Anda di halaman 1dari 21

1

KEINDAHAN Makalah Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Ilmu Budaya Dasar

Oleh: y Meumeut Mukti Utami y Putri Delisa y Wawan Syarifudin

Sekolah Tinggi Agama Islam Persatuan Islam (STAIPI) Bandung 2010

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah SWT. Selawat dan salam kita sampaikan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. , karena atas hidayahNyalah makalah ini dapat diselesaikan. Makalah ini penulis sampaikan kepada Pembina mata kuliah Ilmu Budaya Dasar sebagai salah satu tugas mata kuliah tersebut. Tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu banyak dalam pengerjaan makalah ini. Penulis memohon kepada ibu dosen khususnya, umumnya para pembaca barangkali menemukan kesalahan atau kekurangan dalam makalah ini, baik dari segi bahasanya maupun isinya harap maklum. Selain itu, penulis mengharapkan kritik dana saran yang bersifat membangun kepada semua pembaca demi lebih baiknya karya-karya tulis yang akan datang.

Bandung, 19 Desember 2010 Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......i DAFTAR ISI ii

BAB I PENDAHULUAN..1 BAB II KEINDAHAN ......4


A. Hakikat Keindahan ...4 B. Kontemplasi ..6 C. Kontemplasi dan Cipta Seni .7 D. Keserasian .7 E. Kehalusan...8 F. Permainan .9 G. Khayalan .10 H. Manusia dan Keindahan ..11 I. Keindahan dalam Perspektif Islam .13 BAB III SIMPULAN .15 DAFTAR PUSTAKA .16

4 BAB I PENDAHULUAN
Jika ditanyakan kepada diri kita masing-masing apa itu keindahan?, pasti kita akan tahu bahwa konsep tentang keindahan versi satu orang takkan sama dengan konsep keindahan dengan yang lainnya. Jika dalam skala individu saja sulit untuk menemukan kesamaan visi keindahan, bagaimana dalam skala yang luas? Dalam karya tulis sastra kasusnya pun sama, banyak takaran yang digunakan dalam menilai, misalnya novel A memiliki keindahan yang jauh melebihi novel B. Ernst Cassirer dalam An Essay on Man, buku yang ditulis tahun 1954, mengatakan bahwa keindahan tidak akan pernah selesai diperdebatkan. Keindahan bahkan sudah menjadi bahan perbincangan sejak ratusan tahun lampau. Intinya, mereka yang terlibat dalam masalah ini mencoba mendefinisikan tentang keindahan ini. Di antara yang memperbincangkannya adalah pakar-pakar sastra dan pemikir-pemikir dunia, sehingga masalah keindahan ramai diperbincangkan hingga sekarang. Sampai muncullah beraneka definisi dari hasil kontemplasi mereka. Salah satu definisi yang paling dikenal adalah hasil pemikiran penyair Inggris, John Keats. Di bukunya yang ditulis tahun 1817, Endymion, terdapat definisi keindahan semacam ini: A thing of beauty is a joy forever: Its loveliness increases; it will never pass into nothingness. Sesuatu yang indah adalah kegembiraan selama-lamanya: rasa suka padanya pun selalu bertambah, dan takkan pernah menuju ketiadaan. Keindahan versi John Keats ini dikenal dengan konsep Endymion. Sebenarnya, konsep ini muncul dalam cerita mitologi Yunani kuno. Endymion adalah seorang penggembala yang diberkahi keindahan abadi oleh para dewa, yaitu selalu muda, selamanya tidur, dan tidak pernah diganggu oleh siapapun. Para dewa Yunani kuno memerlukan Endymion untuk mengomunikasikan keindahan kepada manusia. Endymion merupakan bentuk yang dipilih oleh para dewa agar keindahan tersebut kekal. Cerita ini kemudian berkembang lebih lanjut dan hidup terus di sekian zaman.

