Anda di halaman 1dari 8

GENERAL REVIEW (Perjumpaan Hermeneutika MM Azami Dengan Khaled Abou el-Fadl) Oleh : Kusnadi, S.H.I A.

Solusi Hermeneutika Menurut Jorge J. E. Gracia, interpretasi atau penafsiran terhadap teks mempunyai tiga macam fungsi spesifik, yakni Fungsi pertama adalah historical function (fungsi historis), yakni bahwa interpretasi berfungsi menciptakan kembali di benak audiens kontemporer pemahaman yang dimiliki oleh pengarang teks dan audiens historis.1 Fungsi kedua interpretasi adalah menciptakan di benak audiens kontemporer pemahaman di mana audiens kontemporer itu dapat menangkap dan mengembangkan makna (meaning) dari teks, terlepas dari apakah pengembangan makna tersebut memang secara persis merupakan apa yang dimaksud oleh pengarang teks dan audiens historis, atau tidak.2 Sedangkan fungsi ketiga adalah memunculkan di benak audiens kontemporer suatu pemahaman sehingga mereka memahami implikasi dari makna teks yang ditafsirkan (Implicative Function). 3 Dalam hal ini, subyektivitas penafsir sangat mengambil peran mengkontekstualisasikan lebih jauh makna teks dengan memperhatikan makna implisitnya. Dari tiga fungsi yang ditawarkan oleh Gracia ini, penulis mencoba melakukan encounter terhadap hermeneutika Azami dan hermeniutika Khalid Abu el-Fadl. B. Hermeneutika Azami Azami melakukan kritikan kepada sarjana muslim yang dianggapnya mengingkari sebagian sunnnah dengan pendekatan harmeneutika, yaitu hemeneutika dhani al-dillah dalam mempertahankan kehujjahan hadis ahad yang bersifat dhann. Diantara statemennya: pertama, hadis-hadis ahad meskipun bersifat dhann, namun dalam al-Quan juga terdapat ayat-ayat yang pengertiannya bersifat dhann (dhann al-dillah). Jadi disini tidak ada perbedaan antara hadis-hadis dan ayat-ayat tadi. Kedua, perbuatan yang dikecam Allah dalam mengikuti praduga (dhan), padahal sudah ada yang pasti. Praduga yang tidak boleh diikuti adalah praduga yang berlawanan dengan kebenaran (al-haq) yang sudah jelas dan

Lihat Jorge J. E. Gracia, A Theory of Textuality: the Logic and Epistemology (Albany: State University of New York Press, 1995), h. 153-154. 2 Lihat Gracia, A Theory of Textuality, hlm. 154. 3 Ibid, h. 154.

tegas. Dalam masalah hadis tidak demikian, justru kata azami, kita menggunaka yang dhan kerena perintah Allah, bukan untuk menentangnya.4 Azami selaku sarjana Hadis telah memberi kontribusi kepada dunia Islam dari hasil penemuan dan kajiannya dalam bidang hadis Nabi yang terdapat dalam naskah-naskah klasik. Usaha tersebut dilatarbelakangi oleh orientalis yang mengkritik hadis dengan pendekatan sejarah. Untuk membantah teori yang dikemukakan oleh para orientalis Azami mengkaji Hadis melalui pendekatan filologi dan pendekatan sejarah.5 Dalam studi sejarah Islam, yang menjadi permasalahan paling utama adalah kurangnya referensi tentang sejarah Islam, oleh sebab itu Azami ditantang untuk menggali dan meneliti keterbatasan tersebut, sebagaimana dikutip oleh Adeng Muchtar Gazali, Islmail al-Faruqi mengatakan, begitu sedikit buku-buku tentang sejarah Islam yang lengkap, sehingga membangkitkan para pelajar Islam untuk menyumbang sesuatu yang belum lengkap.6 Dalam penelitian juga dibutuhkan kemampuan untuk mencari, menemukan dan menguji sumber-sumber yang benar. Sedangkan dalam penulisan dibutuhkan kemampuan menyusun fakta-fakta yang bersifat fragmentaris kedalam uraian yang sistematis, utuh dan komonikatif. Keduanya membutuhkan kesadaran teoritis yang tinggi serta imajinasi historis yang baik.7 Azami melakukan penelitian khusus dan analisis yang cermat tentang Hadis-hadis Nabi yang terdapat dalam naskah-naskah klasik yang ia temukan. Di antaranya adalah naskah milik Suhail bin Abi Shaleh (w.138 H). Abu Shaleh (ayah Suhail) adalah murid Abu Hurairah shahabat Nabi saw. Naskah Suhail ini berisi 49 Hadis. Sementara Azami meneliti perawi Hadis itu sampai kepada generasi Suhail, yaitu jenjang ketiga (al-thabaqah altsalitsah). Termasuk jumlah dan domisili mereka. Azami membuktikan bahwa pada jenjang ketiga, jumlah perawi berkisar 20 sampai 30 orang, sementara domisili mereka terpencar-pencar dan berjauhan, antara India sampai Maroko.
M.M. Azami, Dirasat f al-Hadts al-Nabaw wa Trkh wa Tadwnih,, (Beirut: al-Maktabah alIslami, 1992), hlm, hlm. 35. 5 Kajian degan objek peristiwa yang terjadi di masa lalu harus menggunakan pendekatan sejarah. Sejarah sebagai pisau analisis dalam mengkaji Islam (al-Quran dan Hadis). Biografi Nabi yang paling awal dan otoritatif disusun dari literatur Hadis yang terkumpul pada abad kedua setelah kematian Nabi Saw. oleh Ibn Ishak dan diedit oleh Ibn Hisyam. Lihat Jamali Sahrodi, Metodologi Studi Islam, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2008), hlm. 123. 6 Adeng Mucktar Gazali, Ilmu Studi Agama, (Bandung: Pustaka Setia, 2005), hlm. 64. 7 Badri Yatim, Histobiografi Islam, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), hlm. 3.
4

