Anda di halaman 1dari 12

JURNAL READING:

Waktu untuk mengulang SC elektif: maternal dan neonatal morbiditas dan mortalitas

Pembimbing: Dr. Sarsanto W.S, SpOG Oleh: Meilina 02 086

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KEBIDANAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA JAKARTA 2012

The Journal of Maternal-Fetal and Neonatal Medicine, January 2011; 24(1): 58 64

Waktu untuk mengulang SC elektif: maternal dan neonatal morbiditas dan mortalitas
TAMAR TZUR, ADI Y. WEINTRAUB, EYAL SHEINER, ARNON WIZNITZER, MOSHE MAZOR, & GERSHON HOLCBERG Department of Obstetrics and Gynecology, Faculty of Health Sciences, Soroka University Medical Center, Ben-Gurion University of the Negev, Beer-Sheva, Israel Diterima 11 januari 2010; disahkan 20 januari 2010 Abstrak Waktu untuk melakukan sc elektif ulang harus mempertimbangkan keaadaan ibu dan janin. Presentase persalinan caesar telah meningkat secara dramatis selama sedekade terakhir. Ini tentu mengarah kepada peningkatan jumlah wanita yang melakukan sc ulangan. Sementara itu terjadi peningkatan angka morbiditas ibu sejalan dengan peningkatan jumlah sc, bila dibandingkan dengan keadaan lainnya, janin lebih bulan yang meningkat angka morbiditasnya. Menetapkan waktu optimal bagi ibu dan janin dalam proses persalinan merupakan tantangan bagi para klinisi. Tujuan dari penelitian ini supaya dapat lebih mengerti tentang neonatal dan morbiditas dan mortalitas maternal yang dihubungkan dengan sc elektif ulangan, dan untuk menyediakan keputusan edukasi berdasarkan waktu optimal dari sc elektif ulangan. Kata kunci: sc, sc elektif ulangan, janin lebih bulan. Introduksi Waktu optimal untuk melakukan sc elektif ulang (ERCS) merupakan tantangan pada dunia obstetrik. Keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan antara ibu dan janin dimana mungkin mereka saling berlawanan. Dari segi maternal, sc yang lebih awal dapat mencegah komplikasi seperti perdarahan antepartum, kontraksi yang menuju kepada operasi segera dan persalinan yang bertentangan dengan persalinan pervaginam. Menunda proses persalinan meningkatkan resiko untuk dilakukannya sc emergency (EmCS). Telah diketahui bahwa resiko EmCS secara umum lebih baik dibandingkan operasi elektif 1. Untuk wanita yang sebelumnya memiliki riwayat SC lebih dari 1 kali resiko dalam EmCS menjadi lebih besar dikarenakan oleh potensi komplikasi dan operasi yang dilakukan oleh tim yang memiliki skill yang kurang. Dilihat dari keadaan janin, menghambat operasi dapat meningkatkan efek samping kelahiran janin terutama komplikasi respiratorius2. Belakangan ini , janin late pre-term mendapat perhatian yang lebih tinggi dibandingkan dengan janin aterm karena angka morbiditas dan mortalitasnya yang lebih tinggi.3,4

