Anda di halaman 1dari 7

RESPON IMUN UDANG WINDU (Penaeus monodon Fabricus) YANG DIIMUNISASI DENGAN PROTEIN MEMBRAN IMUNOGENIK MP 38 DARI Zoothamnium

penaei *) Gunanti Mahasri **)

ABSTRAK Upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit udang windu dengan antibiotik dan bahan kimia dapat menyebabkan residu pada tubuh udang. Untuk itu perlu dicari alternatif pencegahan dengan imunisasi, untuk mengurangi dampak negatif. Salah satu upaya yang sudah dilakukan adalah dengan menggunakan imunostimulan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui respon imun udang windu yang diimunisasi dengan protein membran imunogenik MP38 Zoothamnium penaei, untuk mencegah munculnya penyakit zoothamniosis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa udang windu yang diimunisasi terlihat adanya peningkatan jumlah sel haemosit dari 50,99 x 106 sel/ml menjadi 69,91 x 106 sel/ml. Peningkatan jumlah sel haemosit ini menunjukkan adanya respon imun udang windu. Kata kunci : Respon imun, Protein membran imunogenik, Zoothamniosis, Kultivasi, Kohabitasi THE IMMUN RESPONS OF TIGER SHRIMP (Penaeus monodon Fabricus) THAT IMMUNISATION WITH MEMBRANE PROTEIN MP 38 OF Zoothamnium penaei* Gunanti Mahasri **

ABTRACT To controlle the diseases of the Tiger Shrimp used the antibiotic and other chemistry materials can give the residual in the body of the shrimp. So that, must fined the alternative method for pressured the negative effect. Controlled to zoothamniosis used protein as an immunostimulant have not been done yet. But the spasmoneme protein antigenic had isolation and characterization. The purpose of the research is to knows the respons immune of the tiger shrimp which immunized by immunogenic membrane protein MP38 of Zoothamnium penaei. The result showed that, the respons immune of the tiger 60 days old was increases after immunized with immunostimulant from the immunogenic membrane protein MP38, which signed by the increasing of the haemocyte from 50,99 x 106 sel/ml to 69,91 x 106 sel/ml Keyword : Immun responce, Immunogenic Membrane protein, Zoothamniosis, Cultivation, Cohabitation. ------------------------------------------------------------------------------------------------*) Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Hasil Riset Kelautan dan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya, Malang, 08 November 2008 **) Program Studi Budidaya Perairan, FKH-Unair, Email : mahasri@unair.ac.id

PENDAHULUAN Eksistensi Udang windu ( Penaeus monodon Fab.) di Indonesia masih sangat diperlukan untuk meningkatkan produksi. Hal ini disebabkan karena sampai saat ini berbagai upaya untuk meningkatkan produksi udang dengan berbagai macam cara belum dapat berhasil sesuai target yang ditetapkan. Salah satu upaya untuk mengembalikan nilai ekonomis udang windu dan menjadikan primadona andalan komoditas ekspor non migas dari sektor perikanan, dapat dilakukan dengan penerapan teknologi yang inovatif. Penyebab utama penurunan produksi udang hingga sekarang adalah kematian udang yang disebabkan karena penyakit.

Salah satu penyakit yang sering menyerang udang windu baik di tambak maupun di panti pembenihan adalah zoothamniosis (Sumawidjaja, 1991; Mahasri, 1996). Zoothamniosis adalah penyakit parasiter pada udang yang disebabkan oleh Zoothamnium penaei, merupakan ciliata yang hidup normal pada perairan yang berkualitas. Penyebaran Zoothamnium penaei meliputi daerah pertambakan di seluruh Indonesia, Thailand, Malaysia, India, China, Jepang dan Amerika (Rukyani, 1996). Zoothamniosis menyerang udang pada semua stadia, apabila menyerang udang di pembenihan kematian dapat terjadi 2 3 hari pasca infestasi (Sumawidjaja, 1991, Mahasri, 1999), tetapi bila menyerang udang di tambak, kematian terjadi pada III - 22

