Anda di halaman 1dari 5

J.

Tandiabang dan Syahrir Pakki: Penyakit Blas (Pyricularia grisea) dan Strategi Pengendaliannya pada Tanaman Padi

PENYAKIT BLAS (Pyricularia grisea) DAN STRATEGI PENGENDALIANNYA PADA TANAMAN PADI
Johanis Tandiabang1) dan Syahrir Pakki2)
1) Balai 2) Loka

Penelitian Tanaman Serealia, Maros penelitian Penyakit Tungro

ABSTRAK
Salah satu kendala dalam upaya peningkatan produk padi adalah penyakit blas yang disebabkan oleh (Pyricularia grisea). Kehilangan hasil akibat penyakit ini sebesar 70%, menginfeksi pada semua stadia pertumbuhan tanaman yaitu daun, buku, leher malai, namun jarang menyerang pada kelopak daun. Kondisi optimum untuk perkembangannya adalah pada suhu 24C - 28C dengan kelembaban sekitar 90%, satu bercak blas menghasilkan 2000 6000 spora per hari. Gejala pada daun yaitu bercak berbentuk bulat, belah ketupat, melebar, ditempel, dan meruncing di kedua ujungnya. Ukuran bercak berkisar 1 - 1,5 x 0,3-0,5 Cm. Bercak yang berkembang bagian tengahnya menjadi warna abu-abu. Infeksi dapat juga terjadi pada ruas batang dan leher malai yang disebut blas leher (neck blast). Leher malai yang terinfeksi berubah menjadi hitam dan patah serta menghasilkan gabah hampa. Penyakit dapat dikendalikan dengan pembenaman jerami untuk mengurangi sumber inokulum, pemupukan berimbang, waktu tanam yang tepat, dan perlakuan benih fungisida Trycyclazole. Kata kunci: Penyakit blas, pengendalian, tanaman padi

PENDAHULUAN
Penyakit blas (Pyricularia grisea) merupakan salah satu kendala dalam usaha meningkatkan produksi pada pertanaman padi gogo dan sekarang sudah menjadi kendala serius pada padi sawah. Hal ini menjadi penting artinya, terutama dengan adanya perluasan padi gogo ataupun penggunaan padi unggul yang rentan terhadap blas. Wilayah dominan penyebaran blas yang telah dilaporkan di Indonesia meliputi provinsi Jabar (1.781 ha), Sumsel (1.084 ha), Sumut (624 ha), Kalteng (395 ha), Bali dan NTB sekitar (200 ha). (Hasanuddin, 2003). Penyakit blas akhir-akhir ini juga dilaporkan menginfeksi varietas-varietas unggul baru menjelang panen dan berpotensi secara nyata akan menurunkan hasil padi dalam skala nasional. Penyakit blas, dapat menurunkan hasil sampai mencapai 70% (Chin, 1975) menginfeksi pada semua stadia pertumbuhan tanaman yaitu daun, buku, leher malai, namun jarang menyerang pada bagian pelepah daun. Keadaan suhu yang kondusif pada kisaran 28C. Suhu demikian umumnya ditemukan di wilayah-wilayah pengusahaan padi gogo, maupun padi sawah sehingga blas dapat berkembang baik dan menyebabkan kerusakan yang serius atau sering mengakibatkan puso. Karakteristik sebaran dengan siklus hidup yang pendek sekitar 6 hari, dan potensi munculnya ras-ras baru yang lebih virulen menyebabkan upaya pengendalian tetap diperlukan. Pengendalian yang paling umum dilakukan adalah penggunaan varietas tahan dan fungisida. Varietas-varietas tahan telah banyak terbukti hasilnya, namun demikian beberapa varietas tahan terhadap penyakit blas hanya mampu bertahan beberapa musim tanam. Keadaan ini terjadi karena adanya proses adaptasi, mutasi genetik dan penyakit blas membentuk ras-ras baru yang lebih virulen, sehingga menyebabkan varietas yang semula tahan menjadi rentan.

