Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH DEMENSIA

Oleh : Lilik Nurwahida 108103000041

Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Identitas Pasien Nama pasien Status perkawinan Nama istri Jmlah anak Jumlah cucu Alamat rumah Umur Jenis kelamin Nama Pengasuh Suku Pendidikan Perusahaan) Agama Masuk sejak Pasien rawat inap : Islam :2008 : Tn. R : menikah : Ny.M : 1 orang : 5 orang : Jl. Bengkel kota, Jakarta : 67 tahun : laki-laki : Ahmad zaenuddin : Jawa : APP (Akademi Pimpinan

Keluhan utama Pasien mengompol sejak 5 hari yang lalu

Riwayat Penyakit Sekarang Pasien mengeluh mengompol sejak 5 hari yang lalu. Dalam satu hari pasien berkemih 3 kali. Menurut pasien, air kencing keluar dengan lancar tidak menetes, banyak, dan tuntas.Pasien tidak sadar saat air kecingnya keluar, sehingga kencing di celananya. Pasien mengaku sesaat sebelum kencing

pasien tidak didahului batuk atau mengedan. Tidak nyeri saat berkemih. Tidak demam. Pasien juga mengeluhkan sering lupa .Semakin bertambahnya usia dirasa ingatannya semakin menurun Pasien juga agak sulit untuk berjalan. Jika berjalan harus pelan dan melangkah kecil. pasien merasa kaki kirinya kaku sehingga susah digerakkan.

Riwayat jatuh atau stroke sebelumnya disangkal. Belum pernah berobat.Pasien berdiri atau berjalan dengan penopang misalnya tembok.

Riwayat Penyakit Dahulu Pasien memiliki riwayat hioertensi sejak 1 tahun lalu. Pasien menyangkal adanya riwayat trauma kepala, stroke, DM, penyakit gondok , keracunan obat, dan tumor.

Riwayat Penyakit Keluarga Pasien tidak mengetahui penyakit yang ada pada keluarga pasien

Riwayat Kebiasaan Riwayat memiliki merokok 2 batang per hari sejak 30 tahun lalu. Pasien juga suka meminum kopi tetapi tidak pernah meminum alkohol. Selama di panti, pasien tidak pernah mengikuti pada kegiatan olahraga.

Riwayat Penggunaan Obat Riwayat mengkonsumsi Captopril namun tidak teratur

Riwayat Kemasyarakatan, kegemaran, dan Pasien sangat jarang mengikuti kegiatan di panti. Cenderung lebih sering di kamar atau menonton TV di depan kamarnya. Silaturahmi dengan keluarga dan kawan seusia terutama yang diluar panti jarang dilakukan. Pasien berbicara jika ditanya, itu pun seperlunya. Pasien mengatakan bahwa

kegemarannya adalah bermain bola, namun saat ini tidak bisa melakukannya.

Alloanamnesis Menurut kawan sekamar pasien : pasien pikun sejak lama, BAK

sembarangan, tidak mampu mandi sendiri.

Analisis Keuangan Pasien berkerja sebagai penjahit Dahulu pasien memiliki gaji 150 ribu perbulan dan itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup pasien. Pasien tidak menerima pensiun. Pasien juga tidak menerima bantuan atau tunjangan dalam bentuk uang.

Analisis Lingkungan Panti kamar pasien di lantai 1. Tidak ada karpet, lantai terbuat dari keramik yang agak licin karena terdapat air kencing. Penerangan ruang tidak cukup. Kamar mandi sedikit gelap. kloset duduk, Ruangan berbau pesing.

Asupan Gizi Karbohidrat Protein : nasi 1 piring 3 X/ hari, Mie 1x/minggu. : tempe 1x/hari , susu 1x/hari

ANAMNESIS SISTEM

Geriatric Deppression Scale (GDS) No. 1. 2. Pertanyaan Apakah anda sebenarnya puas dengan kehidupan anda? Apakan anda telah meninggalkan banyak kegiatan dan minat atau kesenangan anda? 3. 4. 5. 6. Apakah anda merasa kehidupan anda kosong? Apakah anda merasa bosan? Apakah anda mempunyai semangat yang baik setiap saat? Apakah anda takut bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi pada anda? 7. Apakah anda merasa bahagia untuk sebagian besar hidup anda? 8. 9. Apakah anda sering merasa tidak berdaya? Apakah anda lebih senang tinggal di rumah daripada pergi ke luar dan mengerjakan sesuatu yang baru? 10. Apakah anda merasa punya banyak masalah dengan daya ingat anda dibandingkan dengan kebanyakan orang? 11. Apakah anda pikir bahwa hidup anda sekarang ini menyenangkan? 12. 13. Apakah anda merasa kurang dihargai? Apakah anda merasa penuh semangat? ya Ya 1 0 Ya 0 tidak 0 Tidak Ya 0 1 Ya 0 Tidak Tidak Tidak Tidak 1 0 0 Jawaban Ya ya Skor 0 1

14.

