Anda di halaman 1dari 28

A.

JUDUL PENGARUH PERUBAHAN ORIENTASI MATA PENCAHARIAN PETANI MENDONG TERHADAP EKSISTENSI KERAJINAN TIKAR DI DESA GEMBOR KECAMATAN PAGADEN KABUPATEN SUBANG

B. LATAR BELAKANG Indonesia merupakan negara agraris sehingga sektor pertanian memegang peranan penting dalam mendorong laju perekonomian nasional. Hal tersebut dapat ditunjang dengan potensi sumberdaya alam dan kondisi pendudukknya yang sebagian besar bermatapencaharian sebagai petani. Berdasarkan data statistik yang ada, saat ini sekitar 75% penduduk Indonesia tinggal di wilayah pedesaan. Lebih dari 54% diantaranya menggantungkan hidup pada sektor pertanian, dengan tingkat pendapatan relatif rendah jika dibandingkan dengan penduduk yang tinggal di perkotaan. Perbedaan pendapatan tersebut berkaitan erat dengan produktivitas para petani Indonesia, yang tidak dapat dilepaskan dari berbagai faktor, antara lain luas lahan yang dimiliki, kebijakan pemerintah dalam hal pemberian insentif kepada petani dan sebagainya ( Soetrisno, Loekman 2002). Pertanian di Indonesia masih memegang peranan penting pada seluruh sistem perekonomian nasional, untuk itu pembangunan pertanian menjadi salah satu hal penting yang harus dilakukan. Menurut Hadisapoetra dalam Dewandini (2010), pembangunan pertanian dapat diartikan sebagai suatu proses yang ditujukan untuk selalu menambah produksi pertanian untuk tiap-tiap konsumen, yang sekaligus mempertinggi pendapatan dan produktivitas usaha tiap petani dengan jalan menambah modal dan skill untuk meningkatkan peran manusia di dalam perkembangan tumbuh-tumbuhan dan hewan. Pembangunan sektor pertanian sudah selayaknya tidak hanya berorientasi pada produksi atau terpenuhinya kebutuhan pangan saja tetapi juga harus mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat terutama petani.

Program-program pengembangan pertanian dan kehutanan diarahkan untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan kehutanan khususnya petani kecil, mengentaskan kemiskinan, dan meningkatkan nilai tambah pertanian dan kehutanan bagi masyarakat. Rencana strategis tersebut diwujudkan melalui peningkatan hubungan industrial pertanian dan kehutanan dengan sektor-sektor perekonomian. Arah kebijakan untuk pembangunan perkebunan, ditujukan untuk memenuhi kebutuhan industri. Pembinaan dan pengembangan industri kecil bukan saja penting sebagai jalur kearah pemerataan hasil-hasil pembangunan, tetapi juga sebagai unsur pokok dari seluruh struktur industri di Indonesia, karena dengan investasi yang dapat berproduksi secara efektif dan dapat menyerap banyak tenaga kerja. Di samping itu, 87% dari struktur industri Indonesia adalah insustri kecil (Hasan, Bachtiar (2003). Salah satu komoditas yang dibudidayakan untuk memenuhi kebutuhan industri adalah tanaman mendong (Fimbristylis globulosa). Tanaman mendong merupakan tanaman rumput-rumputan yang hidup di daerah banyak air atau pada umumnya hidup di rawa-rawa. Salah satu daerah yang membudidayakan tanaman ini adalah Kabupaten Subang. Hasil utama tanaman mendong adalah berupa batang serta tangkai bunga yang dikenal dengan istilah mendong. Mendong digunakan sebagai bahan baku industri kerajinan yang hasilnya dapat berupa dompet, tas, topi, taplak meja, dan tikar. Salah satu wilayah yang dikenal dengan anyaman mendong adalah Kecamatan Pagaden Kabupaten Subang. Sentra industri kecil anyaman mendong di Kecamatan tersebbut terkonsentrasikan pada dua desa yaitu Desa Sukamulya dan Gembor. Di Desa Gembor Kecamatan Pagaden Kabupaten Subang sebagian besar masyarakatnya adalah petani mendong. Di daerah ini kerajinan mendong sudah eksis sejak tahun 1969 dan pada tahun 1978 usaha kerajinan mendong di Desa Gembor menjadi primadona, pengrajin mendong mampu menjadikan kerajinan ini sebagai mata pencaharian utama. Pada awal tahun 1990-an, masih banyak bahan baku untuk dibuat mendong, karena prospek mendong dianggap cerah, saat itu para pengrajin dan

