Anda di halaman 1dari 22

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Pernahkah Anda memperhatikan apa yang terjadi ketika sejumlah gula dilarutkan pada air? Pernahkah juga Anda memperhatikan apa yang terjadi ketika ssejumlah garam dilarutkan juga pada air? Setiap zat memiliki sifat kelarutannya masing-masing. Beberapa zat dapat dengan mudah larut dalam air dan ada pula yang kurang larut dalam air. Suatu zat juga dapat larut jika pada konsentrasi tertentu, namun jika konsentrasinya ditingkatkan terus menerus, maka akan ditemukan suatu titik dimana zat itu tidak lagi dapat larut. Biasanya zat yang tidak dapat larut ini disebut sebagai endapan. Endapan adalah zat yang memisahkan diri sebagai suatu fase padat keluar dari larutan. Endapan mungkin berupa kristal (kristalin) atau koloid, dan dapat dikeluarkan dari larutan dengan penyaringan atau pemusingan (centrifudge). Endapan terbentuk jika larutan menjadi terlalu jenuh dengan zat yang bersangkutan. Kelarutan suatu endapan adalah konsentrasi molar dari larutan jenuhnya. Kelarutan tergantung pada kondisi suhu, tekanan, konsentrasi bahan-bahan lain dalam larutan itu, dan pada komposisi pelarutnya. Kelarutan suatu endapan dapat bertambah besar bila suhu dinaikkan. Kelarutan juga tergantung padasifat dan

konsentrasi zat-zat lain, terutama ion-ion dalam campuran itu. Ada perbedaan yng menyolok antara efek dari apa yang disebut ion sekutu dan ion asing. Ion sekutu adalah suatu ion yang juga merupakan salah satu bahan endapan. Dengan adanya ion asing secara berlebihan maka kelarutan suatu endapan dapat berkurang. Lain halnya

dengan adanya ion sekutu yakni kelarutan akan bertambah namun pertambahan ini umumnya sedikit. Hasil kali kelarutan. Larutan jenuh suatu garam yang juga mengandung garam tersebut yang tak larut, dengan berlebihan, merupakan suatu sistem kesetimbangan terhadap mana hukum kegiatan massa dapat diberlakukan. Hubungan hasil kali kelarutan menjelaskan fakta bahwa kelarutan suatu zat sangat banyak berkurang jika ditambahkan reagensia yang mengandung ion sekutu dengan zat itu. Karena konsentrasi ion sekutu tinggi, maka konsentrasi ion lainnya harus menjadi rendah dalam larutan jenuh zat itu; maka kelebihan zat itu akan diendapkan. Jadi jika salah satu ion harus dikeluarkan dari larutan dengan pengendapan, reagensia harus dipakai dengan berlebihan. Namun reagensia yang terlalu berlebihan lebih banyak buruknya daripada baiknya, karena ia mungkin akan memperbesar kelarutan endapan karena pembentukan kompleks.

I.2 Maksud dan Tujuan Percobaan I.2.1 Maksud Maksud dilakukannya percobaan ini adalah untuk mempelajari cara penentuan hasil kali kelarutan (Ksp). I.2.2 Tujuan Tujuan dari percobaan ini antara lain: Menghitung kelarutan elektrolit yang bersifat sedikit larut Menghitung panas pelarutan PbCl2 denngan menggunakan sifat

kebergantungan Ksp pada suhu

I.3 Prinsip Percobaan

Prinsip percobaan ini adalah penentuan nilai Ksp PbCl2 melalui pembentukan suatu endapan PbCl2 yang terbentuk melalui reaksi antara Pb(NO3)2 dengan KCl, serta mengukur suhu pelarutan endapan PbCl2 melalui proses pemanasan.