infestasi berat dan kejadian di lapangan masih menunjukkan angka yang tinggi (Chamratchakool, 1996 ; Xiaozhong dan Song , 2000) Kematian udang yang disebabkan oleh zoothamniosis dapat mencapai 100% di tempat pembenihan (Venkatesan dan Srinivasan, 1995). Sindermann (1997) melaporkan bahwa infestasi Zoothamnium penaei pada kolam dengan kadar oksigen rendah (< 3 ppm) mencapai 80%, pada udang dewasa mencapai 89% (Foster, et al.,1998). Usaha pencegahan dan penanggulangan zoothamniosis sudah banyak dilakukan, antara lain dengan menggunakan sistem sirkulasi, dengan bahan kimia dan antibiotika, akan tetapi sampai saat ini belum berhasil sesuai target. Pengobatan zoothamniosis baik di panti pembenihan maupun di tambak dengan antibiotika selama ini dapat dikatakan sudah memberikan hasil yang cukup baik. Akan tetapi hal ini dapat menyebabkan patogen menjadi resisten dan residu yang terakumulasi pada udang dapat mempengaruhi mutu udang dan berbahaya bagi konsumen. Rukyani (1996) mengatakan bahwa untuk meningkatkan ketahanan tubuh udang baik di panti pembenihan maupun di tambak dapat dilakukan dengan menggunakan imunostimulan. Sistem pertahanan tubuh pada invertebrata (termasuk udang) yang berperan adalah mekanisme pertahanan tubuh oleh haemosit, di mana penyebaran dan peningkatan jumlah haemosit diasumsikan sebagai bentuk dari respon imun seluler pada tubuh udang (Itami, 1994 dan van de Braak, 2002). Untuk melakukan aktivitas fagositosis, enkapsulasi, nodulasi, pengaktifan sistem prophenoloksidase, anti mikroba maupun senyawa toksik, diperlukan pelepasan beberapa protein untuk mengatasi benda asing atau agen yang masuk tersebut (Sderhall dan Cerenius, 1992). Imunisasi dengan protein sudah mulai digunakan di dunia budidaya ikan maupun udang. Itabashi, et al., (2004) telah berhasil mendeteksi protein inti dan sitoplasmik Zoothamnium arbuscula dengan anti protein spasmin-1 pada spasmonema. Analisis hasil immunoblotting menunjukkan bahwa protein antigennya mempunyai berat molekul 68 kDa, 55 kDa dan 71 kDa. Clark et al. (1996) berhasil mengisolasi protein membran antigen dari Paramecium, Tetrahymena dan Ichthyiophthirius multifiliis, diduga protein ini berperan dalam infestasi parasit pada inang. Selanjutnya dikatakan bahwa protein mayor merupakan ligan perlekatan yang penting pada Ichthyiophthirius multifiliis dan merupakan jembatan masuknya parasit ke dalam sel. Wang dan Dickerson (2002) mengatakan bahwa surface immobilization antigen dari Ichthyophthyrius multifiliis dapat meningkatkan pertahanan tubuh pada Channel Catfish (Ichtalurus punctatus). Lin et al. (1996), memperkuat pernyataan Wang dan Dickerson, bahwa imunisasi pasif dari Ichthyophthirius multifiliis (Ciliata pathogen) dengan Murine Antibodi Monoklonal dapat meningkatkan

