Anda di halaman 1dari 24

Asuhan Keperawatan Pada Ny.

W Dengan SISTITIS
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Sistem Urinaria

Disusun oleh : Yolanda Simatupang Tarina Eka Putri Euis Purnama Galis Tresnariyas Febri Nick Daniel S Fiola Darmawan Ria Inriyana Mita Puspitasari Bayu Jaya Adiguna Afina Sri Nisa Asep Mustofa 220110090109 220110090112 220110090114 220110090115 220110090116 220110090117 220110090118 220110090119 220110090126 220110090127 220110097001

Kelompok Tutor 11 A 2009

FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS PADJADJARAN


Jalan Raya Bandung-Sumedang km. 21 Jatinangor

2011/2012

A.

Anatomi dan Fisiologi Urinari

Urinaria yaitu suatu sistem dimana terjadi proses penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang tidak dipergunakan tubuh dan menyerap zat-zat yang masih dipergunakan oleh tubuh ( Drs. H. Syaifudin B. Ac.). Sistem urinari terdiri dari: 1. Ginjal Ginjal Ureter Kandung kemih (Vesika Urinaria) Uretra

Ginjal merupakan salah satu bagian saluran kemih yang terletak retroperitoneal dengan panjang lebih kurang 11-12 cm dan berat sekitar 200 gr, disamping kiri kanan vertebra. Pada umumnya, ginjal kanan lebih rendah dari ginjal kiri oleh karena adanya hepar dan lebih dekat ke garis tengah tubuh. Batas atas ginjal kiri setinggi batas atas vertebra thorakalis XII dan batas bawah ginjal setinggi batas bawah vertebra lumbalis III. Ginjal berbentuk kacang, dan permukaan medialnya yang cekung disebut hilus renalis, yaitu tempat masuk dan keluarnya sejumlah saluran, seperti pembuluh darah, pembuluh. Pada fetus dan infant, ginjal berlobulasi. Semakin bertambah umur, lobulasi semakin kurang sehingga waktu dewasa menghilang. Ginjal laki-laki lebih panjang daripada ginjal wanita. Bagian-bagian ginjal : 1. Jaringan ikat pembungkus

Fosta

Renal sebagai pembungkus terluar parineal yang merupakan jaringan adiposa yang terbungkus fasia ginjal fibrosa yang merupakan membran halus transparan yang langsung membungkus

Lemak Kapsul

ginjal 2. Hilus yang menjadi kecekungan tepi media ginjal 3. Kaliks yang merupakan organ/rogga yang seperti mangkok 4. Papila renalis yang merupakan ujung piramid ginjal yang tumpul 5. Sinus ginjal sebagai rongga berisi lemak yang membuka pada hilus 6. Pelvis ginjal sebagai perluasan ujung proksimal ureter 7. Parenkim ginjal sebagai jaringan ginjal menyelubungi struktur sinus ginjal Medula (lapisan dalam/subtantia medullaris) Terdiri atas piramida-piramida (piramida renal) berjumlah 8-18 buah (rata-rata 12 buah) yang tampak bergaris-garis karena terdiri atas berkas saluran paralel (tubuli dan duktus koligentes). Tiap-tiap piramid dipisahkan Kolumna bertini. Dasar piramis ditutupi korteks sedangkan puncaknya (papila maarginalis/apeks/papila renis) menonjol ke kaliks minor. Beberapa kaliks minor bersatu menjadi pelvis renalis dan ke luar ke ureter. Antara piramid ada jaringan korteks yang disebut kolumna renal. Di sini berkumpul ribuan pembuluh darah halus yang merupakan lanjutan simpai bowman. Di pembuluh ini urin hasil penyaringan darah di badan malphigi diangkut. Korteks (kulit ginjal) Terdiri atas glomeruli dan tubuli yang akan membentuk nefronsebagai tempat menyaring darah. Di dalam nefron terdapat glomerulus yang dikelilingi simpai bowman. Glomerulus dan simpai bowman akan membentuk badan malphigi (kapuskula). Tiap ginjal mempunyai lebih kurang 1,5-2 juta nefron berarti pula lebih kurang 1,5-2 juta glomeruli. 8. Lobus ginjal yang terdiri dari piramida ginjal dan papila

Fungsi ginjal :

1. Pengeluaran zat-zat toksik (obat, bakteri, zat makanan) dan zat yang berlebihan (gula dan vitamin) 2. Mempertahankan keseimbangan cairan

Glomerulus filtrasi cairan reabsorbsi di tubulus Na+Cl Volume cairan ekstra sel Mekanisme ADH Rasa haus bekerja Tekanan arteriol renal menurunm Merangsang renin Angiotensin Aldosteron Reabsorbsi Na + Cl Osmolaritas konsentrasi dipertahankan (konstan) 3. Mempertahankan keseimbangan garam dan zat-zat lain dalam tubuh 4. Mengeluarkan sisa-sisa metabolisme hasil akhir protein ueum kreatinin dan amoniak 5. Mempertahankan keseimbangan asam-basa Untuk menjaga keseimbangan Ph bekerjasama dengan enzim karbonat dehidrase CO2 keluar dari sel epitel tubulus CO2 + H2O (bereaksi) H2O3 Berdisiosasi menjadi H+ + HCO3Asidosis Reabsorbsi HCO3- oleh tubulus sekresi H+ normal Konsentrasi H+ normal Alkalosis Reabsorbsi H+ sekresi HCO3Konsentrasi HCO3-Normal

