Anda di halaman 1dari 4

Assalamualaikum Wr. Wb. Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua.

Yang terhormat, bapak ibu guru dan teman-teman yang saya sayangi. Bagaimana kabar dari para hadirin sekalian? Semoga baik-baik saja. Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmatNya kita dapat berkumpul di hari yang cerah ini dalam rangka melaksanakan ujian praktek Bahasa Indonesia. Kami mengucapkan terimakasih karena telah diberi kesempatan untuk berbicara di hadapan para hadirin sekalian. Kami harap ceramah ini dapat bermanfaat untuk kita semua. Hadirin yang kami hormati, tema ceramah yang akan kami bawakan pada hari ini adalah mengenai kain tenun atau tenun ikat. Sebenarnya, masih banyak orang yang belum mengerti tentang kain tenun. Kain tenun adalah kain khas Indonesia, yang saat ini kurang diminati sebagian besar orang. Tenun ikat atau kain ikat adalah karya tenun Indonesia berupa kain yang ditenun dari helaian benang pakan atau benang lungsin yang sebelumnya diikat dan dicelupkan ke dalam zat pewarna alami. Alat tenun yang dipakai adalah alat tenun bukan mesin. Kain ikat dapat dijahit untuk dijadikan pakaian dan perlengkapan busana, kain pelapis mebel, atau penghias interior rumah. Sebelum ditenun, helai-helai benang dibungkus atau diikat dengan tali plastik sesuai dengan corak atau pola hias yang diingini. Ketika dicelup, bagian benang yang diikat dengan tali plastik tidak akan terwarnai. Tenun ikat ganda dibuat dari menenun benang pakan dan benang lungsin yang keduanya sudah diberi motif melalui teknik pengikatan sebelum dicelup ke dalamn pewarna. Teknik tenun ikat terdapat di berbagai daerah di Indonesia. Daerah-daerah di Indonesia yang terkenal dengan kain ikat di antaranya adalah Toraja, Sintang, Jepara, Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, dan Timor. Kain gringsing dari Tenganan, Karangasem, Bali adalah satu-satunya kain di Indonesia yang dibuat dari teknik tenun ikat ganda (dobel ikat). Kain ikat dapat dibedakan dari kain songket berdasarkan jenis benang. Songket umumnya memakai benang emas atau perak. Motif kain songket hanya terlihat pada salah satu sisi kain, sedangkan motif kain ikat terlihat pada kedua sisi kain. Dorongan memvisualisasikan konsep-konsep interaksi di suatu komunitas mayarakat, atau relasinya dengan alam natura (dunia fauna dan flora) melahirkan berbagai tanda gambar pada kain tenun ikat. Kain tentun ikat Sumba Timur yang sarat dengan tanda/gambar yang membentuk corak, motif, merupakan hasil penuangan gagasan, ide, pemikiran, yang sebelumnya telah tertuang dalam seni kata (seni verbal). Adanya realita seorang raja penuh kuasa, sakti sehingga dikramatkan, dan permaisuri yang berwibawa, bijak bestari, bertajuk mahkota (kara wulang). Dalam dunia binatang buaya yang memiliki instink kuat ditakuti dan dikramatkan oleh masyarakat Sumba (di Mesir Dewa Sobek dilukis sebagai buaya). Buaya dipaar dengan penyu (filsafat Sumba serba dua atau dualisme). Maka lahirlah seni kata dalam bahasa baitan, ana wuya rara, ana kara wulangu, yang artinya, sang buaya merah, sang penyu bersisik.

Pulau Flores dikenal dengan kain tenun ikatnya yang memiliki kekhasan dengan corak warna dan motif yang beragam. Kain tenun merupakan warisan budaya yang dimiliki pulau kecil di bagian timur Indonesia itu, sebut saja dua kabupaten Maumere dan Sikka di Flores. Ada teknik khusus dalam menenun. Terlebih dulu seorang penenun, memisahkan kapas dari bijinya menggunakan alat bernama Keho. Setelah kapas terpisah, kemudian benang di pintal untuk menghasilkan serat benang, lalu benang-benang yang telah jadi, digulung menggunakan Seler. Hasil gulungan benang tersebut dibuat sebagai bahan dasar tenun untuk menghasilkan motif ikat. Motif khas Flores ini diolah dari benang yang beraneka warna dan direntangkan pada bidang kayu yang disebut Hani. Salah satu ciri khas kain adat ini adalah menggunakan pewarna alam berasal dari buah mengkudu, kayu pohon hepang, kunyit, loba, kulit pohon mangga, serbuk kayu mahoni, serta masih banyak lagi bahan-bahan pewarna alam. Selesai pada tahap pewarnaan, kain akan kembali dibentangkan pada Hani, kemudian melepaskan ikatan supaya motif terbentuk. Dari sinilah kemudian proses tenun dimulai.

Ragam Tenun

1. Kalimantan
Di Kalimantan, tenun yang terkenal dan sudah banyak beredar di mancanegara antara lain adalah tenun Sambas, tenun Sintang, dan tenun Dayak Iban dari Kalimantan Barat, tenun Doyo dari Kalimatan Timur, juga tenun Pagatan dari Kalimantan Selatan. Bahkan tenun Sambas, dikabarkan sempat mendapat klaim dari Malaysia.

