Anda di halaman 1dari 41

Katalog BPS : 1119.13 BAPPEDA : 041/65/III.DATA/BAPPEDA.

2008

INVESTASI DAN ICOR SUMATERA BARAT


2000 2007

Kerjasama :

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH PROPINSI SUMATERA BARAT

BADAN PUSAT STATISTIK SUMATERA BARAT

KATA PENGANTAR

Publikasi Investasi dan ICOR Propinsi Sumatera Barat 20002007 merupakan hasil kerjasama Bapeda Provinsi Sumatera Barat dengan Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Barat. Publikasi ini merupakan edisi ketiga dengan menggunakan tahun dasar 2000 sebagai tahun rujukan penilaian (reference year) yang direkomendasikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Penghitungan investasi beserta ICOR (Incremental Capital Output Ratio) ini merupakan pekerjaan yang sangat memerlukan waktu, tingkat ketelitian yang tinggi dan ketersediaan data dasar, sehingga data Investasi dan ICOR yang ditampilkan dalam publikasi ini hanya disajikan sampai tingkat sektoral (lapangan usaha). Walaupun demikian diharapkan publikasi ini sudah dapat memenuhi sebagian dari kebutuhan data untuk perencanaan dan evaluasi hasil pembangunan.

Kepada para pembaca, kami mengharapkan saran dan kritik yang objektif demi peningkatan kualitas publikasi ini di masa yang akan datang. Kepada semua pihak yang telah membantu hingga publikasi ini terwujud, kami sampaikan ucapan terimakasih.

Padang, Juli 2008 BADAN PUSAT STATISTIK PROPINSI SUMATERA BARAT Kepala, BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH PROPINSI SUMATERA BARAT Kepala,

Ir. MUCHSIN AYUB NIP. 340004367

DR. BAMBANG ISTIJONO, ME NIP. 110 016.133

DAFTAR ISI
Halaman Kata Pengantar ........................................................................................................................... i

Daftar Isi .................................................................................................................................... ii Daftar Tabel .............................................................................................................................. iii Daftar Grafik ............................................................................................................................. iv BAB I. PENDAHULUAN ....................................................................................................... 1 1.1. 1.2. 1.3. Latar Belakang dan Tujuan .............................................................................................. 1 Ruang Lingkup ................................................................................................................. 3 Sistematika Penulisan ...................................................................................................... 3

BAB II. METODOLOGI ........................................................................................................ 4 2.1. Konsep dan Definisi ........................................................................................................ 4

2.1.1. Pengertian Investasi Modal ............................................................................................. 4 2.1.2. Pengertian Output ........................................................................................................... 6 2.1.3. Pengertian Incremental Capital Output Rasio (ICOR) .................................................... 7 2.2. Landasan Teori ............................................................................................................... 8

2.2.1. Stok Kapital .................................................................................................................... 8 2.2.2. Estimasi Stok Kapital ..................................................................................................... 9 2.2.2.1.Perkiraan Besar Penyusutan dalam Upaya Estimasi Stok Kapital ................................ 10 2.2.2.2. Estimasi Stok Kapital Menurut Jenis Barang Modal dan Sektor .................................. 11 2.2.3. Estimasi Investasi ........................................................................................................... 12 2.2.4. Estimasi Koefisien ICOR .............................................................................................. 12 2.2.4.1 Metode Akumulasi ........................................................................................................ 13 2.2.4.2 Metode Standar .............................................................................................................. 14 2.2.5. Data dan Keterbatasannya .............................................................................................. 15 BAB III. PENGHITUNGAN .................................................................................................. 16 3.1. 3.2. 3.3. 3.4. Perkembangan Investasi ................................................................................................. 16 Struktur Investasi Menurut Lapangan Usaha ................................................................. 18 Struktur Investasi Menurut Institusi ............................................................................... 19 Incremental Capital Output Ratio (ICOR) ..................................................................... 20

