Anda di halaman 1dari 6

5.1.

1 Software DAMBRK Penggunaan Software Model DAMBRK dipilih oleh Konsultan karena mempunyai penerapan yang lebih luas, yang berfungsi dengan berbagai tingkatan data masukan dari yang perkiraan kasar hingga data dengan spesifikasi lengkap. Model DAMBRK ini telah digunakan terutama di Amerika Serikat serta negara-negara lain. Model ini telah distudi selama kurun waktu 7 tahun terakhir dengan membandingkan dengan analisis Model yang lain. Dari informasi yang didapat diketahui bahwa Model DAMBRK ini lebih fleksible dibanding model-model yang lain karena ketelitiannya, rentang penerapannya serta relatif lebih mudah dalam pemakaiannya. Model DAMBRK menyajikan cara-cara untuk dapat mengerti dan gerakannya ke arah hilir. a). Keunggulan Model DAMBRK kehancuran bendungan dengan menggunakan teori Hidrodinamik untuk meramal pembentukan gelombang Dam Break

Model DAMBRK mempunyai 3 (tiga) bagian Fungsional yaitu: Uraian Modus Kehancuran bendungan menyangkut Geometri Rekahan Perhitungan Hidrograf aliran keluar lewat rekahan yang dipengaruhi oleh bentuk dan ukuran rekahan, aliran masuk ke waduk, karakteristik tampungan, aliran keluar dari spillway dan elevasi tailwater Routing dari outflow hydrograph lewat lembah hilir untuk menentukan perubahan hidrograf akibat adanya tampungan di lembah, hambatan geser, jembatan atau bendungan di hilir dan untuk menentukan elevasi muka air dan waktu tempuh gelombang banjir. Routing Aliran Lumpur/Debris dengan menggunakan Hidrograf dari hulu Profil Muka air tinggi sepanjang lembah Waktu kedatangan banjir (time concentration, Tc) yang merupakan standar output dari Model Hasil Input maupun Output dapat menggunakan satuan Metrik (SI) maupun Imperial (fpi) b). Keterbatasan Program DAMBRK Routing sungai didasarkan pada persamaan matematika satu dimensi untuk Aliran Unsteady Flow dalam open channel. Hal ini berakibat penampang melintang tegak lurus arah aliran sehingga muka air horizontal dalam cross section. Karena pada situasi ini tercakup adanya off channel yang besar dan waktu yang panjang untuk pengisian dan pengosongan maka tidak dapat disimulasikan dengan teliti. Batas alur yang diasumsikan adalah Batas Alur Kaku, yaitu penampang melintangnya tidak berubah bentuk akibat adanya gradasi dan agradasi pada alur

Selain itu keunggulan DAMBRK adalah dapat mengetahui hasil seperti: -

sungai, jadi perubahan alur akibat adanya keruntuhan bendungan tidak diakomodasikan. Selain itu perubahan kekasaran alur akibat rambat gelombang banjir juga tidak dapat disimulasikan karena nilai dari n-Manning merupakan fungsi dari waktu (dt) Kondisi elevasi kolam waduk tempat rekahan mulai timbul, kecepatan perkembangannya, bentuk dan ukuran akhir rekahan harus ditentukan sendiri. Jadi hanya estimasi kasar yang digunakari harus dievaluasi. Keruntuhan bendungan pada jaringan sungai yang dendritik tidak dapat disimulasikan Pada permulaan simulasi sungai tidak dapat kering, jadi tetap harus ada base flow Perubahan aliran dari Subkritis ke Superkritis tidak dapat dihitung, sehingga kemungkinan terjadi Non Konvergensi sangat besar, akibatnya perlu koreksi apabila terjadi hal tersebut. c). Ikhtisar Model

DAMBRK digunakan utnuk membuat suatu hidrograf aliran keluar dari bendungan dan merouting banjir yang terjadi secara hidrolis di sepanjang lembah hilir. Persamaan yang digunakan untuk model DAMBRK adalah persamaan St. Venant yang lengkap dengan dimensi satu untuk aliran Unsteady Flow yang dikaitkan dengan persamaan Batas Internal (Internal Boundary equations) sebagai aliran berubah cepat (rapidly varied flow) lewat struktur seperti bendungan dan jembatan/timbunan yang dapat berkembang menjadi rekahan yang tergantung pada waktu (time dependent). Juga digunakan Batas External pada ujung hulu dan hilir dari routing reach. Sistem persamaannya diselesaikan dengan Metode Finitedifference Implisit 4-titik timbang Non Linear. Alirannya dapat berupa aliran subkritis maupun superkritis atau kombinasi keduanya. Sifat zat cair mengikuti prinsip aliran Newton atau Non Newton. Hidrograf ditentukan sebagai masukan berupa deret kala (time series). Kemungkinan keberadaan bendungan di hilir yang dapat direkahkan oleh banjir, penyempitan aliran karena adanya jembatan/timbunan, aliran masuk dari anak sungai, adanya belokan-belokan sungai, tanggul yang terletak di sepanjang sungai hilir dan pengaruh pasang surut muara ditinjau secara baik selama merambatnya gelombang banjir ke hilir. d). Uraian Rekahan Rekahan (breach) adalah bukaan yang terbentuk dalam bendungan pada waktu mengalami kehancuran. Mekanisme kehancurannya belum banyak diketahui baik untuk bendungan tanah maupun beton. Dalam percobaan permulaan untuk meramal banjir di hilir akibat hancurnya suatu bendungan, biasanya dianggap bahwa kehancuran bendungan terjadi secara total dan mendadak. Para peneliti gelombang banjir dam-break seperti Ritter (1892), Schicklitsch (1917), Re (1946), Dressler (1954), Stoker (1957), Su dan Barnes (1969) serta Sakkas dan Strelkoff (1973) menganggap bahwa rekahan meliputi seluruh tubuh bendungan dan terjadi secara mendadak. Peneliti lain seperti Schocklitsch (1917) dan US Corps of Engineers (1960), mengakui keperluan untuk menganggap rekahan sebagian dibandingkan rekahan

