Anda di halaman 1dari 21

BAB I

I.

IDENTITAS PASIEN : Nama Usia Jenis kelamin Alamat Tanggal masuk No. CM : Bp SH : 40 thn : Laki-laki : Kanutan Sumbermulyo Bambanglipuro Bantul : 23 Desember 2011 : 396924

II.

ANAMNESIS 1. Keluhan utama 2. Keluhan tambahan : Os datang sadar dengan keluhan mulut mencong ke kanan : Kelopak mata kiri tidak dapat menutup, wajah sebelah kiri terasa tebal, pengecapan kurang 3. Riwayat penyakit sekarang : Os mengeluh sejak 3 hari yang lalu tiba-tiba mulut mencong ke kanan. Awalnya, pada saat mandi pagi Os merasakan adanya ke anehan di mulut oleh karena itu Os memperhatikannya dengan lebih cermat. Os kemudian menyadari mulut tampak mencong ke kanan terutama saat meringis dan kelopak mata kiri tidak dapat menutup sempurna bila dipejamkan. Keluhan ini diikuti dengan wajah sebelah kiri terasa tebal dan pengecapan berkurang. Belum pernah dibawa ke dokter sebelumnya. Os bekerja sebagai kondektur, sering tidur di tempat terbuka dan kadang-kadang tidur di lantai. Os mempunyai sakit darah tinggi, tidak mempunyai sakit kencing manis dan jantung.

4. Riwayat penyakit dahulu Riwayat kencing manis disangkal Riwayat tekanan darah tinggi disangkal Riwayat trauma wajah maupun kepala disangkal Sebelumnya terjadi gejala serupa disangkal Gejala serupa yang terjadi pada keluarga disangkal

4. Riwayat penyakit keluarga

PEMERIKSAAN FISIK Keadaan Umum Kesadaran : Sedang : Compos mentis : Tekanan darah 130/ 80 mmHg Nadi 84x /mnt, teratur, isi dan tegangan cukup, Respirasi 20x /mnt, Suhu 36,2C PEMERIKSAAN NEUROLOGIS Rangsang Meningen Afasia/Disfasia/Disartria Nervus Cranialis NI dilakukan N II N III, IV, VI N VII : Reflek cahaya langsung +/+ : Gerakan bola mata baik ke segala arah, ptosis (-/-) : Mengangkat alis (+/-), menutup mata (+/-), kerutan dahi (-), : Tes pembauan tidak : Kaku Kuduk (-), Kernig (-), Brudzinsky I (-), Brudzinky II (-) : (-)

Vital Sign

meringis (-), menggembungkan pipi (-), bersiul (-) N VIII IX X XI : Pendengaran secara kasar normal, tes garpu tala tidak dilakukan : Tidak dilakukan : Denyut nadi (+) 84x/menit, proses menelan baik : Mengangkat bahu kanan & kiri normal, menengok kanan & kiri normal XII : Sikap lidah di tengah, artikulasi baik, tremor lidah (-), fasikulasi lidah (-) Fungsi motorik Fungsi sensorik Reflek Fisiologis : Kekuatan otot semua ekstremitas 5 : Rangsang raba dan nyeri Normal : BPR/Bisep (+/+), APR/Achiles (+/+), KPR/Patella (+/+), TPR/Trisep (+/+) Reflek Patologis Vegetatif/Autonom : Hoffmann (-/-), Trommer (-/-), Babinsky (-/-), Chaddock (-/-) : BAB normal, BAK normal, Keringat normal IV. PEMERIKSAAN LABORATORIUM III. Tidak dilakukan

DIAGNOSIS

Bells Palsy

IV.

DIAGNOSIS BANDING Neuritis Perifer

V.

PENATALAKSANAAN Pasien berobat jalan diberi : Metil Prednisolon 4 mg 3 x 1 tab, kemudian diturunkan dosis Captopril 25mg 3x1 tab/hari secara bertahap hingga dosis yang paling minimal efektif

VI.