BAB IV. KESIMPULAN ........................................................................................................ 23 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................... 24 LAMPIRAN ...................................................................................................................... 25 - 35

ii

DAFTAR TABEL
Halaman Tabel 1. Nilai Investasi Provinsi Sumatera Barat 2000-2007 (Milyar Rupiah) .............................................................................................................. 16 Tabel 2. Koefisien ICOR Provinsi Sumatera Barat 2000-2007 Menurut Lapangan Usaha (Lag 0) Menggunakan Metode Akumulasi ................................................................................ 21

iii

DAFTAR GRAFIK

Halaman Grafik 1. Nilai Investasi yang Ditanamkan Selama Periode 2000-2007 (Milyar Rupiah) ........................................................................................................ 17 Struktur Investasi Propinsi Sumatera Barat Menurut Lapangan Usaha Kumulatif 2000-2007 (persen) .................................................................................................. 18 Struktur Investasi Propinsi Sumatera Barat Menurut Institusi Kumulatif 2000-2007 (persen) ................................................................................. 19 Koefisien ICOR Propinsi Sumatera Barat 20002007 Menurut Lapangan Usaha (Lag 0) ........................................................................................................................ 22

Grafik 2.

Grafik 3.

Grafik 4.

iv

Pendahuluan

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang dan Tujuan

Keberhasilan pembangunan suatu daerah sangat ditentukan kualitas perencanaan yang didukung dengan data-data yang akurat. Dalam menyusun perencanaan pembangunan pada dasarnya sangat ditentukan oleh skenario kemampuan penyediaan sumber pembiayaan yang salah satunya berupa penanaman modal atau investasi, guna meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi dan tingkat kesejahteraan masyarakat yang ingin dicapai. Dengan investasi, kapasitas produksi dan penyerapan tenaga kerja dapat membantu untuk menyelesaikan masalah pengangguran. Dengan peningkatan kapasitas produksi dapat meningkatkan output, hal ini akan mengurangi ketergantungan kepada daerah lain, sehingga dapat membantu untuk meningkatkan pendapatan masyarakat di daerah tersebut. Dalam jangka panjang akumulasi investasi dapat memberikan dorongan terhadap perkembangan berbagai aktivitas ekonomi terutama dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi wilayah yang bersangkutan.

Provinsi Sumatera Barat yang terletak di pantai barat Pulau Sumatera dengan topografi berbukit-bukit, bergunung dan memiliki pantai dengan luas wilayah tercatat seluas 42.297,30 km2. Di samping terkenal dengan keramahtamahan penduduknya, dan memiliki adat budaya yang unik, daerah ini juga memiliki potensi objek wisata, perkebunan, perikanan dan kekayaan alam lainnya. Posisi letak Sumatera Barat yang strategis dan memiliki sarana / prasarana perhubungan yang cukup memadai akan mempermudah akses untuk berhubungan dengan negara tetangga khususnya negara-negara ASEAN dan Australia, hal ini merupakan peluang bagi Sumatera Barat untuk menjalin kerjasama dibidang Investasi dengan negara-negara tetangga tersebut.

Sudah banyak upaya yang dilakukan Pemerintah Sumatera Barat dalam menjalin kerjasama dengan negara tersebut, baik dalam bentuk memanfaatkan kerjasama multilateral seperti pembentukan kaukus segitiga pertumbuhan (IMT-GT dan IMS-GT) maupun kerjasama bilateral seperti pencanangan kota kembar dan sebagainya.. Namun untuk lebih meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Minang Kabau ini, perlu dilakukan upaya yang maksimal, karena Sumatera Barat masih tercatat memiliki investasi terendah untuk tingkat regional Sumatera.

Investasi dan ICOR Sumatera Barat 2000-2007

Pendahuluan

Diharapkan melalui penciptaan sarana dan prasarana yang lebih kondusif bagi iklim investasi, akan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi di masa datang.

Pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumatera Barat pada tahun 2007 dengan menggunakan tahun dasar 2000 meningkat sebesar 6,34 persen. Diawali pada tahun 2000 kondisi

perekonomian di Indonesia pada umumnya sudah mulai bangkit, sejak terjadinya krisis ekonomi sejak pertengahan tahun 1997. Pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumatera Barat menunjukkan trend yang positif namun pergerakannya masih terlihat lambat. Untuk masa mendatang perlu kiranya perhatian khusus terhadap peningkatkan investasi yang ditanamkan sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi, sehingga pergerakan pertumbuhan ekonomi mencapai ke arah yang lebih tinggi.

