Anda di halaman 1dari 5

Etika dan Norma Ekonomi dalam Islam Persoalan ekonomi adalah persoalan kemanusiaan yang fundamental, karena segala

tingkah laku manusia dapat dinilai secara ekonomis atau bermotif ekonomi. Kemajuan kebudayaan, pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi, politik dan lain sebagainya mempunyai hubungan kausalitas dengan kemajuan ekonomi. Karenanya wajar kalau kapitalism-liberalis dan sosialis-komunis yang sampai sekarang masih mendominasi ideologi dunia pada mulanya adalah mazhab ekonomi. Persoalan ekonomi sebenamya merupakan masalah muamalah atau hubungan kemanusiaan. Persoalan muamalah dalam Islam pada umumnya hanya dibahas secara garis besar atau hanya diberi nilai etik dan norma-norma saja, tetapi dalam masalah ekonomi ada beberapa hal yang dibahas agak mendetail dan rinci seperti masalah waris dan zakat. Lebih dari itu, zakat sebagai cara efektif menegakkan keadilan dan transformasi ekonomi dimasukkan sebagai salah satu rukun Islam yang harus ditegakkan setiap muslim. A. Hak Milik Seluruh alam dengan segala isinya pada hakekatnya adalah milik Allah (QS. 2:284) termasuk di dalamnya adalah manusia. Manusia diberi amanat memanfaatkan ciptaanNya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Karenanya upaya memenuhi kebutuhan hidupnya bagi seorang muslim- pada hakekatnya adalah untuk memenuhi amanah Allah. Statemen di atas mengandung pengertian bahwa harta benda yang dimiliki dan yang terus dicari bukanlah miliknya secara mutlak, melainkan sebagai amanah agar dapat didayagunakan secara tepat dan disampaikan kepada yang berhak secara adil sesuai dengan pesan pemberi amanah, yaitu Allah. Secara lebih rinci, dalam masalah hak milik ini dapat dikategorikan dalam dua hal, yaitu hak milik individu dan hak milik sosial. Islam mengakui hak milik individu dari harta yang sah dan diperoleh dengan cara yang sah pula. Akan tetapi hak milik individu tidak dibenarkan mengganggu atau merusak kepentingan sosial, misalnya memonopoli. Hak milik individu dalam Islam harus dapat berfungsi sosial dan mengembangkan dinamika sosial. Karena itu norma Islam tentang kewajiban zakat dan anjuran berinfak dan sedekah, agar harta yang dimiliki dapat berfungsi sosial dan melahirkan dinamika sosial, yang berarti dapat menghilangkan kecemburuan, kedengkian, keirihatian yang pada gilirannya dapat menciptakan keamanan dan kemajuan. Adanya pencurian, perampokan dan pengambilan hak orang lain pada umumnya juga berakar pada masalah ketidakadilan sosial, yakni adanya sekelompok orang yang merasa tidak mempunyai akses dalam tatanan sosio-ekonomi yang normal. Sebaliknya hak sosial tidak dibenarkan menjajah hak individu atau memasung kreativitas individu. Masyarakat harus memberi peluang kepada individu untuk berkreasi dan mengembangkan kecakapannya secara maksimal dan mengakui hak miliknya. B. Keadilan Ekonomi. Prinsip ekonomi dalam Islam adalah seseorang dituntut bekerja sesuai dengan kemampu an kumulatifnya dan diberikan hak sesuai dengan kebutuhan dasarnya (basic need).