Apakah anda merasa bahwa keadaan anda tidak ada harapan?

Tidak

15.

Apakah anda pikir bahwa orang lain lebih baik keadaannya dari anda?

Tidak 0 4

TOTAL

MMSE

No.

Pertanyaan

Nilai

Orientasi 1. 2. Sekarang ini (tahun), (musim), (bulan), (tanggal), (hari) Kita berada di mana? (negara), (propinsi), (kota), (RS), (lt) 2 4

Registrasi 3. Sebutkan 3 objek: tiap satu detik, pasien disuruh mengulangi nama ketiga objek tadi. Nilai 1 untuk tiap nama objek yang disebutkan benar. Ulangi lagi sampai pasien menyebut dengan benar: buku, pensil, kertas Atensi dan Kalkulasi 4. Pengurangan 100 dengan 7. Nilai 1 untuk setiap jawaban yang benar. Hentikan setelah 5 jawaban, atau eja secara terbalik kata B A G U S (nilai diberi pada huruf yang benar sebelum kesalahan). Mengenal Kembali 5. Bahasa 6. 7. 8. Pasien disuruh menyebut: pensil, buku Pasien disuruh mengulangi kata: Jika tidak, dan atau tapi Pasien disuruh melakukan perintah: Ambil kertas itu dengan tangan anda, lipatlah menjadi 2, dan letakkan di lantai Bahasa 9. Pasien disuruh membaca, kemudian melakukan perintah kalimat pejamkan mata 10. 11. TOTAL Pasien disuruh menulis dengan spontan (terlampir) Pasien disuruh menggambar bentuk (terlampir) 1 0 18 1 2 1 1 Pasien disuruh menyebut kembali 3 nama objek di atas tadi 2 1 3

AMT (uji Mental Singkat) No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Pertanyaan Umur .......... tahun Waktu / jam sekarang .......... .......... Alamat tempat tinggal .......... Tahun ini .......... Saat ini berada di mana .......... Mengenali orang lain di RS Tahun kemerdekaan RI .......... Nama Presiden RI .......... Tahun kelahiran pasien Menghitung terbalik (20 s/d 1) .......... Jawaban salah Salah Salah Salah Salah Benar Benar Salah Salah Salah Total: 2 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0

Skor AMT 0-3: Gangguan ingatan berat 4-7: Gangguan ingatan sedang 8-10: Normal Jadi, pasien ini mengalami gangguan ingatan berat

ADL (Pemeriksaan status fungsional)

PEMERIKSAAN FISIK Kesadaran Tekanan darah berbaring Tekanan darah duduk Nadi/ menit Laju pernapasan Suhu TB BB IMT LLA Kepala Kulit : compos mentis : 150/90 mmHg : 140/90 mmHg : 77 kali/menit, reguler, isi cukup : 20 kali/menit : 36,2 oC : 161 cm : 45 kg : 17,4 : 22 cm : tidak ada deformitas : kulit tidak kering, tidak ada bercak kemerahan, ulkus dekubitus (-) Mata : konjungtiva pucat -/-, sklera ikterik -/-, kekeruhan lensa -/-, fungsi penglihatan baik.

Hidung Telinga

: sekret -/-, hiperemis -/-, deviasi septum(-) : AS serumen (++), membran timpani tak weber

bisa dinilai. tidak ada tanda radang. Tes rinne AS (-).Tes lateralisasi as, tes swabach memanjang di AS. Mulut Leher

: oral hygiene baik, lidah licin, gigi palsu (-) : JVP tidak diperiksa, trakea di tengah, tidak ada pembesaran KGB

Dada Paru

: simetris, tidak teraba massa, deformitas (-) : sonor, vesikuler kanan = kiri, ronkhi -/wheezing -/-

Kardiovaskuler

: batas jantung dbn, S1-S2 murni reguler, murmur (-), gallop (-)