pemilik lahan sawah memilih menanam lahan sawahnya dengan tanaman mendong daripada padi. Sehingga di Desa Gembor lahan yang ditanami mendong yang luasnya mencapai 15 ha (Pikiran Rakyat, 26 Desember 2011). Namun dalam pembangunan yang telah dilaksanakan ternyata suatu masyarakat tidak bersifat statis dan akan terus berkembang sesuai dengan kebutuhannya. Pandangan suatu masyarakat semakin lama semakin berubah hingga pola pikirnya sekarang tidak lagi hanya berorientasi pada pertanian yang masih saja bersifat subsistem. Tetapi mengikuti juga perkembangan yang terjadi di luar wilayahnya sehingga banyak memunculkan sumber-sumber ekonomi yang bersifat informal. Masyarakat memandang bahwa mata pencaharian pertanian bukan merupakan satusatunya mata pencaharian yang bisa dijadikan sandaran hidup, sehingga terjadilah perubahan orientasi mata pencaharian. Terdapat perubahan orientasi mata pencaharian di Desa Gembor. Pada tahun 1993 di Desa Gembor mengalami alih fungsi lahan tanaman mendong menjadi kolam ternak ikan dan hal tersebut terus terjadi hingga tahun 2000 yang mengakibatkan tidak terdapat satu petak pun tanaman mendong di daerah tersebut. Hal ini mengakibatkan keberadaan pengrajin tikar di daerah tersebut semakin berkurang, pada tahun 2000 diketahui terdapat 150 orang pengrajin dan petani mendong namun sekarang hanya terdapat 7 orang pengrajin tikar mendong. (Naskam, Ade:Kepala Desa Gembor). Dengan terjadinya perubahan mata pencaharian petani mendong, maka bahan baku untuk anyaman mendong semakin sulit diperoleh. Padahal pada kenyataannya kebutuhan pasar tikar mendong di Subang masih cukup tinggi. Maka berdasarkan latar belakang di atas, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian mengenai PENGARUH PERUBAHAN ORIENTASI MATA

PENCAHARIAN PETANI MENDONG TERHADAP EKSISTENSI KERAJINAN TIKAR DI KECAMATAN PAGADEN KABUPATEN SUBANG.

C. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan sebelumnya, maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut : 1. Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan petani mendong merubah mata pencahariannya? 2. Bagaimana pengaruh perubahan orientasi mata pencaharian petani mendong terhadap eksistensi kerajinan tikar di Kecamatan Pagaden Kabupaten Subang ? D. VARIABEL PENELITIAN Variabel Bebas (x) Perubahan Orientasi Mata Pencaharian Petani Mendong :  Tingkat pendapatan  Luas kepemilikan lahan  Tingkat produksi  Persaingan antara cabang usahatani  Tersedianya Modal Variabel Terikat (y) Eksistensi kerajian tikar

E. TUJUAN PENELITIAN Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan sebelumnya, maka terdapat tujuan penelitian sebagai berikut : 1. Mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan petani mendong merubah mata pencahariannya.

2. Menganalisis dampak perubahan orientasi mata pencaharian petani mendong terhadap eksistensi kerajinan tikar di Kecamatan Pagaden Kabupaten Subang. F. MANFAAT PENELITIAN 1. Sebagai bahan masukan bagi Pemerintah Daerah, yang diharapkan dapat menjadi informasi dan landasan untuk menentukan kebijakan yang terkait dalam hal pengembangan tanaman mendong. 2. Sebagai bahan masukan bagi instansi terkait, yaitu Dinas Perdagangan Industri dan Pasar Kabupaten Subang, untuk lebih memperhatikan dan meningkatkan meningkatkan produktivitas pertanian komoditas tanaman mendong. 3. Sebagai bahan pengetahuan bagi petani dalam mengelola dan mengembangkan budidaya tanaman mendong di Kecamatan Pagaden Kabupaten Subang. 4. Sebagai bahan pengayaan dalam proses pembelajaran geografi dalam bahasan Sumberdaya Alam. 5. Bagi peneliti lain dapat dijadikan sebagai bahan tambahan informasi dalam penyusunan penelitian selanjutnya atau penelitian-penelitian sejenis.

G. DEFINISI OPERASIONAL 1. Perubahan Orientasi Mata Pencaharian Perubahan mata pencaharian merupakan proses yang mengakibatkan keadaan sekarang berbeda dengan keadaan yang sebelumnya. Perubahan orientasi dalam penelitian ini adalah berpindahnya pekerjaan masyarakat petani mendong menjadi pekerjaan lain. 2. Petani Mendong Menurut Samsudin dalam Dewandini (2010) Petani adalah mereka yang untuk sementara waktu atau tetap menguasai sebidang tanah pertanian, menguasai suatu cabang usahatani atau beberapa cabang usahatani dan mengerjakan sendiri, baik dengan tenaga sendiri maupun dengan tenaga bayaran. Petani yang dimaksud dalam penelitian adalah petani mendong.

3. Eksistensi Eksistensi adalah suatu proses yang dinamis, suatu menjadi atau mengada. Ini sesuai dengan asal kata eksistensi itu sendiri, yakni exsistere, yang artinya kelaur dari melampaui atau mengatasi. Jadi eksistensi tidak bersifat kaku dan terhenti, melainkan lentur atau kenyal dan mengalami perkembangan sebaliknya kemunduran, tergantung pada kemampuan dalam mengaktualisasikan potensi-potensinya. Adapun eksistensi dalam peneltian ini adalah eksistensi kerajian tikar.

H. TINJAUAN PUSTAKA 1. Pembangunan Pertanian Menurut Mosher dalam Dewandini (2010), pembangunan pertanian merupakan bagian integral dari pembangunan ekonomi dan masyarakat secara umum. Pembangunan pertanian memberikan sumbangan kepadanya serta menjamin bahwa pembangunan menyeluruh itu (overall development) akan benar-benar bersifat umum dan mencakup penduduk yang hidup dari bertani yang jumlahnya besar dan dalam beberapa tahun mendatang diberbagai negara, akan terus hidup bertani. Menurut Mangunwidjaja dan Sailah dalam Dewandini (2010), visi pembangunan pertanian abad ke-21 yang masih tetap aktual untuk dijadikan salah satu acuan pembangunan pertanian saat ini atau masa datang adalah: a. Menciptakan produk dan jasa pertanian yang berdaya saing tinggi. b. Memelihara kelestarian lingkungan dan keberlanjutan pembangunan pertanian. c. Meningkatkan dan meratakan kesejahteraan bangsa dan rakyat Indonesia pada umumnya dan pelaku pertanian pada khususnya. d. Meningkatkan kontribusi pertanian dalam ekonomi nasional.

