Anda di halaman 1dari 6

VIVAnews - Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI) mendukung rencana pembahasan Rancangan Undang-Undang Penyiaran baru yang akan

memasukkan soal digitalisasi penyiaran di dalam ketentuannya. UU Penyiaran tersebut akan menggantikan UU Penyiaran Nomor 32/2002 yang sekarang berlaku. "Teknologi komunikasi dan informasi berkembang pesat, tidak terkecuali di industri penyiaran. Kita harus siap, karena saat ini pun gempuran dari konten penyiaran asing kian luas menjangkau pemirsa di Tanah Air," kata Ketua ATVSI, Erick Thohir, dalam keterangan tertulis yang diterima VIVAnews, Jumat, 24 Februari 2012. ATVSI menilai, penggunaan frekuensi penyiaran di masa depan sebaiknya lebih dititikberatkan pada ketentuan mengenai konten, dibandingkan struktur kepemilikan dan struktur bisnisnya. "Kami berharap UU Penyiaran bersifat visioner dan dapat mengakomodir perkembangan teknologi komunikasi. Karena itu penekanan pada aspek pengaturan konten menjadi lebih relevan, mengingat perubahan teknologi begitu cepat," kata Erick Thohir. Berkaitan dengan kemerdekaan berekspresi dan kemerdekaan pers, ATVSI mengharapkan UU Penyiaran nantinya menjamin kedua hak esensial bagi warga negara dapat dijaga. Dalam konten penyiaran ada konten jurnalistik yang diproduksi para jurnalis. "Kemerdekaan pers harus dijamin dalam UU Penyiaran. Jurnalis dan produk jurnalistik seyogyanya tidak dikriminalisasi jika terkait dengan sengketa pemberitaan," ujar dia. Untuk itu, ATVSI meminta pihak pembahas UU Penyiaran duduk bersama Dewan Pers, organisasi media, dan organisasi profesi wartawan untuk memastikan kemerdekaan pers terjamin. Pengaturan mengenai konten jurnalistik sebaiknya mengacu kepada standar yang sama dan tidak menimbulkan dualisme antara lembaga yang terkait. "ATVSI mendukung upaya self-regulatory yang dilakukan atas konten jurnalistik, sebagaimana yang telah dijalankan oleh Dewan Pers yang independen selama ini," tuturnya. Selama ini, ATVSI telah berupaya meningkatkan profesionalisme jurnalis penyiaran dengan menjalin kerja sama bersama Dewan Pers. Dalam sesi pelatihan bersama itu, dibahas pula

mengenai Kode Etik Jurnalistik dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) yang diterbitkan Komisi Penyiaran Indonesia Pusat. "Hasil survei Edelson Trust Barometer 2011 menunjukkan bahwa lepas dari beragam kritik kepada media, lembaga ini masih menduduki posisi teratas dalam kepercayaan publik," ujarnya. Menyangkut kelembagaan Komisi Penyiaran Indonesia, ATVSI berharap tidak ada dualisme antara lembaga di pusat dan daerah. Kondisi itu justru akan menimbulkan ketidakpastian pelaksanaan penyiaran. Selain itu, perlu ada sinkronisasi dengan lembaga lain yang juga mengatur konten penyiaran seperti Lembaga Sensor Film. "Kepastian berusaha penting dalam menjamin minat investasi dan tumbuhnya industri yang sehat dan pada gilirannya mendukung penciptaan lapangan pekerjaan, sebagaimana yang selama ini sudah kami lakukan," kata Erick Thohir. (art) VIVAnews

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil Ketua Panitia Kerja Komisi I DPP RI untuk RUU Penyiaran, Al Muzzammil Yusuf menerangkan bahwa saat ini Panitia Kerja (Panja) Komisi I untuk RUU Penyiaran telah mengundang tujuh orang pakar penyiaran untuk menjadi tim pakar pendamping dalam penyusunan RUU Penyiaran sebagai usul inisiatif DPR. Pakar penyiaran yang sudah diputuskan oleh Panja diantaranya Ade Armando, Paulus Widianto, Amir Effendi Siregar, Soekarno Abdulrachman, Ishadi, Sasa DJuarsa, dan Parni Hardi. Kami sengaja memilih para pakar penyiaran ini agar undang-undang penyiaran kedepan lebih ideal, lebih komprehensif, berjangka panjang, dan memiliki kepastian hukum bagi industri penyiaran dan masyarakat, jelas Muzzammil di Gedung DPR RI, Jumat (3/2/2012). Selain masukan dari para pakar, kata Muzzammil, Panja juga akan meminta masukan para stake holders penyiaran, seperti Komisi Penyiaran Indonesia, LSM yang bergerak dibidang penyiaran,