C. Khaled Abou el-Fadl Walaupun sama-sama menggunakan pendekatan hermeneutika, Khaled memiliki beberapa perbedaan dengan model hermeneutika Abdullah Saeed, tentang ethicolegal texs yang bertumpu pada anggapan dasar bahwa bahasa al- Quran adalah ethical-theological dan memperkenalkan pendekatan progressive ijtihadi. 8 Hermeneutika Khaled berbeda pula dengan Muhammad Syahrur, dengan pembacaan hermeneutis kontemporer (qiraah muassirah), yang bertumpu pada dialektika kaynunah (being), sairurah (process), dan Sairurah (becoming). Dan berbeda pual dengan hermeneutika Azami yang menggunakan pendekatan ayat-ayat yang pengertiannya bersifat praduga (dhan al-dillah) dalam mentapkan Hadis ahad sebagai hujjah. Model hermeneutika Khaled adalah sebentuk hemeneutika negosiatif, dimana makna merupakan hasil interaksi yang kompleks antara pengarang, teks, dan pembaca, dimana makna itu sendiri diperdebatkan, dinegosiasikan, dan terus mengalami perubahan.9 Dengan menggunakan metode hermeneutika, Khaled mencoba melakukan pembongkaran terhadap otoritarianisme dan despotisme dalam tafsir keagamaan kontemporer. Fokus utama gagasan Khaled adalah pada pemegang otoritas dalam hukum Islam yang dibedakan dengan otoritarianisme. Agar tidak terjadi tirani tafsir yang otoriter, Khaled menawarkan sebentuk hermeneutika negosiatif, dimana makna merupakan hasil interaksi yang kompleks antara pengarang (author), teks (text), dan pembaca (reader) dimana makna itu sendiri diperdebatkan, dinegosiasikan, dan terus mengalami perubahan. Hermeneutika negosiatif ala Khaled adalah menjembatani antara membuka teks tanpa batasan (the limitless opening of the text) yang merupakan bentuk pelacuran hermeneutika (hermeneutical promiscuity) dan menutup teks secara sewenang-wenang (the arbitrary closing of the text) yang merupakan despotisme intelektual (intellectual despotism). Karenanya, untuk menghindari pemberangusan teks oleh para penafsir otoriter tersebut, Khaled merasa perlu untuk menjunjung otoritas teks (the authoritativeness of the text) dan pada sisi yang lain secara sekaligus membatasi otoritarianisme pembaca (authoritarianism of the reader) sehingga melahirkan penafsiran yang bertanggung jawab. Yaitu harus
Abdullah Saeed, Interpreting the Quran: Towards a Contemporary Approach (London and New York, Routledge, 2006) 123 9 Abou El-Fadl, Khaled Speking in Gods Name; Islamic Law, Authority, and Women, (Oxford: Oneworld, 2001), hlm. 122.
8

memenuhi lima prasyarat, diantaranya kejujuran (honesty), kesungguhan (diligence), kemenyeluruhan (comprehensiveness), rasionalitas (reasonableness), dan pengendalian diri (self-restraint).10 Dalam kerangka menjunjung otoritas teks dan secara sekaligus membendung tragedi otoritarianisme pembaca, maka menurut Khaled perlu adanya interaksi yang proporsional dalam melahirkan makna (the meaning) dari hasil interaksi antara

