Anda di halaman 1dari 4

TUGAS T.

SEDIAAN SOLIDA JURNAL SUPPOSITORIA (UAS)

Self-Microemulsifiyng Suppository Formulation of -Artemether


KELOMPOK: A2

Comment : YULITA RESNAWATI . S ( 1070169 ) Pada jurnal yang berjudul Self-Microemulsifiyng Suppository Formulation of Artemether, dinyatakan bahwa proses dari Self-Microemulsifiyng itu sendiri dapat ditingkatkan dengan menggunakan suppo self-microemulsifying suppositories atau SMES yang memakai kombinasi dari Gelucire 44/14 (M.P. 44C) Suppocire AP (MP 3335C) sebagai peningkat solubilitasnya. Sedangkan Uji Rheology nya sendiri digunakan untuk menentukan kualitas dari suppo pada temperatur 30 dan 40C. Dinyatakan bahwa formulasi suppo self-microemulsifying suppositories (SMES) -artemether lebih baik daripada dengan formula yang menggunakan polyethylene glycol (PEG) sebagai basisnya, karena ditunjukkan pada tabel Fig.1 dimana viskositas suppo SMES lebih tinggi dan waktu cair suppo SMES lebih pendek , sehingga secara in-vivo aktivitas suppo SMES lebih tinggi daripada suppo basis PEG dikarenakan obat dapat lebih dapat cepat larut. Selain itu, kelebihan lain suppo SMES tersebut adalah dapat mempertahankan lebih lama (prolong) aktivitas anti-malaria dari -Artemether dibanding suppo dengan basis PEG (dapat dilihat melalui tabel di Fig.5). Jadi disimpulkan bahwa untuk suppo anti-malaria Artemether lebih optimal dengan menggunakan formulasi suppo basis SMES (SelfMicroemulsifiyng Suppository) karena selain memperpanjang waktu efektivitas dari antimalarianya, juga stabil dalam mempertahankan bentuk dari suppo , karena mempunyai waktu leleh yang pendek, sehingga obat dapat larut dengan sangat baik.

Comment : Yolanda Prisillia ( 1080018 ) Penyakit parasit memiliki signifikansi global yang besar, yaitu sekitar 30% dari populasi dunia. Salah satunya ialah penyakit malaria. Berbagai rute administrasi telah dieksplorasi untuk memberikan terapi pada penyakit maria. Pemberian secara rektal sering dicari sebagai alternatif pemberian untuk mengatasi iritasi lambung, mual, dan muntah, yang dapat disebabkan oleh pemberian obat secara oral atau pemberian obat secara oral atau pemberian secara parenteral yang tidak memungkinkan untuk dilakukan. Rektal suppositoria konvensional dengan basis PEG mungkin melunak atau mencair di posterior rektum dan vagina, karena mereka relatif memiliki titik lebur tinggi dan bahan aktif tidak dapat diabsorpsi cepat di mukus membran serta dapat menyebabkan iritasi lokal dan kerusakan mukosa. Masalah suppositoria konvensional ini dapat diatasi dengan mengembangkan self

microemulsifying suppositories (SMES)dari beta artemether. Formulasi SMES adalah campuran isotropik dari basis lemak, surfaktan, co-surfaktan (solibilizer) dan bahan aktif dari hasil yang didapatkan SMES, lebih unggul memiliki semua karakteristik fisikokimia yang diperlukan untuk suppositoria dan dari percobaan studi in vivo menunjukkan aktivitas antimalaria pada SMES lebih tinggi dibandingkan dengan suppositoria dengan basis PEG sehinggan menjadi lebih efektif. Dengan adanya studi ini, pemberian suppositoria SMES untuk anti-malaria bisa dipertimbangkan dengan jeuntungan lebih banyak daripada suppositoria konvensional dengan basis PEG. Comment : Hendra wijaya ( 1060135 ) Suppositoria adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dalam bentuk, yang diberikan melalui rectal, vaginal atau uretra. Bentuk dan ukurannya harus sedemikian rupa sehingga dapat dengan mudah dimasukkan ke dalam lubang atau celah yang diinginkan tanpa meninggalkan kejanggalan begitu masuk, harus dapat bertahan untuk suatu waktu tertentu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SMES memiliki semua yang diperlukan fisiko-kimia karakter suppositoria. Selain itu, mengembangkan SMES dari -Artemether lebih efisien bisa memperpanjang aktivitas antimalaria dibandingkan dengan PEG-based.

