Anda di halaman 1dari 10

KARSINOMA SERVIKS (LEHER RAHIM) DAN PERMASALAHANNYA DI SUMATERA SELATAN

RIZAL SANIF Devisi onkologi Ginekologi Bagian/ Departemen Obstetri dan Ginekologi FK UNSRI/ RSU Perjan Dr. Mohammad Hoesin Palembang

PROFIL PROPINSI SUMATERA SELATAN

Sumatera Selatan sebagai salah satu propinsi di Indonesia menurut proyeksi BPS dan kantor statistik Sumatera Selatan pada tahun 1999 memiliki jumlah penduduk 7.819.004 jiwa ( jumlah penduduk ini masih termasuk wilayah Bangka Belitung yang telah menjadi propinsi tersendiri). Berdasarkan Susenas 1993-1996 pertumbuhan penduduk mencapai 2,25 %. Luas wilayah Propinsi Sumatera selatan (sebelum dipecah) lebih kurang 113.339,07 KM2. Terdiri dari 10 kabupaten dan 4 kotamadya. Berbatasan dengan Propinsi Jambi (Utara), Propinsi Lampung (Selatan), Propinsi Bengkulu (Barat), selat Karimata dan Laut jawa (Timur). Sarana dan sumber daya manusia di bidang kesehatan yang ada di Sumatera Selatan sebenarnya sudah cukup memadai. Disamping Rumah Sakit yang dimiliki oleh baik Pemerintah Pusat dan Daerah, juga banyak rumah sakit yang dikelolah oleh pihak swasta maupun BUMN. Rumah Sakit Umum Perjan Dr. M. Hoesin Palembang sebagai rumah sakit tipe B merupakan pusat rujukan dari seluruh rumah sakit di seluruh wilayah Sumatera Selatan dan propinsi lain seperti Jambi, Bengkulu dan Lampung. Sebagai garda terdepan dalam pelayanan kesehatan kepada masyarakat, maka pemerintah baik pusat maupun daerah senantiasa melengkapi selain rumah sakit di ibukota kabupaten dan kotamadya dengan tenaga bidan dan spesialis obstetri dan ginekologi (dimana hampir semua tingkat dua sudah ada satu atau dua spesialis), juga senantiasa dibuka atau didirikan puskesmas baru.

GAMBARAN KARSINOMA SERVIK DI SUMATERA SELATAN Kanker serviks merupakan kanker yang terbanyak diderita wanita-wanita di negara yang sedang berkembang termasuk di Indonesia umumnya dan Sumatera selatan khususnya.

Sebagaimana kanker pada umumnya maka kanker serviks menimbulkan masalah-masalah berupa kesakitan (morbiditas), penderitaan, kematian, finansial/ekonomi maupun lingkungan bahkankan pemerintah. Berdasarkan data dari Instalasi Patologi Anatomi FK UNSRI/ RSUP Dr. M. Hoesin maka urutan kanker terbanyak pada wanita seperti pada tabel dibawah ini. Kanker serviks dalam periode 1997 – 2001 masih menduduki peringkat pertama kanker pada wanita yaitu sebanyak 285 kasus (23,85 %) dan berikutnya adalah kanker payudara yaitu 23,1 %. Bila dilihat dari kanker ginekologi pada table dibawah maka berturut-turut yaitu kanker serviks, korpus uteri, ovarium dan vagina.

Tabel. 1. Distribusi kanker wanita di Instalasi Patologi Anatomi tahun 1997-2000

Nomor

Lokasi

Jumlah

%

1.

Serviks uteri

285

23,85

2.

Payudara

276

23,1

3.

Korpus uteri

92

7,7

4.

Ovarium

91

7,62

5.

Rektosigmoid

50

4,18

6.

Tiroid

49

4,10

7.

Nasofaring

29

2,44

8.

Kolon

20

1,67

9.

Vagina

18

1,51

10.

Tonsil

13

1,09

11.

