Anda di halaman 1dari 13

1.

METODOLOGI PENYELIDIKAN
Detail pekerjaan yang tercakup dalam proyek ini meliputi:
1. Pekerjaan Lapangan
Geolistrik (resistivity) : Pengambilan data electrical sounding
resistivitas mapping (1D) untuk mengetahui pola sebaran lapisan
batuan dan kedalaman lapisan batuan
Pemboran Inti : Pengambilan sampel undisturb (UDS) setiap 5 meter
dan pencatatan sampel disturb sampai kedalaman 20 meter, serta
melakukan uji Standart penetration Test (SPT) per 5 meter
Sondir atau Cone Penetration Test (CPT)
2. Pekerjaan Laboratorium
Kadar air, Berat isi, Berat Jenis
Batas atterberg
Analisa butiran
Triaxial CU
1.6. Waktu Pelaksanaan
Survey lapangan dilaksanakan 14 hari. Dilanjutkan dengan uji laboratorium dan
pembuatan laporan selama 14 hari
1
Geolistrik (resistivity)
Metoda Geofisika dengan pendekatan cara pengukuran soil resistivity adalah salah satu
metoda yang cukup efisien dan jangkauan yang luas untuk mengetahui beberapa
perlapisan batuan, ketebalan per lapisan batuan dan penyebarannya. Dasar pendekatan
dari beberapa perlapisan batuan ini berdasarkan pendugaan harga tahanan jenis batuan
yang diinterpretasikan dengan jenis litologi batuan.
Proses pengambilan data tergantung pada tujuan daripada survei geolistrik tahanan jenis
tersebut. Tujuan yang dimaksud adalah target atau sasaran dari jenis batuan, kedalaman
batuan atau penyebarannya. Pengukuran dengan Metoda Mapping bertujuan untuk
mengetahui penyebaran batuan yang sangat luas dan Metoda Sounding untuk tujuan
eksplorasi yang sangat detail yaitu untuk mengetahui jenis batuan, ketebalan batuan dan
penyebaran batuan.
Dasar Teori Tahanan Jenis
Bila arus listrik searah dialirkan melalui suatu medium maka perbandingan antara
perbedaan beda potensial (V) yang terjadi dengan arus (I) yang diberikan adalah tetap dan
benarnya tetapan ini tergantung dari medium tersebut. Tetapan ini disebut tahanan (R),
yang didefinisikan atau dinyatakan dalam hubungan matematis sebagai :
Jika pada sepotong kawat atau suatu silinder homogen dialirkan arus listrik melalui
sumbunya maka tahanan R akan berbanding langsung dengan panjang silinder (L) dan
berbanding terbalik dengan luas penampang silinder (A).
dimana adalah konstanta perbandingan yang disebut sebagai tahanan jenis (resistivity)
dalam satuan Ohm-meter. Dari persamaan tersebut diatas diperoleh :
[Type text]
(Ohm)
I
V
= R
(Ohmm)
A
L
R
(Ohmm)
LI
V A
=
Konfigurasi Elektroda.
Susunan elektroda menurut Schlumberger pada prinsipnya terdiri atas 2 (dua) elektroda
arus dan potensial (Gambar 2.1) :

Gambar 2.1. Dua Elektroda Arus dan Dua Elektroda Potensial di
permukaan bumi
Potensial di P1 yang disebabkan oleh C1 adalah :
V
I
r
1
1 2

Karena besarnya arus sama dan berbeda kutub, maka potensial di P1 akibat dari arus di
C2 adalah :
V
I
r
2
2 2
+

Agar pengukuran tidak bergantung terhadap tahanan sentuh pada elektroda arus A dan B,
Wenner (USA,1917) dan C & M Schlumberger (France,1920) mengajukan cara yang
disebut konfigurasi Schlumberger, yaitu dengan meletakkan elektroda A dan B simetris
terhadap titik tengah serta menambah elektroda potensial M dan N yang simetris pula
terhadap titik tengah diantara elektroda A dan B (Gambar 2.2 ).
[Type text]
C1 C1 C1 C2 P1 P2
r1 r2
r3 r4
///////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////
////////////////
I
V
Gambar 2.2. Susunan Elektroda Schlumberger
Apabila R = AB/2
r = MN/2
Maka faktor geometri dari konfigurasi Schlumberger adalah :