ketahanan tubuh Channel Catfish. Imunisasi dengan protein membran antigen Ichthyophthirius multifiliis stadia theront dengan beberapa serotipe juga telah dilakukan oleh Leff, et al. (1994), Maki dan Dickerson (2003) dan Lin, et al. (1996) pada Channel Catfish dan berhasil menekan infestasi parasit. Analog dengan uraian di atas, maka protein membran imunogenik MP38 Zoothamnium penaei, dapat digunakan sebagai bahan pengembangan imunostimulan pada udang windu terhadap serangan zoothamniosis. METODE PENELITIAN Sampel yang berupa Zoothamnium penaei diperoleh dari hasil kultivasi di Laboratorium dengan kohabitasi. Udang windu positif terserang zoothamniosis diambil dari pertambakan di Kabupaten Gresik. Udang windu sehat yang digunakan dalam penelitian ini udang muda umur 60 hari dengan berat 25-30 gram, sebanyak 100 ekor, diambil dari tambak milik C.V. Mandiri Grup di Desa Kedungpeluk, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo. Sampel udang dibawa ke laboratorium secara tertutup dengan menggunakan kantong plastik yang diberi oksigen. Isolasi protein membran dilakukan dengan metode Scopes (1994) dengan SDS-PAGE. Pemurnian terhadap berat molekul masing-masing fraksi protein dilakukan dengan Sephadex Kromatografi. Kemudian dilakukan pemurnian kembali dengan SDS-PAGE. Analisis Protein Membran Zoothamnium penaei dengan SDS-PAGE dengan komposisi separating gel 15 % dan stacking gel 5%. Marker digunakan protein dengan berat molekul pada kisaran 6,5 212 kDa (New England Bio-Labs). Pewarnaan gel dilakukan dengan Comassie Brilliant Blue. Penentukan konsentrasi protein membran digunakan Metode Bio-Rad Protein Assay dan dibaca dengan Spektrofotometer UV-Visible dengan panjang gelombang 595 nm. Produksi antibodi poliklonal dilakukan pada kelinci lokal jantan dewasa sehat dengan berat 2,385 kg yang berumur 5 bulan. Sesudah diadaptasi selama 10 hari, diinjeksi secara sub kutan dengan protein membran dosis 200 g. Penentuan titer antibodi dari serum kelinci yang telah diimunisasi tersebut dilakukan dengan metoda ELISA. Titer antibodi menunjukkan negatif jika hasil pembacaan ELISA antara kelinci kontrol dan kelinci yang diimunisasi diperoleh nilai optical density (OD) yang hampir sama. Titer antibodi menunjukkan positif bila nilai OD kelinci imun lebih tinggi atau minimal dua kali nilai OD dari kelinci kontrol (Rantam, 2003). Untuk mengetahui tingkat imunogenitas protein membran MP38 dilakukan analisis dengan immunoblotting dengan Western Blotting, menurut Rantam (2003). Selanjutnya protein membran imunogenik MP38 yang ditemukan digunakan sebagai imunostimulan dan diimunisasikan pada udang windu. Penelitian ini dibagi menjadi 3 kelompok perlakuan (K1, K2 dan K3). Padat tebar udang umur III - 23

60 hari 2 ekor/liter, sehingga dibutuhkan 10 ekor per akuarium/perlakuan.Dosis imunostimulan yang diberikan adalah 5 g/ml sebanyak 5 g/ml sebanyak 300 l/ekor yang diberikan secara intra muskular (Zang et al, 2002). Setelah dilakukan aklimatisasi, pada kelompok K1 (Kontrol) yaitu kelompok tanpa diimunisasi protein membran dan tanpa diinfestasi zooid Zoothamnium penaei, hanya diinjeksi dengan PBS dengan perendaman sebanyak 600 l/ekor untuk udang umur 30 hari pada tiap bak pemeliharaan. Kemudian tujuh hari berikutnya diberikan lagi PBS dengan dosis 600 l/ekor pada tiap bak pemeliharaan. Untuk udang umur 60 hari diberikan PBS sebanyak 300 l/ekor. Kelompok K2 diimunisasi protein membran imunogenik dengan dosis 5 g/ml sebanyak 600 l/ekor untuk udang umur 30 hari dan 300 l/ekor untuk umur 60 hari. Tujuh hari berikutnya diinfestasi dengan 80 zooid Zoothamnium penaei. Kelompok K3 tanpa diimunisasi protein membran dan diinfestasi zooid Zoothamnium penaei. Tujuh hari berikutnya diberikan 80 zooid Zoothamnium penaei (Fegan, et al., 1993). Parameter yang digunakan untuk mengetahui respon imun udang windu akibat imunisasi adalah adanya peningkatan total haemosit (THC) dan Deferensial Haemosit (DHC). Untuk mengetahui proteksi protein membran imunogenik MP38, dilakukan penghitungan tingkat kelangsungan hidup (survival rate) udang yang dipelihara selama tujuh hari. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis varian dan jika ada perbedaan dilanjutkan dengan uji Duncan (Steel dan Torrie, 1993)

