Anda di halaman 1dari 12

http://berita.liputan6.

com/read/52312/keberadaan_sars_di_indonesia_diumumkan_hari_i ni Keberadaan SARS di Indonesia Diumumkan Hari Ini

Artikel Terkait
Pekerja Hongkong dari Kendal Diduga Menderita SARS Depkes Membentuk Posko Pemantau Penyebaran Virus SARS Uni: "Yang Sehat, Lari Juga Sesak Napas" Penumpang Bandara Soekarno-Hatta Diberi Kartu Waspada Kesehatan Pemerintah Menyiapkan Undang-undang Wabah
03/04/2003 08:18

Liputan6.com, Jakarta: Pemerintah akan mengumumkan hasil tes penyakit Severe Acute Respiratory Syndrome(SARS) atau sindrom radang pernapasan akut parah terhadap tiga WNI yang diduga terjangkit virus tersebut, Kamis (3/4) ini. Selain itu, pemerintah juga akan mengesahkan bahwa SARS adalah wabah penyakit berbahaya yang harus diantisipasi di Indonesia. Kepastian ketiga orang tersebut menderita SARS atau tidak didasarkan pada tes serologi (tes antivirus dari sampel darah). Untuk itu, sampel darah mereka dibawa ke Atlanta, Amerika Serikat lantaran di Indonesia belum ada peralatan tes serologi [baca: Depkes Membentuk Posko Pemantau Penyebaran Virus SARS]. SARS pertama kali ditemukan di Propinsi Guangdong, Cina, November 2002. Penyebaran virus pneumonia (penyakit infeksi jaringan paru-paru) yang tak biasa itu kini mencapai 15 negara, termasuk Singapura dan Kanada. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa hingga kemarin, SARS sudah menewaskan 62 orang di seluruh dunia dari 1.804 kasus SARS. Untungnya, Indonesia masih dinyatakan sebagai negara yang bebas dari virus mematikan tersebut. Namun begitu, untuk mengantisipasi, pemerintah tetap membentuk posko untuk memantau perkembangan penyebaran virus SARS, terutama dari tiga pelabuhan internasional dan sembilan bandar udara di Tanah Air. Di antaranya yang dilakukan Pemerintah Provinsi Jambi di Bandara Sultan Thaha dan Pelabuhan Laut Samudra, dan Kuala Tungkal. Jajaran pemprov setempat mengatakan, lokasi Jambi yang berdekatan dengan Singapura sangat memungkinkan menjadi pintu masuk penyebaran SARS. Apalagi, jalur transportasi Singapura-Jambi dikenal cukup padat. Begitu juga dengan kabar angin yang menyebutkan bahwa sejumlah warga Jambi terserang virus SARS. Yang terakhir ini, Kepala Dinas Kesehatan Jambi Oscar Karim langsung membantah. Menurut dia, hingga kini, tak seorang warga Jambi pun diidentifikasi menderita SARS. Hingga Rabu malam, petugas di sejumlah posko SARS mengaku belum menemukan kasus penderita SARS di Indonesia. Jika petugas menemukan kasus tersebut, yang bersangkutan akan dibawa ke rumah sakit yang sudah ditentukan. Khusus di Jakarta, penderita akan dirujuk ke RS Persahabatan, Jakarta Timur dan RS Sulianti Saroso, Jakarta Utara Kepala Sub Direktorat Survailans Epidemologi Imunologi Depkes dokter Azimal mengatakan, karena belum ada obatnya, penyembuhan masih dilakukan dengan pengobatan suportif atau dengan cara menyembuhkan gejala-gejala penyakit. Pemerintah juga bakal memberlakukan travel advisory agar warga negara Indonesia untuk sementara waktu tidak bepergian ke negara-negara yang terjangkit SARS. Selain itu, pemerintah juga melarang bayi di bawah usia lima tahun dan lanjut usia untuk berangkat ke negara-negara yang terkena wabah SARS [baca: Antisipasi SARS, Travel AdvisoryAkan Diberlakukan]. Dengan kebijakan itu, jajaran Departemen Kesehatan bersama Dirjen Imigrasi berwenang menahan dan mengkarantina orang-orang yang dicurigai menderita SARS. Sayangnya, kebijakan ini memicu masalah lainnya. Banyak pihak mempertanyakan kesiapan jajaran pemerintah di lapangan dalam menangani SARS. Sebagai contoh, jumlah masker untuk mencegah SARS hingga kini masih terbatas. Demikian pula kesiapan rumah sakit rujukan baik di Jakarta maupun di daerah. Informasi terbaru yang dihimpun SCTV menyebutkan, WHO mengeluarkan peringatan bagi para wisatawan untuk tidak mengunjungi Hongkong dan Provinsi Guandong di Cina. Kedua wilayah