6. Pengaturan konsentrasi ion-ion penting 7. Menghasilkan hormon eritropoetin yang beredar dalamm darah 8. Mengatur produksi sel darah merah Ginjal ->Hormon eritropotoen Dipengaruhi oleh hipoksia jaringan Eritroblas dari sel-sel sistem hemapoetik di sum-sum tulang proeritoblas pematangan (sel darah merah) 9. Mengatur tekanan darah GFR O2 dari ginjal (hipoksia) aparatus jugstaglomerolus melepas renin hati memproduksi angiotensin I Memasuki sistem sirkulasi melepas angitensin II tekanan kaapiler paru beban jantung meningkat TD Selain itu pelepasan Angiotensin II reabsorbsi Na dan air volume plasma beban jantung TD

Ginjal berfungsi sebagai salah satu alat ekskresi yang sangat penting melalui ultrafiltrat yang terbentuk dalam glomerulus. Terbentuknya ultrafiltrat ini sangat dipengaruhi oleh sirkulasi ginjal yang mendapat darah 20% dari seluruh cardiac output. Aliran darah yang melewati ginjal sekitar 25 % dari curah jantung.Dari tiap 1200 ml darah yang masuk ke dalam glomerulus tiap menit, akan dihasilkan sekitar 120-125 ml

filtrat. Setiap hari glomerulus dapat menghasilkan sekitar 150 180 L filtrat dan dari jumlah tersebut, hanya sekitar 1 % yang keluar sebagai urine atau 1,5 L. Setiap ginjal mengandung lebih dari 1 juta nefron, yaitu suatu fungsional ginjal. Bagian-bagian nefron :

a. Faal Glomerulus Fungsi terpenting dari glomerolus adalah membentuk ultrafiltrat yang dapat masuk ke tubulus akibat tekanan hidrostatik kapiler yang lebih besar dibanding tekanan hidrostatik intra kapiler dan tekanan koloid osmotik. Volume ultrafiltrat tiap menit per luas permukaan tubuh disebut glomerula filtration rate (GFR). GFR normal dewasa : 120 cc/menit/1,73 m2 (luas pemukaan tubuh). GFR normal umur 2-12 tahun : 30-90 cc/menit/luas permukaan tubuh anak. b. Faal Tubulus Fungsi utama dari tubulus adalah melakukan reabsorbsi dan sekresi dari zat-zat yang ada dalam ultrafiltrat yang terbentuk di glomerolus. Sebagaimana diketahui, GFR : 120 ml/menit/1,73 m2, sedangkan yang direabsorbsi hanya 100 ml/menit, sehingga yang diekskresi hanya 1 ml/menit dalam bentuk urin atau dalam sehari 1440 ml (urin dewasa). Pada anak-anak jumlah urin dalam 24 jam lebih kurang dan sesuai dengan umur :1-3 tahun: 500-600 ml c. Faal Tubulus Proksimal Tubulus proksimal merupakan bagian nefron yang paling banyak melakukan reabsorbsi yaitu 60-80 % dari ultrafiltrat yang terbentuk di glomerolus. Zat-zat yang direabsorbsi adalah protein, asam amino dan glukosa yang direabsorbsi sempurna. Begitu pula dengan elektrolit (Na, K, Cl, Bikarbonat), endogenus organic ion (citrat, malat, asam karbonat), H2O dan urea. Zat-zat yang diekskresi asam dan basa organic. d. Faal Lengkung Henle Loop of henle yang terdiri atas decending thick limb, thin limb dan ascending thick limb itu berfungsi untuk membuat cairan intratubuler lebih hipotonik. e. Faal Tubulus Distalis dan Duktus Koligentes Mengatur keseimbangan asam basa dan keseimbangan elektrolit dengan cara reabsorbsi Na dan H2O dan ekskresi Na, K, Amonium dan ion hidrogen. (Rauf, 2002 : 4-5).

Peredaran Darah dan Persyarafan Ginjal Peredaran Darah

Ginjal mendapat darah dari aorta abdominalis yang mempunyai percabangan arteria renalis, yang berpasangan kiri dan kanan dan bercabang menjadi arteria interlobaris kemudian menjadi arteri akuata, arteria interlobularis yang berada di tepi ginjal bercabang menjadi kapiler membentuk gumpalan yang disebut dengan glomerolus dan dikelilingi oleh alat yang disebut dengan simpai bowman, didalamnya terjadi penyadangan pertama dan kapilerdarah yang meninggalkan simpai bowman kemudian menjadi vena renalis masuk ke vena kava inferior. Persyarafan Ginjal Ginjal mendapat persyarafan dari fleksus renalis (vasomotor) saraf ini berfungsi untuk mengatur jumlah darah yang masuk ke dalam ginjal, saraf inibarjalan bersamaan dengan pembuluh darah yang masuk ke ginjal. Anak ginjal (kelenjar suprarenal) terdapat di atas ginjal yang merupakan senuah kelenjar buntu yang menghasilkan 2(dua) macam hormon yaitu hormone adrenalin dan hormn kortison.

2. Ureter Ureter terdiri dari 2 saluran pipa masing masing bersambung dari ginjal ke kandung kemih (vesika urinaria) panjangnya 25 30 cm dengan penampang 0,5 cm. Ureter turun ke bawah pada dinding posterior abdomen di belakang peritoneum. Di pelvis menurun ke arah luar dan dalam, lalu menembus dinding posterior kandung kemih secara serong (oblik). Apabila kandung kemih sedang terisi kemih, ujung distal ureter akan menekan dan menutup. Itu dapat mencegah kembalinya kemih ke dalam ureter. Apabila kemih terisi sebagian atau kosong, kandung kemih terletak di dalam pelvis. Sedangkan bila terisi lebih dari setengahnya maka kandung kemih ini mungkin teraba di atas pubis. Peritenium menutupi permukaan atas kandung kemih. Periteneum ini membentuk beberapa kantong antara kandung kemih dengan organ-organ di dekatnya, seperti kantong rektovesikal pada pria, atau kantong vesiko-uterina pada wanita. Diantara uterus dan rektum terdapat kavum douglasi. Lapisan dinding ureter terdiri dari : a. Dinding luar jaringan ikat (jaringan fibrosa) b. Lapisan tengah otot polos c. Lapisan sebelah dalam lapisan mukosa Lapisan dinding ureter gerakan gerakan peristaltik tiap 5 menit ureter disemprotkan dalam bentuk pancaranmelalui osteum uretralis masuk ke kandung kemih (vesika urinaria).