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil karakterisasi protein membran Zoothamnium penaei dengan SDS-PAGE dapat dilihat pada Gambar 2, yang menunjukkan bahwa terdapat protein yang digambarkan dalam bentuk pita pada gel SDS-PAGE 15%. Pada gel SDS-PAGE ditemukan adanya 7 pita (band), yaitu protein dengan berat molekul (BM) 38 kDa, 48 kDa, 67 kDa, 71 kDa, 77 kDa, 98 kDa dan 104 kDa. Gambar 1. menunjukkan bahwa terdapat pita protein membran MP 38 dengan Berat Molekul 38 kDa. Hasil uji imunogenitas dari protein membran imunogenik MP 38 dengan Western Blotting disajikan pada Gambar 2. Hasil pemeriksaan respons imun udang yang diimunisasi dengan protein membran imunogenik MP38 menunjukkan bahwa terjadi peningkatan respon imun dari udang yang diimunisasi, yang ditunjukkan dengan adanya peningkatan jumlah (THC), defensial haemosit (DHC) dan peningkatan kelangsungan hidup (SR). Hasil penghitungan THC, DHC dan SR udang dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1 menunjukkan bahwa total haemosit (THC), total Diferensial haemosit (DHC) dan kelangsungan hidup (SR) udang mengalami peningkatan setelah diimunisasi protein membran MP38 dan diinfestasi zooid Zoothamnium penaei dan terbukti terdapat perbedaan yang nyata (p<0,05) antar perlakuan. THC tertinggi terdapat pada udang yang diimunisasi dan diinfestasi zooid (Kelompok K2) yaitu sebanyak 69,91x106 sel/ml dan terendah pada udang yang tidak diimunisasi yaitu 36,84x106 sel/ml. Sedangkan DHC tertinggi terjadi pada udang yang diimunisasi dengan protein membrane MP38 sebanyak 27,7380 sel/ml dan berbeda dengan kelompok kontrol (K1).

1 104 kDa 98 kDa

M 116 kDa 97 kDa

77 kDa 71 kDa 67 kDa 48 kDa

70 kDa 66 kDa

38 kDa

45 kDa 31 kDa 21 kDa

Gambar 1. Hasil Karakterisasi Protein Membran Zoothamnium penaei dengan SDS-PAGE 15% dengan Pewarnaan Comassie Blue Keterangan : Lajur (1) : protein membran sampel dan lajur (M): Marker

III - 24

116 kDa 97 kDa 67 kDa 70 kDa 66 kDa

48 kDa 38 kDa

45 kDa 31 kDa 21 kDa

Gambar 2. Hasil Analisis Protein membran Zoothamnium penaei Dengan Teknik Western Blotting Keterangan : Lajur (1) dan (2) : Protein Membran dan Lajur (3) : Marker Kelangsungan hidup tertinggi pada kelompok kontrol (K1) yaitu 100,00% dan pada kelompok K2 berurutan mencapai 96,00%, dan paling rendah adalah pada kelompok K3 yaitu hanya 70,00%

Tabel 1. Hasil Penentuan Total Haemosit (THC), Total Diferensial Haemosit (DHC) dan Kelangsungan Hidup (SR) Udang Yang Diimunisasi Dengan Protein Membran Imunogenik MP38 Setelah Tujuh Hari Dipelihara Kelompok Perlakuan Kontrol (K1) Diinfestasi dan diimunisasi (K2) Diinfestasi tanpa diimunisasi (K3) THC (106 sel/ml ) 50,99b 0,32 69,91a 0,47 36,84c 0,21 DHC ( % ) 14,22e 0,43 27,74d 1,61 4,55f 0,55 Kelangsungan Hidup 100,00a 0,00 96,00b 5,48 70,00d 7,07

Keterangan : Superskrip yang berbeda pada satu kolom yang berbeda menunjukkan adanya perbedaan yang sangat nyata (p<0,05) Total haemosit (THC) menunjukkan jumlah sel haemosit secara keseluruhan yang terdiri dari : sel haemosit agranular (hyaline), semi granular dan sel haemosit granular. Sedangkan yang dimaksud DHC dalam penelitian ini adalah jumlah sel haemosit granular yang dinyatakan dalam persen. Tabel 1. menunjukkan bahwa terjadi penurunan total haemosit dan diferensial haemosit (THC dan DHC) pada udang windu yang dipelihara selama tujuh hari dan diinfestasi Zoothamnium penaei. Hal ini tidak sesuai dengan pendapat Van de Braak (2002) yang menyatakan bahwa terjadi peningkatan jumlah haemosit tipe granular di daerah infeksi WSBV (White Spot Baculo Virus). Kemudian diperkuat oleh pendapat dari Anderson dan Siwicki (1995) yang menyatakan, bahwa apabila terjadi infeksi oleh patogen maka akan terjadi peningkatan total haemosit, karena meningkatnya total haemosit ini menunjukkan adanya fase infeksi. Dengan demikian menurunnya THC dan DHC udang windu ini kemungkinan disebabkan karena pada waktu terjadi infestasi, sel darah akan bermigrasi ke daerah sekitar serangan