Pertumbuhan ekonomi yang dicapai Provinsi Sumatera Barat tidak dapat dipisahkan dengan peningkatan investasi yang ditanamkan. Dalam perencanaan pembangunan, target pertumbuhan ekonomi telah ditentukan sebelumnya. Untuk mencapai target tersebut sangat diperlukan investasi yang membutuhkan ketersediaan dana pembangunan. Untuk itu, seberapa jauh dana yang tersedia dipakai secara efisien, dan seberapa besar dana yang dibutuhkan agar tercapainya target tersebut, perlu direncanakan lebih cermat lagi.

Investasi merupakan salah satu indikator utama ekonomi makro yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja sebuah perekonomian. Seberapa besar investasi yang dibutuhkan untuk mencapai pertumbuhan yang diinginkan, merupakan hal yang mutlak yang harus ditetapkan. Untuk itu perlu adanya pola dan arah pembangunan, sehingga kebijakan yang telah ditetapkan dapat dilihat tingkat keberhasilannya dan dievaluasi pelaksanaannya, apakah sudah mencapai sasaran dengan baik atau belum. Di samping itu, tercapainya sasaran pembangunan dengan baik sangat ditopang juga oleh tersedianya dana yang memadai dan dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.

Berkenaan dengan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Barat bekerjasama dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Provinsi Sumatera Barat melakukan penghitungan Investasi dan ICOR (Incremental Capital Output Ratio) Sumatera Barat periode 2000-2007 menurut sektor dengan menggunakan tahun dasar 2000, untuk menunjang penyusunan sasaran-sasaran makro bagi

Investasi dan ICOR Sumatera Barat 2000-2007

Pendahuluan

perencanaan pembangunan ekonomi terutama untuk memperkirakan sasaran pertumbuhan ekonomi, kebijakan ketenagakerjaan, dana pembangunan dan kebijakan investasi.

1.2. Ruang Lingkup

Investasi yang akan dihitung adalah investasi menurut lapangan usaha dan menurut institusi untuk kurun waktu 2000-2007. Untuk penghitungan koefisien ICOR menurut lapangan usaha juga menggunakan periode yang sama. ICOR merupakan ukuran untuk memperkirakan besarnya kebutuhan investasi (dalam satu unit moneter) untuk dapat meningkatkan output (PDRB) yang juga diukur dalam satuan unit moneter.

1.3. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan dalam publikasi investasi ini adalah sebagai berikut : Pada Bab pertama dikemukakan latar belakang dan tujuan, ruang lingkup, dan sistematika penulisan, agar memudahkan pembaca/pengguna untuk mengikuti dan memahami pembahasan publikasi ini. Bab kedua menguraikan pengertian investasi, output dan ICOR yang akan digunakan dalam perhitungan. Bab ketiga menyajikan metodologi serta rumus (formula) yang digunakan dalam penghitungan investasi dan koefisien ICOR. Selanjutnya pada Bab ini akan diterangkan pula tentang data yang digunakan, sumber dan keterbatasan data. Bab keempat berisi hasil-hasil penghitungan investasi dan ICOR serta pembahasannya, baik secara klasifikasi sektor maupun institusi. Bab kelima merupakan kesimpulan dari uraian pembahasan sebelumnya.

Investasi dan ICOR Sumatera Barat 2000-2007

Metodologi

BAB II METODOLOGI

2.1. Konsep dan Definisi 2.1.1. Pengertian Investasi dan Modal Dalam konsep ekonomi makro, penimbunan/penumpukan modal selalu dianggap sebagai investasi. Secara fisik pengertian modal itu sendiri adalah seluruh peralatan dan prasarana fisik yang digunakan dalam proses produksi, seperti tanah, mesin, kendaraan, gedung, jalan, jembatan dan lain-lain. Ditinjau dari segi penggunaan barang, investasi merupakan nilai semua penggunaan barang modal baru yang dapat menghasilkan satu unit output dan berumur lebih dari satu tahun. Sedangkan untuk barang/alat produksi yang berumur kurang dari satu tahun atau habis dipakai dalam proses produksi tidak digolongkan sebagai barang investasi, melainkan sebagai barang input antara. Cakupan dari pengertian barang modal baru dalam konsep ini adalah : 1. Barang modal yang baru diproduksi serta baru digunakan, baik berasal dari produksi daerah yang bersangkutan maupun yang berasal dari luar negeri dan luar daerah. 2. Barang modal bekas yang berasal dari luar negeri. Pada sistem pembukuan neraca perusahaan, yang dimaksud dengan modal adalah harta tetap. Modal sering disebut 'gross capital stock' yaitu akumulasi/penumpukan modal baru dari tahun ke tahun yang digunakan untuk menghasilkan produksi. Secara umum perusahaan dianggap telah mempertimbangkan kondisi ekonomi makro dalam membuat keputusan mengenai akumulasi stok barang. Jika ada kecenderungan harga bahan baku akan melonjak, perusahaan bisa memutuskan untuk melakukan akumulasi bahan baku. Jadi perubahan stok dalam hal ini bisa dikategorikan sebagai bagian dari pembentukan modal investasi. Tetapi dalam penghitungan investasi dan ICOR Sumatera Barat 2000-2007, perubabahan stok tidak diperhitungkan karena datanya tidak tersedia dengan baik.