Perut

: datar, lemas,nyeri tekan (-), bising usus (+) normal, hepar & limpa tidak teraba membesar

Rektum/anus

Inspeksi tanda radang (-), fistula (-),benjolan (-) RT Tonus spincter menjepit kuat, mukosa licin,ampula recti tidak

kolaps, fistula (-),sulcus medianus simetris,mukosa licin,teraba agak keras, ,nyeri tekan (-), feses (+),darah (-) Punggung : tidak ditemukan deformitas atau ulkus dekubitus Alat kelamin Ekstremitas : tanda radang (-), nyeri tekan (-) : pada tangan kanan dan kiri tidak terdapat

rigiditas; sendi lutut: nyeri (-), lutut kiri kaku (+); edema -/-, teraba hangat.

Pemeriksaan Neurologi Pemeriksaan Tanda rangsang meningeal (-)

Pemeriksaan Nervus Kranialis

Pemeriksaan Muskuloskeletal Gaya berjalan : bradikinesia

Pemeriksaan Penunjang y y y CT scan kepala PSA test Profil lipid

Diagnosis y Diagnosis Medik: Penyakit Parkinson primer Demensia ec penyakit parkinson Inkontinensia urin urgensi e.c penyakit parkinson Instabilitas postural e.c penyakit parkinson Hipertensi grade I Malnutrisi Serumen prop AS y Diagnosis Psikiatrik: Gangguan kognitif suspect demensia y Diagnosis fungsional: Ketergantungan ringan

Resume Kajian Fungsi Kognitif Pasien Demensia adalah sebuah sindrom karena penyakit otak, bersifat kronis atau

progresif di mana ada banyak gangguan fungsi kortikal yang lebih tinggi, termasuk memori, berpikir, orientasi, pemahaman, perhitungan, belajar,

kemampuan, bahasa, dan penilaian kesadaran tidak terganggu. Gangguan fungsi kognitif yang biasanya disertai, kadang-kadang didahului, oleh kemerosotan dalam pengendalian emosi, perilaku sosial, atau motivasi. Sindrom terjadi pada penyakit Alzheimer, di penyakit serebrovaskular, dan dalam kondisi lain terutama atau sekunder yang mempengaruhi otak (Durand dan Barlow, 2006)

Penyebab Demensia 1. Penyebab secara biologis a. Adanya penumpukan protein yang lengket yang disebut anyloid plauques yang berakumulasi di otak pada penderita demensia. Plak amiloid juga ditemukan pada lansia yang tidak memiliki gejala-gejala demensia, tetapi juga dalam jumlah yang jauh lebih sedikit (Bourgeois dkk dalam Durand dan Barlow, 2006) b. Di dalam otak ditemukan jaringan abnormal (disebut plak senilis dan serabut saraf yang semrawut) dan protein abnormal, yang bisa terlihat pada otopsi. Demensia sosok Lewy sangat menyerupai penyakit Alzheimer, tetapi memiliki perbedaan dalam perubahan mikroskopik yang terjadi di dalam otak. c. Penyebab yang lain dari demensia adalah serangan stroke yang berturut-turut.Stroke tunggal ukurannya kecil dan menyebabkan kelemahan yang ringan atau kelemahan yang timbul secara perlahan. Stroke kecil ini secara bertahap menyebabkan kerusakan jaringan otak, daerah otak yang mengalami kerusakan akibat tersumbatnya aliran darah disebut infark. Demensia yang berasal dari stroke kecil disebut demensia multi-infark. Sebagian besar penderitanya memiliki tekanan darah tinggi atau kencing manis, yang keduanya menyebabkan kerusakan pembuluh darah di otak. d. Demensia juga bisa terjadi setelah seseorang mengalami cedera otak atau cardiac arrest. Penyebab lain dari demensia adalah penyakit parkinson, penyakit pick, AIDS, penyakit paru, ginjal, gangguan darah, gangguan nurtrisi, keracunan metabolism, diabetes. e. Penyebab biologis demensia tidak diketahui penyebabnya hanya saja masalah kerusakan cortex (jaringan otak). Penelitian otopsi

mengungkapkan bahwa lebih dari setengah penderita yang meninggal karena demensia senile mengalami penyakit Alzheimer jenis ini. Pada kebanyakan penderita, besar kasar otak pada saat otopsi jauh lebih rendah yang ventrikel dan sulkus jauh lebih besar dibandingkan yang normal yang seukuran usia tersebut. Demielinasi dan peningkatan

kandungan air pada jaringan otak ditemukan berdekatan dengan ventrikel lateral dan dalam beberapa daerah lain di bagian dalam hemifsfer serebrum pad penderita manula

(http://www.scrib.com/doc/24799498/DEMENSIA). f. Faktor genetik yang berhubungan dengan apoprotein E4 (Apo E4), alela (4) kromosom 19 pada penderita Alzheimer familial/sporadic. Mutasi 21,1, 14 awal penyakit. Penyebab lainnya yaitu neorotransmiter lain yang berkurang (defisit) yaitu non adrenergic presinaptik, serotonin, somatostatin, corticotrophin, releasing faktor, glutamate, dll.