241

Prosiding Seminar Ilmiah dan Pertemuan Tahunan PEI dan PFI XVIII Komda Sul-Sel, 2007

Makalah ini dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman pengelolaan penyakit blas, terutama pada wilayah-wilayah yang umum diusahakan padi gogo dan di lahan-lahan padi irigasi sawah, karena ditemukannya varietas unggul berpotensi hasil tinggi, namun peka terhadap penyakit blas leher.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN PENYAKIT BLAS


Inang utamanya yaitu padi dengan inang alternatif adalah rerumputan (Digitaria cilaris, Echinochloa colona) (Teng et al, 1991) serta dapat juga memanfaatkan jagung untuk mempertahankan hidupnya. Miselia patogen tersebut dapat bertahan selama setahun pada jerami sisa-sisa panen. Spora yang berasal dari tanaman terinfeksi atau yang disebarkan angin ditemukan sekitar 2 km dari sumber inokolum awal, masih dapat menginfeksi pada tanaman sehat (Ou, 1985). Pada temperatur 24C - 28C adalah kondisi optimum untuk perkembangan blas. Fase penetrasi spora cendawan ini hanya membutuhkan waktu yang singkat yaitu 6 8 jam, menginfeksi melalui stomata, dan periode laten untuk memproduksi kembali spora juga tergolong singkat sekitar 4 hari (Hashioka, 1985). Faktor lain yang mendukung perkembangan blas adalah keadaan kelembaban sekitar 90%, spora dapat diproduksi optimal dari setiap bercak, satu bercak mampu menghasilkan 2000 6000 spora per hari, keadaan tersebut dapat berlangsung selama 10 14 hari (ElRafaer, 1997). Data perkembangan karakter biologi tersebut sangat dipengaruhi oleh keadaan temperatur pada kisaran 28C, dan kelembaban sekitar 90%, ataupun inang alternatif yang banyak ditemukan di areal pertanaman sawah yaitu rerumputan (Digitaria sp. Dan Echinocloa sp) sebagai sumber inokolum awal. Keadaan yang banyak ditemukan pada wilayah usaha tani padi tersebut, menyebabkan penyakit blas sebagai faktor pembatas produksi padi adalah selalu ada dan perlu diwaspadai. Patogen P. grisea memanfaatkan nutrisi tanaman untuk memperbanyak diri dan mempertahankan hidup. Infeksi awal pada daun muda, menyebabkan proses pertumbuhan tidak normal, beberapa daun menjadi kering dan mati (Chin, 1974). Blas pada daun banyak menyebabkan kerusakan antara fase awal pertumbuhan sampai pada fase anakan maksimum (Gill and Borman, 1988). Infeksi pada daun setelah fase anakan maksimum biasanya tidak menyebabkan kehilangan hasil yang terlalu besar, namun infeksi pada awal pertumbuhan sering menyebabkan puso terutama varietas yang rentan. Selanjutnya Gill and Boman (1988) menyarankan tindakan perlakuan fungisida lebih awal. Perlakuan tersebut dapat berfungsi menekan tingkat intensitas serangan blas daun dan juga dapat mengurangi infeksi pada tangkai malai (blas leher). Faktor pemicu lainnya adalah pemupukan nitrogen yang tinggi menyebabkan ketersediaan nutrisi yang ideal dan lemahnya jaringan daun, sehingga spora blas pada awal pertumbuhan dapat menginfeksi optimal dan menyebabkan kerusakan serius pada tanaman padi. Hasioka (1965) menganjurkan pemupukan berimbang dengan penggunaan nitrogen yang optimal akan dapat menekan perkembangan blas pada awal pertumbuhan. Kehilangan hasil yang besar juga sering ditemukan pada infeksi leher malai. Penanaman dengan jarak tanam yang rapat serta pemupukan nitrogen yang tinggi tanpa menggunakan kalium menciptakan iklim meso dan media tumbuh yang kondusif untuk berkembangnya penyakit blas pada leher malai (Ismunadji et al, 1976). Gejala khas pada malai yang sering ditemukan yaitu adanya bercak kehitaman dengan malai yang patah, atau bulir yang mengering dan hampa, menyebabkan persentase gabah berisi sangat rendah (Amir, 1981; Peakin 1976). Blas leher, berpotensi merusak yang tinggi apabila terdapat banyak embun pada saat awal berbunga, baik malam, pagi, dan siang hari. Pada keadaan iklim demikian,

242

J. Tandiabang dan Syahrir Pakki: Penyakit Blas (Pyricularia grisea) dan Strategi Pengendaliannya pada Tanaman Padi

suhu bukan merupakan faktor pembatas. Amir (2003) melaporkan bahwa pada suhu 300C -320C, blas leher masih mampu berkembang baik. Di Sulawesi Tenggara IR42, seluas 300 ha pernah dilaporkan, tertular berat pada umur sekitar 2 bulan, hal tersebut diakibatkan karena padi gogo ditanam dengan populasi yang tergolong tinggi, serta kondisi embun yang banyak pada saat awal berbunga.

