Anda di halaman 1dari 28

BAB I PENDAHULUAN 1.1.

Latar belakang Secara garis besar, ada 3 kebutuhan dasar anak untuk pertumbuhan dan perkembangan: (1). Kebutuhan akan asah, yaitu kebutuhan akan rangsangan untuk anak, berupa permainan atau latihan-latihan, (2). Kebutuhan akan asih, yaitu kebutuhan emosi seperti kebutuhan akan rasa aman dan kasih saying orang tua, (3). Kebutuhan akan asuh, salah satunya adalah kebutuhan akan nutrisi yang adekuat dan seimbang.(Emiralda, 2007) Nutrisi merupakan kebutuhan akan asuh yang terpenting. Nutrisi adalah termasuk zat pembangun tubuh yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak pada tahun-tahun pertama kehidupan karena sedang mengalami pertumbuhan yang sangatcepat terutama untuk pertumbuhan otak, sehingga dengan nutrisi yang adekuat dan seimbang, seorang anak akan tumbuh menjadi anak yang sehat dan cerdas (Tanuwidjaya, 2002). (Emiralda, 2007) Dalam keadaan malnutrisi ringan dan malnutrisi berat, pertumbuhan dan perkembangan pada balita akan terhambat. Badan Penelitian Depkes.RI menegaskan bahwa gangguan gizi yang parah pada usia dini sangat menghambat perkembangan mental dan kecerdasan anak sehingga mempengaruhi kualitas anak pada usia dewasa. (Emiralda, 2007) Malnutrisi, menurut Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Siti Fadilah Supari, pada Peringatan Hari Gizi Indonesia tanggal 29 Januari 2007, termasuk masalah kesehatan utama masyarakat Indonesia. Salah satu factor utama yang
1

menyebabkan timbulnya malnutrisi adalah akibat pola asuhan makan dalam keluarga yang tidak memadai yaitu kurangnya kemampuan keluarga untuk memberikan makanan yang baik dan bergizi sehingga bayi dan anak menderita malnutrisi. (Emiralda, 2007) Berdasarkan data Susenas tahun 2001, di Indonesia, prevalensi balita dengan gizi baik 64,14%, gizi kurang 21,15%, dan gizi buruk 9,35% (Depkes.RI, 2001). Provinsi dengan resiko tinggi (>30%) untuk kasus gizi kurang dan gizi buruk adalah Nusa Tenggara Timur 40,8%, provinsi dengan resiko sedang (30%) untuk kasus gizi kurang dan gizi buruk adalah Nusa Tenggara Barat 30%, Papua 25,7%, Bangka Belitung 22,4%, Jawa Tengah 22,2%, Jawa Timur 21,9% dan Nangroe Aceh Darussalam 19,68% (Depkes.RI, 2002) (Emiralda, 2007)

1.2.

Rumusan Masalah Rumusan masalah pada penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:

1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10)

Apa yang dimaksud dengan malnutrisi? Bagaimana klasifikasi malnutrisi? Bagaimana epidemiologi malnutrisi? Apa saja etiologi malnutrisi? Bagaimana patofisiologi malnutrisi? Bagaimana gambaran klinis malnutrisi? Bagaimana diagnosis malnutrisi? Bagaimana penatalaksanaan kasus malnutrisi? Bagaimana komplikasi malnutrisi? Bagaimana hubungan malnutrisi dengan karies gigi?
2

1.3.

Tujuan Penulisan Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:

1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10)

Mengetahui definisi malnutrisi Mengetahui klasifikasi malnutrisi Mengetahui epidemiologi malnutrisi Mengetahui etiologi malnutrisi Mengetahui patofisiologi malnutrisi Mengetahui gambaran klinis malnutrisi Mengetahui diagnosis malnutrisi Mengetahui penatalaksanaan kasus malnutrisi Mengetahui komplikasi malnutrisi Mengetahui hubungan malnutrisi dengan karies gigi

BAB II PEMBAHASAN

2.1.

Definisi Malnutrisi Malnutrisi adalah suatu bentuk kekurangan gizi (asupan nutrisi yang tidak

memadai yang berpotensi mengarah pada penyekit defisiensi) ataupun kelebihan gizi (asupan diet energi, lemak, kolesterol atau asupan lain yang memungkinkan timbulnya penyakit kronis). (McDonald et al, 2004) Malnutrisi adalah istilah umum untuk suatu kondisi medis yang disebabkan oleh pemberian atau cara makan yang tidak tepat atau tidak mencukupi. Istilah ini seringkali lebih dikaitkan dengan keadaan undernutrition (gizi kurang) yang diakibatkan oleh konsumsi makanan yang kurang, penyerapan yang buruk, atau kehilangan zat gizi secara berlebihan. Namun demikian, sebenarnya istilah tersebut juga dapat mencakup keadaan overnutrition (gizi berlebih). Seseorang akan mengalami malnutrisi bila jumlah, jenis, atau kualitas yang memadai dari zat gizi yang mencakup diet yang sehat tidak dikonsumsi untuk jangka waktu tertentu yang cukup lama. Keadaan yang berlangsung lebih lama lagi dapat menyebabkan terjadinya kelaparan.(Emiralda, 2007) Manutrisi akibat asupan zat gizi yang kurang untuk menjaga fungsi tubuh yang sehat seringkali dikaitkan dengan kemiskinan, terutama pada negara-negara berkembang. Sebaliknya, malnutrisi akibat pola makan yang berlebih atau asupan gizi yang tidak seimbang lebih sering diamati pada negara-negara maju, misalnya dikaitkan dengan angka obesitas yang meningkat. Obesitas adalah suatu keadaan
4

