Anda di halaman 1dari 21

ModulTentangPengenalanSistemIrigasi

MODULTENTANG PENGENALANSISTEMIRIGASI

A. TUJUAN 1. Peserta mampu menjelaskan, mengerti dan memahami tentang sistem irigasi secara benar sebagai suatu hasil budaya manusia yang sangat penting bagi kehidupan dan penghidupan manusia pada umumnya dan petani pada khususnya 2. Peserta dapat menggunakan sistem irigasi dengan baik dan benar, sehingga permasalahan yang muncul dapat diselesaikan sendiri oleh petani sesuai denganbataskemampuannyasecaramandiritanpasenantiasatergantungdari pihakluar 3. Peserta dapat meningkatkan pengetahuan serta keterampilan tentang sistem irigasidalampenyelenggaraanusahapertaniannyadan 4. Sebagai bahan acuan untuk menyusun bahan serahan Pengenalan Sistem Irigasi. B. KELOMPOKSASARAN 1. Kelompoksasaranpembelajaraniniadalahparainstrukturtatagunaairdalam pelatihanpemberdayaanperkumpulanpetanipemakaiairdan 2. Pejabat/petugasyangmembidangipengelolaanjaringanirigasi. C. WAKTUPEMBELAJARAN 1. Sesuai dengan kondisi pengetahuan, pengalaman dan pendidikan kelompok sasaran, pembelajarandi dalam kelas dapat menggunakanwaktu2 (dua)jam pelajaran@45menitdan 2. Pembelajaran di luar kelas/ di lapangan dapat menggunakan waktu 4 (empat) jampelajaran@45menit,ataulebihlamasesuaidengankondisisetempat,di luarperjalananpergidanpulang. D. METODEPEMBELAJARAN Penyampaian informasi dapat diberikan secara tatap muka di kelas dan atau melaluipraktekdilapangansecaranyata.

ModulPelatihanInstrukturTataGunaAirDalamRangkaPemberdayaan PerkumpulanPetaniPemakaiAir(P3A)

1/21

ModulTentangPengenalanSistemIrigasi

1. Didalamkelas: 1) Fasilitatormenjelaskantentangdefinisiirigasidanhalikhwalyangberkaitan denganirigasisehinggamempunyaipengertianyangsamadan 2) Fasilitator dapat memberikan contohcontoh tentang keirigasian baik yang berkaitan langsung maupun yang teknikteknik yang dilakukan di daerah daerahlain. 2. Diluarkelas/dilapangan: Kepada peserta ditunjukkan sistem irigasi (nama bangunan/ saluran dan fungsinya) serta cara pengelolaannya secara langsung dalam rangka pemberiancontohsecaranyatatentangpenerapanpengetahuankeirigasiannya denganbaikdanbenar. E. PROSESPEMBELAJARAN Pembelajarandilakukandengancara: 1. Fasilitator menyampaikan seluruh informasi kepada peserta tentang sistem irigasi dan hal ikhwal yang berkaitan dengan irigasi, dilanjutkan dengan tanya jawab dan diskusi untuk memantapkan dan atau menegaskan ulang informasi yangdisampaikandan 2. Peserta dapat duduk di kursi atau lesehan dengan posisi duduk melingkar di sekeliling instruktur (pemandu diklat) atau membentuk hurup U dengan tidak terlalu menekankan sistem bembelajaran klasikal secara kaku agar supaya pesertamenerimainformasidengansantaitanpamerasasedangdalamproses pembelajaran. F. MATERIPEMBELAJARAN Materipembelajaranmeliputi: 1. DefinisiIrigasidanSistemIrigasi SesuaidenganketentuanumumPeraturanPemerintah20Tahun2006,tentang Irigasi. Pengertian Irigasi adalah usaha penyediaan, pembagian, pemberian, penggunaan, dan pembuangan air irigasi untuk menunjang pertanian yang jenisnyameliputiirigasipermukaan,irigasirawa,irigasiairbawahtanah,irigasi pompa,danirigasitambak,sedangkansistemirigasimeliputiprasaranairigasi,

ModulPelatihanInstrukturTataGunaAirDalamRangkaPemberdayaan PerkumpulanPetaniPemakaiAir(P3A)

2/21

ModulTentangPengenalanSistemIrigasi

air irigasi, manajemen irigasi, institusi pengelola irigasi, dan sumber daya manusia. Pelaksanaan irigasi tersebut harus sesuai dengan kebutuhan baik menurut tempat, jumlah waktu dan mutu, serta tidak membawa dampakdampak merugikan terhadap dampak lingkungan. Dalam pengertian ini kebutuhan air irigasi tanaman muda berumur satu minggu akan berlainan dengan tanaman yang sedang berbunga, juga kebutuhan lahan sawah dengan tanaman padi akan berlainan kalau lahanditanami jagungataukedelai untukumurdanluas yangsama.