pengarang (author), teks (text), dan pembaca (reader). Pada saat yang bersamaan juga harus ada sebuah proses negosiasi (negotiating process) antara ketiga pihak dan bahwa salah satu pihak tidak boleh mendominasi dalam proses penetapan makna. Pertama, teks (text) yang terbuka menurut Khalid tidak hanya mendukung interpretasi yang majemuk, tetapi juga mendorong sebuah proses penelitian yang mendudukkan teks dalam posisi sentral. Pada akhirnya teks berbicara dengan suara yang diperbaharui kepada masing- masing generasi pembaca, karena maknanya tidak

permanen dan berkembang secara aktif. Teks tetap relevan dan menduduki posisi sentral karena keterbukaannya memungkinkan dirinya untuk terus menggemakan suaranya.11 Kedua, Pengarang (author). Secara historis, kehadiran sebuah teks tidak dapat dipisahkan dari pengarangnya. Ketika seorang pengarang menuliskan sebuah teks maka ia akan senantiasa bergelut dengan simbol-simbol bahasa yang digunakan. Artinya pengarang telah mewadahi dan memercayakan makna yang dikehendakinya ke dalam simbol-simbol bahasa yang digunakan yang merupakan sebuah media yang dapat dipahami pembaca. Oleh karena itu, pemisahan antara pengarang dengan teks sering kali memicu terjadinya reduksi makna atas teks atau sebaliknya. Tetapi pada sisi lain, makna teks semakin mengalami pengayaan makna. Kalau problem ini kita hadapkan pada Al-Quran, maka pengarang teks adalah Tuhan (teks sebagai kalamNya) dan teks itu sendiri adalah al-Quran. 12

10 11

Ibid.,hlm. 54- 56. Ibid, hlm. 146.

Khaled menolak konsep kepengarangan terhadap al-Quran bahkan dipandangnya sebagai qillat adab (perbincangan yang tidak sopan). Konsep kepengarangan yang dimaksud Khaled adalah sebuah teks terlibat dalam beragam pengarang, yaitu pengarang historis yang menciptakan teks, pengarang produksi yang mungkin mengolah dan mencetak teks, pengarang revisi yang menyunting, mengubah dan menuangkan kembali teks tersebut, dan pengarang interpretasi yang menerima dan menciptakan makna dari lambinglambang yang membentuk teks. Lihat, Khaled, Speaking in Gods Name, 103.

12

Apakah pembaca harus tetap berfokus pada makna yang dikehendaki pengarang dan mempertimbangkannya sebagai faktor yang menentukan makna teks tersebut? Khaled menjawab pertanyaan ini tentang kisah Ali bin Abu Thalib yang berseteru dengan kelompok Khawarij yang mengklaim bahwa semua hukum hanyalah milik Allah (inna al-hukm li Allah). Posisi Ali bin Abi Thalib tunduk kepada keputusan manusia atau mengikuti hukum manusia. Dalam menangkis tuduhan tersebut, Ali bin Abu Thalib mengumpulkan kaum Khawarij dan membawa salinan al-Quran. Ali menyentuh al-Quran dan berkata: Wahai al-Quran, berbicaralah pada manusia! Orang-orang di sekeliling Ali berkata gusar: Apa kamu wahai Ali, apakah kau mengejek kami? Kemudian Ali, mengatakan bahwa al-Quran hanyalah lembaran-lembaran kertas dan tinta yang tidak dapat berbicara dan manusialah yang berbicara atas nama al-Quran. Al-Quran hanya ditulis dengan goresan di antara dua sampul yang tentu tidak dapat berbicara, maka alQuran perlu penafsir dan penafsirnya adalah manusia. Berpijak pada kisah Ali di atas, dapat dipahami bahwa sepeninggal Nabi Muhammad saw, otoritas pengarang (Tuhan Author) dalam konstruksi teks telah selesai. Persoalan yang muncul adalah terkait dengan pembuktian sejarah dan pengujian autentisitasnya-artinya bagaimana kita mengetahui bahwa perintah tersebut benar-benar datang dari Tuhan atau Nabi-Nya yang disebut Khaled dengan istilah kompetensi autentisitas teks. Kemudian persoalan yang muncul apakah pemaknaan atas teks diserahkan kepada kreatifitas pembaca atau harus membentuk sebuah lembaga khusus yang disebutnya sebagai perwakilan. Kemudian ditegaskan oleh Khaled bahwa pengarang Al-Quran adalah abadi, hidup mengurus makhluk terus menerus, tidak pernah tidur dan menguasai seluruh langit dan bumi. Karenanya, pengarang al-Quran sudah barang tentu tidak akan merelakan karya magnum opus-nya diselewengkan dan dicatut oleh pembaca atas nama Tuhan. Ketiga, pembaca (reader). Kehadiran pembaca di hadapan teks yang bisu menjadikan teks mempunyai makna. Teks kini telah tersaji dan sang pengarang pun tidak hadir mengawal teksnya di tengah kerumunan para pembacanya. Teks bergulir dengan sendirinya dan maknanya sangat bergantung pada siapa yang membacanya. Oleh karena itu, Khaled tidak berupaya untuk menjadikan teks (Al- Quran dan Hadis) sebagai sesuatu yang bergulir tanpa pengawalan. Khaled, tidak rela dengan sikap para
5