di mana cadangan energi yang disimpan pada jaringan lemak sangat meningkat hingga ke mencapai tingkatan tertentu, yang terkait erat dengan gangguan kondisi kesehatan tertentu atau meningkatnya angka kematian. (Emiralda, 2007) Ketika berbicara mengenai gizi kurang (undernutrition), perhatian terbesar akan ditujukan pada anak, terutama balita. Hal ini dikarenakan pada usia tersebut, asupan kurang yang berlangsung dalam jangka waktu yang panjang, akan memberikan dampak terhadap proses tumbuh kembang anak dengan segala akibatnya di kemudian hari. Tidak hanya pada pertumbuhan fisik anak, tetapi juga perkembangan mentalnya. Satu hal yang akan berdampak pada produktivitas suatu bangsa. (Emiralda, 2007) Masalah malnutrisi masih ditemukan pada banyak tempat di Indonesia, dan ironisnya Indonesia mengalami kedua ekstrim permasalahan malnutrisi. Di satu sisi, daerah yang mengalami rawan pangan dan kelompok dengan kemampuan ekonomi yang kurang memadai amat rentan terhadap terjadinya malnutrisi dalam bentuk gizi kurang. (Emiralda, 2007) Di sisi lain, di beberapa tempat seperti daerah perkotaan dan pada kelompok ekonomi berkecukupan, obesitas menjadi bagian dari masalah kesehatan. Sekalipun belum ada data resmi yang diungkapkan pemerintah, beragam penelitian menunjukkan angka obesitas yang cukup mencengangkan. (Emiralda, 2006) Malnutrisi, Kurang Energi Protein, Undernutrition Malnutrisi adalah keadaan dimana tubuh tidak mendapat asupan gizi yang cukup, malnutrisi dapat juga disebut keadaaan yang disebabkan oleh
5

ketidakseimbangan di antara pengambilan makanan dengan kebutuhan gizi untuk mempertahankan kesehatan. Ini bias terjadi karena asupan makan terlalu sedikit ataupun pengambilan makanan yang tidak seimbang. Selain itu, kekurangan gizi dalam tubuh juga berakibat terjadinya malabsorbsi makanan atau kegagalan metabolic (Oxford Medical Dictionary, 2007). (Ikhwan, 2010)

2.2.

Klasifikasi Malnutrisi Terdapat 3 tipe gizi buruk adalah marasmus, kwashiorkor, dan marasmus-

kwashiorkor. Perbedaan tipe tersebut didasarkan pada ciri-ciri atau tanda klinis dari masing-masing tipe yang berbeda-beda. (Depkes RI, 2000) 2.2.1. Marasmus Marasmus adalah gangguan gizi karena kekurangan karbohidrat. Gejala yang timbul diantaranya muka seperti orangtua (berkerut), tidak terlihat lemak dan otot di bawah kulit (kelihatan tulang di bawah kulit), rambut mudah patah dan kemerahan, gangguan kulit, gangguan pencernaan (sering diare), pembesaran hati dan sebagainya. Anak tampak sering rewel dan banyak menangis meskipun setelah makan, karena masih merasa lapar. Berikut adalah gejala pada marasmus (Depkes RI, 2000) : a. Anak tampak sangat kurus karena hilangnya sebagian besar lemak dan otot-ototnya, tinggal tulang terbungkus kulit b. c. d. Wajah seperti orang tua Iga gambang dan perut cekung Otot paha mengendor (baggy pant)
6

e.

Cengeng dan rewel, setelah mendapat makan anak masih terasa lapar Menurut Nelson, penyebab utama marasmus adalah kurang kalori protein

yang dapat terjadi karena : diet yang tidak cukup, kebiasaan makan yang tidak tepat seperti hubungan orang tua dengan anak terganggu, karena kelainan metabolik atau malformasi kongenital. Keadaan ini merupakan hasil akhir dari interaksi antara kekurangan makanan dan penyakit infeksi. Selain faktor lingkungan ada beberapa faktor lain pada diri anak sendiri yang dibawa sejak lahir, diduga berpengaruh terhadap terjadinya marasmus. Secara garis besar sebab-sebab marasmus adalah sebagai berikut (Nelson, 2007) : a. Masukan makanan yang kurang : marasmus terjadi akibat masukan kalori yang sedikit, pemberian makanan yang tidak sesuai dengan yang dianjurkan akibat dari ketidaktahuan orang tua si anak, misalnya pemakaian secara luas susu kaleng yang terlalu encer. b. Infeksi yang berat dan lama menyebabkan marasmus, terutama infeksi enteral misalnya infantil gastroenteritis, bronkhopneumonia, pielonephiritis dan sifilis kongenital. c. Kelainan struktur bawaan misalnya : penyakit jantung bawaan, penyakit Hirschpurng, deformitas palatum, palatoschizis, mocrognathia, stenosis pilorus. Hiatus hernia, hidrosefalus, cystic fibrosis pankreas d. Prematuritas dan penyakit pada masa neonatus. Pada keadaan tersebut pemberian ASI kurang akibat reflek mengisap yang kurang kuat e. Pemberian ASI yang terlalu lama tanpa pemberian makanan tambahan yang cukup
7

f.