Ureter berjalan hampir vertikal ke bawah sepanjang fasia muskulus psoas dan dilapisi oleh pedtodinium. Penyempitan ureter terjadi pada tempat ureter terjadi pada tempat ureter meninggalkan pelvis renalis, pembuluh darah, saraf dan pembuluh sekitarnya mempunyai saraf sensorik.

3. Kandung Kemih (Vesika Urinaria) Kandung kemih terletak dibelakang simpisis pubis merupakan penampung urine. Selaput mukosa berbentuk lipatan yang disebut rugae (kerutan) yang disertai dengan dinding otot yang elastis dapat mencembungkan kandung kemih yang sangat besar dan menampung jumlah urine yang banyak, dikelilingi oleh otot yang kuat, berubungan dengan ligamentum vesika umilikalis medius. Bagian vesika urinaria terdiri dari : 1. Fundus,mengahadap kearah belakang dan bawah, bagian ini terpisah dari rektum oleh spatium rectosivikale yang terisi oleh jaringan ikat duktus deferent, vesika seminalis dan prostate. 2. Korpus, yaitu bagian antara verteks dan fundus. 3. Verteks, bagian yang maju kearah muka dan berhubungan dengan ligamentum vesika umbilikalis. Dinding kandung kemih terdiri dari beberapa lapisan yaitu, peritonium (lapisan sebelah luar), tunika muskularis, tunika submukosa, dan lapisan mukosa (lapisan bagian dalam). Kandung kemih mendapat inervasi baik dari sistem parasimpatik, sedang ureter hanya mendapat serabut dari sistem saraf simpatik. Peredaran darah vesika urinari : Umbilikalis distal arteri vesikalis superior Vena anyaman Pembuluh limfe duktus limfatikus (sepanjang arteri umbiikalis) Persarafan : diatur torako lubal dan kranial dari sistem persarafan otonom.

4. Uretra Uretra merupakan saluran sempit yang berpangkal pada kandung kemih. Uretra laki-laki panjangnya sekitar 18-20 cm, berfungsi menyalurkan air kemih keluar dan juga untuk menyalurkan semen dalam sistem reproduksi. Pada laki-laki uretra berkelok-kelok, menembus prostat, kemudian melewati tulang pubis, selanjutnya menuju penis. Uretra laki-laki terdiri dari:

1. Urethra pars Prostatica 2. Urethra pars membranosa ( terdapat spinchter urethra externa) 3. Urethra pars spongiosa. Urethra pada wanita panjangnya kira-kira 3,7-6,2 cm (Taylor), 3-5 cm (Lewis). Uretra mulai dari orifisium uretra internal dari kandung kemih dan berjalan turun dibelakang simpisis pubis melekat ke dinding anterior vagina. Terdapat spinchter internal dan external pada uretra, spinchter internal adalah involunter dan external dibawah kontrol volunter kecuali pada bayi dan pada cedera atau penyakit saraf. Spinchter urethra terletak di sebelah atas vagina (antara clitoris dan vagina) dan urethra disini hanya sebagai saluran ekskresi. Dinding urethra terdiri dari 3 lapisan: 1. Lapisan otot polos, merupakan kelanjutan otot polos dari Vesika urinaria. Mengandung jaringan elastis dan otot polos. Sphincter urethra menjaga agar urethra tetap tertutup. 2. Lapisan submukosa, lapisan longgar mengandung pembuluh darah dan saraf. 3. Lapisan mukosa.

Pembentukan Urin 1. Filtrasi Terjadi di glomerolus, proses ini terjadi karena permukaan aferent lebih besar dari permukaan aferent maka terjadi penyerapan darah, kecuali protein, sedangkan cairan yang tersaring ditampung oleh simpai bowman yang terdiri dari glukosa, air, sodium, klorida, sulfat, bikarbonat dll, diteruskan ke seluruh ginjal.Cairan yang tersaring ini bernama filtrate glomerulus 2. Reabsorbsi Terjadi penyerapan kembali sebagian besar dari glukosa, sodium, klorida, fosfat dan beberapa ion karbonat. Prosesnya terjadi secara pasif yang dikenal dengan obligator reabsorpsi terjadi pada tubulus atas. Sedangkan pada tubulus ginjal bagian bawah terjadi kembali penyerapan dan sodium dan ion karbonat, bila diperlukan akan diserap kembali kedalam tubulus bagian bawah Penyerapannya terjadi secara aktif dikienal dengan reabsorpsi fakultatif dan sisanya dialirkan pada pupila renalis. 3. Augmentasi

Proses ini terjadi dari sebagian tubulus kontortus distal sampai tubulus pengumpul. Pada tubulus pengumpul masih terjadi penyerapan ion Na+, Cl-, dan urea sehingga terbentuklah urine sesungguhnya. Dari tubulus pengumpul, urine yang dibawa ke pelvis renalis lalu di bawa ke ureter. Dari ureter, urine dialirkan menuju vesika urinaria (kandung kemih) yang merupakan tempat penyimpanan urine sementara. Ketika kandung kemih sudah penuh, urine dikeluarkan dari tubuh melalui uretra. 4. Sekresi Sisa penyerapan/hasil reabsorbsi akan dialirkan ke piala ginjal (pelvis renalis) selanjutnya ke papila renalis.