tersebut diklaim sebagai kawasan paling banyak ditemukan kasus penyakit SARS. Ada ratusan pendeita SARS di Hongkong dan Guandong. Peringatan kesehatan ini adalah kali pertama yang dikeluarkan WHO. Soalnya pihak WHO sendiri mengaku tak menyangka bahwa wabah ini terus meluas. Khusus di Hongkong, 16 orang meninggal karena SARS dan 23 kasus penderita SARS baru ditemukan sehingga total orang yang terinfeksi virus tersebut di Hongkong mencapai 708 orang. Pemimpin Hongkong Tung Chee Hwa mengungkapkan bahwa Presiden Cina Hu Jintao telah menanyakan perihal perkembangan situasi di daerah yang terjangkit SARS. Di Hongkong, kawasan pemukiman padat penduduk di Kowloon menjadi wilayah yang rentan penyebaran SARS. Orang ketiga yang menjadi korban keganasan SARS berasal dari Perumahan Amoy Gardens di Kowloon. WHO dan sejumlah ahli kesehatan Hongkong berpendapat, infeksi SARS yang menjangkit di satu blok mengindikasikan virus tersebut bisa menyebar melalui air atau sistem pengairan dan tak cuma melalui kontak tubuh serta udara.(SID/Tim Liputan 6 SCTV

Ditemukan Satu Kasus Probable SARS di Indonesia


Di Indonesia sampai dengan tanggal 11 April 2003 telah diketemukan 1 kasus probable SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) atau Penyakit Pernafasan Gawat Mendadak, setelah sehari sebelumnya diumumkan 1 orang dilaporkan sebagai suspect case. Dengan demikian perkembangan kasus SARS di Indonesia sampai dengan 11 April 2003 adalah 1 orang suspect dan 1 orang probable. Probable case tersebut adalah warga negara Inggris keturunan China yang datang dari Hongkong dan Singapura sebelum ke Indonesia. Sedangkan profesinya adalah seorang businessman. Dirawat di RS Penyakit Sulianti Saroso sejak 9 April 2003.

Demikian Dr. Sjafii Ahmad, MPH Sekretaris Ditjen Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan

Lingkungan (PPM dan PL) Depkes pada Jumpa Pers usai rapat Koordinasi Penanggulangan SARS yang dipimpin Dirjen PPM dan PL Prof. Dr. Umar Fahmi Achmadi di Depkes tanggal 11 April 2003. Dr. Sjafii menambahkan sampai saat ini pasien "Observasi SARS" yang dirawat di rumah sakit dari berbagai daerah berjumlah 10 orang. Mereka dirawat di RS Penyakit Infeksi Sulianto Saroso 6 orang, RSU Banyumas 1 orang, RSU Dr. Muwardi Solo 1 orang, RSU Dumai 1 orang dan RSU Mataram 1 orang. Menurut pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang dilaporkan adalah kasus probable, sehingga dengan demikian Indonesia akan melaporkan kasus probable ini ke WHO. Dr. Sjafii minta kepada para wartawan untuk tidak membesar-besarkan kasus ini agar masyarakat tidak panik. Ditambahkan, 90% kasus SARS dapat disembuhkan dan hanya 3,8 % yang mengakibatkan kematian. Setelah diketemukannya 1 kasus probable di Indonesia, maka upaya yang dilakukan Depkes tidak hanya sampai penemuan kasus dan melaporkan ke WHO saja, namun akan diikuti dengan kegiatan-kegiatan lain agar tidak terjadi penularan secara horizontal kepada masyarakat (community transmission). Sementara itu Prof. Hadiarto Mangunnegoro, Ketua Tim Pakar Penganggulangan SARS menambahkan, dari literatur yang dipelajari dari Hongkong terdapat 50 kasus yang digolongkan ke dalam probable complicated dan probable uncomplicated. Yang dimaksud probable complicated misalnya usianya 60 tahun keatas, ada diabetes, stroke dan asma. Umumnya yang meninggal adalah yang probable complicated. Sedangkan suspect di Banyumas umurnya 27 tahun tidak ada tanda-tanda penyakit lain jadi tergolong uncomplicated dan kondisinya memang membaik. Dr. Tjandra Yoga Adhitama, Sp.P, Ketua Tim Verifikasi menyatakan kondisi suspect case maupun probale case bisa setiap waktu statusnya berubah-ubah. Bisa menjadi lebih baik atau sebaliknya. Untuk kedua kasus di Indonesia ini kondisi kesehatannya semakin baik dibandingkan hari-hari sebelumnya. Berita ini disiarkan oleh Bagian Humas Biro Umum dan Humas Setjen Depkes RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi telp./fax. 5223002. http://www.depkes.go.id/index.php/berita/pressrelease/498-ditemukan-satu-kasus-probablesars-di-indonesia.html