5
Banyak objek yang kemudian menjadi bahan-bahan rujukan yang mempermudah konsep indah. Misalnya karya-karya Leonardo Da Vinci, seperti patung David yang dianggap sebagai sosok patung laki-laki dengan anatomi paling ideal, atau lukisan Monalisa sebagai senyum paling menawan. Dari sini kita tahu bahwa keindahan hanyalah sebuah konsep yang baru berkomunikasi setelah mempunyai bentuk. Karena itu dia tidak berbicara langsung tentang keindahan, akan tetapi sesuatu yang indah. Lalu bagaimana tentang negative capability? Konon, negative capability adalah kemampuan yang hanya dimiliki segelintir orang yang memiliki kemampuan ini adalah mereka yang benar-benar memiliki konsep keindahan lalu menuangkannya ke dalam bentuk yang indah. Menurut Keats, orang-orang dengan negative capability adalah orang yang memiliki kemampuan untuk selalu dalam keadaan ragu-ragu, tidak menentu, dan misterius tanpa mengganggu keseimbangan jiwa dan tindakannya: Cuma pikiran dan hatinyalah yang diliputi keresahan. Negative capability identik dengan proses mencari. Proses inilah yang menyebabkan seorang seniman tidak produktif, jarak antar karyanya cukup lama, tapi justru inilah yang membuat semua tulisannya menjadi matang. Dia akan menulis hanya setelah pelatuk imajinasinya memberi bentuk pada konsep keindahannya. Orang yang tidak memiliki negative capability tidak akan kreatif. Sebab segala sesuatu baginya sudah jelas, tidak menimbulkan keraguan, dan bukan merupakan misteri. Keats mengatakan bahwa proses kreativitas identik dengan perjuangan untuk menciptakan keindahan, atau tepatnya menciptakan sesuatu yang indah.

Ada pendapat dalam dunia filsafat seni bahwa manusia adalah makhluk pemuja keindahan. Melalui panca indera manusia menikmati keindahan dan setiap saat tak dapat berpisah dengannya, dan berupaya untuk dapat menikmatinya. Kalau tidak dapat memperolehnya manusia mencari kian kemari agar dapat menemukan dan memuaskan rasa dahaga akan keindahan. Manusia setiap waktu memperindah diri, pakaian, rumah, kendaraan dan sebagainya agar segalanya tampak mempesona dan menyenangkan bagi yang melihatnya. Semua ini menunjukkan betapa manusia sangat gandrung dan mencintai

6 keindahan. Seolah-olah keindahan termasuk konsumsi vital bagi indera manusia. Tampaknya kerelaan orang mengeluarkan dana yang relatif banyak untuk keindahan dan menguras tenaga serta harta untuk menikmatinya, seperti bertamasya ke tempat yang jauh bahkan berbahaya, hal ini semakin mengesankan betapa besar fungsi dan arti keindahan bagi seseorang. Agaknya semakin tinggi pengetahuan, kian besar perhatian dan minat untuk menghargai keindahan dan juga semakin selektif untuk menilai dan apa yang harus dikeluarkan untuk menghargainya, dan ini merupakan kebanggaan tersendiri bagi orang yang dapat menghayati keindahan.
Lantas apakah cukup konsep keindahan sebatas itu? Bagaimana penilaian Islam tentang konsep keindahan? Oleh karena itu perlu kajian mendalam lagi mengenai konsep keindahan ini.

BAB II KEINDAHAN

A. Hakekat Keindahan Keindahan adalah susunlah kualitas atau pokok tertentu yang terdapat pada suatu hal kulitas yang paling disebut adalah kesatuan (unity) keselarasan (harmony) kesetangkupan (symmetry) keseimbangan (balance) dan pertentangan (contrast). Herbet Read merumuskan bahwa keindahan adalah kesatuan dan hubunganhubungan bentuk yang terdapat diantara pencerapan-pencerapan indrawi manusia. Filsuf abad pertengahan Thomas Amuinos mengatakan bahwa keindahan adalah sesuatu yang menyenangkan bilamana dilihat. Menurut luasnya pengertian keindahan dibedakan menjadi 3, yaitu : 1. Keindahan dalam arti luas Keindahan dalam arti luas menurut para ahli, yaitu : a. Menurut The Liang Gie keindahan adalah ide kebaikan b. Menurut Pluto watak yang indah dan hukum yang indah c. Menurut Aristoteles keindahan sebagai sesuatu yang baik dan juga menyenangkan 2. Keindahan dalam arti estetik murni Yaitu pengalaman estetik seseorang dalam hubungan dengan segala sesuatu yang diserapnya. 3. Keindahan dalam arti terbatas

