Anda di halaman 1dari 17

LAFADZ AM A.

PENDAHULUAN
Salah satu unsur penting yang digunakan sebagai pendekatan dalam mengkaji Islam adalah Ilmu Ushul Fiqh, yaitu ilmu yang mempelajari kaidah-kaidah yang dijadikan pedoman dalam menetapkan hukum-hukum syariat yang bersifat amaliyah yang diperoleh melalui dalil-dalil yang rinci. Melalui kaidah-kaidah Ushul Fiqh akan diketahui nash-nash syara dan hukum-hukum yang ditunjukkannya. Diantara kaidah-kaidah Ushul Fiqh yang penting diketahui adalah Istinbath dari segi kebahasaan, salah satunya adalah lafadz am dan lafadz{ khas. Makalah ini akan membahas lafadz am dan lafadh khas secara lebih mendalam. B. PENGERTIAN DAN HAKIKAT AM Am menurut bahasa artinya merata, yang umum; dan menurut istilah adalah LAFADH yang memiliki pengertian umum, terhadap semua yang termasuk dalam pengertian lafadh itu . Dengan pengertian lain, am adalah kata yang memberi pengertian umum, meliputi segala sesuatu yang terkandung dalam kata itu dengan tidak terbatas. Dalam mendefinisikan lafadz Am terdapat perbedaan pendapat dikalangan para ahli. Diantaranya yaitu: Ibnu Subki merumuskan definisi Am adalah lafazd yang meliputi semua pengertian yang patut baginya tanpa pembatasan. Abu Hasan Al Bashri dan beberapa Ulama SyafiI memberikan definisi : lafadz yang meliputi semua pengertian yang patut baginya. Imam Al-Ghazali memberikan definisi: suatu lafadz yang menunjukkan dari arah yang sama kepada dua hal atau lebih. Al- Amidi mendefinisikan : suatu lafadz yang menunjukan dua hal atau lebih secara bersamaan dengan mutlak. Uddah (dari kalangan hanbali) memberikan rumusan mengenai Am yaitu: suatu lafadz yang mengumumkan dua hal atau lebih

Al- Sarkhisi (dari kalangab ulama hanafi ) merumuskan definisi : setiap lafadz yang mengkordinasi sekelompok nama dalam bentuk lafadz atau makna. Ibn Hazm dari Ulama Zhahiri, memberikan definisi : suatu lafadz yang berlaku untuk makna yang banyak dalam bentuk perlakuan yang sama pada maknanya. Ridha Mudhaffar dari kalangan Syiah memberikan rumusan: lafadz yang mengandung (pemahaman) bagi semua apa yang patut bagi penggunaanya dalam penetapan hukum atas lafadz itu. Dari berbagai pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa hakikat dari lafadz Am yang mencakup dari setiap rumusan, yaitu: 1. Lafadz itu hanya terdiri dari satu pengertian secara tunggal. 2. Lafadz tunggal itu mengandung beberapa afrad (satuan pengertian) 3. 4. Lafadz yang tunggal itu dapat digunakan untuk setiap satuan pengertiannya Bila hukum berlaku untuk satu lafadz, maka hukum itu berlaku pula untuk secara sama dalam penggunaanya. sertiap afrad (satuan pengertian) yang tercakup didalam lafadz itu. Am adalah suatu lafaz yang dipergunakan untuk menunjukan suatu makna yang pantas dimasukan pada makna itu dengan mengucapkan sekali saja sepuluh kata Ar- Rijil maka lafaz itu meliputi semua laki-laki[1]. C. RUANG LINGKUP AM Lafadz am adalah lafadz yang menurut kepada bentuk suatu lafadz yang tersimpul atau masuk didalamnya semua lafadz, didalam lafadz itu tersimpul atau masuk semua jenis sesuai dengan lafadz itu. Setiap lafadz Am mengandung dua lingup pembahasan, yaitu: a. Lafadz itu sendiri, yang terdsusun darti huruf- huruf. b. Makna atau arti yang terkandung dalam lafadz itu. Pendapat para ulama ushul mengenai ruang lingkup Am yaitu:

Jumhur ulama berpendapat bahwa Am itu pada hakikatnya berada dalam lingkup lafadz, karena ia menunjukkan pengertian-pengertian yang terkandung didalamnya.hal ini berlaku pada lafadz khushush, mutlaq dan muqayyad. Sebagian kecil ulama berpendapat bahwa am itu juga menyangkut makna. Kelompok ini mengemukakan argumen bahwa penggunaan secara umum berlaku dalam bahasa arab yaitu terdapat dalam hadist yang artinya : Raja itu menyerahkan secara umum (merata) anugerah dan kenikmatan kepada manusia. Hujan itu mendatangkan secara umum (merata) kesuburan kebaikan kepada mereka. Berpendapat bahwa lafadz am dapat juga digunakan untuk makna, namun Jumhur Ulama penggunaan untuk makna itu hanya secara majazi, bukan dalam penggunaan yang sebenarnya, sebab kalau ia hakikatnya untuk makna, tentu akan berlaku untuk setiap makna. Umum itu juga tidak berlaku untuk perbuatan karena perbuatan itu berlaku terhadap satu keadaan dalam satu tingkatan sedangkan am mencakup segala sesuatu yang berbeda- beda. Qadhi Abdul Wahhab berpendapat bahwa tidak ada yang dapat dikaitkan kepada am kecuiali hanya lafadz. As-Sarkhisi (dari kalangan ulam hanafi) berpendapat bahwa am tidak dapat digunakan pada makna kecuali bila penggunaannya hanya secara majazi, karenanya perlu penjelasan untuk itu. Segolongan ulama Irak berpendapat bahwa am itu dapat digunakan untuk perbuatan dan hukum, dalam arti menanggungkan ucapan pada umumnya kitab meskipun tidak ada sasaran akhirnya. Seperti firman Allah QS Al- Maidah (5) : 3


Artinya: Diharamkan bagimu (memakan) Bangkai

D. BENTUK-BENTUK LAFADZ AM Lafadz- lafadz yang dapat mengandung pengertian Am adalah sebagai berikut:

1. Lafadz jama dalam bentuk nakirah lafadz jama (ganda) ada yang berbentuk marifah (tertentu) dan ada pula yang nakirah (tak tertentu). Tentang keumuman lafadz terdapat perbedaan pendapat yaitu: a. Sebagian ulama mengatakan bahwa jama nakirah itu adalah am dengan argumen sebagai berikut: Ucapan (beberapa laki-laki) menurut hakikinya secara mutlak digunakan untuk semua sehingga menjadi jama yang dapat meliputi semua. Hal itu meliputi semua hakikatnya. Bila seseorang berbicara menghendaki dengan lafadz jama itu sebagianya adalah karena ainnya.kalau tidak demikian tentu maksudnya adalah mubham (samar). Bila tidak dimaksudkan umtuk sesuatu yang tertentu, maka ia menunjukkan tercakup semua satuan pengertiannya. Lafadz jama dalam bentuk nakirah dapat dimasuki oleh pengecualian dengan setiap afrad jenisnya. b. Sebagian ulama lainnya mengtatakan bahwa jama nakirah tidak menunjukkan am tetapi berarti khushush. mereka berpendapat bahwa: Pencapaian suatu lafadz untuk maksud khushush adalah meyakinkan, sedangkan penggunannya untuk am hanya bersifat kemungkinan. Menganggap sesuatu yang meyakinkan untuk maksud hakikinya adalah lebih baik. Kebanyakan penggunaan sighat jama adalah khusus bukan untuk am. Kalau lafadz tersebut untuk am tentu tidak dikenal dalam bentuk jama. c. Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa bila jama nakirah tersebut berada dalam bentuk amar (perintah) atau nahi( larangan), ia menunjukkan am, sedangkan bila ia berada dalam bentuk berita ia tidak menunjukkam am[2]. Lafadz-lafadz am dalam bentuk umum juga terbagi menjadi : 1. Kullun, Jamiun, Kaffatun

Contoh Kullun ; Seperti terdapat dalam Surat Ali Imran : 185 Artinya : Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Contoh Jamiun : Seperti terdapat dalam Surat Al Baqarah : 29 Artinya : Dia ( Allah ) yang menciptakan segala apa yang ada dibumi semuanya. Contoh Kaaffah : Seperti terdapat dalam Surat Saba : 28 Artinya : Tidak kami utus engkau hai Muhammad melainkan untuk memebri kabar gembira dan peringatan bagi manusia.