Gangguan metabolik, misalnya renal asidosis, idiopathic hypercalcemia, galactosemia, lactose intolerance

g.

Tumor hypothalamus, kejadian ini jarang dijumpai dan baru ditegakkan bila penyebab maramus yang lain disingkirkan

h.

Penyapihan yang terlalu dini desertai dengan pemberian makanan tambahan yang kurang akan menimbulkan marasmus

i.

Urbanisasi mempengaruhi dan merupakan predisposisi untuk timbulnya marasmus, meningkatnya arus urbanisasi diikuti pula perubahan kebiasaan penyapihan dini dan kemudian diikuti dengan pemberian susu manis dan susu yang terlalu encer akibat dari tidak mampu membeli susu, dan bila disertai infeksi berulang terutama gastroenteritis akan menyebabkan anak jatuh dalam marasmus

2.2.2.

Kwashiorkor Penampilan tipe kwashiorkor seperti anak yang gemuk (suger baby),

bilamana dietnya mengandung cukup energi disamping kekurangan protein, walaupun dibagian tubuh lainnya terutama dipantatnya terlihat adanya atrofi. Tampak sangat kurus dan atau edema pada kedua punggung kaki sampai seluruh tubuh . Tanda khas pada penderita kwashiorkor adalah pitting edema. Pitting edema adalah edema yang jika ditekan, sulit kembali seperti semula. Pitting edema disebabkan oleh kurangnya protein, sehingga tekanan onkotik

intravaskular menurun. Jika hal ini terjadi, maka terjadi ekstravasasi plasma ke intertisial. Plasma masuk ke intertisial, tidak ke intrasel, karena pada penderita
8

kwashiorkor tidak ada kompensansi dari ginjal untuk reabsorpsi natrium. Padahal natrium berfungsi menjaga keseimbangan cairan tubuh. Pada penderita kwashiorkor, selain defisiensi protein juga defisiensi multinutrien. Ketika ditekan, maka plasma pada intertisial lari ke daerah sekitarnya karena tidak terfiksasi oleh membran sel dan mengembalikannya membutuhkan waktu yang lama karena posisi sel yang rapat. Edema biasanya terjadi pada ekstremitas bawah karena pengaruh gaya gravitasi, tekanan hidrostatik dan onkotik (Sadewa, 2008). a. b. Perubahan status mental : cengeng, rewel, kadang apatis Rambut tipis kemerahan seperti warna rambut jagung dan mudah dicabut, pada penyakit kwashiorkor yang lanjut dapat terlihat rambut kepala kusam. c. d. e. Wajah membulat dan sembab Pandangan mata anak sayu Pembesaran hati, hati yang membesar dengan mudah dapat diraba dan terasa kenyal pada rabaan permukaan yang licin dan pinggir yang tajam. f. Kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah menjadi coklat kehitaman dan terkelupas

2.2.3.

Marasmik-Kwashiorkor Gambaran klinis merupakan campuran dari beberapa gejala klinik

kwashiorkor dan marasmus. Makanan sehari-hari tidak cukup mengandung protein dan juga energi untuk pertumbuhan yang normal. Pada penderita demikian disamping menurunnya berat badan < 60% dari normal memperlihatkan tanda9

tanda kwashiorkor, seperti edema, kelainan rambut, kelainan kulit, sedangkan kelainan biokimiawi terlihat pula (Depkes RI, 2000).

2.3.

Epidemiologi Malnutrisi Anak Indonesia rata-rata lahir dengan berat dan panjang badan normal.

Kegagalan pertumbuhan yang nyata biasanya mulai terlihat usia 4 bulan yang berlanjut sampai usia 2 tahun. Gizi buruk merupakan salah satu masalah gizi yang perlu mendapat perhatian serius. Kasus gizi buruk saat ini menjadi sorotan utama pada masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Berbagai upaya sudah dilakukan bahkan salah satu tujuan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2005-2009 bidang kesehatan adalah menurunkan prevalensi gizi kurang menjadi setinggi-tingginya 20%, termasuk prevalensi gizi buruk menjadi setinggi-tingginya 5% pada tahun 2005 (Riza Masidu, 2008). Indonesia sebenarnya sudah banyak membuat kemajuan dalam menekan angka gizi buruk dan gizi kurang pada anak balita, sebanyak 37,5% (1989), 35,5% (1992), 31,6% (1995), 29,5 (1998), 26,4% (1999) dan 24,6% (2000). Namun sejak tahun 2000, angka gizi buruk dan gizi kurang kembali mingkat, menjadi 26,1% (2001), 27,3% (2002), 27,5% (2003), dan 29% (2005). Sementara pada awal tahun 2005, menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS), jumlah kasus gizi buruk dan gizi kurang berturut-turut 8,8% sampai 19,20%. Jumlah balita yang menderita kurang dikatakan menurun menjadi 4,6 juta balita. Demikian pula balita yang menderita gizi buruk menurun menjadi 1,2 juta balita, dan balita yang

10

menderita gizi buruk tingkat berat (busung lapar) menurun menjadi 120.000 balita (Riza Masidu, 2008). Sampai akhir tahun 2005, ditemukan 1,8 juta balita dengan status gizi buruk, dalam jangka waktu yang sangat singkat menjadi 2,3 juta balita menderita gizi buruk, sementara masih ada 5 juta lebih anak balita lainnya yang mengalami status gizi kurang (Samhadi, 2006). Pada tahun 2006, selama periode JanuariOktober, jumlah total kasus gizi buruk yang dilaporkan dan ditangani petugas kesehatan sebanyak 20.580 kasus dan 186 diantaranya menyebabkan kematian. Jumlah tersebut menurun jauh dibandingkan pada tahun 2005, yang mencapai 76.178 kasus. Pada tahun 2007, sekitar 5.543.944 balita dari 19.799.874 balita yang ada diseluruh Indonesia diperkirakan menghadapi masalah gizi buruk dan gizi kurang (Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, 2007) (Riza Masidu, 2008).