Comment : Beatrix anna maria ( 1080109 ) -Artemether merupakan antimalaria yang baik, biasanya tesedia dalam bentuk tablet oral dan injeksi intramuskular (im). Namun anak-anak dengan malaria berat sering mengalami pingsan, kejang, dan muntah, sehingga obat oral sulit digunakan dan pemberian parenteral tidak memungkinkan, karena kurangnya peralatan dan pengetahuan tenaga kesehatan yang minim, sehingga berpotensi berbahaya jika tidak mempertahankan sanitasi yang memadai. Kemudian untuk mengatasi kekurangan sediaan tersebut, dibuat penelitian sediaan baru yaitu suppositoria. Suppo yang dibuat menggunakan cara konvensional dengan basis PEG (PEG 400 = 640mg & PEG 4000 = 320mg ) dimana suppo akan meleleh dalam rektum posterior dan menggunakan metode SMES (self microemulsifying suppositories) dari -artemether dimana digunakan campuran basis lipid isotropik, surfaktan, dan cosurfactant atau solubilizer, yaitu Suppocire AP (110 mg), Gelucire 44/14 (800 mg), and TranscutolP (50 mg). Kemudian kedua suppo ini diuji dan dibandingkan. Dari hasil pengujian karakteristik fisiko-kimianya, SMES memenuhi semua persyaratan uji fisiko-kimia yang diperlukan suppo dan pada pengujian invivo, SMES menunjukan aktivitas antimalaria yang lebih baik dari pada soppo yang berbasis PEG. Sedangkan suppo dengan dengan basis PEG masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. Comment : Dewinta Sarah A. ( 1080137 ) Sediaan suppositoria dimaksudkan sebagai rute alternatif untuk mengatasi iritasi lambung, mual dan muntah. Selain itu pilihan suppositoria di ambil jika rute oral dirasa tidak nyaman diberikan, misal pada pasien bayi dan lansia. Polietilen glikol (PEG) berdasarkan rektal supositoria dapat melunak atau meleleh dalam rektum posterior dan karena titik lebur

yang relatif tinggi sehingga tidak dapat cepat diserap oleh selaput lendir. Selain itu, PEG juga dapat menyebabkan iritasi lokal dan kerusakan mukosa. Maka dari itu diatasi dengan menggunakan suppositoria microemulsifying. Formulasinya yaitu dengan membuat campuran isotropik dari basis lemak, surfactan, cosurfaktan atau solubilizer dan obat. Dari hasil jurnal tersebut sediaan microemulsifying dibanding PEG lebih baik microemulsifying dimana sediaan tersebut meiliki semua syarat fisiko-kimia suppositoria. Selain itu pada studi in vivo SEMS memiliki aktivitas yg lebih tinggi sebagai antimalaria. Comment : RATNA ANGGRAENI ( 1080147 ) Pemberian secara rektal sering dicari sebagai alternatif pemberiaan mengatasi iritasi lambung, mual, dan muntah yang dapat disebabkan oleh pemberian obat secara oral atau pemberian secara parental yang tidak memungkinkan untuk dilakukan. Rektal suppositoria konvensional dengan basis PEG mungkin melunak atau mencair di posterior rektum dan vagina karena mereka relatif memiliki titik lebur tinggi dan bahan aktif tidak dapat diabsorpsi cepat di mukus membran serta dapat menyebabkan iritasi lokal dan kerusakan mukosa. Masalah suppositoria konvensional ini dapat diatasi dengan mengembangkan self microemulsifying suppositories (SMES) dari -artemether. Formulasi SMES adalah campuran isotropik dari basis lemak, surfaktan, co-surfaktan (atau solubilizer) dan bahan aktif. Dari hasil yang didapatkan SMES lebih unggul memiliki semua karakteristik fisikokimia yang diperlukan untuk suppositoria dan dari percobaan studi in vivo menunjukan aktivitas antimalaria pada SMES lebih tinggi dibandingkan dengan suppositoria dengan basis PEG sehingga menjadi lebih efektif. Dengan adanya studi ini, pemberian suppositoria SMES untuk antimalaria bisa dipertimbangkan dengan keuntungan lebih banyak daripada suppositoria konvensional dengan basis PEG. Comment : Ahmad Nur F ( 1080155 ) Pada jurnal artikel ini membandingkan basis SMES ( Self Microemulsifying Suppositories ) pada -artemeter dengan basis PEG yang digunakan pada umumnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa basis SMES -artemeter memiliki karakteristik fisiko-kimia supositoria lebih baik daripada basis PEG. Dalam studi in vivo menunjukkan aktivitas yang lebih tinggi antimalaria untuk -artemeter basis SMES dibandingkan dengan basis PEG supositoria. Selain itu, mengembangkan -artemeter basis SMES efisien bisa memperpanjang aktivitas antimalaria dibandingkan dengan basis PEG. Akan tetapi di dalam artikel jurnal ini belum ada uji untuk membandingkan efek samping yang ditimbulkan pengunaan basis SMES dengan penggunaan basis PEG dalam hal reaksi iritasi pada mukosa atau reaski lainnya pada kulit. Comment : Cicilia Agustine (1090857) Comment : Pada jurnal, dibandingkan obat -Artemether menggunakan basis Self Microemulsifying Suppositories (SMES) dengan basis PEG. Ditulis bahwa bahwa PEG dapat menyebabkan iritasi lokal dan SMES dapat mengatasi kelemahan tersebut. Namun dalam jurnal tidak ada penjelasan yang menuliskan bahwa basis SMES tidak menyebabkan iritasi

lokal dan kerusakan mukosa sehingga tidak dapat disimpulkan bahwa SMES dapat mengatasi hal tersebut. Selain itu untuk analisis kelarutan -Artemether dalam berbagai basis menggunakan HPLC yang dikombinasi dengan UV-Vis, agar hasil pengukuran yang didapat akurat sebaiknya juga menggunakan instrument lain juga yang sesuai. Meskipun ada kekurangan seperti diatas dan kekurangan lainnya, isi jurnal cukup bagus dalam membandingkan kedua basis dengan hasil pengukuran.