Anda di halaman 1dari 9

Keandalan Sistem Instrumentasi PLTG di PT.

PLN Teluk Lembu Pekanbaru


Poppy Dewi Lestari1, Rino Eldika2
Sultan Syarif Kasim Riau, Pekanbaru Sultan Syarif Kasim Riau, Pekanbaru dewi.lestari@uin-suska.ac.id1, rino.te07@gmail.com2 Tel : 08127581266 Fax : 076123968
2UIN 1UIN

ABSTRAK PT. PLN PLTD/G Teluk Lembu adalah salah satu perusahaan yang bergerak dibidang pembangkit listrik, yang dalam operasinya menggunakan peralatan yang telah terintegrasi antara satu dengan yang lain dan memiliki sistem instrumentasi untuk setiap pengontrolannya. Kemampuan yang besar dari instrumentasi ini juga diikuti dengan resiko hilangnya daya pada saat terjadi kegagalan distribusi listrik. Hal ini tentunya tidak dikhendaki oleh PT. PLN, karena terjadinya failure mengakibatkan hilangnya pendapatan dan kesempatan. Oleh sebab itu PT. PLN menerapkan sistem instrumentasi pada Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) yang dapat memberikan pengontrolan sehingga dapat menigkatkan keandalan. Keandalan merupakan salah satu parameter performansi yang penting karena hasil prediksi keandalan dapat digunakan untuk menentukan pilihan terhadap pemakaian suatu instrumentasi dan implementasinya pada suatu pembangkit. Parameter keandalan suatu pembangkit mencakup ketersedian (availability), down time system dan Mean Time to Failure (MTTF) atau prediksi usia pakai suatu jaringan. Dengan menganalisis parameter-parameter di atas didapatkan tingkat ketersediaan sistem instrumentasi PLTG di PT. PLN PLTD/G Teluk Lembu lebih besar dari 99,99%. Tingkat ketersedian (availability) yang didapat memiliki rata-rata 99,99873259%, dengan nilai down time system sebesar 6,66150696 menit/tahun, dan Mean Time to Failure (MTTF) adalah 69,98554999 tahun. Dengan hasil perhitungan di atas dapat disimpulkan bahwa sistem instrumentasi PLTG di PT. PLN memenuhi persyaratan yang telah distandarkan untuk proses industri. Kata Kunci : Availability, Down Time System, Instrumentasi PLTG, keandalan dan MTTF 1. Pendahuluan Proses-proses di industri sering kali melibatkan sistem instrumentasi, salah satunya sistem instrumentasi pada pembangkit listrik, dimana sistem instrumentasi bertujuan untuk mempertahankan kondisi kerja dari pembangkit itu sendiri dengan mengatur parameter yang ada di dalamnya yaitu temperatur, tekanan, getaran (vibration) maupun alarm. Hal ini sebenarnya dilakukan untuk mempertahankan kesinambungan terhadap proses kerja dari pembangkit listrik itu sendiri. Selain itu, hasil keluaran instrumentasi berupa data pengontrolan dari unit pembangkit seperti kompresor, combuster, turbin maupun generator. Kemampuan instrumentasi yang berada di unit pembangkit tidak bisa bertahan lama dan sering mengalami kegagalan pada proses kerja dikarenakan usia pakai maupun gagal fungsi dari setiap instrumentasi. Oleh karena itu, untuk mengatasi kegagalan pengoperasian pembangkit diperlukan suatu sistem instrumentasi yang andal. Untuk menganalisis keandalan sistem instrumetasi di PT. PLN PLTD/G Teluk Lembu yang dikhususkan pada Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) dengan menggunakan metode Markov. Adapun parameter keandalan yang akan dibahas adalah menganalisis Availability (ketersediaan), Down Time System, dan Mean Time to Failure (MTTF) atau prediksi usia

pakai instrumentasi di PT. PLN PLTD/G Teluk Lembu.