Pembangunan pertanian tidak dapat terlaksana hanya oleh petani saja. Untuk melakukan pembangunan pertanian lebih lanjut, makin lama petani makin tergantung pada pihak-pihak di luar lingkungan desa, seperti pupuk, bibit unggul, saluran pengairan, obat-obatan, alat-alat, dan lain-lain yang dibeli dari luar, demikian pula hasilnya harus dijual ke pasar, pengetahuan dari sekolah atau fakultas, dinas penyuluhan, dan sebagainya. Dengan demikian pertanian dapat maju apabila terdapat interaksi yang positif antara bidang pertanian dengan bidang-bidang lainnya. 2. Usahatani Pertanian (agriculture) bukan hanya merupakan aktivitas ekonomi untuk menghasilkan pendapatan bagi petani saja. Lebih dari itu, pertanian adalah sebuah cara hidup (way of life atau livehood) bagi sebagian besar petani di Indonesia. Petani kita pada umumnya lebih mengedepankan orientasi sosialkemasyarakatan, yang diwujudkan dengan tradisi gotong royong

(sambatan/kerigan) dalam kegiatan mereka. Jadi bertani bukan saja aktivitas ekonomi, melainkan sudah menjadi budaya hidup yang sarat dengan nilai-nilai sosial-budaya masyarakat lokal. Pertanian rakyat yang merupakan usahatani adalah sebagai istilah lawan perkataan farm dalam bahasa Inggris. Dr. Mosher memberikan definisi farm (yang diterjemahkan oleh Krisnadi menjadi usahatani) sebagai suatu tempat atau bagian dari permukaan bumi dimana pertanian diselenggarakan oelh seorang petani tertentu apakah ia seorang pmilik, penyakap ataupun manager yang di gaji. Menurut Prof. Tb. Bachtiar Rifai dalam Abbas dan Cuhaya (1983), usahatani adalah setiap kombinasi yang tersusun (organisasi) dari alam, kerja dan modal yang ditunjukan kepada produksi di lapangan pertanian. Tatalaksana usahatani ini berdiri sendiri dan diusahakan oleh seorang atau sekelompok orang. Jika usaha tani itu dikerjakan oleh sekelompok orang, mereka itu biasanya terdiri dari segolongan social berdasarkan keturunan ataupun kedaerahan (territorial).

Pada tingkat permulaan manusia mengenal usaha bertani atau berusahatani dengan cara-cara penyelenggaraan yang masih sederhana (primitive, tradisional), dimana tujuan produksinya terutama untuk mencukupi kebutuhan konsumsi keluarga itu sendiri. Oleh karena itu usahatani semacam ini sering juga disebut subsisten. Berusaha di sini lebih merupakan sebagai suatu cara berusahatani dengan tujuan produksi lebih diarahkan pada pemenuhan permintaan pasar dan untuk mencari keuntungan. Usahatani terakhir ini dikatakn bersifat komersil. a. Klasifikasi Lahan Usahatani Didasarkan kepada sifat penggunaanya, lahan usahatani dapat

diklasifikasikan ke dalam dua golongan besar, yaitu lahan sawah dan lahan kering atau darat. 1) Lahan Sawah Lahan usahatanu golongan ini biasanya dipakai untuk bercocok tanam padi dengan penggenangan air. Oleh karena itu sebagai cirri khas dari lahan sawah dibuat pematang (galengan), yaitu suatu

onggokan/gundukan tanah yang dibuat mengelilingi sebidang tanah agar dapat mengatur pengairan tanaman padi pada lahan tersebut. Sistem pengairan sawah bermacam-macam dan atas dasar faktor ini lahan sawah dapat di sub-klasifikasikan ke dalam (a) sawah dengan sistem pengairan irigasi, (b) sawah dengan sistem pengairan pedesaan, (c) sawah tadah hujan, (d) sawah lebak, (e) sawah pasang surut. 2) Lahan Kering atau Darat Penggunaan lahan usahatani macam ini tidak memerlukan sistem pengairan seperti pada sawah. Penggunaan lahan kering banyak variasinya. Didasarkan di kepada atasnya, Janis lahan tanaman kering atau di usaha sub-

yangdiselenggarakan

dapat

klasifikasikan ke dalam (a) pekarangan, (b) ladang atau tegalan, (c) kebun, (d) padang rumput, (e) kolam ikan.

