Anda di halaman 1dari 14

[PDF] ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA file.upi.edu/...BAHASA_INDONESIA...BAHASA.../10_BBM_8.

pdf Jenis Berkas: PDF/Adobe Acrobat - Tampilan Cepat Apakah penggunaan bahasa Indonesia saat ini masih belum baik dan benar? Analisis kesalahan berbahasa adalah salah satu cara untuk menjawab ... 2. [PDF] Contoh Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia 2 staff.uny.ac.id/.../... Jenis Berkas: PDF/Adobe Acrobat - Tampilan Cepat Tentara dan gerilyawan saling tembak- menembak di tepi hutan. 9. Bahasa adalah merupakan sarana komunikasi yang sangat penting. 10. Kita harus menjaga ... 3. harsz al kafka: ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA INDONESIA (2) harsz-al-kafka.blogspot.com/.../analisis-kesalahan-berbahasa-indonesi... 20 Mar 2011 ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA INDONESIA (2). REVOLUSI Oleh Goenawan Muhamad Revolusi tak bisa difotokopi. Revolusi tak bisa ... 4. TULISAN BAHASA INDONESIA (SOFTSKILL) ANALISIS KESALAHAN wartawarga.gunadarma.ac.id/.../tulisan-bahasa-indonesia-softskill-ana... TULISAN BAHASA INDONESIA (SOFTSKILL) ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA INDONESIA. March 20th, 2011 Related Filed Under. Filed Under: Umum ... 5. Tugas Bahasa Indonesia Analisis Kesalahan Berbahasa Ovie Dan ... wartawarga.gunadarma.ac.id/.../tugas-bahasa-indonesia-analisis-kesal... 8 Mar 2011 OVIE DAN TIMMY. Temani aku ke mall yuk, Mon! Ovie buru buru menjejeri langakahku begitu jam pelajaran terakhir berakhir. Biasanya ... 6. Analisis Kesalahan Bahasa www.situsbahasa.info/2011/01/analisis-kesalahan-bahasa.html Analisis : Kalimat tersebut mengalami silap bahasa karena dalam kalimat tersebut terdapat kesalahan struktur dan kaidah kalimat dalam bahasa Indonesia ... 7. Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia Bahan Ajar Cetak PJJ ... bacpjj.unismuh.ac.id/new/?p=59 14 Agu 2010 Topik yang akan dibahas pada program kali ini adalah Analisis kesalahan Bahasa Indonesia. Anda memiliki kemampuan menganalisis ... 8. Analisis kesalahan berbahasa Indonesia dalam keterampilan ... openlibrary.org/.../Analisis_kesalahan_berbahasa_Indonesia_dalam_... 1 Apr 2008 Analisis kesalahan berbahasa Indonesia dalam keterampilan menulis bagi mahasiswa IKIP Ujung Pandang by Kulla Lagousi, 1989,Proyek ... 9. Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia Dal Am Tulisan Siswa ... www.scribd.com/.../Analisis-Kesalahan-Berbahasa-Indonesia-Dal-Am... 8 Apr 2011 10. [PDF] ANALISIS KESALAHAN KEBAHASAAN HASIL TERJEMAHAN ... staff.uny.ac.id/..../... Jenis Berkas: PDF/Adobe Acrobat - Tampilan Cepat oleh I Santoso - Artikel terkait Terkait dengan hal itu dalam makalah ini akan dipaparkan hasil analisis kesalahan kebahasaan teks terjemahan dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa ...

1.

ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA INDONESIA (2)


