Anda di halaman 1dari 15

1

PENGERTIAN ILMU AKHLAK DAN AKHLAK (REVISI)

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Tasawuf Akhlak Dosen: Prof. Dr. H. M. Amin Syukur, M. A.

Penyusun: Achmad Anwar NIM: 095112003

PRODI AKIDAH AKHLAK PROGRAM PASCASARJANA IAIN WALISONGO SEMARANG 2010

PENGERTIAN ILMU AKHLAK DAN AKHLAK (REVISI) A. PENDAHULUAN Ajaran Islam mengandung petunjuk mengenai berbagai kehidupan manusia. Berkaitan dengan tingkah laku yang ideal, Islam mengajarkan kehidupan dinamis dan progresif untuk menghargai martabat manusia. Akhlak merupakan salah satu instrument untuk mengangkat harkat dan martabat manusia. Sukses tidaknya suatu bangsa mencapai tujuan hidupnya tergantung komitmennya terhadap nilai-nilai akhlak. Sejarah telah mencatat jungkir baliknya sebuah peradaban tertentu, yang kalau dirunut lebih jauh bermuara pada masalah akhlak yang dimiliki. Degradasi akhlak yang terjadi dewasa ini perlu diimbangi dengan pengajaran tentang nilai-nilai akhlak. Nilai-nilai tersebut pada gilirannya akan menjadi pertimbangan utama dalam berpikir dan bertindak setiap individu. Ajaran akhlak bukan saja memikirkan pedoman-pedoman yang dikehendaki tetapi juga mengandung ajaran akidah, ibadah, muammalah bahkan the art of life. Butir-butir mutiara akhlak begitu banyak, jika diidentifikasi mengandung banyak hikmah didalamnya. Islam dapat dijadikan sarana untuk memperbaiki akhlak, antara lain mengajarkan secara benar tentang konsep taubat, sabar, syukur, tawakal, mencintai orang lain dan sebagainya. Kejayaan seseorang terletak pada akhlaknya. Akhlak yang baik selalu membuat seseorang menjadi aman dan tenang. Seseorang yang berakhlak mulia selalu melaksanakan kewajiban-kewajibannya. Dia melakukan kewajiban terhadap dirinya sendiri yang menjadi hak dirinya, terhadap Tuhan yang menjadi hak Rabb-nya, terhadap makhluk lain dan terhadap sesama manusia. Ajaran akhlak bersumber antara lain dari norma-norma pokok yang dicantumkan dalam al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah yang merupakan suri tauladan (uswatun hasanah) dalam mempraktekkan akhlak yang terbaik.

B. PEMBAHASAN 1. Pemahaman Term Secara bahasa (etimologi), akhlak ( ) adalah bentuk jamak dari khuluqun ( ) yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Kata tersebut mengandung segi-segi persesuaian dengan "khalqun" ( ) yang berarti kejadian serta erat hubungannya dengan "khaliq" ( ) yang berarti pencipta dan "makhluq" ( ) yang berarti yang diciptakan. (Mustofa, 1997: 11). Dalam Lisanul 'Arab, khuluq diartikan sebagai:


"Yaitu ad-Din (agama), tabiat dan perangai" (Al-Mishri, Maktab al-Syamilah; Lisanul 'Arab, Juz 10: 85) Dalam kamus al-Munjid, khuluq berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. (Maluf, t.t: 194). Ibnu Athir menjelaskan bahwa hakikat makna "khuluq" adalah gambaran batin manusia yaitu jiwa dan sifatsifatnya sedang "khalqu" merupakan bentuk luarnya seperti raut muka, warna kulit, tinggi rendah tubuh dan lain sebagainya. (Zahruddin dan Sinaga, 2004: 2) Berdasarkan sudut pandang kebahasaan, definisi akhlak dalam pengertian sehari-hari disamakan dengan budi pekerti, kesusilaan, sopan santun, tata-krama sedang dalam bahasa Inggrisnya disamakan dengan istilah moral atau ethic. (Wojowarsito, 2000: 101-215). Sementara dalam bahasa Yunani, untuk akhlak dipakai istilah ethos dan ethikos atau etika (tanpa memakai huruf H), dimana etika disini bermakna usaha manusia untuk memakai akal budi dan daya pikirnya untuk memecahkan masalah, bagaimana ia harus hidup kalau ia mau menjadi baik. (Suseno, 1987: 14). Hamid Yunus juga menyatakan:


"Akhlak ialah segala sifat manusia yang terdidik" (Yunus, t.t: 436)

Akhlak disamakan dengan kesusilaan atau sopan santun. Akhlak diartikan sebagai ilmu tata krama, yakni ilmu yang berusaha mengenal tingkah laku manusia kemudian memberi nilai kepada perbuatan baik atau buruk sesuai dengan norma-norma dan tata susila. Secara istilah (terminologi), para ahli berbeda pendapat, namun intinya sama yaitu tentang perilaku manusia. Pendapat ahli tersebut diantaranya adalah: a. Abdul Hamid, akhlak adalah ilmu tentang keutamaan yang harus dilakukan dengan cara mengikutinya sehingga jiwa terisi dengan kebaikan dan tentang keburukan yang harus dihindari sehingga jiwa kosong (bersih) dari segala bentuk keburukan. (Yunus, t.t: 936) b. Ibrahim Anis, akhlak adalah ilmu yang obyeknya membahas nilainilai yang berkaitan dengan perbuatan manusia dapat disifatkan dengan baik-buruknya. (Anis, 1972: 202) c. Ahmad Amin, akhlak adalah kebiasaan baik dan buruk. Apabila kebiasaan memberikan sesuatu yang baik, maka disebut al-akhlak alkarimah dan bila perbuatan itu tidak baik disebut al-akhlak almadzmumah. (Amin, t.t: 15) d. Soegarda Poerbakawatja, akhlak adalah budi pekerti, watak, kesusilaan dan kelakuan baik yang merupakan akibat dari sikap jiwa yang benar terhadap khaliknya dan terhadap sesama manusia. (Poerbakawatja, 1976: 9) e. Hamzah Ya'qub, mengatakan (Yaqub, 1993: 12) : 1. Akhlak adalah ilmu yang menentukan batas antara baik dan buruk, terpuji dan tercela, tentang perkataan atau perbuatan manusia lahir dan batin. 2. Akhlak adalah ilmu pengetahuan yang memberikan pengertian tentang baik dan buruk, ilmu yang mengajarkan pergaulan manusia dan menyatakan tujuan mereka yang terakhir dari seluruh usaha dan pekerjaan mereka.

f. Al-Ghazali, mengatakan


"Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan bermacam-macam perbuatan dengan gampang dan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan." (al-Ghazali, Maktab alSyamilah; Ihya' 'Ulum ad-Din, Juz 2: 253) g. Ibnu Miskawaih, mengatakan


"Akhlak adalah suatu keadaan yang melekat pada jiwa manusia, yang berbuat dengan mudah tanpa melalui proses pemikiran atau pertimbangan (kebiasaan sehari-hari)" (Miskawaih, Maktab alSyamilah; Tahdzbl al-Akhlaq wa Tathbirul A'raq, Juz 1: 10) Jadi pada hakekatnya khuluq (budi pekerti) atau akhlak ialah suatu kondisi atau sifat yang telah meresap dalam jiwa dan menjadi kepribadian. Dari sini timbullah berbagai macam perbuatan dengan cara spontan tanpa dibuat-buat dan tanpa memerlukan pikiran. Dapat dirumuskan bahwa akhlak adalah ilmu yang mengajarkan manusia berbuat baik dan mencegah perbuatan jahat dalam pergaulannya dengan Tuhan, manusia dan makhluk sekelilingnya. (Asmaran, 2002: 1) Beberapa Stressing Pemaknaan Term Dalam perspektif lain, pemakalah perlu pula menjelaskan adanya beberapa perbedaan pemaknaan dalam term yang digunakan dalam bidang akhlak oleh para ahli, diantaranya: 1.Akhlak dan ilmu akhlak Kita harus membedakan antara akhlak dan ilmu akhlak itu sendiri. Ilmu akhlak adalah ilmunya dan bersifat teoritis sedang kalau disebut akhlak saja itu bersifat praktis.

