Anda di halaman 1dari 7

PENGELOLAAN LIMBAH CAIR INDUSTRI TEKSTIL (Suparmin; Lektor pada Jurusan Kesling Poltekkes Semarang) Email: pakparmin@yahoo.

com Mobile: 085878651430; 081291335270 A. Latar belakang Limbah tekstil merupakan limbah yang dihasilkan dalam proses pengkanjian, proses penghilangan kanji, penggelantangan, pemasakan, merserisasi, perwarnaan, pencetakan, dan proses penyempurnaan. Proses penyempurnaan kapas menghasilkan limbah yang lebih banyak dan lebih kuat dari pada limbah dari proses penyempurnaan bahan sintesis. Proses pembuatan tekstil, serat buatan, dan serat alam (kapas) diubah menjadi barang jadi tekstil dengan menggunakan serangkaian proses. Serat kapas dibersihkan sebelum disatukan menjadi benang. Pemintalan mengubah serat menjadi benang. Sebelum proses penenunan atau perajutan benang buatan maupun kapas, dikanji agar serat menjadi kuat dan kaku. Zat kanji yang lazim digunakan adalah pati, perekat gelatin, getah, polyvinyl alcohol (PVA), dan karboksimetil selulosa (CMC). Sesudah penenunan, serat dihilangkan kanjinya dengan asam (untuk pati) atau hanya air (untuk PVA / CMC). Penghilangan kanji pada kapas dapat memakai enzim. Sering pada waktu yang sama dengan pengkanjian, digunakan pengikisan (pemasakan) dengan larutan alkali panas untuk menghilangkan kotoran dari kain kapas. Kapas juga dapat dimerserisasi dengan perendaman dalam Natrium hidroksida dilanjutkan pembilasan dengan air atau asam untuk meningkatkan kekuatannya. Penggelantangan dengan Natrium hipoklorit, Peroksida atau asam perasetat dan asam borat akan memutihkan kain yang dipersiapkan unuk pewarnaan. Kapas memerlukan penggelantangan yang lebih ekstensif dari pada kain buatan (seperti pendidihan dengan soda abu dan Peroksida). Pewarna serat, benang, dan kain dapat dilakukan dalam tong atau dengan memakai proses kontinyu, tetapi kebanyakan pewarnaan tekstil sesudah ditenun. Di Indonesia, denim biru (kapas) dicat dengan zat warna. Kain

dibilas diantara kegiatan pemberian warna. Pencetakan memberikan warna dengan pola tertentu pada kain di atas rol / kassa. Sumber limbah, larutan penghilang kanji biasanya langsung dibuang dan ini mengandung zat kimia pengkanji dan penghilang kanji pati, PVA, CMC, enzim, asam. Penghilangan kanji biasanya mebeikan BOD paling banyak dibanding dengan proses-proses lain. Pemasakan dan merserisasi kapas serta pemucatan semua kain adalah sumber limbah cair yang penting yang menghasilkan asam, basa, COD, BOD, padatan tersuspensi (SS), dan zat-zat kimia. Proses-proses tersebut menghasilkan limbah cair dengan volume besar. PH yang sangat bervariasi dan beban pencemaran yang tergantung pada prosesnya, dan zat kimia yang digunakan. Pewarna dan pembilasan menghasilkan air limbah yang berwarna dengan COD tinggi dan bahanbahan lain dari za warna yang dipakai, seperti fenol dan logam. Di Indonesia, zat warna berdasar logam (krom) banyak dipakai. Proses pencetakan menghasilkan limbah yang lebih sedikit dari pada pewarnaan. Gabungan air limbah pabrik tekstil di Indonesia rata-rata mengandung 750 mg/l padatan tersuspensi dan 500 mg/l BOD. Perbandingan COD : BOD adalah dalam kisaran 1,5 : 1 sampai 3 : 1. Pabrik serat alam menghasilkan beban yang lebih besar. Beban tiap ton produk lebih besar untuk operasi kecil dibandingkan dengan operasi modern yang besar, berkisar dari 25 kg BOD/ton produk sampai 100 kg BOD/ton. Mengingat berbahayanya zat-zat yang terkandung dalam limbah yang dihasilkan dari pabrik tekstil, maka diperlukan pengelolaan limbah tekstil yang sesuai dengan prosedur agar limbah tersebut ketika dibuang ke lingkungan tidak menimbulkan masalah berupa pencemaran lingkungan pada umumnya dan pencemaran air pada khususnya.