Gambar1.Irigasipalingsederhana.

Dari definisi tersebut dapat diketahui bahwa dalam kaitan denganirigasi pada umumnyaterdapatbeberapaunsuryangsalingberkaitansatusamalainsecara erat yaitu: (i) unsur manusia (ii) unsur alam dan lingkungan misalnya dalam bentukairdansumberair,jugalahan,ataupuniklim(iii)unsurfisik,yaitudalam bentuk jaringan irigasi serta seluruh bangunan dan fasilitas fisik terkait (iv) unsurtanamanmencakupjenistanaman,budidayabesertapolatanamdan(v) unsurteknik dalam bentuk operasi dan pemeliharaannya serta konservasi dan pengamanansumbersumberairdanlingkunganpadaumumnya. Kelima unsur tersebut di atas harus saling bersesuaian, berhubungan satu sama lain danbersatusecaraterpadusehingga dapatdikatakanbahwairigasi

ModulPelatihanInstrukturTataGunaAirDalamRangkaPemberdayaan PerkumpulanPetaniPemakaiAir(P3A)

3/21

ModulTentangPengenalanSistemIrigasi

merupakan suatu sistem yang tidak terpisah unsurunsurnya satu sama lain. Masingmasing unsur tersebut disebut berfungsi sebagai sub sistem. Oleh sebabituirigasidalampengertianumumseringdisebutsebagaisistemirigasi. Karena sistem irigasi tersebut dibangun dan dikelola untuk tujuan kesejahteraan manusia, maka manusia merupakan unsur utama dalam pembangunandanpengelolaan,sertapengamanandanpelestarianirigasi. Sedangkan sistem irigasi meliputi: prasarana irigasi, air irigasi, manajemen irigasi,institusipengelolairigasidansumberdayamanusia.

Gambar2.Irigasisebagaisuatusistemsosialbudayamasyarakat.

2. IrigasiSebagaiSistemSosioTeknis Lebih lanjut dapat pula dikatakan bahwa dalam sistem irigasi terkandung berbagai aspek yang bersifat lintas sektoral antara lain: (i) Aspek sosial (berupapoladansifathubunganantaramanusiadenganmanusialain),dan(ii) Aspek teknik/fisik, misalnya dalam bentuk ketersediaan air, cara

pengoperasian dan pemeliharaan jaringan irigasi, atau teknologi bercocok tanam. Karena mengandung aspek sosial dan aspek teknik tersebut maka sistemirigasijugamerupakansistemsosioteknik.

ModulPelatihanInstrukturTataGunaAirDalamRangkaPemberdayaan PerkumpulanPetaniPemakaiAir(P3A)