Dari prinsip di atas, Islam mengecam orang yang miskin karena tidak mau mendayaguna kan kemampuannya : malas berfikir, malas bekerja dan berusaha. Orang yang demikian dianggap sebagai dlulumun an nafs atau menganiaya diri sendiri. Karenanya Dr. Mohammad Iqbal pernah berkata: "Kafir yang aktif lebih baik daripada muslim yang pasif." Islam mengakui kenyataan adanya kemiskinan dan memerintahkan supaya menyantuni dan mengasihi mereka. Akan tetapi Islam menganggap kemiskinan itu sebagai penyakit masyarakat dan karena itu harus diobati. Ali bin Abi Thalib mengatakan : "Seandainya kemiskinan itu berupa seseorang niscaya saya bunuh." Karenanya Islam tidak mentolerir kemiskinan yang disebabkan karena kemalasan, keteledoran, konsumtif atau karena perjudian. Akan tetapi Islam sangat komitmen kepada kemiskinan absolut, yaitu kemiskinan yang disebabkan ketidak mampuan bekerja, kehilangan syarat-syarat untuk bekerja, karena musibah atau karena kemiskinan stuktural (mustadzafin). Mustadz'afin adalah orang yang miskin karena dimiskinkan atau orang yang lemah karena dilemahkan oleh struktur. Komitmen Islam terhadap mustadz'afin ini sangat tinggi. Wujud dari komitmen ini diantaranya ditetapkan nya norma kewajiban zakat atau pajak sebesar 2,5 sampai 10 persen per tahun, dianjur kannya infak; sedekah, hibah, wasiat, perintah bekerja keras dan lain sehagainya. Islam juga mewjibkan membayar kafarat (denda) bagi orang yang karena keadaan tertentu tidak dapat melaksanakan puasa Ramadhan, tidak dapat menjalankan wajib haji, orang yang melakukan dzihar, yaitu menyamakan isterinya dengan ibunya, dan sebagainya. C. Etos Kerja Islam sebagai agama yang hanya menghendaki kebaikan dan agama yang sesuai dengan fitrah manusia, memerintahkan agar manusia mencari harta. Harta adalah karunia Allah dan mencarinya adalah bemilai ibadah. Islam memberi petunjuk agar dalam kegiatan mencari harta itu menjadi mudah dan menyenangkan serta tidak menimbulkan kerusakan dan pertumpahan darah. Di antara petunjuk Islam dalam hal mencari harta adalah sebagai berikut: a. Dalam Islam, motivasi dasar yang harus diletakkan oleh setiap muslim dalam menjalan kan hidup ini adalah pengabdian kepada Allah semata. b. Alquran menegaskan bahwa cara yang terbaik untuk mendapatkan kekayaan adalah dengan bekerja. Karena pada dasamya seseorang tidak akan memperoleh sesuatu selain yang ia usahakan. c. Dalam hidup dan bekerja, Islam mengajarkan akan pentingnya berorientasi ke masa depan, kerja keras, teliti, hati-hati, menghargai waktu, penuh rasa tanggung jawab dan berorientasi pada prestasi (achievement oriented) dan bukan prestise semata. Artinya: Hidup harus punya cita-cita. Karena itu kerja yang benar adalah kerja yang direncana kan dan diperhitungkan masak-masak tentang untung ruginya dan konsekuensi logis yang ditimbulkan agar dapat menciptakan masa depan yang lebih baik, lebih maju dan lebih sejahtera daripada masa sekarang.

Kerja santai, tanpa rencana, malas, boros tenaga, waktu dan biaya adalah bertentang an dengan nilai-nilai ajaran Islam. Islam mengajarkan agar setiap detik dari waktu harus diisi dengan tiga hal yaitu : meningkatkan keimanan, beramal shaleh (amal yang mensejahterakan) dan berkomunikasi sosial. Semua masalah yang menjadi tanggung jawabnya harus dihadapi dengan penuh rasa tanggung jawab (responsibility) dan penuh perhitungan (accountability). Hidup dalam Islam harus hemat dan berpola kesederhanaan, tidak konsumtif dan berlebihan, tetapi tidak kikir. Islam menilai bahwa sebaik-baik pekerjaan adalah yang di kerjakan dengan sebaikbaiknya (ahsanu amala) D. Riba dan Bunga. Berbicara tentang riba dan bunga dalam hubungannya dengan pembangunan ekonomi, dalam Islam ada beberapa asas ekonomi yang berhubungan dengan hal itu, antaranya adalah asas suka sama suka, tidak menganiaya diri sendiri dan orang lain dan asas pemerataan. (lihat QS. 4:29, 59:6). Persoalan riba juga sering dikaitkan dengan masalah jual beli, misalnya ayat yang menyatakan bahwa Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba (QS. 2:275). Ini menandakan bahwa riba itu ada di mana-mana dan terutama dalam jual beli atau aktivitas ekonomi pada umumnya. Dari surat al-Baqarah tersebut dapat difahami bahwa walaupun riba itu jelas diharamkan dan jual beli dihalalkan, tetapi dalam kenyataan batas antara keduanya tidak mudah dideteksi disebebkan kompleksitas permasalahannya. Rasulullah bersabda : Yang halal telah jelas dan yang haram pun jelas pula, dan di antara keduanya adalah mutasyabihat (tidak jelas). Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Bagi orang yang berhati-hati lebih condong meninggalkan yang syubhat karena syubhat lebih dekat kepada keharaman. Barang siapa yang terjerumus kepada perkara syubhat, maka ia hampir terjerumus kepada yang haram. (al-Hadits). Sedang bagi orang kebanyakan, syubhat itu merupakan kemurahan Tuhan. Kalau sudah demikian, maka yang paling menentukan adalah keyakinan atau hati nuraninya masing-masing. Dalam QS. 30:39, Allah mempertentangkan antara riba dengan zakat dan sedekah. Riba juga dipertaruhkan dengan keimanan dan ketaqwaan seseorang dan ancaman neraka bagi pelakunya. (lihat QS. 2:278-280, 4:161). Orang mukmin dan muttaqin secara kualitas tidak akan mau mempraktekkan riba karena yakin walaupun sepintas tampak menguntungkan, tetapi sebenarnya rugi dan merugikan. Uraian di atas menggambarkan bahwa riba itu jelas diharamkan. Yang menjadi persoalan sekarang adalah, apakah riba itu, apakah bunga bank pemerintah dan