REVOLUSI Oleh Goenawan Muhamad Revolusi tak bisa difotokopi. Revolusi tak bisa dipesan. Mungkin ini kesimpulan sejak revolusi pertama dalam sejarah modern. Pada usia 20, Lafayette, aristokrat dari Auvergne, Prancis Selatan, itu berangkat ke Amerika. Ini tahun 1777, ketika belum ada harapan bagi perjuangan orang Amerika untuk membebaskan diri dari penjajahan Inggris. Saat itu Raja Prancis tak mengizinkan siapa pun bergabung dengan revolusi di benua baru itu. Tapi Lafayette punya kenekatan, ambisi, dan cita-cita luhur. Hatinya berkobar dengan keyakinan yang disuratkan Deklarasi Kemerdekaan Amerika. Ia pun berangkat dari pantai Spanyol dengan menyamar sebagai seorang perempuan. Akhirnyasetelah menyatakan diri tak hendak menerima bayaran sepeser punia diterima bergabung dengan tentara pembebasan yang dipimpin George Washington. Di antara pasukannya yang berpakaian berantakan, Jenderal Amerika itu menyambut pemuda Prancis yang kurus itu dengan hormat: Kami harus merasa malu, mempertontonkan diri di depan seorang perwira yang baru saja meninggalkan pasukan Prancis. Lafayette menjawab: Untuk belajar, dan bukan mengajar, saya datang kemari. Dan Lafayette memang belajar banyak, melalui perang, luka, intrik politikdengan gairah yang tak kunjung menciut. Ia kembali ke Prancis setelah empat tahun bertempur. Beberapa tahun kemudian ia terlibat langsung dengan Revolusi Prancis. Pada 11 Juli 1789, dialahyang darah birunya berasal dari kelas bangsawan lamayang pertama kali mengajukan rancangan Deklarasi Hak-hak Manusia dan Warga Negara: Manusia dilahirkan sama-rata dalam hak-haknya, dan tetap demikian adanya. Dalam dokumen Prancis itu, terasa gema Deklarasi Kemerdekaan Amerika yang ditulis 13 tahun sebelumnyagema sesuatu yang kemudian terbukti universal. Tapi kita tahu, Revolusi Prancis berakhir tak sama dengan Revolusi Amerika. Bung Karno pernah mengatakan, tak ada model revolusi yang ready-for-use. Masyarakat bisa diubah dengan satu desain, tapi tak akan bisa sepenuhnya terpenuhi. Sejarah dan geografi yang berbeda-

beda tak mudah diutak-atik. Manusia memang membuat sejarah, demikian kata-kata Marx yang terkenal dari tahun 1851, tapi di bawah kondisi yang bukan dipilihnya sendiri. Maka Rusia, dengan cita-cita pembebasan universal, tak bisa menyamakan kondisi Cina untuk melihat lahirnya sebuah revolusi sosialis. Jalan Mao berbeda dengan jalan Stalin. Bahkan pada akhirnya keduanya bertentangan. Rusia, Cina, Yugoslavia, Korea Utara, Kuba, dan lain-lain: revolusi tak bisa difotokopi. Tapi ia bisa menjalar. Di abad ke-20 ia menjalar ke Asia, Afrika, Amerika Latin. Kini, di awal abad ke-21, tampak ia berjangkit dari Tunisia, Mesir, Aljazair, Bahrain, Libya. Mengapa? Menulis tentang gemuruh yang terjadi di Alun-alun Tahrir, Kairo, bulan ini, Slavoj i ek menyimpulkan: pemberontakan ini universal. Seperti Lafayette tergerak Revolusi Amerika, Semua kita di seluruh dunia dengan segera tak mustahil menyamakan diri dengannya. Yang menarik, i ek melihat kontras pemberontakan di Mesir dengan revolusi Khomeini di Iran. Di sana, kaum kiri harus menyelundupkan pesan mereka ke dalam kerangka yang paling kuat, yakni Islam. Sebaliknya, di Alun-alun Tahrir, kerangka itu jelas merupakan satu seruan sekuler yang universal untuk kebebasan dan keadilan. Justru Ikhwanul Muslimin, kata i ek, menggunakan bahasa tuntutan sekuler. Kata sekuler di sini tampaknya sama dengan tak didominasi pandangan agama apa pun dan sebab itu universal, menyentuh siapa saja, di mana saja. Tapi mampukah sebuah revolusi berhasil tanpa seruan yang universal? i ek salah. Di Iran, sebenarnya kerangka Islam itu juga punya sifat-sifat universal. Kita menemukannya dalam pemikiran Ali Shariati dan Mehdi Bazargan. Yang tragis ialah bahwa bersama tenggelamnya peran pemikiran Ali Shariati dan tersisihnya orang seperti Bazargan, kian terputus pula pertalian peninggalan Khomeini dengan yang universal: Islam menjadi hanya kami, tak lagi kita. Tapi apa boleh buat: revolusi bukan sekadar penjelmaan ide yang abadi (kata-kata i ek)