pembaca yang sewenang-wenang menafsirkan teks, apalagi para pembaca mencatut nama Tuhan dan atau menjadikan diri mereka sebagai Tuhan. Sehingga Khaled merasa perlu membatasi otoritarianisme pembaca dengan lima syarat, yaitu: kejujuran, sungguh-sungguh, pengendalian, kemenyeluruhan dan rasional.13 D. Perjumpaan Hermeneutika Azami Dengan Khaled Dari paparan di atas, Penulis mendapati pemikiran kedau tokoh tersebut terdapat persamaan dan perbedaan yang nyata. Adapun sisi persamaan dari keduanya, pertama, Khaled dilatarbelakangi oleh kondisi sosial masyarakat Muslim kontemporer di Amerika yang telah terjangkiti oleh hermeneutika otoriter. Khaled sangat resah oleh fatwa-fatwa dari sebuah organisasi Islam di Amerika tentang fatwa hukum yang bertendensi misoginis. Sementara Azami dilatarbelakangi oleh kritikan sarjana muslim dan sarjana orientalis terhadap Hadis-hadis Nabi. sarjana muslim mengingkari sebagian sunnah, sementara orientalis berasumsi hadis bukan dari Nabi SAW. Kedua, keduanya merupakan tokoh progresif yang menguasi banyak bidang ilmu dan pemikiran yang sangat mendalam. Azami mengcounter orientalis dengan menggunakan pendekatan sejarah naskah-naskah hadis, sementara Khalid juga menggunakan pendekatan sejarah (kasus Ali yang berbicara dengan al-Quran ketika menghadapi khowarij) Ketiga, keduanya merupakan sosok yang hidup yang pernah menempuh pendidikan di Barat. Azami meraih gelar Ph.D di Ingris sementara karer pendidikan Khalid ditempuh di Amerika. Kondisi tersebut secara psikologis ikut membentuk kepribadiannya dalam menumbuhkan kecintaannya dalam ilmu pengetahuan. Dibalik persamaan tersebut, terdapat perbedaan yang sangat signifikan antara kedua tokoh tersebut. Pertama, dari segi basic keilmuaannya keduanya berbeda. Azami sarjana dalam bidang Hadis, sementara Khalid sarjana dalam bidang hukum Islam. Kedua, perebedaan kultur dan biografis. Azami masa kecil hidup di India, kemudian menetap di negara Arab Saudi. Sedangkan Kkhalid masa kecil hidup di negara Kuwait, kemudian menetap di Amerika. Faktor kultur dan biografis yang berbeda dapat mempengaruhi dan mewarnai hermeneutika dua tokoh ini. Adanya persamaan dan perbedaan dari dua tokoh ini, menurut hemat penulis, dalam
13

Khaled, Speaking in Gods Name, hlm. 104.

