Anda di halaman 1dari 6

Tanatologi Defenisi Tanatologi Tanatologi adalah ilmu yang mempelajari cara kematian korban dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.

Ada 3 manfaat tanatologi, yaitu : 1. Menetapkan hidup atau matinya korban. 2. Memperkirakan lama kematian korban. 3. Menentukan wajar atau tidak wajarnya kematian korban.

Menetapkan apakah korban masih hidup atau telah mati dapat kita ketahui dari masih adanya tandatanda kehidupan dan tanda-tanda kematian. Tanda-tanda kehidupan dapat kita nilai dari masih aktifnya siklus oksigen (O2) yang berlangsung dalam tubuh korban. Sebaliknya, tidak aktifnya siklus oksigen (O2) menjadi tanda-tanda kematian.

Ada 3 sistem yang berperan dalam siklus oksigen dan membantu kita mendeteksi hidup matinya seseorang, yaitu : 1. Sistem saraf, terutama medulla oblongata sebagai pusat vital. 2. Sistem kardiovaskuler, yaitu jantung sebagai pemompa darah dan denyut nadi sebagai transpor oksigen. 3. Sistem pernapasan (respiratorius system), terutama paru-paru sebagai tempat pertukaran oksigen (oxygen exchange).

Stadium Kematian Ada 2 stadium kematian, yaitu : 1. Kematian somatik / kematian klinis / kematian sistemik 2. Kematian seluler / kematian molekuler

Kematian somatik / kematian klinis / kematian sistemik adalah berhentinya fungsi sistem saraf, sistem kardiovaskuler, dan sistem pernapasan secara irreversibel sehingga menyebabkan terjadinya anoksia

jaringan yang lengkap dan menyeluruh. Jadi stadium kematian ini telah sampai pada kematian otak yang irreversibel (brain death irreversible). Setelah stadium kematian somatik / kematian klinis / kematian sistemik berlalu, masih ada beberapa jaringan yang masih hidup beberapa lama. Sel saraf bisa bertahan hidup dalam 5 menit. Otot dapat dirangsang secara mekanis atau listrik setelah 3 jam kematian. Pupil dapat midriasis dengan tetesan atropin sesudah 4 jam kematian.

Kematian seluler / kematian molekuler adalah berhentinya aktifitas sistem jaringan, sel, dan molekuler tubuh. Sel otak merupakan organ yang paling cepat mengalami kematian ini. Stadium ini penting dalam transplantasi organ atau transplantasi jaringan.

Fungsi sistem saraf, kardiovaskuler, dan sistem pernapasan dapat saja berhenti secara reversibel. Artinya dapat kita bantu untuk menghidupkannya kembali menggunakan alat yang adekuat. Keadaan ini disebut mati suri. Bisa terjadi pada orang yang terkena listrik, terkena petir, kedinginan (tenggelam dalam salju), anestesi dalam, acute heart failure, katalepsi dan neonatal anoxia. Kadang-kadang kita menjumpai suatu keadaan dimana otak telah mengalami kematian irreversibel (EEG flat/datar) sedangkan organ lain atau kedua sistem (sistem kardiovaskuler dan sistem pernapasan) lainnya tetap hidup dan dapat kita pertahankan menggunakan bantuan alat. Situasi ini disebut mati serebral.

Cara Mendeteksi Kematian Melalui fungsi sistem saraf, kardiovaskuler, dan pernapasan, kita bisa mendeteksi hidup matinya seseorang. Ada 5 cara mendeteksi tidak berfungsinya sistem saraf, yaitu : 1. Areflex 2. Relaksasi 3. Pergerakan tidak ada 4. Tonus tidak ada 5. Elekto Ensefalografi (EEG) mendatar / flat Ada 6 cara mendeteksi tidak berfungsinya sistem kardiovaskuler, yaitu :

1. Denyut nadi berhenti pada palpasi. 2. Detak jantung berhenti selama 5-10 menit pada auskultasi. 3. Elektro Kardiografi (EKG) mendatar / flat. 4. Tes magnus : tidak adanya tanda sianotik pada ujung jari tangan setelah jari tangan korban kita ikat. 5. Tes Icard : daerah sekitar tempat penyuntikan larutan Icard subkutan tidak berwarna kuning kehijauan. 6. Tidak keluarnya darah dengan pulsasi pada insisi arteri radialis.