Hal ini tidak mungkin mebandingkan angka morbiditas janin dan ibu. Secara umum pertimabngan ibu berlaku. Meskipun morbiditas janin rumit morbiditas ibu dapat menjadi berat dan bahkan dapat menuju kepada kematian, dimana hal tersebut tidak dapat dimaafkan dalam dunia obstetrik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk merangkum angka morbiditas ibu dan janin dimana berhubungan dengan ERCS dan untuk mengetahui faktor lain dan menentukan waktu yang tepat untuk melakukan ERCS. Untuk menyiapkan penelitian ini , kami melakukan pencarian di medline dengan menggunakan kata kunci caesarean section , elective repeat caesarean section , late preterm infant , uterine rupture/dehiscence dan lower uterine segment . Kami membahas artikel-artikel ini dengan seksama. Epidemiologi dari persalinan caesar Belakangan ini angka SC di amerika serikat menigkat dari 20,7% pada 1996 menjadi 31,1% pada tahun 20065,6. Sekarang SC merupakan panduan prosedur bedah utama pada wanita7, dimana 1,3 juta SC dilakukan pertahunnya5. Antara 1970an sampai awal 1980an angka SC meningkat secara dramatis dan mulai menurun pada akhir 1980an. Antara 1989 dan 1996, total angka SC menurun akibat hasil dari berkurangnya angka SC primer dan meningkatnya angka persalinan pervaginam setelah memiliki riwayat SC (VBAC). Sejak 1996, trend ini mengalami keterbalikan, dan terjadi peningkatan secara tajam angka kelahiran pervaginam disertai pengulangan SC.6,8 SC primer sebanyak 60% dari total SC. Pada waktu yang sama, VBAC mengalami penurunan, hal ini menyiratkan terjadinya peningkatan angka SC ulangan, dimana hampir mencapai angka 91% pada tahun 20048. Peningkatan ini mungkin dapat menjelaskan bagaimana cara meningkatkan kontrol pendarahan, infeksi dan tromboembolisasi, dimana menonjolkan pentingnya keamanan prosedurnya.penelitian menguji perubahan-perubahan pada resiko medik terhadap ibu dari waktu ke waktu dan menemukan sedikit bukti bahwa peningkatan SC dikaibatkan oleh perubahan itu sendiri.9-11 meskipun tipe persalinan SC memberikan keamanan dan kepastian yangrelatif aman, seharusnya tidak dikatagorikan prosedur bebas resiko. Keterlibatan dari anastesi dan laparotomy menigkatkan resiko kematian ibu. Berdasarkan data diatas , jumlah wanita yang mendapat SC berulang akan meningkat, dan karenanya penting untuk mamahami implikasinya. Trend ini , tidak melekat pada amerika serikat saja, faktanya digambarkan oleh statistik bahwa kelahiran per SC meningkat 4 kali lipat dalam kurun waktu 20 tahun belakangan ini.12,13 SC multipel: komplikasi maternal Pada negara yang maju, meskipun banyak wanita yang memiliki 1 atau 2 anak, masih banyak negara dan komunitas yang dalam keluarga besar. Implementasi dari kebijakan sekali SC tetap SC pada sebagian populasi akan secara langsung menuju kepada persalinan SC multipel. Sekarang , hanya sedikit penelitian yang secara spesifik mengalamatkan penelitian
3

mereka pada komplikasi yang berhubungan dengan SC multipel dan hasilnya biasanya menuju perdebatan. Nisenblat et al14. Pada penelitian retrospektif kohort studi komplikasi maternal setelah mengalami SC multipel yang dihubungkan dengan kesulitan pembedahan dan penigkatan pendarahan selama bedah pada rencana SC ke dua. Mereka menemukan bahwa faktor resiko komplikasi mayor meningkat pada jumlah SC. Plasentasi abnormal tampaknya menjadi penyebab utama dari komplikasi utama pada wanita yang mengalami SC multipel.14 pada penelitian lanjutan yang mengevaluasi ibu dengan riwayat SC antara 410 kali, Juntunen et al.15 menemukan bahwa dari wanita pada studi grup mengeluhkan nyeri abdomen bawah selama akhir kehamilan. Sebuah lapisan miometrium telah diteliti pada 55% operasi. Plasentasi abnormal dengan peningkatan resiko utama komplikasi pembedahan mengenai sebagian besar grup studi. Bagaimanapun juga tidak ada perbedaan antara komplikasi post operasi atau perinatal outcome diantara kedua grup15. Neonatal morbiditas dan mortalitas Pergeseran ke arah kiri ( kecenderungan terhadap persalinan) dari distribusi umur janin pada kelahiran tunggal di amerika serikat16 telah meningkatkan kekhawatiran terhadap kesehatan janin. Peningkatan interfensi obstetrik untuk mengatur resiko tinggi ibu hamil yang lebih baik, termasuk penyembuhan post term, merupakan bagian dari trend ini. Tetapi pertanyaan tentang persalinan iatrogenik preterm lebih menantang untuk dijawab. Peningkatan secara medis dalam hal induksi persalinan dan SC di beberapa dekade terakhir telah menunjukkan peningkatan angka late preterm 34-36 +6 minggu kelahiran16,17. Namun, seperti tren dalam praktek obstetrik berlawanan dengan obstetrik modern, karena mereka tidak konsisten dengan teori obstetri tradisional dimana model obstetri dari kematian perinatal menunjukkan penurunan eksponensial pada mortalitas dan usia kehamilan yang lebih tinggi18. Meskipun janin late preterm juga mendekati waktunya atau minimal preterm, ini bisa menyebabkan kesalahan terhadap kematangan janin.19 pada tahun 2004, angka lahir prematur di amerika serikat adalah 12,5%, mewakili lebih dari 30% peningkatan sejak 198120. Meskipun jumlah bayi lahir kurang dari 32 minggu memiliki sedikit penurunan sejak 1990, persalian antara 32 dan 37 minggu meningkat dari waktu ke waktu16. Pada tahun 2002, persalinan late preterm di amerika serikat tercatat 6,9% dari kelahiran tunggal dan meningkat 7,4% dari kelahiran tunggal pada tahun 200216. Data dari pusat nasional statistik kesehatan amerika serikat menunjukkan bahwa pada 2002, 74% janin tunggal preterm lahir pada usia kehamilan 34-36 minggu 16. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa janin late preterm memiliki peningkatan morbiditas ketika diandingkan dengan keadaan lainnya. Meskipun sindrom aspirasi mekonium tidak sering terjadi pada janin late preterm dibandingkan janin cukup bulan21 semua bentuk morbiditas respiratori (termasuk transient takipneu pada bayi baru lahir, respiratori distress syndrome, pneumonia dan hipertensi pulmonal) mengenai janin late preterm lebih tinggi dubandingkan dengan janin yang memiliki usia kehamilan yang lebih
4