I.4 Manfaat Percobaan Manfaat dilakukannya percobaan ini adalah : 1. Dapat mengetahui cara menentukan kelarutan dan hasil kali kelarutan suatu endapan. 2. Dapat mengetahui cara menentukan panas pelarutan endapan. 3. Dapat mengetahui reaksi antara timbal nitrat (Pb(NO3)2) dan kalium klorida (KCl). 4. Lebih terlatih dan terampil menggunakan alat-alat laboratorium.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Kelarutan ialah kuantitas suatu zat yang larut dalam sejumlah tertentu air. Dalam perhitungan kesetimbangan kelarutan, biasanya dinyatakan dalam gram zat terlarut per liter larutan, sedangkan kelarutan molar adalah jumlah mol zat terlarut per liter larutan (Chang, 2005). Dalam hubungan dengan hasil kali kelarutan, kita harus hati-hati menggunakan istilah elektrolit yang sedikit larut. Ksp hanya dapat digunakan sehubungan dengan elektrolit yang sedikit larut, untuk elektrolit yang mudah larut seperti NaCl, nilai hasil kelarutannya akan berbeda cara menghtungnya bila dibandingkan dengan elektrolit yang sedikit larut. Hal ini disebabkan untuk elektrolit yang mudah larut seperti NaCl, asumsi bahwa K = Ksp tidak berlaku, selain itu aktivitas ion-ion elektrolit yang mudah larut tidak sama dengan konsentrasinya (Bird, 1993). Kelarutan suatu endapan menurut definisi adalah sama dengan konsentrasi molar dari larutan jenuhnya. Kelarutan bergantung pada berbagai kondisi, seperti suhu, tekanan, konsentrasi bahan-bahan lain dalam larutan itu, dan pada komposisi pelarutnya. Perubahan kelarutan dengan tekanan tidak mempunyai arti penting yang praktis dalam analisis anorganik kualitatif, karena semua pekerjaan dilakukan dalam bejana terbuka pada tekanan atmosfer. Perubahan yang sedikit dari tekanan atmosfer tidak mempunyai pengaruh yang berarti atas kelarutan, terlebih penting adalah perubahan kelarutan dengan suhu. Umumnya dapat dikatakan, bahwa kelarutan endapan bertambah besar dengan kenaikan suhu, meskipun dalam beberapa hal yang istimewa ( seperti kalium sulfat ), terjadi yang sebaliknya. Laju kenaikan kelarutan

dengan suhu berbeda-beda, dalam beberapa hal sangat kecil sekali, dalam hal-hal lainnya sangat besar. Pada beberapa hal perubahan kelarutan dengan berubahnya suhu dapat menjadi dasar untuk pemisahan. Misalnya, pemisahan ion timbal dari perak dan merkurium (I) dapat dicapai dengan mengendapkan ketiga ion itu mulamula sebagai klorida, diteruskan dengan menambahkan air panas pada campuran. Air panas ini akan melarutkan timbal klorida, tetapi perak dan raksa (I) klorida praktis tak larut dalamnya. Setelah menyaring larutan panas itu, ion timbal dapat ditemukan dalam filtrat dan dapat diidentifikasikan dengan reakis-reaksi khas ( Svehla, 1979 ). Nilai Ksp menyatakan kelarutan senyawa ionik-semakin kecil nilainya, semakin sedikit kelarutan senyawa tersebut dalam air. Namun, dalam menggunakan Ksp untuk membandingkan kelarutan, kita harus memilih senyawa yang memiliki rumus yangs ama, misalnya AgCl dan ZnS, atau CaF2 dan Fe(OH)2 (Chang, 2005). Kelarutan zat terlarut diketahui dari konsentrasi dalam larutan jenuhnya, biasanya dinyatakan dalam banyaknya mol zat terlarut per liter larutan jenuh. Seperti halnya kesetimbangan asam basa, akan diketahui bahwa kesetimb angan kelarutan sangat dipengaruhi oleh kehadiran ion senama. Kesetimbangan kelarutan dari zat-zat terlarut tertentu juga dipengaruhi secara serentak oleh reaksi asam basa. Inilah sebabnya, mengapa beberapa zat terlarut yang tidak larut dalam air mudah larut dalam larutan asam. Masih ada pula faktor lain yang dapat meningkatkan kelarutan zat terlarut, ialah pembentukan ion kompleks ( Petrucci, 1992 ). Misalkan pada sistem berikut kita menambahkan ion Cl- dari sumber lain, katakan dari HCl. AgCl (s) Ag+ (aq) + Cl- (aq) larutan jenuh pada T oC