PEMBAHASAN Seorang laki-laki berusia 40 tahun berobat ke poli dengan diagnosa

Bells palsy. Pada pasien ini didiagnosis Bells palsy karena didapatkan dari : Anamnesis : Pasien datang dengan keluhan sejak 3 hari yang lalu tiba-tiba mulut mencong ke kanan dan mata kiri tidak dapat menutup sempurna bila dipejamkan. Pasien juga merasa tebal dan baal di kulit wajah sisi kiri dan pengecapan berkurang. Ini karena terjadi paralisis nervus VII kiri yang mempersarafi otot-otot wajah kecuali otot-otot yang terlibat dalam mengunyah. Oleh karena itu pasien mengalami kesulitan dalam makan karena sudut mulut melonggar, nervus VII juga berperan dalam persarafan visceral kelenjar lakrimal dan mata terasa perih karena mata sulit untuk menutup, (otot menutup mata oleh M.Orbicularis Oculi, dipersarafi oleh nervus VII) sehingga menimbulkan gejala mata kering. Pasien juga mengeluh kulit di wajah kiri terasa tebal dan baal karena N VII dan N V mempunyai nucleus somatosensori yang sama. Ini bukan paralisis murni N V,

karena semua persarafan di wajah mempunyai inti yang sama dengan inti somatosensory N V. Pemeriksaan fisik : Pada pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran compos mentis, GCS15, karena paralisis saraf pada Bells palsy tidak mengenai pusat kesadaran di sentral, hanya melibatkan saraf VII perifer. Pada pemeriksaan tanda vital, didapatkan semua dalam batas normal. Pada pemeriksaan nervus VII, didapatkan mata kiri pasien mengalami lagoftalmus, yaitu mata tidak dapat menutup sempurna, kerutan dahi kiri pasien ini menghilang karena terdapat kelumpuhan otot-otot dahi kiri yang dipersarafi oleh nervus VII, bila disuruh menggembung pipi, kemudian ditekan dengan jari, penggembungan mudah untuk mengempes karena hal yang sama, terlihat mulut mencong ke kanan, sudut mulut kiri menghilang dan bila disuruh angkat kedua alis, yang sisi kirinya tidak terangkat. Pada pemeriksaan nervus VII cabang sensorik, yaitu V1, V2 dan V3, didapatkan sensasi raba halus dan kasar berkurang di sisi kiri. Pada pemeriksaan neurologis yang lain didapatkan : Tanda Rangsangan Meningeal (-) Pada pemeriksaan nervus kranialis yang lain dalam batas normal Motorik : kesan baik, normal, kekuatan 5 di semua ekstrimitas Refleks Patologis (-), reflex fisiologis: Normal pada keempat ekstrimitas Diagnosa ditegakkan adalah Bells palsy sesuai dengan definisi Bells palsy yaitu kelumpuhan atau kelemahan otot pada satu sisi wajah akibat kerusakan NVII satu sisi yang mengendalikan otot-otot wajah di sisi tersebut dan menyebabkan wajah terasa baal dan berat. Diagnosa bandingnya adalah Neuritis perifer.

Pengobatan yang diberikan pada pasien ini berupa kostikosteroid contohnya prednison peroral 60mg/hari selama 3-10 hari untuk mengurangi peradangan dan edema pada saraf, kemudian di tappering off dalam 4-8minggu supaya tidak memunculkan withdrawal syndrome, pada kasus ini diberikan metilprednisolon yaitu lamosen. Dosis 4-48mg/hari kemudian diturunkan dosis secara bertahap hingga dosis yang paling minimal efektif. Untuk penyakit sistemiknya, diperbaiki pola hidup seperti diet sehat dan cukup nutrisi, asupan garam, lemak dan gula dikurangi, olahraga teratur dan istirahat yang mencukupi.Untuk medikamentosa,karena pasien mempunyai hipertensi grade, diberikan pengobatan hipertensi seperti captopril dengan dosis 25mg 3 x 1tab/hari.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI Bells Palsy adalah suatu kelainan pada saraf wajah yang menyebabkan kelemahan atau kelumpuhan tiba-tiba pada otot wajah. Saraf wajah adalah saraf kranial yang merangsang otot-otot wajah. Bell Palsy merupakan salah satu gangguan neurologik yang paling sering mempengaruhi nervus kranialis.Gangguan ini berupa paresis atau paralisis fasial perifer yang terjadi tiba-tiba, bersifat unilateral tanpa penyebab yang jelas. Sindroma paralisis fasial idiopatik ini pertama kali dijelaskan lebih dari satu abad yang lalu oleh Sir Charles Bell, meskipun masih banyak kontroversi mengenai etiologi dan penatalaksanaannya. Bell palsy merupakan penyabab paralysis fasial yang paling banyak di dunia. Penyakit lain yang tampak atau kondisinya berupa paralisis parsial sering salah didiagnosa sebagai gangguan idiopatik. Pasien-pasien dengan Bell palsy sering dibawa ke bagian gawat darurat sebelum berobat ke dokter ahli yang lain. Perubahan bentuk wajah dan kerusakan fungsional yang terjadi tiba-tiba menyebabkan orang berfikir sebagai keadaan yang gawat darurat. Pasien sering merasa takut menderita stroke atau tumor apabila perubahan bentuk wajah mereka akan menetap B. ANATOMI DAN PATOFISIOLOGI