Tenun Doyo Kain tenun ini terbuat dari bahan alam, yaitu daun ulap doyo yang bentuknya menyerupai daun pandan yang seratnya kuat sehingga bisa dijadikan benang tenun. Tenun yang merupakan hasil kerajinan tangan kaum perempuan suka Dayak Benuaq ini biasa digunakan dalam upacara-upacara adat atau digunakan juga sebagai mahar pada upacara perkawinan.

Tenun Pagatan Tenun pagatan memiliki motif, warna yang sangat menarik dan berkualitas tinggi. Bahkan, tenun sutera khas Kalimantan Selatan tersebut telah mengalami sentuhan modern dari berbagai desainer atau perancang busana terkenal.

2. Sumatera

Tenun Pandai Sikek. Tenun di daerah Minangkabau disebut tenun Pandai Sikek atau lebih familiar lagi disebut dengan tenun songket. Orang Pandai Sikek sendiri sebenarnya tidak menyebutnya songket, melainkan hanya tenun, sebab yang dimaksud adalah benang katun dan benang mas yang ditenun dengan tangan, diatas alat yang bernama panta sehingga

menjadi kain, kain balapak atau kain bacatua yang dipakai pai baralek, yaitu pada pesta perkawinan.

Tenun Songket Jambi. Tenun dari daerah ini terkenal dengan keragaman motifnya. Motifmotif khas Jambi yang biasa digambarkan di tenun ini antara lain adalah angso duo, kembang duren, bungo intan, keluk paku, bunga melati, durian pecah, dan bunga sulur. Setiap motif tentu saja memiliki makna tersendiri. Motif durian pecah, misalnya, mempunyai makna akan kesuburan dan hasil bumi yang melimpah. Motif bunga melati merupakan lambang keindahan perempuan, sementara motif angso duo pada tenunan songket jambi merupakan lambang dari Jambi sebagai Tanah Pilih Pesako Betuah.

3. Sulawesi
Sulawesi juga memiliki beragam jenis tenun yang terkenal di kalangan desainer. Sebagai contoh adalah tenun Buton dari Sulawesi Tenggara, tenun Celebes dari Sulawesi Selatan, dan tenun Donggala dari Sulawesi Tengah.

Tenun Buton Kerajinan tenun dari Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara biasanya menggambarkan obyek alam yang mereka temukan di sekitarnya. Tenun Buton juga kaya akan warnawarna. Inilah yang menjadi kekhasan kerajinan tenun dari Buton. Corak dan motifnya bermacam-macan. Sebagai contoh adalah motif betano walona koncuapa yang terinspirasi dari abu halus yang melayang-layang hasil pembakaran semak saat membuka ladang; motif colo makbahu atau korek basah, motif delima bongko (delima busuk), motif delima sapuua, dan lain sebagainya. Selain sebagai perekat sosial, tenun Buton juga dianggap mampu menjadi identitas diri. Dengan melihat pakaian yang dikenakan oleh wanita Buton misalnya, kita bisa mengetahui apakah dia telah menikah atau belum. Selain itu, bisa juga sebagai penanda apakah wanita tersebut berasal dari bangsawan atau tidak.

Tenun Donggala Disebut juga dengan Buya Sabe, biasa digunakan sebagai pakaian pesta untuk orang tua, menjamu tamu dari luar, juga pakaian dalam acara-acara duka. Bahkan, pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, telah mengeluarkan aturan bagi PNS untuk berseragam tenun Donggala pada setiap akhir pekan di kantor. Proses pembuatan tenun Donggala, tergantung corak tenun. Di Kabupaten Donggala teknik pembuatan dan corak kainnya ada enam jenis, antara lain, kain palekat garusu, buya bomba, buya sabe, kombinasi bomba dan sube. Dari sekian corak tersebut, buya bomba yang paling sulit, hingga membutuhkan waktu pengerjaan satu hingga dua bulan. Berbeda dengan corak lainnya yang hanya membutuhkan waktu satu hingga dua minggu saja.

Sekarang ini kain tenun mulai menarik perhatian masyarakat luas. Contohnya:

1. Komunitas diplomatik yang berada di Jenewa terpukau dengan kain tenun Indonesia dalam
acara Asian Women`s Circle Luncheon yang digelar di kediaman wakil tetap pemerintah RI Jenewa/Dubes.

2. Pada KTT Asean yang berlangsung di bali beberapa hari lalu, tampak Obama dan Para
pemimpin negara-negara Asean mengenakan baju adat, atau disebut juga kain tenun ikat dari Flores, Nusa Tenggara Timur.

3. Bertujuan memopulerkan kain tradisional Indonesia lewat gaya modern, Ikat Indonesia hadir
meramaikan belantika mode Tanah Air. Ikat Indonesia bukanlah semata-mata label mode yang hanya ingin fokus pada tenun ikat semata, melainkan ingin menyebarkan sebuah konsep dan komitmen untuk memajukan kain tradisional Indonesia.

4. Kain tenun karya pengrajin Bali disukai dan diburu turis asing yang berlibur di
Pulau Dewata itu. Tingginya minat turis asing itu tidak terlepas dari peranan anakanak muda Bali yang mengenakan songket saat upacara adat dan sembayang ke Pura. Jadi kesimpulannya adalah di Indonesia banyak sekali ragam dari kain tenun. Kita sebagai rakyat Indonesia harus selalu berusaha untuk melestarikan kain tenun. Kita juga harus selalu berusaha agar kain tenun semakin dikenal oleh banyak orang. Terima kasih atas perhatiannya. Kami mohon maaf bila ada kekurangan dalam ceramah ini maupun dalam penyampaiannya. Sekian dari kami.