SARS. K etika mendengar kata itu, pasti ada perasaan ngeri. Ya ,bagaimana tidak, SARS dulu pernah menjadi pandemic yang banyak dipermasalahkan berbagai Negara karena mempengaruhi perekonomian negara khususnya dibidang penerbangan, pariwisata dan tenaga kerja. Adanya negara/wilayah yang terjangkit SARS menyebabkan berkurangnya jumlah penerbangan dan jumlah penumpang dengan tujuan negara/wilayah tersebut. Sebagai contoh antara lain dampak terhadap airline yang dimuat di Majalah Bussines News tanggal 4 April 2003 yang memberitakan jumlah penumpang GIA dari Singapura turun hingga 20 %, biro perjalanan juga melaporkan penurunan penumpang antara 50 70 %. SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) atau dalam bahasa Indonesia sering dikenal dengan Sindrom Pernapasan Akut Berat adalah sebuah penyakit mirip pneumonia dengan onset yang sangat akut. Penyakit ini disebabkan oleh virus SARS yang tergolong corona virus. Sampai sekarang SARS belum ditemukan obatnya. Sekitar 10% dari penderita SARS meninggal dunia. Kasus SARS pertama kali ditemukan di propinsi Guangdong ( China ) pada bulan November 2002. Pada saat itu Tiongkok tidak langsung memberitahu WHO mengenai wabah tersebut. Kasus wabah tersebut baru terlaporkan ke WHO pada Februari 2003. Pada waktu itu gejala-gejala tersebut disebut sebagai Atypical Pneumonia atau Radang Patu Atipik. Informasi WHO ini menjadi dasar bagi DepKes untuk secara dini pada bulan Februari 2003 menginstruksikan kepada seluruh Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP ) di Indonesia yang mengawasi 155 bandara, pelabuhan laut dan pos lintas batas darat untuk meningkatkan kewaspadaan dan mengambil langkah-langkah penangkalan yang perlu. Pada Maret 2003 ,WHO mulai mengumumkan adanya penyakit baru tersebut yang diberi nama SARS. Kemudian WHO juga mengumumkan ke seluruh dunia bahwa SARS merupakan ancaman global (global threat). Pertimbangan WHO menyatakan SARS sebagai ancaman global adalah SARS merupakan penyakit baru yang belum dikenal penyebabnya. SARS menyebar secara cepat melalui transportasi antar negara dan SARS terutama menyerang tenaga kesehatan di rumah sakit.

Wabah SARS telah mendorong berbagai pakar kesehatan di dunia untuk bekerja sama menemukan penyebab SARS dan memahami cara penularan SARS. Atas kerjasama para pakar dari 13 laboratorium di dunia maka tanggal 16 April 2003 dipastikan bahwa penyebab SARS adalah Virus Corona atau Coronavirus.

Gejala dan tanda fisik Gejala yang muncul pertama kali seperti flu biasa, dan bisa mencakup demam,myalgia, lethargy, gejala gastrointestinal, batuk, radang tenggorokan dan gejala non-spesifik lainnya. Satu-satunya gejala yang sering dialami seluruh pasien adalah demam di atas 38 C (100.4 F). Pasien dapat merasakan sesak nafas apabila kondisinya sudah semakin parah. Tanda fisik tidak terlalu spesifik, bahkan kadang-kadang tidak ada. Beberapa pasien dapat mengalami tachypnea dan pada asukultasinya terdengar suara crakle. Dari pengamatan di sinar X dapat terlihat gambaran seperti pneumonia, yaitu konsolidasi yang hampir memenuhi kedua paru. Cara Penularan Penularan melalui kontak langsung berhadapan, baik karena berbicara, batuk atau bersin. Penularan melalui udara, misalnya penyebaran udara, ventilasi, dalam satu kendaraan, dalam satu gedung, tidak terjadi asal tidak kontak langsung berhadapan. Masa inkubasinya adalah 3-10 hari setelah paparan pertama terhadap virus. Diagnosis

