Anda di halaman 1dari 8

M. K.

Sosiologi Umum

Hari/Tanggal : Selasa/20 Desember 2011 Praktikum ke-14

LAPORAN FIELD TRIP

POLA ADAPTASI EKOLOGI

Nama/NRP/Kelas : Claudia Andriani Pramono/H14110072/R2 Nama Asisten/NRP : Sri Wulan Fatmawati/H14090073 Astri Sabrina Qhoirunisa/H34090065

Mata Kuliah Sosiologi Umum Direktorat Kemahasiswaan TPB IPB T. A. 2011/201

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Ekologi merupakan ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungan hidupnya baik bersifat hidup (biotik) maupun tak hidup (abiotik) sehingga terbentuk suatu jaringjaring sistem kehidupan pada berbagai tingkatan organisasi. Sistem jaringan kehidupan ini diterapkan di setiap aras sistem, seperti sistem sel membangun jaring kehidupan tertentu sehingga terbentuk sistem organ. Berbagai sistem organ selanjutnya membentuk jaring kehidupan baru yang dikenal sebagai sistem organisme. Berbagai jaring organisme ini selanjutnya berkembang menjadi sistem populasi, yang kemudian berkembang lagi menjadi sistem ekologi atau ekosistem. ICDF atau International Cooperation and Development Fund merupakan bukti nyata bagaimana manusia mengelola lingkungan sekitarnya sehingga terjadi hidup yang berkesinambungan. ICDF adalah organisasi non pemerintah yang didirikan oleh Taiwan dan bekerjasama dengan IPB dan para petani Bogor. Walaupun bergerak di bidang bisnis, ICDF tetap mengutamakan faktor ekologi lingkungan. Hal inilah yang membuat kelompok kami, yaitu R2, mengadakan field trip di ICDF.

1.2 Tujuan y Mempelajari lebih dalam lagi mengenai pola adaptasi ekologi y Mengetahui ekologi di lingkungan sekitar y Mengamati secara langsung bagaimana pola adaptasi itu terjadi y Mengetahui manfaat ekologi didalam kehidupan

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Kegiatan Ketika sampai di ICDF, kami disambut oleh Pak Trisna. Beliau kemudian mengajak kami berjalan-jalan mengelilingi ICDF. Pertama-tama kami diajak ke ruang packing. Didalam ruang tersebut terdapat para pekerja yang sedang mengepak buah-buah serta sayuran segar. Tidak hanya itu, terdapat pula ruang pendingin yang berguna sebagai tempat penyimpanan buah dan sayur. Setelah itu, kami diajak melihat danau disekitar ICDF yang cukup luas. Lalu kami sampai pada tempat pembibitan/green house. Terdapat banyak sekali bibit yang hendak ditanam ataupun yang sudah ditanam. Mereka dirawat secara intensif disini agar kelak dapat tumbuh dengan baik sampai matang. Selanjutnya kami diajak Pak Trisna melihat kumpulan pohon bintaro yang terletak di sekitar green house. Pohon tersebut ditanam dengan tujuan agar mengusir hama seperti tikus. Akhirnya kami diajak ke ruang diskusi. Disini kami mendiskusikan hal-hal apa saja yang telah kami lihat dan kaitannya dengan bab ekologi. Selain itu kami juga mendapat informasi yang jelas dari Pak Trisna mengenai ICDF. ICDF termasuk salah satu kebun percobaan di daerah Desa Cikarang. Kebun ini memiliki 3 fungsi, yaitu: pusat pengembangan, pendampingan petani (dari masa produksi sampai pemasaran), dan pembibitan. Lahan seluas 6 hektar ini ditanami tanaman hias, sayursayuran, buah-buahan, dan tanaman rempah. Terdapat pula sayuran organik dan non-organik. Buah yang sedang laku di pasaran saat ini, yang terdapat di ICDF, adalah buah pepaya, srikaya, dan jambu kristal. Semua hasil pertanian dari ICDF dipasarkan khusus di daerah Jabodetabek saja, mengingat kualitas buah dan sayur yang memiliki batas waktu. Sumber pengairan yang ada di ICDF terdiri dari dua, yaitu dari air tanah dan selokan. Sementara media tanam yang dipakai untuk pembibitan adalah campuran pasir, kompos, dan pupuk kandang. ICDF sendiri memiliki strategi pemasaran upper level market. Dengan adanya ICDF, petani yang menjadi member akan mendapatkan keuntungan lebih dan pengetahuan tentang pertanian semakin mendalam. Selain itu, lapangan pekerjaan bagi mereka yang tinggal disekitar ICDF semakin luas, karena banyak pekerja ICDF yang merupakan warga sekitar kebun. Bagi IPB, keberadaan ICDF dapat lebih mendekatkan petani dengan IPB.

2.2 Analisis singkat ICDF adaah salah satu contoh organisasi non pemerintah yang memperhatikan faktor lingkungan. SOP organisasi yang mengutamakan ekologi lingkungan, membuat kebun ICDF kaya akan unsur biotik dan abiotik. - Unsur biotik : tanaman-tanaman seperti buah, sayur, tanaman hias, dll. Selain itu terdapat hewan seperti ayam, ikan, burung, dll. - Unsur abiotik : tanah, air, udara, green house, ruang packing, dll. Peranan manusia, selaku unsur biotik, sangat diperlukan dalam hal ini agar tercapai kearifan lokal. ICDF terbukti telah mencapai kearifan lokal. Hal ini dibuktikan dengan penggunaan bahan-bahan organik yang ramah lingkungan dalam pengelolaan tanaman.

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan Dewasa ini, kerusakan ekologi yang semakin parah tidak dapat kita pungkiri lagi. Perlu adanya kesadaran dari setiap insan di bumi agar bersama-sama menjaga lingkungan, sehingga kerusakan ini dapat ditanggulangi. Kehadiran ICDF ini sangat bagus dan patut ditiru oleh organisasi/perusahaan lainnya. Walaupun berbasis bisnis, ICDF mampu mencapai kearifan lokal dengan menjaga ekosistem kebunnya. Bila seluruh perusahaan (terutama pabrik industri) dapat menerapkan sistem seperti ICDF, maka dapat dipastikan kerusakan-kerusakan ekologi mampu diminimalisir.

3.2 Saran Tidak perlu menunggu perusahaan-perusahaan lain bersikap seperti ICDF, kita pun dapat turut meminimalisir kerusakan ekologi melalui hal-hal kecil seperti hemat air dan listrik, buang sampah pada tempatnya, aktif dalam penghijauan, dll. Adapun saran untuk ICDF adalah mohon sekiranya konsep berbisnis seperti ini dikembangkan lebih luas agar dapat menjadi contoh buat yang lainnya. Selain itu, mohon akses menuju ICDF diperbagus dan diperlebar agar orang nyaman untuk berkunjung.

LAMPIRAN