total, tetapi rekahan terjadi secara mendadak. Anggapan rekahan total dan mendadak digunakan untuk alasan guna memudahkan bila menggunakan teknik matematik untuk menganalisis gelombang banjir dam break. Asumsi tersebut agak mendekati kebenaran untuk bendungan pelengkung beton (concrete arch dam), sedangkan untuk bendungan tanah, bendungan rockfill dan concrete gravity dam kurang betul. Untuk alasan penyederhanaan masalah dan untuk mengatasi ketidakketentuan dalam mekanisme kehancuran yang sebenarnya, program DAMBRK NWS memungkinkan peramalnya menginput interval waktu kehancuran ( dan bentuk serta ukuran akhir ) rekahan (Fread dan Harbaugh, 1973) e). Rekahan Overtopping Kehancuran karena overtopping rekahannya disimulasikan sebagai penampang berbentuk persegiempat, segitiga atau trapesium yang tumbuh dengan waktu secara progressif ke bawah dari puncak bendungan. Aliran yang melalui rekahan pada sembarang waktu dihitung dengan rumus pelimpah berambang lebar. Bentuk rekahan terminal ditentukan oleh parameter (Z) yang menentukan lereng samping rekahan, yaitu 1 vertikal : z lereng horisontal, dn parameter (b) yang merupakan lebar terminal dasar rekahan. Rentang parameter Z dari lereng samping adalah 0 <= Z <= 2. Nilai z tergantung pada talud alam material yang dipadatkan dan dibasahi lewat mana rekahan itu berkembang. Dengan cara ini bentuk-bentuk persegi empat, segitiga atau trapesium ditentukan dengan menggunakan kombinasi mhi Z dan b. Misalnya bila Z = 0 dan b > 0 akan diperoleh rekahan berbentuk persegi empat, dan kalau Z > 0 dan b > 0 akan diperoleh rekahan segitiga. Lebar terminal rekahan (b) berhubungan dengan lebar rekahan rata-rata (bq), kedalaman rekahan (hq) dan lereng samping rekahan (Z) seperti tertera pada rumus berikut ini:

B = bbar 0,5 hd
Dengan menganggap lebar dasar rekahan dimulai dari suatu titik dan membesar dengan laju linier atau non-linier selama interval waktu () hingga tercapai lebar terminal (b) dan dasar rekahan tererosi hingga elevasi hq yang biasanya merupakan elevasi dasar final dari waduk atau outlet channel. Jika kurang dari 1 menit, lebar dasar rekahan dimulai dengan nilai b bukan dari nol. Ini lebih menunjukkan suatu kehancuran karena ambruk (collapse) daripada kehancuran karena erosi. Elevasi dasar rekahan disimulasikan sebagai fungsi waktu () menurut rumus berikut ini:

Hb = hd (hd hbm) (tb - )/, jika 0 < tb <=


Pada simulasi kehancuran bendungan pembentukan rekahan yang sebenarnya dimulai jika elevasi muka air waduk (h) melebihi nilai yang ditentukan hf. Keadaan ini menggambarkan simulasi overtopping suatu bendungan dalam mana rekahannya tidak terbentuk sebelum ada cukup air yang mengalir di atas puncak bendungan. Beberapa aspek sebagai dasar pemikiran analisis Keruntuhan bendungan dapat diuraikan sebagai berikut:

Kehancuran bendungan akibat piping disimulasikan sebagai rekahan berbentuk lubang segiempat (rectangular oriface) yang tumbuh dengan waktu yang bertitik pusat pada elevasi tertentu di tubuh bendungan (lihat gambar 2). Aliran kejut (instanlaneous flow) lewat rekahan dihitung dengan rumus aliran lewat lubang (orife) atau dengan rumus bendung (weir) tergantung pada hubungan elevasi kolam waduk dan puncak lubang. f). Algoritma Perhitungan Hidrolika Komponen penting dalam model DAMBRK adalah a1goritma komputasi hidrolika. Ini digunakan untuk menghitung aliran keluar (ouiflow) dari rekahan bendungan dalam hubungannya dengan: Uraian parametrik mengenai besarnya dan bentuk rekahan yang berubah menurut waktu Uraian mengenai karakteristik spillway