Proses pembakaran tersebut berlangsung pada tekanan konstan sehingga boleh dikatakan bahwa ruang bakar hanyalah dipergunakan untuk 2. Metodologi penelitian menaikan temperatur udara. Oleh karena itu Metode yang dipakai ada tiga yaitu : ruang bakar dapat saja diganti dengan ruang 1. Studi Literatur pemanas. Gas pembakaran yang bertemperatur Referensi yang dipakai dikumpulkan tinggi kemudian masuk ke dalam turbin gas yang dari buku-buku dan paper dari internet yang energinya dipergunakan untuk melakukan kerja berkaitan dengan judul sekaligus pendekatan memutar roda turbin. metode markov terhadap sistem instrumentasi. Sebagian daya yang dihasilkan turbin 2. Observasi Lapangan dipergunakan untuk memutar kompresornya Peninjauan secara langsung ke lapangan sendiri dan selain itu untuk memutar bebannya yaitu di PT. PLN PLTD/G Teluk Lembu (generator listrik, pompa, kompresor, balingPekanbaru di mana yang menjadi target utama baling, dsb). Di dalam sistem turbin gas proses adalah pengumpulan data-data yang berkaitan kompresi pembakaran dan ekspansi terjadi di pada sistem instrumentasi pada Pembangkit dalam komponen yang berlainan. Listrik Tenaga Gas (PLTG) terhadap laju Dibandingkan dengan pembangkit listrik kerusakan dan laju perbaikan disetiap lainnya, turbin gas merupakan pembangkit yang komponen instrumentasi. cukup sederhana yang terdiri atas empat 3. Analisa Data komponen utama yaitu: Menganalisis data-data yang telah 1. Kompresor diperoleh sekaligus melakukan langkah-langkah Kompresor adalah alat yang digunakan pendekataan sistem instrumentasi kedalam untuk mengkompresikan udara dengan jumlah perhitungan dengan menggunakan metode yang besar untuk keperluan pembakaran, markov. pendinginan dan lain-lain. Kompresor yang 3. a) Landasan Teori PLTG Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) merupakan pembangkit tenaga listik yang mempergunakan turbin gas sebagai penggerak atau pemutar. Turbin gas merupakan turbin yang menggunakan gas sebagai fluida kerjanya. Udara atmosfir masuk ke dalam kompresor yang berfungsi menghisap dan menaikan tekanan udara. Kemudian udara yang bertekanan tinggi masuk ke dalam ruang bakar. Di dalam ruang bakar disemprotkan bahan bakar ke dalam arus udara tersebut, sehingga terjadi proses pembakaran. digunakan adalah jenis aksial dengan 17 tingkat yang seporos dengan turbin. Untuk melakukan proses kompresi, kompresor memerlukan tenaga yang sangat besar. Tenaga untuk memutar kompresor dari gaya yang dihasilkan oleh turbin. Karena pembebanan pada PLTG bervariasi maka jumlah udara yang masuk melalui filter diatur oleh Inlet Guide Vanes (IGV). 2. Ruang Bakar (Combustion Chamber) Combustion Chamber adalah ruangan tempat proses terjadinya pembakaran. Ada turbin gas yang mempunyai satu atau dua Combustion Chamber yang letaknya terpisah dari casing turbin, akan tetapi yang lebih banyak dijumpai adalah memiliki Combustion Chamber dengan beberapa buah Combustion basket, mengelilingi sisi masuk (inlet) turbin. Di dalam Combustion Chamber dipasang komponen-komponen untuk proses pembakaran beserta sarana penunjangnya, diantaranya: 1) Fuel Nozzle 2) Combustion Liner 3) Transition Piece 4) Igniter 5) Flame Detector

Gambar 1 Siklus PLTG

3.

Turbin Turbin gas adalah turbin dengan gas sebagai fluida kerjanya gas diperoleh dari pembakaran bahan bakar cair yang mudah terbakar. Sistem turbin gas yang paling sederhana terdiri dari tiga komponen utama, yaitu kompresor, ruang bakar dan turbin, yang disusun menjadi sistem yang kompak. 4. Generator Generator adalah alat untuk mengubah energi mekanik menjadi energi listrik. Generator menghasilkan energi listrik dengan digerakkan atau diputar oleh suatu penggerak mula (prime mover). Penggerak mula dari pada Generator dapat berupa turbin gas (PLTG), turbin uap Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), mesin diesel Pembangkit Listrik tenaga Diesel (PLTD), dan lain-lain. Generator mengkonversi energi mekanik menjadi energi listrik yang kemudian dapat dipergunakan untuk melayani kebutuhan rumah tangga, industri dan lain-lain. Generator listrik adalah sebuah alat yang memproduksi energi listrik dari sumber energi mekanik, biasanya dengan menggunakan induksi elektromagnetik. Dalam instalasi yang dijaga oleh operator seperti Pusat Listrik dan gardu induk ada gangguan yang tidak atau belum dilihat oleh relai, tapi dilihat oleh operator yang kemudian berinisiatif men-trip-kan atau membuka Pemutus Tenaga (PMT)/circuit breaker (CB) demi keselamatan instalasi, maka dalam hal ini operator bertindak sebagai relai. b) Diagram Alir PLTG

