Anda di halaman 1dari 4

1.

Analisis peta sosial dari munculnya fenomena Gated Community di Yogyakarta


Gated Community yang ditandai dengan adanya ‘border’ di lingkungan
perumahan mulai merambah Yogyakarta. Kota Yogyakarta yang selama ini diklaim
sebagai kota yang aman, nyaman dan ramah ternyata telah mengalami pengikisan
komunalitas. Praktek pembentengan kawasan perumahan dengan tembok tinggi
dan akses tunggal ini memang sedikit banyak merefleksikan melemahnya dimensi
sensitivitas sosial masyarakat di kota-kota besar. Keguyuban yang selama ini
menjadi identitas masyarakat Yogyakarta pun mulai dipertanyakan eksistensinya.
Penyebab lahirnya gejala Gated Community dapat dibagi menjadi beberapa
aspek. Pertama adalah aspek prestise, dimana tinggal di kawasan elit berbenteng
ini dianggap sebagai media imaji untuk menaikkan status sosial. Kaum menengah
ke atas merasa status sosial mereka ‘naik’ jika mereka hidup di suatu lingkungan
khusus dan tidak berbaur dengan warga ‘kampung’. Tidak adanya kesadaran sosial
karena kegagalan bertukar nilai membuat hunian antara keduanya terfragmentasi
secara fisik dan sosial. Kedua adalah aspek ekonomi, dimana dalam sudut pandang
developer, kawasan eksklusif gated-community dinilai akan mampu menaikkan nilai
lahan dan mudah untuk dijual. Sedangkan yang terakhir adalah aspek
keterpaksaan, dimana pembentengan ini memang kadang terpaksa dilakukan
karena berada di kawasan kota yang sangat rawan kriminalitas. Padahal, selama ini
Yogyakarta dikenal sebagai kota yang aman. Apakah perkembangan Gated
Community ini menunjukkan bahwa tingkat keamanan Yogyakarta mulai pudar?
Menurut saya, alasan keamanan yang menjadi salah satu dasar
bergabungnya seseorang di dalam Gated Community merupakan alasan yang tidak
cukup berdasar karena secara sosial ia akan menimbulkan friksi sosial terhadap
pemukiman di sekitarnya dan berpotensi akan timbulnya konflik sosial. Gated
Community dianggap sebagai orang yang tidak kompak terhadap visi, misi dan
norma – norma yang telah ditetapkan warga asal. Disorientasi peer group yang
ditunjukkan oleh Gated Community juga dapat dipicu dari adanya fenomena OKB
(orang kaya baru) yang merasa terpisah secara kultural dari warga asli dan
menunjukkan privilese-nya dengan mengasingkan diri dari mereka.
Gated Community di Yogyakarta memiliki beberapa keunikan jika
dibandingkan dengan di daerah lain. Pertama, terdapat beberapa perumahan
dengan rumah mungil yang turut mengadopsi konsep Gated Community. Terdapat
beberapa perumahan di daerah Sleman dengan ukuran rumah 70m2 yang hanya
1
terdiri dari beberapa unit rumah dengan desain modern dan mengisolir diri mereka
(secara fisik) dari warga asli dengan palang. Pemilik rumah ini biasanya keluarga
muda atau kalangan menengah yang ingin menerapkan gaya hidup ‘modern’ sesuai
dengan kemampuan mereka.
Kedua, tidak sedikit Gated Community di Yogyakarta yang masih
mempertahankan ‘guyub ala kampung’. Diadakannya arisan, kerja bakti bahkan
ronda malam di komplek perumahan saya menghindarkan warga dari individualisme
yang berlebihan. Warga ‘dipaksa’ untuk tetap komunal walau pun secara fisik rumah
mereka terpisah. Namun tidak disangkal, komunalitas ini bersifat eksklusif. Satpam
yang dipekerjakan pun berfungsi untuk meminimalisir kriminalitas dan konflik yang
menurut warga kompleks dapat dipicu oleh warga desa sebelah.

segregasi karena ‘berbeda’

masyarakat asli gated community


potensi konflik

mengabaikan pragmatis mengabaikan rencana pem

developer/pasar pemerintah
dengan/tanpa rencana pembangunan

2. Ramalan terhadap fenomena gated community di Yogyakarta


Fenomena Gated Community di Yogyakarta cenderung menyebar tidak merata,
sporadis. Pembangunan perumahan di Yogyakarta tidak memusat, bahkan cenderung selalu
mencari daerah yang masih subur. Adanya keinginan kalangan menengah Yogyakarta untuk
hidup di daerah yang masih asri ditanggapi developer dengan membangun perumahan di
daerah pinggiran Sleman atau Bantul. Pengembangan wilayah yang lebih mementingkan
kaum berpunya meminimalisir kesempatan masyarakat asli untuk melakukan hal serupa.
Pembangunan kota tidak hanya mempengaruhi aspek fisik namun juga aspek fisik.
Dalam ranah spasial komunitas berpagar berpotensi memicu masalah perkembangan kota

