Anda di halaman 1dari 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Perubahan energi yang dipelajari di atas hasil dari kerja mekanik terhadap sistem atau dari kestabilan kontak termal antara dua sistem pada suhu berbeda. Dalam kimia salah satu sumber energi yang penting adalah kalor yang dihasilkan atau diserap selama reaksi berlangsung. Studi perubahan kalor yang menyertai reaksi kimia dinamakan termokimia (Sunarya, 2010). Reaksi kimia yang menyangkut pemecahan dan atau pembentukan ikatan kimia selalu berhubungan dengan penyerapan atau pelepasan panas. Reaksi eksotermik adalah suatu reaksi yang melepaskan panas. Jika reaksi berlangsung pada suhu tetap, berdasarkan perjanjian, H akan bernilai negatif karena kandungan panas dari

sistem akan menurun. Sebaliknya, pada reaksi endotermik yaitu reaksi yang membutuhkan panas, berdasarkan perjanjian, H akan mempunyai nilai positif. Tetapi harap diingat bahwa kadang-kadang beberapa buku menggunakan tanda yang sebaliknya dari yang telah diuraikan (Bird, 1987). Termodinamika, termasuk termokimia, merupakan salah satu segi penting yang menghubungkan energi kalor dengan bentuk energi yang lain yang dikenal sebagai kerja. Bagian alam semesta yang dipilih untuk penelitian termodinamika disebut sistem, dan bagian dari alam semesta yang berinteraksi dengan sistem tesebut disebut keadaan sekeliling lingkungan dari sistem. Sistem termodinamika mungkin sederhana misalnya segelas air, atau mungkin kompleks seperti isi tanur tinggi atau danau yang terkena polusi. Interaksi mengacu pada perpindahan energi atau materi

antara sistem dan lingkungannya; interaksi-interaksi inilah yang umumnya menjadi pusat penelitian termodinamika. Perpindahan energi dapat berupa kalor atau dalam beberapa bentuk lainnya yang secara keseluruhan disebut kerja. Perpindahan energi berupa kalor atau kerja akan mempengaruhi jumlah keseluruhan energi di dalam sistem, yang disebut energi dalam (Petrucci, 1996). Panas reaksi adalah banyaknya panas yang dilepaskan atau diserap ketika reaksi kimia berlangsung, biasanya bila tidak dicantumkan keterangan lain berarti berlangsung pada tekanan tetap (Bird, 1987). Panas reaksi dapat dinyatakan sebagai perubahan energi produk dan reaktan pada volume konstan (E) atau pada tekanan konstan (H). Satuan SI untuk E atau H adalah joule, yaitu satuan energi, tetapi satuan umum yang lain adalah kalori. Umumnya harga E atau H untuk setiap reaktan atau produk dinyatakan

sebagaijoule mol-1 (J mol-1) atau kJ mol-1 pada temperatur konstan tertentu, biasanya 298 K (Dogra dan Dogra, 1990). Panas netralisasi dapat didefinisikan sebagai jumlah panas yang dilepas ketika 2 mol air terbentuk akibat reaksi netralisasi asam oleh basa aatu sebaliknya. Untuk netralisasi asam kuat oleh basa kuat, nilai H0 selalu tetap yaitu -57 kJ/mol. Sebenarnya hal ini disebabkan pada proses netralisasi asam kuat oleh basa kuat (Bird,1987). Panas reaksi diukur dengan bantuan kalorimeter. Harga E diperoleh apabila reaksi dilakukan dalam kalorimeter bom, yaitu pada volume konstan dan H adalah panas reaksi yang diukur pada tekanan konstan, dalam gelas piala atau labu yang diisolasi, botol termos, labu Dewar dan lain-lain. Karena proses diperinci dengan

baik, maka panas yang dilepaskan atau diabsorbsi hanyalah fungsi-fungsi keadaan, yaitu H atau E (Dogra dan Dogra, 1990). Besaran termodinamik yang terlibat dalam reaksi kimia pada tekanan tetap adalah perubahan entalpi reaksi. Dengan demikian untuk mengukur kalor reaksi pada sistem terbuka (tekanan tetap) dapat dilakukan melalui pengukuran entalpi sistem reaksi (H reaksi). Hubungan suhu dan kalor diungkapkan melalui kapasitas kalor, menggunakan prinsip Black. Wadah atau reaktor yang digunakan harus kedap panas agar tidak banyak kalor yang hilang atau terbuang, reaktror ini dinamakan kalorimeter (Sunarya,2010). Ketika proses metabolisme sukrosa (gula tebu biasa) berlangsung dalam tubuh, terjadilah deret reaksi-reaksi kimia yang rumit dan konversi energi. Hasil bersih dari reaksi-reaksi ini, sama seperti yang diperoleh pada pembakaran sempurna sukrosa, yaitu menghasilkan CO2 dan H2C. Nilai kalor sukrosa dalam metabolisme sama seperti selisih energi dalam antara hasil reaksi dan pereaksi. Reaksi pembakaran ini berlangsung sedemikian rupa sehingga selisih energi dalam dipindahkan dari campuran reaksi (sistem) ke lingkungannya. Banyaknya energi kalor ini dapat disebut kalor reaksi dan diberi lambang qrxn.Di laboratorium, penentuan kalor reaksi dilakukan dengan alat yang disebut kalorimeter (Petrucci, 1996). Persamaan termokimia adalah persamaan kimia yang sudah setara berikut perubahan entalpi reaksi yang dituliskan secara langsung setelah persamaan kimia. Dalam persamaan termokimia harus melibatkan fasa zat-zat yang bereaksi,sebab perubahan entalpi bergantung pada fasa zat. Sebagai contoh, reaksi antara gas hidrogen dan gas oksigen membentuk air. Jika air yang dihasilkan berwujud cair

