Anda di halaman 1dari 12

Harry Susianto: Psikologi, Ekonomi, Dan Indonesia

PSIKOLOGI, EKONOMI, DAN INDONESIA

Harry Susianto Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Abstrak


Dalam krisis ekonomi tahun 1998 lalu, yang kemudian berkembang menjadi krisis multidimensional, dan efeknya terus bergayut hingga kini, disiplin psikologi hampir tidak terdengar suaranya. Kenyataan ini memberi pelajaran bahwa sarjana psikologi seharusnya memiliki pengetahuan ekonomi disamping menguasai prinsip-prinsip psikologi. Tidak dapat disangkal, psikologi sebenarnya dapat memberi sumbangan untuk membantu Indonesia keluar dari krisissebagaimana tahun 2002 Daniel Kahneman membuktikan psikolog dapat memperoleh Nobel untuk ekonomi. Kenyataan bahwa sangat sedikit sumbangan pikiran dari psikolog lebih dikarenakan ketidaktahuan kita tentang cara berpikir para ekonom. Apalagi, masalah ekonomi biasanya dibungkus dalam terminologi yang terdengar asing sehingga kita menjadi tidak percaya diri untuk ikut bicara. Tulisan ini akan mengangkat perbedaan cara pandang ekonom dan psikolog, serta mencicipi beberapa contoh topik yang diteliti disiplin baru behavioral economics yang merupakan wadah kolaborasi ekonom dan psikolog.

Sebagai disiplin ilmu, harus diakui bahwa ekonomi lebih tua dari psikologi, dan karenanya tidak heran bila pada masa-masa awal beberapa ekonom berprofesi ganda sebagai psikolog1 1 Dalam makalah ini saya menggunakan istilah psikolog untuk mereka yang melakukan penelitian dalam bidang psikologi, dan tidak secara spesik untuk mereka yang berprofesi psikolog. Versi awal tulisan ini merupakan invited speech pada Kongres X HIMPSI, Bali 1-3 Maret 2007. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Panutan dan Erita yang memberi komentar terhadap draft karangan ini. Korespondensi mengenai tulisan agar dialamatkan kepada Harry Susianto, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Depok 16424; email: hsusiant@cbn.net.id.

(Camerer & Loewenstein, 2004; De Cremer, Zeelenberg & Murnighan, 2006). Adam Smith, dalam bukunya The Theory of Moral Sentiments (1759/2006), misalnya, menyatakan bahwa perilaku ditentukan oleh dua proses yang bertentangan: passions (dorongan seperti seks atau rasa lapar) dan impartial spectator (proses di mana individu melihat dirinya dari kacamata orang lain, dan proses ini dapat menggagalkan dorongan passion). Memasuki era 1940-an, ekonomi menjadi lebih formal dan rasional. Teori ekonomi semakin kentara mengasumsikan manusia yang memiliki informasi yang lengkap, memaksimalkan perilakunya, dan hanya mementingkan diri sendiri. Inilah era di mana von

83

JPS VoL. 13 No. 01 Januari 2008

Neumann dan Morgenstern (1944) umpamanya mengajukan teori expected utility, yang menganjurkan pengambil keputusan untuk memilih alternatif yang memiliki expected utility yang tertinggi. Masih menurut De Cremer dkk, dalam era 1960-an dan 1970-an teori expected utility menuai banyak kritik. Dari dalam disiplin ekonomi, Herbert Simon (1957) mengemukakan bounded rationality yang mengingatkan keterbatasan kognitif individu ketika ia membuat keputusan. Psikolog kognitif Kahneman dan Tversky (1979) memberi sumbangan lewat teori Prospek. Teori ini pada gilirannya memberi semangat bagi karya-karya awal ekonomi (misalnya Thaler, 1980; Loewenstein, 1988) yang mulai menggunakan insights dari disiplin psikologi. Saya berharap pembaca (terutama para ekonom) bisa memaafkan saya yang mereduksi sejarah pemikiran ekonomi dalam beberapa alinea saja. Untuk tulisan ini cukuplah pemikiran ekonomi saya sajikan sebagai label tiga periode: klasik, neo-klasik, dan (setelah memanfaatkan insights dari temuan psikologi melahirkan disiplin yang dikenal dengan) behavioral economics. Selanjutnya, saya akan mengorganisasikan tulisan ini dalam tiga bagian. Saya akan mendeskripsikan perbedaan cara pandang antara ekonom dan psikolog untuk memberi gambaran cara berpikir ekonom neoklasik. Setelah itu, saya akan sedikit menyinggung teori prospek yang menjadi pilar utama behavioral economics. Lalu saya akan mengajak pembaca mencicipi tiga ilustrasi topik behavioral economicsmoney illusion, akuntansi mental dan pertimbangan keadilan dalam bertransaksiyang sebenarnya kita (psikolog) bisa ikut bicara.

