Anda di halaman 1dari 4

BAB II FARMASI FARMAKOLOGI II.1.

. SIFAT FISIKO-KIMIA DAN RUMUS KIMIA OBAT Atorvastatin kalsium adalah obat penurun lemak yang terbuat dari bahan sintetis. Atorvastatin merupakan inhibitor hari HMG-KoA (3 hydroxy 3 methylglutaryl-co enzyme A) reeduktase. Enzim ini mengkatalis perubahan HMG-koA menjadi mevalonat pada biosintesis kolesterol. 2 Asetil KoA Asetoasetil KoA 3-hidroksi-3-metilglutaril-KoA (HMG-KoA) Mevalonat Gambar 1. Biosintesis Mevalonat Formula atorvastatis kalsium adalah (R-<R*,R*>) 2 (4-fluorophenil) , dihydroxy 5 (1-methylethyl) phenyl 4 (<phenylamino>carbonil) IH pyrrole 1 heptanoic acid, calcium salt (2:1) trihydrate. Sedangkan formula empirisnya adalah (C33H34FN2O5)2Ca3H2O dengan berat molekul 1209,42. C6H5 O C C N C C N R6 C6H5

Gambar 2. Rumus Kimia Atorvastatin Atorvastatin kalsium berupa Kristal bubuk putih yang tidak larut dalam larutan air yang mempunyai pH < 4. Sedikit sekali larut dalam air suling, buffer fosfat dengan pHH < 7,4 dan asetonitrile. Sedikit larut dalam etanol dan sangat larut dalam methanol. Dalam tablet LIPITOR mengandung 10, 20 atau 40 mg atorvastatin dan beber10, 20 atau 40 mg atorvastatin dan beberapa bahan bahan tidak aktif : Calcium carbonate, USP,

candelilla wax, FCC, magnesium stearate NF, microcrystalline cellulose NF, opadry white YS-1-7040 (hidroxy ppropylmethylsellulose, polyethylene glicol, talc, titanium dioxide), polysorbate 80 NF, simethicone emulsi. II.2. DOSIS DAN CARA PENGGUNAAN Pasien sebaiknya mengikuti program modifikasi diet dalam usaha menurunkan kolesterol sebelum menerima atorvastatin dan bila perlu tetap melanjutkannya selama perawatan dengan atorvastatin. Hiperkolesterolemia (Familial Heterozigot dan Non Familial) dan Dislipidemia Kombinasi ( Frederickson Tipe IIA daqn IIB) Dosis awal atorvastatin yang direkomendasikan adalah 10 mg sekali sehari. Rentang dosis adalah 10-80 mg sekali sehari. Atorvastatin dapat digunakan sebagai dosis tunggal dalam setiap saat sebelum atau sesudah makan. Terapi harus dibedakan untuk masing-masing penderita yang disesuaikan dengan sasaran dan respon (lihat NCEP Guidelines pada Tabel). Dua hingga empat minggu setelah terapi sebaiknya dilakukan pemeriksaan kadar kolesterol kemudian dosis disesuaikan dengan hasil pemeriksaan tersebut. NCEP merekomendaasikan kadar kol-LDL digunakan untuk menilai respon terapi. Hanya jika kadar kol LDL tidak dapat diukur, maka kolesterol total dapat digunakan untuk monitor terapi. Hiperkolesterolemia Familial Homozigot Dosis Atorvastatin untuk pasien dengan homozigot FH adalah 10-80 mg sehari. Atorvastatin sebaiknya digunakan sebagai tambahan terapi penurunan kolesterol yang lain (misalnya LDL apheresis) atau jika perawatan yang lain tidak tersedia. Terapi Kombinasi Atorvastatin dapat digunakan dengan golongan resin pengikat asam empedu untuk meningkatkan efek. Kombinasi inhibitor HMG-KoA reduktase dan golongan asam fibrat sebaiknya dihindari (lihat Peringatan dan Interaksi Obat). Dosis untuk penderita dengan gangguan fungsi ginjal Penyakit ginjal tidak mempengaruhi konsentrasi atorvastatin plasma dalam upaya penurunan kol-LDL. Sehingga dosis penyesuaian ke dalam pasien dengan kelainan fungsi ginjal tidak perlu (lihata Farmakokinetik). PREPARAT Lipitor tersedia dalam bentuk lonjong, putih, tablet atorvastatin kalsium berisi 10, 20 dan 40 mg atorvastatin.