4/21

ModulTentangPengenalanSistemIrigasi

3. IrigasiSebagaiSistemSosialBudayaMasyarakat Pada hakekatnya, manusia Indonesia sudah mengenal sistem irigasi sejak ratusan tahun yang lalu. Salah satu bukti sejarah adalah dikenalnya cerita tentang Tunggul Ametung yang merampas Ken Dedes pada saat orang tuanya, seorang pendeta dan pemuka masyarakatsedang membuat bendung desauntukmengairisawah. Dalam kurun waktu yang sangat panjang tersebut masyarakat telah banyak memperoleh pengalaman secara nyata dan pemahaman terhadap sistem irigasidanlingkungannya,yangdiwujudkandalambentuk:(i)ideideataupola pikir (ii) pengetahuan, teknologi setempat, atau kebijaksanaan lokal dan (iii) polahubungankerjaantarwargadandisebutsebagaitatanansosial. Bentuk ideide tersebut misalnya mengapa dibangun suatu sistem irigasi, tanamanapayangakanditanam,kapantanamantersebutmulaiditanamdan sebagainya. Sedangkan bentuk pengetahuan misalnya letak lokasi bendung, bentuk saluran yang akan dibangun, atau bagaimana prosedur operasi dan pemeliharaan jaringan irigasinya. Dari adanya ideide/pola pikir pengetahuan danteknologisetempatsertapolatatanansosialinimakasistemirigasidapat puladikatakansebagaisistemsosialbudayamasvarakat. 4. AspekSosialdalamIrigasi 4.1 Pergantiansistempemerintahandanpengaruhaspeksosialdalamsistem Irigasi: Dalam kurun waktu yang panjang tersebut telah terjadi perubahan perubahansistem pemerintahan di Nusantara, yaitu darisistem kerajaan merdeka dan berdaulat, Pemerintahan Kolonial, sampai pemerintahan pembaharuansekarangini. Perubahanperubahan sistem pemerintahan tersebut juga sangat mempengaruhi pola hubungan antara pemerintah dengan masyarakat maupunhubunganantarwargadalamsistemirigasiitusendiri. Padamasakerajaan,sistemirigasidibangundandikelolaolehdanuntuk masyarakatsendiri,pemerintahkerajaantidakturutcampurdalamupaya

ModulPelatihanInstrukturTataGunaAirDalamRangkaPemberdayaan PerkumpulanPetaniPemakaiAir(P3A)

5/21

ModulTentangPengenalanSistemIrigasi

pembangunan dan pengelolaannya, sehingga masyarakat betulbetul mandiri. Dalamsistemirigasiyangtelahdibanguntersebut,dikenaladanyasuatu institusi atau lembaga pengelola sistem irigasi. Sampai saat ini institusi irigasi tradisional tersebut masih menunjukkan keberadaannya di beberapa daerah, misalnya: Subak di Bali, uluulu, Darma Tirta di Jawa Tengah,MitraCaidiJawaBarat,MantriSiringdiSumateraSelatan,Tuo BandadiSumateraUtaradanlainlainnya. Pada pertengahan abad ke 19 Pemerintah Kolonial Belanda mulai membuka perkebunanperkebunan tebu dan tembakau serta dilengkapi dengansistemjaringanirigasi.Tujuanutamapembangunansistemirigasi tersebut adalah untuk menjamin keberhasilan produksi tanaman milik pemerintah atau swasta kolonial Belanda. Sejak itu dimulailah campur tanganpemerintahdibidangirigasi.Hampirsebagianbesarsistemirigasi rakyat yang terletak di dataran rendah mulai disatukan menjadi suatu sistemirigasimodern. Pada waktu itu semua peraturan pengelolaan irigasi disusun untuk kepentingan Pemerintah Kolonial dan tidak ada kesetaraan kedudukan antara petani dan Pemerintah Kolonial sebagai sesama pengguna air. Padamasamasaitulahmulaitimbuladanyaburuhtaniyangmengerjakan lahanlahanpertanianatauperkebunanmilikPemerintah. Padamasa PenjajahanJepang hampir tidak ada pembangunanataupun rehabilitasi sistem irigasi. Demikian pula pada masa kemerdekaan dan masa pemerintahan Orde Lama. Namun perlu pula dicatat bahwa pada masamasa ini orientasi sistem irigasi kembali lagi pada sistem irigasi untukmenunjangpemberianairbagitanamanpadi. PadamasapemerintahanOrdeBaru,dilaksanakanlahpembangunandan rehabilitasi sistem irigasi secara besarbesaran dengan sasaran tercapainya swasembada beras sebagai bagian dari kebijakan

ModulPelatihanInstrukturTataGunaAirDalamRangkaPemberdayaan PerkumpulanPetaniPemakaiAir(P3A)

6/21

ModulTentangPengenalanSistemIrigasi

pembangunan pemerintah yang berorientasi pada penekanan terhadap pertumbuhanlajuekonomisemata. Mengingat bahwa sasaran swa sembada beras tersebut merupakan target pemerintah maka peran pemerintah dalam pembangunan dan pengelolaan irigasi sangat besar. Pembangunan dilaksanakan secara sentralistikdenganpenekanankhususterhadappendekatanatasbawah. Kedudukan antara pemerintah dan masyarakat menjadi tidak seimbang, peranpemerintahmenjadisangatdominan.

