Anda di halaman 1dari 12

I.

Tes Berbisik
NAMA Christina Nurhayati P Ario Bimo Agnes Devi Linda Susanti Cynthia Iis Sakti TELINGA KANAN 6/6 6/6 6/6 6/6 6/6 6/6 6/6 6/6 6/6 TELINGA KIRI 6/6 6/6 6/6 6/6 6/6 6/6 6/6 6/6 6/6

Pemeriksaan semi kuantitatif Menentukan derajat ketulian secara kasar Ruangan cukup tenang Panjang minimal 6 meter Nilai normal : 5/6-6/6 II. Anamnesis Vertigo
THT Keluhan utama RPS y Pusing berputar sejak kapan y Apakah timbul tibaTiba-tiba Tiba-tiba Tiba-tiba Tiba-tiba Sudah lama 1 minggu SMRS MATA SARAF RMS SISTEMIK Pusing berputar sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit

tiba/sudah lama y Serangan terusmenerus atau hilang timbul y Apakah bertambah berat secara bertahap y Apakah ada rasa ingin jatuh y Apakah pusing timbul tiba-tiba pada posisi kepala tertentu y Apakah pusing hilang bila berbaring y Apakah disertai rasa penuh di telinga y Apakah telinga berdenging y Apakah pendengarannya menurun y Apakah disertai mual muntah y Apakah ada gangguan penglihatan y Apakah dengan bantuan kacamata menjadi lebih baik y Apakah daerah tengkuk sering terkena AC Tidak Tidak Tidak Ya Tidak Tidak Ya Tidak Tidak Tidak Tidak Ya Tidak Tidak Tidak Ya Tidak Ya Tidak Ya Ya Tidak Tidak Tidak Ya Ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Ada Ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Ada Ya Ya Tidak Ya Tidak Ya Lama-lama menghilang Ada Ada Ada Ada Ada Tidak Ya Tidak Mendadak Hilang timbul Terus menerus Hilang timbul Terus menerus Hilang timbul

y Apakah saat pagi hari sering membuka jendela mobil yang kemudian timbul pusing

Tidak

Tidak

Tidak

Ya

Tidak

RPD y Pernah seperti ini sebelumnya y Ada riwayat kencing manis y Ada riwayat tekanan darah tinggi y Pernah mengalami kecelakaan yang mengenai kepala Ya / tidak Tidak Ya / tidak Ya / tidak Tidak Tidak Tidak Ya Tidak Ya/tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Ya Pernah Pernah Pernah Pernah Pernah

RPK y Keluarga ada yang menderita kencing manis atau tekanan darah tinggi y Apakah ada anggota keluarga yang mengalami sakit seperti ini y Apakah keluarga ada yang pernah menderita kanker Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Ya Tidak Ya Tidak Tidak Ya Tidak Ya

III.

Anamnesis Tinitus
TINITUS JAWABAN

1. Onset Sejak kapan Timbul tiba-tiba / sudah lama Apa bertambah berat secara bertahap 2. lokasi Di satu telinga atau keduanya Bila kedua telinga: pertama di telinga mana yang terkena 3. Suara Suara berdenging atau berdengung Rasanya suara di telinga atau di kepala 4. Keluhan tambahan Apakah di sertai gangguan pendengaran Apakah disertai pusing berputar Tidak Ya Berdenging Telinga Di kedua telinga Pertama telinga kiri 2 minggu SMRS Timbul tiba-tiba Lama kelamaan menghilang

IV.

Perbedaan Tinitus Objektif dan Subjektif


TINITUS OBJEKTIF TINITUS SUBJEKTIF

Suara dapat di dengar oleh pemeriksa Bersifat vibratorik Berasal dari transmisi vibrasi sistem muskuler atau kardiovaskuler di sekitar telinga

Suara hanya dapat di dengar oleh pasien sendiri Bersifat non vibratorik Di sebabkan oleh proses iritatif atau perubahan degeneratif traktus audiorius

Umumnya karena kelainan vaskuler, sehingga tinitus berdenyut mengikuti denyut jantung Di jumpai pada pasien malformasi arteriovena, tumor glomus jugular dan aneurisma Di jumpai sebagai suara klik (clicking sound) Dapat di sebabkan oleh Tuba Eustachius paten, penyakit sendi temporomandibular, kontraksi spontan dari otot telinga tengah atau mioklonus palatal

Bervariasi dalam intensitas dan frekuensi kejadiannya Berat ringan tinitus bervariasi dari waktu ke waktu, dapat juga di hubungkan dengan ambang stress penderita.