sehingga menghasilkan energi listrik, pada step ini terjadi perubahan energi yaitu dari energi mekanik menjadi energi listrik.

Gambar 3 Diagram Alir PLTG Penjelasan Komponen Utama dari PLTG 1. Kompresor (compressor) 2. Ruang bakar (combuster) 3. Turbin 4. Generator. Udara luar dihisap oleh compressor dan dialirkan ke combuster, demikian juga dengan bahan bakar yang dipompa oleh pompa bahan bakar menuju combuster juga. Pada combuster terjadi pertemuan antara udara, bahan bakar, dan panas yang ditimbulkan oleh ignitor sehingga terjadi pembakaran. Dari hasil pembakaran menghasilkan gas yang kemudian gas tersebut memutar turbin dan juga memutar generator karena satu poros sehingga menimbulkan listrik. Sisa gas yang digunakan untuk memutar turbin sebagian keluar menuju stack/cerobong atau yang dinamakan exhaust. c) Sistem Instrumentasi PLTG
FCV Ruang Diesel PC , TC dan FD Combustion

VC, TC, PC , SC Gas Turbin Udara PC, TC dan FI Compressor TC, PC Exhaust

TC, VC Generator Exc Penguat

Gambar 2 Proses Perubahan Energi di PLTG Secara garis besar diagram ini dimulai dari energi udara dan bahan bakar diubah menjadi energi thermal. Energi thermal yang dihasilkan dari proses pembakaran digunakan untuk memutar turbin sehingga pada step ini ada perubahan energi dari energi thermal menjadi energi mekanik. Karena turbin dan generator satu poros maka pada saat turbin berputar maka generator juga ikut berputar

Gambar 4 Blok Diagram Sistem Instrumentasi PLTG Keterangan : a. FCV b. PC c. TC d. FI e. VC f. SC g. FD : Fuel Control Valve : Pressure Control : Temperature Control : Flow Indicator : Vibration Control : Speed Control : Flame Detector

h. Exc : Exciter Penjelasan Blok Diagram : Proses dimulai dari bahan bakar solar atau High Speed Diesel (HSD) yang berada di Ruang Diesel, kemudian dialirkan dengan pompa dan dikontrol oleh Fuel Control Valve (FCV) menuju Ruang Bakar/Combustion. Bersamaan dengan itu, udara yang telah difilter untuk mendapatkan tekanan dan temperaturnya yang sangat tinggi digunakan Pressure Control, Temperatur Conrol dan diindikasikan dengan Flow Indicator sebagai pendeteksi aliran. Di dalam Ruang Bakar/Combustion terjadi proses pengkabutan antara udara, HSD dan diberi pengapian ignition sehingga terjadi proses pembakaran, hasil pembakaran berupa gas bertekanan dan bersuhu tinggi yang dikontrol menggunakan Temperatur Control dan Pressure Control untuk memutar sudu-sudu turbin, turbin yang terhubung dengan generator menghasilkan energi listrik. Dan generator menghasilkan daya kemudian dikuatkan menggunakan Exciter untuk di distribusikan ke Gardu Induk (GI). Di dalam turbin terdapat pengontrolan vibrasi (getar), Speed Control (kontrol kecepatan) pada bearing-bearing turbin yang berfungsi menjaga agar putaran turbin konstan. Hasil gas untuk pemutar turbin tidak dimanfaatkan, tetapi di buang ke atmosfir atau yang disebut exhaust. Dimana di dalam exhaust terdapat beberapa instrument seperti Temperatur Control dan Pressure Control yang berfungsi sebagai pendeteksi sekaligus mengontrol temperatur dan tekanan yang keluar dari hasil putaran turbin untuk di buang ke udara.