Akibat penambahan tadi, keseimbangan akan bergeser ke kiri dan pada keseimbangan yang baru, akan terdapat tambahan endapan AgCl, konsentrasi ion Ag+ akan lebih sedikit sedangkan konsentrasi ion Cl- akan bertambah. Hal seperti ini dinamakan sebagai efek ion senama. Secara umum dapat dikatakan bahwa kelarutan suatu elektrolit akan berkurang bila dilarutkan dalam larutan yang mengandung ion yang senama (ion yang sama) bila dibandingkan dengan kelarutan dalam air murni (Bird, 1993). Secara umum, hasil kali kelarutan suatu senyawa adalah hasil kali konsentrasi molar dari ion-ion penyusunnya, dimana masing-masing dipangkatkan dengan koefisien stoikiometrinya di dalam persamaan kesetimbangan (Chang, 2005). Secara percobaan, Ksp dapat menentukan kelarutan, dan kelarutan dapat pula dihitung dari tabel Ksp. Kelarutan molar dan tetapan hasil kali kelarutan saling berhubungan, tetapi tidak berarti identik. Nilai numeriknya tidak pernah sama (Petrucci, 1992). Faktor faktor yang penting yang mempengaruhi kelarutan suatu zat padat kristalin adalah tempratur,sifat dasar pelarut dan hadirnya ion ion lain dalam larutan.dalam kategori terakhir tercakup ion ion yang mungkin sekutu atau tidak dari ion ion dalam zat padat dan ion ion yang bersama ion zat padat itu membentuk molekul yang sedikit sekali terdisosiasi atau ion kompleks (Day dan Underwood, 2001). Kita lihat larutan jenuh perak klorida yang bersentuhan dengan perak klorida padat. Kesetimbangan kelarutannya dapat dinyatakan sebagai AgCl(s) Ag+(aq) + Cl-(aq)

Karena garam seperti AgCl dianggap sebagai elektrolit kuat, semua AgCl yang larut dalam air dianggap terurai sempurna menjadi ion Ag+ dan Cl-. Untuk reaksi heterogen, konsentrasi padatan adalah konstanta, sehingga kita dapat menuliskan konstanta kesetimbangan untuk pelarutan AgCl sebagai Ksp = [ Ag+ ] [ Cl- ]

(Chang, 2005). Hanya suku-suku konsentrasi molar yang muncul dalam rumus, maka dapat dinamakan tetapan kesetimbangan, dengan lambang Kc. Tetapi, pada umumnya digunakan istilah dan lambang khusus. Rumus tetapan kesetimbangan yang menggambarkan kesetimbangan antara senyawa ion yang sedikit larut dengan ionionnya dalam larutan berair dinamakan tetapan hasil kali kelarutan, disingkat Ksp (Petrucci, 1992). Bila suatu elektrolit kuat ditambahkan ke suatu elektrolit lemah atau ke suatu larutan yang mengandung garam sukar larut, kekuatan ionis dari larutan akan berubah (elektrolit kuat akan terdisosiasi sempurna). Oleh karena itu, koefisien aktivitas dan konstanta disosiasi elektrolit lemah atau kelarutan dari garam yang sukar larut akan berubah (Dogra dan Dogra, 1990). Pada suhu tertentu, kelarutan senyawa yang berubah (menurun) karena efek ion senama. Hasil kali kelarutan yang merupakan konstanta kesetimbangan, tetap sama apakah ada atau tidak ada zat lain dalam larutan (Chang, 2005). Larutan jenuh suatu garam, yang juga mengandung garam tersebut yang tak terlarut, dengan berlebihan merupakan suatu sistem kesetimbngan terhadap mana hukum kegiatan massa dapat diberlakukan (Svehla, 1979). Komposisi hasil kelarutan di dalam keseimbangan dengan larutan murni Al-Mc,

Fe-Mc, Fe-Hc dan campuran-campuran ditentukan pada equilibration yang berbeda waktu dan pada suhu 20 C dan 50 C .Fe memiliki konsentrasi-konsentrasi yang rendah yang dapat mendeteksi hasil kali kelarutan di dalam dari satu tahap tambahan, kiranya Fe-hydroxide. Mencatat bahwa kehadiran dari Fe-hydroxide adalah konsisten dengan pewarnaan sedikit merah (Dilnesa, B.Z, 2011).