Perbedaan Cara Pandang Ekonom vs Psikolog Bila dibuat sederhana, secara hitam dan putih, teori ekonomi dan psikologi bisa dibedakan dalam lima2 aspek. Pertama, teori ekonomi biasanya mengasumsikan manusia itu rasional. Sementara psikolog mempunyai stok asumsi manusia yang lebih kaya: ada yang rasional, emosional, kadang-kadang rasional, dsb. Ciri utama manusia yang rasional adalah mempertimbangkan untung-rugi dalam setiap tindakannya (Frank, 2003). Untuk setiap perilaku (membeli barang, menonton Super Milyarder 3 Milyar, atau menambah sepotong pizza lagi di restoran all you can eat) individu akan membandingkan ongkos, kerugian, atau pengorbanan yang dikeluarkan dengan keuntungan atau kesenangan yang diperoleh. Bila keuntungan lebih besar daripada kerugian, ia disarankan untuk (atau diasumsikan akan) melakukan perilaku itu. Pertimbangan untung-rugi ini sepintas kelihatan jelas dan mudah, namun sebenarnya tidak demikian. Salah satunya, individu sering mengabaikan opportunity cost. Bayangkan, seorang ibu yang biasanya menyewakan sebuah kamar Rp 500.000/bulan. Sekarang ia ingin memakai sendiri 2 Ekonom bisa berbeda pendapat mengenai aspek ini, saya memilih yang paling sederhana. Misalnya saja, Thaler (2000) mengemukakan pentingnya aspek optimisasi dalam model ekonomi tentang perilaku manusia, di mana ekonom neo-klasik berlomba-lomba membuat model dengan agen yang hiper-rasional sehingga the aesthetic in the eld became that if the agents in model A are smarter than the agents in model B, then model A is better than model B ( hal. 134).

84

Harry Susianto: Psikologi, Ekonomi, Dan Indonesia

kamar itu, adakah ongkos yang dikeluarkan ibu itu? Bila pertanyaan ini saya ajukan pada mahasiswa psikologi, kebanyakan mereka akan menjawab tidak ada, biasanya dengan alasan ibu itu merupakan pemilik kamar yang sekarang ingin dipakainya sendiri. Bagi ekonom, jika ibu itu memakai sendiri kamar itu ia kehilangan kesempatan memperoleh uang sewa, ada sejumlah uang yang dikorbankan. Kedua, bagi ekonomi individu yang berpikir untung-rugi tersebut melihatnya dari sudut pandang kepentingannya semata (Frank, 2003). Dengan kata lain, ekonom mengasumsikan manusia yang egois. Sementara psikolog, seperti halnya asumsi pertama, mempunyai stok sifat manusia yang lebih kaya: egois, altruis, dsb. Mengenai aspek ini, Marwell dan Ames (1981) memberi partisipan (mahasiswa ekonomi dan non-ekonomi) sejumlah uang yang harus mereka alokasikan ke dalam dua amplop: pribadi dan umum. Uang yang diperoleh dalam amplop pribadi dikali satu. Uang yang diperoleh dalam amplop umum ditotal untuk seluruh partisipan, dikali 1,25, baru dibagi rata. Ternyata mean uang yang dialokasikan ke amplop umum oleh ekonom lebih kecil daripada non-ekonom (20% vs 40%). Marwell dan Ames menyimpulkan hasil ini sebagai indikasi bahwa ekonom cenderung free-rider, suatu manifestasi sifat egois individu. Ketiga, teori ekonomi umumnya bersifat normatif (apa yang seharusnya dilakukan agar mencapai yang optimum), sedang teori psikologi umumnya deskriptif (apa yang benarbenar dilakukan manusia). Ekonom biasanya beranggapan teori mereka bisa dipakai untuk keperluan normatif maupun deskriptif. Keempat, mengenai selera: ekonom

mempercayai discovered preference sedang psikolog constructed preference. Saya akan menjelaskan perbedaan ini dengan sebuah cerita.3 Pada suatu musim panas beberapa tahun yang silam saya mengikuti kongres ilmiah tentang pengambilan keputusan. Tempatnya di sebuah universitas di Belgia dekat perbatasan Perancis. Sebagai mana layaknya peserta lain yang setiap tahun menghadiri pertemuan ilmiah, saya tidak ingat lagi topik apa yang dibahas, atau siapa saja super-pakar yang hadir di sana, tapi saya masih ingat betul menu makan siang sebelum giliran presentasi saya. Panitia menyediakan dua macam menu: steak sapi (saat itu penyakit kuku dan mulut baru berjangkit di Inggris, belum menjalar ke daratan Eropa) dan cheese lunch a la Perancis. Menu yang belakangan ini berupa roti, berbagai keju, dari yang aromanya "normal" sampai yang baunyauntuk saya yang buta keju initengik dan cocoknya dinikmati dengan segelas anggur. Siang itu saya semeja dengan tiga orang ekonom Amerika yang kebetulan satu sesi presentasi. Ketika kembali dari antrian mengambil makanan, ternyata tiga dari empat memilih steak, sedang seorang rekan memilih cheese. Terus terang, saya heran bercampur kagum dengan pilihannya. Tanpa bisa menahan diri saya nyeletuk, "Tidak disangka, rupanya ada orang Amerika yang menyukai cheese lunch ...." Di luar dugaan, sang rekan menggeleng, "Pas giliran saya tadi tiba di meja, steak-nya habis. Kalau mau, saya mesti menunggu. Jadi, terpaksalah saya ambil ini." Dalam meneliti perilaku manusia, psikologi biasa membedakan antara perilaku yang dapat diamati semua orang (overt), dan sesuatu yang tidak 3 Diadaptasi dari Susianto (2001).

