama menghubungkan dengan serat diet dan yang kedua dengan lemak diet. SERAT DIET Burkitt mendukung hubungan kuat antara inseden kanker kolorektum yang rendah di Afrika Selatan Bantu dengan diet tinggi kandungan serat, yang menyebabkan waktu transit yang besar. Burkitt mengusulkan bahwa waktu transit yang cepat mengurangi waktu karsinogen atau prekursornya berkontak dengan mukosa kolon. Tetapi ada sedikit bukti bahwa penurunan waktu transit, mengurangi kerja bakteri dalam isi kolon, dan penelitian populasi dengan insiden

kanker kolon yang bervariasi luas memperlihatkan tidak ada perbedaan dalam waktu transit usus. Penelitian epidemiologi berikutnya bersifat bertentangan. Sebagai contoh Mendeloff berkesimpulan bahwa diet tinggi serat tampak menurunkan ferkuensi kanker. LEMAK DIET Hubungan antara masukan lemak hewan dan kanker usus besar telah dibuat dalam beberapa penelitian dan saat ini merupakan hubungan yang paling luas diterima anatara diet dan kanker. National Academy of Science telah merekobinasikan agar diet penduduk di Amerika Serikat dimodifikasi untuk mengandun lebih sedikit lemak sebagai cara pencegahan yang bijaksana. Tetapi penelitian epidemologi tidak memberikan dukungan tertentu bagi hubungan ini,dan kebanyakan penelitian hubungan cross-sectional (tetapi tidak semua

penelitian kasus kelola)telah memperlihatkan hubugan positif anatara diet tinggi lemak dan daging, serta peningkatan frekuensi kanker kolon. Lebih lanjut, penelitian terbaik belakangan ini yang menggunakan metode sangat tepat bagi pengukuran jumlah lemak dan protein dalam diet populasi yang diteliti, gagal memperlihatkan hubungan yang diperkirakan antara kanker kolon dan konsumsi lemak-protein. PERUBAHAN DALAM MIKROFLORA KOLON Hill mendalikan bahwa sifat flora bakteri usus dapat ditentukan dengan diet, dan bahwa diet juga memberikan subtrat bagi perubahan yang diindikasikan bakteri apapun pada isi usus normal menjadi karsinogen. Karena orang yang hidup dalam area dengan insiden kaker kolon yang tinggi mempunyai konsentrasi asam empedu feses yang tinggi-baik normal maupun didegradasi-maka Hill

beranggapan bahwa kapasitas bakteri untuk mendesaturasi inti asam empedu mungkin merupakan faktor penting dalam karsinogenesis. Gula diet Peningkatan konsumsi gula yang dimurnikan telah terlihat sebagai agen penyebab yang mungkin dalam sejumlah populasi dengan insiden kanker yang tinggi. Tetapi di Argentina, tempat insiden kanker kolon relatif tinggi,konsumsi karbohidrat yang dimurnikan rendah dan hubungan positif antara masukan gula dan kanker kolon tidak seragam pada dasar keseluruhan dunia. EPIDEMIOLOGI dan BIOLOGI Beberapa faktor tampak mempunyai pengaruh bermakna pada insiden keganasan kolorektum.

1) USIA. Dalam populasi umum, insiden kanker kolon mulai meningkat secara bermakna setelah usia 40 sampai 45 tahun dan meningkat tiap dasawarsa setelah itu oleh faktor sekitar dua sampai mencapai puncaknya pada usia 75 tahun. Hal ini bisa benar-benar akibat kerja materi karsinogenik pada sel kolon dalam peningkatan periode. Resiko kira-kira sama bagi pria dan wanita diatas usia 40 tahun dan bila kanker kolon muncul sebelum usia 40 tahun, maka biasanya terjadi bersama sejumlah faktor resiko lain, terutama familial. 2) POLIP. Walaupun pertanyaan apakah polip premaligna atau tidak bersifat kontroversial, ada insiden kanker kolon yang lebih tinggi dalam pasien dengan polip. Tampaknyalogis menganggap pasien polip adenomatosa atau edenoma vilosa beresiko lebih tinggi bagi kanker kolon, karena lebih banyak bukti mengambarkan bahwa kebanyakan karsinoma daripada adebarkan bahwa kebanyakan karsinoma daripada adenormal yang timbul de nova berkembang dari jaringan adenomatosa. y Poliposis familial, termasuk kedalam penyakit keturunan mengikuti hukum mendel. Biasanya terjadi pada dekade kedua dan pada generasi berikutnya lebih dini. Bentuk polip ini biasanya mirip dengan polip adenomotosum bertangkai atau adenokarsinoma kolon pada umur muda kemungkinan berasal dari pertumbuhan poliposis. Sebagian dari Poliposis ini asimatik dan sebagian disertai keluhan sakit di abdomen, diare, sekresi lendir yang meninkat dan pendarahan kecil yang menggangu penderita. Pada penderita ini dianjurkan kolektomi subtotal pada umur muda yang bertujuan :1) Mencegah pertumbyhan