BAB III METODE PERCOBAAN

III.1 Bahan Percobaan Adapun bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah : Pb(NO3)2, KCl, tissue nice, aquades, dan kertas label.

III.2 Alat Percobaan Adapun bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah : Rak tabung reaksi, tabung reaksi, labu erlenmeyer 250 mL, buret 50 mL, pembakar gas, kaki tiga, kasa, termometer 0o C-100oC dan termometer 500 C, gelas kimia 100 mL, gegep kayu

III.3 Prosedur Percobaan III.3.1 Pembentukan Endapan PbCl2 Pb(NO3)2 0,075 M dan KCl 1 M dimasukkan ke dalam dua buret yang berbeda, kemudian buret tersebut dibersihkan dengan aquades dipasang pada statif. Pb(NO3)2 0,075 M dimasukkan kedalam 5 buah tabung reaksi, masing-masing 10 mL.Pada tabung reaksi tersebut kemudian ditambahkan larutanKCl 1 M dengan volume yang bervariasi mulai dari 0,5 mL, 1,0 mL, 1,5 mL, 2,0 mL, 2,5 mL,3,0 mL, dan 3,5 mL.Campuran tersebut dikocok dan dibiarkan selama 5 menit, kemudian diamati apakah telah terbentuk endapan atau belum.Hasil pengamatan kemudian dicatat. III.3.2 Pelarutan Endapan PbCl2 Masing-masing tabung reaksi yang berisi campuran Pb(NO3)2 0,075 M danKCl 1M ( yang membentuk endapan), dipanaskan hingga endapan dalam tabung reaksi

tersebut larut sempurna. Selama pemanasan, larutan diaduk perlahan-lahan dengan menggunakan termometer. Setelah semua endapan terlarut sempurna, suhu larutan itu diukur menggunakan termometer dan dicatat pada tabel pengamatan.Suhu dicatat pada saat larutan tepat larut kembali.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Tabel Pengamatan No. V Pb(NO3)2 0,075M 10 10 10 10 10 10 10 V KCl 1M 0,5 1,0 1,5 2,0 2,5 3,0 3,5 Terbentuknya endapan (sudah/belum) Belum Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah Suhu
o

K 322 336 349 356 359 362

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

49 63 76 82 86 89

IV.2 Reaksi Pb(NO3)2(aq) + 2 KCl(aq) PbCl2(s) Pb2+(aq) + PbCl2(s) 2 Cl-(aq) + 2 KNO3(aq)

IV.3 Perhitungan IV.3.1 Perhitungan Pembentukan Endapan PbCl2 Pembentukan endapan pada penambahan KCl 1,0 mL mmol KCl = 1,0 mL x 1 M = 1,0 mmol mmol Pb(NO3)2 = 10 mL x 0,075 M = 0,75 mmol Volume total = 10 mL + 1,0 mL = 11 mL Pb2+(aq) + 2 Cl-(aq)

PbCl2(s) [ Pb2+ ] = [ Cl- ]

0,75 mmol = 0,06818 M 11 mL 1,0 mmol  11,0 mL 0,0909 M

Ksp

= [ Pb2+ ] [ Cl- ]2 = (0,06818) (0,0909)2 = 5,63x10-5

IV.3.2 Perhitungan Pelarutan Endapan a. Penambahan 1,5 mL KCl 1 M mmol KCl = 1,5 mL x 1 M = 1,5 mmol mmol Pb(NO3)2 = 10 mL x 0,075 M = 0,75 mmol Volume total = 10 mL + 1,5 mL = 11,5 mL PbCl2(s) + 2 KNO3(aq)

Pb(NO3)2(aq) + 2 KCl(aq) m b s : 0,75 :0,75 :0 1,5 1,5 0

0,75 0,75

1,5 1,5

[ PbCl2 ] =

n 0,75 mmol = = 0,0652 M V 11,5 mL Pb2+(aq) + s 2 Cl-(aq) 2s

PbCl2(s) s Ksp

= s (2s)2 = 4s3

= 4 (0,0652)3 = 11,08x10-4

b. Penambahan 2,0 mL KCl 1 M mmol KCl = 2,0 mL x 1 M = 2,0 mmol mmol Pb(NO3)2 = 10 mL x 0,075 M = 0,75 mmol Volume total = 10 mL + 2,0 mL = 12 mL PbCl2(s) + 2 KNO3(aq)

