Anda di halaman 1dari 10

1 I.

Judul Tugas Akhir PERKERASAN KAKU JALAN TOL DENGAN MATERIAL BETON TANPA PROSES PEMADATAN ( RIGID PAVEMENT WITH SELF COMPACTING CONCRETE) II. Latar Belakang Jalan tol adalah jalan bebas hambatan yang dirancang dengan spesifikasi yang lebih tinggi dari pada jalan biasa. Saat ini untuk jalan tol di Indonesia konstruksi perkerasan kaku lebih sering dipakai daripada pekerasan lentur. Dimana diketahui material yang digunakan untuk perkerasan kaku adalah beton bermutu tinggi. Selama ini telah diketahui permasalahan tentang durabilitas beton. Untuk mendapatkan beton yang tahan lama diperlukan control kualitas yang baik dengan pengecoran yang

dikerjakan oleh tenaga ahli. Pada proyek konstruksi di Indonesia khususnya pada Proyek Relokasi Gerbang Tol TMII digunakan jenis Perkerasan kaku dengan sambungan dengan tulangan plat untuk kendali retak. Untuk kendali retak digunakan wire mesh diantara siar dan penggunaannya independen terhadap adanya tulangan dowel seperti yang terlihat pada gambar I.

Gambar 1. Perkerasan dengan tulangan wire mesh.

Pada proyek tersebut problema beton adalah diperlukannya pemadatan yang cukup intensif untuk menghasilkan beton yang padat. Rongga rongga udara sering terjebak di dalam beton (porositas) sehingga kekuatan maupun daya tahannya sangat rendah. Semakin besar

porositasnya maka kuat tekannya semakin kecil, sebaliknya semakin kecil porositas maka kuat tekannya semakin besar. Seperti terlihat pada gambar II dan gambar III di bawah, pada saat penghamparan beton. Pada gambar tersebut dapat dilihat bahwa para pekerja melakukan pekerjaan pemadatan dengan berdiri diatas tulangan wire mesh dan beton. Kesulitan yang dihadapi pekerja adalah workability beton yang rendah, sehingga dalam penghamparannya

2 menggunakan banyak pekerja dengan beberapa alat bantu. Begitu juga pemadatan dengan vibrator yang dilakukan pekerja . Permasalahannya adalah apabila pemadatan dengan vibrator dilakukan dengan terlalu cepat, beton akan tidak padat dan akan menyebabkan adanya porositas. Sebaliknya apaila dipadatkan terlalu lama, maka akan terjadi kemungkinan bleeding.

Gambar II

Gambar III

Dari permasalahan diatas maka diperlukan campuran beton yang dapat memadat sendiri dan hanya memerlukan sedikit tenaga ahli untuk mengerjakannya dan didapatkan beton dengan kualitas yang tinggi yaitu beton tanpa proses pemadatan. Beton ini dinamakan Self Compacting Concrete yaitu beton dengan mutu tinggi dan kinerja yang tinggi.

Gambar IV. Pekerjaan dengan beton tanpa proses pemadatan.

3 III. Perumusan Masalah 3.1 Permasalahan Mengacu pada latar belakang masalah diatas, maka permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah : 1. Bagaimana mendapatkan komposisi yang optimal untuk self compacting concrete pada pekeasan kaku? 2. Bagaimana mendapatkan nilai slumpflow yang maksimal untuk beton tanpa proses pemadatan? 3. Bagaimana perbandingan biaya pada beton konvensional dengan beton tanpa proses pemadatan? 3.2 Pembatasan Masalah Beberapa batasan dalam penelitian ini adalah : a. Pengujian yang dilakukan adalah pengujian slump flow, kuat tekan, kuat tarik, dan kuat lentur. b. Sample beton untuk pengujian kuat tekan dan kuat tarik adalah silinder berdiameter 15cm dan tinggi 30cm atau berdiameter 10cm dan tinggi 20cm. c. Sample beton untuk pengujian kuat lentur adalah balok dengan panjang 50cm dan lebar dan tinggi 10cm d. Pengujian kuat tekan, kuat tarik dan kuat lentur beton dilakukan pada umur 7, 14, 28 hari. e. Target mutu beton yang harus dicapai adalah minimal 40mpa. IV. Tujuan Adapun tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Memperoleh komposisi yang tepat dari beton tanpa proses pemadatan 2. Memperoleh beton berkinerja tinggi untuk perkerasan kaku 3. Mendapatkan perbedaan biaya beton konvensional dengan beton tanpa proses pemadatan (self compacting concrete)