lanjut22,23. Hipotermia juga dapat mempersulit komplikasi dari neonatus late preterm dan telah terbukti dapat membawa sepsis yang tidak perlu dan akhirnya mauk ke dalam NICU24. Refleks dari menghisap dan menelan dan motilitas usus dapat menjadi imatur dah bahkan tidak berkembang. Ini dapat menyebabkan kesulitan dalam menyusui dan dapat menjadi dehidrasi dan berat badan rendah25. Diantara bayi-bayi ini insiden hipoglikemia lebih tinggi dari janin yang cukup bulan24. Ketidakmatangan relatif dari hati mereka pada late preterm menyebabkan janin menjadi hiperbilirubinemia dan menyebakan post ikterik sequele lebih sering pada golongan ini26. Sebagai tambahan peningkatan morbiditas pada neonatus late preterm, beberapa penelitian juga menunjukkan peningkatan resiko kematian janin yang lahir antara 34 dan 37 minggu kehamilan21. Satu studi menujukkan 2 sampai 5 kali lipat peningkatan resiko kematian bayi pada late preterm dn memiliki resiko 2 kali lipat lebih tinggi untuk kematian bayi secara tiba-tiba27. Meskipun mayoritas dari bayi late preterm bertahan di periode neonatus, bukti terbaru menunjukkan bahwa bayi preterm bayi BBLR menderita dari perkembangan morbiditas. Sebuah penelitian jangka panjang dari bayi BBLR menunjukkan secara klinis perubahan perilaku di hampir 20% pasien, dan 80% resiko meningkat pada masa kanak-kanak dengan gangguan penurunan atensi atau hiperaktif dimana dicatat pada bayi yang lahir antara 34 dan 37 minggu kehamilan28,29. Karena bayi late preterm menjelaskan sebagian besar bayi di amerika serikat mengalami peningkatan morbiditas dibandingkan dengan yang lainnya, late preterm membuat dampak yang besar terhadap perawatan bayi. Bayi late preterm meningkatkan biaya rumah sakit selama persalinannya30 dan memiliki angka dirawat kembali di rumah sakit dibandingkan bayi yang lahir lebih dari 37 minggu usia kehamilan.31,32 sebuah populasi berdasarkan penelitian kohort menunjukkan 4,8% kembali masuk rumah sakit pada bayi dengan late preterm, meskipun tanpa memiliki riwayat masuk NICU, sesaat proses persalinan31. Sebuah perkiraan menunjukkan bahwa di kalifornia saja lebih dari 49 juta dolar bisa diselamatkan jika persalinan ditunda selama 1 tahun33. Dalam sebuah penelitian retrospektif yang besar Alana et al.34 menginvestigasi kematian neonatus dan morbiditas pada kasus SC elektif berdasarkan minggu kehamilan saat persalinan. Hasil utamanya adalah kematian neonatus dan beberapa efek samping, temasuk komplikasi respiratori, hipoglikemi, sepsis, dan pengiriman bayi ke NICU. Mereka menemukan bahwa morbiditas menurun sejalan dengan usia kehamilan antara 37-39 minggu. Mereka menyimpulakn bahwa ERCS sebelum 39 minggu sangat mungkin terkena gangguan respiratori dan efek samping lainnya34. Sebuah penelitian sebelumnya meunjukkan bahwa ECS sebelum usia kehamilan 40 minggu dikaitkan dengan penerimaan neonatus untuk perawatan khusus unit gangguan pernapasan(terutama pada penderita takipnea yang baru lahir)35. Sebagai tambahan , pada bayi yang term insiden dari disstress pernapasan pada ECS lebih tinggi dibandingkan dengan persalinan pervaginam35. De Luca et al.36 melakukan penelitian cohort studi untuk mengevaluasi risiko dengan tahapan usia dari intrapartum dan mortalitas dan morbiditas neonatal secaraklinis yang
5