Investasi dan ICOR Sumatera Barat 2000-2007

Metodologi

Ditinjau dari sisi konsumsi, pengertian investasi adalah konsumsi pada waktu/periode yang akan datang, atau konsumsi yang ditangguhkan untuk masa yang akan datang. Di tinjau dari sisi jumlah permintaan, investasi merupakan selisih pembelian barang modal baru dengan penjualan barang modal lama yang dilakukan oleh perusahaan, pemerintah dan lembaga-lembaga swasta nirlaba. Jadi investasi adalah tambahan neto atas barang modal. Dalam konsep ICOR, investasi modal tetap dan stok yang dimaksud adalah total dari pembentukan atas gedung, mesin dan perlengkapan,

barang yang

terdiri

kendaraan, stok bahan baku dan sebagainya. Nilai yang diperhitungkan dalam investasi mencakup : 1. 2. Pembelian barang modal baru. Pembuatan/perbaikan besar barang yang sifatnya menambah umur atau meningkatkan kemampuan. 3. 4. Penjualan barang modal bekas. Perubahan stok. Nilai investasi diperoleh dari penjumlahan seluruh pembelian barang modal dan perbaikannya serta nilai perubahan stok barang dikurangi penjualan barang modal. Rumusannya dalam bentuk matematis adalah sebagai berikut : I = B+P+RS Keterangan : I B R P S = Investasi = Pembelian barang modal baru, termasuk pematangan tanah = Perbaikan barang modal = Perubahan stok = Penjualan barang modal bekas

Dalam penghitungannya, perubahan stok diabaikan karena angkanya selalu berubahubah dan tidak tersedia dengan baik. Selama ini perubahan stok ditaksir sebagai residual, yaitu PDRB yang telah dihitung menurut lapangan usaha dikurangi dengan konsumsi rumahtangga, konsumsi lembaga swasta nirlaba, konsumsi pemerintah, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) dan ekspor neto.

Investasi dan ICOR Sumatera Barat 2000-2007

Metodologi

Ciri dari barang-barang investasi, antara lain : 1. Umur manfaatnya lebih dari satu tahun, misalnya tanah, mesin, bangunan, dan kendaraan. 2. Nilainya relatif besar dibandingkan dengan nilai output yang dihasilkan. 3. Manfaat dari penggunaan barang tersebut dapat dirasakan untuk jangka waktu yang panjang. Investasi dapat dirinci menurut sektor (sektor pertanian, penggalian, industri, dan sebagainya) bahkan dapat dirinci menurut komoditi, ataupun menurut institusi yang melakukan investasi (pemerintah umum, BUMN/D, swasta dan rumahtangga). Investasi Pemerintah umum adalah pemerintah yang menyelenggarakan general administration, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Tidak semua pengeluaran pembangunan yang dilakukan

pemerintah merupakan investasi yang ditanamkan pemerintah. Investasi yang ditanamkan oleh pemerintah untuk kepentingan publik dimasukkan ke masing-masing sektornya. Investasi yang ditanamkan oleh pemerintah untuk kepentingan pemerintah sendiri dimasukkan investasi pemerintahan umum, misalnya untuk pembangunan gedung kantor, pembelian mesinmesin ketik, komputer, dan lainnya untuk penyelenggaraan pemerintah sebagai general administration. Untuk menentukan berapa besarnya nilai investasi dari pengeluaran pembangunan yang dilakukan pemerintah digunakan angka-angka rasio dari hasil survei khusus yang dilakukan BPS.