2. Man, Ma dan Aina pada majaz. Contoh Man : Seperti terdapat dalam Surat An Nisa : 123


Artinya : Barang siapa yang memperbuat kejahatan, akan dibalasdengan kejahatan itu pula. Contoh Maa : Seperti terdapat dalam Surat Al Baqarah : 272


Artinya : Dan apa pun harta yang kamu infakkan, nisca kamu akan diberi (pahala)secara penuh dan kamu tidak akan dizalimi (dirugikan). Contoh Aina : Seperti terdapat daam Surat An Nisa : 78


Artinya : Dimanapun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kukuh.

3. Man, Maa dalam mata untuk Istifham ( pertanyaan ) Contoh Man : Seperti terdapat dalam Surat Al Baqarah : 245


Artinya : Barang siapa yang meminjami Allah dengan pinjaman yang baik. Contoh Ma : Seperti terdapat dalam Surat Al Mudasir :42


Artinya : Apa sebabnya kamu masuk neraka. 4. Ayyu Contoh seperti terdapat dalam Hadist Rasul yang artinya : Siapa saja diantara perempuan yang kawin tanpa seizin walinya maka perkawinan itu tidak sah. 5. Nakirah sesudah Nafi. Contoh seperti dalam Surat Al Baqarah : 123


Artinya : Dan takutlah kamu pada hari, (ketika) tidak seorang pun dapat menggantikan (membela) orang lain sedikit pun, tebusan tidak diterima, bantuan tidak berguna baginya dan mereka tidak akan ditolong. 6. Ishim Maushul Contoh : Terdapat dalam Surat an Nur : 4


Artinya : Orang-orang yang menuduh perempuan baik berbuat zina kemudian mereka tidak mendapatkan empat orang saksi maka deralah mereka delapan puluh kali dan jangan kamu ambil kesaksian mereka selama-lamanya.

7. Idhafah

Contoh terdapat dalam Surat Ibrahim : 34


Artinya : Jika kamu menghitung- hitung nikmat Allah, tidak akan terhitung. 8. Alif Lam Harfiah Contoh terdapat dalam Surat Al Maidah : 42


Artinya : Bahwa Sesungguhnya Allah suka kepada orang yang adil. Dan juga terdapat dalam Surat Al Baqarah : 195


Artinya : Allah kasih kepada orang yang berbuat kebajikan. Lafadz am juga ada dalam bentuk khusus yaitu : Dipandang menurut umum lafadz tidak menurut khusus sebab . Jawaban atau pertanyaan adakalanya tidak dapat berdiri sendiri dan adakalanya dapat berdiri sendiri. Jawaban yang dapat berdiri sendiri seperti seorang lelaki bertanya kepada Nabi. Ya Rasulullah sesungguhnya kami berlayar dilautan dan kami membawa sedikit air,jika kami ambil air itu untuk berwudhu niscaya kami akan kehausan, apakah kami kami boleh berwudhu dengan air laut ? Kemudian Nabi dan halal mayatnya. Sekalipun pertanyaan laki-laki itu tidak disebutkan, maka hadist Nabi itu sudah dapat dimengerti. Dalam contoh ini pertanyaan hanya menggambarkan dalam keadaan darurat( terpaksa ).Jika melihat perkataan Nabi kita dapat mengetahui bahwa boleh berwudhu dengan air laut sekalipun dalam keadaan bisa, sedangkan pertanyaan itu merupakan sebab khusus kepada keadaan umum. E. SIGHAT UMUM Sighat am adalah lafadz atau ucapan yang digunakan untuk umum. Para ulama berbeda pendapat dalam hal apakah ada lafadz tertentu yang di gunakan untuk menunjukkan bahwa lafadz itu adalah am. menjawab : Laut itu sucinya airnya

Abu hasan al-asy;ari dan pengikutnya berpendapat bahwa tidak ada sighat tertentu untuk menunjukkan am.Bahwa lafadz yang patut untuk dijadikan am bila ada yang memberi petunjuk untuk salah satu diantaranya. Sebelum ada petunjuk kita harus tawaquf dengan menangguhkan dulu keumuman dan kekhususannya sampai menemukan dalil. Pendapat ini disetujui oleh Qadhi Abu Bakar dan oleh ulama kalam Murjiah. F. MACAM-MACAM LAFADZ AM a. Lafadz am yang dikehendaki keumumannya karena ada dalil atau indikasi yang menunjukkan tertutupnya kemungkinan ada takhshish (pengkhususan). Misalnya:


Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lohmahfuz).( Hud:6). Yang dimaksud adalah seluruh jenis hewan melata, tanpa kecuali. b. Lafadz am tetapi yang dimaksud adalah makna khusus karena ada indikasi yang menunjukkan makna seperti itu. Contohnya: Artinya: Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badui yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (pergi berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. (At-Taubah: 120). Yang dimaksud ayat tersebut bukan seluruh penduduk Mekah, tapi hanya orang orang yang mampu. c. Lafadz am yang terbebas dari indikasi yang dimaksud makna umumnya atau sebagian cakupannya. Contoh: Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru. ( Al-Baqarah: 228). Lafadz am dalam ayat tersebut adalah al-muthallaqat (wanitawanita yang ditalak), terbebas dari indikasi yang menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah makna umum atau sebagian cakupannya. G. Hukum Berhujjah Dengan Am ( Dalalah )

Jumhur ulama ushul berpendapat bahwa dalalah menunjukan seluruh syaratnya ( satuannya ) secara dhaniyah, karena apa yang terkandung dalam lafadz am itu kebanyakan yang dikehendaki beberapa atau sebagian dari satuan-satuannya saja. Jumhur Ulama, di antaranya Syafiiyah, berpendapat bahwa lafadz am itu dzanniy dalalahnya atas semua satuan-satuan di dalamnya. Demikian pula, lafa{dz am setelah di-takhshish, sisa satuan-satuannya juga dzanniy dalalahnya, sehingga terkenallah di kalangan mereka suatu kaidah ushuliyah yang berbunyi:


Artinya: Setiap dalil yang am harus ditakhshish. Oleh karena itu, ketika lafadz am ditemukan, hendaklah berusaha dicarikan pentakhshishnya. Berbeda dengan jumhur ulama, Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa lafadz am itu qathiy dalalahnya, selagi tidak ada dalil lain yang mentakhshishnya atas satuan-satuannya. Karena lafadz am itu dimaksudkan oleh bahasa untuk menunjuk atas semua satuan yang ada di dalamnya, tanpa kecuali. Sebagai contoh, Ulama Hanaifiyah mengharamkan memakan daging yang disembelih tanpa menyebut basmalah, karena adanya firman Allah yang bersifat umum, yang berbunyi:


Artinya: dan janganlah kamu memakan binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. (Al-An`m:121) Ayat tersebut, menurut mereka, tidak dapat ditakhshish oleh hadits Nabi yang berbunyi:

.
Artinya: Orang Islam itu selalu menyembelih binatang atas nama Allah, baik ia benar-benar menyebutnya atau tidak. (H.R. Abu Daud) Alasannya adalah bahwa ayat tersebut qathiy, baik dari segi wurud (turun) maupun dalalah-nya, sedangkan hadits Nabi itu hanya dzanniy wurudnya, sekalipun dzanniy dalalahnya. Ulama Syafiiyah membolehkan, alasannya bahwa ayat itu

dapat ditakhshish dengan hadits tersebut. Karena dalalah kedua dalil itu sama-sama dzanniy. Lafadz am pada ayat itu dzanniy dalalahnya, sedang hadits itu dzanniy pula wurudnya dari Nabi Muhammad SAW. Karena itu dikalangan para ulama terkenal adanya qaedah ; tidak ada satupun dari yang umum melainkan ia ditakhsiskan ( dibatasi ).Selain dari itu dikalangan mereka didapat pula satu qaedah yang berbunyi : Mengerjakan sesuatu berdasarkan dalil/lafadz am sebelum diteliti ada tidaknya pentakhsisnya tidak dperbolehkan. Jadi tidak diperkenankan langsung berhujjah dengan dalil am dalam menetapkan hukum. Karena itu kepada para mujtahid diwajibkan meneliti lebih dahulu apakah ada pentakhsisnya atau tidak. Kalau sudah diyakini betul tidak ada pentakhsisnya barulah boleh berpegang kepada dalil am itu. Al -Gazali juga sependapat dengan demikian. Golongan Hanafiah berpendapat bahwa dalalah am menunjukan sempurna kepada satuan-satuannya adalah qathI selama tidak ada dalill lain yang mentakhsisnya[3]. Drs. Ramayulis dkk ( Sejarah dan Pengantar Ushul Fiqih ) Kalam Mulia: Jakarta 1989 hal 51 [2] Prof.Dr. H. Amir Syarifuddin ( Ushul Fiqih Jilid 2 ) Kencana Prenada Media Group Jakarta 2008 [3] Drs. H.A. Muin dkk ( Ushul Fiqih dalam Qaidah-qaidah Istinbath dan Ijithad ) Metode Penggalian Hukum Islam, Direktorat Jendral Pembinaan kelembagaan Agama Islam ( Departemen Agama ) 1986
[1]