Nervus facialis adalah nervus cranialis ke tujuh yang berasal dari batang otak, berjalan melalui tulang temporal, dan berakhir pada otot-otot wajah yang mengandung serabut motorik, somatosensorik, serta nervus intermedius. Nervus ini sering mengalami gangguan karena mempunyai perjalanan yang panjang berkelok-kelok, berada di dalam saluran tulang yang sempit dan kaku. Saraf fasialis mempunyai dua subdivisi, yaitu : 1. Saraf fasialis propius: yaitu saraf fasialis yang murni untuk mempersarafi otot-otot ekspresi wajah, otot platisma, stilohioid, digastrikus bagian posterior dan stapedius di telinga tengah. 2. Saraf intermediet (pars intermedius wisberg), yaitu subdivisi saraf yang lebih tipis yang membawa saraf aferen otonom, eferen otonom, aferen somatis. Inti motorik saraf VII terletak di pons. Serabutnya mengitari saraf VI, dan keluar di bagian lateral pons. Saraf intermedius keluar di permukaan lateral pons di antara saraf VII dan saraf VIII. Ketiga saraf ini bersama-sama memasuki meatus akustikus internus. Di dalam meatus ini, saraf fasialis dan intermediet berpisah dari saraf VIII dan terus ke lateral dalam kanalis fasialis, kemudian ke atas ke tingkat ganglion genikulatum. Pada ujung akhir kanalis, saraf fasialis meninggalkan kranium melalui foramen stilomastoideus. Dari titik ini, serat motorik menyebar di atas wajah. Dalam melakukan penyebaran itu, beberapa melubangi glandula parotis.

Gambar saraf fasialis Sewaktu meninggalkan pons, saraf fasialis beserta saraf intermedius dan saraf VIII masuk ke dalam tulang temporal melalui porus akustikus internus. Dalam perjalanan di dalam tulang temporal, saraf VII dibagi dalam 3 segmen, yaitu segmen labirin, segman timpani dan segmen mastoid. Nukleus fasialis juga menerima impuls dari thalamus yang mengarahkan gerakan ekspresi emosional pada otot-otot wajah. Juga ada hubungan dengan gangglion basalis. Jika bagian ini atau bagian lain dari sistem piramidal menderita penyakit, mungkin terdapat penurunan atau hilangnya ekspresi wajah (hipomimia atau amimi). Patofisiologi yang pasti pada gangguan ini tidak diketahui. Bells Palsy merupakan lesi nervus fasialis yang terjadi secara akut, yang tidak diketahui penyebabnya atau menyertai penyakit lain. Teori yang dianut saat ini yaitu teori vaskuler. Pada Bells Palsy terjadi iskemi primer n. fasialis yang disebabkan oleh vasodilatasi pembuluh darah yang terletak antara n. fasialis dan dinding kanalis fasialis. Sebab vasodilatasi ini bermacam-macam, antara lain : infeksi virus, proses imunologik dll. Iskemi primer yang terjadi menyebabkan gangguan mikrosirkulasi intraneural yang menimbulkan iskemi sekunder dengan akibat gangguan fungsi n. fasialis. Terjepitnya n. fasialis di daerah foramen stilomastoideus dan menimbulkan kelumpuhan tipe LMN yang disebut sebagai