adenokarsinoma pada umur muda. 2) Mencegah terjadinya habit bowel : diare, pendarahan kecil, produksi lendir dan perasaan ingin defeksi. y Polip adenomatosum. Berukuran kecil kurang dari 1 cm terdiri dari 3 bagian yaitu puncak, badan dan tangkai. Masing-masing bagian dibangun dari arsitektur kelenjar sedikit sel gobet dilapisi epitel silider dan jaringan ikat stroma. Pada kondisi polip demikian jarang ditemukan karsinoma. Akan tetapi semakin bertambah ukuran polip, risiko perubahan epitel mukosa mulai dari derajat atipik sampai anaplasia semakin tinggi. Pada polip dengan ukuran 1,2 cm atau leih dapat dicurigai keganasan. Perubahan dimulai di bagian puncuk polip, baik pada epitel pelapis mukosa maupun pada epitel kelenjar, meluas kebagian badan dan basis tangkai polip.

Adenoma vilosum.Terdapat di daerah rektorsigmoid dan biasanya berupa massa papiler, soliter, tidak bertungkai dan diameter puncak tidak jauh berbeda dengan ukuran basis polip. Pada kelainan ini lebih sering dibandingkan dengan polip adenomatosum. Pada lebih kurang 30% adenoma vilosum ditemukan area karsinoma. Adenoma dengan diameter lebih dari 2cm, risiko menjadi adenokarsinoma adalah 45%. Biasanya adenoma vilosum memproduksi lendir mengandung banyak elektrolit, terutama kalium, mengakibatkan kemungkinan terjadinya hipokalemi.

Kolitis Ulserosa.Dimulai dengan mikroabses pada kripta mukosa kolon dan beberapa abses bersatu membentuk ulkus. Pada stadium lanjut timbul pseudopolip yaitu penonjolan mukosa kolon yang ada di antara ulkus. Perjalanan penyakit yang sudah lama, berulang-ulang, dan lesi luas disertai adanya pesudopolip merupakan resiko tinggi terhadap karsinoma . Pada kasus seperti ini harus dipertimbangkan tindakan

kolostomi.Tujuannya adalah mencegah terjadinya karsinoma (preventif) dan menghindari penyakit yang sering berulang-ulang.Karsinoma yang timbul sebagai komplikasi kolotis ulserosa sifatnya lebih ganas,cepat tumbuh dan metastasis. Tabel.Faktor Predisposisi terhadap Kanker Kolorektal Riwayat Keluarga Riwayat Sebelumnya Polip juvenilis Penyakit Berhubungan Diatas 40 tahun yang Usia

Kanker kolon atau Kolitis ulserative polip

Kanker atau Polip

Kolon

Kanker

payudara Sindrom granulomatosa Sindrom Jeghers Poliposis famalial Peutz-

atau genetalia wanita

Sindrom poliposis familial

Keluarga dengan insiden karsinoma yang tinggi dalam tempat anatomi lain, seperti endometrium, ovarium dan payudara mempunyai resiko keganasan lebih normal. Disamping itu, resiko spesifik kanker kolon dalam keluarga pasien kanker kolon, tiga kali lebih besar daripada populasi normal. Jika anggota keluarga menderita beberapa kanker