2.Akhlak, Etika dan Moral Diantara ketiga istilah ini terdapat persamaan dan perbedaan. Tentang arti akhlak telah disinggung dimuka. Etika berasal dari bahasa Yunani, ethos yang berarti adat istiadat (kebiasaan), perasaan batin, kecenderungan hati untuk melakukan perbuatan. Frans Magnis Suseno mendefinisikan etika sebagai usaha manusia untuk memakai akal budi dan daya pikirnya untuk memecahkan masalah bagaimana ia harus hidup apabila ia menjadi baik. Lebih lanjut ia menyatakan: "etika tidak dapat menggantikan agama tetapi juga tidak bertentangan dengannya." (Suseno, 1987: 16-17) Moral berasal dari bahasa Latin, mores, kata jamak dari mos yang berarti "adat kebiasaan" dan diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan arti "susila". Hamzah Ya'qub mengatakan moral adalah ide-ide umum yang diterima tentang tindakan manusia mana yang baik dan wajar. Jadi moral hanya bersifat lokal dan sesuai dengan kesatuan sosial dan lingkungan tertentu. (Yaqub, 1983: 12) Kesimpulannya, persamaan antara ketiganya yakni sama-sama menentukan hukum / nilai perbuatan manusia tentang baik dan buruk. Perbedaannya, etika untuk menentukan nilai perbuatan manusia -baik atau buruk- dengan tolok ukur akal pikiran, moral dengan adat kebiasaan yang berlaku umum di masyarakat sedang akhlak tolok ukurnya adalah agama (Islam: al-Qur'an dan as-Sunnah). 2. Obyek Pembahasan Ilmu Akhlak dan Pembagian Akhlak Ahmad Amin menyatakan:


ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk dan menerangkan apa yang harus diperbuat oleh sebagian manusia terhadap sesamanya dan menjelaskan tujuan yang hendak dicapai oleh manusia dalam perbuatan

mereka dan menunjukkan yang lurus yang harus diperbuat. (Amin, 1988: 66) Jadi menurut definisi tersebut, ilmu akhlak mengandung unsur: menjelaskan pengertian baik dan buruk, menjelaskan apa yang seharusnya dilakukan seseorang serta bagaimana cara kita bersikap antar sesama, menjelaskan mana yang patut kita perbuat dan menunjukkan jalan lurus mana yang harus dilalui. Perbuatan manusia dibagi menjadi tiga bagian (Zahruddin dan Sinaga, 2004: 9-10): a. b. Perbuatan yang dikehendaki atau disadari Perbuatan yang tidak dikehendaki atau tidak disadari, terdiri: o Reflex action (al-Amaalul Munakiyah), yakni perbuatan refleks seperti gerakan tiba-tiba. o Automatic action (al-Amaalul Aliyah), seperti halnya degup jantung. c. Perbuatan samar (mutasyabihat), semacam lupa, khilaf, dipaksa, perbuatan ketika tidur. Erat kaitannya dengan permasalahan diatas, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa tindakan seseorang yang didasari kelalaian (diluar kontrol akal normal) atau karena dipaksa, betapapun ada ukuran baik atau buruknya tidak dihukumi dosa dan berada diluar obyek ilmu akhlak. (Zahruddin dan Sinaga, 2004: 11) Mengenai akhlak, ada dua jenis akhlak dalam Islam, yaitu akhlaqul karimah (akhlak terpuji) yaitu akhlak yang baik dan benar menurut syariat Islam dan akhlaqul madzmumah (akhlak tercela) yaitu akhlak yang tidak baik dan tidak benar menurut Islam. (Umary, 1993: 196) Akhlaqul Karimah Akhlaqul karimah dilahirkan berdasarkan sifat-sifat yang terpuji. Hamzah Yaqub mengatakan akhlak yang baik ialah mata rantai iman, contoh malu berbuat jahat. (Yaqub, 1983: 62) Akhlak yang baik disebut