8 Yaitu yang menyangkut benda-benda yang dapat diserap dengan penglihatan yakni berupa keindahan bentuk dan warna Cinta sangat kuat sekali dalam membangkitkan daya kreativitas para seniman ununtuk menciptakan keindahan bagi para seniman untuk menciptakan keindahan bagi para seniman kreativitas itu hipotesisnya abstrak. Seperti yang dikemukakan oleh Keatas keindahan adalah konsep yang baru dapat berkomunikasi setelah mempunyai bentuk. Konsep itu sendiri abstrak dan kabur dia ada akan tetapi tidak dapat berbicara dengan seniman sebelum ada imajinasi yang menghubungkan seniman itu dengan konsepnya sendiri setelah konsepnya terbentuk, barulah konsep keindahan seniman berdialog dengan pembaca, seperti gesang pada waktu bermain-main di Bangawan Solo ia heran sungai yang airnya tak seberapa itu pada waktu banjir sangat mengerikan orang yang melihatnya ia merenung ia memperoleh konsep keindahan setelah konsep itu diberi bentuk ialah lagu Bengawan Solo maka barulah dapat berkomunikasi Dalam proses jiwa seniman pada waktu merenung dalam rangka menciptakan keindahan menurut Koats selalu diliputi rasa ragu-ragu, takut ketidak tentuan, misterius (negative capability), justru seniman yang tidak memiliki kemampuan negative tidak mampu menciptakan keindahan, kemampuan negative ini identik dengan proses mencari (ialah mencari keindahan) karena yang bersangkutan merasa belum puas atas keindahan yang telah diciptakannya. Keindahan adalah identik dengan kebenaran, keindahan adalah kebenaran dan kebenaran adalah keindahan. Keduanya mempunyai nilai yang sama yaitu abadi dan mempunyai daya tarik yang selalu bertambah yang tidak mengandung kebenaran tidak indah. Ada dua nilai terpenting dalam keindahan: 1. Nilai ekstrinsik yakni nilai yang sifatnya sebagai alat atau membantu untuk sesuatu hal. Contohnya tarian yang disebut halus dan kasar.

9 2. Nilai intrinsik adalah sifat baik yang terkandung di dalam atau apa yang merupakan tujuan dari sifat baik tersebut, contohnya pesan yang akan disampaikan dalam suatu tarian. Demikian banyaknya hasil seni budaya dengan menggunakan pendekatan ekstrinsik dan pendekatan intrinsik melalui proses penghayatan kita dapat mengetahui alasan mereka atau seniman menciptakan keindahan melalui hasil seni. Kalau Bagong Kussudiarjo ditanya mengapa ia menciptakan berbagai kreasi tarian baru yang menggambarkan kehidupan nelayan, petani, buruh pabrik, tentu ada berbagai macam jawaban mungkin ia ingin mengabadikan kegiatan masing-masing pekerjaan itu pada zamannya. Karena kelak apabila teknologi maju memasuki wilayah itu kegiatan mereka itu akan lain bentuknya. Atau mungkin ia ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa keindahan itu tidak hanya dapat di kota-kota saja, dan yang menggemari keindahan itu bukan hanya para cendikiawan saja, tetapi di masyarakat, nelayan, buruh pabrik dan petani yang setiap hari berjuang demi sesuap nasi-pun merindukan keindahan. Teori estetika keindahan adalah Jean M. Filo dalam bukunya Current Concepts of Art dikelompokkan dalam tiga kelompok besar, yaitu : 1. Kelompok yang berpendapat bahwa keindahan itu subjektif adanya yakni karena manusianya menciptakan penilaian indah dan kurang indah dalam pikirannya sendiri. Barangkali pernah juga kita dengar pepatah Des Gustibus Non Est Disputandum selera keindahan tak bisa diperdebatkan. 2. Kelompok yang berpendapat bahwa keindahan objektif adanya, yakni karena keindahan itu merupakan nilai yang intrinsik ada pada suatu objek, artinya seekor kupu-kupu memang lebih indah dari pada seekor lalat hijau. 3. Kelompok yang berpendapat bahwa keindahan itu merupakan pertemuan antara yang subjektif dan yang objektif, artinya kualitas keindahan itu baru ada apabila terjadi pertemuan antara subjek manusia dan objek substansi. Ada tiga hal yang nyata ketika seseorang menyatakan bahwa sesuatu itu indah, apabila ada keutuhan (Integrity) ada keselarasan (Harmony) serta