kolon, maka mulainya kanker kolon dalam keluarganya muncul 5 sampai 10 tahun lebih dini dibandingkan yang diperkirakan. Penyakit Penderita dan Kanker Kolon Hampir semua pasien poliposis familial, suatu keadaan dengan cara penurunan autosom dominan dengan 80% penetrasi, penderita kanker kolon, kecuali bila dilakukan kolektomi. Kelompok beresiko tinggi lain terdiri dari pasien sindrom Gardner, tempat polip adenomatosa berkembang di dalam kolon serta disertai dengan tumor jaringan lunak dan paru. Pasien sindrom Turcot (tumor sistem saraf pust) atau sindrom Oldfield (kista sebesea yang luas) beresiko tinggi menderita kanker kolon.Kadang-kadang sindrom Peutzileum dan duodenum. Pasien poliposis juvenilis juga beresiko tinggi kanker, dan keluarganya lebih mungkin menderita polip adenomatosa dan kanker kolon.

III. Manifestasi Klinik/Tanda dan Gejala Gambaran klinis yang menyertai karsinoma kolorektum berhubungan dengan ukuran dan lokasi tumor-tumor bermassa besar eksofitik lebih lazim timbul dalam kolon kanan dengan diameternya yang besar dan berisi cairan serta menyebabkan gejala perdarahan, nyeri abdomen dan penurunan berat badan daripada obstruksi. Nyeri bersifat samar-samar dan tumpul serta bisa dikelirukan dengan penyakit vasika bilaris atau ulkus peptikum. Anemia bisa ada, dalam kolon kiri dengan diameternya lebih kecil dan isi setengah padat atau padat, maka sering tumor bersifat infiltrasi atau anular serta menyebabkan gejala obstruksi, perubahan buang besar atau pendarahan. Nyeri gas, penurunan kelenjar tinja dan peningkatan penggunaan laksa merupakan keluhan yang lazim.

IV. Patofisiologi dan Pathway Umumnya kanker usus besar berawal dari pertumbuhan sel yang tidak ganas (adenoma) yang stadium awal membentuk polip (sel yang tumbuh sangat cepat). Pada stadium awal, polip dapat diangkat dengan mudah. Tapi seringkali pada stadium awal adenoma tidak menampakan gejala apapun sehingga tidak terdeteksi dalam waktu relatif lama dan pada kondisi tertentu berpotensi menjadi kanker yang dapat terjadi pada semua bagian dari usus besar (Davey, 2006).

Adenokarsinoma (muncul dari lapisan epitel usus). Dimulai sebagai polip jinak tapi menjadi ganas, menyusup lalu merusak jaringan normal serta meluas ke dalam struktur sekitarnya. Sel kanker dapat terlepas dari tumor primer dan menyebar ke bagian tubuh yang lain (paling sering ke hati). Penyebaran sel kanker : 1. Secara infiltratif langsung ke struktur yang berdekatan, seperti ke dalam kandung kemih. 2. Pembuluh limfe. Ke kelenjar limfe perikolon dan mesokolon. 3. Penyebaran secara transperitoneal. 4. Penyebaran ke luka jahitan, insisi abdomen atau lokasi drain. (Gale) Pertumbuhan sel kanker menghasilkan efek sekunder, meliputi : Penyumbatan lumen usus dengan obstruksi dan ulserasi pada dinding usus serta perdarahan. Penetrasi kanker dapat menyebabkan perforasi dan abses, serta timbulnya metastase pada jaringan lain (Gale) Tumor terjadi ditempat yang berada dalam colon mengikuti kira-kira pada bagian ( Sthrock 1991 a ) : y y y y y 25 % pada caecum dan ascending colon 10 % pada transfersum colon 15 % pada desending colon 20 % pada sigmoid colon 30 % pada rectum

Pathway

V. Pemeriksaan Penunjang DIAGNOSTIK 1. Endoskopi : Sigmoidoskopi maupun kolonoskopi 2. Radiologis : foto dada dan kolon (barium enema). Foto dada dilakukan untuk melihat apakah metastasis kanker ke paru. 3. Ultrasonografi (USG) digunakan untuk melihat ada tidaknya metastasis ke kelenjar getah bening di abdomen dan hati. 4. Histopatologi Biopsi digunakan untuk menegakkan diagnosis. 5. Biopsi (aspirasi, eksisi dan jarum) : dilakukan untuk diagnostik banding dan menggambarkan pengobatan dan dapat dilakukan melalui sum-sum tulang, kulit, organ, dsb. 6. Scan (MRI, CZ : galium) dan ultrasound : dilakukan untuk diagnostik, identifikasi metastatik, dan evaluasi respon pada pengobatan. LABORATORIUM 1. Hb untuk memeriksa kemungkinan perdarahan 2. Jumlah darah lengkap dengan diferensial dan trombosit. Dapat menunjukkan anemia, perubahan pada sel darah merah dan sel darah putih; trombosit meningkat atau berkurang.