b. Cara Memperoleh Usahatani Lahan untuk usahatani dapat diperoleh dengan berbagi cara yaitu membeli lahan, menyewa lahan, bagi hasil atau sakap, menggadai lahan, meminjam lahan dengan hak pakai dan hak guna usaha (HGU), membuka hutan, warisan dan lahan hadiah c. Faktor-faktor Lahan yang Mempengaruhi Tipe Usahatani 1) Faktor Alam yang Mempengaruhi Tipe Usahatani Faktor ini merupakan faktor penting yang membedakan tipe usahatani dari satu daerah. Faktor alam meliputi iklim, tanah dan topografi dan keadaannya dari satu daerah ke lain daerah tidak sama. 2) Faktor Ekonomi yang Mempengaruhi Tipe Usahatani Faktor ekonomi sering mengalami perubahan dari waktu ke waktu, yang merupakan kebalikan dari pada faktor alam yang lebih bersifat tetap. Faktor ekonomi yang penting dalam mempengaruhi tipe usahatani diantaranya adalah (a) Adanya permintaan pasar untuk sesuatu komoditi usahatani tertentu, (b) Ongkos tataniaga, (c) Adanya persaingan antara cabang usahatani, (d) Adanya siklus kelebihan dan kekurangan produksi, (e) Nilai lahan, (f) Tersedianya modal dan (g) Tersedianya tenaga kerja. 3) Faktor Budaya yang Mempengaruhi Tipe Usahatani Faktor ini mempengaruhi kehidupan masyarakat dalam berbagai aspek. Faktor ini antara lain meliputi (a) Adat dan kepercayaan kepada agama, (b) Perkembangan pendidikan, (c) Perkembangan tingkat masyarakat. 4) Faktor Kebijaksanaan yang Mempengaruhi Tipe Usahatani Di sektor pertanian, kehadiaran pemerintah itu sangat diperlukan sekali, mengingat sector ini merupakan sector terlemah diantara sector lain di dalam perekonomian Negara kita. Sektor pertanian seringkali memerlukan perlindungan dan bantuan dari pihak pemerintah. Pemerintah sering diperlukan kekuasaannya untuk mengatur tersedianya dan hidup

distribusi barang-barang hasil pertanian yang diperlukan golongan masyrakata tersebut.

3. Perubahan Orientasi Mata Pencaharian Mata pencaharian penduduk di suatu wilayah akan mengalami perubahan sesuai dengan keadaan fisik dan social ekonomi, seperti bentang alam, bertambahnya pengetahuan, teknologi yang dimiliki penduduk wilayah dengan perubahan waktu relative cepat atau lambat. Seperti yang dikemukakan oleh Abdurahman dalam Mulyawan (2006) macan dan corak aktivitas manusia

berbeda-beda pada tiap golongan atau daerah, sesuai dengan kemampuan penduduk dan tata geografi daerahnya. Perubahan mata pencaharian merupakan perubahan pada struktur fungsional masyarakat. Sebetulnya perubahan sosial merupakan gejala permanen yang senantiasa hadir dan terjadi pada setiap masyarakat.Ada perubahan yang berlangsung dengan sengaja (hasil perancangan dan kebijakan social) dan ada pula yang berlangsung begitu lamban, sehingga melahirkan kesan tidak berubah. (Tania, 2011) Perubahan mata pencaharian ini bisa terjadi secara sadar maupun terpaksa karena adanya penekanan dari faktor intern mapun ekstern. Faktor ekstern yang disengaja, misalnya adanya pembangunan sarana fisik seperti pembangunan untuk pemukiman dan perumahan, industri ataupun sarana fisik lainnya yang menyebabkan terjadinya pergeseran amata pencaharaian dari lahan pertanian ke lahan non pertanian. Sedangkan faktor intern misalnya jumlah pendapatan petani yang dirasa tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, jumlah tanggungan keluarga petani, serta pendidikan dan pengalaman bekerja pada sektor pertanian. Menyempitnya lahan pertanian untuk kepentingan pembangunan,

menyebabkan penduduk terutama penduduk yang bermata pencaharian sebagai

petani dari mereka mengalihkan kegiatan dari sektor pertanian ke sektor non pertanian, hal ini dilakukan untuk mempertahankan hidupnya.

4. Tanaman Mendong Menurut Tjitrosoepomo (1988), tanaman mendong termasuk spesies Fimbristylis globulosa, taksonominya sebagai berikut: Divisi Sub Divisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Spermatophyta : Angiospermae : Monocotyledoneae : Cyperales : Cyperaceae : Fimbristylis : Fimbristylis Globulosa (Retz.)

Menurut Listyani (2008), tanaman mendong sekali tanam dapat dipanen 4 hingga 5 kali dengan menyisakan bagian bawah tanaman setinggi 3 cm tanpa membongkar perakaran sehingga tidak perlu pengadaan bibit sehabis panen. Rumpun yang tersisa akan tumbuh anakan baru dengan pemberian pupuk dan pemeliharaan sesuai anjuran selanjutnya menjadi batang mendong yang siap dipanen setelah sekitar 4 bulan kemudian. Demikian seterusnya sampai 4 hingga 5 kali siklus panen. Setelah itu baru dilakukan pembongkaran akarnya untuk dibuat bibit kembali. a. Persiapan Bibit Menurut Listyani (2008), perbanyakan mendong umumnya dilakukan secara vegetatif (dengan tunas akar). Cara pembuatan bibit tanaman mendong secara vegetatif dapat dilakukan secara bertahap sebagai berikut : 1) Rumpun tanaman mendong yang akan dijadikan bibit dipilih yang pertumbuhannya baik (subur) dan tidak terserang hama ataupun penyakit- Setelah batang-batang mendong tumbuh setinggi 1,5 m,

rumpun tanaman mendong tersebut dipangkas (dipotong) setinggi 3 cm dari permukaan perakaran. Batang-batang mendong hasil pemangkasan tadi dapat diproses untuk dijadikan bahan anyaman. 2) Rumpun-rumpun mendong yang telah dipangkas tersebut dipelihara terutama dengan menjaga agar lahan tetap basah dan bersih dari gulma atau herba sehingga tumbuh tunas-tunas baru. Jika tunas-tunas baru sudah mencapai ketinggian 30 cm 45 cm rumpun tanaman mendong yang akan dijadikan bibit tersebut dibongkar beserta akar-akarnya. 3) Rumpun tanaman mendong yang telah dibongkar dipotong akarakarnya sepanjang 5 10 cm dari ujung akar. Kemudian rumpun mendong dipecah-pecah menjadi beberapa rumpun bibit. 4) Pemecahan rumpun mendong harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak merusak perakaran. 5) Rumpun tanaman mendong yang telah dipecah-pecah merupakan bibit yang siap untuk ditanam.