10 kejelasan (Clearity) pada objek tersebut. Ini biasanya disebut sebagai hukum keindahan. H. C Wyatt meneliti alasan-alasan yang biasa diberikan orang apabila mereka mengatakan sesuatu itu indah, dan ia menemukan bahwa banyak sekali orang menganggap sesuatu itu indah karena menyebabkan ia bersosialisasi pada suatu yang pernah mengharukannya dahulu, harapan-harapannya dan seterusnya. Ia menganggap alasan-alasan ini sebagai alasan-alasan non estetik. B. Kontemplasi Kontemplasi adalah suatu proses bermeditasi merenungkan atau berpikir penuh dan mendalam untuk mencari nilai-nilai, makna, manfaat dan tujuan atau niat suatu hasil penciptaan. Dalam kehidupan sehari-hari orang mungkin berkontemplasi dengan dirinya sendiri atau mungkin juga dengan benda-benda ciptaan Tuhan atau dengan peristiwa kehidupan tertentu berkenaan dengan dirinya atau di luar dirinya. Di kalangan umum kontemplasi diartikan sebagai aktivitas melihat dengan mata atau dengan pikiran untuk mencari suatu dibalik yang tampak atau tersurat misalnya, dalam ekspresi : seseorang sedang berkontemplasi dengan bayang-bayang atau dirinya dimuka cermin. Seorang filosuf bernama Jac Ques Maritain mengatakan bahwa seni itu memberi kesempatan yang mustahil kepada manusia untuk berpacu dengan kontemplasi, yang akan menghasilkan suatu kegembiraan spiritual yang malampaui batas setiap jenis kegembiraan yang lain. C. Kontemplasi dan Cipta Seni Persepsi dan pemahaman terhadap hasil karya seni dan gejala-gejala alami serta kehidupan di dunia ini pada tingkat kebermaknaannya yang tinggi dapat dicapai melalui idealisme dan pemikiran yang tajam dan mendalam, bagi kesempurnaan hidup tata jasmani dan rohani manusia. Gejala-gejala alami yakni alam dengan seluruh isi dan gerakannya yang nampaknya biasa-biasa saja itu sebenarnya mengandung implikasi kelanjutan, akibat-akibat dan kegunaan yang penuh misteri bagi manusia yang selagi hidup menjadi penentu pemecahannya.

11 Manusia menciptakan berbagai macam peralatan untuk memecahkan rahasia gejala alami tersebut. Semuanya ini dilakukan dan hanya bisa terjadi berdasarkan resep atau pemikiran pendahuluan yang dihasilkan oleh kontemplasi. Siklus kehidupan manusia dalam lingkup pandangan ini menunjukkan bahwa kontemplasi selain sebagai tujuan juga sebagai cara atau jalan mencari keserba sempurnaan kehidupan manusia. Karya seni tercipta, terkandung dan terlahir karena kontemplasi penghayatannya memerlukan disebabkan dalamnya atau keseluruhannya lebih banyak bersifat simbolik. D. Keserasian Keserasian merupakan bagian atau yang dapat mewujudkan keindahan. Keserasian mengandung unsur pengertian perpaduan , pertentangan, ukuran dan seimbang. Perpaduan misalnya : orang berpakaian antara kulit dan warna yang dipakai harus cocok. Contoh yang menunjukkan unsur ukuran-ukuran yang seimbang atau tidak seimbang/serasi, misalnya dalam memadu rumah dari halaman akan kelihatan serasi dan indah apabila rumah yang bagus dengan halamannya yang luas dan ditata dengan bunga-bunga yang indah maka orang akan memuji keserasian itu. Lagu atau nyanyian-nyanyian merupakan unsur pertentangan antara suara tinggirendah, panjang-pendek, keras-halus yang terpadu begitu rupa sehingga telinga kita dibuat asyik mendengarkan dan hati kita pun merasa puas, tetapi apabila dalam keasyikan itu tiba-tiba terdengar suara yang sumbang kita pun tentunya akan merasa kecewa dalam hal lagu irama yang indah merupakan pertentangan yang serasi E. Kehalusan Kehalusan dalam pengertian keindahan bagi manusia dimaksudkan sebagai sikap lembut dalam menghadapi orang lain, lembut dalam mengucapkan kata-kata, lembut dalam roman muka, lembut dalam sikap anggota badan lainnya. Hal ini berarti