Proses Miksi Air kemih (sekitar 250 cc) distensi kantung kemih stress reseptor melalui serabut saraf parasimpatis reflek kontraksi dinding kantungn kemih relaksasi spinter eksternus pengosongan kantung kemih

B.

Definisi Sistitis adalah inflamasi kendung kemih yang paling sering disebabkan oleh menyebarnya infeksi dari uretra. (Brunner & Suddarth, 2002).

Sistitis Pengertian Peradangan pada vesika urinaria, peradangan ini sering ditemui. (www.Stikes-Muhammadiyah-Pekajangan.com)

Inflamasi (peradangan) akut pada mukosa buli-buli (kandung kemih) yang sering disebabkan oleh infeksi bakteri.( http://kabarindonesia.com).

C.

Etiologi

Beberapa penyebab sistitis diantaranya adalah : 1. Aliran balik urine dari uretra ke dalam kandung kemih ( Refluks Uretrovesikal) 2. Adanya kontaminasi fekal pada meatus uretra 3. Pemakaian kateter atau sistoskop 4. Mikroorganisme : E.coli, Enterococci, Proteus, Staphylococcus aureus. 5. Bahan kimia : Detergent yang dicampurkan ke dalam air untuk rendam duduk, deodorant yang disemprotkan pada vulva, obat-obatan (misalnya: siklofosfamid) yang dimasukkan intravesika untuk terapi kanker buli-buli. 6. Infeksi ginjal

7. Prostat hipertrofi karena adanya urine sisa 8. Infeksi usus 9. Infeksi kronis dari traktus bagian atas 10. Adanya sisa urine 11. Stenosis dari traktus bagian bawah

D.

Faktor Resiko Cystitis jarang terjadi pada laki-laki. Wanita lebih rentan terhadap perkembangan cystitis

karena bakteri yang relatif pendek mereka uretra-tidak harus menempuh perjalanan sejauh untuk memasuki kandung kemih dan karena jarak yang relatif pendek antara pembukaan uretra dan anus. Namun bukan penyakit eksklusif wanita. Lebih dari 85% kasus cystitis disebabkan oleh''Escherichia coli ("E. coli ")'', bakteri yang ditemukan di saluran pencernaan lebih rendah. Hubungan seksual dapat meningkatkan risiko cystitis karena bakteri dapat diperkenalkan ke dalam kandung kemih melalui uretra selama aktivitas seksual. Setelah bakteri masuk kandung kemih, mereka biasanya dikeluarkan melalui buang air kecil. Ketika bakteri berkembang biak lebih cepat daripada mereka dihapus oleh buang air kecil, hasil infeksi. Risiko untuk cystitis meliputi obstruksi kandung kemih atau uretra dengan stagnasi resultan dari urin, penyisipan instrumen ke dalam saluran kemih (seperti kateterisasi atau cystoscopy), kehamilan, diabetes, dan sejarah nefropati analgesik atau nefropati refluks. lakilaki yang lebih tua pada peningkatan risiko untuk mengembangkan sistitis karena pengosongan yang tidak lengkap dari kandung kemih yang terkait dengan kondisi seperti benign prostatic hyperplasia (BPH), prostatitis dan striktur uretra. Juga, kekurangan cairan yang memadai, inkontinensia usus, imobilitas atau penurunan mobilitas dan penempatan di sebuah panti jompo adalah situasi yang menempatkan orang pada peningkatan risiko untuk cystitis.

E.

Manifestasi Klinis

Terdapat gejala frekuensi, karena buli-buli mengalami hipersensitif akibat reaksi inflamasi. Rasa nyeri/ sakit pada daerah suprapubik akibat kontraksi buli-buli. Terdapat riwayat hematuria akibat eritema pada mukosa buli-buli mudah berdarah.

Riwayat kebersihan alat kelamin yang tidak bersih. Riwayat kencing yang berbau. Jarang/ tidak ada terdapat gejala seperti pada infeksi saluran kemih bagian atas seperti demam, mual, muntah, badan lemas, dan kondisi umum yang menurun.

Pada pemeriksaan buli akan didapatkan: Adanya edema pada buli-buli Nyeri di daerah suprapubik Nyeri juga sering dirasakan di punggung sebelah bawah

Pada pemeriksaan penujang didapatkan: Urinalisis Makroskopik: urine berwarna keruh dan berbau Mikroskopik: piuria, hematuria, dan bakteriuria

Ada juga yang menyebutkan manifestasinya adalah a. Urgensi (terdesak rasa ingin berkemih) b. Sering berkemih (frekwensi) c. Rasa panas dan nyeri saat berkemih (disuria) d. Nokturia (sering berkemih pada malam hari) e. Nyeri atau spasme pada area kandung kemih dan suprapubik f. Piuria (adanya sel darah putih dalam urine) g. Hematuria (adanya sel darah merah dalam urine)

F.

Klasifikasi

Jenis ISK dapat dibedakan 2 bentuk infeksi saluran kemih, yaitu isk bagian bawah, dan isk bagian atas. a. Isk bagian Bawah( tanpa komplikasi), umumnya radang kandung kemih pada pasien dengan saluran kemih normal. b. Isk bagian Lebih Tinggi. (dengan komplikasi). Terdapat pada pasien dengan saluran kemih abnormal, mis. Adanya batu , penyumbatan atau diabetes. Contoh-contoh dari Isk ini adalah radang pasu ginjal (pyelitis), pyelonephritis&prostatitis, pada mana jaringan organ terinfeksi. Kombinasi dari infeksi dan obstruksi saluran kemih dapat menimbulkan dengan cepat kerusakan ginjal serius. Keadaan ini merupakan penyebab penting terjadinya keracunan darah ( septicemia, sepsis) oleh kuman-kuman Gram negative yang dapat membahayakan jiwa.