Gambar3.Pembangunanirigasiyangdilakukandenganpendekatanatasbawah.

Pembangunan tersebut dimulai dengan pembangunan fisik yaitu pembangunan prasarana irigasi berupa sistem jaringan dan bangunan irigasi, kemudian diikuti dengan pembangunan sarananya, misalnya pembentukan organisasi pengelola irigasi di semua tingkat pengelolaan serta perbaikan dan penyusunan produkproduk hukum tentang pengairan. Pada Periode Pemerintahan Orde Baru, pembentukan P3A dilakukan secara keproyekan dengan berorientasi terhadap pencapaian target tertentu,dengandemikianmakahanyaduafaktordalamorganisasiyang diperhatikan, yaitu: struktrur organisasi, dan tujuan organisasi dalam bentuk Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), sehingga AD/ART disusunsecara hampir seragam di seluruh Indonesia.

ModulPelatihanInstrukturTataGunaAirDalamRangkaPemberdayaan PerkumpulanPetaniPemakaiAir(P3A)

7/21

ModulTentangPengenalanSistemIrigasi

Akibatnya banyak organisasiorganisasi P3A yang telah dibentuk tidak dapat menampilkan kinerja yang memuaskan, hal ini ditunjukkan oleh misalnyapengurustidakaktif,iurantidakjalan. 4.2 Pembangunanirigasidalamteoripembangunanbaru Pada awal Dasawarsa 90'an telah berkembang di seluruh dunia suatu teori atau konsep berpikir tentang pembangunan yang lebih

mengetengahkan pada pendekatan kemanusiaan. Teori ini juga sekarang dianut oleh pemerintah pembaharuan saat ini. Konsep berpikir pembangunan kemanusiaan menitikberatkan pada kebutuhan dan kepentingan manusia sebagai warga negara yang akan dibangun dan bukanlagipadakepentinganpihakpihakluartermasuk institusipemerintah. Pembangunan irigasi secara kemanusiaan berarti bahwa semua bentuk pembangunan dan pengelolaan sistem irigasi ditujukan untuk kepentingan manusia yang terlibat dalam sistem irigasi tersebut. Pembangunan kemanusiaan ini harus dilakukan secara partispatif dan dialogis dengan tujuanuntuklebihmemberdayakanmasyarakat.

Gambar4. Pembangunanirigasiberbasismasyarakatsesuaidengankeburuhan (pembangunaniirigasipartsipatif)

Dalam pembangunan sistem irigasi berorientasi kemanusiaan tersebut, maka peran institusi pengelola irigasi merupakan suatu hal yang sangat penting.Institusiberartisuatutatananhukum,normayangmengaturtatanan
ModulPelatihanInstrukturTataGunaAirDalamRangkaPemberdayaan PerkumpulanPetaniPemakaiAir(P3A)

8/21

ModulTentangPengenalanSistemIrigasi

sosial dan dipakaioleh masyarakatdalam penyelenggaraanirigasi. Sangat lebihberartiapabiladalam pengelolaansistem irigasisecarapartisipatifini organisasi pengelola irigasi dapat diwujudkan sebagai suatu institusi, yaitu organisasiyangmelembagadanmengakardimasyarakatkarenaperaturan dannormayangberlakudimasyarakatakanmengikatsecarasosialbudaya dandipatuhiolehanggota. 5. AspekFisikdanTeknis 5.1 Jaringan irigasi adalah saluran, bangunan, dan bangunan pelengkapnya yang merupakan satu kesatuan yang diperlukan untuk penyediaan, pembagian,pemberian,penggunaan,danpembuanganairirigasi. 1) Jaringanirigasiprimerdanjaringanirigasisekunderadalahbagiandari jaringanirigasiyangterdiridaribangunanutama,saluraninduk/primer, saluran sekunder dan saluran pembuangannya, bangunanbagi, bangunansadap,sertabangunanpelengkapnya 2) Jaringan irigasi tersier adalah jaringan irigasi yang berfungsi sebagai prasarana pelayanan air irigasi dalam petak tersier yang terdiri dari saluran tersier, saluran kuarter dan saluran pembuang, boks tersier, bokskuarter,danbangunanpelengkapnya 3) Jaringanirigasidesaadalahjaringanirigasiyangdibangundandikelola olehmasyarakatdesadan 4) Jaringan irigasi air tanah adalah jaringan irigasi yang airnya berasal dari air tanah, mulai dari sumur dan instalasi pompa sampai dengan saluranirigasiairtanahtermasukbangunandidalamnya.