12 menyangkut kesopanan dan atau keadaban dari sikap manusia dalam pergaulannya baik dalam masyarakat kecil mapun dalam masyarakat luas. Sikap halus atau lembut merupakan gambaran hati yang tulus serta cinta kasih sesama, sebab itu orang bersikap halus atau lembut biasanya suka menolong orang lain, sikap lembut merupakan perwujudan dari sifat-sifat ramah, sopan dan sederhana dalam pergaulan sikap halus yang dimiliki oleh orang yang rendah hati karena orang bersikap rendah hati adalah orang yang halus tutur bahasanya, sopan tingkah lakunya, tidak sombong, tidak membedakan pangkat dan derajat dalam pergaulan Unsur-unsur atau bagian yang dapat melahirkan sikap halus atau kasar adalah : a. Anggota Badan Menurut Alex Gunur dalam bukunya yang berjudul Etika menjelaskan bahwa anggota badan yang melahirkan sikap kehalusan atau kasar ialah kaki, tangan, kepala, bahu, mulut, bibir, mata, roman muka orang yang kesadaran etisnya tinggi sikap-sikap kakinya dikendalikan sebaik-baiknya untuk tidak mengganggu atau merugikan orang lain. b. Bahasa Tentang perkataan Alex Gunur menjelaskan bahwa perkataan yang tersusun dalam kalimat-kalimat adalah merupakan ungkapan atau gambaran isi hati, maksud keingainan, pendapat/buah pikiran atau sikap kita terhadap orang lain. Orang yang kesadaran etisnya tinggi bisa memilih kata-kata yang sopan dan penyusunannya juga teratur serta pandai mengatur dan mengendalikan nada irama atau alun suara dalam mengungkapkan isi hati, keinginan atau buah pikiran. c. Bagian-Bagian Rohaniah Ada tiga unsur rohaniah yang melahirkan sikap, yakni : Pikiran

13 Dengan pikiran manusia dapat menciptakan pengetahuan, gagasan, pendapat, ide, daya upaya atau akal, teori, pertimbangan, renungan, kesadaran, kebijakan dan sebagainya. Semua itu dapat melahirkan sikap seperti ingin tahu, sikap mengerti, sikap sadar, sikap rasional, apa yang terkandung dalam pikiran dan melahirkan sikap tertentu, misalnya orang yang sedang kusut pikirannya akan tampak pada roman muka yang murung. Perasaan Perasaan mempunyai sifat yang sangat peka dalam menghadapi masalah-masalah hidup yang timbul dalam hubungan pergaulan antara manusia, sebab itu perasaan perlu dikendalikan dengan baik. Kemauan Dengan unsur kemauan manusia dapat menentukan pilihan berbuat atau tidak berbuat sesuatu, berbuat baik atau berbuat tidak baik. Kemauan baik sifatnya luhur dan tidak merugikan orang lain, sebaliknya kemauan buruk akan merugikan orang lain dan dapat menyusahkan diri sendiri amupun orang lain, baik yang menyangkut jiwa, jasmani maupun material, selain itu juga ada kemauan keras, kemauan lunak dan kemauan lemah. F. Permainan Kita sudah sering mendengar kota Homo Ludens atau manusia bermain. Istilah ini tidak dimaksudkan untuk membedakan antara manusia dengan binatang, namun demikian memang permainan ini merupakan suatu kategori seni dari aktivitas manusia. J. Hulzinga dalam usahanya untuk mempelajari Homo Ludens ini menyatakan beberapa ciri utamanya dari permainan, yakni :

14 Permainan adalah suatu kategori, demikianlah kita tidak bisa berkata bahwa permainan itu buruk atau baik. Indah atau tidak indah. Artinya dibandingkan dengan kegiatan manusia yang lain seperti bekerja. Inti dari sekedar aktivitas biologis, logis ataupun estetis. Sebagai kegiatan manusia bersifat suka rela yang penting adalah kesukacitaan pada waktu melakukannya, ia bukan suatu hal yang biasa, artinya punya kaidah-kaidah sendiriserta ia bersifat non serius. Semula dikira bahwa permainan hanyalah pada anak-anak saja dan ia terutama berfungsi sebagai latihan untuk menghadapi hidup yang berat untuk melatih ototototnya, melatih panca inderanya, melatih inteleknya, kemauannya maupun emosionalnya disamping itu ada pula yang mengatakan bahwa permainan adalah usaha mahasiswa untuk membebaskan diri dari keseharian yang membosankan ia merupakan variasi dari hidupnya. G. Khayalan George Steiner pernah sekali menyatakan bahwa fantasi kita adalah benteng terakhir profesi kita, sekalipun tak bisa dielakkan bahwa kemampuan setiap orang untuk berfantasi itu terbatas serta terbentuk (terpengaruhi) pula oleh kebudayaannya, namun dalam berfantasi relatif seseorang lebih bebas. Dunia khayal adalah dunia kedua kita, ia pun nyata atau signifikan baik secara personal maupun secara sosial. Sigmund Freud mencoba menjelaskan perlunya khayalan ini sebagai pengganti dari hal-hal yang tidak tercapai dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Bertrand Russel, khayalan sebagai dunia tersendiri. Memiliki hukumhukum tersendiri yang disebut sebagai hukum-hukum mental. Khayalan menjadi sumber kreativitas anak-anak dilatih untuk berkhayal, sebab kemampuan berkhayal ini diperlukan untuk mengerjakan pekerjaan mereka nanti. Baik sebagai dokter, maupun sebagai supir.