2.4.

Etiologi Malnutrisi Malnutrisi dapat akibat dari masukan makanan yang tidak sesuai atau

tidak cukup atau dapat akibat penyerapan makanan yang tidak cukup. Penyediaakn makanan yang tidak cukup, kebiasaasn jelek, mengikiti mode makanan, dan faktor-faktor emosi dapat membatasi makanan. Kelainan metabolic tertentu juga dapat menyebabkan malnutrisi. Kebutuhan nutrient

pokok bertambah selam stress dan sakit seta selama pemberian antibiotic atau obat-obatan katabolic atau anabolic.(Nelson, 2007)

11

Ada 2 faktor penyebab dari malnutrisi adalah sebagai berikut (Dinkes SU, 2006): 1. Penyebab Langsung Kurangnya jumlah dan kualitas makanan yang dikonsumsi Menderita penyakit infeksi,AIDS dan penyakit kronis lainnya (Strasser, 2002). Cacat bawaan Menderita penyakit kanker Malnutrisi sering terjadi pada penderita kanker (24% pada stadium dini dan > 80% pada stadium lanjut), AIDS dan penyakit kronis lainnya. (Strasser, 2002). Anak yang mendapat makanan cukup baik tetapi sering diserang penyakit atau demam akhirnya menderita kurang gizi 2. Penyebab tidak langsung Ketersediaan Pangan rumah tangga, Perilaku Pelayanan kesehatan. Sedangkan faktor-faktor lain selain faktor kesehatan, tetapi juga merupakan masalah utama gizi buruk adalah kemiskinan, pendidikan rendah, ketersediaan pangan dan kesempatan kerja. Oleh karena itu untuk mengatasi malnutrisi berupa kurang gizi dibutuhkan kerjasama lintas sektor Ketahanan pangan adalah kemampuan keluarga dalam memenuhi kebutuhan pangan seluruh anggota keluarganya dalam jumlah yang cukup baik maupun gizinya (Dinkes SU,
12

2006). Secara garis besar malnutrisi disebabkan oleh karena asupan makanan yang kurang atau anak sering sakit, atau terkena infeksi. Asupan makanan yang kurang disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain tidak tersedianya makanan secara adekuat, anak tidak cukup salah mendapat makanan bergizi seimbang, dan pola makan yang salah. Kaitan infeksi dan kurang gizi seperti layaknya lingkaran setan yang sukar diputuskan, karena keduanya saling terkait dan saling memperberat. Kondisi infeksi kronik akan meyebabkan kurang gizi dan kondisi malnutrisi sendiri akan memberikan dampak buruk pada sistem pertahanan sehingga memudahkan terjadinya infeksi (Nency, 2005).

Sumber : Williams, C.D (1960) Malnutrition dalam Williams, C.D (1976) Mother and Child Health Delivering the 13 Services hal. 47.

2.5.

Fatofisiologi Malnutrisi Sebenarnya malnutrisi merupakan suatu sindrom yang terjadi akibat

banyak faktor. Faktor-faktor ini dapat digolongkan atas tiga faktor penting, yaitu: tubuh sendiri (host), agent (kuman penyebab), environtment (lingkungan). Memang faktor diet (makanan) memegang peranan penting tetapi faktor lain ikut menentukan. (Lubis&Marsida, 2002) Dalam keadaan kekurangan makanan, tubuh selalu berusaha untuk mempertahankan hidup dengan memenuhi kebutuhan pokok atau energi. Kemampuan tubuh untuk mempergunakan karbohidrat, protein dan lemak merupakan hal yang sangat penting untuk mempertahankan kehidupan; karbohidrat (glukosa) dapat dipakai oleh seluruh jaringan tubuh sebagai bahan bakar, sayangnya kemampuan tubuh untuk menyimpan karbohidrat sangat sedikit, sehingga setelah 25 jam sudah dapat terjadi kekurangan. Akibatnya katabolisme protein terjadi setelah beberapa jam dengan menghasilkan asam amino yang segera diubah jadi karbohidrat di hepar dan di ginjal. Selama puasa jaringan lemak dipecah jadi asam lemak, gliserol dan keton bodies. Otot dapat mempergunakan asam lemah dan keton bodies sebagai sumber energi kalau kekurangan makanan ini berjalan menahun. Tubuh akan mempertahankan diri jangan sampai memecah protein lagi setelah kira-kira kehilangan separuh dari tubuh.(Lubis&Marsida, 2002)

14

2.6.