III - 25

Zoothamnium penaei. Sehingga pada saat pengambilan pada organ sirkulasi dan penghitungan THC dan DHC terdapat penurunan. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Van de Braak (2002) yang mengatakan bahwa terjadi penurunan THC dan DHC pada sirkulasi darah udang bila terjadi infeksi patogen, karena sel haemosit bermigrasi ke daerah di sekitar infeksi. Terjadinya perbedaan respon imun udang tersebut kemungkinan disebabkan karena sifat imunogenitas dari protein MP38 tersebut Akan tetapi di samping berat molekul, suatu protein yang mempunyai tingkat imunogenitas yang tinggi juga tergantung dari struktur yang komplek. Menurut pendapat Tizard (1988) dan Baratawidjaja (2004) protein yang bersifat imunogenik mempunyai berat molekul yang besar lebih dari 1000 Dalton dan mempunyai struktur yang komplek jenis asam amino yang dikandungnya. Protein membran MP38 tersebut mempunyai berat molekul di atas 1000 Dalton, dengan demikian untuk menjawab perbedaan kemampuan proteksi ini masih perlu diteliti susunan asam amino yang terkandung pada masing-masing protein. Selanjutnyan oleh Tizard (1988) dikatakan bahwa asam amino aromatik mempunyai sifat antigenitas yang tinggi jika dibandingkan dengan jenis asam amino yang lain. Tabel 1. juga menunjukkan adanya perbedaan kelangsungan hidup udang. Perbedaan ini dapat disebabkan karena adanya derajat infestasi dari Zoothamnium penaei. Semakin tinggi derajat infestasi akan semakin tinggi tingkat kematian udang. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Mahasri (1998), yang mengatakan bahwa semakin tinggi jumlah zooid Z. Penaei pada udang akan semakin tinggi pula tingkat kematian pada benih udang windu. Protein membran imunogenik MP38 ini, bersifat imunogenik, sehingga di dalam tubuh udang akan merangsang aktifitas sel-sel haemosit baik agranular (hyalin) maupun ganular, sebagai upaya untuk melawan patogen (Zoothamnium penaei) yang masuk dalam tubuh udang tersebut. Hal ini didukung oleh Mckay dan Jenkin (1970) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa aktifitas fagositik pada crayfish (Parachaeraps bicarinatus) lebih aktif dilakukan oleh sel hyalin. Fagositosis oleh sel hemosit udang lebih aktif dilakukan oleh sel hyalin dan sel semi granular. Mekanisme kekebalan tubuh pada udang tidak seperti pada ikan dan mamalia yang mempunyai imunoglobulin. Imunoglobulin pada udang digantikan oleh Prophenoloxidase Activating Enzim (PPA) (Soderhall dan Cerenius, 1992). PPA adalah protein yang berlokasi di sel granular hemosit. PPA ini dapat diaktifkan oleh lipopolisakarida dan 1,3-Glukan, yang akan merangsang prophenoloksidase menjadi phenoloksidase. Sebagai akibat dari perubahan ini akan dihasilkan semacam protein Opsonin Factor yang dapat menginduksi sel-sel hyalin untuk melakukan proses fagositosis (Johansson dan Soderhall, 1989).