STRATEGI PENGENDALIAN
Pemahaman tentang bionomi karakter sebaran maupun faktor biotik dan abiotik yang mempengaruhi perkembangan di lapang memberi petunjuk untuk melakukan langkah-langkah yang tepat tentang cara pengendalian. B. Pendekatan Cara Bercocok Tanam 1. Pembenaman Jerami dan varietas tahan Penyakit blas berupa miselia yang dapat bertahan pada sisa-sisa tanaman padi, yaitu jerami dan biji sehingga sumber inokulum selalu tersedia dari satu musim ke musim tanam berikutnya. Proses dekomposisasi dapat berfungsi ganda yaitu dapat memanfaatkan jerami sebagai pupuk dan sumber inokulum di lapangan dapat berkurang. Hal lain yang dapat dilakukan yaitu dengan cara membenamkan jerami sisa panen dalam tanah, sehingga miselia dapat terbunuh dan tidak berpotensi untuk berkembang. Pembentukan jerami mengurangi sumber inakulasi awal sehingga intensitas pada fase vegetatif dan generatif dapat berkurang. Penggunaan varietas tahan dapat mengurangi peluang infeksi awal atau penghambatan penetrasi awal sehingga cenderung patogen blas tidak dapat berkembang maksimal pada tanaman. 2. Penggunaan Pupuk Nitrogen dengan Takaran Anjuran Amir (1981), melaporkan bahwa penggunaan pupuk nitrogen yang tinggi menyebabkan peningkatan penularan blas. Selanjutnya ditemukan bahwa penggunaan Nitrogen 90 kg/ ha dapat mengurangi penyebaran penyakit blas (Amir, 2003). Keadaan ini memberi gambaran bahwa pemupukan nitrogen yang berlebihan tanpa pemupukan kalium dapat menjadi faktor pemicu meningkatnya serangan di lapang. Sehingga dianjurkan petani selalu mengikuti penggunaan pupuk sesuai anjuran terutama pada daerah-daerah endemi penyakit blas. Pemupukan berimbang dengan penggunaan kalium dan phosfat, dianjurkan agar dapat mengurangi infeksi blas di lapangan. Penggunaan kalium mempertebal lapisan epidermis pada daun sehingga penetrasi spora akan terhambat dan tidak akan berkembang di lapangan. 3. Waktu Tanam yang Tepat Perbedaan keadaan iklim dalam skala besar maupun skala kecil pada setiap wilayah, menyebabkan perlunya pengelolaan penyakit blas yang berbeda pula dalam pengendaliannya. Khusus untuk blas leher ( neck blast), kurun waktu pada saat fase padi mulai berbunga bersamaan dan terdapat banyak embun, baik pada malam, pagi dan sore hari memberi peluang berkembangnya penyakit blas leher. Pada kondisi demikian, terdapat banyak embun pada pagi dan sore hari, faktor suhu seperti 30 - 32 C tidak berpengaruh, sehingga infeksi selalu ditemukan dengan intensitas berat. Pengaturan waktu tanam pada saat yang bertepatan banyak embun perlu dihindari agar pertanaman terhindar dari serangan penyakit blas yang berat. Keadaan ini memerlukan data iklim spesifik dari wilayah-wilayah pertanaman padi setiap lokasi.