2. Penyebab secara psikologis Penderita yang mengalami depresi memiliki risiko dua kali lebih besar mengalami demensia. Hal ini diperkuat dari hasil penelitian oleh Epidemiological Pathways Follow-Up Study yang dilakukan selama lima tahun pasien yang sudah di diagnosis menderita demensia dikeluarkan dari penelitian ini. Selama periode lima tahun 36 dari 445, atau 7.9 persen dari pasien diabetes dengan depresi berat didiagnosis dengan demensia. Di antara 3.382 pasien dengan diabetes saja, 163 atau 4,8 persen mengembangkan gejala demensia. Para peneliti menemukan hasil bahwa depresi berat dengan diabetes mengalami peningkatan 2.7 kali lipat untuk mengalami demensia, dibanding dengan pasien diabetes tanpa mengalami depresi berat. Depresi meningkatkan risiko demensia, karena kelainan biologis afektif ini berhubungan dengan penyakit, termasuk tingginya kadar hormon stres kortisol, atau masalah sistem saraf otonom yang dapat mempengaruhi jantung, pembekuan darah. Selain itu faktor-faktor lain yang meningkatkan risiko demensia karena perilaku umum dalam kondisi seperti merokok, makan berlebihan, kurang olahraga, dan kesulitan dalam mengikuti rejimen pengobatan dan perawatan.

3. Penyebab secara sosial

Gaya hidup seseorang mungkin melibatkan kontak dengan faktor-faktor yang dapat menyebabkan demensia, misalnya penyalahan substansi yang dapat mengakibatkan demensia. Gaya hidup seperti diet, olahraga, dan stres mempengaruhi penyakit kardiovaskuler dan dapat membantu menentukan siapa saja yang akan mengalami demensia vaskuler. Gaya hidup yang sehat seperti diet, olahraga dan kontrol terhadap makanan dapat meminimalisir kemungkinan terjadinya stroke dan tekanan darah tinggi yang menyebabkan demensia vaskuler. Sedangkan gaya hidup yang tidak sehat seperti stres, tidak mengontrol makanan, jarang berolahraga dapat meningkatkan risiko terkena stroke dan tekanan darah tinggi yang menyebabkan demensia vaskuler. Faktor-faktor kultural juga dapat memengaruhi seseorang mengalami demensia. Sebagai contoh, hipertensi dan stroke menonjol di kalangan orangorang Afrika-Amerika dan orang-orang Asia-Amerika tertentu (Cruickshank dan Beevers dalam Durand dan Barlow, 2006), yang menjelaskan mengapa demensia vaskular lebih sering dialami oleh kelompok ini. Hal ini terjadi akibat gaya hidup yang kurang sehat seperti dikalangan orang-orang AfrikaAmerika yang sering mengkonsumsi alkohol dan makanan-makanan cepat saji dan berpengawet yang meningkatkan risiko terkena hieprtensi dan stroke yang menyebabkan demensia varskuler ( de la Monte, et all dalam Durand dan Barlow, 2006).

4. Penyebab secara spiritual Q.S An-Nahl: 70, Q.S Al-Hajj:5 , Q.S Yassin:68 yang menjelaskan bahwa seorang manusia dapat bertambah umurnya akan mengalami penurunan ingatan yang dapat menyebabkan umurnya akan mengalami penurunan ingatan yang dapat menyebabkan pikun atau lupa. Berkaitan dengan ini Ibnu Khaldun mengungkapkan bahwa akal memiliki fungsi yaitu kerja otak baik kognitif maupun imajinatif dan dengan jelas tersirat dan tersurat pada Al-quran (QS. Alanfal:8 dan AlAraf: 9). Sebagaimana fungsi akal adalah tempat untuk berfikir maka manusia haruslah menggunakan apa yang telah diberikan Allah dengan optimal yaitu untuk mentafakkuri dan mentadabburi ayat-ayat Allah baik yang tertulis dalam Al-