K
A M BM A N BN

_
,

_
,

1
]
1
2
1 1 1 1

K
R r R r R r R r

_
,

_
,

1
]
1
2
1 1 1 1

=
1
]
1

,
_

2 2
4
2
r R
r


dimana K adalah faktor geometri dalam satuan meter. Disini jelas terlihat bahwa faktor
geometri bergantung pada letak elektroda arus maupun elektroda potensial.
[Type text]
/ / / / / / / / / / / / / / / / / / / / / / / / / / / / / / / / / / / /
/ / / / / / /
Sumber
arus
A B M N
R
r
I
V
Pada metoda ini jarak elektroda potensial jarang diubah-ubah meskipun jarak elektroda
arus selalu diubah-ubah. Jarak elektroda arus harus jauh lebih besar dibanding jarak
elektroda potensial selama melakukan perubahan jarak spasi elektroda. Jarak optimum
AB/2 harus lebih besar dari 5 MN/2.
Teknik Akuisisi Data
Prinsip dasar pengukuran pada Metoda Electrical sounding resistivity yaitu mengalirkan
arus listrik dari perangkat sumber pembangkit tegangan tinggi ke dalam bumi dengan
menggunakan elektroda arus pada konfigurasi pengukuran tertentu di suatu titik, nilai
beda potensial (mV) akibat penjalaran arus pada medium bumi yang memiliki nilai
hambatan (Ohm) akan diperoleh pada perangkat pembacaan data. Selanjutnya data
masukan ini akan diolah melalui proses inversi data menggunakan perangkat lunak
pengolahan data WinSev untuk menghasilkan keluaran data yang memperlihatkan pola
sebaran perlapisan bawah permukaan berdasarkan nilai tahanan jenis yang diperoleh.
Soil resistivity 1D
Pengukuran Soil resistivity 1D dilakukan untuk menentukan distribusi nilai tahanan jenis
batuan terhadap kedalaman dalam penampang 1 dimensi pada suatu lintasan pengukuran.
Konfigurasi pengukuran yang digunakan adalah konfigurasi Schlumberger, dimana
sepasang elektroda arus dan potensial ditanam di atas titik pengukuran dengan jarak antar
elektroda yang telah ditentukan (Gambar 2.3). Pengambilan data dilakukan dengan
mengukur nilai beda potensial yang timbul di antara elektroda
[Type text]
Sumber
arus
Gambar 2.3. Cara pengukuran soil resistivity 1D, probe dibentang untuk menjangkau
kedalamn yang lebih besar.
P1dan P2 saat arus di elektroda C1 dan C2 diinjeksikan ke dalam bumi. Pengukuran data-
data selanjutnya akan dilakukan dengan memperbesar spasi elektroda dengan tujuan
memperoleh data pada kedalaman yang lebih besar serta menggeser posisi seluruh
elektroda hingga pengukuran akan meliputi area sepanjang lintasan.
Resistivitas berbagai jenis batuan, tanah, dan mineral
Pada gambar 2.4, dapat dilihat distribusi nilai resistivitas terhadap jenis batuan, tanah, dan
mineral.
[Type text]
/ / / / / / / / / / / / / / / / / / / / / / / / / / / / / / / / / / / /
/ / / / / / /
A B M N
R
r
I
V
Gambar 2.4. Resistivitas berbagai tanah, batuan, dan mineral
(M.H.Loke, 2004)
Peralatan
Peralatan yang digunakan dalam pengambilan data meliputi :
- Perangkat Geolistrik Naniura
- Switching box
- Aki Kering 12 V 32 Ah
- Kabel Elektroda Arus dan Elektroda Potensial
- Take out cabel dan probe
- Perangkat GPS Garmin
- Perangkat Kamera Digital
- AVO Meter
Pemboran Inti
Pekerjaan ini dilakukan dengan mempergunakan bor mesin, yang mempergunakan cara
atau metoda "rotary core drilling". Untuk menembus tanah dan batu mempergunakan
mata bor (bit) yang sesuai dengan fisik batuan; "meta crown" pada soft rock, dan
"diamond bit" pada hard rock.
[Type text]
Pemboran dengan mempergunakan pipa pelindung atau "casing" akan dilakukan pada
litologi yang bersifat lepas dan mudah urug, hal ini dilakukan agar pipa bor tidak terjepit
(jamming) yang akan menghambat pekerjaan. Cara lain untuk keperluan ini ialah dengan
mempergunakan semen atau bahan bentonit.
Pemboran dilaksanakan oleh tenaga berpengalaman, sehingga prosentase "core recovery"
diharapkan mencapai 100%, untuk hal ini tiap juru bor telah mengetahui cara pengaturan
jumlah air pembilas, tekanan yang tepat, dan kecepatan pemboran yang disesuaikan
dengan kondisi batuan, sehingga keaslian kondisi geologi relatif tidak terganggu.
Demikian pula setiap contoh yang terambil akan diperlakukan secara hati-hati hingga
terlindung dari segala gangguan dan kerusakan, yaitu pengeluaran contoh dari tabung
penginti dilakukan tanpa getaran, untuk jenis "triple tube" yang mempunyai "split barrel"
pengeluaran inti dapat dilakukan dengan hidrolik.
Pelaksanaan pemboran sejauh memungkinkan akan disesuaikan dengan standar ASTM D
2113-70 (1976). Untuk melaksanakan pekerjaan ini akan dipergunakan penginti "double
tube" dengan ukuran NX (Standard DCDMA) yang akan menghasilkan inti dengan garis
tengah 54 mm, dan ukuran NQWL untuk jenis pemboran "wireline".
Untuk menjamin pengambilan inti dengan presentase tinggi pada daerah pelapukan dan
batuan lepas/urai akan dipergunakan penginti jenis "triple tube" ukuran NMLC, dengan
garis tengah luar 75,7 mm akan menghasilkan inti dengan garis tengah 52 mm dan type
NQWL. Untuk menjamin pengambilan inti yang memuaskan, selain teknik yang baik,
peralatan yang dipergunakan juga memegang peranan yang penting.
