Anda di halaman 1dari 8

LABORATORIUM PENGOLAHAN HASIL PERTANIAN JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS JEMBER

Nama NIM Golongan Kelompok Acara Tanggal Laporan Asisten

: : : Senin : III : Pengolahan Lateks : : 1. Dewi Argyaningtyas 2. Lukman Afandy 3. Anjar Arie P

Tanggal Praktikum :

I.

Data Hasil Pengamatan

I.1

Berat Nisbi Tembakau mentah Kel Panjang Lebar 29,5 32 29,5 Mutu 1+5 1+5 1+5 Berat daun (A gr) 49,5 54,0 45,0 Berat daun (A gr) 3,04 2,3 4,5 Berat tulang daun (B gr) 24,5 24,5 20,53 Berat tulang daun (B gr) 1,22 1,5 1,5

1 52,5 2 55 3 54 Tembakau Krosok Kel 4 5 6 I.2 Mutu Bakar Tembakau Krosok Panjang 34 34 36

Lebar 12,5 13 20

Mutu 3 3

Kel Waktu (s) 1 1,513 2 4,121 3 10,984 Tembakau Rajangan Kel 4 5 6 Asal Madura Galek Lombok Madura Galek Lombok Madura Galek Lombok Harga 7000 3500 5000 7000 3500 5000 7000 3500 5000 Warna +1 +5 +3 +1 +5 +3 +1 +5 +3

Hasil Mengumpul Menyebar Menyebar Waktu pijar (s) 1,40 1,67 2,02 3,18 1,69 2,63 1,03 1,63 3,63

Aroma +3 +1 +5 +1 +3 +5 +1 +3 +5

Kelentingan +5 +3 +1 +5 +3 +1 +5 +3 +1

I.3

Alkalinitas daun krosok Kel 1 dan 2 3 dan 4 5 dan 6 I.4 Kel Ml H2SO4 (a) 18,6 ml 14 ml 19 ml Sifat Higroskopis Perlakuan Sifat higroskopis daun krosok Kadar air Awal Kadar Air Akhir N H2SO4 0,02 0,02 0,02 ml sampel 2 ml 2 ml 2 ml

1 2 3 4 5 6 I.5

A gr 1,008 1,0137 1,0647 1,0063 1,2002 1,0713

B gr 9,820 8,735 7,636 8,744 8,108 8,698

C gr 10,6792 9,5785 8,5054 9,5717 9,0973 9,5117

A gr 1,4 1,1 0,9 1,0 1,0 1,0

B gr 10,2 9,94 8,55 9,75 9,14 9,85

C gr 9,3248 10,7128 8,4511 9,6072 8,9826 9,6749

Komposisi berat dan kadar nikotin Kel 1 2 3 4 5 6 Jenis Cerutu besar Cerutu sedang Cerutu kecil Grendel Plintir Classmild Rasa +2 +4 +3 +1 +6 +5 Komposisi berat % dekblad omblad filler 0,017 1,46 2,67 0,07 1,56 1,6 0,08 1,55 0,7 0,09 1,60 2,1 0,0123 1,22 1,33 0,0412 1,34 0,892 Berat awal Jumlah (gr) 4,3 2,5 1 2,18 1,0 1,09 titrasi 3,5 3,8 3,9 4,5 4,0 4,4

II. DATA HASIL PERHITUNGAN

II.1

Berat Nisbi Tembakau mentah (A gr) 1 49,5 2 54,0 3 45,0 Tembakau Krosok Kel 4 5 6 Berat daun (A gr) 3,04 2,3 4,5 Kel Berat daun Berat tulang daun (B gr) 24,5 24,5 20,53 Berat tulang daun (B gr) 1,22 1,5 1,5 Berat Nisbi 25 % 29,5 % 29,47 % Berat Nisbi 1,82 % 0,8 % 3%