Tablet 10 mg : diberi kode PD 155 pada satu sisi dan 10 pada sisi yang lain. Tablet 20 mg : diberi kode PD 156 pada satu sisi dan 20 pada sisi yang lain. Tablet 30 mg : diberi kode PD 157 pada satu sisi dan 30 pada sisi yang lain. Cara penyimpanan : Disimpan pada suhu kamar 20oC 50oC (68oF 77oF). II.3. INDIKASI Atorvastatin digunakan untuk mengurangi kadar kolesterol total, kol-LDL, apo B dan Trigliserida pada pasien dengan hiperkolesterolemia primer (familial heterozigot dan non familial) dan dislipidemia kombinasi (Frederickson tipe IIA dan IIB) juga sebagai terapi adjuvant pengobatan pasien dengan kadar serum trigliserida yang tinggi (Frederickson tipe IV). Selain itu, atorvastatin digunakan untuk pengobatan pasien dengan disbetalipoproteinemia primer (Frederickson tipe III) yang tidak berespon terhadap terapi modifikasi diet serta sebagai terapi tambahan untuk penurunan kolesterol total dan kol-LDL pada pasien dengan hiperkolesterolemia homozigot. Terapi dengan obat hipolipidemik sebaiknya dilakukan setelah upaya non farmakologis tidak berhasil menurunkan kadar kolesterol. (Lihat NCEP Guidelines pada table) Tabel . NCEP GUIDELINES FOR LIPID MANAGEMENT LDL-Cholesterol mg/dl (mmol/L) Definite Atherosclerotic Disease* No No Yes Two or more Other Risk Factor + No Yes Yes or No Initiation Level > 190 ( > 4,9 ) > 160 ( > 4,1 ) > 130# ( > 3,4 ) Minimum Goal > 160 ( > 4,1 ) > 130 ( > 3,4 ) > 100 ( > 2,6 )

* Coronary heart disease or peripheral vascular disease (including symptomatic carotid artery

disease) + Other risk factors for coronary heart disease (CHD) include : age ( males > 45 years ; females > 55 years or premature menopause without esterogen replacement therapy); family history of premature CHD ; current cigarette smoking ; hypertension ; confirmed HDL-C < 35 mg/dl (0,91 mmol/L); and diabetes mellitus. Subtract 1 risk factor if HDL-C is > 60 mg/dl ( > 1.6 mmol/L) # In CHD patients with LDL-C levels 100 to 129 mg/dl, the physician should exercise clinical judgment in deciding wheter to initiate drug treatment. II.4. KONTRA INDIKASI Penyakit hati akut atau peningkatan serum trans aminase yang persisten Hipersensitivitas terhadap komponen dari obat Ibu hamil dan menyusui Atherosklerosis adalah suatu proses kronis dan pennghentian minum obat selama kehamilan mempunyai sedikit dampak pada terapi jangka panjang pasien hiperkolesterolemia primer. Kolesterol dan derivatnya merupakan komponen penting untuk perkembangan janin termasuk sintesa hormone steroid dan membrane sel. Karena inhibitor HMG-KoA reduktase menghambat sintesa kolesterol dan derivatnya, maka dapat menyebabkan kecacatan pada janin ketika diberikan pada wanita hamil. Oleh karena itu inhibitor HMG-KoA reduktase adalah kontraindikasi pada wanita hamil dan menyusui. Atorcastatin diberikan pada wanita usia produktif dan tidak dalam keadaan hamil serta diberikan informed consent. Jika pasien hamil saat terapi dengan atorvastatin, terapi harus dihentikan dan pasien diberitahu kalau resiko potensial yang bisa terjadi pada janin.