Pada pemboran lapisan tanah penutup dan lapisan pasir, kerikil, akan dipergunakan mata
bor baja ("steel bit"). Pada batuan keras akan menggunakan mata bor intan dengan tipe
saluran air (waterway) yang disesuaikan dengan jenis batuan yang akan ditembus. Pada
lapisan batuan yang mudah runtuh akan dipasang pipa pelindung (casing).
Jenis mata bor serta tabung penginti akan digunakan sesuai dengan kebutuhan kedalaman
pemboran seperti pada pemboran dalam digunakan type HQWL, NQWL dan BQWL,
sedangkan pada pemboran dangkal digunakan mata bor NX-NMLC.
Segera setelah inti dikeluarkan, maka akan ditempatkan dalam kotak inti berukuran 110
cm x 50 cm dan dalamnya 7 cm. Bagian dalam dibagi dalam 5 partisi yang dapat memuat
inti sepanjang 1 meter dengan garis tengah 6 cm. Inti diletakkan sedemikian rupa
sehingga memudahkan bagi siapapun untuk memeriksanya. Pada bagian-bagian dimana
inti tidak terambil pada tempatnya pada kotak contoh akan diletakkan bambu yang dicat
merah sepanjang inti yang tidak terambil, disertai keterangan mengenai sebab-sebab tidak
terambilnya inti dan perkiraan jenis batuannya. Peti-peti contoh setelah diberi keterangan
mengenai lokasi pemboran dan kedalamannya maka peti yang telah terisi penuh akan
dipotret setelah sebelumnya intinya dibasahi dulu.
Kedalaman muka air tanah dalam lubang bor akan diukur dan dicatat setiap sebelum dan
setelah pekerjaan untuk hari itu selesai. Apabila pada waktu pekerjaan berlangsung muka
air tanah dalam lubang bor naik maka kedalaman pada mana air mulai naik dan
[Type text]
ketinggian naiknya akan dicatat dan pemmboran dilanjutkan seperti biasa. Apabila
kenaikan itu berlangsung terus sehingga mencapai permukaan casing ataupun
melebihinya maka pekerjaan untuk sementara akan dihentikan dan hal ini akan segera
dilaporkan kepada pihak Direksi. Pekerjaan akan dilanjutkan setelah ada perintah dari
Direksi.
Catatan pemboran harian akan berisi antara lain :
- ketinggian muka air tanah dalam lubang bor pada sebelum dan setelah
pekerjaan
- kecepatan pemboran per 10 menit,
- persentase inti,
- deskripsi kwalitas batuan,
- tipe mata bor dan penginti
- tekanan air pemboran
- warna air yang kembali dari lubang bor, dan lain-lain.
Log pemboran akan berisikan :
- keterangan mengenai tipe, kapasitas, merek mesin bor
- tipe dan ukuran casing dan stang bor
- nama juru bor dan pelaksanan deskripsi
- tanggal permulaan dan penyelesaian pemboran
- kedalaman casing
- persentase inti
- klasifikasi secara visual
- muka air tanah
- elevasi muka tanah
- kedalaman pengambilan contoh tak terganggu, dan pelaksanaan pengujian
kelulusan air (k)
- lain-lain yang diperlukan.
Peralatan untuk melaksanakan pekerjaan pemboran ini akan terdiri 1 (satu) unit dari tipe
"hydraulic feed rotary drilling machine".
Untuk keperluan penyediaan air untuk pemboran akan disediakan pompa-pompa
sentrifugal, sedang pompa untuk pemboran merupakan pompa piston bertekanan tinggi.
Selama pelaksanaan pemboran inti ini dilakukan juga pekerjaan Uji Penetration standar
(Standard penetration test) untuk memperoleh N blow, yaitu jumlah pukulan palu seberat
63.5kg yang dijatuh bebaskan dari ketinggian 75cm untuk memasukan tabung penginti
sedalam 45cm, dimana jumlah pukulan hinga mencapai kedalaman 15cm pertama (N1)
merupakan drive test (pemancangan), kemudian jumlah pukulan pada kedalaman 15cm
kedua (N2) dan ketiga (N3) merupakan nilai N blow yang sesungguhnya. Pengujian
dihentikan jika nilai N > 60 pukulan. Pengujian ini dilakukan pada setiap titik bor dengan
interval kedalaman 3 meter.
[Type text]
Pengambilan contoh tanah tidak terganggu (Undisturbed Sample) menggunakan tabung
dengan panjang 60 cm dan diameter 76 mm yang dimasukkan ke dalam tanah dengan cara
ditekan dengan menggunakan hidolik mesin bor.
Sondir
Pekerjaan sondir atau cone penetration test (CPT) dilakukan untuk mengetahui secara
rinci tahanan konus (cone resistance) dari setiap jenis perlapisan tanah secara langsung di
lapangan. Pengujian sondir dihentikan jika nilai tahanan konus tanah mencapai lebih dari
150 kg/cm
2
atau sampai kedalaman 20 m. Pekerjaan sondir dilakukan sesuai dengan
ASTM D 3341-75 T (1975-1984).
Hasil sondir diwakili oleh grafik sondir yang memberikan informasi mengenai tahanan
konus (q
c
), tahanan friksi total (q
c
+ f
c
), dan rasio friksi (F
r
), yaitu perbandingan tahanan
friksi lokal (f
c
) dengan tahanan konus (q
c
), yang diamati dalam setiap interval kedalaman
20 cm. Konus yang digunakan dalam pekerjaan ini adalah konus tipe Begemann
(Gambar).
Gambar. Konus yang digunakan dalam pekerjaan sondir.
Uji Laboratorium
Index Properties
a. Kadar Air
Maksud dari pengujian Natural Moisture Content atau kadar air asli dimaksudkan untuk
mengetahui kadar / kandungan air pada tanah asli dimana kadar air adalah perbandingan
[Type text]
antara berat air yang terkandung dalam tanah dengan berat kering tanah tersebut dan
dinyatakan dalam persen.
- Benda Uji : Material tanah asli
- Analisis :
Kadar air
% 100
3 2
2 1
x
W W
W W
W

