Anda di halaman 1dari 8

BAB I PENDAHULUAN

I.

Latar Belakang Setiap perusahaan pasti memiliki tujuan bisnis yang ingin dicapai. Salah satu

tujuan utama dari suatu bisnis adalah menghasilkan profit dan memiliki return yang baik. Manajemen perusaahaan harus mampu menentukan langkah-langkah yang akan dilakukan untuk meningkatkan profit dan return dari bisnis yang dijalankan. Hal ini dilakukan karena setiap bisnis memiliki peluang resiko sehingga harus diminimalisasikan. Oleh karena itu, perusahaan perlu melakukan analisis kelayakan bisnis untuk mengetahui bisnis tersebut layak atau tidak untuk dilakukan. Analisis kelayakan suatu bisnis dapat ditentukan dengan beberapa metode. Dua metode yang paling sering digunakan oleh perusahaan yaitu Net Present Value (NPV) dan Internal Rate of Return (IRR). Namun, kedua metode tersebut memiliki kekurangan dan kelebihan. Ada perusahaan yang cenderung sering menggunakan metode NPV, ada juga yang cenderung menggunakan metode IRR. Pada kenyataannya, metode IRR lebih disarankan dalam menentukan kelayakan suatu bisnis. Oleh karena itu, paper ini akan membahas alasan mengapa metode IRR lebih baik digunakan saat menentukan kelayakan suatu bisnis dibandingkan metode NPV.

II.

Tujuan Tujuan yang ingin dicapai pada paper ini yaitu mengetahui alasan mengapa metode

IRR lebih baik digunakan saat menentukan kelayakan suatu bisnis dibandingkan metode NPV.

BAB II LANDASAN TEORI

I.

Net Present Value (NPV) Metode NPV adalah metode yang mengurangkan nilai sekarang dari benefit (inflows) dengan cost (outflows) pada bisnis dalam jangka waktu dan tingkat bunga tertentu. NPV = PV (Benefits)-PV(Costs)

Kriteria suatu bisnis dikatakan layak untuk dilakukan yaitu :


- NPV 0 , maka usul bisnis diterima - NPV < 0, maka usul bisnis ditolak

Keunggulan metode NPV a) Memperhitungkan nilai waktu dari uang.

Kelemahan metode NPV a) Manajemen harus dapat memperkirakan tingkat biaya modal yang relevan selama usia ekonomis proyek.

b) Memperhitungkan cash flow selama usia ekonomis proyek.

b) Jika proyek memiliki nilai initial investment yang berbeda, serta usia ekonomis yang juga berbeda, maka NPV yang lebih besar belum menjamin sebagai proyek yang lebih baik.

c) Memperhitungkan nilai sisa (profit) antara benefit dan cost proyek.

c) Derajat kelayakan tidak hanya dipengaruhi oleh cash flow, melainkan juga dipengaruhi oleh faktor usia ekonomis proyek.

II.

Internal Rate of Return (IRR) IRR adalah nilai discount rate i yang membuat NPV dari proyek sama dengan nol.

Dalam rumus di atas, r sama dengan IRR. Bisnis dikatakan layak jika IRR yang didapat lebih tinggi dari bunga deposito bank, biasanya paling tidak 1,5 kali bunga deposito bank. Hal ini untuk menutup faktor resiko investasi.

Kelebihan IRR a) Memperhitungkan nilai waktu dari uang

Kekurangan a) Perhitungan secara manual akan lebih sulit bila dibandingkan dengan NPV karena adanya trial- error

b) Dapat digunakan untuk mengetahui tingkat bunga yang sebenarnya c) Dapat melihat tingkat pengembalian suatu bisnis

b) Kurang cocok untuk bisnis yang bersifat mutually exclussive project (bisnis yang saling menghilangkan)

BAB III ISI

I.