VI. Penatalaksanaan Medik 1. Pembedahan (operasi) Operasi adalah penanganan yang paling efektif dan cepat untuk tumor yang diketahui lebih awal dan belum ada metastasis, tapi tidak menjamin semua sel

kanker telah terbuang. Oleh sebab itu dokter bedah biasanya juga menghilangkan sebagian besar jaringan sehat yang mengelilingi sekitar kanker. 2. Radioterapi Terapi radiasi menggunakan sinar gelombang partikel berenergi tinggi misalnya sinar X, atau sinar gamma difokuskan untuk merusak daerah yang ditumbuhi tumor, merusak genetik, sehingga membunuh kanker. Terapi radiasi merusak sel-sel yang pembelahan dirinya cepat seperti sel kanker, sel kulit, sel dinding lambung dan usus, sel darah. Kerusakan sel tubuh menyebabkan lemas, perubahan kulit dan kehilangan nafsu makan. 3. Chemotherapy Memakai obat antikanker yang kuat, dapat masuk ke dalam sirkulasi darah sehingga tepat untuk kanker yang telah menyebar. Obat chemotherapy ini kira-kira 50 jenis. Biasanya diinjeksi atau dimakan, pada umumnya lebih dari satu macam obat, karena digabungkan akan memberikan efek yang lebih bagus.

VII. Terapi Pengobatan dan Implikasi Keperawatan Terapi intravena sesuai indikasi (transfusi darah, dll) Obat-obatan antikanker (chemotherapy) Suplemen sesuai indikasi Antimetik sesuai indikasi Analgetik sesuai indikasi

Implikasi keperawatan : 1. Dukungan adaptasi dan kemandirian. 2. Meningkatkan kenyamanan. 3. Mempertahankan fungsi fisiologis optimal. 4. Mencegah komplikasi. 5. Memberikan informasi tentang proses/kondisi penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan. 6. Persiapan pasien pra-operasi dan perawatan pasien pasca-operasi.

7. Penatalaksanaan diet : a. Cukup mengkonsumsi serat (sayur-syuran dan buah-buahan). Serat dapat melancarkan pencernaan dan BAB sehingga berfungsi menghilangkan kotoran dan zat yang tidak berguna di usus, karena kotoran yang terlalu lama mengendap di usus akan menjadi racunyang memicu sel kanker. b. Kacang-kacangan (lima porsi setiap hari) c. Beritahu klien untuk menghindari makan Makanan yang mengandung lemak jenuh dan kolesterol tinggi tertentu yang terdapat pada daging hewan. d. Beritahu klien untuk menghindari makan Makanan yang diawetkan dan pewarna sintetik karena hal tersebut dapat memicu sel karsinogen. e. Beritahu klien menghindari minum minuman beralkohol dan rokok yang berlebihan.

B. Konsep Asuhan Keperawatan I. Pengkajian 1. Aktivitas / Istirahat Pasien dengan kanker kolorektal biasanya merasakan tidak nyaman pada abdomen dengan keluhan nyeri, perasaan penuh, sehingga perlu dilakukan pengkajian terhadap pola istirahat dan tidur.

2. Sirkulasi Gejala : palpitasi, nyeri pada pergerakan kerja. Kebiasaan : perubahan pada tekanan darah.

3. Integritas ego Faktor stress (keuangan, pekerjaan, perubahan peran) & cara mengatasi stress (misalnya : merokok, minum alkohol, menunda mencari pengobatan, keyakinan religius/spiritual)

4. Masalah tentang perubahan dalam penampilan misalnya : alopesia, lesi, cacat, pembedahan.

5. Menyangkal diagnosis, perasaan tidak berdaya, putus asa, tidak mampu, tidak merasakan, rasa bersalah, kehilangan. Tanda : kontrol, depresi, menyangkal, menarik diri, marah.