Bells Palsy. Perubahan patologik yang ditemukan pada n. fasialis sebagai berikut. : 1) Tidak ditemukan perubahan patologik kecuali udem 2) Terdapat demielinisasi atau degenerasi myelin 3) Terdapat degenerasi akson 4) Seluruh jaringan saraf dan jaringan penunjang rusak Perubahan patologik ini bergantung kepada beratnya kompresi atau strangulasi terhadap n.Fasialis Jalur nervus facialis sangat kompleks, akibatnya saraf ini rentan mengalami luka atau jejas. Kedua bagian nervus facialis meninggalkan otak di cerebelloontine melalui fossa cranialis posterior, masuk ke meatus acusticus internus, melalui canalis facialis di tulang temporal, selanjutnya berbelok ke belakang melewati belakang tulang tengah dan keluar dari cranium pada foramen stylomastoideus. Dari sini, nervus facialis menembus glandula parotis, dan cabang terminalnya keluar dari pleksus parotis untuk merangsang terjadinya ekspresi wajah.

C. ETIOLOGI

Penyebab Bells palsy hingga saat ini masih belum jelas, meskipun penyebab vaskuler, infeksi, genetik dan imunologis telah dicari. Penyebab kelumpuhan saraf fasialis bisa disebabkan oleh kelainan kongenital, infeksi, tumor, trauma, gangguan pembuluh darah, idiopatik, dan penyakit-penyakit tertentu. 1. Kongenital Kelumpuhan yang didapat sejak lahir (kongenital) bersifat irreversible dan terdapat bersamaan dengan anomaly pada telinga dan tulang pendengaran. Pada kelumpuhan saraf fasialis bilateral dapat terjadi karena adanya gangguan perkembangan saraf fasialis dan seringkali bersamaan dengan kelemahan okular (sindrom Moibeus). 2. Infeksi Proses infeksi di intracranial atau infeksi telinga tengah dapat menyebabkan kelumpuhan saraf fasialis. Infeksi intrakranial yang menyebabkan kelumpuhan ini seperti padaSindrom Ramsay-Hunt, Herpes otikus. Infeksi Telinga tengah yang dapat menimbulkan kelumpuhan saraf fasialis adalah otitis media supuratif kronik (OMSK) yang telah merusak Kanal Fallopi. 3. Tumor Tumor yang bermetastasis ke tulang temporal merupakan penyebab yang paling sering ditemukan. Biasanya berasal dari tumor payudara, paruparu, dan prostat. Juga dilaporkan bahwa penyebaran langsung dari tumor regional dan sel schwann, kista dan tumor ganas maupun jinak dari kelenjar parotis bisa menginvasi cabang akhir dari saraf fasialis yang berdampak bermacam-macam tungkat kelumpuhan.

4. Trauma Kelumpuhan saraf fasialis bisa terjadi karena trauma kepala, terutama jika terjadi fraktur basis cranii, khususnya bila terjadi fraktur longitudinal. Selain itu luka tusuk, luka tembak serta penekanan forsep saat lahir juga bisa menjadi penyebab. Saraf fasialis pun dapat cedera pada operasi mastoid, operasi neuroma akustik atau neuralgia trigeminal dan operasi kelenjar parotis. 5. Gangguan Pembuluh Darah Gangguan pembuluh darah yang dapat menyebabkan kelumpuhan saraf fasialis diantaranya thrombosis arteri karotis, arteri maksilaris, dan arteri serebri media. 6. Idiopatik (Bells Palsy) Parese Bell merupakan lesi nervus fasialis yang tidak diketahui penyebabnya atau tidak menyertai penyakit lain. Pada parese Bell terjadi edema fasialis. Karena terjepit di dalam foramen stilomastoideus dan menimbulkan kelumpuhan tipe LMN yang disebut sebagai Bells Palsy. 7. Penyakit-penyakit tertentu Kelumpuhan fasialis perifer dapat terjadi pada penyakit-penyakit tertentu, misalnya DM, hepertensi berat, anestesi lokal pada pencabutan gigi, infeksi telinga tengah, sindrom Guillian Barre. Bell Palsy dapat terjadi pada pria atau wanita segala usia dan disebabkan oleh kerusakan saraf fasialis yang disebabkan oleh radang, penekanan atau pembengkakan. Penyebab kerusakan ini tidak diketahui dengan pasti, kendati demikian para ahli meyakini infeksi virus Herpes Simpleks sebagai penyebabnya. Sehingga terjadi proses radang dan pembengkakan saraf. Pada