ModulPelatihanInstrukturTataGunaAirDalamRangkaPemberdayaan PerkumpulanPetaniPemakaiAir(P3A)

9/21

ModulTentangPengenalanSistemIrigasi

Gambar5.JaringanIrigasi

5.2 TipeJaringanIrigasi Berdasarkanfaktorpengaturandanpengukurandebitaliransertakerumitan sistem pengelolaannya, maka jaringan irigasi dapat digolongkan menjadi tiga tipe, yaitu: (i) jaringan irigasi sederhana (ii) jaringan irigasi semi teknisdan(iii)jaringanirigasiteknis. 1) JaringanIrigasiSederhana Jaringan irigasi sederhana dicirikan oleh kesederhanaan fasilitas bangunan yang dimiliki untuk melakukan keempat fungsinya, yaitu: (i) menyediakan air dari sumber (ii) mengalirkan air ke dalam jaringan membagi ke petak sawah dan (iv) membuang kelebihan air ke jaringanpembuang. Dalamjaringanirigasisederhana,bangunanpengambilandibanguntidak permanen, misalnya dari batang pohon atau tumpukan batu, debit air yang masuk tidak diukur, jaringan pemberi tidak dipisahkan dengan jaringan pembuang, oleh sebab itu pada umumnya jaringan irigasi sederhanabanyakdijumpaididaerahpegunungan. Jaringanirigasidesayangbanyakdibangunmasyarakatsecaramandiri kebanyakan dapat digolongkan ke dalam jaringan irigasi sederhana ini. Sampai saat ini masih banyak dijumpai jaringan irigasi desa di

ModulPelatihanInstrukturTataGunaAirDalamRangkaPemberdayaan PerkumpulanPetaniPemakaiAir(P3A)

10/21

ModulTentangPengenalanSistemIrigasi

negarakita,bahkanmungkindiperkirakanmencapailuaslebihdarisatu jutahektar.

Gambar6.Jaringanirigasisederhana

2) JaringanIrigasiSemiTeknis Jaringan irigasi semi teknis mempunyai ciri bahwa fasilitasfasilitas yang ada untuk melaksanakan keempat fungsinya sudah lebih baik dan lengkap dibandingkan jaringan irigasi sederhana. Misalnya, bangunan pengambilan sudah dibangun permanen, debit sudah diukur, tetapi jaringan pembagi masih sama dengan jaringan irigasi sederhana. Pada jaringan irigasi ini, biasanya pemerintah sudah terlibat dalam pengelolaannya, misalnya dalam pelaksanaan operasi danpemeliharaan(O&P)bangunanpengambilan.

ModulPelatihanInstrukturTataGunaAirDalamRangkaPemberdayaan PerkumpulanPetaniPemakaiAir(P3A)

11/21

ModulTentangPengenalanSistemIrigasi

Gambar7.Jaringanirigasisemiteknis.

3) Jaringanirigasiteknis Jaringan irigasi teknis mempunyai fasilitas bangunan yang sudah lengkap. Salah satuprinsiprancangbangundalamjaringanirigasiteknis adalah pemisahan jaringan pembawa dengan jaringan pembuang. Bangunan ukur dan bangunan pembagi sangat dibutuhkan dalam pengaturan air irigasi. Petak tersier menjadi sangat penting karena menjadidasarperhitungansistemalokasiair,baikjumlahmaupunwaktu.

Gambar8.Jaringanirigasiteknis.