6. Eliminasi a. Perubahan fungsi kolon akan mempengaruhi perubahan pada defekasi pasien, konstipasi dan diare terjadi bergantian. b. Bagaimana kebiasaan di rumah : frekuensi, komposisi, jumlah, warna, dan cara pengeluarannya, apakah dengan bantuan alat atau tidak. c. Apakah keluhan yang menyertainya. d. Apakah kebiasaan di rumah sakit sama dengan kebiasaan di rumah. e. Pada pasien dengan kanker kolerektal dapat dilakukan pemeriksaan fisik dengan observasi : Distensi abdomen, Massa akibat timbunan feses, Masa tumor abdomen,

Pembesaran hepar akibat matastase, asites, Pembesaran kelenjar inguinal, Pembesaran kelenjar aksila dan supra klavikula, Pengukuran tTB dan BB, Lingkat perut, dan colok dubur.

7. Makanan/ Cairan Gejala : kebiasaan makan pasien di rumah dalam sehari, seberapa banyak dan komposisi setiap kali makan adakah pantangan terhadap suatu makanan , ada keluhan anoreksia, mual, perasaan penuh (begah), muntah, nyeri ulu hati sehingga menyebabkan berat badan menurun. Tanda : perubahan pada kelembaban/turgor kulit; edema.

8. Neurosensori Gejala : pusing, skinkope, karena pasien kurang beraktivitas, banyak tidur sehingga sirkulasi darah ke otak tidak lancar. Nyeri/kenyamanan. Tidak ada nyeri, atau derajat bervariasi misal nyeri berat (dihubungkan dengan proses penyakit)

9. Pernapasan Apakah pasien merokok (tembakau, mariyuana, hidup dengan seorang perokok. Apakah pasien terpajan asbes.

10. Keamanan Gejala : pemajanan pada kimia toksik, karsinogen, pemajanan matahari lama/ berlebihan Tanda : demam, ruam kulit, ulserasi

11. Seksualitas Gejala : Masalah seksual misalnya dampak pada hubungan, perubahan pada tingkat kepuasan. Multigravida lebih besar dari usia 30 Tahun. Multigravida pasangan seks multipel, aktivitas seksual dini, herpes genital

12. Interaksi sosial Gejala : ketidakadekuatan/kelemahan sistem pendukung.

13. Riwayat perkawinan (berkenaan dengan kepuasan di rumah, dukungan, atau bantuan). Masalah tentang fungsi/ tanggung jawab peran penyuluhan/ pembelajaran. Gejala : Riwayat kanker pada keluarga misalnya ibu atau bibi dengan kanker payudara Sisi primer : penyakit primer, tangga ditemukan didiagnosis Penyakit metastatik : sisi tambahan yang terlibat; bial tidak ada, riwayat alamiah dari primer akan memberikan informasi penting untuk mencari metastatik.

14. Riwayat pengobatan : pengobatan sebelumnya untuk tempat kanker dan pengobatan yang diberikan.

II.

Diagnosa Keperawatan Berdasarkan semua data pengkajian, diagnosa keperawatan utama mencakup : 1. Konstipasi berhubungan dengan lesi obstruksi 2. Nyeri berhubungan dengan kompresi jaringan sekunder akibat obstruksi 3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan nyeri, proses penyakit, anemia dan anoreksia 4. Perubahan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual dan anoreksia 5. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan muntah dan dehidrasi 6. Ansietas berhubungan dengan rencana pembedahan dan diagnosis kanker 7. Defisit perawatan diri (personal hygiene) berhubungan dengan intoleransi aktivitas, nyeri, keletihan 8. Kurang pengetahuan mengenai diagnosa, prosedur pembedahan, dan perawatan diri setelah pulang 9. Interaksi sosial, hambatan berhubungan dengan ketakutan, gangguan harga diri, isolasi terpeutik 10. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan kolostomi

11. Disfungsi seksual/pola seksual, perubahan, berhubungan dengan nyeri, perubahan citra tubuh, ketakutan (pasien dan/atau pasangan), keletihan

III. Perencanaan Keperawatan 1. Konstipasi berhubungan dengan lesi obstruksi


6 6

Pantau frekuensi dan konsistensi defekasi. Instruksikan pasien dalam bantuan eliminasi defekasi yang akan meningkatkan pola defekasi yang optimal.