2
urban sprawl (perkembangan kota yang tidak beraturan) dan privatisasi ruang publik yang
tidak terkendali. Dalam ranah sosial, polaritas masyarakat kaya-miskin yang berdampingan
secara terang-terangan dan sentimen asli-pendatang menyimpan potensi ketegangan sosial
dan kegagalan untuk menciptakan tatanan sosial masyarakat baru yang harmonis.
Fragmentasi fisik kota yang tidak terkendali juga menyebabkan tata kota semrawut.
Developer yang hanya mementingkan keuntungan ekonomi tidak memperhitungkan akibat
jangka panjang dari kesemrawutan tata perumahan. Akibatnya, pembangunan infrastruktur
oleh pemerintah menjadi tidak efektif karena masyarakat menyebar. Hal ini merupakan
inefisiensi infrastruktur yang memboroskan belanja pemerintah.
Gated Community di Yogyakarta gagal untuk memenuhi fungsi inovasi kebijakan tata
ruang karena perencanaan wilayah (site plan) perumahan seringkali hanya bersifat mikro,
hanya mengatur daerah perumahan, bukan daerah sekitarnya. Jadi, perumahan gated
community bukanlah daerah yang terintegrasi dengan wilayah desa, baik secara fisik
maupun sosial. Kesan eksklusivisme dapat dibeli dengan harga murah (seharga rumah
70m2) sehingga mempermudah proses segregasi masyarakat karena semakin banyak orang
yang dapat memasuki kelas ‘menengah ke atas’ dan merasa nyaman dengan fragmentasi
terhadap kelas yang dianggapnya lebih rendah.
Tidak mustahil, suatu saat akan timbul gap yang cukup tajam antara Gated
Community dengan warga desa. Dua lapisan masyarakat ini memiliki gaya hidup dan cara
berpikir yang berbeda satu sama lain namun Gated Community selalu mencoba memasuki
wilayah warga desa dengan membangun pemukiman mewah baru. Tidak mustahil pula
semua warga Yogyakarta mengadopsi gaya hidup Gated Community yang dianggap modern
dan lebih baik. Jika hal ini terjadi, tentu nilai-nilai kultural dan ciri khas Yogyakarta sebagai
kota yang penduduknya ramah, guyub dan suka menolong akan terkikis dan menjadi lebih
individualistis, seperti layaknya kehidupan penduduk di kota-kota besar dunia.

Referensi :
Anonim. 2000. Arogansi “Gated Communit”y di Kota Kita. Diakses dari
http://www.urbane.co.id/userdata/artikel/files/In%20between%20-
%20Arogansi.pdf tanggal 20 Mei 2008.
Anonim, 2006. Studi Implikasi Spasial dan Sosial Perkembangan Komunitas
Berpagar (Gated Communities) dan Prospek Penatalaksanaan Ruangnya:
Studi kasus Yogyakarta (Laporan penelitian). Diakses dari
http://www.ftsp1.uii.ac.id/twiki/bin/viewfile/Proyek/GatedCommunitiesResear
chGroup?rev=1;filename=2006_LAPORAN_2.doc tanggal 20 Mei 2008.
Anonim. tanpa tahun. Gated Community. Diakses dari
http://en.wikipedia.org/wiki/Gated_community, tanggal 20 Mei 2008.

3
Overberg, Paul. 2002. Gated communities more popular, and not just for the rich.
Diakses dari http://www.usatoday.com/news/nation/2002-12-15-gated-
usat_x.htm, tanggal 20 Mei 2008.
Ragil-mpwk. 2007. Pemanfaatan Aset Publik sebagai bagian dalam Perencanaan
dan Implementasi Manajemen Pembangunan Wilayah dan Kota. Diakses
dari http://www.blogger.com/feeds/9115985778091769857/posts/default,
tanggal 20 mei 2008.
Rahmah, Andi dkk. 2004. Loe Loe, Gue Gue : Hancurnya Kerekatan Sosial,
Rusaknya Lingkungan Kota Jakarta. Diakses dari
http://www.pelangi.or.id/publikasi/2006/loe_loe_gue_gue.pdf, tanggal 20 Mei
2008.