85

JPS VoL. 13 No. 01 Januari 2008

bisa diamati karena ada di dalam benak manusia (covert), yang hanya bisa diketahui oleh orang yang bersangkutan. Kami bertiga, misalnya, bisa mengamati jenis makanan yang diambil sang rekan (perilaku overt), namun apa motivasi yang mendorongnya mengambil makanan tersebut tentu tidak bisa diketahui, hanya dia sendirilah yang tahu. Walau mengakui keduanya, kebanyakan teori ekonomi (mirip dengan faham behaviorisme) membatasi pada perilaku, karena hanya perilakulah yang dapat diamati oleh semua orang. Akibatnya, jika kami bertiga melihat seseorang memilih cheese lunch, menurut teori revealed preference (Samuelson, 1937), kita boleh menyimpulkan bahwa ia menyukai makanan itu. Pendeknya, dari mengamati pilihan seseorang kita menyimpulkan selera orang tersebut, pilihan identik dengan selera. Kita tidak boleh bertanya kepadanya, karena validitas dari jawabannya hanya orang itu sendiri yang tahu. Sebaliknya, psikologi tidak membatasi diri pada perilaku yang bisa diamati saja. Psikologi mainstream mengakui dan menggunakan sesuatu yang privat untuk menjelaskan perilaku. Rekan yang memilih cheese lunch dapat dijelaskan dengan berbagai variabel privat seperti ia menyukai keju, ia berani mencoba hal yang baru, ia mencari variasi makanan, atau orang yang snobbiar dianggap berbudaya karena mengerti makanan Perancis! Psikologi tidak hanya membolehkan bertanya pada seseorang untuk mengetahui seleranya, tetapi juga menganggap selera itu labil, umpamanya, dapat dipengaruhi konteks yang ada. Berdasarkan prinsip titik referensi dari teori Prospek (Kahneman

& Tversky, 1979), para suami yang baru saja menonton Baywatch, umpamanya, cenderung menilai istri mereka kurang cantik, ketimbang bila mereka menilainya sebelum menonton serial televisi itu. Kelima, teori ekonomi sering menggunakan asumsi, yang bagi psikolog, tidak realistis. Untuk psikolog kerealistisan asumsi ini penting, tetapi buat ekonom tidak, sepanjang prediksi yang bisa dideduksi dari teori itu benar. Misalnya saja teori cinta dari Gary Becker (1981) yang menyatakan bahwa cinta mengenal pasar jodoh seperti halnya pasar tempat penjual dan pembeli bertemu. Tiap orang yang mencari jodoh merupakan penjual sekaligus pembeli (sama seperti di bursa saham). Diri seseorang merupakan komoditi, memiliki harga pasar (yang dipengaruhi oleh ciri sik, trait psikologis, tingkat penghasilan, dsb). Transaksi (anggap saja perkawinan) terjadi kalau harga yang ditawarkan penjual sama dengan harga yang rela dibayar pembeli. Mendengar teori ini, psikolog akan sulit menerima asumsi seperti pasar jodoh, harga, transaksi. Tetapi buat ekonom tidak jadi masalah, seorang wanita yang mengeluh, Saya selalu ditolak oleh pria yang saya idam-idamkan, tetapi dikejarkejar oleh pria yang tidak saya minati, umpamanya, dapat digambarkan sebagai wanita yang punya Rp 5.000 menginginkan pria berharga Rp 7.000 sementara dirinya diminati oleh banyak pria berharga Rp 2.000. Hasilnya: tidak akan terjadi transaksi. Nobel Ekonomi untuk Psikolog4 4 Diadaptasi dari Susianto (2002). Untuk keperluan tulisan ini, dan juga lantaran teori ini sudah sangat populer, saya hanya mengemukakan konsep titik referensi.

86

Harry Susianto: Psikologi, Ekonomi, Dan Indonesia

Tahun 2002 psikolog Daniel Kahneman bersama dengan ekonom Vernon Smith dianugerahi hadiah Nobel untuk ilmu ekonomi. Penghargaan ini sekaligus merupakan pengakuan terhadap cabang ekonomi yang sering disebut dengan behavioral economics dan experimental economics. Sebelum itu, sampai awal 80-an, ekonom umumnya berasumsi bahwa tindakan manusia dimotivasi oleh keuntungan pribadi, dan bersikap rasional ketika membuat keputusan. Kala itu ilmu ekonomi juga masih dianggap ilmu non-eksperimental, ilmu yang mengandalkan metode observasi untuk menguji teorinya. Kedua tokoh itu pelan-pelan berhasil mengubahnya. Dalam makalah ini, saya akan membatasi pada behavioral economics5 yang menurut Camerer dan Loewenstein (2004) riset-risetnya berkembang mengikuti pola: ambil asumsi/teori normatif, lalu cari anomalinya, kemudian gunakan anomali itu untuk membuat teori baru. Tidak berlebihan bila sejarah behavioral economics dikatakan berkembang pesat setelah Kahneman, bersama dengan Amos Tverskyyang juga seorang psikologmenerbitkan teori prospek dalam jurnal ekonomi bergengsi Econometrica. Berbeda dengan tulisan lain di jurnal itu yang umumnya sarat dengan rumus matematik, tulisan mereka justru sarat dengan berbagai eksperimen yang sifatnya hipotetis. Lantaran eksperimen ini terkesan main-main, penelitian macam ini sering diolok-olok sebagai eksperimen "mickey mouse". Misalnya saja Kahneman dan Tversky (1979) memberikan kasus berikut 5 Sejarah dan review tentang experimental economics bisa dibaca dalam Kagel dan Roth (1995).