III.PEMBAHASAN

Pada mulanya tanaman tembakau yang mempunyai nama latin Nicotiana tabaccum L hanya digunakan oleh masyarakat indian hanya dalam upacara upacara keagamaan mereka. Namun lambat laun ketika budaya barat mulai mengenal tembakau, tanaman ini menjadi salah satu komoditas penting dalam perdagangan dunia. Di Indonesia pun pada mulanya tanaman tembakau merupakan anamna konsumsi kelompok elit. Kemudian secara bertahap mulai meluas dan menjadi tanamn yang bisa dikonsumsi oleh masyarakat luas. Beberapa jenis tembakau yang sering dibudidayakan antara lain Tembakau Besuki , Deli dan Lombok, bahkan baru baru ini deterapkan suatu sistem penanaman tembakau dengan menggunakan naungan. Tembakau yang ditanam dibawah naungan ini biasanya diusahakan pada daerah-daerah yang tidak memiliki suasana Cloudiness, yaitu daerah-daerah yang dapat menerima sinar matahari dalam jumlah banyak. Sehingga pada daerah-daerah yang mendapatkan sinar matahari yang banyak tersebut dibuatlah naungan untuk mencapai Cloudiness tiruan atau buatan.

Daerah Sumatera (Deli) misalnya. Tembakau Bawah Naungan (TBN) atau Vorstenlanden Bawah Naungan (VBN) ini dibudidayakan dalam rangka mencari alternatif menghadapi masalah produksi dan pemasaran tembakau Besuki Na-oogost. Terdapat beberapa hal yang mempengaruhi mutu tembakau, secara langsung maupun tidak langsung hal tersebut akan mempengaruhi secara keseluruhan proses pengolahan tembakau hingga proses akhirnya. Unsur-unsur penentu mutu daun tembakau antara lain : 1. Ukuran dan bentuk daun 2. Tuan dan lamina daun 3. Tenunan daun 4. Tebal daun 5. Kepadatan jaringan 6. Berat per satuan luas 7. Bodi 8. Getah atau Gum 9. Mutu bakar 10. Kuat fisiologi 11. Warna 12. Aroma

Proses pengolahan tembakau hingga tembakau siap dikonsumsi yaitu : 1. Pemetikan Pemetikan daun tembakau menurut jenis pemetikan dan tujuan penanaman yaitu : 1. Pungut batang Pemetikan pungut batang dilakukan untuk jenis tembakau yang pemasakan daunnya serentak pada seluruh bagian tanaman. 2. Pungut daun (priming). Pungut daun (priming) dilakukan dengan memetik daun tembakau satu persatu secara bertahap. Cara ini biasa diterapkan untuk jenis tembakau cerutu dan sigaret. Sekitar dua minggu sebelum pemetikan, sebaiknya dilakukan pembuangan daun-daun kepel dan kaki yang kekuning-kuningan dan kotor (Setiadji, 1999). Untuk mendapatkan aroma yang kuat pada tembakau maka pemetikan dilakukan secara tepat, untuk menjaga keseimbangan antara karbohidrat, protein klorofil serta karotin dan xantofil bagi kualitas mutu tembakau. Waktu pemetikan pertama, kedua, ketiga, dan selanjutnya sebaiknya

dilaksanakan pada pagi hari antara pukul 04.30-06.00. Jika dipetik terlalu siang akan menyebabkan daya tahan tanaman menurun dan elastisitas daun kurang baik untuk cerutu. 2. Curing Pengeringan tembakau cerutu pada dasarnya berlangsung secara alamiah, yang lazim disebut pengeringan udara (air curing). Proses ini membutuhkan waktu yang relatif lama, berkisar + 3 minggu, tergantung pada keadaan daun maupun cuaca. Selama proses pengeringan terjadi reaksi - reaksi biokimiawi yang menyebabkan tembakau mempunyai sifat-sifat yang diharapkan oleh konsumennya. Beberapa proses biokimiawi yang penting terjadi saat proses curring antara lain : Perombakan klorofil Pembentukan warna cokelat Perubahan-perubahan biokimiawi senyawa N Perubahan kimiawi senyawa-senyawa dinamis 3. Lolos daun dan fermentasi Lolos daun merupakan tahapan penurunan daun tembakau kering dari plantangan. Sedangkan proses fermentasi merupakan tahapan proses yang dilakukan untuk menyempurnakan sifat mutu tembakau. Fermentasi dilakukan dengan menumpuk daun dalam gudang secara teratur dan rapi. Fermentasi adalah pemecahan senyawa organik menjadi senyawa bermolekul kecil serta dihasilkan O2 dan zat-zat lainnya yang dibentuk oleh adanya aktivitas mikroba dan enzim 4. Sortasi dan Pengepakan Pekerjaan memisah-misahkan serta mengumpulkan tembakau yang mempunyai persamaan dalam sifat tertentu itu disebut sortasi. Sortasi mempunyai beberapa faktor yang dijadikan pertimbangan antara lain adalah letak daun pada batang, kegunaan, dan terdapatnya partai-partai yang kualitasnya menyimpang ke arah negatif. Letak daun pada batang mempengaruhi bentuk daun, tipisnya daun, sifat-sifat pembakaran dan sebagainya. Dengan sortasi diharapkan akan dicapai keseragaman kualitas yang lebih baik. Sedangkan proses pengemasan perlu dikemas dalam bentuk bal dengan berat dan ukuran tertentu. Pelaksanaan pengebalan yaitu dengan menggunakan alat pengepres agar bungkusan menjadi mampat. Tembakau yang dibungkus susunannya harus rapi, lurus dan tidak miring. Untuk tembakau bahan pembalut atau pembungkus, kepala untingannya dilapisi kertas untuk menghindari kerusakan. Tembakau TBN dikemas dengan isi seberat 60 kg. Pada kelembaban relatif yang terlalu rendah, tembakau dapat mengalami kerusakan mekanis pada