Pb(NO3)2(aq) + 2 KCl(aq)

m b s

: 0,75 :0,75 :0

2,0 1,5 0,5 0,75 0,75 1,5 1,5

[ PbCl2 ] =

0,75 mmol n = = 0,0625 M 12 mL V Pb2+(aq) + s 2 Cl-(aq) 2s

PbCl2(s) s Ksp

= s (2s)2 = 4s3

= 4 (0,0625)3 = 9,765 x 10-4

c. Penambahan 2,5 mL KCl 1 M mmol KCl = 2,5 mL x 1 M = 2,5 mmol mmol Pb(NO3)2 = 10 mL x 0,075 M = 0,75 mmol Volume total = 10 mL + 2,5 mL = 12,5 mL PbCl2(s) + 2 KNO3(aq)

Pb(NO3)2(aq) + 2 KCl(aq) m b s : 0,75 :0,75 :0 2,5 1,5 1

0,75 0,75

1,5 1,5

[ PbCl2 ] =

n 0,75 mmol = = 0,06 M V 12,5 mL Pb2+(aq) + s 2 Cl-(aq) 2s

PbCl2(s) s Ksp

= s (2s)2 = 4s3

= 4 (0,06)3

= 8,64 x 10-4

d. Penambahan 3,0 M KCl 1 M mmol KCl = 3,0 mL x 1 M = 3,0 mmol mmol Pb(NO3)2 = 10 mL x 0,075 M = 0,75 mmol Volume total = 10 mL + 3,0 mL = 13 mL PbCl2(s) + 2 KNO3(aq)

Pb(NO3)2(aq) + 2 KCl(aq) m b s : 0,75 :0,75 :0 3,0 1,5 1,5

0,75 0,75

1,5 1,5

[ PbCl2 ] =

n 0,75 mmol = = 0,057 M V 13 mL Pb2+(aq) + s 2 Cl-(aq) 2s

PbCl2(s) s Ksp

= s (2s)2 = 4s3

= 4 (0,057)3 = 7,407 x 10-4 e. Penambahan 3,5 mL KCl 1 M mmol KCl = 3,5 mL x 1 M = 3,5 mmol mmol Pb(NO3)2 = 10 mL x 0,075 M = 0,75 mmol Volume total = 10 mL + 3,5 mL = 13,5 mL PbCl2(s) + 2 KNO3(aq)

Pb(NO3)2(aq) + 2 KCl(aq) m b s : 0,75 :0,75 :0 3,5 1,5 2,0

0,75 0,75

1,5 1,5

[ PbCl2 ] =

n 0,75 mmol = = 0,055 M V 13,5 mL Pb2+(aq) + s 2 Cl-(aq) 2s

PbCl2(s) s Ksp

= s (2s)2 = 4s3

= 4 (0,055)3 = 6,655 x 10-4

IV.4 Grafik IV.4.1 Grafik Hubungan Kelarutan Vs Suhu No. 1. 2. 3. 4. 5. Suhu (K) 336 349 355 359 362 Kelarutan (s) 0,0652 M 0,0625 M 0,06 M 0,057 M 0,055 M

suhu vs kelarutan
0.08 kelarutan (s) 0.06 0.04 0.02 0 330 335 340 345 y = -0.0004x + 0.1946 R = 0.9186 350 355 360 365

suhu (K)

IV.4.2 Grafik Hubungan Suhu Vs Ksp No. 1. 2. 3. 4. Suhu (K) 336 349 355 359 Ksp 11,08x10-4 9,765x10-4 8,64x10-4 7,407x104

5.