V.

Pemeriksaan y Posisi dan variasi gerak mata o Dimulai dengan memandang target tunggal dan amati gangguan posisi mata
secara kasar pada aksis visual

o Pasien mengikuti target kecil pada 9 variasi gerak mata o Perhatikan berbagai gangguan gerakan mata o Implementasi:  Gangguan gerak mata pada posisi vertical (konkomitan) => deviasi skew y Lesi serebelum, batang otak, trauma pada organ otolit di telinga
dalam

 Gerakan mata secara umum yang terbatas => miastenia gravis  Gangguan gerakan mata pada lirikan vertical yang disadari y Gangguan otak tengah, infark otak, perdarahan, hidrosefalus dan
ensefalitis

y Gerakan mata sakadik o Pasien melakukan fiksasi terhadap 2 target o Target pertama (hidung pemeriksa, jari atau pulpen) ditempatkan sedemikian
hingga pasien dapat melakukan fiksasi dengan mata pada posisi primer.

o Target kedua (jari atau pulpen) ditempatkan untuk menghasilkan 15 derajat


sakadik

o Sakadik dapat diperiksa pada pandangan datar horizontal dan vertical o Implementasi  Menilai kecepatan, ketepatan dan waktu inisiasi dari sakade.  Perlambatan sakade => lesi pada batang otak yang disebabkan oleh
multipel sklerosis

 Sakadik yang tidak akurat => lesi serebelum y Gerakan mata kejar halus o Pasien diminta untuk mengikuti gerakan target kecil seperti jari atau ujung pensil
tanpa melakukan gerakan kepala

o Posisi target minimal 3 kaki di depan mata pasien dan menggerakkan target
dengan kecepatan pelan dan kostan.

o Implementasi:  Gangguan pada gerak kejar mata dengan disebabkan oleh obat-obat sedatif
yang menggangu fungsi batang otak dan serebelum

 Gangguan kejar mata horizontal yang asimetris => lesi system saraf pusat y Head trust test o Pasien menundukkan kepala 300, menoleh ke lateral 15-300, mata tetap focus o Dengan cepat kepala digerakkan kembali ke pusat, mata tetap focus o Sakadik menurunkan fiksasi visual menurunkan fungsi kanalis semi sirkularis
ipsilateral (sisi lesi)

y Head shaking nystagmus test o Kepala pasien diputar secara aktif atau pasif sejajar dengan lapangan horizontal
dengan kecepatan tinggi selama 20 detik

o Kemudian kepala dihentikan mendadak o Gerak mata dilihat dengan kacamata Frenzel o Implementasi  Normal nistagmus (-)

 Gangguan fungsi vestibular unilateral berat nistagmus beruntun dengan


fase lambat menuju sisi yang sakit

 Lesi vestibular sentral nistagmus perverted


y Tes ketajaman mata
o o o

Pasien diminta untuk membaca huruf pada snellen eye chart Tandai pada garis kemampuan membaca maksimal Goyangkan kepala ke kanan dan ke kiri pada kecepatan 2 Hz (seperti tes headshake) sambil pasien diminta membaca chart tadi

o o o y

Normal ketajaman mata menurun 1-2 garis pada snellen chart Kerusakan fungsi vestibuler bilateral berat kehilangan ketajaman 5-6 garis Kerusakan unilateral kehilangan ketajaman 3-4 garis

Tesposisi Dix-Hallpike
o

Salah satu pemeriksaan yang paling bermanfaat pada pasien dengan keluhan pusing

o o

Tes ini dibuat untuk nistagmus posisional Saat posisi kepala dipindahkan kanalis semisirkularis bergerak cairan di dalam labirin mengalir dalam kanal sesuai arah pergerakan defleksi kupula dan aktivasi jaras vestibulookuler