Diduga Kuat (Suspect Case) adalah seseorang setelah 1 Februari 2003,


menderita sakit dengan 3 gejala berikut : Demam tinggi (>38C)

Satu atau lebih gangguan pernapasan, yaitu batuk,napas pendek, dan kesulitan bernapas Satu atau lebih dari keadaan berikut :

Dalam 10 hari terakhir sebelum sakit, mempunyai riwayat kontak erat dengan seseorang yang telah didiagnosa sebagai penderita SARS *). Dalam 10 hari terakhir sebelum sakit, melakukan perjalanan ke tempat yang dilaporkan adanya penderita SARS **). *) Yang dianggap sebagai kontak erat adalah orang yang merawat, tinggal serumah atau berhubungan langsung dengan cairan saluran pernapasan atau jaringan tubuh seorang penderita SARS. **) Yang dimaksud dengan tempat yang dilaporkan adanya penderita SARS adalah sesuai dengan ketatapan WHO sebagai affected area yang pada tanggal 1 April Canada (Toronto), Singapura, China (Propinsi Guangdong, Hong Kong Special Administrative Region of China, Shanxi, Taiwan) dan VietNam (Hanoi)

Diduga Sangat Kuat (Probable Case) adalah kasus suspek dengan


gambaran foto thorax menunjukkan tanda-tanda pnemonia atau respiratory distress syndrome, atau Seseorang yang meninggal karena penyakit saluran pernapasan yang tidak jelas penyebabnya , dan pada pemeriksaan autopsi ditemukan tanda patologis berupa respiratory distress syndrome yang tidak jelas penyebabnya.

Pasti SARS adalah seseorang yang menderita sakit dengan gejala demam tinggi
dan ditemukannya bukti serologi atau virus penyebab. Lalu dalam pencegahan terjadinya penyebaran SARS ini apa saja yang telah dilakukan oleh Depkes? Departemen Kesehatan secara dini dan sejak awal pandemi SARS pada bulan Maret tahun 2003 melaksanakan Penanggulangan SARS dengan tujuan mencegah terjadinya kesakitan dan kematian akibat SARS dan mencegah terjadinya penularan SARS di masyarakat (community transmission) di Indonesia. Langkah pertamanya adalah penetapan keputusan Menteri Kesehatan No. 424

Tahun 2003 tentang SARS . Dengan penetapan ini maka Undang-undang


nomor empat tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular dapat diterapkan dalam penanggulangan SARS. Diantaranya adalah

1. Public awareness untuk memberi pengetahuan dan kewaspadaan tentang SARS kepada masyarakat luas termasuk kepada jajaran kesehatan, sektor di luar Departemen Kesehatan dan jajaran pemerintah daerah serta LSM, Ikatan Profesi dan lain-lain. Dalam hal ini dibentuk Tim Sosialisasi dan Advokasi untuk melakukan Advokasi dan sosialisasi melalui buku panduan, flyer, leaflet, poster, dan booklet. 2. Mengaktifkan Kelompok Kerja Ditjen Pem-berantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (PPM dan PL) Depkes dengan membuka Pos Koordinasi (Posko) SARS dan pelayanan Hotline Services 3. Dilakukan pembagian Kartu Kewaspadaan Kesehatan (Health Alert Card) kepada seluruh penumpang dari negara terjangkit SARS. Dengan per-timbangan intensitas arus penumpang dari dan ke luar negeri yang tinggi, maka pengamatan terhadap kemungkinan masuknya SARS difokuskan kepada 16 KKP di Indonesia yaitu : Medan, Tanjung Balai Karimun, Tanjung Pinang, Batam, Tanjung Priok, Cengkareng, Surabaya, Denpasar, Makassar, Manado, Banjarmasin, Pontianak, Tarakan . Pada kesempatan tersebut Departemen Kesehatan membagikan masker untuk digunakan para petugas kesehatan baik di rumah sakit maupun KKP, Poster SARS dan Buku Petunjuk Penanganan Infeksi SARS di Rumah Sakit.