kepada para mahasiswa. Bayangkan, pemerintah tengah memikirkan cara untuk menanggulangi suatu wabah penyakit yang diperkirakan akan memakan korban 600 jiwa. Dua alternatif program telah diajukan. Menurut perhitungan ilmiah, hasil dari kedua program itu adalah (kepada separuh kelas diberikan alternatif A dan B): Jika program A dijalankan, 200 orang pasti SELAMAT. Jika program B dijalankan, ada probabilitas sebesar 1/3 bahwa 600 orang akan SELAMAT dan probabilitas 2/3 tidak seorang pun akan SELAMAT. Manakah program yang Anda dukung? Kepada separuh kelas lainnya diberikan alternatif P dan Q, yang sebenarnya sama dengan A dan B, hanya kalau sebelumnya dinyatakan dalam jumlah orang yang selamat, sekarang dinyatakan dalam jumlah orang yang meninggal: Jika program P dijalankan, 400 orang pasti MENINGGAL. Jika program Q dijalankan, ada probabilitas sebesar 2/3 bahwa 600 orang akan MENINGGAL dan probabilitas 1/3 tidak seorang pun akan MENINGGAL. Menurut teori expected utility, para mahasiswa yang berpikir rasional seharusnya akan bersikap indifferent terhadap A dan Bmau pilih A atau B sama sajakarena keduanya memiliki nilai utilitas yang sama, yaitu 200 orang. Begitu juga pada alternatif P dan Q. Sehingga kalau misalnya pada versi selamat mayoritas memilih A, mestinya pada versi meninggal mayoritas akan memilih P, demikian pula sebaliknya. Nyatanya, pada versi selamat mayoritas memilih A

87

JPS VoL. 13 No. 01 Januari 2008

sedang pada versi meninggal meyoritas memilih Q. Eksperimen tersebut dipakai Kahneman dan Tversky untuk menambahkan temuan psikologi ke dalam ilmu ekonomi: manusia tidak pernah mempersepsi suatu hasil secara obyektif, kita selalu menilainya secara relatif dari titik referensi tertentu. Seseorang yang berkulit sawo matang bila berdiri di sisi orang Nigeria akan tampak "putih". Bila ia berdiri di sebelah orang Belanda, ia akan kelihatan "hitam". Akibatnya, titik referensi pun bisa dimanipulasi untuk tujuan tertentu. Misalnya ketika pemerintah pada 1 Oktober 2005 menaikan harga BBM rata-rata 100%, pemerintah mewartakan harga BBM di luar negeri yang memang mahal sebagai upaya menyajikan titik referensi baru agar kenaikan harga itu tidak terasa drastis bagi masyarakat. Tiga Ilustrasi Money Illusion6 Bulan Januari 1998 Gubernur Bank Indonesia mengeluarkan bantahan terhadap isu-isu yang beredar di masyarakat, yang salah satunya mengatakan bahwa pemerintah akan melakukan pemotongan uang. Isunya pemerintah akan menerbitkan Rupiah Baru (Rb) yang nilainya ditetapkan, misalnya, Rb 1 = Rp 1000. Banyak masyarakat yang kuatir kelak kekayaan mereka akan terpotong menjadi 1/1000-nya. Ilustrasi ini menggambarkan betapa rentannya kita terhadap money illusion, sebuah gejala yang menjadi judul buku Irving Fisher tahun 1928. Ilusi ini 6 Diadaptasi dari Susianto (1998c), tingkat harga dan gaji dipertahankan untuk mengingatkan kita akan saat-saat hidup yang susah itu.

terjadi lantaran uang memiliki dua nilai. Pertama, nilai nominal yang tertera di mata uang. Misalnya angka "1000" pada mata uang Rp 1000. Selain nilai nominal uang juga memiliki nilai riil, atau nilai daya belinya. Misalnya kalau Rp 1000 itu kita bawa ke pasar (saat itu) kita bisa menukarnya dengan 1/2 liter beras. Seseorang dikatakan mengalami money illusion apabila ia hanya terpaku pada nilai nominal dari uang, misalnya, ketakutan masyarakat bahwa kekayaannya menjadi 1/1000nya dengan diterbitkan Rupiah Baru. Padahal, kalau dengan Rp 1000 kita bisa membeli 1/2 liter beras, dengan Rb 1 pun kita akan mendapat 1/2 liter beras. Shar, Diamond dan Tversky (1997) dua psikolog dan seorang ekonommengangkat kembali topik lawas money illusion ini dan berusaha menerangkannya dengan konsep titik referensi majemuk yang dikembangkan dari konsep titik referensi teori prospek. Titik referensi majemuk terjadi bila seseorang memakai lebih dari satu titik referensi dalam mengevaluasi suatu hasil. Bayangkan seorang wanita yang baru lulus pendidikan sekretaris melamar pekerjaan. Ia berharap akan menerima gaji Rp 800.000 per bulan, namun perusahaan hanya mampu menggaji Rp 500.000. Bila ia memakai titik referensi penghasilannya waktu sekolah, yang berupa uang saku Rp 200.000 dari orang tua, ia akan merasa senang karena kini ia mendapat "keuntungan" Rp 300.000 (500.000 200.000). Akan tetapi bila ia memakai titik referensi gaji yang diharapkannya, maka ia akan merasa sedih karena ia menderita "kerugian" Rp 300.000 (500.000 - 800.000). Pertanyaan kita, tentunya, wanita ini akan merasa senang atau merasa