Lain-lain

273

22,85

 

Total

1195

100

Tabel 2. Distribusi kanker serviks menurut kelompok umur di Instalasi Patologi Anatomi Tahun 1997 – 2001

Kelompok umur

RSMH

Non RSMH

 

Pasien

%

Pasien

%

15

24

0

0

0

0

25

- 34

11

4,28

13

5,06

35

-

44

53

20,62

27

10,51

45

-

54

60

23,35

32

12,45

55

-

64

32

12,45

13

5,06

>

64

14

5,45

2

0,78

Total

 

170

66,15

87

33,85

Bila dilihat pada tabel 2 diatas maka yang terbanyak terjada kanker serviks pada usia produktif yaitu 35 – 54 tahun 42,46 % di RSMH dan 23,14 % di luar RSMH (total yaitu 65,60 %)

Jumlah kanker servik selama periode 2 tahun ( 1 Januari 1999- 31 Desember 2000) di RSMH sebanyak 103 kasus. Lima puluh satu persen kasus berasal dari dalam kota Palembang, 12 % berasal dari Propinsi Jambi, Bengkulu dan Lampung serta sisanya berasal dari kabupaten tingkat dua di sumatera selatan sendiri. Dari periode tersebut didapatkan kebanyakan penderita mempunyai tingkat pendidikan yang rendah, seperti pada tabel berikut ini.

Tabel 3. Distribusi penderita kaker servik menurut pendidikan

Tingkat pendidikan

Jumlah

%

Tidak Sekolah

11

10,68

SD

60

58,25

SLTP

20

19,42

SLTA

7

0,80

PT

5

4,85

Jumlah

103

100

Berdasarkan stadium klinik didapat data sebagian besar adalah stadium lanjut (87,41 %), seperti pada tabel berikut ini.

Tabel 4. Distribusi penderita kanker servik berdasarkan stadium

Stadium

Jumlah

%

I

a

0

I

b

12

11,65

II

a

2

1,94

II

b

29

28,16

III

a

1

0,97

III

b

57

55,34

IV

a

2

1,94

IV

b

0

0

Total

103

100

Dalam penatalaksanaan kanker serviks yang dilakukan di RSMH sebagian besar dengan radiasi atau kombinasi modalitas radiasi , operasi dan kemoterapi, seperti yang terlihat pada table berikut.

Tabel 5. Distribusi penderita kanker serviks berdasarkan penatalaksanaannya

Penatalaksanaan

Jumlah

%

Radiasi Kemoterapi Operasi Radiasi + Kemoterapi Operasi + Radiasi Operasi + Kemoterapi Operasi + Radiasi + Kemoterapi Belum diterapi

55

53,49

1

0,97

1

0,97

11

10,97

1

0,97

1

0,97

26

30,86

7

6,80

 

103

100

Di RSMH radiasi yang dilakukan hanya radiasi eksterna sedangkan radiasi interna tidak dilakukan dan penderita yang bersedia untuk diberikan radiasi interna maka di rujuk ke RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta. Di RSMH untuk radiasi interna sebetulnya bisa dilakukan, hanya saja terdapat beberapa kendala yaitu peralatan yang ada adalah LOW DOSE CESSIUM yang memerlukan waktu pemberian 24 jam sehingga mengalami kesulitan untuk memantau penderita tersebut dan sebagai gantinya dilakukan radiasi sistem boks. Pada saat ini perangkat untuk melayani pengobatan dengan radiasi sedang tidak dapat dipergunakan dan terpaksa penderita tersebut harus dirujuk ke Jakarta, dan alternative pengobatan saat ini adalah operasi pada stadium awal dikombinasi dengan kemoterafi atau kemoterafi saja pada stadium lanjut.