para pemilik industri penyiaran, perguruan tinggi, dan para praktisi penyiaran di daerah. Selain itu Panja juga akan meminta masukan masyarakat luas melalui penjaringan media massa. Kami berharap masyarakat dapat terlibat dan berpartisipasi dalam proses pembuatan UU ini. Sehingga semua pihak merasa memiliki UU ini. Pinta Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai Keadialan Sejahtera ini. Menurut Muzzammil, UU ini akan memberikan dampak pada kehidupan masyarakat secara langsung karena UU ini akan membahas regulasi penyiaran dan konten penyiaran baik TV maupun radio yang setiap hari dikonsumsi oleh masyarakat. Saya akan memperjuangkan agar UU ini dapat menyajikan regulasi dan konten penyiaran yang bertanggungjawab, memberikan pendidikan dan pencerahan kepada masyarakat, terutama anakanak. Sehingga anak-anak kita aman ketika menonton siaran TV. Jelasnya. Dalam perkiraan Muzzammil, pembahasan RUU ini akan selesai di Panja dan harmonisasi di Badan Legislasi pada masa sidang sekarang. Kemudian masa sidang berikutnya RUU ini sudah resmi menjadi RUU inisiatif dari DPR yang akan dibahas dengan Pemerintah.

Editor: Johnson Simanjuntak Akses Tribunnews.com lewat perangkat mobile anda melalui alamat m.tribunnews.com

Dulu pernah ada semacam "takhayul" pada sebagian masyarakat, bahwa ada urusan tertentu bisa menimbulkan petaka bagi yang menyentuhnya. Masih ingat PSSI? Takhayul waktu itu, menjadi Ketua Umum PSSI sama dengan merintis jalan untuk turun jabatan. Beberapa pejabat negara yang "ditugaskan" menjadi Ketua Umum PSSI memang terbukti "jatuh" di situ. Bardosono, Kardono, Solihin GP, antara lain, untuk menyebut beberapa nama.

Mesir juga termasuk negeri angker bagi sebagian masyarakat yang percaya takhayul. Pak Harto mengunjungi Mesir awal Mei 1998. Sebelum dia ke sana, ada beberapa kepala negara yang jatuh setelah berkunjung ke Mesir. Dan, Pak Harto memang jatuh pada tanggal 21 Mei 1998. Waktu Presiden RI Megawati berkunjung ke Mesir, orang teringat takhayul itu. Tapi syukurlah itu tak terjadi. Mungkin karena Mesir bukanlah tujuan utama lawatan Megawati ke luar negeri. Negeri indah itu hanya salah satu tempat persinggahan rombongan kepala negara. Di tanah air, RUU Penyiaran termasuk wilayah angker. Pembahasan mengenai RUU Penyiaran ini selalu alot dan makan korban. Pembahasannya saja menghabiskan waktu bertahun-tahun dan telah menelan korban seorang menteri jatuh karena urusan itu. Bayangkan, RUU tersebut dibahas sejak Pak Harto masih jadi presiden, dan hingga pergantian Presiden RI telah terjadi empat kali, belum juga beres. Di masa Orde Baru, orang mengetahui Menteri Penerangan Harmoko yang notabene anak emas Pak Harto, lengser juga oleh sebab RUU Penyiaran tersebut. RUU Penyiaran yang telah digodok Harmoko bersama DPR-RI tinggal mendapatkan pengesahan pemberlakuannya sebagai UU oleh Presiden Soeharto. Namun karena RUU tersebut, kabarnya banyak mengandung pasal yang merugikan kepentingan pemilik televisi, maka urung disahkan. Bagaimana nasib RUU Penyiaran tersebut di masa reformasi? Menurut logika, mestinya pembahasannya di DPR-RI maupun pengesahannya oleh pemerintah lebih lancar dibandingkan dulu. Maklum anggota DPR-RI yang menggodok itu, seluruhnya dipilih di masa reformasi. Pemerintahannya pun demikian, di bawah Presiden Megawati, semuanya anggap saja kaum reformis. Jangan lupa pula insan-insan televisinya. Namun, nyatanya pembahasan RUU Penyiaran itu makin ruwet. Ada beberapa pasal yang dinilai set back, malah mengembalikan situasi jauh lebih buruk dibandingkan di masa Orde Baru. Itu sebabnya, segera saja reaksi yang bernada penolakan dari berbagai elemen masyarakat bermunculan hari-hari ini. Jadwal pengesahan UU tersebut yang direncanakan 23 September ini, terancam tertunda. Malah kebanyakan suara menghendaki sebaiknya pembahasan dan pengesahan RUU itu menunggu hasil Pemilu 2004. Dengan hasil amandemen UUD dalam Sidang Tahunan MPR Agustus 2002, ada harapan besar Pemilu 2004 dan pemilihan Presiden RI secara langsung tahun itu, lebih memiliki legitimasi kuat. Itu antara lain argumentasi yang kita dengar.