http://waliyudin-menujukehidupanhakiki.blogspot.com/2011/02/lafadzam.html

LAFADZ AM DAN LAFADZ KHAS


By : Ummi Kaltzum KZ A. PENDAHULUAN

Salah satu unsur penting yang digunakan sebagai pendekatan dalam mengkaji Islam adalah Ilmu Ushul Fiqh, yaitu ilmu yang mempelajari kaidah-kaidah yang dijadikan pedoman dalam menetapkan hukum-hukum syariat yang bersifat amaliyah yang diperoleh melalui dalil-dalil yang rinci. Melalui kaidah-kaidah Ushul Fiqh akan diketahui nash-nash syara dan hukum-hukum yang ditunjukkannya. Diantara kaidah-kaidah Ushul Fiqh yang penting diketahui adalah Istinbath dari segi kebahasaan, salah satunya adalah lafadz am dan lafadz{ khas. Makalah ini akan membahas lafadz am dan lafadh khas secara lebih mendalam. B. LAFADZ AM 1. Pengertian Lafadz am Am menurut bahasa artinya merata, yang umum; dan menurut istilah adalah LAFADH yang memiliki pengertian umum, terhadap semua yang termasuk dalam pengertian lafadh itu . Dengan pengertian lain, am adalah kata yang memberi pengertian umum, meliputi segala sesuatu yang terkandung dalam kata itu dengan tidak terbatas. 2. Bentuk-bentuk lafadz am Lafadz am mempunyai bentuk (sighah) tertentu, diantaranya: a. LAFADH ( setiap) dan ( seluruhnya). Misalnya firman Allah: Tiap-tiap yang berjiwa akan mati. (Ali Imran, 185) Dan sabda Rasulullah SAW: Setiap pemimpin diminta pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya Dialah Allah yang menjadikan untukmu segala yang ada di bumi secara keseluruhan (jamian). (Al-Baqarah:29) LAFADH dan tersebut di atas, keduanya mencakup seluruh satuan yang tidak terbatas jumlahnya. b. Kata jamak (plural) yang disertai alif dan lam di awalnya. Seperti: Para ibu (hendaklah) meenyusukan anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi orang yang ingin menyempurnakan penyusuannya. (Al-Baqarah:233) Kata al-walidat dalam ayat tersebut bersifat umum yang mencakup setiap yang bernama atau disebut ibu. c. Kata benda tunggal yang di marifatkan dengan alif-lam. Contoh: Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba (Al_baqarah: 275). LAFADH al-bai (jual beli) dan al-riba adalah kata benda yang di marifatkan dengan alif lam. Oleh karena itu, keduanya adalah lafadz am yang mencakup semua satuan-satuan yang dapat dimasukkan kedalamnya.

d. LAFADH Asma al-Mawshu>l. Seperti ma, al-ladhi>na, al-lazi dan sebagainya. Salah satu contoh adalah firman Allah: Sesungguhnya orang-orang yang (al-ladzina) memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sebeenarnya mereka itu menelan api sepenuh perut dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala. (AnNisa:10) e. LAFADH Asma al-Syart} (isim-isim isyarat, kata benda untuk mensyaratkan), seperti kata ma, man dan sebagainya. Misalnya: dan barang siapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah.(An-Nisa:92) f. Isim nakirah dalam susunan kalimat nafi> (negatif), seperti kata dalam ayat berikut: dan tidak ada dosa atas kamu mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya. (Al-Mumtahanah:10). 3. Dalalah Lafadz am Jumhur Ulama, di antaranya Syafiiyah, berpendapat bahwa lafadz am itu dzanniy dalalahnya atas semua satuan-satuan di dalamnya. Demikian pula, lafa{dz am setelah di-takhshish, sisa satuan-satuannya juga dzanniy dalalahnya, sehingga terkenallah di kalangan mereka suatu kaidah ushuliyah yang berbunyi: Setiap dalil yang am harus ditakhshish. Oleh karena itu, ketika lafadz am ditemukan, hendaklah berusaha dicarikan pentakhshishnya. Berbeda dengan jumhur ulama, Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa lafadz am itu qathiy dalalahnya, selagi tidak ada dalil lain yang mentakhshishnya atas satuan-satuannya. Karena lafadz am itu dimaksudkan oleh bahasa untuk menunjuk atas semua satuan yang ada di dalamnya, tanpa kecuali. Sebagai contoh, Ulama Hanaifiyah mengharamkan memakan daging yang disembelih tanpa menyebut basmalah, karena adanya firman Allah yang bersifat umum, yang berbunyi: dan janganlah kamu memakan binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. (Al-An`m:121) Ayat tersebut, menurut mereka, tidak dapat ditakhshish oleh hadits Nabi yang berbunyi: ) . ) Orang Islam itu selalu menyembelih binatang atas nama Allah, baik ia benar-benar menyebutnya atau tidak. (H.R. Abu Daud) Alasannya adalah bahwa ayat tersebut qathiy, baik dari segi wurud (turun) maupun dalalah-nya, sedangkan hadits Nabi itu hanya dzanniy wurudnya, sekalipun dzanniy dalalahnya. Ulama Syafiiyah membolehkan, alasannya bahwa ayat itu dapat ditakhshish

dengan hadits tersebut. Karena dalalah kedua dalil itu sama-sama dzanniy. Lafadz am pada ayat itu dzanniy dalalahnya, sedang hadits itu dzanniy pula wurudnya dari Nabi Muhammad SAW. 4. Macam-macam lafadz am a. Lafadz am yang dikehendaki keumumannya karena ada dalil atau indikasi yang menunjukkan tertutupnya kemungkinan ada takhshish (pengkhususan). Misalnya: Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lohmahfuz).( Hud:6). Yang dimaksud adalah seluruh jenis hewan melata, tanpa kecuali. b. Lafadz am tetapi yang dimaksud adalah makna khusus karena ada indikasi yang menunjukkan makna seperti itu. Contohnya: Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badui yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (pergi berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. (At-Taubah: 120). Yang dimaksud ayat tersebut bukan seluruh penduduk Mekah, tapi hanya orangorang yang mampu. c. Lafadz am yang terbebas dari indikasi yang dimaksud makna umumnya atau sebagian cakupannya. Contoh: Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru. ( Al-Baqarah: 228). Lafadz am dalam ayat tersebut adalah al-muthallaqat (wanita-wanita yang ditalak), terbebas dari indikasi yang menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah makna umum atau sebagian cakupannya. C. LAFADH KHASH 1. Pengertian lafaz khas Khas ialah lafadz yang menunjukkan arti yang tertentu, tidak meliputi arti umum, dengan kata lain, khas itu kebalikan dari `m. Menurut istilah, definisi khas adalah: Al-khas adalah lafadh yang diciptakan untuk menunjukkan pada perseorangan tertentu, seperti Muhammad. Atau menunjukkan satu jenis, seperti lelaki. Atau menunjukkan beberapa satuan terbatas, seperti tiga belas, seratus, sebuah kaum, sebuah masyarakat, sekumpulan, sekelompok, dan lafadh-LAFADH lain yang menunjukkan bilangan beberapa satuan, tetapi tidak mencakup semua satuan-satuan itu. 2. Dalalah Khash Dalalah khas menunjuk kepada dalalah qathiyyah terhadap makna khusus yang dimaksud dan hukum yang ditunjukkannya adalah qathiy, bukan dzanniy, selama tidak ada dalil yang memalingkannya kepada makna yang lain. Misalnya, firman