Berdasarkan gejalanya a. Isk bagian bawah: Sering kencing siang dan malam ( pollakisuria) Sukar kencing ( menetes) (stranguria) Perasaan sakit aau terbakar pada saat berkemih Nyeri perut dan pinggang Ada darah dalam urin Urin yang baunya abnormal Pada anak-anak terjadi malaise umum, demam, sakit perut, ngomppol malam dan hambatan pertumbuhan. Pada lansia juga malaise, demam, inkontinensi serta adakalanya perasaan kacau yang timbul mendadak. b. Isk bagian lebih tinggi Bergejala demam, kadang-kadang dengan menggigil dan sakit pinggang ( di lokasi ginjal)

G.

Komplikasi Pembentukan abses ginjal atau perirenal Gagal ginjal Sepsis

H.

Penatalaksanaan

Terapi Farmakologis Pada infeksi saluran kemih, antibiotik yang diberikan berdasarkan pada kultur kuman. Tujuan pengobatan infeksi saluran kemih adalah mencegah dan menghilangkan gejala, mencegah dan mengobati bakterimia, mencegah dan mengurangi resiko kerusakan ginjal. Berbagai macam cara pengobatan yang dilakukan pada klien dengan infeksi saluran kemih antara lain : - pengobatan dengan dosis tunggal - pengobatan jangka pendek ( 4- 14 hari ) - pengobatan jangka panjang ( 4-6 minggu ) Berikut obat yang biasa diberikan kepada klien dengan infeksi saluran kemih

Ulfaprim Kemasan dan no.Reg: Ulfaprim suspensi mengandung Sulfamethoxazole 200 mg dan Trimetoprim 40 mg / 5 mL, dalam botol 60 mL, No. Reg. : DKL0308509933A1. Ulfaprim tablet mengandung Sulfamethoxazole 400 mg dan Trimetoprim 80 mg (1 box berisi 10 strip @ 10 tablet), No. Reg. : DKL0308509510A1. Nama Generik : Co-trimoxazole Nama Dagang : Bactrim (Roche), Kaftrim (Kimia Farma), Inatrim (Indo Farma), Primadex (Dexa Medica), Sanprima (Sanbe), Triminex (Konimex) Indikasi : Infeksi Saluran Kemih, Infeksi Saluran Pencernaa, Infeksi Saluran Pernapasan, Infeksi kulit Kontra Indikasi : hipersensitif terhadap komponen obat, anemia megaloblastik Bentuk Sediaan : Tablet ( 80 mg Trimethoprim 400 mg Sulfamethoxazole) Anak-anak dan bayi usia dua bulan atau lebih: Berat Badan (Kg) 20 30 40 Dewasa dan anak-anak diatas 12 tahun adalah: dosis lazim: 2 kali sehari 2 tablet selama 10-14 hari infeksi berat: 2 kali sehari 3 tablet untuk pengobatan jangka panjang: 2 kali sehari 1 tablet Kaplet Forte (160 mg Trimethoprim 800 mg Sulfamethoxazole ) Sirup suspensi ( Tiap 5 ml mengandung 40 mg Trimethoprim 200 mg Sulfamethoxazole ) Anak-anak dan bayi usia 2 bulan atau lebih: Berat Badan (Kg) 10 20 30 40 Efek samping : Hipersensitivitas ( demam, rash, fotosensitivitas ) Dosis 5mL (1 sendok takar), 2x/hari 10mL (2 sendok takar), 2x/hari 5mL (3 sendok takar), 2x/hari 20mL (4 sendok takar), 2x/hari Pemberian obat setiap 12 jam 1 tablet 1 tablet 2 tablet

Gangguan pencernaan ( nausea, vomiting, diare ) Hematotoxicity ( granulositopenia, trombositopenia) Resiko Khusus : defisiensi G6PD, defisiensi asam folat, wanita hamil dan menyusui, gangguan fungsi hati, gangguan fungsi ginjal. Phenazopyridine

Indikasi : digunakan bersamaan dengan antibiotika untuk mengatasi infeksi saluran kemih, digunakan untuk mengobati iritasi atau rasa tidak enak sewaktu berkemih Efek Samping: pusing, sakit kepala, dan gangguan pencernaan Ciprofloxacin

Nama Generik : Ciprofloxacin Nama Dagang : Ciproxin (Bayer), Interflox (Interbat), Nilaflox (Nicholas), Quidex (Ferron), Renator (Fahrenheit), Scanax (Tempo Scan Pasific) Indikasi : Infeksi Saluran Kemih, Sinusitis Akut, Infeksi Kulit, Infeksi Tulang dan Sendi, Demam Typhoid, Pneumonia Nosokomial Kontra Indikasi : Hipersensitif terhadap Ciprofloxacin atau golongan quinolon lain Bentuk Sediaan : Tablet, kaplet (250 mg, 500 mg, 750 mg); Tablet lepas lambat ( 500 mg, 1000 mg ) Dosis : Dewasa : 250 mg tiap 12 jam Efek Samping : ruam kulit, diare, mual, muntah, nyeri perut, sakit kepala, susah tidur, jantung berdebar-debar, halusinasi Resiko Khusus : Pasien dengan gangguan ginjal, Wanita hamil dan menyusui. Nitrofurantoin

Bersifat bakteriostatik dan bakterisid untuk banyak bakteri gram positif dan gram negative. Nitrofurantoin diabsorpsi dengan baik setelah ditelan tetapi dengan cepat

dimetabolisme dan disekresikan sehingga tidak memungkinkan kerja antibakteri sistemik. Obat ini disekresikan di dalam ginjal. Dosis : untuk infeksi saluran kemih pada orang dewasa adalah 50-100 mg 4 x dalam 7 hari setelah makan. Efek samping : - Anoreksia - Mual - Muntah Terapi non-farmakologis

Untuk mengatasi agar tidak lebih parah, pada waktu bangun di pagi hari. Buang air seni pada pagi hari dapat membantu mengeluarkan bakteri darikandung kamih yang akan keluar bersama urin. Jarang buang air seni menyebabkan beberapa bakteri mendapat peluang untuk berkembang biak dengan cepat dalam kandung kemih.

