Anda di halaman 1dari 7

Makalah avian influenza (H5N1)

Posting Oleh: Adnan Agnesa Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook BAB I PENDAHULUAN Akhir-akhir ini, dunia kembali dikejutkan dengan terjadinya wabah flu tipe A/H5N1 dan H1N1. Kasus infeksi H5N1 pada manusia pertama kali terjadi di Hong Kong, China pada tahun 1997 mengakibatkan 18 orang positif terinfeksi dengan 6 orang meninggal dan kemudian menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia (Braunwald, dkk; 2003). Burung-burung yang bermigrasi merupakan hospes reservoir utama dalam penyebaran H5N1 keseluruh dunia. Burung-burung tersebut akan singgah pada sebuah daerah dan menginfeksi unggas-unggas domestik di daerah tersebut. Beberapa unggas tidak menununjukkan gejala terinfeksi H5N1 walaupun dia sebenarnya telah terinfeksi. Bebek domestik merupakan salah satu contoh unggas yang tidak menunjukkan gejala meskipun ia telah terinfeksi H5N1. Hal ini semakin menambah tingginya risiko manusia untuk terjangkit H5N1, (WHO, 2005). WHO pada bulan November 2004 menyatakan bahwa pada serbuan pertama pandemi wabah H5N1 ini sebagian besar negara berkembang tidak bisa mengakses vaksin sehingga pandemi diperkirakan akan menyebar dan meluas dengan cepat. Pandemi adalah sebuah kejadian luar biasa yang efeknya mampu berpengaruh pada semua sektor kehidupan termasuk sektor sosial dan ekonomi. Oleh karena itu, sebuah langkah penanganan dan pencegahan yang tepat sangat diperlukan terkait ancaman pandemi virus mematikan H5N1 yang terjadi saat ini, (WHO, 2005). BAB II PERMASALAHAN Kejadian infeksi avian influenza (H5N1) di Asia Tenggara secara terus-menerus terjadi dan menimbulkan angka kesakitan yang tinggi meskipun bisa dikatakan bahwa dalam pandemi di 2004 dan 2005 jarang terjadi infeksi pada manusia. Angka kesakitan terbesar terjadi di Vietnam, sementara kematian pertama penderita H5N1 terjadi di Indonesia pada pandemi periode ini. Perkembangan yang terjadi saat ini, persebaran virus H5N1 telah mencapai Kazakstan, Mongolia, dan Rusia yang berarti bahwa semakin banyak populasi yang berisiko, (John, dkk; 2005). Disebutkan dalam jurnal Update on Avian Influenza A (H5N1) VirusInfection in Humans (2008) yang diterbitkan oleh NEJM, sejak tahun 2005 angka kesakitan terhadap avian influenza terus meningkat. Laporan kasus yang diterima WHO sampai 14 Desember 2005 terdapat sebanyak 340 kasus. Pasien dengan infeksi H5N1 kira-kira rata-rata usianya adalah 18 tahun, dengan 90% pasien berusia 40 tahun atau lebih muda, dan dewasa tua telah terhitung, (AbdelNasser, dkk; 2008). Masih dari jurnal Update on Avian Influenza A (H5N1) VirusInfection in Humans, angka kematian akibat infeksi H5N1 adalah sebesar 61% . Kematian tertinggi terjadi pada penderita usia 10 19 tahun, sementara itu, kematian terendah terjadi pada usia 50 tahun ke atas. Kondisi kekebalan tubuh, perbedaan paparan yang terjadi, atau faktor-faktor lain mungkin merupakan faktor penyebab mengapa angka kematian pada usia dewasa tua relatif rendah. Sebuah data menunjukkan bahwa dari 6 wanita hamil yang terinfeksi H5N1, 4 diantaranya meninggal dan 2 sisanya yang mampu bertahan hidup mengalami abortus, (Abdel-Nasser, dkk; 2008). WHO belum bisa menghitung dan mendapatkan angka kematian kasar (CFR) secara akurat untuk kasus infeksi H5N1 sampai saat ini. Hal ini dikarenakan laporan-laporan yang masuk ke

WHO dipastikan belum merupakan laporan seluruhnya. Artinya, belum seluruh kasus infeksi H5N1 di seluruh dunia terlaporkan. Hal ini salah satunya dikarenakan sistem surveilens yang ada di negara-negara berkembang dan tertinggal belum baik. Selain itu, semua kasus yang dilaporkan WHO juga belum tentu kesemuanya adalah kasus infeksi positif H5N1. Kasus suspect dan oportunity juga turut dilapokan sebagai kasus, padahal belum tentu kasus tersebut adalah H5N1. Hal ini dikarenakan proses diagnosis laboraturium untuk kasus H5N1 tergolong mahal, sehingga tidak semua kasus mendapat uji laboraturium, (WHO, 2005) BAB III TINJAUAN PUSTAKA A. Keluhan dan Gejala 1. Perubahan Patologis, (John, dkk; 2005) Virus H5N1 akan menyerang reseptor alpha 2,3 dan alpha 2,6 sialic acid pada sel host ketika pertama kali virus masuk ke dalam tubuh host. Empat sampai enam hari setelah virus memasuki tubuh host, RNA akan bereplikasi. RNA virus tersebut bisa terdeteksi dalam darah, cairan cerebrospinal, dan feces. Pada saat itu sudah dapat dipastikan bahwa host telah terinfeksi H5N1 positif. Kesakitan paru tingkat berat akan menyerang tubuh host sebagai manifestasi tahap pertama. Kesakitan paru tersebut diakibatkan terjadinya perubahan histopatologi pada alveolus sehingga berakibat terjadinya kerusakan difusi alveolus. Perubahan difusi alveolus terjadi karena terisinya rongga-rongga alveolus dengan vibrinous eksudat dan sel merah, perubahan formasi membrane hialin, kongesti vaskuler, masuknya limfosit kedalam area interstitial, dan terjadinya proliferasi akibat reaktifasi fibroblast. Selanjutnya, manifastasi tahap kedua muncul, yaitu ditandai dengan terjadinya pneumonia. Ini adalah stadium yang sangat berbahaya dan sangat rentan terjadi kematian. 2. Inkubasi (John, dkk; 2005) Masa inkubasi penderita avian influenza bisa di katakan lebih lama dari pada infeksi virus flu biasa. Inkubasi bisa berlangsung selama 2 sampai 4 hari, bahkan ada yang berlangsung 8-17 hari. 3. Gejala klinis Kebanyakan pasien H5N1 mempunyai gejala khusus yaitu demam tinggi (temperatur permukaan mencapai lebih dari 38 C). Tidak seperti pasien dengan infeksi influenza A (H7), pasien infeksi H5N1 jarang menunjukkan gejal conjungtivities. Diare, vomiting, sakit perut, sakit pada pleura dan perdarahan pada hidung dan gusi juga beberapa kali dilaporkan terjadi pada pasien dengan infeksi tahap awal. Diare parah (sampai yang keluar berupa air namun tanpa darah) atau perubahan inflamatory sering muncul pada infeksi H5N1 dan bahkan gejala tersebut muncul terlebih dahulu (sekitar 1 minggu) dari pada gejala/manifestasi klinis pada pernapasan. Suatu laporan juga ada yang menyebutkan bahwa ada 2 orang pasien yang menunjukkan gejala enchepalopati dan diare tanpa memperlihatkan gejala gangguan pernapasan yang jelas, (John, dkk; 2005). Sementara itu, dikutip dari Wikipedia (2010), Hemagglutinin yang terdapat pada virus avian influenza akan menyerang reseptor 2-3 sialic acid pada manusia sehingga terjadi penurunan fungsi sistem pernafasan dan mengakibatkan viral pneumonia. Seperti pada infeksi virus influenza tipe A yang lain, infeksi virus H5N1 akan menimbulkan gejala seperti demam, batuk, sakit tenggorokan, pegal-pegal pada otot, conjungtivitis, dan pada beberapa kasus terjadi pula keluhan saat bernapas dan pneumonia yang dapat berakibat fatal. Gejala yang timbul tergantung pada bagaimana status imun seseorang dan riwayat penyakitnya. Belum ada gejala khusus dari infeksi H5N1 sendiri. Masihdari Wikipedia, pada sebuah kasus infeksi H5N1 pada seorang anak-anak pernah

ditemukan gejala diare sehingga menyebabkan dirinya koma. H5N1 juga menyebabkan kenaikan cytokinin yang lebih tinggi dibanding virus flu pada umumnya sehingga mampu menyebabkan terjadinya badai cytokinin. Artinya, H5N1 akan menyebabkan kenaikan tumor necrosis factor alpha yaitu sebuah protein yang akan menyebabkan terjadinya pengrusakan jaringan pada tempat terjadinya infeksi sehingga terjadi kenaikan produksi cytokinin. Kenaikan level cytokinin dalam tubuh akan menyebabkan timbulnya gejala demam, kedinginan, muntah, dan sakit kepala, (Anonim, 2010). B. Pemeriksaan Penunjang Diagnostik PemeriksaanLaboraturium, (Abdel-Nasser, dkk; 2008). Metode terbaik untuk mendiagnosis keberadaan H5N1 dalam tubuh adalah dengan mendeteksi RNA virus dengan means conventional atau reaksi sewaktu transkip rantai polymerase. Uji tersebut akan menunjukkan hasil pada 4 sampai 6 jam. Spesimen yang digunakan untuk melakukan uji diagnosis kebanyakan adalah sputum, karena tingginya kandungan virus influenza A pada sputum tersebut. Namun, untuk diagnosis pada manusia bisa digunakan spesimen ingus. Jika tersedia, pada cairan dari trakea bisa didapatkan titer virus yang lebih tinggi dibandingkan pada spesimen bidang respirasi atas. Hasil negatif pada satu spesimen yang didapat dari sistem pernapasan belum berarti tidak terjadi infeksi H5N1. Deteksi RNA virus influenza A (H5N1) pada faces atau darah mungkin bisa menyediakan informasi prognosis, tapi tes menggunakan faces dan darah sensitifitasnya lebih rendah dari pada tes menggunakan spesimen yang didapat pada sistem pernapasan. Tes cepat yang diperjual belikan untuk deteksi antigen-influenza untuk mendeteksi virus influenza A (H5N1) diketahui tingkat sensitifitasnya sangat lemah. Salain itu, kelemahan lain dari tes deteksi antigen-influenza ini adalah tidak bisa membedakan virus A influenza sub tipe pada manusia dan unggas. Deteksi antibodi anti-H5N1 sangat diperlukan untuk investigasi epidemiologi dan memungkinkan untuk menyediakan diagnosis retrospektif pada pasien. Serokonversi (perubahan serologi dalam tubuh) umumnya terjadi 2-3 minggu setelah infeksi. Mikroneutralization assays adalah metode paling dapat diterima untuk mendeteksi antibodi untuk virus yang bersal dari unggas, tapi tes ini membutuhkan fasilitas lab-intensif dan biosafety level 3, serta tempat isolasi khusus untuk virus influenza A. C. Etiologi, (Anonim, 2010) Flu burung atau avian influenza adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus H5N1 yang merupakan subtipe dari virus influenza (flu) tipe A. Avian influenza sendiri sebenarnya bisa dibagi lagi ke dalam beberapa subtipe, misalnya subtipe yang paling patogen adalah H5N1, H7N3, H7N7, dan H9N2, namun virus flu burung yang umumnya dikenal dan yang sedang hangat-hangatnya diperbincangkan karena infeksinya yang menyebar luas hampir ke seluruh dunia adalah H5N1. Virus H5N1 merupakan jenis virus dengan struktur genetik RNA. Virus H5N1 telah banyak melakukan mutasi genetik yang menghasilkan belasan virus patogenik tinggi. Namun, kesemuanya itu termasuk ke dalam genotif Z virus avian influenza termasuk pada virus H5N1 yang menyerang manusia. H5N1 berarti subtipe dari permukaan antigen yang tampak pada virus, yaitu hemagglutinin tipe 5 dan neuraminidase tipe 1. Genotif Z merupakan genotif yang dominan pada H5N1. Genotif Z endemik pada burung-burung di wilayah asia tenggara dan menunjukkan ancaman pandemik yang berkepanjangan. Virus influenza tipe A memiliki 10 gen dengan 8 pembagian molekul RNA yaitu: a. PB 2 (polimerase basic 1) b. PB1 (polimerase basic 2) c. PA (polimerase acidic)

d. HA (hemagglutin) e. NP (nukcleoprotein) f. NA (neuraminidase) g. M1 dan M2 (matrix) h. NS1 dan NS2 (non-structural) RNA yang terpenting ada 2, yaitu HA dan PB1. HA memproduksi antigen pada permukaan yang berperan pada proses transmisi virus. Sementara iru, PB1 memproduksi molekul viral polimerase yang merupakan penentu derajat virulensi virus. Molekul RNA HA berisi gen HA bertugas mengkode hemagglutinin. Hemagglutinin adalah antigenik glikoprotein yang ditemukan pada pemukaan virus influenza. Hemagglutinin juga merupakan molekul yang akan mengikat virus pada sel ketika virus menginfeksi sel dengan cara mengaitkan diri. PB1 betugas untuk mengkode PB1 protein dan PB1-F2. PB1 protein sangat dibutuhkan pada viral polimerase. Sementara itu, PB-F2 berkontribusi dalam penetuan derajat petogenik virus karena ia mengkode jalan alternatif untuk membuka bingkai PB RNA dan akan berinteraksi dengan 2 komponen pada pori-pori membran permiabilitas mitokondria. Sampai dengan saat ini jarang sekali ditemukan kasus infeksi H5N1 dari manusia ke manusia.Sampai dengan tahun 2006 WHO memperkirakan hanya 2 sampai 3 kasus infeksi H5N1 dari manusia ke manusia. Manusia yang terinfeksi H5N1 umumnya karena ia melakukan kontak langsung secara ekstensif dengan unggas yang terinfeksi. Kasus infeksi H5N1 dari manusia ke manusia pernah terjadi di Sumatra yang dilaporkan pada bulan Juni 2006. Kasus tersebut terjadi pada satu keluarga yang salah satu anggota keluarnya terjangkit H5N1 kemudian setelah itu anggota keluarga lain dilaporkan terjangkit pula. Namun, kasus tersebut sangat jarang terjadi dan belum bisa dipastikan bahwa H5N1 tersebut menyebar dari manusia ke manusia. Virus H5N1, seperti virus flu pada umumnya, sangatlah mudah bermutasi atau berevolusi. Jika virus H5N1 menginfeksi manusia, maka kemungkinan terjadinya pertukaran genetik antara gen virus dengan gen manusia selama co infeksi sangatlah mungkin terjadi dan secara berangsurangsur akan terjadi mutasi adaptif dari virus sehingga membentuk cluster kecil virus jenis ini. Hal ini akan sangat berbahaya sebab kemungkinan terjadinya infeksi dari manusia ke manusia akan semakin besar kemungkinanya untuk terjadi. D. Cara Pencegahan Dikutipdari Wikipedia (2010) Pencegahan infeksi virus H5N1 dapat dilakukan dengan memberi vaksin. Namun, vaksin yang tersedia sekarang belum mencukupi untuk mengatasi serangan H5N1 jika terjadi pandemi. Beberapa jenis vaksin yang tersedia sekarang adalah ACAM-FLU-A, fluzone, influvac live attenuated (flumist), dan optaflu. Masih dari Wikipedia, selain dengan pemberian vaksin, pencegahan terhadap infeksi H5N1 juga dapat dilakukan dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS). PHBS merupakan cara yang paling murah untuk mencagah terjadinya penularan H5N1. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir setelah memegang unggas dan sebelum makan, menggunakan sarum tangan saat memegang unggas, menggunakan masker saat memasuki kandang unggas, dan memasak daging unggas sampai matang (<80C) merupakan contoh pola hidup bersih dan sehat yang bisa diterapkan unutk mencegah terjadinya penularan H5N1, (Anonim, 2010). Jurnal Update on Avian Influenza A (H5N1) Virus Infection in Humans juga mengatakan hal yang sama dengan Wikipedia. Dikutip dari jurnal tersebut, dikatakan bahwa virus avian influenza (H5N1) akan menjadi tidak aktif jika terkena agen kimia seperti sabun, deterjen, alcohol, dan klorinasi. Selain itu, paparan kondisi fisik seperti pemanasan dengan suhu di atas 80 juga akan mendenaturasi virus. Jurnal tersebut juga merekomendasikan beberapacara pencegahan lain untuk avian influenza, yaitu:

1. Penggunaan antiviral chemoprophylaxis Orang yang telah terpapar virus H5N1 bisa diberikan antiviral ini sebagai upaya pencegahan menyebarnya virus H5N1 dalam tubuh. 2. Imunisasi Vaksin untuk menonaktifkan H5 telah berhasil dikembangkan.H5 hemagglutinin merupakan unsur yang ada dalam tubuh virus yang mempunyai kemampuan untuk melemahkan imunogen manusia. Vaksin bersifat terbatas, artinya seseorang yang telah mendapatkan vaksin ini tidak selamanya aman dan bebas dari virus H5N1.Hal ini dikarenakan virus ini sangat mudah bermutasi. Vaksin ini juga belum dijual secara bebas. Selain itu, masih banyak kelemahan yang ada pada vaksin ini. Salah satu kelemahan dari vaksin ini adalah dosis yang dibutuhkan untuk merespon terbentuknya antibodi dalam tubuh sangat tinggi, yaitu membutuhkan 2 dosis tinggi antigen hemagglutinin, (Abdel-Nasser, dkk; 2008). E. Cara Pengobatan (Anonim, 2010) Sampai saat ini belum ada treatment atau pengobatan yang memliki efektifitas tinggi untuk kasus infeksi H5N1, namun oseltamivir (dengan nama dagang tamiflu) dapat digunakan untuk menghambat penyebaran virus H5N1 pada penderita infeksi virus tersebut. Pengadaan obat tersebut menjadi fokus utama di beberapa negara dan organisasi yang bergerak dibidang kesehatan untuk mempersiapkan dan mencegah terjadinya pendemi. Selain itu, berdasar penelitian pada binatang dan laboraturium didapat rekomendasi obat lagi yaitu Relenza (zanamivir) yang dimungkinkan juga efektif untuk melawan H5N1. Penelitian pada tikus putih menunjukkan bahwa zanamivir yang dikombinasikan penggunaannya dengan celecoxib dan masalazine mampu menunjukkan 50% angka harapan hidup. Rekomendasi kedua ini muncul didasarkan pada kasus resistensi H5N1 terhadap tamiflu di EU. F. Prognosis BerdasarjurnalAvian Influenza A (H5N1) Infection in Humans, prognosis dari infeksi H5N1 tergolong buruk. Berdasarkan data yang di dapat, angka kematian di Thailand sebesar 89% dan banyak terjadi pada anak-anak yang berumur dibawah 15 tahun. Kematian rata-rata terjadi anatara 9-10 hari setelah penyakit muncul (rentan 6-30 hari) dan kebanyakan pasien meninggal karena kegagalan sistem pernafasan, (John, dkk; 2005). Sumber lain (Wikipedia) juga mengatakan prognosis dari kasus infeksi H5N1 tergolong buruk, sebab dari kasus yang telah terjadi pada tahun 2008, angka kematian akibat infeksi H5N1 adalah sebesar 63,27%. Angka kematian yang cukup tinggi untuk sebuah penyakit infeksi. Sampai sekarangpun perkiraan case mortality rate menurut WHO untuk kasus ini masih tinggi, yaitu sebesar 60%, (Anonim, 2010). BAB IV PENUTUP Flu burung atau avian influenza adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus H5N1 yang merupakan subtipe dari virus influenza (flu) tipe A. Kasus infeksi H5N1 pada manusia pertama kali terjadi di Hong Kong, China pada tahun 1997 mengakibatkan 18 orang positif terinfeksi dengan 6 orang meninggal dan kemudian menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Burung-burung yang bermigrasi merupakan hospes reservoir utama dalam penyebaran H5N1 keseluruh dunia. sehingga Pandemi diperkirakan akan menyebar dan meluas dengan cepat. Sejak tahun 2005 angka kesakitan terhadap avian influenza terus meningkat. Laporan kasus yang diterima WHO sampai 14 Desember 2005 terdapat sebanyak 340 kasus dengan rata-rata penderita berusia 18 tahun.Sementara itu, angka kematian akibat infeksi H5N1 adalah sebesar

61%. Kematian tertinggi terjadi pada penderita usia 10 19 tahun, sementara itu, kematian terendah terjadi pada usia 50 tahun ke atas.WHO belum bisa menghitung dan mendapatkan angka kematian kasar (CFR) secara akurat untuk kasus infeksi H5N1 karena laporan-laporan yang masuk ke WHO dipastikan belum merupakan laporan seluruhnya. Virus H5N1 akan menyerang reseptor alpha 2,3 dan alpha 2,6 asam sialic pada sel host. Empat sampai enam hari setelah virus memasuki tubuh host, RNA akan bereplikasi dan dapat ditemukan pada faces, cairan cerebrospinal dan darah. Kesakitan paru tingkat berat akan menyerang tubuh host sebagai manifestasi tahap pertama. Selanjutnya, manifastasi tahap kedua muncul, yaitu ditandai dengan terjadinya pneumonia.Inkubasi bisa berlangsung selama 2 sampai 4 hari, dan ada yang berlangsung 8-17 hari. Gejala khusus yang muncul yaitu demam tinggi (temperatur permukaan mencapai lebih dari 38 C). Diare, vomiting, sakit perut, sakit pada pleura dan perdarahan pada hidung dan gusi juga beberapa kali dilaporkan terjadi pada pasien dengan infeksi tahap awal.infeksi virus H5N1 pada beberapa kasus juga menimbulkan gejala seperti demam, batuk, sakit tenggorokan, pegalpegal pada otot, conjungtivitis, kedinginan, muntah, sakit kepala, keluhan saat bernapas dan pneumonia. Metode yang bisa digunakan untuk mendiagnosis keberadaan H5N1 dalam tubuh adalah dengan mendeteksi RNA virus dengan means conventional atau reaksi sewaktu transkip rantai polymerase dan tes serologi. Spesimen yang bisa digunakan untuk melakukan uji diagnosis adalah sputum, darah, faces, dan ingus. Pencegahan infeksi virus H5N1 dapat dilakukan dengan memberi vaksin seperti ACAM-FLUA, fluzone, influvac live attenuated (flumist), dan optaflu; melakukan PHBS, Penggunaan antiviral chemoprophylaxis. Sampai saat ini belum ada treatment atau pengobatan yang memliki efektifitas tinggi untuk kasus infeksi H5N1. Oseltamivir (dengan nama dagang tamiflu) dan Relenza (zanamivir) hanya dapat digunakan untuk menghambat penyebaran virus H5N1. Prognosis dari infeksi H5N1 tergolong buruk, terbukti angka kematian di Thailand sebesar 89%, dan angka kematian di dunia menurut WHO mencapai 60%.

DAFTAR PUSTAKA Abdel-Ghafar, Abdel-Ghafar, dkk. 2008. Update on Influenza A (H5N1) Virus Infection in Humans. The New England Journal of Medicine; N Engl Med 2008;358:261-73. Diakses tanggal 7 Maret 2010 Anonim. 2010. Avian Influenza. http://wikipedia.org. Diakses tanggal 2 Maret 2010 2010. H5N1 Genetic Structure. http://wikipedia.org. Diakses tanggal 2 Maret 2010 2010. Human Mortality from H5N1. http://wikipedia.org. Diakses tanggal 2 Maret 2010 2010. Influenza A Virus Subtype H5N1. http://wikipedia.org. Diakses tanggal 2 Maret 2010 2010. Influenza Pandemic. http://wikipedia.org. Diakses tanggal 2 Maret 2010 2010. Transmission and Infection of H5N1. http://wikipedia.org. Diakses tanggal 2 Maret 2010 Biegel, H. John, dkk. 2005. Avian Influenza A (H5N1) Infection in Humans. The New England Journal of Medicine; N Engl Med 2005;353:1374-85. Diakses tanggal 7 Maret 2010 Braunwald, dkk. 2003. Harrissons 15th edition; Principles of Internal Medicine volume I. The Mc Graw-Hill Comparies, Inc. New Delhi, India

WHO. 2005. Responding to The Avian Influenza Pandemic Threat; Recomended Strategic Action. WHO/CDS/CSR/GIP/2005.8. Diakses tanggal 7 Maret 2010