Dimana : W
1
= berat cawan + contoh tanah basah
W
2
= berat cawan + contoh tanah kering
W
3
= berat cawan kosong
b. Berat Jenis
Metode uji berat jenis dengan piknometer adalah metodea yang dapat dijamin
ketelitiannya untuk menentukan berat jenis tanah yang lebih berat dari pada air.
- W
a
pada yemberatur x
o
adalah :
x W
a
------------------------------ p p a
W W i W x + ) (
Dimana : W
a
= berat piknometer + air (g)
W
p
= berat piknometer (g)
T
i
= temperatur air
T
x
= temperatur air pada saat pengujian Berat Jenis
Dilakukan
Perhitungan :
)} ( /{ .
b a o o
W W W W x Gs +
Dimana : W
o
= berat contoh tanah kering (g)
W
a
= berat piknometer + air (g) pada temperature x
W
b
= berat piknometer + air + contoh tanah (g) pada
temperature x
T
x
= temperatur isi piknometer saat W
b
ditentukan.
Berat jenis yang dilaporkan adalah Berat jenis tanah pada temperature 25
o
C.
Sehingga :
x Gs k Gs . *
k = angka perbandingan kerapatan relative air pada temperature T
x
dengan kerapatan relative
pada temperature 25
o
C
c. Berat isi
Maksud dari analisa berat isi adalah untuk mengetahui berat isi atau berat volume tanah.
[Type text]
Berat Isi pada temp. Tx
Berat Isi pada temp. Ti
- Analisis :
Dengan diketahuinya volume tanah dan beratnya, maka perhitungan berat isi dapat
dilakukan dengan rumus sebagai berikut :
s isi Berat
------------------------
d. Batas Atterberg
Maksud dari pemeriksaan ini adalah untuk menentukan kadar air suatu tanah pada
keadaan batas cair. Batas cair adalah kadar air batas dimana suatu tanah akan berubah dari
keadaan cair menjadi keadaan plastis.
- Analisis :
Hasil percobaan ini dibuat dalam bentuk Kurva Aliran yang menggambarkan hubungan
antara kadar air dan jumlah pukulan / ketukan yang digambarkan pada grafik semi
logaritma dengan jumlah pikulan sebagai sumbu X (skala logaritma) dengan sumbu Y
(skala aritmatik biasa).
Kurva aliran merupakan garis lurus yang ditarik / digambar sedekat mungkin melalui tiga
atau lebih titik yang telah diplot. Batas cairan merupakan besarnya kadar air (dalam
persen) yang didapat dari perpotongan kurva aliran dengan garis yang ditarik dari ordinal
dengan jumlah pukulan 25 kali.
) / (
3 2 1
cm gr
V
B B
Y