2.1.2. Pengertian Output Output adalah hasil yang diperoleh dari pemberdayaan seluruh faktor produksi, seperti tanah, tenaga kerja, modal, dan kewirausahaan dalam menghasilkan barang dan jasa. Hasil atau pendapatan yang diperoleh di luar dari pemanfaatan barang modal tidak dimasukkan sebagai output. Misalnya keuntungan dari penjualan barang modal (seperti tanah, gedung dan peralatan) dan pendapatan dari jasa yang dijual kepada pihak lain. Namun demikian, sebenarnya nilai yang diciptakan oleh faktor produksi ini tidak sebesar output yang dihasilkan, karena dalam proses produksi diperlukan bahan-bahan baku dan penolong yang merupakan hasil produksi kegiatan sektor lain. Dengan demikian, nilai yang diciptakan faktor produksi itu merupakan hasil pengurangan dari output dengan nilai bahan

Investasi dan ICOR Sumatera Barat 2000-2007

Metodologi

baku dan bahan penolong. Nilai yang diciptakan inilah yang disebut dengan nilai tambah bruto. Dalam penghitungan ICOR, konsep output yang digunakan adalah nilai tambah bruto.

2.1.3. Pengertian Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Konsep ICOR pada awalnya dikembangkan oleh Sir Ray Harrod dan Evsey Domar yang lebih dikenal dengan Harrod-Domar Model. Pada intinya teori ini menunjukkan adanya hubungan antara peningkatan stok kapasitas produksi dan kemampuan masyarakat untuk menghasilkan output. Semakin tinggi peningkatan stok kapasitas produksi (K) semakin tinggi pula tambahan output (Y) yang dapat dihasilkan. Menurut teori, ICOR dapat diukur melalui bentuk fisik ataupun nilai. Namun, untuk memudahkan dalam praktek penghitungan, ICOR selalu dilakukan dalam bentuk nilai. Bukan merupakan suatu hal yang mudah untuk memperkirakan koefisien ICOR guna mendapatkan gambaran tentang kebutuhan investasi pada masa yang akan datang. Penyebabnya, karena keadaan koefisien tersebut tidak hanya ditentukan oleh investasi yang ditanamkan saja, akan tetapi dipengaruhi pula oleh tingkat penerapan dan perkembangan teknologi dalam proses produksi, seperti kapasitas produksi yang digunakan. Secara sistematis ICOR dinyatakan sebagai rasio antara pertambahan modal (investasi) terhadap tambahan output, atau dinotasikan sebagai berikut :

K ICOR = Y

Keterangan : K = investasi atau penambahan kapasitas produksi Y = pertumbuhan output Sejalan dengan pengertian di atas, akan diberikan ilustrasi sebagai berikut. Misalkan dalam suatu periode waktu ditanamkan investasi sebesar Rp. 400 milyar, dan tambahan output yang dihasilkan dari adanya investasi tersebut adalah Rp. 100 milyar. Maka ICOR yang

Investasi dan ICOR Sumatera Barat 2000-2007

Metodologi

diperoleh adalah Rp. 400 milyar : Rp. 100 milyar = 4. Nilai koefisien ICOR ini menunjukkan bahwa untuk memperoleh tambahan satu unit output diperlukan investasi sebesar empat unit. Sudah dijelaskan di atas, bahwa tambahan output tidak hanya disebabkan oleh investasi yang ditanamkan, akan tetapi juga oleh faktor-faktor lain di luar investasi, seperti tambahan tenaga kerja dan kemajuan teknologi. Tetapi, dalam penerapannya untuk menghitung ICOR dipakai asumsi bahwa tidak ada faktor lain yang mempengaruhi output selain investasi, dengan kata lain faktor-faktor lain di luar investasi dianggap konstan.