88

Harry Susianto: Psikologi, Ekonomi, Dan Indonesia

sedih? Titik referensi majemuk meramalkan bahwa si wanita akan menghitung semacam nilai rata-rata dari keuntungan dan kerugian, dengan masing-masing diberi bobot tertentu. Besar-kecilnya bobot yg diberikan tergantung dari kuat-lemahnya titik referensi yang dipakai. Dalam contoh ini, uang saku merupakan titik referensi yg lebih kuat ketimbang "gaji harapan", karena ia sudah terbiasa menerimanya setiap bulan. Dengan demikian, walaupun si wanita akan mengalami mixed feelings antara senang dan sedih selama beberapa hari tergantung titik referensi mana yang diingat, secara keseluruhan ia akan merasa senang dengan gaji yang diterimanya. Kembali ke money illusion, nilai nominal dan nilai riil dari uang merupakan dua buah titik referensi yang dipakai seseorang dalam mengevaluasi suatu transaksi. Menurut Shar dkk, nilai nominalkarena lebih mudah dimengerti dan lebih sering dipakai dalam situasi sehari-haricenderung lebih kuat daripada nilai riil. Sehingga walaupun seseorang menyadari kedua nilai ini, dalam membuat keputusan atau bertindak nilai nominal cenderung lebih mendominasi daripada nilai riil. Ada beberapa situasi lain di mana kita dapat mengamati money illusion, salah satunya pada saat inasi. Misalnya, tahun ini diramalkan Indonesia akan mengalami inasi 20%, barang yang biasa kita beli dengan Rp 1.000, kelak akan menjadi Rp 1.200. Bila tahun ini seseorang mendapat kenaikan gaji 10%, secara nominal ia bertambah kaya, tetapi secara riil penghasilannya berkurang. Bila ia merasa senang dengan kenaikan nominal ini, ia mengalami money illusion. Inasi juga berarti produsen memberlakukan harga jual baru,

yang lebih mahal, bagi produknya. Kita mengikuti lewat media massa berbagai reaksi konsumen terhadap kenaikan harga ini. Dipandang dari sudut money illusion semata tanpa mempertimbangkan hal-hal lain konsumen yang mengalami money illusion akan sulit menerima kenaikan harga. Buat mereka, dievaluasi dari titik referensi nilai nominal, harga baru merupakan "kerugian". Menyadari perilaku konsumen ini sebagian produsen melakukan langkah kreatif, mereka justru mengeluarkan produk baru yang disesuaikan dengan nilai riil harga lama. Tahun 1998 penerbit majalah dan koran, misalnya, memilih mengurangi jumlah halaman sebagai alternatif dari menaikkan harga langganan. Akuntasi Mental7 Ilustrasi ini ber-setting tahun 2004: sebuah maskapai penerbangan di Amerika Serikat tengah mempertimbangkan untuk mengenakan surcharge avtur. Maksudnya, kalau harga tiket semula Rp 300 ribu, dan kenaikan avtur dihargai Rp 30 ribu, perusahaan tetap memasang tarif Rp 300 ribu, hanya sekarang ditambah dengan surcharge untuk avtur sebesar Rp 30 ribu. Dalam ilmu ekonomi, uang diasumsikan tidak memiliki label (fungibilitas). Karena sama-sama Rp 30 ribu, baik dinyatakan sebagai kenaikan harga (harga tiket naik dari Rp 300 ribu menjadi Rp 330 ribu) atau surcharge (harga tiket tetap Rp 300 ribu tapi ada surcharge Rp 30 ribu), harusnya tetap dinilai konsumen sebagai tambahan Rp 7 Diadaptasi dari Susianto (1998a, 2004), demonstrasi para profesional berlangsung pada September 1998, dan tingkat harga dalam pengandaian mengikuti harga tiket pesawat tahun 2004.

89

JPS VoL. 13 No. 01 Januari 2008

30 ribu. Namun demikian, kebanyakan orang tidak menganut prinsip fungibilitas ini. Umumnya, orang justru menganggap uang memiliki label. Di kelas, saya mendemonstrasikan prinsip akuntansi mental dengan meminta mahasiswa yang bekerja sambilan, karenanya memiliki dua jenis sumber penghasilan: dari orang tua dan pekerjaannya, untuk menceritakan bagaimana ia menggunakan uangnya. Biasanya, rupiah dari orang tua akan dibelanjakan secara berbeda dengan rupiah dari usaha sambilannya. Uang dari sumber yang belakangan digunakan secara lebih hati-hati, atau digunakan untuk keperluan yang bermakna simbolis seperti membeli kado ulang tahun buat pacar. Contoh lain, bayangkan seorang istri yang menerima amplop gaji (berisi uang tunai) awal bulan dari suami. Untuk memudahkan mengingat, ia memecah gaji tersebut ke dalam beberapa amplop, sesuai dengan pos pengeluaran. Berdasarkan prinsip fungibilitas istri akan memperlakukan setiap rupiah dari masing-masing amplop secara sama. Jadi bila amplop arisan yang berisi Rp500 ribu hilang, rasa sedihnya akan sama dengan kehilangan amplop uang sekolah anak yang berisi Rp500 ribu. Toh sama-sama Rp500 ribu. Tentulah, kebanyakan orang tidak menganut prinsip fungibilitas ini. Umumnya, orang justru menganggap uang memiliki label. Istri (yang baik) akan lebih merasa bersalah bila amplop uang sekolah yang hilang, dibandingkan bila amplop arisannya yang hilang. Prinsip akuntansi mental (Thaler, 1980) menegaskan bahwa orang tidak menggabungkan semua uangnya dalam sebuah "rekening umum", di mana tiap rupiah bisa saling dipertukarkan. Melainkan, menyimpannya dalam

berbagai rekening khusus yang masingmasing berkaitan dengan kebutuhan yang berbeda. Dalam kasus tertentu, uang sering tidak bisa dipindahkan dari satu rekening mental ke rekening mental yang lain, seakan label yang melekat pada uang begitu membelenggu pergerakannya. Hal ini terjadi, misalnya, pada orang yang beranggapan bahwa uang hasil korupsi mestinya tidak boleh dipakai untuk menyumbang pembangunan mesjid. Akuntansi mental juga dapat dipakai menerangkan demonstrasi unik awal September 1998 yang diikuti pria berdasi, wanita berbusana trendy, lengkap dengan telepon genggam di tangan. Para profesional ini berunjuk rasa mempertanyakan penggunaan pajak penghasilan yang dibayarkan di perusahaan tempat mereka bekerja. Beberapa spanduk dan posternya bahkan mensinyalir uang pajak mereka disalahgunakan pemerintah. Mereka mengancam selama tak ada transparansi mereka menolak untuk membayar pajak penghasilan. Dalam sistem pajak kita, umumnya semua jenis pajak dikumpulkan dalam satu pool, untuk kemudian didistribusikan ke pos-pos pengeluaran yang membutuhkan. Dengan sistem pajak seperti ini, pembayar pajak tidak bisa melihat kaitan antara uang yang mereka bayar dengan "jasa" yang mereka terima dari negara. Tidak heran kalau salah satu spanduk mereka jadi berbunyi "Pajak Kami Bukan untuk Biaya Penculikan, Pembunuhan, dan Teror". Bila pemerintah ingin menggalakkan penerimaan pajak, teori akuntansi mental dapat dipakai. Buatlah sistem pajak yang memperlihatkan kaitan antara pahitnya membayar dan manisnya mengkonsumsi. Dengan kata lain,

90

Harry Susianto: Psikologi, Ekonomi, Dan Indonesia

berilah label pada uang pembayaran pajak. Misalnya saja ditetapkan bahwa separuh dari Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) akan dipakai untuk memelihara jalan di kota sang pembayar pajak. Di sini, uang membayar PKB diberi label "ongkos memelihara jalan di kota". Pertimbangan Keadilan Dalam 8 Bertransaksi Ketika banjir besar melanda Jakarta awal Februari 2007, banyak gardu listrik terendam, sehingga pasokan listrik di beberapa bagian ibukota terputus. Warga yang tidak terbiasa hidup tanpa listrik segera mencari genset, namun kecewa mendapatkan harga genset yang sebelum banjir berharga Rp 4 juta kini ditawarkan hingga Rp 10 juta. Dalam ekonomi, transaksi terjadi apabila pembeli menyerahkan uangnya kepada penjual, dan penjual menyerahkan barangnya kepada pembeli. Untuk menerangkan bagaimana hal ini dapat terjadi, kita andaikan penjual dan pembeli masingmasing memiliki reservation price. Reservation price penjual adalah harga minimum yang ia minta untuk menjual suatu barang. Misalnya, bila seorang penjual membeli sebotol minyak goreng Rp 5.000 dari pabrik, dan ia menghitung ongkos berdagangnya 5%, maka reservation price-nya adalah Rp 5.250. Dalam proses tawar-menawar ia tidak akan menjualnya di bawah harga Rp 5.250. Reservation price pembeli adalah harga maksimum yang rela dibayar untuk memperoleh suatu barang. Pembeli dengan reservation price Rp 5.500 akan membeli minyak goreng yang dijual sampai harga Rp 5.500. Transaksi hanya terjadi apabila selisih reservation price antara penjual 8 Diadaptasi dari Susianto (1998b, 2005).

dan pembeli positifbila reservation price pembeli melebihi reservation price penjual. Dalam contoh di atas, selisih tersebut Rp 250. Suatu transaksi dapat dikatakan adil bila surplus ini terbagi rata antara penjual dan pembeli. Berdasarkan kriteria yang diajukan oleh ekonom Frank (2003) ini, penjual bisa menetapkan harga Rp 5.375 untuk sebotol minyak goreng. Semakin jauh dari kriteria fty-fty semakin tidak adil transaksi tersebut. Penjual yang mengetahui pembeli baru saja mendapat kenaikan gaji, misalnya, dapat menaikkan harga minyak gorengnya menjadi Rp 5.500. Dalam hal ini penjual meraup seluruh surplus bagi dirinya. Psikolog Daniel Kahneman bersama dua ekonom Jack Knetsch dan Richard Thaler (1986) melakukan serangkaian survei untuk menjaring persepsi keadilan masyarakat dalam melakukan transaksi. Hasil penelitian mereka dapat dirangkum dalam prinsip yang disebut dual entitlement: pembeli berhak atas transaksi patokan dan penjual berhak atas laba patokan. Penjual tidak boleh memaksimalkan labanya dengan mengorbankan transaksi patokan pembeli. Namun demikian, penjual boleh menetapkan harga baru untuk mempertahankan laba patokan. Bila minggu lalu pembeli memperoleh sebotol minyak goreng dengan harga Rp 5.375, transaksi ini menjadi transaksi patokan. Walaupun tidak setiap orang mampu mengingat harga suatu barang yang pernah dibelinya, kita bisa mengandaikan secara kasar pembeli memiliki transaksi patokan untuk suatu barang. Menurut hukum penawaran dan permintaan, kelebihan permintaan (excess demand) merupakan kesempatan penjual untuk menaikkan harga. Itu sebabnya harga telur