15 Martin Scenerer mengembangkan ilmu jiwa pengenalan ia berpendapat bahwa aktivitas kejiwaan manusia itu sungguh-sungguh tergantung pada persepsi yang dimaksud persepsi di sini adalah pemberian arti dari sensasi-sensasi (kelompok rangsangan), persepsi yang salah akan menimbulkan pengertian yang salah. Ada pula kesalahan persepsi yang lain, yaitu yang biasa kita sebut sebagai halusinasi, yakni suatu aktivitas khayalan yang disebabkan oleh suatu rangsangan namun sama sekali tidk membentuk pengertian yang persis dari rangsangan tersebut. Misalnya pada waktu melihat pakaian bergerak dimalam hari dan kita pikir itu setan dan sering kali ini membawa menuju kepada pengertian yang keliru tentang khayalan seolah-olah khayalan merupakan kekeliruan tanggapan. H. Manusia dan Keindahan Keindahan atau estetika berasal dari kata Yunani yang berarti merasakan to sense, atau to perceive. Pengalaman keindahan termasuk ke dalam tingkat persepsi dalam pandangan manusia, biasanya bersifat visual (terlihat) atau terdengar (auditory) walaupun tidak terbatas pada dua bidang tersebut. Pengalaman keindahan mungkin ada hubungannya dengan rasa sentuh, rasa, atau bau. Pengalaman keindahan mencakup penyerapan perhatian yang menyenangkan dalam pengalaman perseptual sejauh ia timbul dari pandangan yang sepi dari pamrih terhadap suatu fenomena, baik yang alamiah ataupun yang disebut manusia. Emosi estetis dapat dibangkitkan karena hasil-hasil kesenian ketika seniman berusaha menimbulkan respons, atau dapat dibangkitkan oleh bermacam-macam objek atau pengalaman yang terjadi secara tak dituangkan ke dalam kehidupan sehari-hari (Titus, Smith, dan Nolan, 1979). Orang yang mempunyai konsep keindahan terbatas jumlahnya. Orang tersebut sibuk dengan pemikirannya mengenai imajinasi, sebab imajinasi merupakan titik pusat konsep keindahan. Dalam keindahan, sesuatu yang rendah dan tak bernilai dapat berarti, contohnya tembakau dan sebangsanya. Demikian pula keindahan yang dipengaruhi oleh hal-hal yang sifatnya sesaat, yaitu yang berhubungan dengan pengalaman masa lampau seseorang, yang melalui asosiasi dapat menimbulkan yang indah dalam pikirannya. Hal lain yang berpengaruh terhadap keindahan adalah imajinasi, yaitu dengan cara menghubungkan suatu benda dengan benda lain sebagai objek imajinasi. Didorong oleh sublimitas sebagai akibat kebebasan menyendiri dan