tentang kemerdekaan dan keadilan. Revolusi meletus dari kehidupan yang tak terkait dengan

langit. Hak untuk mempunyai hak tak diberikan satu kekuasaan yang ada dari luar sejarah. Hak itu ditegakkan atau direbut mereka yang merasa terjepit. Itu sebabnya revolusi tak bisa dipesan. Seperti puisi, revolusi punya saatnya sendiri untuk lahir. Ia buah yang panas dari kemarahan yang otentik dan antagonisme yang mendalam. Tapi selalu jadi cacat dalam tambo manusia: dalam proses itu, pergeseran dari kita ke kami tak terelakkan. Revolusi harus mengukuhkan batas antara kami dan merekadan di situ, kita ditiadakan. Dengan kata lain, ada pembungkaman yang terjadi, ketika yang universalkemerdekaan, keadilan, harga diridilembagakan dalam program partai, ideologi negara, atau hukum. Kaum revolusioner akan harus menentukan siapa yang masuk kemerdekaan, keadilan, dan harga diri itu dan siapa yang harus dikeluarkan. Akan demikian jugakah gemuruh di Alun-alun Tahrir itu? Karim, seorang demonstran muda, menyebut lapangan itu sebuah utopia kecil. Tapi utopia, dalam arti harfiahnya, terdiri atas kata ou dan topos, bukan + tempat. Ia jejak dari satu kejadian yang akan segera hilang. Mereka yang cemas perlu mengerahkan kesetiaan yang besar untuk selalu merebut kembali yang hilang itu. Maka Lafayette tak berhenti di satu sisi Lautan Atlantikdan namanya tak tenggelam hanya sampai di abad ke-18. Revolusi tak bisa difotokopi, tapi ia tak pernah selesai. Sumber: Majalah Tempo Edisi Senin, 21 Februari 2011 Analisa kesalahan penulisan dan penggunaan tanda baca Pada paragraf pertama, terdapat kesalahan pemenggalan kalimat seharusnya tidak terlalu banyak, sehingga bisa disatukan menjadi: Revolusi tidak bisa difotokopi dan dipesan, mungkin ini kesimpulan sejak revolusi pertama dalam sejarah modern. Pada paragraf kedua, penulisan kalimat menimbulkan kerancuan dalam penalaran karena terlalu banyak pemenggalan yang tidak perlu, seharusnya ditulis: Pada usia 20 tahun, Lafayette, seorang aristokrat dari Auvergne, Prancis Selatan, berangkat ke Amerika tahun 1777, ketika belum ada

harapan bagi perjuangan orang Amerika untuk membebaskan diri dari penjajahan Inggris. Saat itu Raja Prancis tidak mengizinkan siapa pun bergabung dengan revolusi di benua baru itu. Tapi Lafayette punya kenekatan, ambisi, dan cita-cita luhur. Hatinya berkobar dengan keyakinan yang disuratkan Deklarasi Kemerdekaan Amerika. Ia pun berangkat dari pantai Spanyol dengan menyamar sebagai seorang perempuan. Pada paragraf ketiga seharusnya tidak perlu digunakan tanda karena bisa menggunakan konjungtor atau kata penghubung. Sehingga, menurut saya seharusnya ditulis Akhirnya, setelah menyatakan diri tak hendak menerima bayaran sepeser pun, ia diterima bergabung dengan tentara pembebasan yang dipimpin George Washington. Di antara pasukannya yang berpakaian berantakan, Jenderal Amerika itu menyambut pemuda Prancis yang kurus itu dengan hormat: Kami harus merasa malu, mempertontonkan diri di depan seorang perwira yang baru saja meninggalkan pasukan Prancis. Lafayette menjawab: Untuk belajar, dan bukan mengajar, saya datang kemari. Pada paragraf-paragraf selanjutnya sampai paragraf terakhir masih banyak terdapat kesalahan penulisan kalimat yang kurang lengkap sehingga menimbulkan kerancuan penalaran dan pemenggalan kalimat yang terlalu pendek serta penulisan tanda baca yang kurang tepat. Berikut ini adalah alternatif penulisan yang lebih tepat menurut saya sesuai dengan ejaan yang disempurnakan dan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Lafayette memang belajar banyak, melalui perang, luka, intrik politik dengan gairah yang tidak kunjung menciut. Ia kembali ke Prancis setelah empat tahun bertempur. Beberapa tahun kemudian ia terlibat langsung dengan Revolusi Prancis. Pada 11 Juli 1789, dia yang darah birunya berasal dari kelas bangsawan lama yang pertama kali mengajukan rancangan Deklarasi Hak-hak Manusia dan Warga Negara: Manusia dilahirkan sama-rata dalam hak-haknya, dan tetap demikian adanya. Dalam dokumen Prancis itu, terasa gema Deklarasi Kemerdekaan Amerika yang ditulis 13 tahun sebelumnya gema sesuatu yang kemudian terbukti universal. Tetapi kita tahu, Revolusi Prancis berakhir tidak sama dengan Revolusi Amerika. Bung Karno pernah mengatakan, tidak ada model revolusi yang ready-for-use. Masyarakat bisa diubah dengan satu desain, tapi tidak akan bisa sepenuhnya terpenuhi. Sejarah dan geografi yang