kasus yang ringan, kerusakan yang terjadi hanya pada selubung saraf saja sehingga proses penyembuhannya lebih cepat, sedangkan pada kasus yang lebih berat dapat terjadi jeratan pada kanalis falopia yang dapat menyebabkan kerusakan permanen serabut saraf. Faktor-faktor yang diduga berperan menyebabkan Bell Palsy antara lain : bepergian jauh dengan kendaraan, tidur di tempat terbuka, tidur di lantai, hipertensi, stres, hiperkolesterolmia, diabetes mellitus, gangguan imunologik dan faktor genetik. D. GAMBARAN KLINIS Manifestasi klinik Bells Palsy khas dengan memperhatikan riwayat penyakit dan gejala kelumpuhan yang timbul mendadak. Perasaan nyeri, pegal, linu dan rasa tidak enak pada telinga atau sekitamya sering merupakan gejala awal yang segera diikuti oleh gejala kelumpuhan otot wajah berupa : Dahi tidak dapat dikerutkan atau lipat dahi hanya terlihat pada sisi yang sehat. Kelopak mata tidak dapat menutupi bola mata pada sisi yang lumpuh (lagophthalmus). Gerakan bola mata pada sisi yang lumpuh lambat, disertai bola mata berputar ke atas bilamemejamkan mata, fenomena ini disebut Bell's sign. Sudut mulut tidak dapat diangkat, lipat nasolabialis mendatar pada sisi yang lumpuh danmencong ke sisi yang sehat. Selain gejala-gejala diatas, dapat juga ditemukan gejala lain yang menyertai antara lain :gangguan fungsi pengecap, hiperakusis dan gangguan lakrimasi E. DIAGNOSIS Umumnya diagnosis Bells Palsy dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinik adanya kelumpuhan n.fasialis perifer diikuti pemeriksaan fisik untuk

menyingkirkan penyebab lain dan kelumpuhan n. fasialis perifer. Beberapa pemeriksaan penunjang yang penting untuk menentukan letak lesi dan derajat kerusakan n. Fasialis. a. Anamnesis Pasien biasa mengeluhkan : perasaan nyeri, pegal, linu dan rasa tidak enak pada telinga atau sekitamya sering merupakan gejala awal yang segera diikuti oleh gejala kelumpuhan otot wajah yang terjadi secara mendadak.

b. Pemeriksaan Fisik 1. Pemeriksaan fungsi saraf motorik Terdapat 10 otot-otot utama wajah yang bertanggung jawab untuk terciptanya mimic dan ekspresi wajah seseorang. Adapun urutan ke-10 otot-otot tersebut dari sisi superior adalah sebagai berikut : a. M. Frontalis b. M. Sourcilier c. M. Piramidalis d. M. Orbikularis Okuli e. M. Zigomatikus f. M. Relever Komunis : diperiksa dengan cara mengangkat alis ke atas : diperiksa dengan cara mengerutkan alis : diperiksa dengan cara mengangkat dan mengerutkan hidung ke atas : diperiksa dengan cara memejamkan kedua matakuat-kuat : diperiksa dengan cara tertawa lebar sambil memperlihatkan gigi : diperiksa dengan cara memoncongkan mulut ke depan sambil memperlihatkan gigi

g. M. Businator h. M. Orbikularis Oris i. M. Triangularis j. M. Mentalis

: diperiksa dengan cara menggembungkan kedua pipi : diperiksa dengan cara menyuruh penderita bersiul : diperiksa dengan cara menarik kedua sudut bibir ke bawah : diperiksa dengan cara memoncongkan mulut yang tertutup rapat ke depan