Cara pemeriksaan


Pasien duduk di meja pemeriksaan kepala menoleh 300 menghadap pemeriksa

Pegang kepala pasien dan intruksikan pasien untuk menatap ke depan dengan mata terbuka Secara cepat jatuhkan badan pasien ke belakang sampai posisi kepala 300 melebihi meja pemeriksaan

    o y

Tahan selama 30 kembalikan secara cepat ke posisi semula Evaluasi nistagmus selama maneuver Tanyakan mengenai vertigo yang mungkin dirasakan selama maneuver Ulangi prosedur yang sama pada posisi yang berlawanan

Tes Dix-Hallpike dinilai positif ketika posisi telinga di bawah muncul nistagmu

TesKalori

o o o

Pastikan tidak ada perforasi membrana timpani dan bersih dari serumen Dipakai air dingin dan panas dengan suhu 300dan 440 C Volume yang dialirkan ke dalam liang telinga masing-masing 250 ml dalam waktu 40 detik

o o

Dicatat lama nistagmus Pada tiap-tiap selesai pemeriksaan pasien diistirahatkan selama 5 menit untuk menghilangkan pusingnya

Hasil tes kalori dihitung dengan menggunakan rumus:


  

SensitivitasKiri - Kanan : (a+c) (b+d) = <40 detik <40 detik kedua fungsi vestibuler dalam keadaan seimbang >dari 40 detik yang mempunyai waktu nistagmus lebih kecil mengalami paresis kanal

VI.

Labirinitis

Pendahuluan Labirinitis pada dasarnya di kenal dua macam dan dengan gejala yang berbeda, labirinitis yang mengenai seluruh bagian labirin disebut dengan labirinitis umum ( general ), dengan gejala vertigo berat dan tuli saraf berat, kemudian yang mengenai hanya sebagian atau terbatas disebut labirinitis terbatas ( labirinitis sirkumskripta ) menyebabkan terjadinya vertigo saja atau tuli saraf saja.

ETIOLOGI Secara etiologi labirinitis terjadi karena penyebaran infeksi ke ruang perilimfa. Terdapat dua bentuk labirinitis, yaitu labirinitis serosa dan labirinitis supuratif. y Labirinitis serosa dapat berbentuk labirinitis serosa difus dan labirinitis serosa sirkumskripta. y Labirinitis supuratif dibagi dalam labirinitis supuratif akut difus dan labirinitis supuratif kronik difus.

Pada labirinitis serosa toksin menyebabkan disfungsi labirin tanpa invasi sel radang, sedangkan pada labirin supuratif dengan invasi sel radang ke labirin, sehingga terjadi kerusakan yan ireversibel, seperti fibrosa dan osifikasi. Pada kedua jenis labirinitis tersebut operasi harus segera dilakukan untuk menghilangkan infeksi dari telinga tengah. Kadang kadang diperlukan juga drenase nanah dari labirin untuk mencegah terjadinya meningitis. Pemberian antibiotika yang adekuat terutama ditujukan kepada pengobatan otitis media kronik.