berbeda-beda tidak mudah diutak-atik. Manusia memang membuat sejarah, demikian katakata Marx yang terkenal dari tahun 1851, tapi di bawah kondisi yang bukan dipilihnya sendiri. Maka Rusia, dengan cita-cita pembebasan universal, tidak bisa menyamakan kondisi Cina untuk melihat lahirnya sebuah revolusi sosialis. Jalan Mao berbeda dengan jalan Stalin. Bahkan pada akhirnya keduanya bertentangan. Rusia, Cina, Yugoslavia, Korea Utara, Kuba, dan lain-lain: revolusi tidak bisa difotokopi. Tetapi ia bisa menjalar. Pada abad ke-20 ia menjalar ke Asia, Afrika, Amerika Latin. Kini, di awal abad ke-21, tampak ia berjangkit dari Tunisia, Mesir, Aljazair, Bahrain, Libya. Mengapa? Menulis tentang gemuruh yang terjadi di Alun-alun Tahrir, Kairo, bulan ini, Slavoj i ek menyimpulkan: pemberontakan ini universal. Seperti Lafayette tergerak Revolusi Amerika, Semua kita di seluruh dunia dengan segera tidak mustahil menyamakan diri dengannya. Yang menarik, i ek melihat kontras pemberontakan di Mesir dengan revolusi Khomeini di Iran. Di sana, kaum kiri harus menyelundupkan pesan mereka ke dalam kerangka yang paling kuat, yakni Islam. Sebaliknya, di Alun-alun Tahrir, kerangka itu jelas merupakan satu seruan sekuler yang universal untuk kebebasan dan keadilan. Justru Ikhwanul Muslimin, kata i ek, menggunakan bahasa tuntutan sekuler. Kata sekuler di sini tampaknya sama dengan tidak didominasi pandangan agama apa pun dan sebab itu universal, menyentuh siapa saja, di mana saja. Tetapi mampukah sebuah revolusi berhasil tanpa seruan yang universal? i ek salah. Di Iran, sebenarnya kerangka Islam itu juga mempunyai sifat-sifat universal. Kita menemukannya dalam pemikiran Ali Shariati dan Mehdi Bazargan. Yang tragis ialah bahwa bersama tenggelamnya peran pemikiran Ali Shariati dan tersisihnya orang seperti Bazargan, kian terputus pula pertalian peninggalan Khomeini dengan yang universal: Islam menjadi hanya kami, tak lagi kita. Tapi apa boleh buat, revolusi bukan sekadar penjelmaan ide yang abadi (kata-kata i ek) tentang kemerdekaan dan keadilan. Revolusi meletus dari kehidupan yang tak terkait dengan