4. Terdapat 45 KKP yang mengawasi 155 bandara, pelabuhan laut dan pos lintas darat yang tersebar di seluruh Indonesia. Selain itu ada 24 KKP yang mengawasi bandara/pelabuhan laut yang disinggahi alat angkut (peasawat udara dan kapal laut) yang datang dari negara terjangkit SARS. di Bandara Soekarno Hatta akan dipasang 6 set Thermal Scanners yaitu masing-masing 2 set di Terminal 3 (Khusus TKI), Terminal D Kedatangan, Terminal E Kedatangan. Sedangkan bantuan 4 set Thermal Scanners dari pemerintah Singapura masing-masing 2 set ditempatkan di Terminal D Kedatangan dan 2 set di Terminal E Kedatangan. Untuk petugas KKP telah dilakukan pelatihan petugas dan penyediaan barrier nursing protection.

5. Menyiapkan Rumah Sakit yang dijadikan Rumah Sakit rujukan SARS. Ada 34 rumah sakti yang ditunjuk. Pemilihan rumah sakit tersebut berdasarkan kriteria yaitu berada di pintu masuk laut ataupun udara dari luar negri, seta merupakan wilayah TKI yang baru pulang dari luar negri. Dari 34 rumah sakit tersebut 6 rumah sakit ditetapkan sebagai rumah sakit rujukan utama, yaitu RS H.Adam Malik Medan, RS Otorita Batam, RSUP Dr. Kariadi Semarang, RSUD Dr. Sutomo Surabaya, RSUP Sanglah Denpasar dan RSUP. Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar. Tiap rumah sakit rujukan utama tersebut diberikan dana Rp. 100 juta rupiah untuk penyiapan ruang isolasi dan triase. Dalam ruang isoalsi minimal terdapat 2 tempat tidur (TT) untuk kasus probable dan 4 TT untuk kasus suspek. Selain itu diberikan alat-alat untuk proteksi perorangan dan alat-alat universal precaution dan peralatan medik. Untuk RS Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso sebagai RS Rujukan Nasional SARS disiapkan 20 TT bagi penderita dan 50 TT bagi perawatan pasca sembuh namun masih infeksius, 3 ambulans khusus SARS, peralatan medik dan alat proteksi perorangan. saat ini sedang dibuat EWORS ( Early Warning Outbreak Recognition System ) di 34 RS Rujukan untuk aspek hospotal base surveilans. Setiap RS rujukan dibentuk Tim Penanggulangan SARS di rumah sakit, pelatihan bagi perawat untuk pengetahuan tentang universal precaution, workshop dan pelatihan tentang Strict Barrier Hospital and Nursing Care dengan dana antara lain dari bantuan WHO sebesar Rp. 485.724.300,-. 6. Pemeriksaan laboratorium merupakan salah satu respon awal untuk pemeriksaan laboratorium SARS dilakukan bekerja sama dengan US NAMRU-2 Jakarta dalam mengambil spesimen dari kasus suspek dan probable dan kemudian dikirim ke CDC Atlanta. Untuk mendukung ini Depkes telah menyusun pedoman untuk pengambilan dan pengiriman spesimen berdasarkan pada pedoman WHO dan CDC. Petugas laboratorium dari rumah-rumah sakit provinsi telah dilatih menggunakan pedoman tersebut. 7. Pemerintah Indonesia mengeluarkan Travel Advisory, yaitu menganjurkan agar warga negara Indonesia yang akan berkunjung ke negara / wilayah terjangkit SARS menunda dulu. Namun apabila suatu sebab terpaksa harus berkunjung hendaknya memperhatikan : (1) Tidak membawa orang lanjut usia atau anak balita (2) Mempersiapkan diri dalam pencegahan SARS (3) Memperhatikan petunjuk jajaran kesehatan setempat tentang pencegahan SARS.

Berkat kecekatan Depkes dan dibantu oleh rakyat Indonesia, Indonesia berhasil mencegah terjadinya penyebaran SARS. Selama ini kasus yang ditemukan di Indonesia antara lain 2 kasus probable dan 7 kasus suspect. Namun setelah hasil leb dikirimkan ke CDC, Atlanta, semuanya hasilnya negative. Namun, masyarakat Indonesia harus tetap waspada karena masih ada wilayah di luar Indonesia yang masih menunjukkan penularan secara local ke wilayah tersebut. Oleh karena itu pengamatan penyakit SARS melalui kegiatan surveilans SARS akan terus dipertahankan dan ditingkatkan misalnya pre departure screning tetap akan diberlakukan begitu pula Arrival Screening berupa pengisian Health Alert Card
http://annisatridamayanti.wordpress.com/2010/11/17/langkah-optimal-terhadap-sarsdi-indonesia/