Labirinitis serosa difus Labirinitis serosa difus seringkali terjadi sekunder dari labirinitis sirkumskripta atau dapa terjadi primer pada otitis media akut. Masuknya toksin atau bakteri melalui tingkap bulat, tinkap lonjong, atau melalui erosi tulang labirin. Infeksi tersebut mencapai end osteum melalui saluran darah. Diperkirakan penyebab labirinitis serosa yang paling sering adalah absorbsi produk bakteri di telinga dan mastoid ke dalam labirin. Bentuk ringan labirinitis serosa selalu terjadi pada operasi telinga dalam, misalnya pada operasi fenestrasi, terjadi singkat dan biasanya tidak menyebabkan gangguan pendengaran. Kelainan patologiknya seperti inflamasi non purulen labirin. Pemeriksaan histologik pada potongan labirin menunjukkan infiltrasi seluler awal dengan eksudat serosa atau serofibrin. Gejala dan tanda serangan akut labirinitis serosa difus adalah vertigo spontan dan nistagmus rotatoar, biasanya ke arah telinga yang sakit. Kadang-kadang disertai mual dan muntah, ataksia, dan tuli saraf. Labirinitis serosa difus yang terjadi sekunder dari labirinitis sirkumskripta mempunyai gejala yang serupa tetapi lebih ringan, akibat telah terjadi kompensasi. Tes fistula akan positif kecuali bila fistulanya tertutup jaringan. Ada riwayat gejala labirinits sebelumnya, suhu badan normal atau mendekati normal. Pada labirinitis serosa, ketulian bersifat temporer, biasanya tidak berat, sedangkan pada labirinitis supuratif terjadi tuli saraf total permanen. Bila pada labirinitis serosa ketulian menjadi berat atau total, maka mungkin telah terjadi perubahan menjadi labirinitis supuratif. Bila pendengaran masih tersisisa sakit sedikit di salah satu sisi, berarti tidak terjadi labirinitis supuratif difus. Ketulian pada labirinitis serosa difus harus dibedakan dengan ketulian pada penyakit noninflamasi labirin dan saraf ke VIII.

Prognosis labirinitis serosa baik, dalam arti menyangkut kehidupan dan kembalinya fungsi labirin secara lengkap. Tetapi tuli saraf temporer yang berat dapat menjadi tuli saraf yang permanen bila tidak diobati dengan baik. Pengobatan pada stadium akut yaitu pasien harus tirah baring total, diberikan sedatif ringan. Pemberian antibiotika yang tepat dan dosis yang adekuat. Drenase telinga tengah harus dipertahankan . pembedahan merupakan indikasi kontra. Pada stadium lanjut dari OMA, mungkin diperlukan mastoidektomi sederhana.

Labirinitis supuratif akut difus Labirinitis supuratif akut difus , ditandai dengan tuli total pada telinga yang sakit diikuti dengan vertigo yang berat, mual, muntah, ataksia , dan nistagmus spontan ke arah telinga yang sehat. Labirinitis supuratif akut difus dapat merupakan kelanjutan dari labirinitis serosa yang infeksinya masuk melalui tingkap lonjong atau tingkap bulat. Pada banyak kejadian, labirinitis ini terjadi sekunder dari otitis media akut maupun kronik atau mastoiditis.Pada beberapa kasus abses subdural atau meningitis, infeksi dapat menyebar ke dalam labirin dengan atau tanpa terkenanya telinga tengah, sehingga menjadi labirin supuratif. Kelainan patologik terdiri dari infiltrsi labirin oleh sel-sel leukosit polimorfonuklear dan destruksi struktur jaringan lunak.Sebagian dari tulang labirin nekrosis, dan terbentuk jaringan grnulasi yang dapat menutup bagian tulang yang nekrotik tersebut.Keadaan ini akan menyebabkan terbentuknya sekuestrum, paresis fasialis, dan penyebaran infeksi ke intrakranial. Mual, mumtah, vertigo dan ataksia dapat berat sekali bila awal dari perjalanan labirinitis supuratif tersebut cepat.Pada bentuk yang perkembangannya lebih lambat, gejala akan lebih ringan oleh karena kompensasi labirin yang sehat.Terdapat nistagmus horizontal rotator yang komponen cepatnya mengarah ke telinga yang sehat.Dalam beberapa jam pertama penyakit, sebelum seluruh fungsi labirin rusak, nistagmus dapat mengarah ke yelinga yang sakit.Jika fungsi koklea hancur, akan mengakibatkan tuli saraf total permanen.Suhu badan normal atau mendekati normal, bila terdapat kenaikan, mungkin disebabkan oleh lesi lain, bukan oleh labirintis. Selama fase akut, posisi pasien sangat khas.Pasien akan berbaring pada sisi yang sakit, jadi ke arah komponen lambat nistagmus.Posisi ini akan mengurangi perasaan vertigo.