swasta resmi yang bunganya hampir sama dengan bunga bank pemerintah juga termasuk riba, apakah indikasi bahwa tambahan pada harta itu merupakan riba ?. Menurut bahasa riba berarti tambah dan tumbuh. Sebagian ulama membagi riba menjadi dua, yakni riba yang terjadi dalam akad hutang piutang murni dan riba yang terjadi sebagai akibat dari akad jual beli (perdagangan). Yang pertama merupakan pengertian primer (asli) dari riba yang didasarkan terutama atas beberapa ayat dalam Al-Quran, sementara yang terakhir merupakan riba dalam pengertian derivatifnya yang didasarkan semata-mata kepada hadits-hadits Nabi saw saja. Riba dalarn hutang piutang dinamakan dengan riba nasiah, sedangkan riba dalam jual beli masih terbagi lagi menjadi dua, yakni riba fadl dan riba nasa. Riba fadl adalah tambahan kuantitas atas salah satu pihak dalam transaksi pertukaran (barter) yang dilakukan secara tunai, semacam riba nasa adalah riba yang terjadi dalam transaksi jual beli (atau barter) karena penundaan pembayaran atau penyerahan barang yang dilakukan oleh salah satu pihak.

Para ulama umumnya memandang bahwa riba, baik yang terjadi dalam hutang piutang maupun yang terjadi dalam jual beli, hukumnya haram dan oleh karenanya harus dijauhi E. Riba dan Realitas Sosial di Indonesia. Dalam realitas sosial apalagi kalau dihubungkan dengan adanya kecenderungan terhadap persoalan hidup yang semakin kompleks, orang hampir tidak bisa melepaskan diri dari kegiatan pinjam-meminjam baik dalam jumlah kecil atau besar, untuk kepentingan konsumsi atau produksi. Tentang diterapkannya sistem bunga dalam bank dapat dilihat dari berbagai aspek terutama dari kajian etis dan norma Islam dalam berekonomi dan hukum ekonomi. Menurut etika dan norma ekonomi dalam Islam hukum bunga dalam bank tidak dapat diberlakukan secara umum. Bagi mereka yang tidak mempunyai kemampuan untuk mendayagunakan jasa bank untuk kepentingan produksi dengan laba bersih melebihi besarnya bunga dalam satu tahun, lebih baik belajar berekonomi terlebih dahulu agar mereka tidak teraniaya karena pinjamannya itu. Karenanya bagi golongan ini hukum meminjam uang di bank adalah haram. Sedang bagi mereka yang cakap dalam berperilaku ekonomi maka dipersilahkan dan dalam beberapa pertimbangan menjadi diharuskan. Sedang bagi mereka yang meminjam uang di bank untuk keperluan konsumsi pada dasarnya tidak boleh kecuali dalam keadaan darurat dari pada jatuh ke rente (lintah darat) dan apabila yang bersangkutan dapat memperhitungkan bahwa ia dapat mengembalikan pinjamannya itu tentunya diperbolehkan. Dilihat dari hukum ekonomi di antaranya adalah hukum permintaan dan penawaran yang mana meningkatnya permintaan terhadap uang kontan sementara persediaan uang kontan terbatas, maka nilai uang kontan itu menjadi naik. Karenanya dalam kehidupan masyarakat di luar lembaga perbankan, kita mengenal berbagai jenis kredit atau sistem perkreditan.