langit. Hak untuk mempunyai hak tak diberikan satu kekuasaan yang ada dari luar sejarah. Hak itu ditegakkan atau direbut mereka yang merasa terjepit. Itu sebabnya revolusi tak bisa dipesan. Seperti puisi, revolusi punya saatnya sendiri untuk lahir. Ia buah yang panas dari kemarahan yang otentik dan antagonisme yang mendalam. Tetapi selalu jadi cacat dalam tambo manusia. Dalam proses itu, pergeseran dari kita ke kami tidak terelakkan. Revolusi harus mengukuhkan batas antara kami dan mereka dan di situ, kita ditiadakan. Dengan kata lain, ada pembungkaman yang terjadi, ketika yang universalkemerdekaan, keadilan, harga diridilembagakan dalam program partai, ideologi negara, atau hukum. Kaum revolusioner akan harus menentukan siapa yang masuk kemerdekaan, keadilan, dan harga diri itu dan siapa yang harus dikeluarkan. Akan demikian jugakah gemuruh di Alun-alun Tahrir itu? Karim, seorang demonstran muda, menyebut lapangan itu sebuah utopia kecil. Tapi utopia, dalam arti harfiahnya, terdiri atas kata ou dan topos, bukan dan tempat. Ia jejak dari satu kejadian yang akan segera hilang. Mereka yang cemas perlu mengerahkan kesetiaan yang besar untuk selalu merebut kembali yang hilang itu. Maka Lafayette tak berhenti di satu sisi Lautan Atlantik dan namanya tidak tenggelam hanya sampai di abad ke-18. Revolusi tidak bisa difotokopi dan tak pernah selesai.

KESALAHAN DALAM BERBAHASA Pengajaran bahasa merupakan hal yang sangat kompleks. Pengajaran bahasa dalam praktikya tidak akan lepas dari yang namanya kesalahn-kesalahan berbahsa. Kesalahan bahasa yang meliputi berbagai aspek ini adalah hal yang paling sulit untuk dapat dipahami oleh para pelajar atau pembelajar bahasa. Hal tersebut lebih dikarenakan karena perelu ketelitian yang sangat tinggi untuk dapat mengatasai segala kesalah-kesalahn berbahasa tersebut. Pengajaran bahasa kini lebih banyak difokuskan pada kegiatan siswa belajar. Pengajaran bahasa yang berfokus pada kegiatan guru dalam mengajar telah lama dikritik banyak orang. Setiap ada kegagalan dalam belajar anak faktor penyebabnya selalu dicari pada guru dan pengatasannya pun selalu dilakukan dari sisi guru. Akibat cara berpikir seperti itu, kegagalan belajar bahasa anak selalu terjadi sepanjang zaman dan tidak pernah teratasi secara tuntas. Analisis pengajaran bahasa dapat dilakukan berdasarkan pendekatan psikologis dalam belajar bahasa. Acuan teori psikologi yang dipakai sebagai dasar untuk menganalisis belajar bahasa antara lain psikologi behaviorisme, psikologi kognitivisme, dan psikologi mentalisme. Teori analisis kesalahan berbahasa merupakan koreksi kritis terhadap teori konstratif, bahwa pengajaran bahasa mengkontraskan kedua sistem bahasa kadang-kadang tidak ada manfaatnya., dan hanya akan membuang-buang waktu saja. Analisis kesalahan berbahasa berasumsi bahwa pengajaran bahasa hendaknya lebih difokuskan pada frekuensi terbesar kesalahan berbahasa pembelajar. Penelusuran faktor-faktor penyebab kesalahan serta jenis-jenis kesalahan yang dilakukan oleh pembelajar jauh lebih penting karena dapat dipergunakan sebagai dasar untuk memperbaiki kesalahan belajar dan kesalahan berbahasa pembelajar. Berikut ini beberapa kesalahan berbahasa yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari; 1. Mistake (salah) Merupakan penyimpangan struktur lahir yang terjadi karena penutur tidak mampu menentukan pilihan penggunaan ungkapan yang terjadi situasi dengan situasi yang ada. Mistake/ kekeliruan, terjadi ketika seorang pembelajar tidak secara konsisten melakukan penyimpangan dalam berbahasa. Kadang-kadang pembelajar dapat mempergunakan kaidah/norma yang benar tetapi kadang-kadang mereka membuat kekeliruan dengan mempergunakan kaidah/norma dan bentuk-bentuk yang keliru. Contoh : Rasanya panas. Kalau malam tidur di kamar, harus pakai kipas terus, kata Nining. Analisis : Kalimat rasanya panas untuk menggambarkan situasi udara yang panas adalah kurang tepat atau dapat dikatakan adanya kekurangtepatan penggunaan ungkapan terhadap