b. Pengolahan Lahan Pengolahan lahan hampir sama dengan pengolahan lahan untuk padi sawah lahan kondisinya berair. Lahan yang akan ditanami mendong dibajak lebih dahulu dengan tenaga ternak atau traktor atau cangkul. Kedalaman olahan sekitar 30 cm. Setelah dibajak lalu diperlembut dengan menggunakan garu atau cangkul sehingga tanah olahan benar-benar lembut, rata dan bersih dari gulma. Bersamaan dengan itu pematang-pematang sawah dibersihkan dari gulma dengan menggunakan cangkul. Lahan siap untuk ditanami mendong dengan air yang tetap menggenang.

c. Penanaman Bibit Menurut Listyani (2008), lahan yang sudah siap untuk ditanami mendong diberi pupuk organik (pupuk kandang) dan pupuk anorganik

(pupuk TSP) agar tanaman mendong dapat tumbuh dengan baik. Lahan dibiarkan beberapa saat hinggga pupuk larut didalam tanah. Sebelum bibit ditanam ketinggian air diusahakan sekitar 10 cm. Kemudian bibit mendong ditanam dengan cara dibenam bagian perakarannya kedalam tanah seperti menanam bibit padi. Jarak tanam antar bibit 30 cm dan jarak antar barisan (jalur) selebar 0,5 m. Pinggir sepanjang pematang jangan ditanami bibit mendong agar memudahkan pemasukkan air irigasi dan memudahkan pemeliharaan pematang.

d. Pemeliharaan Tanaman Pemeliharaan tanaman mendong yang utama adalah menjaga volume air pada areal tanaman, pemupukan, pembersihan gulma atau tanaman lain yang mengganggu dan pengendalian hama.

e. Panen dan Pasca Panen Menurut Sunanta (2000), hasil utama tanaman mendong batang-batang mendong sebagai bahan baku untuk industri anyam- anyaman. Tanaman mendong yang dipelihara dengan baik akan tumbuh subur dan menghasilkan batang-batang mendong yang berkualitas baik, panjang-panjang dan tidak mudah patah. Untuk mempertahankan kualitas mendong menjadi lebih baik lagi, maka penanganan panen dan penanganan pasca panen harus dilakukan dengan baik dan benar. 1) Panen Tanaman mendong dapat dipanen setelah berumur 5 bulan sejak ditanam. Cara panennya adalah sebagai berikut: sebelum panen dilakukan, air yang menggenangi areal tanaman mendong dibuang atau dialirkan keluar areal terlebih dahulu sehingga permukaan tanahnya tampak. Dengan demikian pemanenan mendong dapat dilakukan dengan mudah.

Panen mendong dilakukan dengan memotong batang-batang mendong dengan menggunakan sabit yang tajam. Pemotongan batang mendong dilakukan sekitar 3 cm diatas permukaan tanah. Batang-batang mendong yang telah dipanen dikumpulkan, kemudian langsung dijemur pada panas matahari. Penjemuran batang mendong biasanya dilakukan ditepi jalan yang letaknya tidak jauh dari sawah areal tanaman mendong hingga batangbatang mendong tersebut kering. Setelah kering batang-batang mendong dibawa pulang ke rumah. Namun ada juga yang membawa pulang batang mendong dalam keadaan basah dan dijemur di halaman rumah hingga kering. Penjemuran mendong pada musim kemarau hanya berlangsung 3 - 4 hari, namun jika pada musim hujan penjemuran dapat berlangsung 5 - 8 hari tergantung pada keadaan cuaca. 2) Pasca Panen Menurut Sunanta (2000), Kegiatan pokok penangannan pasca panen meliputi sortasi, pengikatan dengan bobot tertentu dan pemasaran, yaitu:  Sortasi Batang-batang mendong kering yang telah terkumpul disortasi atau diseleksi berdasarkan ukuran panjangnya. Batang-batang mendong yang mempunyai ukuran panjang sama dikelompokkelompokkan secara terpisah. Misalnya batang mendong yang panjangnya 1,50 m, 1,25 m, 1,00 m dan 0,75 m, masing-masing dikelompokkan sendiri sendiri.  Pengikatan Pengikatan dilakukan setelah batang mendong dikelompokkan berdasarkan panjangnya. Masing-masing kelompok diikat dan setiap ikat berisi sekitar 450 batang mendong. Batang-batang

mendong yang telah diikat tersebut dipotong bagian ujung-ujungnya sehingga panjangnya menjadi sama , dan siap untuk dijual.