16 hikmah ketidakberdosaan, akan timbul keindahan. Dengan semangat menggali kreativitas, keindahan dapat dihasilkan. Konsep keindahan adalah abstrak dan tidak dapat berkomunikasi sebelum diberi bentuk. Oleh karena itu, banyak pemikir yang tidak puas terhadap pendapat yang menyatakan bahwa keindahan itu hasil meniru dari alam. Dan meniru dari alam belum tentu menciptakan keindahan. Melalui proses mencari dan pemberian bentuk imajinasinya, seseorang akan mencapai keindahan. Keingintahuan dan dambaan akan keindahan akan membantu keindahan. Batasan keindahan sulit dirumuskan karena keindahan itu abstrak, identik dengan kebenaran. Maka batas keindahan terhenti pada sesuatu yang indah, dan bukannya pada keindahan sendiri. Keindahan mempunyai daya tarik yang selalu bertambah, sedangkan yang tidak ada keindahannya tidak mengandung kebenaran. Konsep keindahan dapat berkomunikasi dengan penciptanya sendiri setelah ada bentuk yang diberikan oleh imajinasi. Sesuatu yang indah adalah abadi, sebab yang indah memberi suka cita yang mendalam dan daya tariknya selalu bertambah. Sifat yang indah adalah universal, tidak terikat oleh selera perseorangan, waktu, dan tempat. Hal itu terjadi sebab pada hakikatnya setiap orang, di mana pun dan kapan pun, mempunyai sikap yang sama dalam menghadapi sesuatu yang indah, yaitu sikap simpati dan sikap empati. Dalam membicarakan manusia dan Tuhannya, kita tidak luput dari kata-kata indah. Misalnya Tuhan memiliki norma-norma yang indah (QS. 7: 180; 17: 110; 20:8). Demikian pula kata indah diterapkan untuk persatuan orang-orang beriman, para nabi, orang-orang yang dengan tulus mencintai kebenaran, orang-orang yang menyaksikan kebenaran agama dalam kata dan perbuatan, dan orang-orang yang shaleh merupakan persahabatan yang sangat indah. Pendek kata, keindahan memiliki dimensi interaksi yang sangat luas, baik untuk hubungan manusia dengan benda, hubungan manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan Tuhannya, ataupun bagi manusia itu sendiri yang melakukan interaksi. Beberapa pandangan tentang keindahan diungkapkan oleh beberapa tokoh filsafat dan tokoh lainnya seperti Plato menyatakan bahwa Tuhan identik dengan keindahan, meskipun keindahan itu bertingkat tetapi keindahan Tuhan adalah abadi.

17 Kemudian ia juga menyatakan setiap benda memiliki keindahan sebab benda mengikuti keindahan Tuhan. Plato menghubungkan keindahan dengan cinta, argumentasinya bahwa perjuangan kesempurnaan itu adalah cinta, sedangkan yang dituju oleh kesempurnaan adalah keindahan. Dengan demikian bagi Plato cinta dan keindahan itu adalah berpadu menuju satu tujuan. Demikian alam semesta bagi Plato adalah merupakan tenaga cinta ynag menuju keindahan tertinggi. Sedangkan keindahan abadi menurut Plato adalah sebagai sumber, esensi dan ideal sebagai penyebab segala macam gerak. Filosof lainnya adalah Iqbal yang membahas keindahan bersifat metafisis. Bagi Iqbal keindahan adalah pencipta dan tujuan cinta. Keindahan adalah dorongan hidup yang berdenyut di balik kehidupan dengan segala seginya, yaitu: (1) Sebagai kualitas benda yang diciptakan oleh ekspresi ego-ego mereka sendiri. (2) Untuk memperoleh keindahan diperoleh dari tenaga kehidupannya sendiri, bukan dari jiwa penanggap. Bagi Iqbal dunia kasat mata ini indah, karena ia mengekspresikan kehidupan ruh universal dan segenap makhluk hidup pun indah karena ia mengekspresikan kehidupan mereka. Selanjutnya Iqbal mengaitkan cinta dengan keindahan, bahwa perjuangan kesempurnaan cinta yang ditujunya adalah

kesempurnaan keindahan. Alam semesta digerakkan oleh tenaga cinta, sehingga memperoleh keindahan tertinggi. Keindahan abadi adalah sebagai sumber, esensi, dan ideal; Merupakan penyebab segala macam gerak. Oleh karena itu menurut Iqbal keindahan abadi adalah pencipta dan tujuan cinta.
I. Keindahan dalam Perspektif Islam

Allah SWT membagi kehidupan menjadi dua bagian yakni kehidupan dunia dan akhirat. Apa yang dilakukan manusia di dunia akan berdampak dalam kehidupan akhirat. nyaman dan tidaknya kehidupan seseorang di akhirat sangat bergantung pada bagaimana ia menjalani kehidupan di dunia ini. Manakala manusia beriman dan beramal saleh dalam kehidupan di dunia ia pun akan mendapatkan kenikmatan dalam kehidupan di akhirat. Karena itu ketika seseorang berorientasi memperoleh kebahagiaan dalam kehidupan di akhirat maka ia akan menjalani kehidupan di dunia ini dengan sebaik-baiknya sebagaimana yang ditentukan oleh Allah dan Rasul-Nya. Ketika manusia berorientasi kepada kehidupan akhirat bukan berarti ia tidak boleh menikmati kehidupan di dunia ini, hal ini karena segala hal-hal yang bersifat duniawi