Pada tiap gerakan dari ke 10 otot tersebut, kita bandingkan antara kanan dan kiri : a. Untuk gerakan yang normal dan simetris dinilai dengan angka tiga ( 3 ) b. Sedikit ada gerakan dinilai dengan angka satu ( 1 ) c. Diantaranya dinilai dengan angka dua ( 2 ) d. Tidak ada gerakan sama sekali dinilai dengan angka nol ( 0 ) Seluruh otot ekspresi tiap sisi muka dalam keadaan normal akan mempunyai nilai tiga puluh ( 30 ). F. PENATALAKSANAAN a. Glukokortikoid Glukokortikoid berperan dalam menghambat tiap fase dari respon inflamasi, obat-obat ini juga memainkan peran penting dalam parahnya inflamasi dan kelainan immune-immediate. Mekanisme pasti oleh keuntungan steroid digunakan tidak begitu jelas ditemukan dalam banyak kondisi dimana steroid ini digambarkan. Pada berbagai petunjuk dan indikasi menyatakan penggunaan steroid sebagai empiris. Penggunaan steroid lebih diarahkan ke fase aku saat serangan, contohnya pada Cerebral Palsy, tapi tidak berefek penuh pada pemulihan total. Sebagai tambahan dari keuntungan anti inflamasi glukokortikoid, steroid memfasilitasi aksi dari neuromuscular junction. Efek-efek yang

saling

mempengaruhhi

dari

steroid

ini

dapat

mengkontribusikan

penyembuhan fungsi neuromuskular pada kelainan seperti inflamasi polyradiculoneuropati (Guilan Barre Syndrom), patologi yang disebabkan inflamasi, demyelinisasi segmental Penggunaan steroid pada tatalaksana Bells Palsy Adour, Stankevitch, dan May telah menyediakan pandangan komprehensiv dalam penggunaan terapi steroid pada Bells Palsy. Kebanyakan pembelajaran akhir-akhir ini mengenai kegunaan steroid pada Bells Palsy didasarkan pada pasien yang diperlakukan dengan control sebelumnya. Hasil evaluasi dari Stankewicz, steroid diberikan pada pasien Bells Palsy dengan alasan stetroid dapat : Mengurangi resiko denervasi jika diberikan secara dini Mencegah atau mengurangi sinkinesis Mencegah dari perkembangan inkompit menjadi komplit paralisis Mencegah sinkinesis autonomic Tujuan utama dari terapi glukokortikoid pada facial paralysis akut adalah menginduksi kontrol anti inflamasi efektif. Regimen dosis glukokortikoid yang optimal untuk penanganan inflamasi neuritis tergantung dari pemberian kortikosteroid saat proses penyakit berlangsung. Seperti yang telah ditunjukkan pada respon EEMG, pemberian glokokortikoid pada Bells Palsy dalam 5-10 hari. Lesi-lesi pada pada organ-organ lain biasanya hilang 1 sampai 2 minggu, tampaknya pada inflamasi saraf facial (saraf VII) pada virus tersebut dapat ditangani pada periode ini. Strategi pemberian steroid pada Bellss Palsy disarankan dengan oral prednisone (1mg/kgBB/hari) dibagi menjadi 3 dosis tiap harinya selama 710 hari. Dosis harian harus ditappering off setelah 10 hari. Secara teori

regimen dosis ini memaksimalkan aktivitas anti inflamasi sementara meminimalkan efek samping dan konsisten dengan antiinflamasi yang efektif pada hipersensitiv akut, autoimun, dan kelainan inflamasi lainnya. Efek samping Efek samping biasanya manifestasi selama tatalaksana steroid jangka pendek termasuk aksi hiperglikemik. Harus diwaspadai pemberian steroid pada pasien palsy facial akut yang berhubungan dengan intoleransi glukosa. Efek samping akut lainnya termasuk perubahan CNS seperti psychotic breaks, ketidakseimbangan cairan danelektrolit, dan iritasi gastrointestinal. Efek glukokortikoid pada seluler dan komponen-komponen jaringan inflamasi dapat mengurangi imunitas host terhadap bakteri, virus, dan infeksi jamur. Infeksi laten dapat reaktivasi dan berkembang. Ditambah lagi pemberian steroid yang menekan system imun bisa menutupi gejala adanya tanda klinik dari suatu peyakit infeksi. b. Terapi Antivirus Kemoterapi antivirus menghadirkan cara yang lebih baru dalam menangani facial palsy akut dari penyebab virus. Berdasarkan spectrum dari aktivitasnya, toksisitas yang rendah, asiklovir (acycloguanosine), analog nukleosida purin sintetik, telah digunakan untuk mencegah Herpes Simplek tipe I dan II, Virus Zoster, dan Epstein Barr virus dan Cytomegalovirus. Asiklovir mencegah DNA polymerase dan replikasi DNA virus dengan bentuk yang dikonversi (difosforilasi), itulah asiklovir bertindak sebagai analog nukleosida. Dickens, Smith, dan Graham menyarankan pemberian asiklovir intravena (10mg/kgBB setiap 8 jam selama 7 hari) pada defisit neurologik yang dihasilkan herpes zoster otikus. Pemberian antivirus secara dini ini