situasi tersebut. Maka dari itu kalimat tesebut masuk dalam mistake. Seharusnya ungkapan tersebut meggunakan ungkapan Udaranya panas agar lebih tepat. Dengan amblesnya tanggul tersebut, saat ini permukaan lumpur yang..... Analisis : penggunaan kata ambles dalam konteks tersebut adalah kurang tepat. Ungkapan tersebut masih sangat terpengaruh bahasa jawa. 2. Selip Merupakan penyimpangan bentuk lahir karena beralihnya pusat perhatian topik pembicaraan secara sesaat (kelelahan bisa menimbulkan selip bahasa). Dengan demikian selip bahasa terjadi secara tidak disengaja. Kesalahan berbahasa yang disebabkan oleh lapses tidak memiliki implikasi paedagogis yang berbahaya. Lapse, selip lidah, diartikan sebagai bentuk penyimpangan yang diakibatkan karena pembelajar kurang konsentrasi, rendahnya daya ingat atau sebab-sebab lain yang dapat terjadi kapan saja dan pada siapa pun. Contoh : Menjual barang tidak bisa memaksa orang membeli, ujar Fauzi Aziz Analisis : Selip bahasa terjadi pada kalimat tersebut. Selip terjadi karena kekurangtepatan kalimat yang digunakan yaitu kata yang diucapkan kurang. Seharusnya kata tersebut mendapat tambahan satu kata lagi agar tidak termasuk dalam selip bahasa. Kata yang dimaksud adalah kata untuk. Akan menjadi tidak selip ketika diucapkan Menjual barang tidak bisa memaksa orang untuk membeli,... 3. Silap Merupakan penyimpangan bentuk lahir dari struktur baku yang terjadi karena pemakai belum menguasai sepenuhnya kaidah bahasa. Faktor yang mendorong timbulnya kesilapan adalah faktor kebahasaan yang mengikuti pola-pola tertentu. Contoh : Semuanya sudah empat kali kejadian sama dengan yang sekarang ini. Analisis : Kalimat tersebut mengalami silap bahasa karena dalam kalimat tersebut terdapat kesalahan struktur dan kaidah kalimat dalam bahasa Indonesia yang benar. Kalimat tersebut akan bisa dikatakan kalimat yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang benar jika Semuanya sudah empat kali terjadi, termasuk yang sekarang ini. Lokasi kejadian jauh dari permukiman warga, .... Analisis : Kata permukiman dalam kalima tersebutmengalami silap bahsa. Silap dalam kaliamt tersebut kemungkinan terjadi karena kekurangpahaman akan kaidah bahasa

Indonesia yang benar. Seharusnya kata permukiman diganti dengan kata pemukiman agar kalimat tersebut menjadi kalimat yang benar atau tidak silap. Ayah dua anak itu seakan tidak memedulikan lumpur gas yang mnenyembur sekitar 20 meter dari warungnya. Analisis : Kata dalam kalimat tersebut ada yang mengalami silap bahasa. Kata memedulikan tersebut seharusnya tidak digunakan dan diganti dengan kata memperdulikan. 4. Kalimat Rancu Adalah kalimat yang struktur atau bagianya ada yang rancu atau tidak sesuai penempatanya. Contoh : Pemerintah pun mulai menggaungkan dukungan kepada industri kreatif. Analisis : Kata menggaungkan secara makna kurang tepat atau rancu jka diterapakan dalam kalimat tersebut. Kata menggaungkan tersebut dapat diganti dengan kata menyampaikan, menyerukan dsb. Jalan Raya Porong yang terletak bersebelahan di sisi barat tanggul kolam lumpur terus menurun hingga 80 sentimeter sejak ditinggikan September 2008. Analisis : Kalimat tersebut memiliki struktur yang rancu dan kurang bisa dipahami. 5. Kalimat Ambigu Merupakan kalimat yang memiliki makna lebih dari satu/ membingungkan/ ambigu. Contoh : Menurut Emi, salah seorang pemilik ruko yang terbakar, gudang oli itu mulai beroperasi sejak dua tahun lalu. Analisis : Kalimat tersebut merupakan kalimat yang ambigu atau menimbulkan tafsir ganda. Letak keambiguan dari kalimat tersebut adalah kita dapat menafsirkan makna kalimat tersebut dalam dua versi makna yaitu Emi ikut terbakar atau Emi hanyalah salah seorang dari pemilik ruko yang ikut terbakar. Muncul ikhtiar untuk mengedepankan produk-produk budaya dan berbasis teknologi, memvisualisasikanya kepada masyarakat banyak melalui pameran. Analisis : Kalimat tersebut memiliki makna ganda atau ambigu. Keambiguan tersebut dapat kita rasakan ketika memaknai kalimnat tersebut. memvisualisasikanya kepada masyarakat / banyak melalui pameran. memvisualisasikanya kepada masyarakat banyak / melalui pameran. 6. Adopsi Adalah Contoh : mengambil semuanya dengan tidak mengurangi dan tidak menambahi.