Gambaran Klinis Malnutrisi Gejala Fisik yang diduga ada kaitan dengan malnutrisi dengan keadaan

normal. (Supariasa, 2001) Keadaan Normal Tanda yang Berhubungan dengan Malnutrisi Rambut: Berkilau, tak mudah lepas Muka: Warna sama, halus, tampak sehat, tidak bengkak Mata: Bercahaya, bersih, tak ada luka, kelembaban tak tampak, pembuluh darah sclera Bibir: halus, tak ada pembengakakan Lidah : halus, pembengkakan, merah tidak ada Kehilangan sinarnya yang berkilat, kering, tipis, mudah lepas Depigmentasi, flek hitam di bawah mata, membengakak, pembesaran kelenjar parotis Konjungtiva pucat, bercak bitot, palpebris angularis, konjungtiva kering, kornea kering, jaringan parut kornea, keratomalasia Cheilosis, fisura angularis, jaringan parut sekitar sudut bibir Membengkak, kasar, magenta, halus, kemerahan, papilla atrofi, hipertrofi hiperemik Tanggal, erupsi tak normal, tanda-tanda fluorosis, berlubang Mudah berdarah,

Gigi : Tak ada lubang, tak ada rasa nyeri, bercahaya Gusi: sehat, merah, tak ada pendarahan, tak ada pembengakakan Wajah: tak ada pembengkakan Pembesaran kelenjar parotis Kulit : bersih, tak ada pembengkakan Kering, keratosis folikularis, tak ada bercak-bercak membengakak, gambaran dermatosis pellagra, despigmentasi, peteachiae, jaringan lemak bawah kulit berkurang Kuku: kemerahan, keras Koilanika, rapuh

2.7.

Diagnosis Malnutrisi Diagnosis malnutrisi berdasar pada riwayat diet yang tepat; pada evaluasi

adanya deviasi berat badan, tinggi badan, lingkaran kepala rata-rata dan kecepatan
15

pertumbuhan; pada pengukuran komparatif lingkaran dan ketebalan kulit di tengah-tengah lengan atas; dan pada uji kimia dan lain-lain. Penurunan ketebalan lipatan kulit member kesan malnutrisi protein kalor; ketebalan yang berlebih menunjukkan kegemukan. Masa otot dihitung dengan mengurangi lingkaran lengan atas dengan ukuran lipatan kulit. Untuk lingaran otot lengan atas tengah anak dan orang dewasa (cm) = lingkaran lengan atas tengah (cm) (ketebalan lipatan kulit (cm)x 3,14). Berat badan tanpa lemak dapat diperkirakan dari ekskresi kreatinin 24 jam. Defisiensi beberapa nutrient dapat ditunjukkan dengan kadar nutrient atau metabolitnya dalam darah yang rendah.(Behrman, 1996). Di Indonesia cara pemantauan dan batasan berat badan normal orang dewasa belum jelas. Sejak tahun 1958 digunakan cara perhitungan berat badan normal berdasarkan rumus Berat badan normal = (Tinggi badan-100) -10% (tinggi badan 100) atau 0,9 x (tinggi badan-100) Dengan batasan Nilai Maksimum Nilai Minimum : 0,8 x (Tinggi Badan 100)

: 1,1 x (Tinggi badan 100)

Berat badan yang berada di bawah batas minimum dinyatakan sebagi under weight atau kekurusan, dan berat badan yang berada di atas batas maksimum dinyatakan sebagai over weight atau kegemukan. Orang-orang yang berada si bawah ukuran berat normal mempunai resiko terhadap penyakit infeksi,
16

sementara yang berada di atas ukuran normal mempunyai risiko tinggi terhadap penyakit degenerative (Supariasa, 2001)

2.8.

Penatalaksanaan Malnutrisi Pencegahan terjadinya kasus karies dentis akibat malnutrisi dapat

ditangani dengan asupan gizi yang cukup. Penambahan suplemen vitamin A akan mengembalikan fungsi sel-sel ameloblas dan odontoblas sehingga terbentuk enamel dan dentin yang sehat akan mengurangi serangan karies dentis. Pemberian vitamin C secara suplemen akan memulihkan fungsi odontoblas dalam waktu relatif pendek dan terjadi pembentukan dentin yang normal kembali. (Soediaoetama, 1989) Tata Laksana Utama Balita Gizi Buruk Dalam proses pengobatan KEP berat terdapat 3 fase, adalah fase stabilisasi, fase transisi dan fase rehabilitasi. Petugas kesehatan harus trampil memilih langkah mana yang cocok untuk setiap fase. Tatalaksana ini digunakan baik pada penderita kwashiorkor, marasmus maupun marasmik-kwarshiorkor. (WHO, 2009) 2.8.1. Tahap Penyesuaian Tujuannya adalah menyesuaikan kemampuan pasien menerima makanan hingga ia mampu menerima diet tinggi energi dan tingi protein (TETP). Tahap penyesuaian ini dapat berlangsung singkat, adalah selama 1-2 minggu atau lebih lama, bergantung pada kemampuan pasien untuk menerima dan mencerna makanan. Jika berat badan pasien kurang dari 7 kg, makanan yang diberikan
17

berupa makanan bayi. Makanan utama adalah formula yang dimodifikasi. Contoh: susu rendah laktosa +2,5-5% glukosa +2% tepung. Secara berangsur ditambahkan makanan lumat dan makanan lembek. Bila ada, berikan ASI. (WHO, 2009) Jika berat badan pasien 7 kg atau lebih, makanan diberikan seperti makanan untuk anak di atas 1 tahun. Pemberian makanan dimulai dengan makanan cair, kemudian makanan lunak dan makanan biasa, dengan ketentuan sebagai berikut: (WHO, 2009) a. b. c. Pemberian energi dimulai dengan 50 kkal/kg berat badan sehari. Jumlah cairan 200 ml/kg berat badan sehari. Sumber protein utama adalah susu yang diberikan secara bertahap dengan keenceran 1/3, 2/3, dan 3/3, masing-masing tahap selama 2-3 hari. Untuk meningkatkan energi ditambahkan 5% glukosa, dan d. Makanan diberikan dalam porsi kecil dan sering, adalah 8-10 kali sehari tiap 2-3 jam.