juga akhlak mahmudah. Al-Ghazali menjelaskan adanya empat pokok keutamaan akhlak yang baik (Abdullah, 2007: 40 - 41), yakni: a. b. c. d. Mencari hikmah (hikmah adalah keutamaan yang lebih baik) Bersikap berani Bersuci diri Berlaku adil (adil, yaitu seseorang dapat membagi dan memberi haknya sesuai dengan fitrahnya). Akhlak terpuji dibagai menjadi dua bagian (Zahruddin dan Sinaga, 2004: 159-160): o Taat lahir, berarti melakukan seluruh amal ibadah yang diwajibkan Allah, termasuk berbuat baik kepada sesama manusia dan lingkungan dan dikerjakan oleh anggota lahir, meliputi: a. Tobat, dikategorikan kepada taat lahir dari perspektif sikap dan tingkah laku, namun sifat penyesalannya merupakan taat batin. Tobat para sufi adalah fase awal perjalanan menuju Allah (taqarrub ila Allah). b. Amar maruf dan nahi munkar, yaitu perbuatan yang dilakukan kepada manusia untuk menjalankan kebaikan dan meninggalkan kemaksiatan dan kemungkaran. c. Syukur, yaitu berterima kasih terhadap nikmat yang telah dianugerahkan Allah. o Taat batin, adalah segala sifat baik atau yang terpuji, dilakukan oleh anggota batin (hati), meliputi: a. Tawakal, yaitu berserah diri sepenuhnya kepada Allah dalam menghadapi, menanti atau menunggu hasil pekerjaaan. b. Sabar, dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu sabar dalam beribadah, sabar ketika dilanda malapetaka, sabar terhadap kehidupan dunia, sabar terhadap maksiat dan sabar dalam perjuangan. c. Qanaah, yaitu merasa cukup dan rela dengan pemberian yang dianugerahkan Allah. Menurut Hamka, qanaah meliputi:

menerima dengan rela akan apa yang ada, memohon kepada Allah tambahan yang pantas dan ikhtiar, menerima dengan sabar akan ketentuan Allah, bertawakal kepada Allah dan tidak tertarik tipu daya dunia. Sementara menurut Yatimin Abdullah, bentuk akhlak yang baik meliputi: sabar, benar (istiqamah), memelihara amanah, adil, bersifat kasih sayang, hemat (al-iqtishad), berani (syajaah), kuat (al-quwwah), malu (al-haya), memelihara kesucian diri (al-ifafah) dan menepati janji. (Abdullah, 2007: 41 - 46) Akhaqul Madzmumah Akhlak yang tercela dikenal sebagai sifat muhlikat, yakni segala tingkah laku manusia yang dapat membawa kepada kebinasaan dan kehancuran diri, yang bertentangan dengan fitrahnya yang menuju kebaikan. Hal yang mendorong manusia berbuat tercela (maksiat) adalah dunia dan isinya, manusia, setan (iblis) dan nafsu. (Zahruddin dan Sinaga, 2004: 154) Perbuatan tercela dibagi menjadi dua bagian: Maksiat lahir, kata maksiat berasal dari masiyah, artinya pelanggaran oleh mukallaf karena melakukan perbuatan yang dilarang dan meninggalkan pekerjaan yang diwajibkan oleh syariat Islam, meliputi: 1. Maksiat lisan, seperti berkata kotor, mencaci dan sebagainya. 2. Maksiat telinga 3. Maksiat mata 4. Maksiat tangan Maksiat batin, meliputi: 1. Marah (ghadab) 2. Dongkol (hiqd) 3. Dengki (hasad) 4. Sombong (takabur)