BIAYA YANG DIKELUARKAN PENDERITA Dalam menegakkan diagnosis dan pemeriksaan yang dilakukan pada kanker serviks cukup mahal. Pada seoarang penderita kanker leher rahin untuk menegakkan diagnosis sampai menentukan stadium dan pengobatan dengan radiasi membutuhkan biaya kurang lebih 2 sampai 3 juta rupiah. Bahkan saat ini untuk biaya pengobatan radiasi di RS Cipto Mangunkusumo berkisar 6 – 8 juta rupiah Bila kita melakukan penapisan kanker serviks atau tindakan operasi pada stadium awal maka biaya yang dikeluarkan tidak semahal bila telah menjadi stadium lanjut. Biaya yang dibutuhkan bila ditemukan pada fase prakanker dan diobati hanya empat ratus ribu rupiah.

PERMASALAHAN Permasalahan yang timbul dari uraian di atas adalah :

1. Pendidikan penderita yang rendah

2. Umumnya datang dengan stadium lanjut

3. Sosial ekonomi kurang

4. Biaya tinggi

Dinegara maju telah berhasil menekan jumlah kasus kanker serviks, baik jumlahnya maupun stadium. Pencapaian tersebut terutama berkat adanya program penapisan masal antara lain Tes Pap. Di Sumatera Selatan kebijaksanaan penerapan program penapisan kanker serviks masih mempunyai banyak sekali kendala, antara lain :

1.

Pengertian masarakat mengenai penapisan masih kurang.

2. Kurangnya sumber daya manusia sebagai pelaku penapisan, khususnya kurangnya tenaga ahli patologi anatomi (hanya ada di Palembang saja) dan stafnya, tehnisi sitologi/ skinner.

3. Tindak lanjut untuk hasil tes Pap abnormal masih belum memuaskan.

Agar tercapainya hasil pengobatan kanker serviks yang lebih baik, salah satu faktor utama adalah penemuan stadium awal atau menemukan pada fase prakanker. Pengobatan kanker serviks pada stadium dini hasilnya lebih baik, mortalitas akan menurun dan biaya pengobatanpun akan ditekan. Fase prakanker disebut juga displasia merupakan perubahan premalignan (prakeganasan) dari sel-sel leher rahim. Pada fase inilah yang diharapkan didapatkan pada saat penapisan. Pengertian dan pemahaman mengenai abnormalitas hasil ini yang perlu ditekankan.

DISPLASIA (PRAKEGANASAN) Terdapat 3 tife displasia yaitu ringan, sedang dan berat. Sekarang ini dibagi 2 yaitu LOW GRADE SQUAMOUS INTRAEPILEAL LESION (LGSIL) = displasia ringan dan HIGHT GRADE SIL = displasia sedang dan berat. Lebih dari 70 % displasia ringan akan kembali ke sel normal tanpa pengobatan. Akan tetapi displasia ringan dapat berkembang menjadi kanker. Displasia sedang dan berat harus diobati bila ditemukan oleh karena untuk menjadi kanker jauh lebih besar. Beberapa penelitian terjadi karsinoma servik pasca displasia adalah 12 % setelah 5 tahun, 18 % setelah 10 tahun dan 30 % setelah 20 tahun.

APA PENYEBAB DISPLASIA SERVIKS ?

HPV (Human Papiloma Virus) merupakan penyebab terbanyak. Sebagai tambahan perokok sigaret telah ditemukan sebagai penyebab juga. Wanita perokok mengandung konsentrat nikotin dan kotinin didalam serviks mereka yang merusak sel. Laki-laki perokok juga terdapat konsetrat bahan ini pada sekret genitalnya, dan dapat memenuhi servik selama intercourse. Defisiensi beberapa nutrisional dapat juga menyebabkan servikal displasia. National Cancer Institute merekomendasikan bahwa wanita sebaiknya mengkonsumsi lima kali buah-buahan

segar dan sayuran setiap hari. Jika anda tidak dapat melakukan ini, pertimbangkan konsumsi multivitamin dengan antioksidan seperti vitamin E atau beta karoten setiap hari.