2.8.2.

Tahap Penyembuhan Bila nafsu makan dan toleransi terhadap makanan bertambah baik, secara

berangsur, tiap 1-2 hari, pemberian makanan ditingkatkan hingga konsumsi mencapai 150-200 kkal/kg berat badan sehari dan 2-5 gram protein/kg berat badan sehari. (WHO, 2009)

2.8.3.

Tahap Lanjutan Sebelum pasien dipulangkan, hendaknya ia sudah dibiasakan

memperoleh makanan biasa yang bukan merupakan diet TETP. Kepada orang tua
18

hendaknya diberikan penyuluhan kesehatan dan gizi, khususnya tentang mengatur makanan, memilih bahan makanan, dan mengolahnya sesuai dengan kemampuan daya belinya. Suplementasi zat gizi yang mungkin diperlukan adalah: (WHO, 2009) a. Glukosa biasanya secara intravena diberikan bila terdapat tanda-tanda hipoglikemia. b. c. KCl, sesuai dengan kebutuhan, diberikan bila ada hipokalemia. Mg, berupa MgSO4 50%, diberikan secara intra muskuler bila terdapat hipomagnesimia. d. Vitamin A diberikan sebagai pencegahan sebanyak 200.000 SI peroral atau 100.000 SI secara intra muskuler. Bila terdapat xeroftalmia, vitamin A diberikan dengan dosis total 50.000 SI/kg berat badan dan dosis maksimal 400.000 SI. e. Vitamin B dan vitamin C dapat diberikan secara suntikan per-oral. Zat besi (Fe) dan asam folat diberikan bila terdapat anemia yang biasanya menyertai KKP berat.

2.9.

Komplikasi Bahaya komplikasi pad apasien malnutrisi energy protein sangat mudah

mendapat infeksi karena daya tahan tubuhnya rendah terutama system kekebalan tubuh. Infeksi yang paling sering ialah bronkopneumonia dan tuberculosis. Adanya atrofivili usus menyebabkan penyerapan terganggu mengakibatkan pasien sering diare. Melihat komplikasi tersebut sukar untuk dicegah. Yang perlu diperhatikan adalah kebersihan mulut, kulit, diare dan hipotermia (Lubis, 2010).
19

Pada penderita gangguan gizi sering terjadi gangguan asupan vitamin dan mineral. Karena begitu banyaknya asupan jenis vitamin dan mineral yang terganggu dan begitu luasnya fungsi dan organ tubuh yang terganggu maka jenis gangguannya sangat banyak. Pengaruh malnutrisi atau KEP bias terjadi pada semua organ tubuh. Beberapa organ tubuh yang sering terganggu adalah saluran cerna, otot dan tulang, hati, pancreas, ginjal, jantung, dan gangguan hormonal. (Sumaiyah, 2008) Mortalitas atau kejadian kematian dapat terjadi pada penderita KEP, khususnya pada KEP berat. Beberapa penelitian menunjukkan pada KEP berat resiko kemarian cukup besar, adalah sekitar 55%. Kematian ini seringkali terjadi karena penyakit infeksi (seperti Tuberkulosis, radang paru, infeksi saluran cerna) atau karena gangguan jantung mendadak. Infeksi berat sering terjadi karena pada KEP sering mengalami gangguan mekanisme pertahanan tubuh. Sehingga mudah terjadi infeksi atau bila infeksi beresiko terjadi komplikasi yang lebih berat hingga mengancam jiwa (Nelson, 2007).

2.10. Hubungan Karies Gigi dengan Malnutrisi Malnutrisi khususnya kekurangan nutrisi, berkaitan erat dengan kurangnya gizi yang dikonsumsi. Zat gizi yang esensial bagi perkembangan dan pemeliharaan gigi meliputi vitamin A, vitamin C, vitamin D, mineral, fosfor, serta fluor. Vitamin A terutama berpengaruh pada sel-sel yang ectodermal, sedangkan vitamin C terutama berpengaruh pada sel-sel yang berasal mesodermal. Vitamin D berpengaruh pada perletakan garam-garam Ca. protein, sebagai zat gizi yang
20

sangat essensial bagi struktur sel, tidak begitu menonjol perannya pada pembentukan enamel dan dentin. Statuz gizi yang jelek turut menggerogoti fungsi kelenjar ludah (Arisman, 2010) Garam Ca dan fluor merupakan dua mineral yang berperan juga dalam kesehatan gigi; terutama terhadap serangan karies dentis (Soeditama, 1989)