Algoritma komputasi hidrolika juga untuk menentukan panjangnya waktu dari terjadinya penggenangan di lembah hilir bendungan yang ditentukan oleh routing dari hidrograf aliran keluar lewat lembah. Hidrograf tersebut diubah pada waktu dirouting lewat lembah akibat adanya pengaruh tampungan lembah, hambatan geser (frictional resistant) terhadap aliran, komponen akselerasi gelombang banjir, kehilangan aliran dan penyempitan alur hilir (downstream channel) atau adanya bangunan pengendali aliran. Modifikasi gelombang banjir dam-break dimanisfestasikan sebagai pengecilan (attenuation) terhadap besarnya puncak banjir, pemencaran volume gelombang banjir. Untuk merouting gelombang banjir dam-break dilakukan dengan metode hidrolik yang dikenal dengan nama metode dynamic wave. Cara ini dipandang hasilnya lebih teliti dalam mensimulasi banjir dam-break dibandingkan dengan routing hidrologis atau metode kinematic wave. Penyelesaiaannya dilakukan dengan teknik implicit numerikal solution. Metode dynamic wave didasarkan atas persamaan-persamaan dimensi satu lengkap dari aliran unsteady yang digunakan untuk routing hidrograf banjir dam-break lewat lembah di hilir bendungan. Metode ini didasarkan atas persamaari yang dikembangkan oleh de Saint Venant. Satu-satunya koefisien yang harus diekstrapolasi di luar rentang data masa lampau hanyalah koefisien hambatan aliran (flow resistance). g). Persamaan deSaint Venant Persamaan deSaint Venant dinyatakan dalam bentuk kekekalan (Fread 1974) dengan suku-suku tambahan mengenai efek ekspansi/kontraksi, sinuositas alur dan aliran non-Newton terdiri atas persamaan kekekalan massa sebagai berikut:

Q / x + s(A+Ao) / t q = 0
dan persamaan kekekalan momentumnya adalah:

(sQ) / t + (Q2 / A) / x + gA(h / x + Sf + Se + Si) + L = 0 dalam mana: Q H A Ao S X T Q g Sr Se Si = = = = = = = = = = = = = A = discharge elevasi muka air banjir luas penampang melintang aktif aliran luas penampang melintang aliran tidak aktif (off channel storage) faktor sinuositas menurut De Long (1986) yang berubah menurut h jarak memanjang ke arah alur sungai (lembah) waktu aliran masuk atau keluar lateral per jarak linier ke arah alur sungai/ lembah (aliran masuk positif, aliran keluar negatif) koefisien momentum untuk distribusi kecepatan percepatan gravitasi lereng batas gesek lereng ekspansi/kontraksi lereng gesek tambahan sehubungan dengan zat cair non-Newtonian (aliran lumpur debris)

Boundary friction slope (Sr) dihitung dengan rumus Manning untuk aliran steady atau uniform sebagai berikut:

Sf = (n2 | Q | Q) / 2,21 A2 R4/3 = | Q | Q / K2


dalam mana: n R K a. = = = koefisien Manning untuk hambatan gesek radius hidrolik faktor angkut (conveyance factor)

5.1.2 Tujuan, Sasaran dan Manfaat Analisis Keruntuhan Bendungan Tujuan Analisis keruntuhan bendungan akan didasarkan pada sasaran proyek, yaitu untuk mengandaikan apabila terjadi keruntuhan sebuah bendungan, bagaimana tahap-tahap keruntuhannya ditinjau dari berbagai kondisi baik struktural, bencana alam, maupun human error serta bagaimana dampak terhadap daerah hilir yang menyangkut proses evakuasi penduduk ke daerah aman, maupun tingkat kerugian yang ditimbulkan. Sehingga dapat dibuat suatu konsep Pre-Warning System apabila terjadi keruntuhan bendungan. b. Sasaran. Pelaksanaan analisis keruntuhan bendungan dilakukan pada berbagai bendungan di Indonesia terutama yang mempunyai tingkat kerawanan yang tinggi baik dari segi teknis maupun non-teknis serta mempunyai dampak yang besar apabila bendungan tersebut mengalami keruntuhan c. Manfaat. Manfaat dari analisis keruntuhan bendungan ini adalah sebagai masukan bagi pengelola

bendungan tersebut mengenai kondisi bendungan tersebut sekarang ini menyangkut kestabilan konstruksi, keamanan terhadap gangguan-gangguan yang mungkin timbul serta proses tahapan keruntuhan bendungan pada berbagai kondisi. Dengan hasil analisis tersebut maka dapat dibuat suatu Konsep Peringatan Dini (Pre-Warning System) baik yang menyangkut segi teknis maupun non-teknis apabila terjadi keruntuhan bendungan tersebut.