91

JPS VoL. 13 No. 01 Januari 2008

atau terigu biasanya naik menjelang Lebaran. Akan tetapi ada situasi di mana kenaikan harga yang mengikuti kelebihan permintaan dirasakan tidak adil. Misalnya, karena sesuatu hal suatu daerah mengalami kelangkaan gula pasir. Seorang penjual berhasil memperoleh pasokan gula pasir dengan harga biasa, tetapi ia menjualnya 25% lebih mahal dari harga biasa. Sebagian besar konsumen mungkin akan menganggap kenaikan harga ini tidak adil. Contoh lain yang dianggap tidak adil adalah penjual yang menaikkan harga sekop setelah terjadi badai salju. Menurut prinsip dual entitlement, peningkatan laba penjual dalam dua kasus ini diperoleh dengan mengorbankan transaksi patokan pembeli. Kalau banjir besar di Jakarta dipersepsi serupa dengan musibah badai salju, kelebihan permintaan genset tidak boleh dimanfaatkan penjual untuk menaikkan harga.9 Paling tidak, untuk sementara penjual tidak menaikkan harga barang. Rasa keadilan masyarakat menuntut kelebihan permintaan ini ditangani sebagaimana pengusaha bioskop yang 9 Kenaikan harga genset pada banjir Februari 2007 lalu tidak menimbulkan gejolak karena bukan merupakan kebutuhan pokok. Pada Januari 1998, ketika nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika anjlok menjadi Rp 11.000/US$, toko swalayan, kulakan dan toko diserbu pembeli. Mereka memborong, karena kuatir harga barang kebutuhan pokok akan menjadi mahal. Hari-hari berikutnya diberitakan stok barang menipis, dan harganya meningkat drastis. Muncul tuduhan bahwa penjual dan produsen sengaja membuat langka barang, agar mereka bisa menjualnya dengan harga baru yang lebih mahal. Di beberapa tempat, pembeli yang marah terhadap kenaikan harga bahkan sempat menyulut kerusuhan (Susianto, 1998b).

memutar lm box ofce. Dalam situasi ini mereka tidak melelang karcis kepada pembeli yang bersedia membayar lebih mahal. Melainkan, pembeli dikenakan harga biasa, tetapi mereka diminta antri dan dibatasi jumlah karcisnya. Sehari menjelang pemerintah menaikan harga bahan bakar minyak (1 Oktober 2005) Menteri Perdagangan mengunjungi Pasar Senen Jakarta. Seperti halnya kunjungan sejenis yang pernah dilakukan para pejabat di masa lalu, kita pun membaca hasil wawancara bu menteri dengan para pedagang di media massa. Tempo Interaktif umpamanya mencatat para pedagang melaporkan harga beras termurah naik dari Rp 2.700 per liter menjadi Rp 3.200, minyak goreng curah dari Rp 5.300 per kilo menjadi Rp 5.500, atau telur ayam dari Rp 8.300 per kilo menjadi Rp 8.500. Kesimpulannya pun klise, harga-harga barang sudah naik terlebih dahulu mengantisipasi kenaikan BBM. Sebenarnya, prinsip dual entitlement sudah meramalkan temuan yang terus berulang setiap kali pemerintah menaikan harga BBM atau setiap kali nilai tukar Rupiah anjlok terhadap dolar Amerika. Prinsip ini meramalkan uktuasi harga akan lebih sering dipengaruhi oleh perubahan ongkos daripada perubahan permintaan, dan akan lebih sering dipicu oleh kenaikan ongkos ketimbang penurunan ongkos. Dari sisi penjual, sebuah transaksi umumnya terjadi apabila ia memperoleh laba. Seperti halnya transaksi patokan pembeli, laba patokan penjual dapat berupa laba dari transaksi terakhir. Bila ongkos naik, penjual boleh menaikkan harga, sepanjang itu untuk melindungi laba patokan. Umpamanya, ketika menjual telur minggu lalu seharga Rp 8.300 penjual membelinya dari pemasok dengan