Praktek-praktek kredit atau perkreditan di luar lembaga perbankan resmi bahkan sampai memberikan bunga antara 30-50 persen per tahun. Walaupun bunga sistem rente dan sebagainya ini cukup tinggi, akan tetapi banyak masyarakat yang tidak dapat menhindari alias terjerat di dalamnya disebabkan sedikitnya pengetahuan dan pengalaman mereka, atau karena mereka dalam kondisi terpaksa. Sedangkan untuk lembaga perbankan resmi baik yang didirikan oleh pemerintah atau swasta mempraktikkan bunga berkisar antara 8-18 persen per tahun. Bunga sebesar itu kalau dikaitkan dengan penurunan nilai uang (inflasi) dan biaya operasional perbankan, maka bunga (laba) yang diperoleh perbankan hanya berkisar antara 5-10 persen per tahun. Pertimbangan lain adalah, bahwa riba yang secara tegas dilarang adalah riba yang berlipat ganda (lihat QS. 3 : 130). Persoalan selanjutnya adalah apakah praktik bunga di lembaga perbankan resmi itu dianggap sebagai bunga yang berlipat ganda ?. Jawabnya, kalau dilihat dari etika dan norma Islam dan hukum ekonomi sebagaimana dikemukakan dengan singkat di atas, maka bunga bank tidak dikatakan sebagai bunga yang berlipat ganda. Dalam pembahasan-pembahasan fiqih Islam, para fuqaha telah berijtihad dan menawarkan beberapa jenis usaha bersama yang tidak mengandung unsur bunga. Apa yang dikemuka kan oleh para mujtahid ini bukan merupakan sesuatu yang final melainkan hanya sebuah ijtihad yang kebenarannya relatif, temporal dan kondisional. Apalagi menyangkut sistem perekonomian yang dari waktu ke waktu mengalami perubahan cepat. Beberapa jenis usaha tersebut di antaranya adalah sebagai berikut: 1.Wadiah, yaitu lembaga penitipan uang, barang, surat-surat berharga dan deposito. Lembaga ini dapat memanfaatkan barang titipan tersebut untuk pengembangan produksi atau memberikan pinjaman kepada orang yang membutuhkan dengan tanpa memberikan bunga kepada yang menitipkan, asal pada saat barang titipan tersebut dibutuhkan kembali oleh yang menitipkan, lembaga dapat mengembalikannya. 2.Mudharabah, yaitu kerjasama antara pemilik modal dengan pengusaha dengan sistem bagi hasil. Pemilik modal tidak mencampuri manajemen tetapi mempunyai orang yang mengaw'asi jalannya perusahaan, di samping pihak pengusaha secara rutin melaporkan perkembangan perusahaan dari waktu ke waktu menurut ketentuan yang disepakati. Kalau terjadi kerugian, pemilik modal yang menanggung kerugiannya dan kalau belum tertutupi kekurangannya ditanggung bersama. 3.Musyarakah/persekutuan, yaitu usaha bersama sejumlah orang yang sama-sama mempunyai saham atau andil, dikelola secara bersama-sama untung rugi ditanggung bersama sesuai dengan besarnya saham dan fungsi kerja masing-masing. 4.Murababah, yaitu jual beli barang dengan menambah harga dari pembelian semula. Murabahah ini pada dasamya adalah memindahkan dari transaksi pinjam-meminjam kepada transaksi jual-beli. Misalnya pada bulan Januari Si A membeli 2 gram emas 24 karat dengan harga Rp. 25.000,00 per gram dan di bayar dua bulan kemudian yaitu bulan Maret. Pada bulan Maret, harga emas yang sama naik menjadi Rp. 30.000,00 per gram, dengan demikian A mengembalikan uang Rp. 60.000,00.