ModulPelatihanInstrukturTataGunaAirDalamRangkaPemberdayaan PerkumpulanPetaniPemakaiAir(P3A)

12/21

ModulTentangPengenalanSistemIrigasi

Dalam Kriteria Perencanaan (KP01) yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Pengairan, Oktober 1986, telah disusun matrik klasifikasi jaringan irigasi teknis, semi teknis, dan sederhana, yang dikaitkan dengan bangunan utama, kemampuan bangunan, jaringan, efisiensi danukuranadalahsebagaiberikut:
Tabel1.Matrikklasifikasijaringanirigasi KlasifikasiJaringanIrigasi Teknis 1. Bangunan utama. 2. Kemampuan bangunan dalam mengukur& mengatur debit. 3 Jaringan saluran. Bangunan permanen SemiTeknis Bangunan permanenatau semipermanen. Sederhana Bangunan sementara

Baik

Sedang

Jelek

Saluranirigasidan pembuang terpisah.

Saluranirigasidan pembuangtidak sepenuhnya terpisah.

Saluranirigasidan pembuangjadi satu.

Dikembangkan 4. Petaktersier. sepenuhnya. 5. Efisiensi secara keseluruhan. 6. Ukuran

Belum dikembangkanatau Belumadajaringan densitasbangunan terpisahyang dikembangkan. tersierjarang. 4050% Sampai2.000ha <40% Taklebihdari500 ha.

5060% Takadabatasan.

5.3 KepemilikanJaringanIrigasi 1).Jaringan irigasi pemerintah adalah jaringan irigasi yang dibangun dan dikelolaolehpemerintah 2).Jaringanirigasidesaadalahjaringanirigasiyangdibangundandikelola olehmasyarakatdesa 3).Jaringan irigasi swasta adalah jaringan irigasi yang dibangun dan dikelolaolehperseorangan,badanusaha,dankelompokmasyarakatdi luarperkumpulanpetanipemakaiair.

ModulPelatihanInstrukturTataGunaAirDalamRangkaPemberdayaan PerkumpulanPetaniPemakaiAir(P3A)

13/21

ModulTentangPengenalanSistemIrigasi

6. KelengkapanJaringanIrigasiTeknis 6.1 BangunanPengambilan Pada umumnya air irigasi diambil dari sungai. Bangunan pengambilan merupakan bangunan yang berfungsi untuk mengambil air atau menyadap air dari sumbernya untukdisalurkan kepadajaringan pengangkut dan lahan pemanfaat. Hampir sebagian besar bangunan pengambilan air di Indonesia berbentuk bendung, yaitu suatu bangunan melintang pada tubuh sungai dengan ketinggian tertentu. Fungsi utama bangunan melintang ini adalah untuk menaikkan muka air sungai sehingga dapat dialirkan masuk ke dalam sistemsaluranirigasiyangletaknyalebihrendah. Secara lengkap bangunan bendung ini mempunyai bagianbagian: (i) tubuh bendung (ii) pintu pengambilan (iii) pintu pembilas (iv) kantong lumpur berbentuk saluran yang lebih dalam dari saluran pemberi dan berfungsi untuk menahan sedimen agar tidak masuk ke dalam saluran irigasi, dalam periode tertentu maka sedimen dialirkan kembali ke dalam sungaidan(v)bangunanpengukurdebit.

Gambar9.Bagianbagianbendung.

ModulPelatihanInstrukturTataGunaAirDalamRangkaPemberdayaan PerkumpulanPetaniPemakaiAir(P3A)

14/21

ModulTentangPengenalanSistemIrigasi

Selainbendung,bangunanpengambilanjugadapatberbentukpengambilan bebas,yaitubangunanmelintangpadasungaidengantidaksepanjanglebar sungai dan tidak begitu tinggi seperti bendung. Bangunan ini juga disebut bangunan pengarah, karena berfungsi untuk mengarahkan aliran air agar masukkedalamsistemsaluran. Satu satuan luas lahan beririgasi yang dilayani atau dioncori oleh satu bangunanpengambilandisebutDaerahIrigasi. 6.2 BangunanPengukurDebit Sesuaidengannamanya, maka bangunanpengukurdebitadalahberfungsi sebagaialatuntukmengukurbesarandebit.Alatukurdebitdisaluranirigasi mempunyai beberapa tipe, tetapi yang paling populer adalah: (i) alat ukur debitambangtajammisalnyaCipolettiThomson(ii)alatukurdebitambang lebarmisalnyadrempel(iii)talangukurParshalldan(iv)pintuRomijn.

AmbangLebar

Cipoletti

Gambar10.JenisbangunanukurdebitambanglebardanCipoletti.

6.3 SaluranPembawa Saluran pembawa berfungsi untuk mengalirkan air dimulai dari bangunan pengambilan sampai dialirkan ke petak lahan pertanian. Saluran pembawa initerdiridarisaluranpembawautamadansalurantersier.Saluranpembawa berdasarkan fungsinya dibedakan atas: saluran primer saluran sekunder dansalurantersiersertasalurankuarter.Dalamsaluranpembawabiasanya

ModulPelatihanInstrukturTataGunaAirDalamRangkaPemberdayaan PerkumpulanPetaniPemakaiAir(P3A)

15/21

ModulTentangPengenalanSistemIrigasi

terdapat kelengkapan lainnya, misalnya: bangunan bagi (box bagi) bangunansadapalatukurdebitsiponjembatandanbangunansilang. Saluranprimerberfungsi mengalirkanairdari bangunanpengambilanuntuk dibagi pada saluran sekunder, yang selanjutnya dari saluran sekunder dialirkan lagi untuk dibagi pada saluran tersier. Biasanya air dari saluran tersier tidak langsung dialirkan ke petak sawah, tetapi melalui saluran kuarter.Semakinbesarareal pelayanansuatujaringanirigasi makasarana irigasi akan semakin lengkap. Untuk jaringan yang layanan irigasinya kecil biasanya dari saluran pembawa utama langsung dialirkan ke petakpetak sawah. 6.4 Bangunansilang Bangunan silang merupakan bangunan yang terletak di dalam jaringan irigasi yang berfungsi untuk menyilang jalan, sungai, saluran pembuang, atau saluran irigasi daerah irigasi lainnya. Bangunan silang tersebut dapat berbentukjembatan,siphon, goronggorongataupuntalang.

Gambar11.Macammacambangunanirigasisilang.

6.5 Bangunanbagi,bangunansadapdanbangunanbagisadap Bangunan bagi berfungsi untuk membagi air irigasi dari saluran primer ke beberapasaluransekunder.Bangunanbagidilengkapidenganalatpengatur muka airberupapintuataubalokpenebat,danalatukurdebit.
ModulPelatihanInstrukturTataGunaAirDalamRangkaPemberdayaan PerkumpulanPetaniPemakaiAir(P3A)

16/21

ModulTentangPengenalanSistemIrigasi

Bangunan sadap merupakan bangunan pengambilan dari saluran primeratau sekunderkepetaktersier.Bangunansadapdilengkapidengan pintusadapdanalatukurdebit.Bangunanbagisadapadalahbangunanbagi yangdilengkapibangunansadapuntuk masukkepetaktersier. 6.6 Bangunanpelengkaplain Dalamsuatu jaringanirigasi dibutuhkan beberapa bangunan lain untuk menjagaagar kecepatan aliran, misalnya gotmiring ataubangunanterjun. Bangunanbangunan tersebut dibutuhkan apabila jaringan irigasi melalui daerahbertopografimiringcukuptinggi. 7. BahayaKelebihanAirPadaTanamandanJaringanSaluranPembuang 7.1 Pentingnyajaringansaluranpembuangdanakibatpembuangantidakbaik Jaringan saluran pembuang dibutuhkan untuk mengalirkan kelebihan air dari suatu lahan beririgasi. Apabila tidak diatur air berlebihan di lahan sawahakanmengganggupertumbuhanmaupunproduksitanaman. Gangguanpadatanamanyangtimbulakibatadanyaairberlebihandilahan disebabkan terutama oleh: (i) terjadinya perubahan karakterisitiktanah baik secara fisika misalnya berkurangnya oksigen di dalam poripori tanah maupun kimiawi karena reaksi unsur kimia tanah sehingga menjadi racun yang berbahaya bagi tanaman (ii) adanya gangguan pada proses evapotranspirasi,danrespirasitanamanapabilatanamanpadimendapatkan airberlebihan. Tingkat kekritisan dan kerawanan tanaman terhadap air berlebihan akantergantungpada:(i)jenistanaman(ii)umurtanaman(iii)lama terjadinya serangan hama/penyakit dan (iv) jumlah terjadinya seranganhama/penyakitdalamsatuperiodetumbuh. Untuk tanaman padi, keberadaan air dianggap sudah berlebih apabila terjadi genangan disawah melebihi 15 cm selama lebih dari 3 (tiga) hari. Sedangkan untuk tanaman palawija, batas aman tanaman untuk tumbuh dengan air berlebih adalah pada kapasitas