Minum air putih inimal 8 gelas atau 2,5 liter setiap hari. Air putih dapat melancarkan pengeluaran air seni dan dapat mencegah timbulnya penyakit infeksi saluran kemih. Menjaga dengan baik kebersihan sekitar organ intim dan saluran kencing. Setiap buang air seni, bersihkanlah dari depan ke belakang. Hal ini mengurangi kemungkinan bakteri masuk ke saluran urin dari rectum. Membersihkan organ intim dengan sabun khusus yang memiliku keseimbangan pH sebab membersihkan dengan air saja tidak cukup bersih. Buang air seni sesering mungkin ( setiap 3 jam ) untuk mengosongkan kandung kemih dan jangan menunda membuang air seni, karena perbuata ini justru merupakan penyebab terbesar dari infeksi saluran kemih.

Pilihlah toilet umum dengan toilet jongkok. Sebab toilet jongkok tidak menyentuh langsung ke permukaan toilet dan lebih higienis. Jika terpaksa menggunakan toilet duduk, sebelum menggunakannya sebaiknya membersihkan dulu pinggiran dudukan toilet.

Saat membersihkan saluran kencing gunakan air langsung keran. Ganti selalu pakaian dalam setiap hari, karena bila jarang diganti bakteri akan berkembang biak secara cepat dalam pakaian dalam. Gunakan pakaian dalam dari bahan katun yang menyerap keringat agar tidak lembab.

I.

Pemeriksaan Diagnostik a. Urinalisis 1) Leukosuria atau piuria terdapat > 5 /lpb sedimen air kemih 2) Hematuria 5 10 eritrosit/lpb sedimen air kemih. b. Bakteriologis Mikroskopis ; satu bakteri lapangan pandang minyak emersi, 102 103 organisme koliform/mL urin plus piuria 2 ) Tes kimiawi; tes reduksi griess nitrate berupa perubahan warna pada uji carik. c. Pemeriksaan USG abdomen d. Pemeriksaan photo BNO dan BNO IVP

J.

Pencegahan 1. Mwnjaga dengan baik kebersihan sekitar organ intim dan saluran kemih 2. Membersihkan dengan sabun pH seimbang 3. Menggunakan toilet jongkok, lebih higienis. Kalua terpaksa toilet duduk, bersihkan dulu pinggirannya dengan tissue 4. Bersihkan organ intim dengan shower, jangan dengan air terapung di toilet umum 5. Gunakan pakaian katun agar tidak lembab 6. Mandi dengan air mengalir daripada berendam 7. Bersihkan pereniem setelah defekasi dengan gerakan dari depan ke belakang 8. Minum sejumlah cairan, hindari kopi, the, alcohol 9. Segera berkemih setelah hubungan seks 10. Biasakan berkemih setiap 2-3 jam sekali

K.

Pendidikan Kesehatan Wanita dan anak perempuan dianjurkan untuk sering minum (jus cranberry terbukti dapat menrunkan insiden sistitis) dan pergi buang air kecil sesuai kebutuhan untuk membilas mikro organisme yang mungkin merayap naik ke uretra. Anak perempuan harus di beri tahu sedini mungkin agar membilas dari depan ke belakang agar menghindari kontaminasi lubang uretra oleh bakteri feses. Wanita di anjurkan untuk berkemih sehabis berhubungan intim untuk membilas mikroorganisme yang masuk. Mandi busa tidak di anjurkan bagi anak perempuan karena dapat terjadiiritasi pada lubang uretra sehingga memberikan akses kepada bakteri ke uretra. Demikian juga anak perempuandi anjurkan untuk tidak main-main di bak mandi setelah bersampo. Diperlukan terapi antibiotic dengan urinealisis berulang atau setelah pemberian obat Dianjurkan untuk tidak menahan keinginan untuk berkemih Jaga kebersihan daerah genetalia. Setelah pemberian obat tetap harus control periksa.

L.

Pengkajian

1. Data Biografi Nama : Ny. W

Usia Jenis Kelamin Status Pekerjaan Suku/bangsa Alamat No. Telepon Diagnosa medis

: 25 Tahun : Perempuan :::::: Sistitis (infeksi saluran kemih)

a) Keluhan utama: klien mengeluh jika dirinya sakit saat berkemih, didaerah supra pubik terasa tegang. b) Riwayat kesehatan sekarang: Berkemih keluar sedikit-sedikit disertai rasa nyeri. setelah dilakukan saat dikaji oleh perawat didapatkan hasil: Klien mengeluh urgency, frequency,disuria, dan diare. Tabel analisa: N O. 1 2 3 HR RR TD 75-100x/m 22-25x/m 100-120/80-90 mmHg 6 Urin output Warna 500-1000ml/hari Kuning pucat Keruh Tidak normal, ada 90x/m 120/80mmHg Normal normal Pemeriksaan Normal Klien Interpretasi

kandungan abnormal di pH 4,6-8,0 Tidak teridentifikasi Tidak protein 0-18mg/dL, 150mg/24jam Protein 3+ 0- teridentifikasi urin Biasanya terpengaruh biasannya meningkat tidak

specific gravity 1,010-1,025

sampai 1,030 pada SN sindrom nefrotik: >3,5g/ hr

c)

Riwayat kesehatan masa lalu:

Kaji riwayat penyakit klien baik penyakit yang sedang dialami atau pernah dialami klien. Kaji riwayat alergi klien, apakah klien alergi terhadap obat-obatan tertentu.