Amblesnya tanggul setinggi 11 meter itu...... Analisis : Kata meter merupakan kata yang diadopsi dari kata dalam bahasa inggris, yaitu meter. Menyusul pada tertangkapnya kata biaya tersebut sebagai imigran dilakukan dampak asal secara krisis Iran utuh keuangan dan yaitu global. pakistan. imigran. ....... Analisis : Kata imigran merupakan kata hasil adopsi dari kata asing. Pengambilan yang dilakukan Kekurangan

Analisis : Kata global adalah kata yang diadopsi dari kata dalam bahasa inggris. Kata tersebut diambil secara utuh untuk menyebutkan maksud yang sama. 7. Terjemahan Adalah interpretasi makna suatu teks dalam suatu bahasa ("teks sumber") dan penghasilan teks yang merupakan padanan dalam bahasa lain ("teks sasaran" atau "terjemahan") yang mengkomunikasikan pesan serupa. Terjemahan harus mempertimbangkan beberapa batasan, termasuk konteks, aturan tata bahasa, konvensi penulisan, idiom, serta hal lain antar kedua bahasa. Secara tradisional terjemahan merupakan suatu kegiatan manusia, walaupun banyak upaya telah dilakukan untuk mengotomatisasikan penerjemahan teks bahasa alami (terjemahan mesin, machine translation) atau menggunakan komputer sebagai alat bantu penerjemahan (penerjemahan berbantuan komputer, computer-assisted translation). Mungkin kesalahpengertian utama mengenai penerjemahan adalah adanya suatu hubungan "kata-per-kata" yang sederhana antara dua bahasa apa pun, dan karena itu penerjemahan sering dianggap langsung dan merupakan suatu proses mekanis. Pada kenyataannya, perbedaan historis antar bahasa sering memberikan perbedaan ekspresi antar keduanya. Contoh : Pencuri telepon genggam itu akhirnya diserahkan kepada polisi setelah dihajar warga. Analisis : Kata telepon genggam merupakan bentuk terjemahan. Dikatakan bentuk terjemahan karena kata tersebut didapat dari menerjemahkan kata hand phone (telepon tangan/genggam) yang merupakan kata aslinya. 8. Adaptasi Adalah menyesuaikan bentuk maupun lafalnya. Istilah adaptasi merupakan bahasa itu yang ber-/di adaptasi (oleh banyak faktor: lingkungan, geografis, dsb) sehingga menyebabkan variasi-variasi baik dalam bentuk atau pemakaiannya.