telah dibuktikan oleh Given dapat mencegah degenerasi saraf yang dapat menyebabkan hilangnya pendengaran. c. Dekompresi nervus Pembedahan dekompresi dari saraf fasial untuk Bells Palsy pernah dilakukan oleh Balance dan Duel pada tahun 1932. May menemukan bahwa dekompresi meningkatkan penyembuhan pada pasien yang stimulasi nervusnya telah berkurang 75% atau lebih. Bagaimanapun juga, prosedur ini tidak menampakkan bukti signifikan antara pasien yang sembuh karena operasi (87% dari 273 pasien) dengan pasien yang sembuh dengan sendirinya. F. PROGNOSIS Sangat bergantung kepada derajat kerusakan n. fasialis. Pada anak prognosis umumnya baik oleh karena jarang terjadi denervasi total. Penyembuhan spontan terlihat beberapa hari setelah onset penyakit dan pada anak 90% akan mengalami penyembuhantanpa gejala sisa. Jika dengan prednison dan fisioterapi selama 3 minggu belum mengalami penyembuhan, besar kemungkinan akan terjadi gejala sisa berupa kontraktur otot-ototwajah, sinkinesis, tik fasialis dan sindrom air mata buaya.

BAB III KESIMPULAN

Bells Palsy adalah suatu kelainan pada saraf wajah (nervus fasialis/ NVII) yang menyebabkan kelemahan atau kelumpuhan tiba-tiba pada otot wajah. Nervus ini sering mengalami gangguan karena mempunyai perjalanan yang panjang berkelok-kelok, berada di dalam saluran tulang yang sempit dan kaku Penyebab Bells palsy hingga saat ini masih belum jelas, meskipun penyebab vaskuler, infeksi, genetik dan imunologis telah dicari. Manifestasi klinik Bells Palsy khas dengan memperhatikan riwayat penyakit dan gejala kelumpuhan yang timbul mendadak. Perasaan nyeri, pegal, linu dan rasa tidak enak pada telinga atau sekitamya sering merupakan gejala awal yang segera diikuti oleh gejala kelumpuhan otot wajah. Pengobatan yang diberikan pada pasien Bells Palsy berupa kostikosteroid. Secara teori regimen dosis ini memaksimalkan aktivitas anti inflamasi sementara meminimalkan efek samping

dan konsisten dengan antiinflamasi yang efektif pada hipersensitiv akut, autoimun, dan kelainan inflamasi lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Bailey.J.Byron. Bells Pals. Dalam Head and Neck Surgery Otolarylongogy. IIIrd Edition, Volume Two. Chapter 144: Acute Paralysis of Facial Nerve. Philadelpia:Lippincot William & Wilkins.2001. Jackler.K.Robert. The Acute Facial Palsies. Dalam Neurotology. USA: Mosby. 1994. John Ys Kim. Facial Nerve Paralysis. www.emedicine.com/plastic/topic522.htm. Januari 2011. Maisel R, Levine S. Gangguan Saraf Fasialis. Dalam Boies Buku Ajar Penyakit THT edisi 6. Jakarta : EGC, 1997. Nara, Sukardi. Bells Palsy. Cermin Dunia Kedokteran. www.kalbe.co.id/files/cdk/files/espalsy.pdf/espalsy.html. Pada tanggal 29 Januari 2011. Paparella.Michael. Facial Nerve Paralysis. Dalam Otolaryngology. Volume II, ThirdEdition. USA: Saunders Company. 1991.

Sjarifuddin, Bashiruddin J, Bramantyo B. Kelumpuhan Nervus Fasialis Perifer . DalamBuku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. 6th ed. Jakarta :Balai Penerbit FK-UI, 2007: Hal. 114-117 SM. Lumbantobing. Neurologi Klinik, Pemeriksaan Fisik dan Mental. Jakarta : Balai Penerbit FK-UI, 2006.