Analisis Perhitungan Dengan Metode NPV Untuk memahami perhitungan dengan NPV, akan diberikan contoh kasus sebagai berikut: Contoh 1: Seseorang ingin membuka usaha baru di bidang restoran makanan vegetarian di suatu tempat. Adapun modal awal untuk membangun bisnis ini yaitu sebesar Rp 15.000.000 dengan biaya operasional per tahun sebesar 5% dari modal awal. Estimasi pendapatan yang akan didapat dari hasil penjualan yaitu sebesar Rp 7.000.000 per tahun. Jika diasumsikan bisnis ini akan bertahan selama 10 tahun dengan suku bunga bank 10%, sebagai seorang analis tentukan apakah bisnis ini layak atau tidak untuk dilakukan?

Perhitungan NPV :
End of Year 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Rp 15,000,000 Rp 750,000.00 Rp 750,000.00 Rp 750,000.00 Rp 750,000.00 Rp 750,000.00 Rp 750,000.00 Rp 750,000.00 Rp 750,000.00 Rp 750,000.00 Rp 750,000.00 Rp 7,000,000.00 Rp 7,000,000.00 Rp 7,000,000.00 Rp 7,000,000.00 Rp 7,000,000.00 Rp 7,000,000.00 Rp 7,000,000.00 Rp 7,000,000.00 Rp 7,000,000.00 Rp 7,000,000.00 Modal Biaya Operasional

Penjualan

Net Cash Flow

PV

Rp (15,000,000) Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp NPV 6,250,000 6,250,000 6,250,000 6,250,000 6,250,000 6,250,000 6,250,000 6,250,000 6,250,000 6,250,000

Rp (15,000,000.00) Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 5,681,818.18 5,165,289.26 4,695,717.51 4,268,834.10 3,880,758.27 3,527,962.06 3,207,238.24 2,915,671.13 2,650,610.11 2,409,645.56

Rp 23,403,544.41

Dari perhitungan di atas didapatkan nilai NPV sebesar Rp karena NPV >= 0, maka bisnis tersebut layak untuk dilakukan.

23,403,544.41. Oleh

Namun demikian, perhitungan dengan NPV tidak menggambarkan optimasi dan efisiensi dalam penggunaan modal yang dikeluarkan. Hal ini berkaitan dengan rate dari pengembaliannya (rate of return). Contoh 2 : Sebuah perusahaan memiliki dua altermatif proyek yang akan dijalankan. Perusahaan ingin menentukan proyek mana yang akan dijalankan selama 5 tahun ke depan. Setelah dilakukan perhitungan, didapatkan nilai NPV proyek A sebesar Rp 100.000.000 dan proyek B sebesar Rp 10.000.000. Jika perusahaan tidak memperhitungkan modal yang akan dikeluarkan, mungkin perusahaan akan

memilih proyek A karena nilai NPV yang didapat 10 kali lebih besar dari proyek B. Akan tetapi, jika modal yang perlu dikeluarkan untuk menjalankan proyek A sebesar Rp 75.000.000, sedangkan proyek B hanya sebesar Rp 1.000.000, maka proyek B dapat dikatakan mempunyai nilai resiko yang lebih kecil dan tingkat pengembalian yang lebih besar (IRR besar).

II.

Analisis Perhitungan Dengan Metode IRR Jika diambil kasus seperti pada model contoh 1, maka setelah dilakukan perhitungan dengan Microsoft Excel, akan didapatkan IRR untuk bisnis tersebut sebesar 28%. Oleh karena nilai IRR > 1.5*r yaitu 28% > 15%, maka bisnis restoran tersebut layak untuk dijalankan. IRR sebesar 28% akan dipandang lebih baik dari proyek dg IRR 18%, karena jika dikenakan tingkat ekspektasi pengembalian investasi (return) sebesar 28%, maka investasi itu akan benilai impas (NPV = 0), seperti definisi dari IRR. Akan tetapi, jika perusahaan dikenakan tingkat ekspektasi lebih rendah dari 28%, misal 22%, maka NPV proyek tersebut akan positif. Hal ini berarti proyek tersebut akan memberikan sejumlah profit tertentu pada perusahaan. Contoh 3 : Apabila kasus tersebut dimodifikasi dengan mengganti modal yang dikeluarkan menjadi sebesar Rp 25.000.000 maka NPV dan IRR akan berubah seperti berikut :

End of Year 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Rp 25,000,000 Modal