B.

Karakteristik Limbah Pabrik Tekstil Karakteristik utama dari limbah industri tekstil adalah tingginya kandungan zat warna sintetik, yang apabila dibuang ke lingkungan tentunya akan membahayakan ekosistem parairan. Zat warna ini memiliki struktur kimia yang berupa gugus kromofor dan terbuat dari beraneka bahan sintetis, yang membuatnya resisten terhadap degradasi saat nantinya sudah memasuki perairan. Meningkatnya kekeruhan air karena adanya polusi zat warna, nantinya akan menghalangi masuknya cahaya matahari ke dasar perairan dan mengganggu keseimbangan proses fotosintesis, ditambah lagi adanya efek mutagenik dan karsinogen dari zat warna tersebut, membuatnya menjadi masalah yang serius. Beberapa zat warna tekstil dikenal mengandung Cr, seperti senyawa Na2Cr2O7 atau senyawa Na2Cr3O7. industri batik menggunakan senyawa Naftol yang sangat berbahaya. Senyawa lain dalam kategori B3 adalah H2O2 yang sangat reaktif dan HClO yang bersifat toksik. Adapun jenis-jenis limbah yang dihasilkan dari limbah pabrik tekstil, antara lain : 1. Logam berat terutama As, Cd, Cr, Pb, Cu, dan Zn. 2. dan finishing). 3. Pigmen, zat warna dan pelarut organic. 4. Tensioaktive (Surfactant). Hydrocarbon terhalogenasi (dari proses dressing

C.

Tahapan dan Unit Proses Pengelolaan Limbah Pabrik Tekstil 1. Teknik Pengolahan Limbah Pabrik Tekstil Menurut Soeparman dan Suparmin (2002, h. 130), teknik pengolahan limbah pabrik / industri tekstil yang dianjurkan adalah sebagai berikut : Netralisasi Ekualisasi Flokulasi kimia penjernihan (tawas, garam feri, poli-elektrolit) Pengolahan biologik (laguna aerobic/ parit oksidasi atau untuk lumpur aktif / tricling filter); atau Karbon aktif, saringan pasir Penukar ion Penjernihan kimiawi (setelah netralisasi, ekualisasi, dan flokulasi) 2. Penanganan Limbah Pabrik Tekstil a.Langkah pertama untuk memperkecil beban pencemaran dari operasi tekstil adalah program pengelolaan air yang efektif dalam pabrik, menggunakan : 1) Pengukur dan pengatur laju alir 2) Pengendalian permukaan cairan untuk mengurangi tumpahan. 3) Pemeliharaan alat dan pengendalian kebocoran. 4) Pengurangan pemakaian air masing-masing proses.