2.10.1. Pengaruh Vitamin A pada pembentukan gigi Pada kondisi vitamin A yang terjadi pada fase pembentukan gigi premodial, yang pertama terganggu adalah fungsi sel-sel ameloblas. Sel-sel ini terhambat dalam menginduksi sel-sel odontoblas untuk membentuk deretan yang teratur, sehingga lapisan dentin yang kemudian dibentuk oleh odontoblas terdiri atas silinder-silinder substansi yang tidak paralel sempurna.Juga terjadi defek dalam mikrostruktur lapisan email, yang memberikan kelemahan terhadap keumngkinan serngan karies dentis. (Soeditama, 1989) Gangguan terhadap odontoblas dapat begitu parah pada defisiensi vtamin A yang lanjut, sehingga suatu kelompok odontoblas dapat memisahkan diri dari deretannya dan membentuk gigi soliter pada tempat yang bukan semestinya di dalam rongga mulut. Duplikasi gigi yang memberikan gigi gingsul diperkirakan sebagi akibat defisiensi vitamin A ini. Gigi yang mikrostrukturnya defektif sebagai akibt deisiensi vitamin pada fase premodial menunjukkan kerentannan yang meninggi terhadap serangan karies dentis. (Soeditama, 1989) Kekurangan vitamin A menganggu perkembangan jaringan epitel, menganggu oembentukkan gigi, menyebabkan hipoplasia enamel, sementara
21

kelebihan vitamin A mengekibatkan sumbing kraniofasial dan oral. (Arisman, 2010)

2.10.2. Pengaruh Vitamin C pada Pembentukan Gigi Pengaruh vitamin C terutama menonjol pada sel-sel yang berasal mesodermal (sel mesodermal berdiferensiasi dari sel endodermal). Sel-sel odontoblas berasal dari mesodermal, sehingga mudah dipahami bahwa pada

defisiensi vitamin C terutama deretan odontoblas dengan hasil produksi dentin yang terutama mengalami gangguan atau hambatan. Efek dini ialah kurangnya respon odontoblas terhadap induksi yang datang dari ameloblas, sehingga deretan yang dibentuk oleh odontoblas menjadi kurang teratur. Ini berakibat pembuatan jaringan dentin oleh deretan odontoblas menjadi kurang sempurna, bahkan dapat terjadi kekacauan dari susunan siliner-silinder zat dentin. (Soeditama, 1989) Pembentukan dentin irregular dan oerubahan pulpa ialah dampak negative defisiensi vitamin C. (Arisman, 2010) Hambatan ini memberikan jaringan dentin yang mempunyai mikrostruktur yang lebih rentan terhadap serangan karies dentis. (Soeditama, 1989) Gigi dapat terlambat dibentuk dan melakukan erupsi ke rongga mulut dan ertinggal dari jadwal erupsi yang normal. Mungkin pula terbentuk gigi yang tumbuh salah arah, ke luar dari barisannya (gingsul). Bila kemudian vitamin C diberikan sebagai suplemen, maka hambatan fungsi odontoblas akan pulih kembali dalam waktu relative pendek dan terjadi pembentukan dentin yang normal kembali. (Soeditama, 1989)
22

Vitamin C berpengaruh atas kekuatan ikatan serat-serat jaringan ikat. Pada defisiensi vitamin C serat-serat pengikat ini menjadi lemah dan longgar, sehingga gigi dapat menjadi goyah, bahkan dapat tanggal samasekali. Lepas dari kedudukannya di dalam alveolus (Soeditama, 1989)

2.10.3. Pengaruh Vitamin D, Ca dan P pada Pembentukan Gigi Vitamin, Ca dan P bersama-sama berpengaruh pada erletakan garam Calcium (Calcium carbonat dan Calcium phospat) yang merupakan komponen utama dari jaringan- jaringan keras ini, sehingga menjadi email, dentin dan cementum yang kurang mengandung garam-garam Calcium (osteoporotic). Kondisi ini membuta jaringan-jaringan keras gigi lebih mudah diserang karies dentis. Pada perbandingan Ca:P lebih rendah, akan lebih banyak terbentuk Ca Carbonat disbanding dengan Ca Phospat;kondisi ini memberikan kerentanan untuk serangan karies dentis.

2.10.4. Pengaruh Protein pada Pembentukan Gigi Meskipun protein bahan yang essential dalam struktur sel dan bagianbagian subseluler (protein structural), tetapi pengaruhnya dalam pembentukan gigi tidak tampak menonjol. Namun demikian, kekurangan protein dalam perioda intrauterine dikatakan berpengaruh dalam pembentukan dan pengembangan bakal tulang rahang tempa gigi geligi tersebut. (Soeditama, 1989) Pengaruh zat-zat terhadap permukaan gigi tidak begitu Nampak, karena terlindung oleh jaringan paling keras dentin, yang praktis tidak permeable bagi
23