Ajarkan kepada pasien tentang efek diet (misal : cairan, dan serat) pada eliminasi.

Instruksikan pasien tentang konskuensi penggunaan laksatif jangka panjang.

Tekankan penghindaran mengejan selama defekasi untuk mencegah perubahan tanda vital, skit kepala atau perdarahan.

Berikan privasi dan keamanan untuk pasien selama eiminasi defekasi.

Kolaborasi :
6

Konsultasikan kepada ahli gizi untuk meningkatkan serat dan cairan dalam diet.

Minta program dari dokter untuk memberikan bantuan, eliminasi, seperti diet tinggi serat, pelembut feses, enema dan laksatif.

Konsultasikan kepada dokter tentang penurunan/peningkatan frekuensi bisisng usus.

2. Nyeri berhubungan dengan kompresi jaringan sekunder akibat obstruksi


6 6

Kaji skala dan kuantitas nyeri pasien. Informasikan kepada pasien tentang prosedur yang dapat meningkatkan nyeri dan tawarkan saran koping.

Ajarkan teknik nonfarmakologi : hipnosis, relaksasi, imajinasi terbimbing, terapi musik, distraksi, kompres hangat/dingin, dan masase.

Ciptakan linkungkungan yang kondusif untuk relaksasi dengan meredupkan lampu, mematikan televisi atau lampu, atur suhu ruangan dan kurangi kegaduhan.

6 6

Batasi pengunjung dan telpon, apabila diinginkan pasien. Kolaborasi dokter pemberian analgesik.

3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan nyeri, proses penyakit, anemia dan anoreksia
6 6

Kaji toleransi aktivitas pasien Ubah dan jadwalkan akifitas untuk memungkinkan periode tirah baring yang adekuat dalam upaya untuk menurunkan keletihan pasien.

Berikan terapi komponen darah sesuai resep bila pasien menderita anemia berat.

Berikan pedoman untuk tranfusi darah agar keamanan umum dan kebijakan institusi diikuti.

Pantau respons fisiologis terhadap aktivitas mis., perubahan TD, atau frekuensi jantung/pernapasan.

6 6

Tingkatkan dan pantau toleransi aktifitas pasca operasi. Ajarkan pengaturan aktivitas dan teknik manajemen waktu untuk mencegah keletihan.

4. Perubahan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual dan anoreksia
6 6

Pantau masukkan makanan setiap hari Ukur tinggi dan berat badan dan ketebalan kulit trisep. Pastikan jumlah penurunan berat badan saat ini.

Kontrol faktor lingkungan (mis. Bau kuat/tidak sedap atau kebisingan). Hindar terlalu manis, berlemak, atau makanan pedas.

Dorong komunikasi terbuka mengenai masalah anoreksia.

Kolaborasi :
6

Tinjau ulang pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi mis., jumlah limfosit total, transferin serum, dan albumin.

Berikan obat-obatan sesuai indikasi : gol Fenotiazin, gol kortikosteroid, vitamin (A, D, E, dan B6), Antasid.

Pasang/pertahankan selang NG atau pemberian makan untuk makanan enteral atau jalur sentral untuk hiperalimentasi parenteral bila diindikasikan.

5. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan muntah dan dehidrasi

pantau masukkan dan haluaran dan berat jenis; masukkan semua sumber haluaran mis., muntah, diare, luka basah. Hitung keseimbangan 24 jam.

6 6

Pantau tanda vital, evaluasi nadi perifer, pengisian kapiler. Kaji turgor kulit dan kelembaban membran mukosa. Perhatikan keluhan haus.

Dorong peningkatan masukkan cairan sampai 3000 ml/hari sesuai dengan toleransi individu.

Minimalkan pungsi vena (misalnya kombinasikan memulai IV dengan pengambilan contoh darah). Dorong pasien untuk mempertimbangkan penempatan kateter vena sentral.