Quran maupun di alam semesta. Jika akal manusia tidak digunakan dengan semestinya maka akal tersebut akan kehilangan fungsinya otak berfikir, selanjutnya diambil alih oleh otak binatang yang dicirikan oleh nafsu tak terkendali yang bersifat kepemilikan dan seksualitas. Hal yang serupapun dikemukakan oleh ahli neorologi bahwa fungsi otak akan semakin menurun ketika sedikit mendapatkan stimulasi, saat hal tersebut terjadi maka neuronneuron dalam otak akan semakin melemah dan mati sehingga akan memicu gangguan fungsi kognitif yang cukup signifikan. Jika otak berfikir mati maka fungsi-fungsi kognisi manusia seperti; bahasa dan memori kognitif akan rusak dan kehilangan kemampuan berfikir terutama kalkulasi bahasa dan matematis logis dan kesulitan untuk memberikan respon atas setiap stimulus yang masuk (Hasanuddin, 2010).

Gejala awal gangguan ini adalah lupa akan peristiwa yang baru saja terjadi, tetapi bisa juga bermula sebagai depresi, ketakutan, kecemasan, penurunan emosi atau perubahan kepribadian lainnya. Terjadi perubahan ringan dalam pola berbicara, penderita menggunakan kata-kata yang lebih sederhana, menggunakan kata-kata yang tidak tepat atau tidak mampu menemukan kata-kata yang tepat. Ketidakmampuan mengartikan tanda-tanda bisa menimbulkan kesulitan dalam mengemudikan kendaraan. Pada akhirnya penderita tidak dapat menjalankan fungsi sosialnya. Pada pasien ini, gejala yang tampak adalah penurunan daya ingat yang berat. Dan pada MMSE didapatkan skor 18 dimana seharusnya > 24. Selain itu pun pasien mulai terganggu atau kurang mandiri dalam menjalani kehidupannya sehari-hari. Pasien sudah tidak mampu mandi sendiri. Kemudian pasien pun cenderung tidak bergaul dengan sesamanya dan lebih suka di kamar atau hanya sekedar nonton TV di depan kamarnya.

Demensia pada geriatri digolongkan pada 2 grup yaitu : 1. Demensia Reversible 2. Demensia Nonreversibel

Penyebab demensia reversible diantaranya yaitu neoplasma dan penyakit metabolic. Sedangkan penyebab dari demensia nonreversible diantaranya adalah degenerative yaitu Alzheimer, penyakit Parkinson, dll; trauma; dan infeksi. Pada kasus ini pasien demensia disebabkan oleh penyakit Parkinson dengan gejala dari pasrkinsonisme yaitu rigiditas, bradikinesia, dan instabilitas postural, sehingga tergolong dalam demensia yang bersifat nonreversible. vascular;

Penatalaksanaan Farmakologik Captopril 25 mg 2 x 1/ hari diberikan karena pasien memiliki hipertensi derajat I levodopa 125 mg 2x1 dinaikkan sampai mencapai efek terapi diberikan untuk penyakit Parkinson pada pasien ini. rivastigmin 6 mg 2 x 1 dan vit.E untuk mempertahankan fungsi kognitif

Nonfarmakologi Psikoterapi suportif ( memberi dukungan pada pasien dari orangorang terdekat dengan pasien, dilatih kognitif dan memorinya dalam aktivitas sehari misalnya dengan merangsang pasien untuk menceritakan aktivitasnya sehari itu, dan lain-lain) Behavior treatments. Ini berguna untuk memperbaiki perkemihan pasien Alat bantu berjalan. Alat ini akan membantu pasien dalam bermobilisasi. Diet rendah garam untuk meringankan penyakit hipertensinya Olahraga ringan Ekstraksi serumen untuk menatalaksana telinga kiri pasien yang bermasalah sehingga bisa lebih nyaman dalam mendengar.

Tingkatkan asupan nutrisi. Hal ini saangat penting pada geriatri agar kalorinya dalam sehari tercukupi sehingga pasien bisa hidup sehat

DAFTAR PUSTAKA Robert L. Kane, et al. Essensial of Clinical Geriatrics 5th edition. 2004. The McGraw-Hill Companies. Buku Ajar Geriatri Edisi ke-4. 2010. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Farmakologi dan Terapi Edisi ke-5. 2007. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia