Anda di halaman 1dari 6

Seleksi Benih Tanah Kering melalui Uji cekaman

Seleksi Benih Tanah Kering melalui Uji cekaman LAPORAN PRAKTIKUM

Diajukan sebagai syarat untuk memenuhi tugas Praktikum Pembiakan Tanaman Pada Program Studi Agroteknologi/Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Jember

Oleh: Erinus Mosip NIM : 081510501047

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS JEMBER 2009 BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Benih dimaksudkan sebagai biji tanaman yang dipergunakan untuk tujuan peneneman. biji merupakan suatu bentuk tanaman mini (embrio) yang masih dalam keadaan perkembangan yang terkekang. Umur simpan benih dipengaruhi oleh sifat benih, kopndisi lingkungan dan perlakuan manusia. sedang daya simpan individu benih dipengaruhi oleh beberapa faktor sifat dan kondisi, yaitu pengaruh cekaman biotik dan abiotik, cekaman biotik yaitu: sebagai dampak negativ dari faktor-faktor tumbuhan biologis pada organisme di lingkungan tertentu. sedangkan cekaman abiotik adalah sebagai dampak negativ dari faktor-faktor non hidup yang tidak menguntungkan dan yang berpenagruh buruk pada tanaman budidaya. sejak dahulu manusia telah mengetahui, bahwa benih dari kondisi penyimpanan tertentu dibandingkan dengan spesies lainya (Oren, 1990) Usaha memperbanyaka tanaman dengan biji / benih sering mengalami banyak hambatan , walaupun benih di kecambahakan pada kondisi lingkungan yang sesuai. Suatu benih dikatakan dorman apabila benih itu sebenarnya viable (hidup) tetapi tidak berkecambah walaupun diletakan pada keadaan lingkungan yang memenuhi syarat bagi perkecambahannya . periode dormansi ini dapat mencapai musiman atau menjapai tahunan tergantung pada jenis tanaman dan tipe dormansinya . Dormansi dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain : impermeabilitas, kulit biji baik terhadap air atau gas, ataupun karena resistensi kulit biji terhadap pengaruh mekanis, embrio yang rudimenter after repening dormansi sekunder dan bahan-bahan penghambat perkecambahan.

Tetapi dengan perlakuan khusus maka benih yang dorman dapat dirancang untuk brkecambah. (Lita Sutopo 1984). Dormansi pada benih dapat dipecahkan dengan merendam benih dalam air selama 48 jam dan bahan kimia etilen khlorida 0,1% atau natrium hipoklorit 0,25%, perendaman baik dalam air maupun dalam larutan kimia bertujuan untuk menghilangkan senyawa yang menyebabkan terjadinya dormansi Cekaman kekeringan pada tanaman disebabkan oleh kekurangan suplai air di daerah perakaran dan permintaan air yang berlebihan oleh daun dalam kondisi laju evapotranspirasi melaui laju absorbsi air oleh akar tanaman. serapan air oleh tanaman dipengaruhi oleh laju transpirasi system perakaran dan ketersediaan air tanah. Respon tanaman terhadap stress air ditentukan oleh tingkat stress dan fase pertumbuhan tanaman saat cekaman. respon tanaman yang mengalami kekeringan mencakup perubahan di tingkat selular dan molekuler seperti pertumbuhan tanaman, volume sel menjadi lebih kecil, penurunan luas daun daun menjadi tebal, adanya rambut pada daun, sensitivitas stomata, penurunan laju Fotosintesis, perubahan metabolisme carbonb dan nitrogen, perubahan produktivitas enzim dan hormone. 1.2 Permasalahan Berdasarkan latar belakang di atas dapat merumuskan masalah sebagai berikut : 1. bagaimana cara menyeleksi benih yang tahan terhadap kekeringan ? 2. bagaimana prinsip adaptasi benih terhadap lingkungan yang kering? dan 3. bagaimana hasil dari tanaman yang diseleksi tersebut setelah diperlakukan. 1.3 Tujuan Praktikum Adapun tujuan dari praktikum ini yaitu untuk melatih mahasiswa agar dapat melakukan uji ketahanan benih terhadap kekeringan dengan mengatur konsentrasi PEG6000 pada air yang disiramkan. 1.4 Manfaat manfaat praktikum ini adalah mahasiswa mengetahui bagaimana cara uji ketahanan benih terhadap cekaman akibat kekeringan BAB II. TINJAUAN PUSTAKA Faktor-faktor cekaman secara garis besar dibedakan atas dua yaitu cekaman biotik dan abiotik, cekaman biotik yaitu: sebagai dampak negativ dari faktor-faktor tumbuhan biologis pada organisme di lingkungan tertentu. sedangkan cekaman abiotik adalah sebagai dampak negativ dari faktor-faktor non hidup yang tidak menguntungkan dan yang berpenagruh buruk pada tanaman budidaya. beberapa contoh cekaman biotik yaitu : HPT, virus, Jamur, dan gulma sedangkan contoh cekaman abiotik yaitu: cahaya, curah hujan, ph tanah, musim hujan atau kemarau dan suhu (WahJu dan Asep,1990). Benih tanaman mempunyai kemampuan berkecambah pada kisaran air tanah tersedia mulai dari kapasitas lapangan sampai titik layu permanent. Yang dimaksu dengan kapasitas layu lapangan dari tanah adalah jumlah air maksimum yang tertinggal setelah air permukaan terkuras dan setelah air yang keluar dari tanah karena gaya habis.sedangkan titik layu permanen adalah suatu keadaan dari kandungan air tanah dimana terjadi kelayuan pada tanaman yang tak dapat balik. (Lita Sutopo 1984) Suhu di atas 30C merupakan factor kritis, senyawa-senyawa protein cenderung lepas dan tidak dapat kembali ataupun enzim-enzim tidak berfungsi, suhu tinggi ini juga menyebabkan kondisi lingkungan kering sehingga benih tidak dapat melakukan proses metabolisme sehingga benih tidak bisa tumbuh dengan normal, maka kondisi kering ini merupakan cekaman bagi benih (Usman dan Warkoyo, 1993). Hal-hal yang telah di sampaikan di atas merupakan faktor yang mempengaruhi langsung

dalam pertumbuhan dan perkembangan benih, apabila satu dari hal-hal di atas tidak ada maka akan mempengaruhinya secar langsung (Munawir 1993). Banyak zat-zat yang diketahui dapat menghambat pertumbuhan benih antara lain : Larutan dengan tingkat osmotic tinggi , misal larutan mannitol , larutan Na CL. Bahan-bahan yang menggangu lintasan metabolisme, umumnya menghambat respirasi seperti seperti sianida, dinitrifelon, azide, fluoride, dan hydroxylamine. Herbisida, coumorarin, auxin. Temperatur merupakan suatu syarat penting yang kedua bagi perkecambahan benih. Tanaman pada umumnya dapat diklasifikasikan berdasarkan kebutuhan akan temperatur. Tanaman yang benihnya hanya bertumbuh pada temperature rendah contoh tanaman Camassia leichilini hanya tumbuh pada temperature 100C . tanaman yang benihnya hanya akan berkecambah pada temperatur yang relatif tinggi, benih dari kebanyakan tanaman tropika membutuhkan temperatur tinggi untuk perkecambahan. Tanaman jagung merupakan salah satu jenis tanaman pangan biji-bijian dari keluarga rumput-rumputan. Berasal dari Amerika yang tersebar ke Asia dan Afrika melalui kegiatan bisnis orang-orang Eropa ke Amerika. Sekitar abad ke-16 orang Portugal menyebarluaskannya ke Asia termasuk Indonesia. Orang Belanda menamakannya mais dan orang Inggris menamakannya corn. Varietas unggul mempunyai sifat: berproduksi tinggi, umur pendek, tahan serangan penyakit utama dan sifat-sifat lain yang menguntungkan. Varietas unggul ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: jagung hibrida dan varietas jagung bersari bebas. Tanaman jagung berasal dari daerah tropis yang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan di luar daerah tersebut. Jagung tidak menuntut persyaratan lingkungan yang terlalu ketat, dapat tumbuh pada berbagai macam tanah bahkan pada kondisi tanah yang agak kering. Tetapi untuk pertumbuhan optimalnya, jagung menghendaki beberapa persyaratan. Iklim yang dikehendaki oleh sebagian besar tanaman jagung adalah daerah daerah beriklim sedang hingga daerah beriklim sub-tropis/tropis yang basah. Jagung dapat tumbuh di daerah yang terletak antara 0-50 derajat LU hingga 0-40 derajat LS. Pada lahan yang tidak beririgasi, pertumbuhan tanaman ini memerlukan curah hujan ideal sekitar 85-200 mm/bulan dan harus merata. Pada fase pembungaan dan pengisian biji tanaman jagung perlu mendapatkan cukup air. Sebaiknya jagung ditanam diawal musim hujan, dan menjelang musim kemarau. Pertumbuhan tanaman jagung sangat membutuhkan sinar matahari. Tanaman jagung yang ternaungi, pertumbuhannya akan terhambat/ merana, dan memberikan hasil biji yang kurang baik bahkan tidak dapat membentuk buah. Suhu yang dikehendaki tanaman jagung antara 21-34 derajat C, akan tetapi bagi pertumbuhan tanaman yang ideal memerlukan suhu optimum antara 23-27 derajat Pada proses perkecambahan benih jagung memerlukan suhu yang cocok sekitar 30 derajat C. Saat panen jagung yang jatuh pada musim kemarau akan lebih baik daripada musim hujan, karena berpengaruh terhadap waktu pemasakan biji dan pengeringan hasil. Benih yang akan digunakan sebaiknya bermutu tinggi, baik mutu genetik, fisik maupun fisiologinya. Berasal dari varietas unggul (daya tumbuh besar, tidak tercampur benih/varietas lain, tidak mengandung kotoran, tidak tercemar hama dan penyakit). Benih yang demikian dapat diperoleh bila menggunakan benih bersertifikat. Pada umumnya benih yang dibutuhkan sangat bergantung pada kesehatan benih, kemurnian benih dan daya tumbuh benih. Kantor Deputi Menegristek Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