ModulPelatihanInstrukturTataGunaAirDalamRangkaPemberdayaan PerkumpulanPetaniPemakaiAir(P3A)

17/21

ModulTentangPengenalanSistemIrigasi

lapang,yaitupadasaattanahsudahtepatdalamkeadaanjenuhdan airharussegeradiaturapabilakapasitaslapangsudahtercapai. Gangguan yang timbul pada tanaman akibat air berlebihan akan ditampilkan dalam bentuk tanaman layu, akar membusuk, terjadinya penyerbukanpenyerbukan (apabila terjadi pada saat berbunga), berkurangnyaproduksi,ataupunmenurunkanmutuproduksi.

Gambar12.Airyangberlebihanakanmenghambatpertumbuhantanaman.

7.2 Lahanrawanbahayakelebihanairdancarapemecahanmasalah Bahaya air berlebihan akan dapat timbul apabila: (i) air mengalir di lahan dengan kemiringan sangat datar (ii) lahan dengan air tanah dangkal(iii)terjadihujan lebatmelebihikapasitasinfiltrasikedalam tanah (iv) adanya banjir dari sungai terdekat. Untuk memecahkan masalah yang timbul akibat adanya air berlebihan di lahan dapat ditempuhcara:(i)pendekatanketeknikanmisalnyadengantindakan membangun jaringan pembuang atau cara budidaya (pembuatan surjan)(ii)pendekatanmanajemen,misalnyadenganmengatursaat tanam sehingga apabila terjadi masa puncak banjir atau hujan lebat

ModulPelatihanInstrukturTataGunaAirDalamRangkaPemberdayaan PerkumpulanPetaniPemakaiAir(P3A)

18/21

ModulTentangPengenalanSistemIrigasi

sudah melewati masa paling kritis dan (iii) gabungan antara cara teknikdanmanajemen.

Gambar13.CarapertanianSurjanuntukoptimasiairdilahanpertanian.

7.3 Jaringansaluranpembuang Mengingat bahwa Indonesia terletak di wilayah tropis basah dengan ciri banyak hujan pada beberapa bulan maka keberadaan jaringan pembuang di suatu lahan beririgasi adalah suatu hal yang sangat penting. Tetapi kenyataannya jaringan pembuang di lahan beririgasi di Indonesia justru sangat diabaikan keberadaannya karena petani belumsadarakanpentingnyajaringanpembuangdisawah. Saluran pembuang di sawah sering dilakukan dengan cara pembuanganpermukaan,artinyaairberlebihakanlangsungmengalir ke dalam saluran terbuka dan sedapat mungkin akan mengalir secaragravitasi.

ModulPelatihanInstrukturTataGunaAirDalamRangkaPemberdayaan PerkumpulanPetaniPemakaiAir(P3A)

19/21

ModulTentangPengenalanSistemIrigasi

Seperti halnya saluran pemberi, maka saluran pembuang di suatu daerahirigasijugadapatdibedakanantarasaluranpembuangtersier dan saluran pembuang utama. Untuk mengalirkan ke luar daerah irigasibiasanyadipakaisaluranalam.

Gambar14. Saluranpembuangdilahansawahberirigasi.

ModulPelatihanInstrukturTataGunaAirDalamRangkaPemberdayaan PerkumpulanPetaniPemakaiAir(P3A)

20/21

ModulTentangPengenalanSistemIrigasi

DAFTARPUSTAKA

1. UndangundangNo.7Tahun2004,tentangSumberDayaAir. 2. PeraturanPemerintahNo.20Tahun2006,tentangIrigasi. 3. ProyekPenyuluhanTataGunaAir,DirektoratJenderalPengairandanFakultas Teknologi Pertanian Universitas Gajah Mada, 1986. Seri modul pelatihan tata gunaairsecarapartisipatif. 4. DirektoratJenderalPengairan.1996,PedomanSistemIrigasi.

ModulPelatihanInstrukturTataGunaAirDalamRangkaPemberdayaan PerkumpulanPetaniPemakaiAir(P3A)

21/21