4 V. Studi Pustaka 5.1 Self Compacting Concrete Self Compacting Concrete adalah sejenis material beton yang mampu mengalir dan memadatkan diri sendiri tanpa memerlukan proses pemadatan dari luar, dengan menggunakan vibrator yang selama ini umum dipakai tanpa mengalami bleeding atau segregasi dan mengurangi adanya porositas. Self Compacting Concrete ( SCC) sebagai alternative campuran beton yang memiliki volume pori-pori kecil, membutuhkan material-material yang memiliki karakteristik yang sedikit berbeda dari beton konvensional. Partikel terkecil bahan penyusun beton konvensional adalah semen. Untuk mengurangi porositas semen dapat digunakan aditif yang bersifat pozzolan dan mempunyai patikel sangat halus. Salah satu aditif tersebut adalah Mikrosilika (Silicafum). Mikrosilika ini bersifat pozzolan, dengan kadar kandungan senyawa silica-dioksida (Si O2) yang sangat tinggi (> 90 %), dan ukuran butiran partikel yang sangat halus, yaitu sekitar 1/100 ukuran rata rata partikel semen. Dengan demikian penggunaan mikrosilika pada umumnya akan memberikan sumbangan yang lebih efektif pada kinerja beton, terutama untuk Self Compacting Concrete. Selain itu juga digunakan Chemical Admixture berjenis High Range Water Reducer (HRWR) yang memiliki sifat viskositas yang tinggi yaitu superplasticizer. Menurut Hela dan Hubertova (2006) kemampuan mengalir dengan tingkat ketahanan terhadap segregasi yang tinggi pada beton tanpa proses pemadatan disebabkan oleh dua resep kunci sebagai berikut : a. Penggunaan superplastiziser yang memadai dengan sangat ketat mengatur komposisi agregat pada campuran. b. Rasio air-semen (w/c-ratio) yang rendah. Self Compactiong Concrete ( SCC) adalah campuran beton yang dapat memadat sendiri tanpa menggunakan alat pemadat (vibrator). Self Compacting Concrete (SCC) dapat memadat ke setiap sudut dari struktur bangunan dan dapat mengisi tinggi permukaan yang diinginkan dengan rata (self leveling) tanpa mengalami bleeding dan segregasi. Suatu campuran beton dikatakan Self Compactiong Concrete ( SCC) jika memiliki sifat-sifat sebagai berikut : a. Pada beton segar (Fresh Concrete)

5 Self Compactiong Concrete ( SCC) dalam keadaan segar harus memiliki tingkat workability yang baik, yaitu: y Mempunyai nilai slump flow minimal 50cm

b. Pada beton keras y y Mempunyai tingkat durabilitas yang tinggi. Mampu membentuk campuran beton yang homogeny.

Kelebihan- kelebihan penggunaan Self Compactiong Concrete ( SCC) : y y y y Tidak memerlukan pemadatan dengan menggunakan vibrator. Tenaga kerja yang dibutuhkan lebih sedikit. Waktu pengerjaan pengecoran menjadi relatif lebih singkat. Pengecoran pada bagian-bagian elemen struktur yang sulit dipadatkan dengan vibrator menjadi lebih mudah. y y Self Compactiong Concrete ( SCC) mudah dipompakan. Pekerjaan finishing lantai menjadi lebih mudah karena pelat lantai yang dihasilkan sangat halus. y Meningkatkan durabilitas struktur.