Langkah Optimal Untuk Mencegah Penyebaran SARS di Indonesia


Mencermati situasi masyarakat Indonesia yang resah bahkan cenderung panik terhadap kemungkinan timbulnya SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) atau Penyakit Pernafasan Gawat Mendadak di Indonesia, maka pemerintah menerapkan Undang Undang No. 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular dengan menetapkan Keputusan Menteri Kesehatan No. 424/MENKES/SK/2003 tentang SARS sebagai penyakit yang dapat menimbulkan wabah dan pedoman penanggulangannya pada tanggal 3 April 2003. Dengan keputusan tersebut pemerintah memiliki landasan yang kuat untuk mengambil langkah-langkah yang efektif guna mencegah penyebaran SARS di seluruh wilayah Indonesia. Karena itu diharapkan semua pihak untuk bersama-sama mengambil langkah optimal guna mencegah penyebaran SARS di Indonesia. Demikian penegasan Menkes Dr. Achmad Sujudi ketika membuka Pertemuan Koordinasi Penanggulangan Penyakit SARS di kantor Depkes Jakarta tanggal 5 April 2003. Pertemuan dihadiri Ketua Komisi VII DPR Drs. P.L. Tobing, Wakil Ketua Komisi VII Dr. Surya Chandra dan Gubernur Jawa Timur H. Imam Utomo serta 150 peserta. Mereka adalah para pejabat yang mewakili Gubernur dan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi yang mempunyai akses dengan luar negeri, para pejabat Depkes, pejabat dari Kantor Meneg Kebudayaan dan Pariwisata, pejabat dari Departemen Perhubungan, pejabat dari Departemen Kehakiman dan HAM serta para para Direktur Rumah Sakit dan Kepala Kesehatan Pelabuhan. Lebih lanjut ditegaskan, penyebaran SARS dimulai sejak 16 November 2002 di provinsi Guangdong China, namun Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) baru mengumumkan SARS di China sebagai wabah pada tanggal 11 Februari 2003. Tetapi perkembangan SARS yang begitu cepat menyebar ke beberapa negara maka sejak tanggal 15 Maret 2003, oleh WHO dinyatakan sebagai ancaman global. Menyikapi hal itu, tanggal 16 Maret 2003 Departemen Kesehatan melakukan kesiapsiagaan dengan melakukan koordinasi dengan Perwakilan WHO di Jakarta. Kemudian mengaktifkan Kelompok Kerja Ditjen Pem-berantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (PPM dan PL) Depkes dengan membuka Pos Koordinasi (Posko) SARS dan pelayanan "Hotline Services" serta menyiapkan RS Penyakit Infeksi Sulianto Saroso sebagai rumah sakit rujukan SARS. Selain itu, Depkes juga meningkatkan komunikasi dan langkah-langkah koordinasi dengan seluruh jajaran Dinas Kesehatan Provinsi di Indonesia, seluruh rumah sakit di ibukota provinsi dan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) untuk mengambil langkah yang perlu dalam menangkal masuknya SARS ke wilayah Indonesia. Melakukan komunikasi dan koordinasi dengan seluruh jajaran instansi pemerintah terkait seperti Departemen Perhubungan, Ditjen Imigrasi, Depdagri dan Deplu serta menyiapkan rencana operasional dan dukungan logistik kesehatan. Menkes menambahkan, berdasarkan surat edaran Depkes tanggal 16 Maret 2003 kepada seluruh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi, KKKP dan Balai Teknik Kesehatan Lingkungan di seluruh Indonesia, pada tanggal 17 Maret 2003 dilakukan pembagian Kartu Kewaspadaan Kesehatan (Health Alert Card) kepada seluruh penumpang dari negara terjangkit SARS. Dengan per-timbangan intensitas arus penumpang dari dan ke luar negeri yang tinggi, maka pengamatan terhadap kemungkinan masuknya SARS difokuskan kepada 16 KKP di Indonesia yaitu : Medan, Tanjung Balai Karimun, Tanjung Pinang, Batam, Tanjung Priok, Cengkareng, Surabaya, Denpasar, Makassar, Manado, Banjarmasin, Pontianak, Tarakan Pada kesempatan tersebut Departemen Kesehatan membagikan masker untuk digunakan

para petugas kesehatan baik di rumah sakit maupun KKP, Poster SARS dan Buku Petunjuk Penanganan Infeksi SARS di Rumah Sakit. Berita ini disiarkan oleh Bagian Humas Biro Umum dan Humas Setjen Depkes. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi telp./fax. 5223002. http://www.depkes.go.id/index.php/berita/press-release/496-langkah-optimal-untuk-mencegahpenyebaran-sars-di-indonesia.html