dihubungkan dengan pasca ECS. Mereka melibatkan lebih dari 56.500 wanita dengan persalinan preterm dan term, dan membandingkan ECS dengan rencana persalinan pevaginam dan EmCS. Mortalitas dan morbiditas sangat berhubungan erat dengan usia kehamilan dengan resiko terendah pda usia kehamilan 38-40 minggu usia kehamilan. Mereka menemukan bahwa ECS berhubungan erat dengan peningkatan intrapartum dan mortalitas neonatus, masuk ke NICU, dan morbiditas respiratori dibandingkan dengan proses persalinan pervaginam. Morbiditas neonatus lebih rendah pada ECS dibandingkan EmCS di usia kehamilan yang term. Data mereka menunjukkan bukti bahwa ECS seharusnya tidak dilakukan sebelum waktunya.36 Kematangan janin dan pemberian steroid sebelum ECS Stutchfield et al.37 pada penelitian randomisasi terkontrol mengkonfirmasi bahwa , jika wanita diberikan 2 dosis im 12 mg betametason pada 48 jam sebelum ECS, menurunkan angka masuk ke dalam unit perawatan pernapasan terutam a pada usia 39 minggu kehamilan dan bahkan pada 38 minggu kehamilan sampai 37 minggu37. Hasil penelitian mereka juga mendemonstrasikan penundaan operasi nonurgent ECS sampai usia 39 minggu lebih efektif untuk mencegah neonatus dari pemberian steroid. Pada 15% atau lebih wanita yang akan mengalami persalinan spontan antara usia kehamilan 37 dan 39 minggu terjadi ketidaknyamanan karenan mereka melakukan SC di luar waktunya mungkin akan lebih rendah dari bayi yang dirawat dalam perewatan khusus. Karena kelahiran late preterm ini memiliki morbiditas yang signifikan, ACOG memperingatkan untuk tidak melakukan ECS sebelum usia kehamilan 39 minggu tanpa mengetahui kematangan paru janin38,39. Morbiditas dan mortalitas ibu Menjadi jelas bahwa menunda ECS sampai usia kehamilan 39 minggu dapat menurunkan morbiditas respiratori neonatus . tidak pasti jika kebijakan dalam hasil tersebut dalam angka EmCS yang tinggi dan berhubungan dengan peningkatan angka morbiditas ibu. Juga dikenal bahwa resiko EmCS secara umum lebih besar dibandingkan dengan operasi elektif. Sebuah penelitian menyertakan 258 rencana ECS ditemukan adanya peningkatan nilai EmCS ketika ECS ditunda sampai 39 minggu, namun meningkat secara tidak signifikan. Angka yang sama didapatkan pada anastesi epidural/spinal pada pasien yang direncanakan ECS dan pasien yang melahirkan secara EmCS tidak ada perbedaan besar dalam komplikasi antara kedua kelompok. Tidak ada bukti bahwa menunda ECS selama 39 mingu penuh meninggkatkan angka efek pada ibu40 dalam penelitian tersebut indikasi untuk ECS adalah riwayat SC 40%, letak sungsang 30%, plasenta previa 13% dan indikasi lainnya 25%. Ketika indikasi riwayat ECS adalah riwayat SC yang berulang operasi dapat menjadi rumit, untuk itu persiapan yang matang sangat dibutuhkan. Dalam proses operasi yang berulang operasi emergency ditemukan untuk persiapan resiko spesifik untuk komplikasi intraoperatif 40,41. Lanjutan dalam menunda operasi tidak jelas.
6