Biaya Operasional

Penjualan

Net Cash Flow

PV

Rp (25,000,000) Rp 1,250,000.00 Rp 1,250,000.00 Rp 1,250,000.00 Rp 1,250,000.00 Rp 1,250,000.00 Rp 1,250,000.00 Rp 1,250,000.00 Rp 1,250,000.00 Rp 1,250,000.00 Rp 1,250,000.00 Rp 7,000,000.00 Rp 7,000,000.00 Rp 7,000,000.00 Rp 7,000,000.00 Rp 7,000,000.00 Rp 7,000,000.00 Rp 7,000,000.00 Rp 7,000,000.00 Rp 7,000,000.00 Rp 7,000,000.00 Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp NPV IRR 5,750,000 5,750,000 5,750,000 5,750,000 5,750,000 5,750,000 5,750,000 5,750,000 5,750,000 5,750,000

Rp (25,000,000.00) Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 5,227,272.73 4,752,066.12 4,320,060.11 3,927,327.37 3,570,297.61 3,245,725.10 2,950,659.18 2,682,417.44 2,438,561.31 2,216,873.91

Rp 10,331,260.86 8%

Dari tabel di atas terlihat NPV dan IRR dari bisnis restoran tersebut akan berubah.
-

NPV berubah dari Rp 23,403,544.41 menjadi Rp 10,331,260.86 Nilai NPV masih lebih dari sama dengan nol. Hal ini berarti, jika dilihat dari NPV, maka bisnis tersebut masih layak untuk dijalankan.

IRR berubah dari 28% menjadi 8% Nilai IRR pada kasus contoh 1, masih lebih dari 1,5 kali dari bunga bank sehingga bisnis tersebut layak untuk dijalankan. Sedangkan pada kasus contoh 3, yang mengganti modal menjadi Rp 25.000.000, IRR yang dihasilkan kurang dari 1,5 kali bunga bank sehingga bisnis tidak layak untuk dijalankan.

IRR lebih menggambarkan optimasi dan efisiensi dari penggunaan modal. yang dikeluarkan. Selain itu, IRR juga lebih menggambarkan tingkat resiko bisnis untuk dijalankan dibandingkan NPV. Dalam perhitungannya, IRR menggunakan prinsip return yang dianggap lebih penting dari profit. NPV hanya menggambarkan profit yang akan dihasilkan selama jangka waktu tertentu. Profit yang besar belum tentu menandakan bisnis tersebut sehat untuk dijalankan karena tidak ada unsur pembanding yaitu modal yang berkaitan langsung dengan return.
6

BAB III KESIMPULAN

Perhitungan dengan metode IRR menggunakan prinsip return secara langsung sehingga dapat menggambarkan optimasi dan efisiensi dari modal yang telah dikeluarkan. Sedangkan pendekatan NPV tidak menggunakan prinsip return secara langsung, hanya menghasilkan nilai profit dari bisnis tersebut sehingga kurang bisa menggambarkan keadaan bisnis yang sebenarnya dalam jangka waktu tertentu. Oleh karena itu, metode IRR lebih disarankan dibandingkan NPV dalam menilai kelayakan suatu bisnis.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2005. Analisis Kelayakan Atas Penggantian Aktiva Mesin Produksi Untuk Meningkatkan Laba Pada PT. Panca Wira Usaha Unit Pabrik Es Kasri. Diakses pada tanggal 1 Maret 2012. URL: http://directory.umm.ac.id/Data%20Elmu/doc/Analisis_Kelayakan_Atas_Penggant ian_Aktiva_Mesin_Produksi_untuk_Meningkatkan_Laba_Pada_PT._Panca_.doc Anonim. 2011. Net Present Value. Diakses pada tanggal 25 Februari 2012. URL: http://http://www.scribd.com/doc/60236481/Net-Present-Value Dicky. 2011. Ekonomi Teknik. Diakses pada tanggal 25 Februari 2012. URL: http://www.migas-indonesia.com/files/article/Ekonomi_Teknik.doc Universitas Sumatera Utara. 2011. Studi Kelayakan Bisnis. Diakses pada tanggal 25 Februari 2012. URL : http://usupress.usu.ac.id/files/Studi%20Kelayakan%20Bisnis_2_Final_normal_bab %208.pdf