Kekurangan- kekurangan penggunaan Self Compactiong Concrete ( SCC): y Pembuatan bekisting cetakan beton harus diperhatikan karena mudah terjadi kebocoran akibat sangat encernya campuran beton yang dihasilkan.

6 VI. Metodologi Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimen, yaitu dengan cara membuat benda uji beton .Langkah langkah pembuatan benda uji adalah sebagai berikut : Persiapan Bahan Pengujian Bahan Agregat : 1. Berat Jenis &penyerapan air 2. Berat isi 3. Analisa ayak 4. Kadar air

No

Standar

Yes

Perancangan Campuran Pembutan Beton Benda Uji

Pengujian Benda Uji

Analisa Data Hasil Pengujian

7 VII. Daftar Pustaka Rujukan Nugraha, P., Antoni, 2007, Teknologi Beton, halm. 334, Penerbit Andi, Yogyakarta

Pujianto Asat, Putro Tri Retno Y. S., Ariska Oktania, 2003, Beton Mutu Tinggi dengan Admixture Superplasticizer Dan Aditif Silicafume Universitas Muhamadiyah Yogyakarta

Jianxin Ma dan Jorg Dietz, 2002, Ultra High Performance Self Compacting Concrete, Institut fr Massivbau und Baustofftechnologie, Universitt Leipzig.

Wignall Arthur, S. Peter, Kendrick, Ancill Roy, Copson Malcolm, 2003, Proyek Jalan Teori & Praktek, halm.100, Erlangga, Jakarta

Supartono, F.X., 1998, Mengenal dan Mengetahui Permasalahan pada Produksi Beton Berkinerja Tinggi, artikel ilmiah, UI, Jakarta.

Rudolf Hela, Michala Hubertova, 2006, Development Of Lightweight Self Compacting Concrete, Brno University of Technology

8 VIII. Schedule Kegiatan dan jadwal penulisan Tugas Akhir akan dilaksanakan selama 3 bulan, dengan rencana kegiatan sebagai berikut :

NO 1 2

KEGIATAN 1 Persiapan Studi Literatur Pelaksanaan Persiapan Bahan Uji Bahan Perencanaan Campuran Pembuatan Benda Uji Analisa Data Pelaporan Penulisan Penggandaan Laporan

ALOKASI WAKTU 2

9 IX. Penutup Besar harapan kami bahwa Tugas akhir ini dapat selesai tepat pada waktunya, dan kami sangat mengharapkan Bapak Pratikto ST. Msi dan Arie Irianto, ST, MT berkenan menjadi dosen pembimbing selama proses penulisan Tugas Akhir ini, sehingga dapat memberikan yang terbaik sesuai dengan usaha dan kemampuan penulis. Kami juga berharap semoga Tugas Akhir ini dapat berguna bagi semua pihak, terutama mahasiswa Jurusan Teknik sipil, Politeknik Negeri Jakarta.

Depok, April 2010 Penyusun Tugas Akhir,

Anggiat Adi G N NIM. 2106010113 Pembimbing I Tugas Akhir,

Hendri Afrizal NIM. 2106010361 Pembimbing II Tugas Akhir,

Pratikto ST, Msi NIP. 19620103 198503 1004

anto NPP. 09231

NPP.

Mengetahui, Ketua Program Studi Perencanaan Jalan dan Jembatan Jurusan Teknik Sipil

Andi Indianto, Drs, ST, MT NIP. 19610928 198703 1002

10

LEMBAR PENGESAHAN

Penyusun Tugas Akhir,

Anggiat Adi G N NIM. 2106010113

Hendri Afrizal NIM. 2106010361

Pembimbing I Tugas Akhir,

Pembimbing II Tugas Akhir,

Pratikto ST, Msi NIP. 19620103 198503 1004

NPP.

Mengetahui, Ketua Program Studi Perencanaan Jalan dan Jembatan Jurusan Teknik Sipil

Andi Indianto, Drs. ST. MT NIP. 19610928 198703 1002