waktu ditekan (dipres), sedangkan pada keadaan yang terlalu lembab, tembakau mengisap banyak uap air dan dikhawatirkan suhunya akan meningkat selama pengangkutan/penyimpanan. Kelembaban relatif yang optimum berkisar antara 70-80%. Setiap jenis tembakau memiliki ciri pengolahan yang berbeda-beda. Dan tidak menutup kemungkinan bahwa tahapan proses yang dijalankan juga berbeda. Berikut beberapa cara pengolahan jenis-jenis tembakau. a. Tembakau rajangan Tahapan proses pengolahan tembakau rajangan meliputi : tahapan pemetikan, pemeraman, sortasi, perajangan, pengeringan, dan pengebalan. b. Tembakau virginia Meliputi tahapan persiapan, pengeringan, pengembunan, ageing, sortasi, pengeringan ulang dan pengepakan. c. Tembakau cerutu Meliputi tahap pengeringan, fermentasi, sortasi, pengebalan, dan fumigasi.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan Dari praktikum yang telah dilakuakan, maka dapat disimpulkan bahwa: 1. Faktor faktor yang menentukanmutu dari hasil olahan tembakau yaitu : ukuran dan bentuk daun, tulang dan lamina daun, tenunan daun, tebal daun, kepadatan jaringan, berat per satuan luas, elestisitas, body, mutu bakar, warna, aroma, rasa, sifat higroskopis, dan kandungan air. 2. Sedangkan faktor yang menentukan hasil akhir. Penanganan tersebut meliputi sortasi pendahuluan, penyujenan, curing, fermentasi, lolos daun, serta sortasi dan pengebalan. 3. Waktu berpijar atau dapat juga disebut daya membara adalah sifat membara secara terus menerus tanpa menimbulkan nyala api. Pada praktikum didapatkan waktu pijar daun tembakau krosok berkisar antara 1 - 10 detik. 4. Semakin kecil berat nisbi daun semakin baik, terutama untuk pembalut dan pembungkus. Berat nisbi pada daun tembakau krosok berkisar antara 1,82 % - 3 %. Sedangkan untuk daun tembakau mentah yaitu antara 25 % - 29,5 %.

5.2 Saran Pada praktikum tembakau ini terlalu banyak data yang kurang lengkap, sehingga praktikan kesulitan dalam mengerjakan perhitungan dan pembahasan. Apalagi praktikan juga tidak mendapatkan pembahasan yang dituliskan oleh asisten.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2007. Petunjuk Praktikum Teknologi Pengolahan Tembakau, Gula dan Lateks. Jember: Laboratorium Pengolahan Hasil Pertanian, THP FTP Universitas Jember. Cahyono, Bambang. 1998. Tembakau: Budidaya dan Analisis Usaha Tani. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. Matnawi, Hudi. 1997. Budidaya Tembakau Bawah Naungan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. Setiadji. 2003. Teknologi Pengolahan Tembakau. Jember: THP FTP Universitas Jember.