Ada 5 cara mendeteksi tidak berfungsinya sistem pernapasan, yaitu : 1. Tidak ada gerak napas pada inspeksi dan palpasi. 2. Tidak ada bising napas pada auskultasi. 3. Tidak ada gerakan permukaan air dalam gelas yang kita taruh diatas perut korban pada tes Winslow. 4. Tidak ada uap air pada cermin yang kita letakkan didepan lubang hidung atau mulut korban. 5. Tidak ada gerakan bulu burung yang kita letakkan didepan lubang hidung atau mulut korban.

Perubahan Setelah Kematian (Post Mortem) Ada 2 fase perubahan post mortem, yaitu fase dini dan fase lanjut.

Ada 5 perubahan pada fase dini post mortem, yaitu : 1. Muka pucat. 2. Hilangnya elastisitas kulit. 3. Otot atoni dan relaksasi. 4. Perubahan mata. 5. Terhentinya sistem pernapasan, kardiovaskuler, dan saraf. Ada 5 perubahan mata pada fase dini post mortem, yaitu : 1. Segmentasi pembuluh darah retina. 2. Tidak adanya refleks pupil dan refleks kornea. 3. Menurunnya tonus bola mata.

4. Kornea keruh. 5. Bulbus okuli melunak dan mengkerut.

Keruhnya kornea mata akibat adanya lapisan tipis yang menutupi kornea mata. Lapisan tipis itu merupakan sekret mata yang telah mengering akibat penguapan cairan. Apabila lapisan itu hilang setelah kita meneteskan cairan pada kornea mata maka lama kematian korban dapat kita perkirakan yaitu kurang 6 jam.

Ada 5 perubahan pada fase lanjut post mortem, yaitu : 1. Algor mortis 2. Livor mortis 3. Rigor mortis 4. Pembusukan(Putrefection/Dekomposisi) 5. Perubahan biokimia

Ada 3 contoh perubahan biokimia pada fase lanjut post mortem, yaitu : 1. Perubahan plasma 2. Perubahan humor vitreus 3. Perubahan jantung

Perubahan biokimia plasma ada 2 yaitu peningkatan kadar kalium, pospor, CO & asam laktat dan penurunan kadar glukosa & pH. Perubahan humor vitreus berupa peningkatan kadar kalium yang terjadi antara 24 sampai 100 jam post mortem. Perubahan jantung berupa adanya chicken fat clot (bekuan lemak ayam) yaitu bekuan darah post mortem menyerupai lemak ayam yang berwarna merah kekuningan. Bekuan ini biasanya kita temukan pada jantung mayat yang mati dengan proses kematian lama.

Ada 3 perubahan post mortem yang lain, yaitu : 1. Maserasi

2. Mummifikasi 3. Adipocere / saponifikasi

Maserasi atau dekomposisi steril atau otolisis merupakan kematian intra uterin yang tampak nyata pada 8-10 hari kematian.

Ada 5 tanda maserasi, yaitu : 1. Kulit merah 2. Sendi lunak dan hiperekstensi 3. Bulla sereus merah 4. Bau ketuban 5. Gas pembusukan tidak ada

Mummifikasi adalah mayat menjadi kering & awet, tidak membusuk, dan kulit melekat erat pada jaringan dibawahnya. Mayat mengering karena penguapan cairan tubuh oleh udara dingin & kering seperti udara padang pasir.

Ada 5 hal yang penting pada mummifikasi, yaitu : 1. Prinsip : ada pengeringan dan pengisutan alat tubuh akibat proses penguapan cairan tubuh. 2. Syarat : suhu udara tinggi, kelembaban rendah (udara kering), dan aliran udara terjadi terusmenerus. 3. Gejala : tubuh kurus kering, mengeriput, kulit kecoklatan, kulit merekat erat pada jaringan dibawahnya, anatomi organ baik, dan tidak ada pembusukan. 4. Tujuan : identifikasi korban. 5. Tanda kekerasan dapat kita cari.

Adipocere atau saponifikasi adalah garam lemak (sabun yang tidak larut) yang terbentuk dari reaksi antara asam lemak jenuh (saturated fatty acid) dari tubuh mayat dengan alkali dari lingkungan mayat. Asam lemak jenuh (saturated fatty acid) terbentuk dari asam lemak tidak jenuh (unsaturated fatty acid) oleh proses hidrogenasi. Kita dapat menemukannya pada omentum dan mayat yang terendam dalam

tanah yang kaya mengandung alkali.