92

Harry Susianto: Psikologi, Ekonomi, Dan Indonesia

harga Rp 8.000, dan memperoleh laba Rp 300. Maka, ketika pemasok yang mendengar berita rencana kenaikan BBM menaikkan harga telur jadi Rp 8.200, untuk mempertahankan laba penjual boleh menjual ke pembeli Rp 8.500. Di kelas, saya menyajikan kasus berikut yang juga dimodikasi dari kasus dalam survei Kahneman dkk: "Karena kerusakan jalan, pasokan cabai terganggu. Penjual terpaksa membeli dari Pasar Induk lebih mahal Rp 1.000/ kg. Penjual lalu menjualnya ke konsumen Rp 1.000/kg lebih mahal". Hasilnya persis seperti yang ditemukan dalam survei, mayoritas mahasiswa psikologi bisa menerima kenaikan harga ini. Menariknya, jika ongkos produksi turun, penjual yang tidak segera menurunkan harga jual tidak terlalu dipermasalahkan pembeli. Dalam survei, Kahneman dkk mengajukan kasus pengusaha mebel yang biasa menjual meja. Satu saat ongkos produksi turun 20% per meja. Pada satu kelompok partisipan dikatakan penjual mendiskon meja 10%. Pada kelompok yang lain dikatakan penjual menjual meja dengan harga lama (tanpa diskon). Ternyata, pada kedua kelompok, lebih dari separuh partisipan dapat menerima harga jual ini. Mengapa? Karena pada kedua kelompok partisipan transaksi patokan pembeli tidak dilanggar penjual. Pembaca, saya harap sekarang menjadi jelas bahwa kombinasi pola jawaban dari tiga kasus terakhir di atas kalau diikuti penjual akan menghasilkan ramalan dual entitlement: begitu ada berita rencana kenaikan harga BBM, penjual akan segera menaikkan harga. Celakanya, kalau harga-harga sudah naik, walaupun kelak harga BBM turun, biasanya harga tidak cepat ikut turun.

Dibutuhkan: Psikolog yang Melek Ekonomi Dalam krisis ekonomi tahun 1998 lalu, yang kemudian berkembang menjadi krisis multidimensional, dan efeknya terus bergayut hingga kini, disiplin psikologi hampir tidak terdengar suaranya. Kenyataan ini memberi pelajaran bahwa sarjana psikologi seharusnya memiliki pengetahuan ekonomi disamping menguasai prinsipprinsip psikologi. Mudah-mudahan tulisan singkat initerutama pada bagian tiga ilustrasimeyakinkan kita semua bahwa sarjana psikologi sebenarnya bisa ikut memberi sumbangan untuk membantu Indonesia keluar dari keterpurukan ekonomi. Saya berharap di negeri ini kelak akan berkembang penelitian-penelitian kolaborasi antara psikolog dan ekonom, dan semakin banyak psikolog yang angkat bicara dalam masalah ekonomi. Bagaimana pun, ekonomi terlalu penting untuk dipercayakan kepada para ekonom saja. Daftar Pustaka Becker, G.S. (1981). A Treatise on the Family. Cambridge Mass.: Harvard University Press. Camerer, C.F. & Loewenstein, G. (2004). Behavioral economics: past, present, future. Dalam Camerer, Loewenstein & Rabin (eds). Advances in Behavioral Economics. Princeton N.J.: Princeton University Press. Croson, R. (2006). Contrasting methods and comparative ndings in psychology and economics. Dalam De Cremer, Zeelenberg & Murnighan (eds.) Social

93

JPS VoL. 13 No. 01 Januari 2008

Psychology and Economics. London: Lawrence Erlbaum. De Cremer, D., Zeelenberg, M. & Murnighan, J.K. (2006). Social animals and economic beings: On unifying social psychology and economics. Dalam De Cremer, Zeelenberg & Murnighan (eds.) Social Psychology and Economics. London: Lawrence Erlbaum. Frank, R.H. (2003). Microeconomics and Behavior. Boston: McGrawHill. Kagel, J.H. & Roth, A.E. (eds. 1995). The Handbook of Experimental Economics. Princeton N.J.: Princeton University Press. Kahneman, D., Knetsch, J.L. & Thaler, R. (1986). Fairness as a constraint on prot seeking. American Economic Review 76, 4, 728-741. Kahneman, D. & Tversky, A. (1979). Prospect theory. Econometrica 47, 2, 263-292. Loewenstein, G. (1988). Frames of mind in intertemporal choice. Management Science 34, 2, 200214. Marwell, G. & Ames, R.E. (1981). Economist free ride, does anyone else? Journal of Public Economics 15, 295-310. Samuelson, P. (1937). A note on measurement of utility. Review of Economic Studies 4, 155-161. Shar, E., Diamond, P.A. & Tversky, A. (1997). On money illusion. Quarterly Journal of Economics 112, 341-374. Simon, H.A. (1957). Models of Man. New York: Wiley. Smith, A. (1759/2006). The Theory of

Moral Sentiments. London: Dover Publication. Susianto, H. (2005). Psikologi kenaikan BBM 1. Kontan 17 Oktober. Susianto, H. (2004). Uang itu memiliki label, Bung! Kontan 31 Mei. Susianto, H. (2002). Nobel ekonomi untuk psikolog. Kontan 4 November. Susianto, H. (2001). Selera. Kontan 5 November. Susianto, H. (1998a). Akuntansi mental. Kontan 9 Oktober. Susianto, H. (1998b). Kenaikan harga dan psikologi pasar. Swa 15 April. Susianto, H. (1998c). Pahit manisnya money illusion. Swa 4 Maret. Thaler, R.H. (2000). From homo economicus to homo sapiens. Journal of Economic Perspectives 14, 1, 133-141. Thaler, R.H. (1980). Toward a positive theory of consumer choice. Journal of Economic Behavior and Organization 1, 39-60. Von Neumann, J. & Morgenstern, O. (1944). Theory of Games and Economic Behavior. Princeton, N.J.: Princeton University Psychology Press

94