Kolaborasi :
6 6 6 6 6

Berikan cairan IV sesuai indikasi. Berikan terapi antimetik. Pantau pemeriksaan laboratorium mis : JDL, elektrolit, albumin serum. Berikan transfusi sesuai indikasi : Sel Darah Merah, Trombosit. Hindari penggunaan aspirin, iritan labung, atau inhibitor trombosit.

6. Ansietas berhubungan dengan rencana pembedahan dan diagnosis kanker


6

Kaji tingkat ansietas pasien : mekanisme koping yang digunakan untuk menghadapi stress.

6 6

Upaya pendukung : privasi dan latihan relaksasi. Luangkan waktu untuk mendengarkan ungkapan, kesedihan, pertanyaan yang diajukan pasien.

Pertemuan anggota rohaniawan bila pasien menginginkannya, dengan dokter apabila pasien mengharapkan diskusi pengobatan atau prognosis dan dengan ahli terapi enterosomal.

Penderita stoma yang lain dapat diminta untuk berkunjung apabila pasien mengungkapkan minat untuk berbicara dengan mereka.

Tingkatkan kenyamanan pasien, perawat harus mengutamakan relaksasi dan perilaku empati.

6 6

Pertanyaan yang diajukan dijawab dengan jujur. Semua tes dan prosedur dijelaskan menggunakan bahasa yang mudah dipahami pasien.

Setiap informasi dari dokter harus dijelaskan jika perlu, kadang-kadang kecemasan berkurang jika pasien mengetahui persiapan fisik yang diperlukan selama periode praoperasi & mengetahui kemungkinan hasil pascaoperasif.

Beberapa pasien akan lebih senang jika diperbolehkan melihat hasil pemeriksaan sementara mengetahuinya. yang lain lebih memilih untuk tidak

Kebutuhan dan keinginan pasien akan informasi dikaji dan digunakan sebagai pedoman pengajaran.

7. Defisit perawatan diri (personal hygiene) berhubungan dengan intoleransi aktivitas, nyeri, keletihan
6 6 6 6 6

Kaji kemampuan klien menggunakan alat bantu. Kaji membran mukosa oral dan kebersihan tubuh setiap hari. Kaji kondisi kulit saat mandi. Pantau adanya perubahan kemampuan fungsi. Bantuan perawatan diri : mandi/Hygiene, pantau kebersihan kuku berdasarkan perawatan diri pasien.

Ajarkan pasien/keluarga penggunaan metode alternatif untuk mandi dan hygiene mulut.

Dukung kemandirian dalam melakukan mandi dan hygiene mulut, bantu pasien hanya jika diperlukan.

Libatkan keluarga dalam penentuan rencana.

8. Kurang pengetahuan mengenai diagnosa, prosedur pembedahan, dan perawatan diri setelah pulang
6

Tinjau ulang dengan pasien/orang terdekat pemahaman diagnosa khusus, alternatif pengobatan dan sifat harapan.

Tentukan persepsi pasien tentang kanker dan pengobatan kanker, tanyakan tentang pengalaman pasien sendiri/sebelumnya atau

pengalaman orang lain yang mempunyai (atau pernah mempunyai) kanker.


6

Berikan informasi yang jelas dan akurat dalam cara yang nyata tetapi sensitif. Jawab pertanyaan secara khusus, tetapi tidak memaksakan dengan detil-detil yang tidak penting.

Berikan pedoman antisipasi pada pasien/orang terdekat mengenai protokol pengobatan, lama terapi, hasil yang diharapkan, kemungkinan efek samping. Bersikap jujur dengan pasien.

Berikan materi tertulis tentang kanker, pengobatan serta ketersediaan sistem yang mendukung.

Tinjau ulang aturan pengobatan khusus dan penggunaan obat yang dijual bebas.

9. Interaksi sosial, hambatan berhubungan dengan ketakutan, gangguan harga diri, isolasi terpeutik
6 6 6 6

Kaji pola interaksi pasien dengan orang lain. Tetapkan jadwal interaksi . Identifkasi perubahan perilaku yang sfesifik. Identifikasi tugas-tugas yang dapat meningkatkan atau memperbaiki interaksi sosial.

10. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan kolostomi


6

Kaji dan dokumentasikan respon verbal dan nonverbal pasien tentang tubuh pasien.

Dengarkan pasien/keluarga secara aktif dan akui realitas adanya perhatian terhadap perawatan, kemajuan dan prognosis.

Bantu pasien dan keluarga untuk mengidentifikasi mekanisme koping dan kekuatan personal dan pengakuan keterbatasan.

Berikan perawatan dengan cara yang tidak menghakimi, pelihara privasi dan martabat klien.

11. Disfungsi seksual/pola seksual, perubahan, berhubungan dengan nyeri, perubahan citra tubuh, ketakutan (pasien dan/atau pasangan), keletihan
6

Diskusikan dengan pasien/orang terdekat sifat seksualitas dan reaksi bila ini berubah atau terancam. Berikan informasi tentang normalitas masalah-masalah ini dan bahwa banyak oran menemukan bantuan untuk proses adaptasi.

Anjurkan pasien tentang efek samping dari pengobatan kanker yang diresepkan dan diketahui mempengaruhi seksualitas.

Berikan waktu tersendiri untuk pasien dirawat. Ketuk pintu dan dapatkan izin dari pasien/orang terdekat sebelum masuk.

IV. Evaluasi Hasil yang diharapkan 1. Mempertahankan eliminasi usus adekuat 2. Mengalami sedikit nyeri 3. Meningkatkan toleransi aktivitas 4. Mencapai tingkat nutrisi optimal a. Makan diet rendah residu, tinggi protein dan tinggi kalori b. Kram abdomen berkurang 5. Keseimbangan cairan tercapai a. Membatasi masukkan makanan dan cairan oral bila terjadi mual b. Berkemih sedikitnya 1,5 L/24 jam 6. Mengalami penurunan ansietas a. Mengungkapkan masalah dan rasa takut dengan bebas b. Menggunakan tindakan koping untuk menghadapi stres 7. Memerlukan informasi tentang diagnosis, prosedur bedah, dan perawatan diri setelah pulang a. Mendiskusikan diagnosa, prosedur bedah, dan perawatan diri pascaoperatif b. Mendemonstrasikan teknik perawatan ostomi 8. Mempertahankan insisi tetap bersih, stoma dan luka perineal a. Secara bertahap meningkatkan partisipasi dalam perawatan stoma dan kulit periostomal 9. Menunjukkan keterlibatan sosial : adanya interaksi dengan teman dekat, keluarga, tetangga, dan anggota kelompok kerja. 10. Mengungkapkan perasaan dan masalah tentang diri sendiri secara verbal 11. Tidak mengalami komplikasi a. Menggunakan antibiotik oral sesuai resep b. Bekerjasama dalam protokol pembersihan usus c. Tidak demam d. Lingkar abdomen dalam batas normal atau menurun e. Tidak ada bukti perforasi atau perdarahan

12. Mengungkapkan pemahaman tentang efek kanker dan aturan pengobatan pada seksualitas dan tindakan memperbaiki/menghadapi masalah. Mempertahankan aktivitas seksual pada tingkat yang diinginkan bila mungkin.

Daftar Pustaka

Buku ajar bedah / David C. Sabiston ; alih bahasa Petrus Andrianto ; Editor, Devi H. Ronardy. Jakarta : EGC, 1994

Buku ajar keperawatan medikal bedah Brunner & Suddarth / editor, Suzanne C. Smeltzer, Brenda G. Bare ; alih bahasa, Agung Waluyo ... [et al] ; editor bahasa Indonesia, Monica Ester ... [et al]. Ed. 8. Jakarta : ECG ; 2001

Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan intervensi NIC dan kriteria hasil NOC / Judith M. Wilkinson ; alih bahasa, Widyawati ... [et al] ; editor edisi bahasa Indonesia, Eny Meiliya, Monica Ester. Ed. 7. Jakarta : EGC, 2006.

Rencana Asuhan Keperawatan; pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien / Marilynn E. Doenges, Mary Farnces Moorhouse, Alice C. Geissler ; Alih Bahasa I Made Kariasa, Ni Made Sumarwati ; editor edisi Bahasa Indonesia, Monica Ester, Yasmin Asih. Ed. 3. Jakarta : EGC, 2000