Nyeri pada Luka bekas operasi pada trimester ke 3 merupakan keluhan yang sering dikeluhkan pada wanita yang memiliki riwayat SC berulang (4-10)15. Kehadiran keluhan ini disebabkan karena akibat dari EmCS preterm. menunda ECS pada wanita yang memiliki riwayat SC berulang dapat meningkatkan kemungkinan untuk lahir spontan. Literatur mengenai VBAC biasanya berhubungan dengan riwayat SC 1kali sebelumnya. Tahseen et al. , mendeskribsikan angka sukses dan buruk dari hasil lahiran pervaginam setelah mendapat 2 kali SC (VBAC-2) mereka mengobservasi angka kesuksesan 71,1% dan ruptur uteri 1,36%42. Tidak cukupnya data mengenai konsekuensi tentang kontraksi spontan dan persalinan setelah multipel SC. Tidak ada konsensus mengenai morbiditas pada VBAC dan ERCS. Beberapa studi mengamati insiden yang tinggi dari ruptur uteri pada wanita yang memiliki riwayat VBAC dibandingkan dengan wanita yang mendapat ERCS, yang lain tidak melaporkan perbedaan yang signifikan antara kedua tipe persalinan tersebut.43 namun demikian , tampaknya usia kehamilan yang tua dikaitkan dengan penurunan kesuksesan VBAC dan resiko tinggi terjadinya ruptur uteri44. Ruptur uteri Resiko utama dari kontraksi spontan dan pesalinan pada pasien dengan SC multipel adalah ruptur uteri. Ruptur uteri merupakan hal yang mengancam nyawa dan mnegakibatkan komplikasi yang serius, termasuk histerektomi peripartum, perdarahan , syok dan bahkan kematian ibu dan janin45-47. Ruptur uteri terjadi pada 0,035% dari semua persalinan48. Ruptur uteri komplit melibatkan seluruh dinding uteri dan berakibat terjadinya hubungan langsung antara peritonium dan cavum uteri. Hal ini lebih jarang dibandingkan dengan ruptur uteri yang tidak komplit, ketika ada gangguan otot-otot tetapi serosa, peritonium vicerale atau ligamentum yang luas tetap menutupi uterus49. Ruptur dapat berkembang secara spontan pada grandmultipara, kelainan kongenital (misalnya unicornue atau bicornue ), rahim yang tidak berkembang, pada pasien yang memiliki riwayat mola akibat penempelan telur yang tidak pada tempatnya50-54. Ofir et al. menemukan bahwa ruptur uteri biasanya mengenai bagian uterus yang memiliki bekas luka55. Ruptur uteri biasanya terjadi pada saat selama persalinan. Bagaimanapun juga usia kehamilan tidak ditemukan pengaruhnya menjadi faktor resiko independen pada ruptur uterus47. Kebalikannya Hammoud et al.56 menunjukkan bahwa resiko ruptur uteri meningkat pada pasien dengan usia kehamilan yang lanjut. Harper et al.57 mempublikasikan penelitian retrospektif dalam skala besar tentang efek usia kehamilan pada SC pertama setelah itu menggunakan percobaan VBAC. Mereka menunjukkan bahwa SC pada atau sebelum usia kehamilan 34 minggu tidak meningkatkan morbiditas ibu dalam upaya VBAC berikutnya. Mereka juga menunjukkan bahwa semua insiden ruptur uteri tejadi pada pasien setelah melewati usia kehamilan 35 minggu atau lebih. Usia kehamilan saat terjadinya ruptur uteri tidak berbeda secara signifikan antara wanita dengan riwayat pertama SC > 34 minggu dengan wanita yang < 34minggu56.

Kunci untuk mencegah tidak terjadinya ruptur uteri dengan memahami tentang faktorfaktor penyebab dan situasi klinis seperti riwayat SC sebelumnya, operasi uterus, riwayat induksi persalinan, terminasi kehamilan, kelainan kongenital dan trauma. Ruptur uteri merupakan hal buruk yang tidak dinginkan. Menemukan faktor untuk memprediksi ruptur uteri dapat digunakan untuk pengaturan waktu dilakunnya ERC. Menggunakan USG pada segmen rahim yang rendah (LUS) pada wanita hamil dengan riwayat SC sebelumnya dan sebagai prediksi untuk ruptur uteri masih kontroversi. Sebuah analisa prospektif menggunakan 2 dan 3 dimensi transabdominal dan USG transvaginal untuk menilai dari ketipisan LUS. Hal tersebut didemonstrasikan bahwa penilaian USG untuk ketipisan LUS transvaginal lebih dipercaya dibanding USG transabdominal. Penggunaan USG 3 dimensi dipertimbangkan untuk mengembangkan keandalan pengukuran. Meskipun demikian, implikasi klinis , maka hubungan antara ketipisan otot LUS penilaiannya melalui USG dan resiko ruptur uteri masih butuh konfirmasi57. Ridgeway et al.58 menunjukkan bahwa janin yang awalnya bradikardipada kala 1 dan2 saat kelahiran ialah satu-satunya yang ditemukan saat dibedakannya antara ruptur uteri dan persalinan pervaginam yang sukses. Hal ini menunjukkan CTG dapat berubah hanya sesaat ruptur sudah terjadi58. Demikian juga Sheiner et al.59 menemukan bahwa pada janin bradikardi berat berhubungan kuat dengan ruptur uteri. Dengan tambahan, mereka menemukan bahwa takisistol uterus dan variasi baseline berkurang adalah pola independen sebelum ruptur uteri pada kala 1 dan 2 saat persalinan. Kemampuan bedah Keterbatasan utama dari operasi emergensi adalah ketidakmampuan untuk memilih ahli bedah yang sesuai dengan prosedur. Insiden komplikasi bedah terkait dengan EMCS dibandingkan dengan ECS diteliti secara menggunakan 1319 pasien yang menjalani SC41. Nilai komplikasi pada operasi darurat sangat terlihat jelas lebih tinggi dibandingkan dengan opereasi yang elektif (18,90% vs 4,2%; p50.05). di antara faktor resiko lainnya keterampilan ahli bedah ditemukan hubungannya secara signifikan dengan komplikasi bedah selama operasi SC secara darurat. Hal ini tdak terjadi pada operasi elektif. Penulis menyimpulakan bahwa SC emergenci memerlukan keahlian yang tinggi.41. sebaliknya penelitian retrospektif yang diadakan di kopenhagen antara tahun 1995 dan 199660 diselidiki hubungan korelasi yang mungkin ada antara komplikasi operasi, intraoperatif dengan pengalaman ahli bedah . angka komplikasi pada EMCS 14,5% dibandingkan 6,8% pada kelompok operasi elektif. Tingkatan pendidikan ahli bedah Dan riwayat SC tidsk ditemukan secara signifikan berhubungan komplikasi intraoperatif60.