362

6,655x10-4

Suhu vs Ksp
0.07 0.06 0.05 Ksp (10-4) 0.04 0.03 0.02 0.01 0 330 335 340 345 350 355 360 365 y = -0.0004x + 0.1946 R = 0.9186

Suhu (K)

IV.4.3 Grafik hubungan Log Ksp vs 1/T No. 1. 2. 3. 4. 5. T (K) 336 349 355 359 362 1/T (K) 2,9762x 10-4 2,8653 x 10-4 2,8169 x 10-4 2,7855x 10-4 2,7624 x 10-4 Ksp 11,08 x 10-4 9,765 x 10-4 8,64 x 10-4 7,407x 10-4 6,655x10-4 log Ksp -1,95546024 -2,010327752 -2,063486258 -2,130357655 -2,17685194 log Ksp regresi -1,93155014 -2,0529391 -2,08850843 -2,11944685 -2,14220728

Grafik 1/T vs Log Ksp


-1.9 0.00275 -1.95 -2 -2.05 -2.1 -2.15 -2.2 1/T (K) y=985,3x-4,864 R2=0,863 0.0028 0.00285 0.0029 0.00295 0.003

Grafik 1/T vs Log Ksp Regresi


-1.9 0.00275 -1.95 Log Kso regresi -2 -2.05 -2.1 -2.15 -2.2 1/T (K) y = 985.3x - 4.864 R = 1 0.0028 0.00285 0.0029 0.00295 0.003

y = ax + b a = slop b = intersept y = log ksp a = slope = tan b = y ax = -1,93155014 (985 3)(0,0029762) = -4,864 x untuk y = log ksp = ax + b x
1 T amar

y x

-2,14220728 - (-1,93155014) 0,0029762

= 985,3

1 30 273

0 0033

y = log ksp = ax + b = 985,3 (0,0033) + (-4,864) = -1,61251 Log Ksp = - H .1 2,303 R T

- H = log Ksp x 2,303 x R x T H = - (log Ksp x 2,303 x R x T) H = - (-1,61251 x 2,303 x 8,314J/mol K x 303 K) H = 9355,112258 J/mol H = 9,355112258 kJ/mol

IV.5 Pembahasan Pada percobaan ini untuk menentukan kelarutan elektrolit berdasar sifatnya yang sedikit larut, juga untuk menentukan panas pelarutan PbCl2 yang mana dikatakan bahwa Ksp bergantung pada suhu, digunakan dua jenis larutan yaitu larutan Pb(NO3)2 0,075 M dan KCl 1 M yang menimbulkan endapan putih. Larutan Pb(NO3)2 0,075 M dan KCl 1 M dimasukkan ke dalam dua buret yang berbeda sebanyak 50 mL. Sebelum dimasukkan dalam buret, buret tersebut dibilas dengan larutan contoh, untuk menyamakan kondisi larutan dengan buret yang akan digunakan. Ketika larutan dimasukkan ke dalam buret, kita harus memastikan bahwa tidak ada gelembung udara yang muncul. Hal ini bertujuan agar tidak mempengaruhi jumlah volume sehingga tidak berpengaruh pada hasil perhitungan. Larutan Pb(NO3)2 dimasukkan ke dalam 5 tabung reaksi dengan volume tetap yaitu 10 mL, kemudian dilanjutkan penambahan KCl 0,1 M dengan volume bervariasi yaitu 0,5 mL; 1,0 mL; 1,5 mL; 2,0 mL; 2,5 mL; 3,0 mL; dan 3,5 mL. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui berapa volume KCl yang diperlukan sampai keadaan jenuhnya dilewati sehingga endapan mulai terbentuk. Setelah larutan tersebut dicampurkan, larutan harus dikocok agar larutan tercampur merata dan reaksi berjalan lancar. Setelah dikocok, campuran tersebut didiamkan selama 5 menit untuk melihat pada

volume berapa terbentuk endapan. Endapan yang terbentuk merupakan endapan putih PbCl2 yang terbentuk akibat gabungan ion-ion didalam larutan membentuk partikel yang memiliki ukuran lebih besar yang selanjutnya mengendap. Pada