banyak dijumpai di bidang kimia dan kedokteran. Sebagai alat kendali Instrumentasi sebagai alat kendali banyak di temukan dalam bidang elektronika, industri dan pabrik-pabrik. Beberapa instrumentasi yang ada di PLTG antara lain : Thermokopel Termokopel merupakan sebuah instrumentasi pendeteksi suhu atau temperatur. Termokopel pada proses ini berfungsi sebagai pendeteksi temperatur pada stack/exhaust keluaran dari turbin gas. Termokopel berupa tranduser yang mendeteksi temperatur mengubahnya kebesaran listrik yaitu tegangan. Kemudian mengirim sinyal tersebut ke thermocontroller menerima sinyal tersebut dalam besaran temperatur.

Gambar 5 Instrument Termokopel Penggunaan Temokopel Termokopel paling cocok digunakan untuk mengukur rentang suhu yang luas, hingga 2300C. Sebaliknya, kurang cocok untuk pengukuran dimana perbedaan suhu yang kecil harus diukur dengan akurasi tingkat tinggi, contohnya rentang suhu 0-100 C dengan keakuratan 0.1C. Untuk aplikasi ini, Termistor dan RTD lebih cocok. Contoh penggunaan Termokopel yang umum antara lain : d) Instrumentasi di PLTG a) Industri besi dan baja Instrumentasi adalah alat-alat atau b) Pengaman pada alat-alat pemanas piranti (device) yang digunakan untuk c) Untuk termopile sensor radiasi pengukuran dan pengendalian dalam suatu d) Pembangkit listrik tenaga panas sistem yang lebih besar dan lebih kompleks radioisotop, salah satu aplikasi termopile atau alat yang digunakan sebagai perpanjang Flame Detector indra manusia. Flame detector merupakan sebuah alat Sebagai alat pengukuran pendeteksi api yang menggunakan sensor optic Instrumentasi sebagai alat pengukuran meliputi instrumentasi survey / statistik, untuk mendeteksinya. Di sini ditegaskan bahwa instrumentasi pengukuran suhu, tekanan, level, flame detector digunakan untuk mendeteksi keberadaan api, bukan panas. Prinsip kerja vibration dan lain-lain. flame detector adalah dimulai dari bahwa api Sebagai alat analisa Instrumentasi sebagai alat analisa akan dideteksi oleh keberadaan spectrum

cahaya infra red maupun ultraviolet, dan microprocessor dalam flame detector akan bekerja untuk membedakan spectrum cahaya yang terdapat pada api yang terdeteksi tersebut. Namun pada implementasinya, terdapat sumbersumber cahaya lain yang ternyata bukan api dan ikut menyumbang emisi cahaya pada gelombang infra red maupun ultraviolet dimana sumber-sumber cahaya ini juga mempengaruhi kinerja flame detector yang berakibat pada timbulnya false alarm. Contoh sumber-sumber cahaya ini adalah petir, welding arc, metal grinding, hot turbin, reactor, dan masih banyak lagi.

Pada prakteknya, sistem sering dimodelkan dengan menggunakan jaringan (network) di mana komponen-komponen pada sebuah sistem dihubungkan dalam pola hubungan seri, paralel, dan sistem redundasi. 1) Sistem Seri Sistem yang terdiri dari dua komponen seri yakni komponen A san komponen B memiliki indeks keandalan komponen (R) masing-masing Ra dan Rb. Dengan demikian keandalan sistem dapat ditentukan dengan :

Gambar 7 Sistem Seri dengan Dua Komponen

Jika terdapat n komponen yang terhubung secara seri maka :

Gambar 6 Instrument Flame Detector Aplikasi flame detector a) Deteksi panas api b) Alarm kebakaran c) Monitoring Pembakaran d) Mendeteksi kekuatan ultraviolet e) Ultraviolet switching Pressure Gauge Tekanan (pressure) adalah gaya yang bekerja persatuan luas, dengan demikian satuan tekanan identik dengan satuan tegangan (stress). Dalam konsep ini tekanan didefnisikan sebagai gaya yang diberikan oleh fuida pada tempat yang mewadahinya. Tekanan mutlak (absolute pressure) adalah nilai mutlak tekanan yang bekerja pada wadah tersebut. Tekanan relatif atau tekanan pengukuran (gauge pressure) adalah selisih antara tekanan mutlak dan tekanan atmosfir.