Namun demikian, tingkatan level stress dan gangguan tidur diketahui berhubungan dengan kelalaian dalam pekerjaan61. Maka dari itu, EMCS ialah operasi yang rumit yang harus dilakukan secara elektif bila mungik di siang hari. Kesimpulan Presentasi kelahiran secara SC, primer dan berulang, telah meningkat secara substansial dalam beberapa tahun terakhir. Hal tersebut mengakibatkan peningkatan jumlah wanita yang melakukan SC yang multipel. Morbiditas ibu meningkat disertai dengan jumlah SC. Plasentasi abnormal tampaknya menjadi penyebab utama pada wanita-wanita tersebut. Pemilihan waktu ECS harus mempertimbangkan ibu dan janin. ERCS sebelum 39 minggu berkaitan dengan hasil neonatus yang buruk, terutama kematian akibat pernapasan. Bayi late preterm menghadapi peningkatan morbiditas dibandingkan dengan yang lainnya. Pemberian betametason sebelum ECS mengurangi pengiriman bayi baru lahir ke unit perawatan khusus. Maka demikian , ACOG memperingatkan untuk lebih berhati-hati dalam induksi elektif dan SC sebelum 39 minggu. Tanpa adanya adanya bukti kematangan janin. Sampai saat ini tidak ada bukti hasil efek terhadap ibu saat menunda rencana SC setelah 39 minggu, kecuali kasus dengan plasentasi abnormal. Pengalaman ahli bedah, tampaknya tidak terkait dengan komplikasi intraoperatif. Bagaimanapun, penyelidikan lebih lanjut dibutuhkan untuk mengevaluasi EmCS secara mendesak karena kontraksi atau persalinan pada wanita setelah melakukan SC secara berulang. Deklarasi Penulis melaporkan tidak ada konflik kepentingan. Penulis sendiri bertanggung jawab atas isi dan penulisan pada jurnal ini. Referensi 1. Enkin M. Labor and delivery following previous caesarean section. In: Childbirth. London, UK: Oxford University Press. pp. 1196 1215. 2. Engle WA, Tomashek KM, Wallman C. Late-preterm infants: a population at risk. Pediatrics 2007;120:1390 1401. 3. Escobar GJ, Clark RH, Greene JD. Short-term outcomes of infants born at 35 and 36 weeks gestation: we need to ask more questions. Semin Perinatol 2006;30:28 33.