5. Industri Industri merupakan kegiatan manusia yang penting, industri menghasilkan berbagai barang kebutuhan manusia mulai dari makanan, minuman, pakaian, dan perlengkapan rumah tangga sampai perumahan dan kebutuhan lainnya. Industri juga sebagai sumber penghasilan sebagian besar orang-orang yang ada di dunia ini, karena sector industri telah banyak dikembangkan di berbagai belahan dunia baik yang sudah maju maupun yang masih berkembang. Menurut Sumaatmadja dalam Eka (2008) industri memiliki dua pengertian yaitu pengertian secara luas dan sempit. Pengertian industri secara luas adalah sebagai kegiatan manusia yang memanfaatkan sumberdaya, sedangkan dalam arti sempit adalah suatu kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah menjadi barang jadi atau setengah jadi. Sebagaimana dimaklumi, bahwa masyarakat industri memilki karakteristik yang berbeda dari tatanan masyarakat lainnya yakni masyarakat agraris atau masyarakat tradisional. Dalam pandangan Toffler dalam Syaifullah (2009) masyarakat industri adalah perkembangan lebih lanjut dari masyarakat pertanian (agriculture societies). Di Indonesia macam dan kegiatan industri dikelompokan ke dalam 4 golongan : 1) Kelompok I aneka indutstri dan kerajianan, yang terdiri atas : a. Industri makanan dan minuman b. Industri kerajianan logam : mas, perak, tembaga

c. Industri kerajinan bukan logam :anyaman,kulit, tembakau dan lain-lain 2) Kelompok II industri logam dan elektronik, yang terdiri atas : a. Industri logam dasar besi/ baja (termasuk industri pipa kawat baja dan lain-lain) dan industri non-ferro (timah,kabel dan lain-lain) b. Industri mesin kendaraan, mesin-mesin, industri kapal dan lain-lain

c. Industri elektronika : radio, TV dan alat-alat listrik lainnya. 3) Kelompok III industri kimia, termasuk ke dalamnya : Industri pupuk, industri ban , industri gelas, industri garam, industri gas dan lain-lain 4) Kelomnpok IV industri sandang, tekstil, yang termasuk ke dalamnya : a. Industri serat sintetis (rayon) b. Industri permintalan dan pertenunan c. Industri perajutan d. Industri pakaian jadi (Alamak Industri dalam Maryani dan Abdurachmat (2009:31)

5.1 Faktor-Faktor Penting yang Berkaitan dan Mempengaruhi Usaha dan Kegiatan Industri High Smith dalam Maryani dan Abdurachmat (2009) menggolongkan syarat dan faktor-faktor yang mempengaruhi usaha dan kegiatan industry menjadi 4 kelompok yaitu : 1) Faktor Sumberdaya (The Resource Base) Faktor sumberdaya khususnya sumberdaya alam sebagai pendukung industri yang penting adalah bahan mentah, sumber energi, persediaan air, faktor iklim dan bentuk lahan (landform). 2) Faktor Sosial (Social Factors) Faktor-faktor sosial yang berpengaruh terhadap usaha dan perkembangan industri antara lain adalah penyediaan tenaga kerja, kemapuan-kemampuan mengorganisasi. 3) Faktor Ekonomi (Economic Factors) Faktor-faktor ekonomu yang penting terhadap usaha dan perkembangan industri antara lain adalah pasara, trasnportasi, modal, masalah harga tanah dan pajak. teknologi, dan kemampuan-kemampuan

4) Faktor Kebijakan Pemerintah Kebijakan pemerintah yang mempengaruhi usaha dan perkembangan industri misalnya : ketentuan-ketentuan perpajakan dan tarif, pembatasan impor-eksport (proteksi hasil industri dalam negeri dan mendorong eksport), pembatasan jumlah dan macam industri, penentuan daerah industri, pengembangan kondisi dan iklim yang menguntungkan usaha (favourable) dan lain-lain.

I. METODOLOGI PENELITIAN 1. Desain Penelitian Penelitian ini berlokasi di Desa Gembor Kecamatan Pagaden Kabupaten Subang, terletak sekitar 8 kilometer dari ibu kota kecamatan, 9 kilometer dari ibu kota kabupaten. Secara geografis Kecamatan Pagaden langsung berbatasan dengan : Sebelah Utara Sebelah Timur Sebelah Selatan Sebelah Barat 2. Populasi dan Sampel a. Populasi Menurut Tika, Pabundu (1996:32) populasi adalah himpunan individu atau objek yang banyaknya terbatas atau tidak terbatas. Populasi dalam penelitian ini terdiri dari populasi wilayah dan populasi penduduk. Populasi wilayahnya adalah desa yang terdapat petani mendong yaitu Desa Gembor Kecamatan Pagaden Kabupaten Subang. Sedangkan populasi penduduknya : Desa Padamulya, Kecamatan Cipunagara : Desa Manyingsal, Kecamatan Cipunagara : Desa Cisaga, Kecamatan Cibogo : Desa Gunung Sembung, Kecamatan Pagaden

adalah Seluruh petani yang membudidayakan tanaman mendong di Desa Gembor Kecamatan Pagaden Kabupaten Subang.