Kegagalan pada suatu komponen yang terhubung seri akan menyebabkan kegagalan sistem. Ketidakandalan adalah komplemen dari keandalan, maka : Dan untuk komponen n seri maka :

2) Sistem Paralel Dua komponen A dan B yang terhubung secara paralel seperti gambar 3 Pada susunan tersebut, sistem sukses ditentukan jika paling tidak salah satu dari komponen tersebut sukses. Dengan kata lain, sistem akan gagal jika semua komponen yang terhubung secara paralel gagal.

d)

Teori Keandalan dan Metode Markov Keandalan Sistem adalah probabilitas atau peluang sistem dapat berfungsi seperti yang diharapkan untuk rentang waktu tertentu di bawah kondisi yang ditetapkan (Gunawan, Arief Hamdani dan Franky Ferdinand, 2002).

Gambar 8 Sistem Paralel dengan Dua Komponen

Indeks ketidakandalan dirumuskan dengan :

sistem

Jika terdapat n komponen yang terhubung secara paralel maka indeks ketidakandalan sistem adalah :

Dengan demikian indeks keandalan sistem di peroleh dengan : Jika tedapat n komponen yang terhubung secara paralel maka, indeks keandalan sistem adalah :

Dari pernyataan di atas dapat diketahui bahwa semakin banyak komponen yang terhubung secara paralel di dalam sistem, maka indeks keandalan sistem akan semakin tinggi. 3) Redundansi Stanby Sistem standby mengoperasikan satu atau lebih komponen utama dan satu atau lebih komponen dalam posisi standby yang akan beroperasi bila komponen utama gagal. Proses pemindahan kerja komponen ini dilakukan dengan menggunakan switch.

dilakukan secara otomatis) dan cold standby (perpindahan ke unit cadangan dilakukan secara manual). Konsep dasar Markov Chain baru diperkenalkan sekitar tahun1907, oleh seorang Matematisi Rusia Andrei A. Markov (1856-1992). Model ini berhubungan dengan suatu rangkaian proses dimana kejadian akibat suatu eksperimen hanya tergantung pada kejadian yang langsung mendahuluinya dan tidak tergantung pada rangkaian kejadian sebelum-sebelumnya yang lain. Markov Chain bisa diterapkan di berbagai bidang antara lain ekonomi, politik, kependudukan, industri, pertanian, elektro dan lain-lain. Ada beberapa syarat agar metode markov dapat diaplikasikan dalam evaluasi keandalan sistem. Syarat-syarat tersebut adalah: 1) Sistem harus berkarakter Lack of Memory Dimana kondisi sistem di masa mendatang tidak dipengaruhi (independent) oleh kondisi sebelumnya. Artinya kondisi sistem saat evaluasi tidak dipengaruhi oleh kondisi sebelumnya, kecuali kondisi sesaat sebelum kondisi saat ini. 2) Sistem harus stationary atau homogen Artinya perilaku sistem selalu sama di sepanjang waktu atau peluang transisi sistem dari suatu kondisi ke kondisi lainnya akan selalu sama disepanjang waktu. Dengan demikian maka pendekatan markov hanya dapat di aplikasikan untuk sistem dengan laju kegagalan yang konstan. 3) State is identifiable Kondisi yang memungkinkan terjadi pada sistem harus diidentifikasi dengan jelas. Apakah sistem memiliki dua kondisi (state) yakni kondisi beroperasi dan gagal, ataukah sistem memiliki 3 kondisi, yakni 100% sukses, 50% sukses dan 100% gagal.

e) Langkah-langkah Analisis Keandalan Terdapat dua jenis redundansi, yaitu: dengan Metode Markov Redundansi aktif (n+m), pada saat yang Langkah-langkah yang harus dilakukan sama baik unit utama maupun unit untuk menentukan keandalan sistem dengan cadangan beroperasi, meskipun unit metode Markov. utama tidak mengalami kerusakan. Identifikasi semua kondisi (state) di mana Redundansi pasif atau redundansi sistem mungkin bertransisi. standby (n:m), komponen redundansi Buat diagram keadaan untuk setiap hanya akan beroperasi bila unit utama perubahan transisi keadaan. rusak. Redundansi standby dibedakan Buat matriks transisi dari satu keadaan ke menjadi dua, yaitu: hot standby keadaan yang lain. (perpindahan ke unit cadangan