APA SAJA FAKTOR PREDISPOSISI RESIKO DISPLASIA ?

1. Hubungan seksual pertama usia muda

2. Mempunyai banyak pasangan (atau berhubungan dengan pria yang mempunyai banyak pasangan)

3. Berhubungan dengan pria yang menderita penile warts (kutil kelamin)

4. Infeksi virus herpes simplek dan papiloma

5. Wanita perokok mempunyai risiko 2 kali.

6. Kadar serum betakaroten dan vitamin A rendah. Nutrisi ini memperbaiki integritas dan fungsi epithelial sel, beraksi sebagai antioksidan dan memperbaiki sistem imun.

7. Pemakaian Kontrasepsi oral dapat menurunkan jumlah kadar nutrien (vitamin C, B12,B6, asam folat, B2 dan Zinc) yang terlibat dalam imunitas.

Tercatat bahwa 67 % penderita kanker serviks mempunyai sedikitnya 1 kadar vitamin abnormal, 38 % terlihat multiple parameter nutrisional abnormal.

APA ITU HVP ?

HPV biasa disebut wart virus (virus kutil). Terdapat lebih dari 100 tife HPV yang telah diidentifikasi. Tife 16,18,31,33 dan 35 menyebabkan perubahan sel-sel pada vagina atau serviks yang pada mulanya menjadi displasia dan selanjutnya berkembang menjadi kanker leher rahim. Bahkan seandainya HVP tidak terdeteksi dengan apusan paps, 80-90 % tentu saja akan terdapat HPV jika anda terdiagnosis berbagai tife displasia.

BAGAIMANA SAYA BISA TERTULAR HVP ? Umumnya virus HVP tertular melalui kontak seksual. Kondom dapat mencegah penyebaran berbagai penyakit, tetapi tidak HPV. HPV ditemukan pada semual jaringan genitalia dan kondom pada penis tidak dapat mencegah transmisi HPV. Virus dapat tinggal dorman pada serviks selama 20 tahunan sebelum ia menyebabkan wart atau perubahan pada sel. Jika dokter

telah menemukan suatu abnormal apusan paps, anda mungkin bukanlah baru mendapatkan HVP. APAKAH TANDA DISPLASIA SERVIKS ?

Displasia serviks umumnya tanpa gejala, artinya bahwa kebanyakan wanita tidak waspada

terhadap kondisi ini. Beberapa hal dibawah ini sebagai tanda dan gejala displasia dan kanker serviks yaitu :

1. Perdarahan bercak atau darah segar diantara atau selama periode menstruasi.

2. Perdarahan menstruasi yang lebih banyak dan lebih lama dari biasa.

3. Perdarahan setelah setubuh, pembersiahan atau saat pemeriksaan pelvis.

4. Nyeri selama setubuh.

5. Perdarahan setelah menopause

6. Peningkatan cairan vagina.

Keadaan ini biasanya sering diabaikan oleh seorang wanita olehkarena keadaan ini tidak mengkhawatirkan atau tidak serius, sehingga prekanker atau bahkan kanker tidak terdekteksi dan tidak terobati. Servikal displasia terdeteksi melalui test diagnostik yaitu apusan paps. Karena keefektifan tets ini dalam menilai abnormalitas serviks, insiden kankers serviks menurun sampai 50 % sejak tahun 1960. Kematian menurun 70 % pada wanita yang sering melakukan test ini. Perlu dicatat bahwa apusan paps dapat gagal menemukan abnormalitas. Kira-kira 20 % angka kegagalannya. Test ini juga dapat overestimate. Olehkarena ini jika displasia ditemukan maka dilanjutkan konfirmasi dengan servikogram atau kolposkopi. Jika dicurigai terdapat abnormalitas pada serviks maka dilakukan biopsi.

DAPATKAH SAYA MEMBASMI HPV DAN DISPLASIA ?