zat-zat kimiawi, termasuk zat-zat gizi, kecuali untuk beberapa unsur tertentu. Zat flour masih dapat tersera untuk korona dentin, meskipun tidak begitu mudah disbanding dengan ketika fase pembentukan gigi dalam jaringan lunak. (Soeditama, 1989) Kurang kalori dan protein mengakibatkan perlambatan erupsi, pengecilan ukuran gigi, pengurangan keterlarutan enamel, disfungsi kelenjar ludah.(Arisman, 2010) Pentingnya konsumsi makanan nonkariogenik seperti susu, kalsium, fosfor, magnesium, dan vitamin D yang terkandung di dalam susu mengkondisi lingkungan protektif terhadap kemungkinan karies. Banyak penelitian (Reynolds et al, 1987; Gedalia et al, 1991) membuktikan bahwa fosfo-protein berpengaruh menghambat demineralisasi asam terhadap enamel dan seklaigus memasu remineralisasi permukaan enamel gigi yang pernah melunak lantaran terlalu banyak menenggak minuman cola. Coklat juga dituding menopang proses karies, namun bukti ilmiahnya belum ada. Pada fosfor dan kokoa (semuanya terdapat di susu coklat) hampir tidak punya kontribusi terhadap pembentukan karies ketimbang sukrosa atau camilan, seperti kerioik kentang, kismis, dan kue kering (Marques et al, 1991). Disamping itu, susu coklat lebih mudah dibersihkan karena berbentuk cair daripada makanan padat mengandung glukosa; perannya sebagai penggali lubang gigi sangat kecil. (Arisman, 2010)

2.10.5. Flourida Pada keadaan normal, dentin dan email mengandung garam-garam mineral antara lain : kalsium, phosfor dan elemen lain yang mengandung fluoride.
24

Konsentrasi fluor dalam air minum berkisar antara 0,5 sampai 1 ppm, jumlah ini akan berfungsi untuk melindungi gigi dari karies gigi akan tetapi pada kadar fluor lebih dari 2 ppm maka akan menyebabkan bercak-bercak pada gigi, dan pada email akan terlihat pita yang berwarna coklat. Fluorida dapat melindungi gigi dari serangan bakteri sehingga tidak terjadi karies. Di USA terlihat pemberian flourisasi mampu menurunkan karies sebanyak 60-70% pada anak-anak yang menderita karies (Mustafa, 1993).

2.10.6. Garam Mineral Mineral seperti kalsium, magnesium, besi serta tembaga dapat menghambat terjadinya karies gigi (Mustafa, 1993).

25

BAB III PENUTUP

1.1.

Kesimpulan Kesimpulan yang diperoleh berdasarkan hasil pembahasan ialah: Malnutrisi adalah suatu bentuk kekurangan gizi ataupun kelebihan gizi

yang disebabkan masukan makanan yang tidak sesuai atau tidak cukup atau dapat akibat penyerapan makanan yang tidak cukup. Malnutrisi dapat berdampak pada karies dentis karena dapat meyebabkan kurangnya asupan zat gizi yang esensial bagi perkembangan dan pemeliharaan gigi (Vitamin A, C, D ;mineral, fosfor, fluor).

1.2.

Saran Diharapkan agar setiap anggota kelompok dapat memahami tentang

dampak pertumbuhan gigi akibat malnutrisi

26

DAFTAR PUSTAKA

Arisman MB. Buku Ajar Ilmu Gizi, Gizi dalam Daur Kehidupan. EGC. Jakarta. 2010. P. 64-69 Behrman RE, Kliegmen R, Arvin AM. Nelson: Ilmu Kesehatan Anak. 15th Ed. EGC. Jakarta. Indonesia. P. 160-231
Depkes RI. 2000. Pedoman Tatalaksana Kekurangan Energi Protein Pada Anak di Rumah Sakit Kabupaten/Kodya. Jakarta.

Emiralda. Pengaruh Pola Asuh Anak Terhadap Terjadinya Balita Malnutrisi di Wilayah Kerja Puskesmas Montasik Kecamatan Montasik Kabupaten Aceh Besar Tahun 2006. Sekolah Pasca Sarjana. Universitas Sumatera Utara, Medan. 2007. Ikhwan, M. Malnutrisi. Departemen Gizi Kesehatan Masyarakat. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Sumatera Utara. 2010. London, June Vol 16 Number 3, pp 589-617. Lubis NU & Marsida AY. Penatalaksanaan Busung Lapar. Cermin Dunia Kedokteran No. 134, 2002. P. 10-12 Lubis, Zulhaida. Gizi Ibu Hamil dan Pertumbuhan Janin. Departemen Gizi Kesehatan Masyarakat. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Sumatera Utara. 2010. Macdonald R et al. Dentistry For The Child And Adolescent. 8th Ed. Elsevier. New Delhi. India. 2008. P. 260 Mustafa. Penuntun Diit Anak. PT. Gramedia, Jakarta. 1993.
Nelson, WE.2007. Malnutrition.In Nelson WE.(ed) Mitchel Nelson Text Book of Pediactrics 5thed. WB Saunders Co. Philadelphia & London.

Pncol Clin N Am editors: Waller PW, Bruera ED, WB. Company Philadelphia, Soediaoetama AD. Ilmu Gizi. Dian Rakyat. Jakarta. Indonesia. 1989. P. 226-234 Strasser F, Bruera ED (2002): Update on Anorhexia and Cachexia. In: Hematol Sumaiyah, et al. Hubungan Antara Pola Pemberian Nutrisi dan Perubahan Berat Badan Pada Balita di Posyandu I, Desa Putat, Tanggulangin. Poliklinik Kesehatan Surabaya, Program Studi Keperawatan Sidoarjo. Buletin Penelitian RSU Dr. Soetomo, Vol.10, No.3. September 2008.
27

Supariasa I D N. Penilaian Status Gizi. EGC. Jakarta. Indonesia. 2001. P. 56-153 World Health Organisation. Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Jakarta: WHO Indonesia. 2009.p: 193-222

28