d) Riwayat kesehatan keluarga: buat genogram keluarga, identfikasi penyakit yang bisa diturunkan seperti DM, hipertensi dan lain sebagainya yang bisa meredisposisikan klien terhadap penyakit ginjal, riwayat penyakit ginjal keluarga juga perlu diidentifikasi. Namun sistitis ini tidak diturunkan. e) Riwayat obat-obatan: kaji jenis obat yang diminum klien unutk menangani kondisinya sebelum merujuk ke rumah sakit ataupun obat-obatan yang diminum secara rutin baik dengan resep dikter maupun tidak. Dalam kasus klien mengkonsumsi obat kortikosteroid yang diberikan puskesmas. Tanyakan dosis yang diminum, berapa lama klien minum obat tersebut, efek samping yang muncul akibat obat tersebut misalnya: moon face, peningkatan nafsu makan, infeksi, hiperglikemia, hirsutisme, dan lainlain.

2. Pola-pola fungsi kesehatan a) Pola Aktivitas & Lingkungan kaji lingkungan hidup dan aktivitas yang dijalani secara rutin oleh klien maupun keluarganya. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi ada tidaknya pengaruh aktivitas dan lingkungan terhadap penyakit klien dan juga untuk mengetahui pengaruh kondisi klien terhadap aktivitas dirinya maupun keluarganya. b) Pola Gaya Hidup, pada kasus ini, kondisi klien bersifat idiopatik sehingga tidak ada pengaruh gaya hidup terhadap penyakitnya. Namun, gaya hidup klien mungkin perlu dimodifikasi sesuai kondisi klien khususnya pada nutrisi dan cairan. c) Pola Eliminasi, kaji apakah klien mengalami oliguri dengan cara menghitung urin output. Pada kasus SN kemungkinan terjadi oliguri. d) Pola Nutrisi/Cairan, perlu dikaji pola nutrisi dan cairan klien untuk menentukan keseimbangan nutrisi dan cairan pada klien.

3. Aspek psiko-sosio-spiritual Terhadap Klien

1) Bio, secara biologis, mungkin sudah jelas, klien ini mengalami perubahan/gangguan secara biologis pada system urinari yang kemudian berefek pada sistem lainnya misalnya jantung, paru-paru, integumen dan hepar. Gangguan secara biologis juga bisa dilihat dari sisi pemenuhan KDM pada klien ini. Klien ini mungkin mengalami gangguan nutrisi, keseimbangan cairan, dan lain sebagainya. 2) Psiko, kaji kondisi psikologis klien dan keluargannya, pada kasus ini keluarga mungkin mengalami kecemasan karena ketidaktahuan terhadap cara bersenggama yang higienis. 3) Sosio, karena klien merupakan istri yang baru berumah tangga, nampaknya memiliki kecemasan terhadap suaminya. 4) Spiritual, kaji keyakinan keluarga klien/ klien, ketaatan keluarga klien/ klien dalam beribadah dan pengaruh penyakit ini pada keyakinan mereka.

4. Pemeriksaan Fisik Kaji tanda-tanda vital (terlampir pada table analisa di atas) a. Inspeksi , melihat keadaan klien secara umum, bagaimana kesadarannya, apakah kelihatan sakit, malaise, atau pucat. Inspeksi kulit klien, edema pada klien bisa dilihat secara kasat mata, perawat bisa melihat keparahan edema, untuk mengetahui besarnya edema . b. Palpasi Palpasi edema atau disebut dengan pitting edema: dengan cara meletakkan jari telunjuk di atas edema; 1. 1+ untuk pitting dengan kedalaman sekitar 2 mm, dan hilang dengan cepat , 2. 2+ untuk pitting dengan kedalaman sekitar 4 mm, hilang dalam waktu 10-15 detik, 3. 3+ untuk pitting dengan kedalam sekitar 6 mm, hilang dalam waktu > 1 menit. 4. 4+ untuk pitting dengan kedalam sekitar > 6 mm, hilang dalam waktu 2-3 menit. (Linda & paul,2007) c. Perkusi , perkusi pada kasus ini dilakukan apabila dicurigai adanya penumpukan cairan di paru-paru klien. Adanya penumpukan cairan ditandai dengan suara dullness. d. Auskultasi, untuk mendengar suara nafas tambahan, dan suara jantung untuk mengidentifikasi apakah terjadi komplikasi. Seperti efusi pleura, gagal jantung, efusi pericardium dan lain sebagainya.

5. Pemeriksaan Urin a. Urinanalisis Secara umum dilakukan untuk mendapatkan informasi penting tentang fungsi ginjal dan menolong mendiagnosa penyakit. Pada kasus sindrom nefrotik pemeriksaan urinalisis difokuskan pada pemeriksaan proteinuria terutama albumin dan eritrosit. Nilai kadar protein urin sangat tinggi berkisar antara derajat 3+ sampai 4+ (300-1000 mg/dL) Urine analisis ini bisa dilakukan dengan analisa urin selama 24 jam atau cara yang lebih mudah dengan spot urin yaitu membandingkan urin protein dengan urin kreatinin. Apabila urin protein lebih dari 2 gr/gr kreatinin, menandakan proteinuria sebanyak 3 gram atau lebih per hari. Dari hasil diapatkan: eritrosit+ b. Test Serum (kadar normal bisa dilihat di table analisa) Tes serum dilakukan untuk memeriksa kadar : protein darah; terutama albumin, kadar albumin darah dapat menurun hingga dibawah 2g/dl pada proteinuria berat kadar lipid darah; meliputi pemeriksaan serum cholesterol, dan kadar urin berwarna keruh, WBC +++, cultur + bakteri, pyuria,

trigliserida.. Kadar kolesterol juga meningkat atau hiperkolesterolemia yang diakibatkan menurunnya enzim katabolisme lipid. Hematokrit; Pasien SN biasanya mengalami peningkatan hematokrit yang disebabkan oleh kurangnya cairan diintravaskuler atau hipovolemia. Serum creatinin dan BUN, biasanya masih dalam kadar normal, tapi bisa meningkat apabila adanya penurunan fungsi ginjal. 6. Terapi pada klien Bachtrim 3x1 tab 400 Mg Po Phenazopiridine 3x 1 tab Po

M.