Diagnosis ditegakkan dari riwayat penyakit, tanda dan gejala labirintis dengan hilangnya secara total dan permanen fungsi labirin.Pemeriksaan Rontgen telinga tengah, osmastoid dan osospetrosus mungkuin menggambarkan sejumlah kelainan yang tidak berhubungan dengan labirin. Bila dicurigai terdapat iritasi meningeal, maka harus dilakukan pemeriksaan cairan spinal. Labirinitis supuratif akut difus tanpa komplikasi, prognosis ad vitam baik.Dengan antibiotika mutahir komplikasi meningitis dapat sukses diobati,sehingga harus dicoba terapi medikamentosa dahulu sebelum tindakan operasi.Bila terjadi gejala dan tanda komplikasi intrakranial yang menetap, walaupun telah diberikan terapi adekuat dengan antibiotika,drenase labirin akan memberi prognosis lebih baik daripada bila dilakukan tindakan operasi radikal. Diperlukan tirah baring total selama fase akut, yang dapat berlangsung sampai 6 minggu.Perbaikan terjadi bertahap, mulai dari hari pertama.Sedatif ringan mungkin diperlukan pada periode awal. Fenobarbital 32 mg (1/2 grain) yang diberikan 3x sehari, biasanya cukup memuaskan. Dosis antibiotika yang adekuat harus diberikan selama suatu periode baik untuk mencegah komplikasi intrakranial, maupun untuk mengobati labirinitisnya.Harus dilakukan kultur untuk identifikasi kuman dan untuk tes sensiviyas kuman.Antibiotika penisilin harus segera diberikan sebelum hasil tes resistensi didapat, jika alergi terhadap penisilin dapat diberikan tetrasiklin, dengan dosis tinggi secara parenteral.Respons klinik lebih utama dari tes sensivitas kuman dalam menentukan jenis antibiotika.Dengan adanya sisa pendengaran walaupun sedikit, dan menjadi indikasi kontra operasi.Dranase, atau membuang sebagian labirin yang rusak, dilakukan bila terdapat komplikasi intrakranial dan tidak memberi respon terhadap pengobatan dengan antibiotika.

Labirinitis kronik (laten) difus Labirinitis supuratif stadium kronik atau laten dimulai, segera sesudah gejala vestibuler akut berkurang.Hal ini mulai dari 2-6 minggu sesudah awal periode akut. Patologi: kira-kira akhir minggu X setelah serangan akut telinga dalam hampir seluruhnya terisi oleh jaringan granulasi. Beberapa area infeksi tetap ada.Jaringan granulasi secara bertahap berubah menjadi jaringan ikat dengan permulaan kalsifikasi.Pembentukan tulang baru dapat mengisi penuh ruangan-ruangan labirin dalam 6 bulan sampai beberapa tahun pada 50% kasus.

Gejala: Terjadi tuli total di sisi yang sakit.Vertigo ringan nistagmus spontan biasanya ke arah telinga yang sehat dapat menetap sampai beberapa bulan atau sampai sisa labirin yang berfungsi dapat mengkompensasinya.Tes kalori tidak menimbulkan respons di sisi yang sakit dan tes fistulapun negatif, walaupun terdapat fistula. Pengobatan: Terapi lokal harus ditujukan ke setiap infeksi yang mungkin ada. Dranase bedah atau eksenterasi labirin tidak diindikasikan, kecuali suetu fokos di labirin atau daerah perilabirin telah menjalar atau dicurigai menyebar ke struktur intrakranial dan tidak memberi respons terhadap terapi antibiotika. Bila ada indikasi dapat dilakukan mastoidektomi. Bila dicurigai ada fokus infeksi di labirin atau di ospetrosus, dapat dilakukan drenase labirin dengan salah satu operasi labirin. Setiap skuestrum yang lepas harus dibuang, harus dihindari terjadinya trauma N VII. Bila saraf fasial lumpuh, maka harus dilakukan dengan kompresi saraf tersebut. Bila dilakukan operasi tulang temporal, maka harus diberikan antibiotika sebelum dan sesudah operasi.