4. Melamed N, Klinger G, Tenenbaum-Gavish K, Herscovici T, Linder N, Hod M, Yogev Y. Short-term neonatal outcome in low-risk, spontaneous, singleton, late preterm deliveries. Obstet Gynecol 2009;114:253 260. 5. Hamilton BE, Martin JA, Ventura SJ. Births: preliminary data for 2005. Natl Vital Stat Rep 2006;55:1 18. 6. Hamilton BE, Martin JA, Ventura SJ, Sutton PD, Menacker F. Births: preliminary data for 2004. Natl Vital Stat Rep 2005;54:1 17. 7. DeFrances CJ, Hall MJ. 2005 National hospital discharge survey. Advance data from vital and health statistics; no 385. Hyattsville, MD: National Center for Health Statistics. 2007. 8. MacDorman MF, Menacker F, Declercq E. Cesarean birth in the United States: epidemiology, trends, and outcomes. Clin Perinatol 2008;35:293 307. 9. MacDorman MF, Declercq E, Menacker F, Malloy MH. Infant and neonatal mortality for primary cesarean and vaginal births to women with no indicated risk, United States, 1998 2001 birth cohorts. Birth 2006;33:175 182. 10. Menacker F, Declercq E, Macdorman MF. Cesarean delivery: background, trends, and epidemiology. Semin Perinatol 2006; 30:235 241. 11. Reddy UM, Spong DY. Introduction. Semin Perinatol 2006; 30:233 234. 12. Declercq E, Menacker F, MacDorman MF. Maternal risk profiles, and the primary cesarean rate in the United States 1991 2002. Am J Public Health 2006;96:867 872. 13. Bulger T, Howden-Chapman P, Stone P. A cut above: the rising cesarean section rate in New Zealand. N Z Med J 1998; 11:30 33. 14. Murray SF, Serani-Pradenas F. Cesarean birth trends in Chile, 1986 to 1994. Birth 1997;24:258 263. 15. Nisenblat V, Barak S, Griness OB, Degani S, Ohel G, Gonen R. Maternal complications associated with multiple cesarean deliveries. Obstet Gynecol 2006;108:21 26. 16. Juntunen K, Makarainen L, Kirkinen P. Outcome after a high number (4 7) of repeated caesarean sections. BJOG 2004; 111:561 563. 17. Davidoff MJ, Dias T, Damus K. Changes in the gestational age distribution among singleton births: impact on rates of late preterm birth, 1992 to 2002. Semin Perinatol 2006. 18. MacDorman MF, Mathews TJ, Martin JA, Malloy MH. Trends and characteristics of induced labour in the United States, 1989 98. Paediatr Perinat Epidemiol 2002;16:263 273. 19. Canadian Perinatal Surveillance System Steering Committee Members. The State of Perinatal Health in Canada An Overview. 2000. 20. Engle WA. A recommendation for the definition of late preterm (near-term) and the birth weight gestational age classification system. Semin Perinatol 2006;30:2 7. 21. Hoyert DL, Mathews TJ, Menacker F. Annual summary of vital statistics: 2004. Pediatrics 2006;117:168 183. 22. Escobar GJ, Clark RH, Greene JD. Short-term outcomes of infants born at 35 and 36 weeks gestation: we need to ask more questions. Semin Perinatol 2006;30:28 33. 23. Clark RH. The epidemiology of respiratory failure in neonates born at an estimated gestational age of 34 weeks or more. J Perinatol 2005;25:251 257. 24. Stutchfield P,Whitaker R, Russell I. Antenatal betamethasone and incidence of neonatal respiratory distress after elective cesarean section: pragmatic randomized trial. BMJ 2005;331: 645 646.

10

25. Laptook A, Jackson DL. Cold stress and hypoglycemia in the late preterm ( near-term ) infant: impact on nursery of admission. Semin Perinatol 2006;30:77 80. 26. Neu J. Gastrointestinal maturation and feeding. Semin Perinatol 2006;30:24 27. 27. Bhutani VK, Johnson L. Kernicterus in late preterm infants cared for as term healthy infants. Semin Perinatol 2006; 30:89 97. 28. Kramer MS, Demissie K, Yang H, Platt RW, Sauve R, Liston R, for Fetal and Infant Health Study Group of the Canadian Perinatal Surveillance System. The contribution of mild and moderate preterm birth to infant mortality. JAMA 2000;284: 843 849. 29. Gray RF, Indurkhya A, McCormick MC. Prevalence, stability, and predictors of clinically significant behavior problems in low birth weight children at 3, 5, and 8 years of age. Pediatrics 2004;114:736 743. 30. Linnet KM, Wisborg K, Agerbo E, Secher NJ, Thomsen PH, Henriksen TB. Gestational age, birth weight, and the risk of hyperkinetic disorder. Arch Dis Child 2006;91:655 660. 31. Wang ML, Dorer DJ, Fleming MP, Catlin EA. Clinical outcomes of near-term infants. Pediatrics 2004;114:372 376. 32. Shapiro-Mendoza CK, Tomashek KM, Kotelchuck M, Barfield W, Weiss J, Evans S. Risk factors for neonatal morbidity and mortality among healthy, late preterm infants. Semin Perinatol 2006;30:55 60. 33. Tomashek KM, Shapiro-Mendoza CK, Weiss J, Kotelchuck M, Barfield W, Evans S, Naninni A, Declercq E. Early discharge among late preterm and term newborns and risk of neonatal morbidity. Semin Perinatol 2006;30:61 68. 34. Gilbert WM, Nesbitt TS, Danielson B. The cost of prematurity: quantification by gestational age. Obstet Gynecol 2003;102:488 492. 35. Alan TN. Timing of elective repeat cesarean delivery at term and neonatal outcomes. N Engl J Med 2009;360:111 120. 36. Morrison JJ, Rennie JM, Milton PJ. Neonatal respiratory morbidity and mode of delivery at term: influence of timing of elective caesarean section. Br J Obstet Gynaecol 1995;102: 101 106. 37. De Luca R, Boulvain M, Irion O, Berner M, Pfister RE. Incidence of early neonatal mortality and morbidity after latepreterm and term cesarean delivery. Pediatrics 2009;123(6):e1064 e1071. 38. Stutchfield P,Whitaker R, Russell I. Antenatal betamethasone and incidence of neonatal respiratory distress after elective caesarean section: pragmatic randomised trial. BMJ 2005;331:662 664. 39. American College of Obstetricians and Gynecologists. ACOG Committee Opinion no. 394, December 2007: cesarean delivery on maternal request. Obstet Gynecol 2007;110: 1501 1504. 40. American College of Obstetricians and Gynecologists. ACOG Committee Opinion no.97 September 2008: fetal lung maturity. Obstet Gynecol 2008;112:717 726. 41. Jido. Delaying planned cesarean delivery. Obstet Gynaecol 1999;19:142 145. 42. Nielsen TF, Hokegard K. Caesarean section and intraoperative surgical complications. Acta Obstet Gynecol Scand 1984; 63:103 108. 43. Tahseen S, Griffiths M. Vaginal birth after two caesarean sections (VBAC-2)-a systematic review with meta-analysis of success rate and adverse outcomes of VBAC-2 versus VBAC1 and repeat (third) caesarean sections. BJOG 2010;117: 5 19.