akan dilepaskan kalor sebesar 483,7 kJ, tetapi jika air yang diproduksi berupa uap, kalor yang dilepaskan sebesar 571,7 kJ. Persamaan termokimianya adalah: 2H2+O2 2H2+O2 2H2O 2H2O H = -571,1 kJ H = -483,7 kJ

Perbedaan kalor menunjukkan bahwa ketika uap air mengembun menjadi cair melepaskan kalor sebesar selisih H kedua reaksi di atas (Sunarya, 2010). Jumlah energi kalor, q, yang dibutuhkan untuk mengubah suhu suatu zat tergantung pada beberapa besarnya suhu yang harus diubah, jumlah zat dan identitas (jenis molekul-molekulnya). Kapasitas kalor adalah banyaknya energi kalor yang dibutuhkan utuk mengikatkan suhu zat 10C. Kapasitas kalor, tentu saja tergantung pada jumlah zat. Kapasitas kalor spesifik atau disederhanakan, kalor jenis, adalah banyaknya energi kalor yang dibutuhkan untuk meningkatkan suhu 1 gram zat sebesar 10C. Kalor jenis molar adalah banyaknya energi kalor yang dibutuhkan untuk meningkatkan suhu 1 mol zat sebesar 1 0C (Petrucci, 1996). Persamaan reaksi yang mengikutsertakan perubahan entalpinya disebut persamaan termokimia. Nilai H yang dituliskan pada persamaan termokimia

disesuaikan dengan stokiometri reaksi. Artinya jumlah mol zat yang terlibat dalam reaksi sama dengan koefisien reaksinya. Perubahan entalpi ( H) positif menunjukkan bahwa dalam perubahan terdapat penyerapan kalor atau pelepasan kalor. Reaksi kimia yang melepaskan atau mengeluarkan kalor disebut reaksi eksoterm, sedangkan reaksi kimia yang menyerap kalor disebut reaksi endoterm, Pada reaksi endoterm, sistem menyerap energi. Oleh karena itu, entalpi sistem akan

bertambah. Artinya entalpi produk (Hp) lebih besar daripada entalpi pereaksi (Hr). Akibatnya, perubahan entalpi, merupakan selisih antara entalpi produk dengan entalpi pereaksi (Hp -Hr) bertanda positif. Sehingga perubahan entalpi untuk reaksi endoterm dapat dinyatakan H = Hp- Hr > 0. Sebaliknya, pada reaksi eksoterm ,

sistem membebaskan energi, sehingga entalpi sistem akan berkurang, artinya entalpi produk lebih kecil daripada entalpi pereaksi. Oleh karena itu , perubahan entalpinya bertanda negatif. Sehingga p dapat dinyatakan sebagai H = Hp- Hr < 0 (Bambang, 2009). Kita dapat menentukan perubahan energi yang berkaitan dengan proses kimia atau fisik dengan menggunakan teknik eksperimental yang disebut kalorimeter. Teknik ini didasarkan pada observasi terhadap perubahan suhu ketika suatu sistem menyerap atau melepaskan energi dalam bentuk panas. Percobaan yang dilakukan disebut kalorimeter, di mana perubahan suhu dalam jumlah banyaknya substansi (biasanya air) panas spesifik tidak diketahui diukur perubahan suhu disebabkan oleh penyerapan atau pelepasan panas dengan bahan kimia atau proses fisik yang diteliti. Sebuah tinjauan perhitungan dengan perpindahan panas akan membantu untuk memahami bagian ini. Kapasitas panas kalorimeter ditentukan dengan menambahkan jumlah yang disebut panas dan mengukur kenaikan suhu kalorimeter dan air yang dikandungnya. Kapasitas panas kalorimete inilah yang disebut kalorimeter yang konstan (Whitten, 1992). Dalam proses adiabatik, sistem terisolasi dengan baik sehingga suhu tidak masuk ataupun keluar, dalam hal Q = 0. Hukum pertama menjadi, dalam hal ini, Eint = W. Mari kita memperoleh hubungan antara p dan V untuk proses adiabatik dilakukan pada gas ideal, yang kita digunakan dalam Bagian di. Kami menganggap proses ini

harus dilakukan perlahan-lahan, sehingga tekanan selalu didefinisikan dengan baik. Untuk gas ideal, kita dapat menulis persamaan. 11 sebagai. dEint= nCVdT (Resnick, 1916).