Contoh : Bahwa produk kreatif karya anak bangsa banyak yang unik. Analisis : Kalimat tersebut menagndung dua kata yang mengalami adaptasi dari kata asing. Kata tersebut adalah produk yang berasal dari kata product. Selain kata tersebut adaptasi juga terjadi pada kata kreatif yang di adaptasi dari kata creative. Ketua divisi riset.... Analisis : Kata divisi merupakan kata hasil adaptasi dari kata asing yaitu division. Desain Produk Industri................ Analisis : Dalam kalima tersebut kata desain merupakan kata hasil dari proses adaptasi. Kata yang merupakan dasar dari kata tersebut adalah kata Design yang diambil dari bahasa Inggris. Masalah kualitas dan pelayanan..... Analisis : Kata kualitas yang terdapat dalam penggalan kalimat tersebut merupakan kata hasil adaptasi dari kata Quallity yang berasal dari bahasa Inggris. Potensi anak bangsa memang........ Analisis : Kata potensi merupakan hasil adaptasi dari kata potention yang berasal dari bahasa Inggris.

DAFTAR PUSTAKA Dardjowidjodjo, Soenjono. 1995. Masalah dalam Pengajaran Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Asing di Indonesia. Kongres Internasional Pengajaran Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing , 28-30 Agustus 1995 di Universitas Indonesia, Jakarta. Pranowo. 1996. Analisis Pengajaran Bahasa. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Tarigan, Henry Guntur. 1988. Pengajaran Analisis Kesalahan Berbahasa. Bandung : Penerbit

ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA INDONESIA

Saudara mahasiswa, selamat berjumpa kembali dalam program Web pendidikan jarak jauh atau PJJ S1 PGSD. Melalui program ini kita akan bersama sama membahas topik-topik yang terkait dengan mata kuliah yang sedang Anda pelajari. kali ini kita akan membahas sebuah topik tentang mata kuliah Kajian Bahasa Indonesia SD. Topik yang akan dibahas pada program kali ini adalah Analisis kesalahan Bahasa Indonesia. Anda memiliki kemampuan menganalisis kesalahan berbahasa. Pada hakikatnya materi ini dapat diterapkan dalam pembelajaran bahasa. Jika konsep-konsep ini benar-benar dipahami dan dikuasai, tentu Anda akan dapat menerapkannya dengan baik yang pada gilirannya tujuan Kajian Bahasa Indonesia akan tercapai. Untuk mencapai kompetensi yang diharapkan, maka dalam unit ini Anda akan menikmati sajian yang disusun dalam dua subunit berikut ini. 1. Subunit 1 Kesalahan Penggunaan Ejaan 2. Subunit 2 Kesalahan Diksi Anda dapat mempelajari unit ini dengan menggunakan alat bantu video, web, atau yang lainnya. Jika menemui kesulitan dalam memahami materi kajian bahasa Indonesia ini, silakan Link yang tersedia. Hakikat Kesalahan Berbahasa A. Pengertian Kesalahan Berbahasa Kesalahan berbahasa adalah pemakaian bentuk-bentuk tuturan yang tidak diinginkan, khususnya suatu bentuk yang tidak diinginkan oleh penyusun program dan guru. Hal ini sesuai dengan pendapat Albert Valdman yang mengatakan bahwa yang pertamapertama harus dipikirkan sebelum mengadakan pembahasan tentang menetapkan standar penyimpangan atau kesalahan. Sebagian besar guru bahasa menggunakan kriteria ragam bahasa baku sebagai standar penyimpangan. B. Kesalahan Penggunaan Ejaan 1.Analisis Penulisan Kata Dasar dan Jadian 2. Analisis Penulisan Kata Depan 3. Analisis penulisan kata serapan dari bahasa Asing C. Analisis Pemakaian Tanda Baca 1. Analisis pemakaian tanda baca titik (.)

2. Analisis Pemakaian Tanda Baca Koma (,) 3. Analisis Pemakaian Tanda Titik Koma 4. Analisis Pemakaian Tanda Titik Dua (:) 5. Analisis Pemakaian Tanda Hubung D. Penggunaan Ejaan Perlu dilihat kembali bahwa ejaan merupakan konvensi suatu bahasa. Oleh sebab itu, ejaan hanya berlaku untuk bahasa yang bersangkutan. Ejaan yang berlaku di Indonesia adalah EYD. Hal-hal yang berkaitan dengan kapan tanda baca itu digunakan dan bagaiman cara menggunakan dapat dibaca dalam buku EYD. E. Contoh Kesalahan Berbahasa A. B. C. Huruf Kapital/Besar Penulisan Kata Tanda Baca