Tanaman jagung tumbuh optimal pada tanah yang gembur, drainase baik, dengan kelembaban tanah cukup, dan akan layu bila kelembaban tanah kurang dari 40% kapasitas lapang, atau bila batangnya terendam air. Pada dataran rendah, umur jagung berkisar antara 3-4 bulan, tetapi di dataran tinggi di atas 1000 m dpl berumur 4-5 bulan. Umur panen jagung sangat dipengaruhi oleh suhu, setiap kenaikan tinggi tempat 50 m dari permukaan laut, umur panen jagung akan mundur satu hari (Hyene 1987).

BAB III. METODEOLOGI PRAKTIKUM 3.1 Tempat dan waktu Praktikum ini dilakukan pada tanggal 28 Oktober tahun 2009, di laboratorium Benih, Jurusan Agronomi, Fakultas Pertanian Universitas Jember 3.2 .1 Bahan 1. Benih Jagung 2 varietas local dan 1 varietas Hibrida 2. air 3. PEG6000 4. Substrat kertas merang, 3.2.2 Alat terdiri dari : 1. Pinset 2. Alat pengecambah 3.3 Metode pelaksanaan Metode yang dilakukan pada acara praktikum ini adalah, Perlakukan benih pada tiga larutan dengan konsentrasi yang berbeda yaitu dengan 0g/liter, 1,50g/liter, 1,100g/liter, kemudian melakukan pengamatan pada tiga perlakuan tersebut selama 5 hari. 3.4 Pelaksanaan Praktikum 1. Membuat Larutan PEG6000, dengan konsentrasi 0g/liter, 1,50g/liter, 1,100g/liter. 2. Merendam substrat kertas merang pada larutan dengan konsentrasi yang telah dibuat hingga semua bagian kertas basah merata. 3. Menanam Benih jagung local dan hibrida pada substrat tersebut dengan metode UKDK dp sebanyak 25 butir perulangan dan diulang selama 3 kali. 3.5 Tehnik perolehan data dan evaluasi 1. Mengamati Kecambah normal dan mengamati pada hari ke-3 (3x24jam) dan ke-5 (5x24jam). 2. menghitung kekuatan tumbuh benih berdasarkan presentase kecambah normal pada hari ke-3 (3x24jam) dan pada hari ke-5 (5x24jam). 3. mengamati pulah bebeot basah dan kering dari tajuk akar pada hari ke-5 (5x24jam) bobot kering tajuk dan akar diperoleh dengan cara mengoven kecambah pada suhu 70 Oc selama dua hari, kemudian menimbang bobot kering masing-masing bagian tanaman. 4. menganalisis hasil percobaan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan membedakan 9 macam perlakuan ( tiga macam varietas dengan tiga macam konsentrasi PEG6000) dalam tiga ulangan. 5. membandingkan masing-masing kombinasi perlakuan, dan dan memberikan kesimpulan benih mana yang tahan terhadap kekeringan atau PEG6000 berdasarkan parameter yang diamati. apabila benih jagung berkecambah normal hari ke-5 lebih dari 75% dikategorikan

sebagai benih bervigor tinggi.

BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.2 Pembahasan Dari data yang diperoleh melalui praktikum uji cekaman, yang di aplikasihkan dengan metode pemberian tiga konsentrasi PEG (PollyEtilene Glycol ) yang berbeda pada perkecambahan benih jagung yang berbeda varietass, yaiu benih jagung Bisma, benih Jagung hibrida BISI-2 dan benih Jagung hibrida jenis NK-33. menunjukan daya adaptasi yang ratarata sama, yang mana pada tempat perlakuan yang diberikan yaitu konsentrasi PEG, antara 0 gram/liter, 25 gram/liter, 50 gram/liter, dan 75 gram/liter, menujukan daya adaptasi yang berbeda tergantung pada jenis benih jaguing dan juga seberapa besar konsentrasi PEG yang diberikan. Pada konsentrasi PEG 0 gram/liter terlihat daya adaptasi pada tiga benih jagung ini rata-rata tinggi dan angka abnormal maupun angka kematian rendah pada pengamatan hari ke-3, hal ini menunjukan bahwa pada kondisi normal tanpa pemberian PEG ini, benih mampu tumbuh dengan normal, namun setelah melakukan pengamatan pada hari ke-5, ternyata tanaman banyak yang tidak tahan, sehingga pada hari ke-5 ini terlihat angka kematiannya sedikit meningkat dari angka kematian yang pertama. Pada konsentrasi PEG 25 gram/liter daya kecambahnya tinggi sebaliknya angka abnormal dan angka kematian rendah, hal ini menunjukan bahwa pada konsentrasi PEG yang sekian tanaman atau benih dapat berkecambah dengan baik, dan mampu beradaptasi dengan lingkungan sehingga setelah melakukan pengamatan pada hari ke-5 tanaman memiliki angka abnormal dan angka kematian lebih rendah dibandingkan dengan pada pengamatan hari ke-3. Pada konsentrasi PEG 50 gram/liter, benih banyak yang tumbuh tidak normal, dan angka kematian benih relatif lebih besar dibandingkan dengan konsentrasi 0 gram/liter dan 25 gram/liter. Hal ini dikarenakan oleh kadar PEG yang tinggi sehingga benih tidak banyak yang mampu ber adaptasi dengan konsentrasi 50 gram/liter, hal ini juga terlihat secara keseluruhan baik pada pengamatan hari ke-3 maupun pada pengamatan hari ke-5, jadi data menunjukan bahwa daya adaptasi benih dari pada konsentrasi PEG 50 gram/liter ini, rata-rata hanya kurang dari 60%. Pada konsentrasi 75 gram/liter merupakan angka adaptasi yang paling rendah dari semua konsentrasi yang diperlakukan, sehingga pada data terlihat angkaa total adaptasi benih adalah hanya < 50%. Jadi dapat dikatakan bahwa semakin besar konsentrasi Polly Etilen Glicol (PEG) maka semakin tercekam benih jagung yang dikecambahkan, namun data pengamatan

ini menunjukan, dari ke-4 perlakuan konsentrasi PEG pada tiga jenis jagung ini memberikan daya adaptasi terhadap cekaman yang berbeda, hal ini terlihat pada jenis varietas tanaman atau benih jagung yang berbeda memiliki daya adaptasi yang bebedapula, meski secara keseluruhan rata-rata pertumbuhan normal, abnormal, dan angka kematiannya relatif sama.

DAFTAR PUSTAKA Sutopo, Lita. 1985. Teknologi Benih. Malang : Rajawali press Usman dan Warkoyo. 1993. Iklim Mikro Tanaman. Malang : Ikip Munawir. 1993. Budidaya Tanaman Padi. Jember : SMT Pertanian Jember Fitter, A.H & HAY, R.K.M. 1994. Fisiologi Lingkungan Tanaman. Yogyakarta : Gajah Mada University Press Mugnisjah, Wahyu Qamara dan setiawan Asep. 1990. Pengantar Produksi Benih. Bogor : ITB Press http://wwwAgribis.go.id. Asal, Sejarah, Evolusi, dan Taksonomi Tanaman Jagung R. Neni Iriany, M. Yasin H.G. Balai Penelitian Tanaman Serealia, Maros. didownload pada hari senin 26 Oktober 2009.