diskursus bidang pemikiran dan keislaman, keduanya saling mewarnai dan saling melengkapi. Azami telah memberi kontribusi kepada dunia Islam dari hasil penemuan dan kajiannya dalam bidang hadis Nabi yang terdapat dalam naskah-naskah klasik. Dia juga dapat mematahkan tesis orientalis yang berasumsi hadis adalah buatan ulama abad dua atau abat ketiga Hijriah. Dengan pembuktian data-data sejarah dalam bidang hadis, maka Azami telah menguatkan pemahaman umat Islam dari zaman klasik hingga zaman pos moderen ini, bahwa hadis benar-benar merupakan sabda Nabi yang ditulis di abad kedua Hijriah pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz. Begitu pula dia telah memberikan argumen tentang kehujjahan hadis ahad dengan pendekatan hemeneutika dhann al-dillah. Sedangkan Khalid adalah serjana muslim yang menggali makna orginal teks, kemudian dia menginterpretasikan dengan pendekatan konteks sosiologis dan antropologis serta hermeneutika negosiatif, Sehingga teks tersebut relevan dengan kondisi masa kini (shalihun likulli makan wazaman). Dari hermeneutika negosiatif ini Khalid memberi solusi dalam persoalan-persoalan hukum Islam terhadap Muslim minoritas yang hidup di Amerika. Karenanya tidak tepat dan kurang lelevan fatwa-fatwa hukum Islam di Timur tengah dibawa ke Amerika. Padahal, menurut Khaled, konteks keduanya berbeda sama sekali. Umat Islam di Amerika merupakan kaum minoritas, sementara umat Islam di Timur Tengah merupakan kaum mayoritas. Meminjam tesis dari M. Amin Abdullah, bahwa proyek tathbiq hanya akan dapat berjalan di pusat kebudayaan Islam. Semakin jauh lokasi dari kebudayaan Islam, maka semakin sulit pula program tathbiq tersebut dilaksanakan, Karena mempertimbangkan situasi budaya lokal yang jauh dari pusat yang bersifat amat majemuk (pluralistik).14 Dari hasil pemikiran yang ditawarkan oleh kedua tokoh ini, sebagaimana yang ditawarkan oleh hermeneutika Gracia yang ketiga, yaitu memunculkan di benak audiens kontemporer suatu pemahaman sehingga mereka memahami implikasi dari makna teks yang ditafsirkan (Implicative Function). Lebih dari itu, sebagaimna di kutip oleh Sahiron Syamsuddin, meminjam hemeneutikanya Gadamer dengan teori aplikasi, dimana pesan yang harus diaplikasikan pada masa penafsiran bukan makna literal teks, tetapi makna yang bererti (meaning ful sense).15

M. Amin Abdullah, Visi Keindonesiaan Pembaharuan Pemikiran Islam-Hermeneutik, Jurnal Epistema (No. 2/Th. 1999), hlm. 8.

14
15

Sahiron Syamsuddin, Hermeneutika dan Pengembangan Ulumul Quran, (Yogyakarta: Pesantren Nawesia Press, 2009), hlm. 52.

E. Masukan pada Lembaga UIN Penulis sangat berterima kasih kepada para dosen, profesor dan pengelola Kampus di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga. Diamana pada awalnya penulis dalam bidang keilmuan sangat tertinggal dan masih berada dalam pimikiran klasik. Meminjam bahasanya Prof. M. Amin Abdullah, berfikirnya masih Ulum al-Din, masih belum berfikir Islamic Studies. Setelah masuk di UIN penulis banyak mendapatkan wawasan keilmuan kontemporer, lebih-lebih mata kulliah yang diampu oleh dosen dan profesor dari lulusan luar negeri. Bidang keilmuan yang baru didapat oleh penulis salah satunya adalah ilmu hermeneutika, kajian orientalis dalam bidang al-Quran dan Hadis dan yang terakhir adalah kajian Islamic Studies. Sebelumnya ketika penulis masih di S1 Jurusan syariah di STAIN Pamekasan Madura hanya sekedar mengenal sepintas dari kajian tersebut. Namun dibalik itu semua, penulis masih menemukan beberapa kekurangan yang menjadi pertimbangan untuk bahan masukan kepada Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga. Diantaranya: 1. Aturan Perkuliahan. Sebagaiman yang diketahui oleh penulis, bahwa pertemuan perkuliahan untuk mata kuliah 2 SKS minimal 12 x pertemuan dan untuk mata kuliah 3 SKS minimal 16 x peretumuan. Untuk mata kuliah yang terdiri dari dua dosen adalah 12 : 2 = 6 x pertemuan dan 16: 2 = 8 pertemuan. Kenyataannya masih ada sebagian dosen yang belum memenuhi ketentuan tersebut. Dari kasus tersebut perlu ada evaluasi dari pihak otoritas Kampus. 2. Mata kuliah yang diprogramkan. Dijurusan Agama filsafat kensentrasi AlQuran dan Hadis, masih belum ada Mata Kuliah yang secara spesifik tentang jender. Padahal isu gender ini merupakan isu internasional. Sebaiknya, masukan dari penulis ada Mata Kuliah khusus gender dalam kajian al-Quran dan Hadis. Minimal 2 SKS dalam satu semester.