pencampuran 0,5 mL; 1,0 mL KCl belum terbentuk endapan artinya hasil kali konsentrasi ion-ion dalam larutan belum melewati nilai hasil kali kelarutan (Ksp = 0). Endapan terbentuk pada penambahan 1,5 mL; 2,0 mL; 2,5 mL; 3,0 mL; 3,5 mL yang berarti hasil kali konsentrasinya sudah melewati hasil kali kelarutannya (Ksp < 0). Tabung yang berisi larutan yang memiliki endapan dipanaskan dan pada saat pemanasan endapan dalam larutan tersebut disertai dengan pengadukan secara perlahan-lahan dengan menggunakan termometer. Sebelumnya termometer yang digunakan untuk mengaduk, dilihat suhu kamarnya (suhu awal). Pemanasan dan pengadukan ini bertujuan untuk mempercepat larutnya endapan. Pada saat endapan dalam larutan tersebut larut semuanya, diukur suhunya. Semakin banyak KCl yang ditambahkan, makin lama proses pelarutan dan makin besar juga suhu yang dibutuhkan untuk melarutkan endapan secara sempurna. Jadi banyaknya endapan yang dilarutkan berbading lurus dengan suhu. Selain itu, volume KCl yang ditambahkan ternyata juga mempengaruhi nilai hasil kali kelarutan (Ksp). Makin besar volume KCl yang ditambahkan, makin kecil nilai hasil kali kelarutan (Ksp) yang diperoleh. Hal ini dikarenakan besar volume KCl mempengaruhi banyaknya endapan yang terbentuk, sehingga mempengaruhi besar nilai hasil kali kelarutan (Ksp). Selain itu, dari analisis data yang dihasilkan, didapat nilai H yang bernilai positif, ini menunjukkan bahwa percobaan ini terbukti memang membutuhkan energi/panas,

BAB V PENUTUP

V.1 Kesimpulan Dari hasil percobaan yang dilakukan dapat disimpulkan nilai kelarutan PbCl2 dengan masing-masing volume KCL 1 M yakni 1,5 mL, 2,0 mL, 2,5 mL, 3,0 mL, dan 3,5 mL berturut-turut adalah 0,0652 M, 0,0625 M, dan 0,06 M, 0,057 M, dan 0,055 M, dengan masing-masing nilai Ksp sebesar 11,08 x 10-5, 9,765 x 10-5, 8,64 x 10-5, 7,407 x 10-5, dan 6,655 x 10-5. Panas pelarutan dari PbCl2 yang diperoleh dengan persamaan vant Hoff yang menyatakan kebergantungan Ksp terhadap suhu adalah sebesar 48,5633 kJ/mol yang menunjukkan reaksi endoterm.

V.2 Saran Saran untuk pratikum ini adalah sebaiknya alat-alat dalam percobaaan ditambah lagi dan alat-alat yang disediakan lebih banyak lagi, sehingga percobaan dapat berjalan dengan efektif juga efisien.Selain itu, kepada asisten, semoga dapat mengawasi kedisiplinan peserta praktikum ketika respon tertulis.

DAFTAR PUSTAKA

Bird,Tony, 1993, Kimia Fisik untuk Universitas, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Chang,R.,2005, Kimia Dasar Konsep-Konsep Inti edisi ketiga Jilid 2, diterjemahkan oleh Suminar Setiati Achmad, Erlangga,Jakarta. Day, R.A dan Underwood, A.L., 2001, Analisis Kimia Kuantitatif edisi keenam, diterjemahkan oleh : Iis Sopyan, Erlangga, Jakarta. Dilnesa,B.Z,dkk., 2011, Iron in carbonate containing AFm phases, Cement and Concrete Research 41 (2011) 311312,http://ees.elsevie r.com/CEMCON/default.asp, diakses tanggal 14 Februari 2012 pukul 15.35. Dogra, S.K, 1990, Kimia Fisik dan Soal-Soal,Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta. Petrucci, R.H.,1992, Kimia Dasar edisi keempat jilid 2, diterjemahkan oleh Suminar Achmadi, Erlangga, Jakarta. Svehla,G.,1979, Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro edisi kelima, diterjemahkan oleh L. Setiono dan Hadyana Pudjaatmaka, PT. Kalman Media Pustaka, Jakarta.

LEMBAR PENGESAHAN

Makassar, 16 Februari 2012 Asisten Praktikan

NATALIA SHINTADEVI NIM. H311 08 008

TRI ASTUTI RAMLI NIM. H311 10 268