Gambar 9 Redundasi Standby

Turunkan persamaan diferensial yang Sistem PLTG unit 1 dan unit 2 aktif (1+1) sesuai atau susunlah stokastik di atas dapat di gambarkan dalam diagram transitional probability matrix-nya. keadaan berikut ini: Dengan metode persamaan diferensial atau perkalian matriks, tentukan S1 c probabilitas state-nya. Tentukan availability dan unavailability dengan menggabungkan 2 c nilai probabilitas kondisi yang bersesuaian yang menjamin sistem S2 S3 beroperasi dan sistem gagal. 2+c + c Dengan menggunakan prinsip absorbing state, seledaikan persamaan diferensial yang dimodifiksi untuk Gambar 12 Diagram Keadaan Sistem menentukan keandalan sistem dan Redundansi aktif (1+1) selanjutnya gunakan persamaan tersebut Matriks probabilitas p untuk diagram keadaan di untuk mendapatkan MTTF. atas adalah : Analisis Keandalan Instrumentasi PLTG Sistem

4.

Indentifikasi State
DE RB Exh G

Persamaan differensial dalam notasi matriks :


PMT DE RB Exh G

Gambar 10 Sistem PLTG Unit 1 dan Unit 2 Aktif (1+1) Pada penerapan konfigurasi PLTG unit 1 dan unit 2 yang akan digunakan untuk menganalisis nantinya terdapat instrumentasi. Dengan menggunakan sistem proteksi aktif (1+1), dimana ujung transmisi dihubungkan ke PMT (Pemutus Tegangan). Selama operasi normal aktif, sistem mentransmisikan listrik secara terus menerus pada kedua line tersebut. Pada pemasangan di PT. PLN Teluk Lembu digunakan line yang sama, tetapi jalur / rute berbeda.
A C B

Untuk keadaan steady P1+P2+P3 = 1, maka :

state

dan

dengan

Penyelesaian persamaan differensial

Dengan

Gambar 11 Penyederhanaan Blok Keandalan Dua PLTG dengan Redundansi Aktif (1+1)

Karena sistem tersebut tersusun secara seri, Maka maka ketersediaan sistem adalah : A=P1+P2

MTTF sistem:

Laju kerusakan dan Perbaikan Unit B (unit proteksi)

Unit utama identik dengan unit proteksi sehingga laju kerusakan dan laju perbaikan unit Tabel 1 Data Laju Kerusakan dan Laju B sama dengan unit A ( = dan = ). A B A B Perbaikan Komponen Laju kerusakan dan Perbaikan Unit C Laju Kerusakan Laju kerusakan () Laju perbaikan ()

Data Perangkat

Elemen Perangkat Diesel Engine (DE) Ruang Bakar (RB) Exhaust Hi Hi (Exh) Generator (G) PMT

FITs 42 539 1023 52 1631

Per-jam 4,2 x 10-8 5,39 x 10-7 1,023 x 10-6 5,2 x 10-8

MTTR (jam) 6

Per-jam 9,722 x 10-2 7,111 x 10-1 1,422

Laju Perbaikan

12-24 1

1,631 x 10-6 *Referensi : PT. PLN PLTD/G Teluk Lembu Pekanbaru

Laju kerusakan dan laju perbaikan unit A, 1,15 2,23 B dan C dari hasil perhitungan diatas dapat dilihat pada Tabel 2 Tabel 2 Laju Kerusakan dan Laju Perbaikan 6 0,1 Unit-Unit pada PLTG Laju Kerusakan Laju Perbaikan 24-48 1,070 -2,140 Unit (per-jam) (per-jam) A 1,656x10-6 0,04351789405

Dengan konsep dasar seperti telah 0,04351789405 B 1,656x10-6 dijelaskan sebelumnya mengenai pendekatan Markov untuk sistem yang terdiri dari 0,02083333333 C 1,631x10-6 komponen-komponen yang terhubung secara seri dan paralel, besarnya laju kerusakan dan Untuk menghitung ketersediaan laju perbaikan unit A, B dan C dapat diperoleh instrumentasi pembangkit PLTG, maka dengan cara sebagai berikut: digunakan persamaan: Laju Kerusakan dan Laju Perbaikan A = P1+P2 Unit A (Utama) Laju Kerusakan