Analisa Data Etiologi Masalah Nyeri berhubungan

No. Data 1. Ds: klien mengatakan bahwa dirinya berkemih merasa nyei saat

dengan inflamasi d.o klien mengeluh nyeri

Berkemih disertai nyeri

sedikit-sedikit

saat berkemih

Do: pemeriksaan urin eritrosit + 2. Ds: Do: hasil pemeriksaan urin WBC +++, cultur + bakteri Perubahan eliminasi b.d infeksi pada dinding

kandung kemih

N.

Diagnosa Keperawatan

1. Gangguan rasa nyaman: Nyeri berhubungan dengan inflamasi pada saluran kemih d.d klien mengeluh nyeri saat berkemih 2. Perubahan eliminasi b.d infeksi pada dinding kandung kemih d.d culture + bakteri

O. No 1.

Intervensi Keperawatan Diagnosa Tujuan Intervensi 1. Kaji intensitas, lokasi, factor Tupen: dilakukan dan yang Rasional 1. Rasa sakit yang hebat menandakan adanya infeksi

Gangguan rasa Tupan : nyaman: Nyeri Nyeri hilang berhubungan dengan

memperberat atau meringankan nyeri. 2. Catat lamanya intensitas skala (1-10) penyebaran nyeri. 3. Pantau haluaran urine lokasi, 2. Membantu mengevaluasi tempat dan nyeri 3. Untuk mengidentifikasi indikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang obstruksi penyebab

inflamasi pada Setelah saluran kemih DS : klien mengeluh tindakan

keperawatan, pasien nyaman merasa dan

flank pain dan nyerinya berkurang. dysuria DO : leukosit ++++ eritrosit (+) kultur bakteri Kriteria Hasil : Leukosit (-) Eritrosit (+) Kultur bakteri (-)

(+) pyuria

Tidak pyuria

ada

terhadap perubahan warna, bau dan pola berkemih, masukan dan

diharapkan

4. Menurunkan tegangan otot ,

haluaran setiap 8 jam dan hasil

memfokuskan kembali perhatian, kompres akan hangat

pantau

urinalisis ulang 4. Berikan nyaman (sentuhan teraupetik, perubahan posisi, pijatan/kompre s hangat pada punggung) dan dorong untuk rasa

dan dapat

meningkatkan kemampuan koping.

5. membentu membilas saluran berkemih

kolaborasi : sulfamethoxazole mengobati infeksi sauran kemih

melakukan teknik relaksasi(latiha n nafas dalam 5. Anjurkan minum banyak 2-3 liter

,.Menghancurkan bakteri dalam

saluran kemih menghilangkan gejala saluran yang

Kolaborasi : - Berikan Sulfamethoxaz ole dengan kebutuhan dan sesuai

kemih

sehungan dengan infeksi atau

prosedur urologic: nyeri, gatal, rasa terbakar, urgensi,

evaluasi keberhasilanny a - Beriakan fenazopiridin - Pantau

frekuensi.

2.

Perubahan eliminasi infeksi dinding kandung kemih Ds: Do:

Setelah b.d tindakan

dilakukan

dan

- Untuk mengetahui adanya perubahan warna dan untuk mengetahui - Mencegah terjadinya penumpukan urine dalam urinaria - Mengetahui adanya distensi vesika input

observasi urine setiap berkemih - Anjurkan berkemih setiap 2-3 jam sekali - Palapasi kandung dapat setiap kemih setiap 4 jam - Bantu tidak saat kamar atau menggunakan pispot - Bantu untuk mendapatkan posisi nyaman berkemih yang saat klien ke kecil kali

pada keperawatan selama 3x24 dapat mempertahankan pola eliminasi jam, klien

serta output cairan

hasil secara adekuat

pemeriksaan urin WBC Kriteria hasil:

+++, cultur + Klien bakteri berkemih 3jam sekali Klien kesulitan berkemih

kandung kemih - Memudahkan klien saat berkemih - Agar klien tidak sukar berkemih untuk

P.

Daftar Pustaka

Brunner & Suddath.2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC

Tessy, Agus dkk. 2003. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : Balai Penerbit FKUI Arif Mansjoer, dkk . 2000. Kapita Selekta Kedokteran , Edisi 3 , Jilid 1. Jakarta: EGC. Nursalam. 2008. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem Perkemihan. Jakarta: Salemba Medika. Kreder and Williams. 2008. Urologic Laboratory Examination.In: Tanagho and McAninch (Editors). Robbin,Cotran. 2007. Buku Ajar Patologi Ed.7, Vol.2. Jakarta : EGC Syamsuhidayat, Wim de Jong. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah, Ed.2. Jakarta : EGC Suharyanto, Toto dan Madjid, Abdul. 2008. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem Perkemihan. Jakarta : Trans Info Media. Engram, Barbara. 1998. Rencana Asuhan Keperawatan Medical Bedah volume 1. Jakarta : EGC. Soeparman, dkk. 2001. Ilmu Penyakit Dalam jilid II edisi 3. Jakarta : Balai penerbit FKUI. http://prastiwisp.wordpress.com/2011/01/03/proses-pembentukan-urin/ www.Stikes-Muhammadiyah-Pekajangan.com http://kabarindonesia.com http://andaners.wordpress.com/asuhan-keperawatan/