243

Prosiding Seminar Ilmiah dan Pertemuan Tahunan PEI dan PFI XVIII Komda Sul-Sel, 2007

C. Pengendalian Secara Kimia dan Nabati Perlakuan benih dengan fungisida sistemik mampu melindungi bibit dari serangan penyakit blas sampai pada umur 30 hari setelah tanam. Penyemprotan fungisida pada fase akhir bunting dan awal berbunga dapat menekan penyakit blas leher. Fungisida efektif untuk perlakuan benih dan penyemperotan dapat dilihat pada Tabel 2, sebagai berikut : Tabel 2. Fungisida-fungisida yang efektif untuk pengendalian penyakit blas (Amir , 2003) Nama Umum Perlakuan benih Trycyclazole Pyoguilon Benomyl-T Perakuan peyemprotan Edifenphos Tetrachlorophthalide Kasugamycyn IBP Isopprotionalane Thiophanate methyl Benomyl + mancozeb Ratio/dosis aplikasi/ha 4 g/ liter air 5-10 g/liter air 5 g/liter air 1 1 1 1 1 1 1 000 000 000 000 000 000 000 cc/ha cc/ha cc/ha cc/ha cc/ha cc/ha cc/ha

Penggunaan bahan ekstrak nabati sebagai fungisida telah dianjurkan untuk pengendalian penyakit blas leher yaitu daun, bawang putih, daun sirih, bengkoang, kayu putih dan diyakini episien dan tidak akan mempengaruhi kestabilan lingkungan (Puslitbangfar, 2000). Fungisida lain yang dianjurkan adalah yang berbahan aktif tiofanat, fosdifen, dan kasugamisin (Balitpa, 2005).

KESIMPULAN
Penyakit blas dapat menginfeksi padi pada daun dan leher malai, terutama pada padi gogo dan juga menginfeksi pada padi sawah. Perkembangan blas dapat berkembang optimal pada suhu sekitar 240c 280c. Siklus hidup blas sekitar 4 hari dan fase penetrasi awal spora 6 8 jam, satu bercak mampu memproduksi 2000-6000 spora per hari dan hal tersebut dapat berlangsung selama 14 hari. Penyakit blas dapat dikendalikan dengan penggunaan varietas tahan, pembenaman jerami, pengaturan waktu tanam dan perlakuan fungisida berbahan aktif tiofanat, fosdefen dan kasugamisin.

DAFTAR PUSTAKA
Amir, M. 2001. Strategi penyelamatan padi gogo dari ancaman penyakit blas. Puslitbang tanaman Pangan. Badan Litbang Pertanian. Amir, M. 1981. Masalah Penyakit blas (Pirycularia grisea) dan pengendaliannya Kongres Nasional Perhimpunan Fitopatology Indonesia ke VI. Bukittinggi. Balai Penelitian Tanaman Padi. 2002. Refleksi Penelitian Padi 2002. Balitpa Sukamandi.

244

J. Tandiabang dan Syahrir Pakki: Penyakit Blas (Pyricularia grisea) dan Strategi Pengendaliannya pada Tanaman Padi

Balai Penelitian Tanaman Padi. 2002. Deskripsi Varietas Unggul Baru Padi. Balitpa Sukamandi. Chin, K.M. 1975 Fungisidal control of the rice blast disease. Mardi Reseacrh Bulletin. 2(2): 82-84. ElRefaei, 1977. Epidemiologi of rice blast disease in the tropic with special reference to leaf wetnes in relation to the disease development. Tesis Phd. Indian Agricuitual Research. New Delhi. Gill M and Borman JM. 1988. Effect of water deficit on rice blast. Influence of water deficit on component of resistance. Plant Protection in The Tropict. 5:61-66. Hasanuddin A. 2004. Pengendalian Hama dan Penyakit Padi Upaya Tiada Henti. Inovasi Pertanian Tanaman pangan. Puslitbangtan Bogor. Hashioka Y. 1965. Effect of enviromental factor on development of cause fungus infection disease development and epidemiology in rice blast. In. the blast Disease. USA. J.H. Press 153- 161. Ismunaji M., Parthoharjo, dan Sastiaji. 1976. Peranan Kalium dalam produksi tanaman pangan dalam Kalium dan Tanaman Pangan. LP3 Bogor 1-16. Ou, S.H. 1985. Rice disease. Slough UK commonwealt Agricultural Boureaux. 380 pp. Pusat Penelitian Tanaman Pangan. 2000. Teknologi Produksi Padi sawah. Puslitbangtan. Bogor. Peakin. S.1976. Pest Control in Rice. Centre for overseas pest research. London. Teng PS., K. Gebbink and Punchmit H. 1991. An anlysis of the blast Pathosystem to guide modelling and porecasting in blast a nd porecasting. Manila Philipina. IRRI 1-30.

245