Kita dapat memaklumi argumentasi terakhir. Soalnya kinerja anggota parlemen, pemerintah, memang terbukti belum dilandasi semangat reformasi. Politik uang di lembaga legislatif, eksekutif, dan yudikatif, makin tak terkendali. Kemungkinan besar lantaran pers terus menyoroti KKN di lembaga-lembaga itu, membuat para penyelenggara negara "bersatu" untuk membelenggu kebebasan pers, seperti yang tercermin dalam beberapa pasal RUU Penyiaran tersebut. Peran swasta memang telah diakomodasi dalam RUU Penyiaran. Namun, KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) lembaga yang mewakili peran swasta itu bikin kita sesak napas. Ngeri membayangkan kekuasaan pemerintah malah berpindah ke tangan KPI. Kita ngeri karena baru saja merasakan pengalaman pahit oleh banyak lembaga serupa. Ambil satu contoh, Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang mengambil over peran pemerintah dalam penyelenggaraan Pemilu. Di depan mata, di siang hari bolong, mereka terang-terangan mengkorup keuangan lembaga itu. Begitu besarnya kekuasaan KPI dalam RUU itu, sampai dia bisa menghentikan sebuah program berdasarkan pengaduan masyarakat. Maka kita membayangkan skenario: KPI dilobi oleh satu pihak, yaitu pesaing program yang hendak dihukum. KPI bersama pesaing meng-create demo, unjuk rasa. Berdasarkan itu maka jatuhlah sanksi terhadap satu program. Esok hari pesaing lain datang, lalu di-create lagi demo, dan sanksi dijatuhkan lagi. Begitulah seterusnya. Lalu mana janji para penyelenggara negara untuk menegakkan supremasi hukum? Reformasi di negeri ini bayarannya mahal, dengan harta, darah, dan air mata. Kita rela memikul beban itu, demi menegakkan aturan yang benar bagi penyelenggara negara. Supaya pemerintah bisa berjalan efektif, berwibawa dan bersih dari aroma KKN. Adapun peran swasta yang kita idamkan, ialah melakukan pengawasan terhadap jalannya pemerintahan sesuai semangat itu. Jadi bukan mengambil alih kekuasaan dari tangan pemerintah untuk dijalankan oleh swasta. Pada RUU Penyiaran, ada sikap pembusukan terhadap pemerintah. Dengan alasan trauma masa lalu, maka kekuasaan pemerintah diambil alih oleh KPI. Ini jelas mengerikan. Langsung terbayang besok-besok, karena alasan polisi dan TNI masih korupsi, maka dibentuk LSM untuk mengambil alih kekuasaan TNI dan polisi. SIM kemudian dikeluarkan oleh LSM Pulan, dan sebagainya. Saya khawatir korban RUU Penyiaran sekali ini lebih besar dan dahsyat, yaitu negeri ini sendiri.

H. Ilham Bintang ( ilhambintangmail@yahoo.co.id, ilhambintang@cekricek.co.id ; twitter: @ilham_bintang) adalah pengamat film, Sekretaris Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, dan Pemimpin Redaksi Tabloid Cek&Ricek (C&R). Last modified on Thursday, 24 February 2011 14:22

Perlindungan anak no.22 th 2002 Perlindungan konsumen no. 8 th 1998 KPAI KPI 15 Maret 15.00 pengalaman keberhasilan dan kegagalan advokasi 22 Maret 15.00 Pengalaman advokasi UU 92 Gd. Nusantara II lantai 1, komplek DPR senayan sektor komisi 1 Dpr