A = DE + RB + Exh + G
Laju Perbaikan

= 4,2x106 + 5,39x107 + 1,023x106 + 5,2x108 = 1,565x106 / jam

Down Time System = 24 Jam x 365 Hari x U = 0,111025116 jam/tahun = 6,66150696 menit/tahun

Untuk menghitung menggunakan persamaan :

MTTF

sistem

Daftar Pustaka Andi Mulyadi, Keandalan Interkoneksi Antar Pembangkit Sumbar. Laporan penelitian. 2003 Anonymos, History PLTG, http://www.ccitonline.com/mekanikal/tiki pagehistory.php? page=PLTG&diff2=1&diff_style=sidevie w, diakses tanggal 4 Maret 2011 Digital Library ITS, http://digilib.its.ac.id/ITSUndergraduate3100010037967/12120, diakses tanggal 4 Maret 2011 Ebeling, Charles E. Reliability and Maintainability Engineering, McGrawHill international editions : Electrical engineering series, Universitas Michigan. 1997 Endrianto, Ennol. Peningkatan Efesiensi Combine cycle untuk performansi HRSG (Heat Recovery Steam Generator). Laporan Penelitian ITS. 2009 GE Power System. Gas turbine operating manual , PLN ujung pandang sulawesi, Indonesia. 1997 Gunawan, Arief Hamdani dan Franky Ferdinand. Kajian Kehandalan SDH pada JARLOKAF, Elektronika Indonesia, no. 44, Thn IX. 2002 Henley, E.J. dan Hiromitsu Kumamoto. Probabilistic Risk Assesment,reliability engineering, Design and Analysis, Halaman 20-50, New York, IEEE Press. 1992 Ramakumar, R. Engineering Reliability, Fundamentals and Aplications, Halaman 50-112, New Jersey, Englewood Cliffs. 1993 W. Culp JR, Archie. Prinsip-prinsip konversi energi (terjemahan Ir Darwin sitompul, Meng), Jakarta : Erlangga. 1991 Waradiba, Safarina. Analisis Reliability Instrument Menggunakan Metode Failure Modes And Effect Analysis (FMEA) pada Boiler Feed Pump Turbin (BFPT) Untuk Memperbaiki Kinerja Terencana di PT. IPMOMI. Laporan Skripsi, ITS, Surabaya. 2007 Zuhal. Dasar Tenaga Listrik, Bandung : ITB. 1982

Berdasarkan perhitungan parameter keandalan diperoleh ketersediaan sebesar 99,99873259 %, down time system sebesar 6,66150696 menit/tahun, dan MTTF atau usia pakai sistem instrumentasi disetiap komponen adalah 69,98554999 tahun. Adapun target PT. PLN Teluk Lembu untuk ketersediaan suatu pembangkit minimal 99,8904 % yang berarti down time system maksimal 16,0016 menit/tahun. Dapat disimpulkan bahwa keandalan sistem instrumentasi PLTG dengan metode markov lebih baik dari kriteria yang ditentukan PT. PLN Teluk Lembu. 5. a) Kesimpulan dan Saran Kesimpulan Berdasarkan pembahasan dan analisis pada bab-bab sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut. Keandalan untuk komponen pembangkit pada sistem instrumentasi PLTG telah memenuhi persyaratan untuk proses industri. Dengan menggunakan metode Markov, didapatkan nilai ketersediaan sebesar 99,99873259 %, down time system sebesar 6,66150696 menit/tahun, dan MTTF atau usia pakai sistem instrumentasi disetiap komponen adalah 69,98554999 tahun. Bahkan jauh lebih baik untuk standar industri. b) Saran Untuk penelitian selanjutnya, pengembangan bisa dilakukan. Tidak hanya menggunakan metode Markov yang dapat menentukan keandalan instrumentasi, metode lain yang dapat menganalisis keandalan instrumentasi seperti Fault Tree Analysis (FTA) yang menganalisis keandalan dengan bentuk diagram pohon atau metode Failure Modes And Effect Analysis (FMEA).