Van de Braak (2002) dan Smith, et al. (2003) juga mendukung pernyataan diatas bahwa sel haemosit tersebut akan melakukan degranulasi, dan beberapa protein akan dilepas untuk kepentingan respon imun, seperti : meningkatnya sel haemosit, dan meningkatnya aktifitas penjeratan dan fagositosis. Di samping itu protein membran imunogenik akan merangsang haemosit untuk melepaskan proPO dan protein-binding PPA, sehingga mengakibatkan sel haemosit meningkatkan aktifitasnya untuk melakukan penjeratan dan fagositosis terhadap agen penyakit yang dalam hal ini adalah Zoothamnium penaei. Meningkatnya jumlah dan deferensiasi sel haemosit akan berakibat meningkat pula pertahanan tubuh udang terhadap serangan zoothamniosis. Hal ini sesuai dengan pernyataan Itami et al. (1996) yang mengatakan bahwa pemberian vaksin dapat mencegah infeksi penyakit dalam tubuh inang dan menyebabkan meningkatnya aktifitas fagosit haemosit dan enzim proPO. Pernyataan ini diperkuat oleh Soderhall, et al.(1996) dan Van de Braak (2002) bahwa protein membran yang masuk ke tubuh udang akan menimbulkan antibodi yang mampu menetralisir infestasi Zoothamnium penaei, sehingga Zoothamnium penaei tidak dapat menginfestasi pada udang. Pendapat Clark, et al. (1996) yang dibuktikan dalam hasil penelitiannya menunjukkan bahwa ikan Channel Catfish yang diimunisasi dengan protein membran dari theront serotype G3 dan G4 dapat menekan infestasi Ichthyophthirius multifiliis dari 78,9% menjadi 14,2% selama masa pemeliharaan 24 jam. Selanjutnya diperkuat oleh Wang dan Dickerson (2002) yang menyatakan bahwa imunisasi dengan protein membran antigen dengan berat molekul 55 dan 46 kDa, kemudian diinfeksi Ichthyophthirius multifiliis dosis 15.000 sel/ikan pada ikan Channel catfish, pada hari ke 84 ikan masih survive 27%, sedangkan pada kelompok kontrol semua ikan sudah mati pada hari ke 14. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diajukan dalam penelitian ini adalah bahwa terjadi peningkatan respon imun udang yang diimunisasi dengan protein membran imunogenik MP38, yang ditandai dengan adanya perubahanTHC dan DHC. Protein membran imunogenik MP38 bersifat protektif terhadap zoothamniosis yang terbukti dengan meningkatnya tingkat kelangsungan hidup (SR) udang windu. Saran Saran yang dapat diajukan dari penelitian ini adalah bahwa penelitian lebih lanjut sangat diperlukan untuk mengetahui berapa lama protein membran MP38, dapat menstimulasi sel imun secara aktif, sehingga dapat melindungi udang terhadap serangan zoothamniosis. Juga masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui jenis asam amino dan susunan genom pada protein membran MP38, untuk III - 26

mengetahui tingkat imunogenitas dari masing protein. DAFTAR PUSTAKA

masing-

Baratawidjaja C, 2004. Imunologi Dasar, 4st ed. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta. Blaxhall, P. and K. Daisley. 1993. Some blood parameters of the Rainbow Trout I.The Kamloops variety. J. Fish. Biol. 5 : 1-8. Chamratchakool P, 1996, Health Management in Shrimp Ponds, Health Research Institute, Bangkok, Thailand, pp. 50 53. Clark, T.G., Tian-Long Lin and H.W. Dickerson, 1996. Surface antigen crosslinking triggers forced exit of a protozoan parasite from its host, Proc. Natl. Acad. Sci. USA, Vol. 93, pp.6825 6829, June. Itabashi T, Mikami K and Asai H, 2003. Characterization of the spasmin I gene in Zoothamnium arbuscula strain Kawagoe (protozoa, eiliophora) and its relation to other spasmins and centris. Res. Microbiol J, 154 ( 5 ) : 361 - 367. Itabashi T, Terasaki T and Asai H, 2004. Novel Nuclear and Cytoplasmic Proteins Detected by Anti-Zoothamnium arbuscula ( Protozoa ) Spasmin 1 Antibody In Mammalian Cells Are Dependent on the Cell Cycle, Biochem J, 136 (5) : 651- 657. Itami, T, 1994. Body Defense System of Penaeid Shrimp, Seminar on Fish Physiology and Prevention of Epizootics, Department of Aquaculture and Biology, Shimonoseki University of Fisheries, Japan, 7 : 59-65. Itami T, Kondo M and Takahasi Y, 1996. Enchancement of Disease Resistance of Kuruma Prawn, Penaeus japonicus After Oral Administration of Peptidoglucan, National Fisheries University, Japan, p. 7:59-65 Johanson MW and Sderh ll K, 1989. Celluler Immunity in Crustacean and the Pro System, Parasitology Today, vol. 5 no. 6 : 171-176. Leff, A.A., T. Yoshinaga and H.W. Dickerson, 1994. Cross immunity in channel catfish, Ictalurus punctatus (Rafinesque), against two immobilization serotypes of Ichthyopthirus multifiliis (Fouquet), J. of Fish Diseases, Vol. 17, pp. 429 432. Lin, T.L., T.G. Clark and H. Dickerson, 1996. Passive Immunization of Channel Catfish (Ictalurus punctatus) against the Ciliated Protozoan Parasite Ichthyophthirius multifiliis by Use of Murine Monoclonal

Antibodies, Infection and Immunity, Oct, pp. 4085 4090. Mahasri G, 1996. Pengaruh manipulasi tingkat aerasi dan padat tebar terhadap Infestasi parasit protozoa kelas ciliata pada benur udang windu, Thesis, IPB, Bogor : 67 halaman. ________, 1999. Perkembangan Jumlah Ciliata Patogen pada Udang Windu pada Padat Tebar dan Aerasi yang Berbeda, Media Kedokteran Hewan, Unair, Vol. 15, No. 4. Maki, J.L. and H.W. Dickerson, 2003. Systemic and Cutaneous Mucus Antibody Responses of Channel Catfish Immnunized against the Protozoan Parasite Ichthyophthirius multifiliis, Clinical and Diagnostic Laboratory Immunology, Vol. 10, No. 5, pp.876 881. Mc Kay, D. and C.R. Jenkin. 1970. Immunity in Invertebrates Correlation of The Phagocytic Activity of Haemocytes With Resistance to Infection in the Crayfish (Parachaeraps bicarinatus). Departement of Microbiology, University of Adelaide. South Australia. 48: 139-150. Paterson, W.D. and I.R. Keith. 1992. Disease and Defense mechanisms of the American Lobster, Homarus Americanus. Fish Health Section, Asian fisheries Society, Manila, Philipines. p. 81-87. Person M, Cerenius L and Sderh ll K, 1987. The Influence of Haemocyte Number on the Resistance of the Freshwater crayfish Pacifastacus leniusculus Dana, to the Parasitic fungus Aphanomyces astaci, Fish Disease J, 10 : 471-477. Rantam FA, 2003. Metode Imunologi, Airlangga University Press, Surabaya. Rukyani A, 1996. Jenis Penyakit Udang di Tambak dan Cara Pengendaliannya, Makalah Pertemuan Aplikasi Paket Teknologi Pertanian, tgl. 9 11 Januari di BIPLampung. Sderh ll, K and Cerenius L, 1992, Crustacean Immunity, Annual Rev. of Fish Diseases, pp. 3 23. _______, 1998. Role of the prophenoloxidase activating system in invertebrates immunity, Current Opinion in Immunology, 10 : 23-28. Steel RG. and Torrie JH, 1993. Prinsip Prosedur Statistika, Terjemahan oleh Bambang Sumantri, Gramedia, Jakarta, hal 425-478. Sumawidjaja K, 1991. Penyakit Benih Udang Windu (Penaeus monodon Fabricus), Makalah Seminar hasil-hasil Penelitian, Institut Pertanian Bogor, 7 April. Tizard IR, 1988. Pengantar Imunologi Veteriner, (Terjemahan). Airlangga University Press, Surabaya.

III - 27

Van de Braak, K. 2002. Haemocytic defence in black tiger shrimp (Penaeus monodon), Disertation, van Wareningen Universiteit, Germany. Venkatesan VB and SVC Srinivasan. 1995. Transport on the infestation of Peritrich ciliate Zoothamnium Sp. and Epystylis Sp. on pond natured tigerprawn, J. Inland. Fish Soc., India. 2 (13) : 107 109. Wang, Xuting and H.W. Dickerson. 2002. Surface Immobilization Antigen of the Parasitic Ciliate Ichthyophthirius multifiliis Elicits Protective Immunity in Channel Catfish (Ictalurus punctatus), Clinical and Diagnostic Laboratory Immunology, January, Vol. 9, No. 1, p. 178 -181, Athens, Georgia. Xiaozhong Hu and Weibo Song. 2000. Description of Zoothamnium chlamydis sp. (Protozoa : Ciliophora : Peritrichida), an Ectocommenseal Peritrichous Ciliate from Cultured Scallop in North China, Laboratory of Protozoology, KLM, Ocean, Qingdao, University of Qingdao, Republic of China.

III - 28