Allah: Tetapi jika ia tidak menemukan binatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji..(Al-Baqaarah :196) LAFADH tsalatsah (tiga) dalam ayat di atas adalah khas, yang tidak mungkin diartikan kurang atau lebih dari makna yang dikehendaki oleh lafadh itu. Oleh karena itu dalalah maknanya adalah qathiy dan dalalah hukumnya pun qathiy. Akan tetapi, apabila ada qarinah, maka lafadh khas harus ditakwilkan kepada maksud makna yang lain. Sebagai contoh hadits Nabi yang berbunyi: pada setiap empat puluh kambing, wajib zakatnya seekor kambing. Menurut jumhur ulama, arti kata empat puluh ekor kambing dan seekor kambing, keduanya adalah lafadh khas. Karena kedua lafadh tersebut tidak mungkin diartikan lebih atau kurang dari makna yang ditunjuk oleh lafadh itu sendiri. Dengan demikian, dalalah lafadh tersebut adalah qathiy. Tetapi menurut Ulama Hanafiyah, dalam hadits tersebut terdapat qarinah yang mengalihkan kepada arti yang lain. Yaitu bahwa fungsi zakat adalah untuk menolong fakir miskin. Pertolongan itu dapat dilakukan bukan hanya dengan memberikan seekor kambing, tetapi juga dapat dengan menyerahkan harga seekor kambing yang dizakatkan. D. TAKHSHISH 1. Pengertian Takhshish Ketika membicarakan lafadz am dan lafadh khas, tidak bisa terlepas dari takhshish. Menurut Khudari Bik dalam bukunya Ushul al-Fiqh, takhshish adalah penjelasan sebagian lafadz am bukan seluruhnya. Atau dengan kata lain, menjelaskan sebagian dari satuan-satuan yang dicakup oleh lafadz am dengan dalil. 2. Macam-macam takhshish a. Mentakhshish ayat Al-Quran dengan ayat Al-Quran. Misalnya: Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru.(AlBaqarah:228). Ketentuan dalam ayat di atas berlaku umum, bagi mereka yang hamil atau tidak. Tapi ketentuan itu dapat ditakhshish dengan surat At-Thalaq ayat 4 sebagai berikut: Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu idah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya.(At-Thalaq:4) Dapat pula ditakhshish dengan surat Al-Ahzab:49: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan-perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya maka sekali-kali tidak wajib atas mereka idah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya.(Al-Ahzab:49). Dengan demikian keumuman bagi setiap wanita yang dicerai harus beriddah tiga kali suci tidak berlaku bagi wanita yang sedang hamil dan yang dicerai dalam keadaan belum pernah digauli. b. Mentakhshish Al-Quran dengan As-Sunnah. Misalnya firman Allah dalam Al-

Maidah ayat 38: Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai).(Al-Maidah:38). Dalam ayat di atas tidak disebutkan batasan nilai barang yang dicuri. Kemudian ayat di atas ditakhshish oleh sabda Nabi SAW: ) . ) Tidak ada hukuman potong tangan di dalam pencurian yang nilai barang yang dicurinya kurang dari seperempat dinar. (H.R. Al-Jamaah). Dari ayat dan hadits di atas, jelaslah bahwa apabila nilai barang yang dicuri kurang dari seperempat dinar, maka si pencuri tidak dijatuhi hukuman potong tangan. c. Mentakhshish As-Sunnah dengan Al-Quran. Misalnya hadits Nabi SAW yang berbunyi: . Allah tidak menerima shalat salah seorang dari kamu bila ia berhadats sampai ia berwudhu. (Muttafaq Alayh). Hadits di atas kemudian ditakhshish oleh firman Allah dalam Al-Maidah ayat 6: dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih). (Al-Maidah:6). Keumuman hadits di atas tentang keharusan berwudhu bagi setiap orang yang akan shalat, ditakhshish dengan tayammum bagi orang yang tidak mendapatkan air, sebagaimana firman Allah di atas. d. Mentakhshish As-Sunnah dengan As-Sunnah. Misalnya hadits Nabi SAW: . Pada tanaman yang disirami oleh air hujan, zakatnya sepersepuluh. (Muttafaq Alayh). Keumuman hadits di atas tidak dibatasi dengan jumlah hasil panennya. Kemudian hadits itu ditaksis oleh hadits lain yang berbunyi: . Tidak ada kewajiban zakat pada taanaman yang banyaknya kurang dari 5 watsaq (1000 kilogram). (Muttafaq Alayh). Dari kedua hadits di atas jelaslah bahwa tidak semua tanaman wajib dizakati, kecuali yang sudah mencapai lima watsaq. e. Mentakhsish Al-Quran dengan Ijma. Contohnya: apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.(Al-Jumah:9). Menurut ayat tersebut, kewajiban shalaat Jumat berlaku bagi semua orang. Tapi para ulama telah sepakat (ijma) bahwa kaum wanita, budak dan anak-anak tidak wajib shalat Jumat. f. Mentakhshish Al-Quran dengan qiyas. Misalnya:

Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera. (An-Nur:2). Keumuman ayat di atas ditakhshish oleh An-Nisa ayat 25: Apabila mereka telah menjaga diri dengan kawin, kemudian mereka mengerjakan perbuatan yang keji (zina), maka atas mereka separo hukuman dari hukuman wanita-wanita merdeka yang bersuami. (An-Nisa:25). Ayat di atas menerangkan secara khusus, bahwa hukuman dera bagi pezina budak perempuan adalah saparuh dari dera yang berlaku bagi orang merdeka yang berzina. Kemudian hukuman dera bagi budak laki-laki di-qiyaskan dengan hukuman bagi budak perempuan, yaitu lima puluh kali dera. g. Mentakhshish dengan pendapat sahabat. Jumhur ulama berpendapat bahwa takhshish hadits dengan pendapat sahabat tidak diterima. Sedangkan menurut Hanafiyah dan Hanbaliyah dapat diterima jika sahabt itu yang meriwayatkan hadits yang ditakhshishnya. Misalnya: . . Barangsiapa menggantikan agamanya (dari agama Islam ke agama lain, yaitu murtad), maka bunuhlah dia. (Muttafaq Alayh). Menurut hadits tersebut, baik laki-laki maupun perempuan yang murtad hukumnya dibunuh. Tetapi Ibnu Abbas (perawi hadits tersebut) berpendapat bahwa perempuan yang murtad tidak dibunuh, hanya dipenjarakan saja. Pendapat di atas ditolak oleh Jumhur Ulama yang mengatakan bahwa perempuan yang murtad juga harus dibunuh sesuai dengan ketentuan umu hadits tersebut. Pendapat sahabat yang mentakhshish keumuman hadits di atas tidak dibenarkan karena yang menjadi pegangan kita, kata Jumhur Ulama, adalah lafadz-lafadz umum yang datang dari Nabi. Di samping itu, dimungkinkan bahwa sahabat tersebut beramal berdasarkan dugaan sendiri. E. SIMPULAN 1. Lafadz Am adalah lafadz yang bermakna umum, terhadap semua yang termasuk dalam pengertian lafadz itu dan tidak terbatas pengertiannya. 2. Lafadz Khas adalah lafadz yang menunjukkan arti tertentu, tidak meliputi arti umum. 3. Takhshish adalah menjelaskan bagian-bagian di dalam lafadz am dengan dalil lain. F. PENUTUP Meskipun kami sudah berusaha maksimal menyelesaikan makalah ini, tapi kami yakin masih banyak kesalahan dan kekurangannya. Karenanya, kritik dan saran sangat kami nantikan untuk perbaikan selanjutnya. Terima kasih. G. DAFTAR PUSTAKA Al-quran dan Terjemahannya, Mujamma Al-Malik Fahd li Thibaat al Mush-haf, Madinah al Munawwarah, 1994. Jazuli, A, Ushul Fiqh (Metodologi Hukum Islam), Jakarta, PT. Raja Grafido Persada, 2000. Rifai, Moh, Ushul Fiqh,Jakarta, PT.Al-Maarif, 1979. Satria Effendi, Prof.Dr.H, M.Zein, Ushul Fiqh, Jakarta, Prenada Media, 2005.

Suka Be the first to like this post. Ditulis dalam Ushul Fiqh http://kcpkiainws.wordpress.com/2009/06/05/lafadz-%E2%80%98am-danlafadz-khas/