11

44. Rossi AC, D Addario V. Maternal morbidity following a trial of labor after cesarean section vs elective repeat cesarean delivery: a systematic review with metaanalysis. Am J Obstet Gynecol 2008;199:224 231. 45. Hammoud A, Hendler I, Gauthier RJ, Berman S, Sansregret A, Bujold E. The effect of gestational age on trial of labor after Cesarean section. JMatern Fetal Neonatal Med 2004;15:202 206. 46. Yap OW, Kim ES, Laros RK, Jr. Maternal and neonatal outcomes after uterine rupture in labor. Am J Obstet Gynecol 2001;184:1576 1581. 47. Miles AL, Monga M, Waller DK, Dande D, Pschirrer ER. Risk factors for symptomatic uterine rupture during a trial of labor: the 1990s.Am J Perinatol 2000;17:385 389. 48. Ofir K, Sheiner E, Levy A, Katz M, Mazor M. Uterine rupture: risk factors and pregnancy outcome. Am J Obstet Gynecol 2003;189:1042 1046. 49. Watersone M, Bewley S, Wolfe C. Incidence and predictors of severe obstetric morbidity: case-control study. BMJ 2001;322:1089 1094. 50. Cunningham FG, Gant NF, Leveno KJ, Gilstrap LC, III, Hauth JC, Wenstrom KD. Williams obstetrics. 21st ed. Philadelphia: McGraw-Hill. 2001. pp 646 647. 51. Kore S, Pandole A, Akolekar R, Vaidya N, Ambiye VR. Rupture of left horn of bicornuate uterus at twenty weeks of gestation. J Postgrad Med 2000;46:39 40. 52. LeMaire WJ, Louisy C, Dalessandri K, Muschenheim F. Placenta percreta with spontaneous rupture of an unscarred uterus in the second trimester.ObstetGynecol 2001;98:927 929. 53. Nagy PS. Placenta percreta induced uterine rupture and resulted in intraabdominal abortion. Am J Obstet Gynecol 1989;161:1185 1186. 54. Miller DA, Paul RH. Rupture of the unscarred uterus. Am J Obstet Gynecol 1996;174:345. 55. Ofir K, Sheiner E, Levy A, Katz M, Mazor M Uterine rupture: differences between a scarred and an unscarred uterus. Am J Obstet Gynecol 2004;191:425 429. 56. Hammoud A, Hendler I, Gauthier RJ, Berman S, Sansregret A, Bujold E.The effect of gestational age on trial of labor after cesarean section. J Matern Fetal Neonatal Med 2004;15:202 206. 57. Harper LM, Cahill AG, Stamilio DM, Odibo AO, Peipert JF, Macones GA. Effect of gestational age at the prior cesarean delivery on maternal morbidity in subsequent VBAC attempt. Am J Obstet Gynecol 2009;200:2761 2766. 58. Ridgeway JJ, Weyrich DL, Benedetti TJ. Fetal heart rate changes associated with uterine rupture. Obstet Gynecol 2004;103:506 512. 59. Sheiner E, Levy A, Ofir K, Hadar A, Shoham-Vardi I, Hallak M, Katz M, Mazor M. Changes in fetal heart rate and uterine patterns associated with uterine rupture. J Reprod Med 2004;49:373 378. 60. Bergholt T, Stenderup JK, Vedsted-Jakobsen A, Helm P, Lenstrup C. Intraoperative surgical complication during cesarean section: an observational study of the incidence and risk factors. Acta Obstet Gynecol Scand 2003;82:251 256. 61. Feddock CA, Hoellein AR, Wilson JF, Caudill TS, Griffith CH. Do pressure and fatigue influence resident job performance? Med Teach 2007;29:495 497.

12