10

3. Sejarah Perkembangan Ilmu Akhlak a. Fase Yunani Para ahli filsafat Yunani purbakala sangat besar perhatiannya terhadap masalah etika (akhlak), terutama hal yang berkaitan dengan natural question. Kaum sufsata, yakni segolongan ahli filsafat yang tersebar diseluruh negeri mengajar dan menyiapkan para pemuda Yunani menjadi patriot yang berakhlak. Kemudian datanglah Socrates (469-399 SM). Pengaruh Socrates menimbulkan berbagai aliran ilmu akhlak (etika), dan yang terpenting Cynics dan Cyrenics, yang kesemuanya pengikut Socrates. (Zahruddin dan Sinaga, 2004: 19) Plato pada masa selanjutnya (429-347 SM) menulis banyak buku tentang etika dan yang terpenting adalah Republic. Ia berpendapat di dalam jiwa ada berbagai kekuatan yang berlainan, sedang keutamaan itu timbul dari keseimbangan kekuatan yang tunduk pada akal. Menurutnya pokok-pokok keutamaan ada empat, yaitu kebijaksanaan, keberanian, kesucian dan keadilan. (Zahruddin dan Sinaga, 2004: 22) Berikutnya Aristoteles (384-322 SM), membuat aliran baru yang para pengikutnya dinamakan peripatetics. Dia berpendapat bahwa tujuan akhir yang diusahakan dengan perbuatan manusia adalah kebahagiaan yang dicapai dengan mempergunakan kekuatan akal sebaik-baiknya. (Zahruddin dan Sinaga, 2004: 23) Dipihak lain, golongan Stoics dan Epicurus juga berkembang. Stoics dipeluk kebanyakan filosof Yunani dan Romawi, sedang Epicurus mendapat pengikut dari kalangan filosof Perancis. Akhir abad III, tersebarlah agama Nasrani. Ajaran Nasrani memerintahkan manusia dengan sekuat tenaga membersihkan diri dari dunia. Karena itulah menjadi kebiasaan bagi para pemeluk agama ini menelantarkan badan, menjauhi dunia, cenderung bertapa, beribadat dan kerahiban (Yogi). (Zahruddin dan Sinaga, 2004: 24-25)

11

b. Fase Arab Pra Islam Bangsa Arab masa jahiliyyah sudah memiliki perangai halus dan akhlak bersahaja tetapi mereka juga pemarah luar biasa dan perampas jika berkaitan dengan keselamatan diri dan kabilahnya. Bangsa Arab sebelum Islam telah memiliki kadar pemikiran yang minimal dalam bidang akhlak dan pengetahuan tentang berbagai macam keutamaan dalam mengerjakannya, tetapi hanya terbatas lewat syair-syairnya. Jika dibanding hikmah dari filsuf Yunani jelas bukanlah hal yang sebanding. Di kalangan orang Arab pra Islam, hanya ada orang-orang arif bijaksana dan ahli-ahli syair yang menganjurkan berbuat baik dan melarang berbuat buruk, menganjurkan berbuat utama dan mencegah berbuat keji, semisal Lukman al-Hakim, Aktsam bin Shaifi, Asyar Zuher bin Abi Salma dan Hatim Thaiy. (Zahruddin dan Sinaga, 2004: 27) c. Fase Islam Islam datang ke bangsa Arab membawa akhlak yang mulia yang menjadi dasar kebaikan hidup seseorang, keluarga, ummat manusia serta alam seluruhnya. Setelah al-Quran turun maka lingkaran pikiran bangsa Arab dalam segi akhlak yang pada awalnya sempit menjadi luas dan berkembang, jelas arah dan sasarannya. Di antara yang mempelajari akhlak secara ilmiah yang sangat terkenal adalah Abu Nashr al-Faraby (meninggal 339 H) dan Abu Ali bin Sina (390-429 H). Pembahas akhlak terbesar di kalangan Arab adalah Ibnu Miskawaih (wafat 421 H) yang mengarang kitab Tadzibul Akhlak wa Tathhirul Araq. (Zahruddin dan Sinaga, 2004: 29) d. Fase Abad Pertengahan Pada masa ini terjadi konfrontasi antara filsafat dan gereja. Gereja memerangi filsafat Yunani dan Romawi dan menentang penyiaran ilmu dan kebudayaan kuno. Inilah yang menciptakan suasana dimana filsafat

12

akhlak yang lahir pada masa itu merupakan perpaduan antara ajaran Yunani dan Nasrani. Tokohnya semacam Abelard (1079-1142) dan Thomas Aquinas (1226-1274). Kemudian datang Shakespeare dan Hetzenner, disusul dengan Jeremy Bentham (1748-1832) dan John Stuart Mill (1802-1873) yang telah mengubah aliran Epicurus dari egoistic hedonism. (Zahruddin dan Sinaga, 2004: 34) e. Fase Modern Periode ini dimulai tahun 1800 sampai sekarang. Bertitik tolak masa John Stuart Mill, Herbet Spencer (1820-1903) mengemukakan paham pertumbuhan secara bertahap (evolusi) dalam akhlak manusia. Penyelidikan akhlak hampir seluruhnya bersumber pada pendapatpendapat lama. Descartes (1596-1650) seorang ahli pikir Prancis menjadi pembangun madzhab rasionalisme. Jadi untuk menerima sesuatu hal, maka akal harus tampil melakukan pemeriksaan. (Zahruddin dan Sinaga, 2004: 35-36) 4. Faedah Mempelajari Akhlak dan Ilmu Akhlak Akhlak sangatlah urgent bagi manusia. Manusia tanpa akhlak adalah manusia yang telah membinatang, sangat berbahaya. Ia akan lebih jahat dan lebih buas dari binatang itu sendiri. Rasulullah SAW diutus di antara misinya adalah mission moral, membawa ummat manusia kepada akhlakul karimah. Dalam sabdanya disebutkan:


"Sesungguhnya saya diutus (ke dunia) ialah untuk menyempurnakan akhlak." (ad-Darawardy, Maktab al-Syamilah; Sunan Kubra lil Baihaqi, Juz 10: 192) Disisi lain, faedah mempelajari ilmu akhlak itu adalah sangat penting dan mendasar, diantara urgensinya adalah (Zahruddin dan Sinaga, 2004: 16):

13

1. Ilmu akhlak dapat menyinari orang dalam memecahkan kesulitan rutin yang dihadapi manusia yang berkaitan dengan perilaku. 2. Menjelaskan illat untuk memilih perbuatan baik dan lebih bermanfaat. 3. Dapat membendung dari keinginan-keinginan nafsu dengan menguatkan iradah. 4. Mengerti perbuatan baik akan menolong untuk menuju dan menghadapi perbuatan itu dengan penuh minat dan kemauan. C. PENUTUP Akhlak dalam ajaran Islam berdasarkan al-Quran dan Sunnah. Ilmunya disebut ilmu akhlak yaitu suatu pengetahuan yang mempelajari tentang akhlak manusia yang berdasarkan pada al-Quran dan hadits. Ajaran akhlak Islam menemukan bentuk yang sempurna, dengan titik pangkalnya pada Tuhan dan akal manusia. Islam pada intinya mengajak manusia agar percaya kepada Tuhan dan mengakui-Nya bahwa Dia-lah pencipta, pemilik, pemelihara, pelindung, pemberi rahmat, pengasih dan penyayang terhadap makhlukmakhluk-Nya.

14

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Yatimin, Studi Akhlak dalam Perspektif al-Qur'an, Jakarta: Amzah, Cet. ke- 1, 2007. Al-Maktab as-Syamilah, ver 2.11 Amin, Ahmad, Kitab al-Akhlak, Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyah, t.th.. Amin, Ahmad, Al-Akhlak, alih bahasa oleh Farid Maruf, Etika (Ilmu Akhlak), Jakarta: Bulan Bintang, Cet. ke-5/8, 1988. Anis, Ibrahim, al-Mu'jam al-Wasith, Kairo: Dar al-Ma'arif, 1972. Asmaran AS, Pengantar Studi Akhlak, Jakarta: RajaGrafindo Persada, Cet. ke-1, 2002. Ma'luf, Luis, Kamus al-Munjid, Beirut: al-Maktabah al-Katulikiyah, t.t.,. Mustofa, Akhlak Tasawuf, Bandung: Pustaka Setia, Cet. ke-1, 1997. Poerbakawatja, Soegarda, Ensiklopedi Pendidikan, Jakarta: Gunung Agung, 1976. Suseno, Frans Magnis, Etika Dasar, Jakarta: Pusat Filsof, 1987. ---------------------------, Etika, Jakarta: Kanisius, 1987. Umary, Barmawi, Materi Akhlak, Solo: Ramadhani, 1993. Wojowarsito, S, dkk, Kamus Inggris Indonesia, Jakarta: Tara, 2000. Ya'qub, Hamzah, Etika Islam, Bandung: Diponegoro, Cet. ke-1, 1993. Yunus, Abd Hamid, Dairatul Ma'arif, I dan II, Kairo: Asy-Syab, t. th. Zahruddin dan Hasanuddin Sinaga, Pengantar RajaGrafindo Persada, Cet. ke- 1, 2004. Studi Akhlak, Jakarta:

15