Dimana : Y = berat isi basah (gr/cm


3
)
B
1
= berat mold dan keeping alas (gram)
B
2
= berat cetakan, keeping alas dan benda uji (gram)
V = isi cetakan (cm
3
)
Berat isi kering dihitung dengan rumus :
) / (
) 100 (
100
3
cm gr
W
Yx
Y
+

Dimana : Y
d
= berat isi kering (gr/cm
3
)
W = kadar air (%)
Digambar grafik hubungan berat isi tanah kering terhadap kadar air (%) dari hasil
percobaan.
e. Analisa Butiran
[Type text]
Berat tanah (W
s
)
Volume tanah (V
s
)
Maksud dari analisis ukuran butiran ini adalah untuk mengetahui secara kuantitatif
distribusi ukuran butiran dalam tanah. Dimana untuk partikel lebih besar dari 75 m
ditentukan dengan cara sedimentasi.
- Analisis :
Evaluasi dan analisis mencakup :
Perhitungan persentase yang melewati ayakan No.
10 dengan membagi berat soil yang melewati ayakan
No.10 dengan berat awal pada ayak No. 10.
Berat total yang melalui ayakan No. 4
Persentase pada masing masing ayakan
Engineering Properties
a. Triaxial UU
Maksud dan tujuan dari Traxial adalah untuk menentukan sudut geser dalam (), nilai
kohesif (C), dan besarnya kekuatan geser tanah (S) dari contoh tanah yang bersifat
kohesif baik dalam keadaan asli maupun dalam keadaan terganggu / tidak asli (remoulded
/ after compacted).
[Type text]