5) Otomatisasi proses atau pengendalian proses operasi secara cermat. 6) Penggunaan kembali air limbah proses yang satu untuk penambahan (make-up) dalam proses lain, misalnya limbah merserisasi untuk membuat penangas pemasakan atau penggelantangan). 7) Proses kontinyu lebih baik dari proses batch (tidak kontinyu). 8) Pembilasan dengan aliran berlawanan. b. Penggantian dan pengurangan pemakaian zat kimia dalam proses harus diperiksa pula : 1) Penggantian kanji dengan kanji buatan untuk mengurangi BOD. 2) Penggelantangan dengan peroksida dan menghasilkan limbah yang kadarnya kurang kuat dari pada penggelantangan pemasakan hipoklorit. 3) Penggantian zat-zat pendispersi, pengemulsi, dan perata yang menghasilkan BOD tinggi dengan yang BOD-nya lebih rendah. c.Zat pewarna yang sedang dipakai akan menentukan sifat dan kadar limbah proses pewarnaan. Pewarna dengan dasar pelarut harus diganti pewarna dengan dasar air untuk mengurangi banyaknya fenol dalam limbah. Bila digunakan pewarna yang mengandung logam seperti krom, mungkin diperlukan reduksi kimia dan pengendapan dalam pengolahan limbahnya. Proses penghilangan logam menghasilkan lumpur yang sukar diolah dan sukar dibuang. Pewarnaan dengan permukaan kain yang terbuka dapat mengurangi jumlah kehilangan pewarna yang tidak berarti. d. Pengolahan limbah cair dilakukan apabila limbah pabrik mengandung zat warna, maka aliran air proses pencelupan harus dipisahkan dan diolah sendiri. Limbah operasi pencelupan dapat diolah dengan efektif untuk menghilangkan logam dan warna, jika menggunakana flokulasi kimia, koagulasi dan penjernihan (dengan tawas, garam feri, atau poli-elekrolit). Limbah dari pengolahan kimia

dapat dicampur dengan semua aliran limbah yang lain untuk dilanjutkan ke pengolahan biologi. Jika pabrik menggunakan pewarnaan secara terbatas dan menggunakan pewarna tanpa krom atau logam lain, maka gabungan limbah sering diolah dengan pengolahan biologi saja, sesudah penetralan dan ekualisasi. Cara-cara biologi yang telah terbukti efektif ialah laguna aerob, parit oksidasi dan lumpur aktif. Sistem dengan laju alir rendah dan penggunaan energi yang rendah lebih disukai karena biaya operasi dan pemeliharaan lebih rendah. Kolom percik adalah cara yang murah akan tetapi efisiensi untuk menghilangkan BOD dan COD sangat rendah, diperlukan lagi pengolahan kimia atau pengolahan fisik untuk memperbaiki daya kerjanya. Untuk memperoleh BOD, COD, padatan tersuspensi, warna dan parameter lain dengan kadar yang sangat rendah, telah digunakan pengolahan yang lebih unggul yaitu dengan menggunakan karbon aktif, saringan pasir, penukar ion, dan penjernihan kimia. 3. Penghilangan Warna Limbah Teksil Bahan yang digunakan dalam proses pnghilangan warna limbah tekstil adalah Jamur Lapuk Putih (white-ror fungi), dari jenis Basidiomycetes. Jamur tersebut dinamai Jamur Lapuk Putih karena mampu mendegradasi substrat kayu yang berwarna kecoklatan (lignin) menjadi materi selulosa yang berwarna putih. Jamur Lapuk Putih memproduksi enzim-enzim pendegradasi lignin yang non-spesifik, yang dapat mendegradasi berbagai jenis pengotor organic, termasuk zat warna tekstil. Enzim-enzim yang diproduksi oleh jamur tersebut mengkatalis penguraian zat warna tekstil menggunakan mekanisme pembentukan radikal bebas. Molekul zat warna dalam limbah dapat direduksi secara efektif menjadi komponen yang tidak berbahaya.

DAFTAR PUSTAKA Soeparman, Suparmin, 2002, Pembuangan Tinja dan Limbah Cair, Jakarta: EGC. Handy Christian, 29 November 2007, Penggunaan Jamur Lapuk Putih dalam Penghilangan Warna Limbah Tekstil, www.google.co.id, diakses pada hari Selasa tanggal 22 April 2008 pukul 18.30 WIB. Achsin Utami, 2007, Industri-Industri Penghasil Limbah B3, www.google.co.id, diakses pada hari selasa tanggal 22 April 2008 pukul 19.00 WIB.