b. Sampel Menurut Tika, Pabundu (1996:32) sampel adalah sebagian dari objek atai individu-individu yang mewakili suatu populasi. Sampel dalam penelitian ini adalah sampel wilayah dan sampel penduduk. Sampel wilayahnya adalah daerah dimana terdapat petani mendong yang mengalami perubahan orientasi mata pencaharian, yaitu daerah Gunung Sari, Desa Gembor Kecamatan Pagaden Kabupaten Subang. Sedangkan sampel penduduk adalah petani mendong yang mengalami perubahan orientasi mata pencaharian di Desa Gembor Kecamatan Pagaden Kabupaten Subang. Berdasarkan rumus Dixon dan B. Leach dalam Tika (2005) untuk mengetahui besarnya sampel yang diambil dan dapat mewakili suatu populasi, maka digunakan rumus berikut ini : 1) Menghitung persentase karakteristik p= =
 

x 100%

x 100%

= 32,7 % = 33 % 2) Menentukan variabilitas

Keterangan : p = persentase karakteristik (%) V = variabilitas

V=

= = 47,02 3) Menentukan jumlah sampel n= Keterangan : n = jumlah sampel Z = confidence level V = variabilitas
   

n= =

 

= 85,00 4) Menentukan jumlah sampel yang telah dikoreksi n' = Keterangan : n' = jumlah sampel yang dikoreksi n = jumlah sampel N = jumlah populasi n' = =
 

= 84,15

Penentuan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode simple random sampling yaitu cara mengambil sampel dengan

memberi kesempatan yang sama untuk dipilih bagi setiap individu atau unit dalam keseluruhan populasi. (Tika, 2005). Jumlah sampel di Desa Gembor Jumlah Petani Mendong No Nama Dusun yang berubah mata pencaharian (Orang) 1. Gunung sari 150 85 Sampel (Orang)

Dengan demikian, jumlah petani mendong yang akan dijasikan sampel pada penelitian adalah 85 orang. 3. Instrumen Penelitian a. Bahan dan Alat 1. Bahan 1.1 1.2 2. Alat 2.1 Alat ukur lapangan, yaitu Global Position Sistem (GPS), alat tulis dan kamera digital 2.2 2.3 Pedoman wawancara Pedoman observasi Peta rupabumi 25.000 lembar 1209-343 Subang. Peta rupabumi 25.000 lembar 1209-621 Pagaden.

b. Data yang dikumpulkan 1. Data Primer Data yang diperoleh secara langsung dari petani responden dengan cara observasi dan wawancara. Pengumpulan data primer, diperoleh dari wawancara dan observasi. Teknik wawancara menggunakan kuesioner yang akan disiapkan sebelumnya. Kuesioner tersebut berupa daftar yang berisikan rangkaian pertanyaan mengenai masalah yang diteliti. Sedangkan observasi berupa pengamatan yang dilakukan secara langsung

oleh peneliti berdasarkan pedoman-pedoman obervasi yang telah disiapkan sebelumnya. 2. Data Sekunder Pengumpulan data sekunder, diperoleh dari instansi yang terkait dalam penelitian yaitu Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Subang, Kantor Kecamatan, meliputi data Monografi.

4. Teknik Pengumpulan Data dan Analisis Data a. Metode Penelitian Penelitian deskriptif (descriptive research) yaitu metode yang

menggambarkan dan meringkaskan berbagai kondisi, situasi atau berbagai variabel. Data deskriptif pada umumnya dikumpulkan melalui metode pengumpulan data, yaitu wawancara atau metode observasi. Penelitian deskriptif bertujuan menggambarkan secara sistematik dan akurat fakta dan karakteristik populasi atau bidang tertentu. ( Wirartha, Made 2006 : 154). Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran, atau lukisan secara sistematis faktual dan akurat mengenai faktafakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang di selidiki. b. Teknik Pengumpulan Data Data yang diperlukan dalam penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan teknik sebagai berikut :
1. Observasi

Menurut Tika (2005:44) observasi adalah cara dan teknik pengumpulan data dengan melakukan pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala atau fenomena yang ada pada objek penelitian. Obervasi yang akan dilakukan pada penelitian ini yaitu melakukan pengamatan secara langsung menganai situasi dan kondisi daerah peneletian untuk mendapatakan gambaran yang lebih jelas mengenai masalah penelitian.

2. Wawancara

Menurut Nasution dalam Tika (1996:75) wawancara (interview) adalah suatu bentuk komunikasi verbal. Sedangkan menurut Tika (2005:49) wawancara merupakan metode pengumpulan data dengan cara tanya jawab yang dikerjakan dengan sistematis dan berlandaskan pada tujuan penelitian. Wawancara yang akan dilakukan pada penelitian bertujuan untuk mengetahui latar belakang masalah mengenai faktorfaktor yang menyebabkan budidaya mendong banyak ditinggalkan oleh masyarakat dengan mengajukan pertanyaan secara langsung kepada responden dengan menggunakan kuisioner yang telah disiapkan.
3. Angket

Menurut Nawawi dalam Tika (2005:54) angket (kuisioner) adalah usaha mengumpulkan informasi dengan menyampaikan sejumlah pertanyaan tertulis untuk dijawab secara tertulis oleh responden. 5. Studi Dokumentasi Studi dokumentasi ialah teknik pengumpulan data dengan mempelajari catatan-catatan mengenai data pribadi responden (Fathoni, 2006 :112).
4. Studi Literatur

Sumber literatur berupa buku, jurnal atau media cetak sebagai teknik kegiatan pengumpulan data, konsep ataupun teori yang berkaitan dengan masalah penelitian.

a. Teknik Analisis 1. Chi Kuadrat ( ) Untuk mengkaji pengaruh perubahan orientasi mata pencaharian petani mendong terhadap eksistensi kerajinan tikar di Kecamatan Pagaden, maka digunakan analisis Chi Kuadrat. Rumus yang digunakan untuk mencari Chi Kuadrat ( ) menurut Tika (2005:91) sebagai berikut:

= Keterangan : = chi kuadrat fo = frekuensi yang diobservasi fh = frekuensi yang diharapkan a. Menentukan derajat kebebasan db = ( b-1 ) ( k-1) Keterangan : db = derahat kebebasan k = kolom b = baris b. Menentukan nilai Chi Kuadrat ( ) dari daftar menentukan ketergantungan untuk melihat berapa besar ketergantungan  Jika < tabel, maka kedua faktor tersebut independen, artinya tidak ada hubungan antara kedua faktor tersebut.  Jika > tabel, maka kedua faktor tersebut independen, artinya terdapat hubungan antara kedua faktor tersebut.

c. Pengujian hipotesis dengan cara membandingkan antara C dan Cmaks


C= Cmaks =

Keterangan :

C = kontigensi n = banyaknya sampel = Chi Kuadrat d. Menentukan koefisien kontingesi menggunakan kriteria yang dikemukakan oleh Nugraha (1985: 72) sebagai berikut : No. 1 2 3 4 5 6 C=0 0 C< 0,20 Cmax 0,20 Cmax C< 0,40 Cmax 0,40 Cmax C < 0,60 Cmax 0,60 Cmax C < 0,80 Cmax 0,80 Cmax C < Cmax Nilai Kriteria Tidak mempunyai korelasi Korelasi rendah sekali Korelasi rendah Korelasi sedang Korelasi tinggi Korelasi tinggi sekali

2. Analisis data secara deskriptif Untuk mengetahui pengaruh perubahan orientasi mata pencaharian petani mendong maka digunakan analisis deskriptif. Analisis secara deskriptif penting untuk menjelaskan data yang bersifat kualitatif. Dalam bidang Geografi Sosial, analisis data secara deskriptif diperlukan untuk menjelaskan fenomena-fenomena yang bersifat sosial (Tika, 2005:116).

J. SISTEMATIKA PENULISAN 1. Judul 2. Latar Belakang Masalah 3. Rumusan Masalah 4. Tujuan Penelitian

5. Manfaat Penelitian 6. Definisi Operasional 7. Tinjauan Pustaka 8. Metodologi Penelitian 9. Sitematika Penulisan 10. Agenda Penelitian 11. Kerangka Berfikir 12. Daftar Pusataka

K. AGENDA PENELITIAN Waktu Penelitian (4 Bulan) Bentuk Kegiatan Januari Februari 3 4 Maret 1 2 3 4 1 April 2 3 4

1 2 3 4 1 2 Persiapan Proses Bimbingan Penyusunan Instrumen Perbanyakan Pelaksanaan Survey Data Fisik Wawancara Pengolahan Data Analisis Data

Penyimpulan Hasil Penyusunan Laporan Pengetikan Penyerahan

L. KERANGKA BERFIKIR

Petani Mendong

Berubah Mata Pencaharian

Luas kepemilikan lahan

Tingkat pendapatan

Produktivitas mendong

Persaingan antar cabang usahatani

Eksistensi Kerajinan Tikar Eksis

Tidak eksis

M. DAFTAR PUSTAKA Aldan. 2011. Tikar Mendong Produk Desa Jati Subang Dipasarkan Sampai Pantura[online].Tersedia:http://belajarsubang.blogspot.com/2011/03/potensi/ tikar-mendong-produk-desa-jati-subang.html [30 Desember 2011]

Bab V. Pertanian Subang Dalam Angka Tahun 2010

Dewandini,Sri K.R. 2010.

Motivasi Petani dalam Budidaya Tanaman Mendong

(Fimbristylis Globulosa) Di Kecamatan Minggir Kabupaten Sleman. Skripsi : Jurusan Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret. Surakarta.

Hafsah, M. J. 2008. Paradigma Pembangunan Pertanian Berorientasi Pertanian Modern [online]. Tersedia: http://www.sinartani.com/nusantara/paradigma[30

pembangunan-pertanian-berorientasi-pertanian-modern-1252296123.htm. Desember 2011 ]

Hasan, Bachtiar. 2003. Manajeman Industri. Bandung : Ramadhan Citra Grafika

Laporan Manografi Kecamatan Pagaden Kabupaten Subang 2010

Listyani, D. Y. 2008. Petani Minggir: Mengapa bertahan ke mendong? [online].Tersedia:http://pertahanan.slemankab.go.id/?mod=detail_artikel&id=1 3petani [28 Desember 2011]

Mubyarto . 1972. Pengantar Ekonomi Pertanian. Jakarta : PT. Pertja

Mulyawan, Rizky. 2006. Perubahan Orientasi Mata Pencaharian Pada Masyarakat Desa. Skripsi : Jurusan Pendidikan Geografi UPI

Pikiran Rakyat. 26 Desember 2011. Mendong Jangan Jadi Kenangan.

Soetrisno, Loekman. 2002. Paradigma Baru Pembangunan Pertanian. Yogyakarta : KANISIUS

Tiara, Tania. 2011. Alih Profesi Petani Nanas di Desa Mandalamukti Kecamatan Cikalongwetan Kabupaten Bandung Barat. Skripsi : Jurusan Pendidikan Geografi UPI

Tika, Moh. Pabundu. 2005. Metode Penelitian Geografi. Jakarta : Grafika Offset

Tjakrawiralaksana, Abbas dan Cuhaya Muhamad H. 1983. Timur: CV. Serajaya

Usahatani. Jakarta-