18 sangat disukai oleh manusia, karenanya Islam tidak pernah mengharamkan manusia untuk menikmati kehidupan duniawinya selama tidak melanggar ketentuan Allah SWT apalagi sampai melupakan Allah SWT sebagai pencipta dan pengatur dalam hidup ini. Manusia memang memandang indah segala hal yang bersifat duniawi dan itu wajar-wajar saja selama ia tidak mengabaikan tempat kembalinya. Allah SWT berfirman yang artinya: Dijadikan indah pada manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini yaitu wanita-wanita anak-anak harta yang banyak dari jenis emas perak kuda pilihan binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik . Hakikat Keindahan Muhammad Ali ash-Shabuny di dalam tafsirnya menyebutkan bahwa para ahli tafsir berbeda pendapat tentang siapa yang menjadikan syahwat itu sebagai sesuatu yang indah. Pendapat pertama mengatakan bahwa yang menjadikan indah adalah setan dengan cara membisikkan kepada manusia dan menjadikannya tampak indah di hadapan mereka lalu mereka condong kepada syahwat itu dan lalai dalam menaati Allah SWT pendapat ini didasari pada firman Allah yang artinya Dan setan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari Allah sehingga mereka tidak mendapat petunjuk. Pendapat kedua mengatakan bahwa Allah-lah yang menjadikan indah terhadap syahwat sebagai ujian dan cobaan untuk menentukan siapa di antara mereka yang baik perbuatannya hal ini didasari pada firman Allah yang artinya Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. Dua pendapat yang nampak bertolak belakang itu sebenarnya bukan sesuatu yang bertolak belakang. Allah SWT dan setan sama-sama memiliki kepentingan dalam kaitan dengan syahwat manusia terhadap hal-hal yang sifatnya duniawi. Allah SWT ingin menguji manusia agar mereka dapat meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT sedangkan setan justeru ingin menjerumuskan manusia ke jalan yang sesat. Oleh karena itu ketika menafsirkan kalimat Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini Sayyid Quthb dalam Fi Dzilalil Quran mengatakan Ungkapan kalimat ini tidak memiliki konotasi untuk

19 menganggapnya kotor dan tidak disukai. Tetapi ia hanya semata-mata menunjukkan tabiat dan dorongan-dorongannya menempatkannya pada tempat tanpa melewati batas serta tidak mengalahkan apa yang lebih mulia dan lebih tinggi dalam kehidupan serta mengajaknya untuk memandang ke ufuk lain setelah menunjukkan vitalnya apa-apa yang diingini itu dengan tanpa tenggelam dan semata-mata bergelimang di dalamnya. Di sinilah keistimewaan Islam dengan memelihara fitrah manusia dan menerima kenyataannya serta berusaha mendidik merawat dan meninggikannya bukan membekukan dan mematikannya.

20 BAB III SIMPULAN

Keindahan atau estetika berasal dari kata Yunani yang berarti merasakan to sense, atau to perceive. keindahan memiliki dimensi interaksi yang sangat luas, baik untuk hubungan manusia dengan benda, hubungan manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan Tuhannya, ataupun bagi manusia itu sendiri yang melakukan interaksi. Dalam membicarakan manusia dan Tuhannya, kita tidak luput dari kata-kata indah. Misalnya Tuhan memiliki norma-norma yang indah (QS. 7: 180; 17: 110; 20:8). Beberapa pandangan tentang keindahan diungkapkan oleh beberapa tokoh filsafat dan tokoh lainnya seperti Plato menyatakan bahwa Tuhan identik dengan keindahan. Filosof lainnya adalah Iqbal yang membahas keindahan bersifat metafisis. Bagi Iqbal keindahan adalah pencipta dan tujuan cinta. Konsep keindahan adalah abstrak dan tidak dapat berkomunikasi sebelum diberi bentuk.

21 DAFTAR PUSTAKA

Al-Quran Al-kariim

Maran, Rafael Raga. 2000. Manusia dan Kebudayaan dalam Perspektif Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: PT. Rineka Cipta Notowidagdo, H. Rohiman. 2002. Ilmu Budaya Dasar Berdasarkan Al-Quran dan Al-Hadits. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada Quthb, Sayyid: fii dzilaalil Quran Soelaman, M. Munandar. 2007. Ilmu Budaya Dasar Suatu Pengantar-. Bandung: PT. Refika Aditama al_islam.chm http://romandar.multiply.com/journal/item/1/Manusia_dan_Keindahan