Bahkan seandainya serviks anda dibakar atau dibekukan, virus umumnya masih tetap ada. Tujuan pengobatan bukanlah mengeliminasi virus tetapi meningkatkan sistem imunitas tubuh untuk mengontrol virus. Fungsi Sistem imun dapat diperkuat dengan tidak merokok dan konsumsi multivitamin. Displasia serviks dapat dibuang dengan berbagai tehnik dan wanita dengan fungsi sistem imun yang baik dapat mengobati displasia serviks.

BAGAIMANA PENCEGAHAN DISPLASIA ? Pencegahan displasia (prekanker) artinya

A. menghindari faktor risiko yang dapat dikontrol (pencegahan primer)yaitu :

1. Menunda hubungan seksual sampai usia diatas remaja

2. Batasi jumlah pasangan

3. Tolak berhubungan seksual dengan yang mempunyai banyak pasangan

4. Tolak berhubungan seksual dengan orang terinfeksi genital warts

5. Hubungan seksual yang aman. Kondom tidak memproteksi infeksi HPV

6. Hentikan merokok

B. Pemeriksaan uji pap teratur artinya (pencegahan sekunder)

1. Semua wanita usia 18 tahun atau telah melakukan hubungan seksual

2. Bila telah tiga kali pap normal maka pemeriksaan akan lebih jarang

3. Wanita yang telah dilakukan pengangkatan rahim dan wanita yang telah menopause masih dibutuhkan pemeriksaa uji pap.

BAGAIMANA PENGOBATAN NUTRISI ?

1. Turunkan konsumsi lemak 25 % dari kalori

2. Hentikan rokok

3. Tingkatkan intake buah-buahan hijau

4. Tingkatkan diet berserat

BAGAIMANA PENGOBATAN DISPLASIA ? Setelah ada hasil dari pemeriksaan penapisan berupa displasia, maka harus dilanjutkan dengan pemeriksaan kolposkopi dilanjutkan biopsi terarah atau pemeriksaan DNA virus HPV. Pengobatan displasia dilakukan setelah ada pemeriksaan hasil biopsi atau pemeriksaan DNA virus. Pengobatan displasia merupakan terapi pencegahan terjadinya kanker leher rahim. Prinsif pengobatan adalah destruksi lokal dengan pembekuan atau pembakaran Terapi diet dan nutrisi digunakan untuk menjaga keseimbangan sistem hormon dan mendukung sistem imun. Diet untuk displasia serviks haruslah terutama vegetarian dan rendah lemak. Pada kasus displasi ringan yang memilih untuk tidak diobati, apusan papas setiap 3 bulan harus dilakukan untuk memantau kondisinya perbaikan sendiri atau progresif. Pada kasus

sedang / berat dilakukan pengangkatan atau pengrusakan sel-sel abnormal serviks. Pengrusakan dilakukan dengan cryosurgery yaitu pembekuan, pembakaran dengan larutan trikhloroasetik. Pembedahan dengan laser juga dapat dilakukan seperti LOOP. Pembedahan konvensional pada kasus berat dapat dilakukan.

KESIMPULAN Penanggulangan permasalahan kanker leher rahim sangat membutuhkan pemahaman dan pengertian mengenai penyakit ini dari masarakat sehingga dapat ditemukan pada stadium awal atau fase prakanker. Apabila sudah ditemukan maka pengobatan harus segera dilakukan. Biaya pengobatan yang tinggi masih memerlukan penanggulangan bersama masarakat dan pemerintah.

Kepustakaan

1. Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Selatan. Profil Kesehatan Propinsi Sumatera Selatan. 2000

2. Pencatatan Medik. Instalasi Patologi Anatomi FKUNSRI/ RSUP Moh. Hoesin. Palembang.

3. Aziz MF. Masalah pada Kanker Serviks. Cermin Dunia Kedokteran.2001; 133: 5 – 8

4. Shingleton HM. Cancer of the cervix.JB Lippincott Co. Philadelpia. 1995