2.2. Landasan Teori 2.2.1. Stok Kapital Estimasi stok kapital dilakukan dengan menggunakan metode tidak langsung, yang dikenal dengan Perpectual Inventory Model (PIM). Model ini mengestimasi stok kapital berdasarkan besarnya Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB). Secara konseptual, PMTB mencakup pengadaan, pembuatan dan pembelian barang modal baru dari dalam negeri dan barang modal bekas dari luar negeri. Barang modal adalah alat yang digunakan untuk berproduksi dan mempunyai umur pemakaian satu tahun atau lebih. Secara lebih rinci, PMTB pada dasarnya meliputi : 1. Barang modal dalam bentuk konstruksi, baik berupa bangunan tempat tinggal maupun bukan tempat tinggal, konstruksi lainnya seperti jalan raya, jembatan, instalasi listrik, jaringan komunikasi, bendungan, saluran irigasi, pelabuhan, dan sebagainya. 2. Barang modal dalam bentuk mesin dan peralatan baik untuk keperluan pabrik, kantor, maupun untuk usaha rumahtangga. 3. 4. Barang modal berupa alat transportasi. Biaya yang dikeluarkan untuk perubahan dan perbaikan besar barang modal seperti disebutkan di atas yang dapat meningkatkan produktivitas atau memperpanjang umur pemakaian barang modal tersebut. 5. Pengeluaran untuk pengembangan dan pembukaan lahan baru, perluasan hutan, penghutanan kembali serta penanaman dan peremajaan pohon tanaman hias. 6. Pembelian ternak produktif untuk keperluan pembiakan, pemerahan susu, pengangkutan dan sebagainya tetapi tidak termasuk pembelian ternak untuk dipotong atau dikonsumsi.
Investasi dan ICOR Sumatera Barat 2000-2007

Metodologi

Ketepatan estimasi stok kapital dengan menggunakan model PIM ditentukan oleh akurasi data dasar mengenai PMTB dan asumsi tentang rata-rata umur berbagai jenis barang modal yang berkaitan dengan pola penyusutan, karena stok kapital merupakan akumulasi jumlah PMTB setelah dikurangi dengan penyusutan. Data PMTB yang digunakan adalah

PMTB atas dasar harga konstan karena dengan harga konstan fluktuasi perbedaan harga barangbarang modal dapat dieliminasi pada tahap estimasi. Besarnya PMTB yang diperoleh pada tahap awal ini baru menjelaskan PMTB secara total, maka dilakukan pendistribusian PMTB menurut jenis barang modal. Dengan menggunakan estimasi-estimasi tersebut, estimasi stok kapital atas dasar harga konstan yang sama dan jenis barang modal yang sama dapat diperoleh. Kemudian setelah itu, estimasi stok kapital dikonversikan menjadi atas dasar harga berlaku dengan

menggunakan berbagai indeks harga perdagangan besar dari barang-barang modal. Tahap selanjutnya (hubungannya dengan estimasi investasi) adalah merinci besarnya stok kapital menurut barang-barang modal menjadi stok kapital menurut sektor, merinci banyaknya barang-barang modal tertentu yang digunakan oleh sektor-sektor tertentu. Indikatorindikator yang tersedia relatif masih sedikit, sehingga dalam hal ini banyak dilakukan guesstimate untuk menghasilkan estimasi ini. Dari tahap ini dapat dihasilkan stok kapital menurut sektor atas dasar harga konstan maupun atas dasar harga berlaku, yang masih bersifat sementara. Kemudian dilakukan rekonsiliasi dan di-crosschecked dengan data investasi yang tersedia pada waktu melakukan estimasi besarnya investasi menurut sektor.

2.2.2. Estimasi Stok Kapital

Stok Kapital pada suatu tahun tertentu berdasarkan model PIM yang paling sederhana dapat diperkirakan sebagai berikut (Ward, 1976):

SKit

SKit-1 + PMit - Pit dan

...

Rumus (1)

Pit

PiSKit-1

...

Rumus (2)

Investasi dan ICOR Sumatera Barat 2000-2007

Metodologi

di mana : SKit = stok kapital menurut barang modal i pada tahun t PMit = pembentukan modal menurut barang modal i selama tahun t Pit = penyusutan barang modal i selama tahun t.

Apabila Rumus (2) disubstitusikan ke Rumus (1), maka akan diperoleh Rumus (3) seperti berikut : SKit = = SKit-1 + PMi t - Pi SKit-1 PMit+(1-pi)SKit-1 ... Rumus (3)

Berdasarkan Rumus (3) ini dapat dilihat bahwa stok kapital pada suatu tahun tertentu akan sama dengan pembentukan modal pada tahun tersebut ditambah dengan stok kapital tahun sebelumnya setelah dikurangi dengan penyusutan. Namun, sebelum memperoleh

estimasi stok kapital, sesuai dengan rumus (3), estimasi besarnya penyusutan menurut barang modal dilakukan terlebih dahulu. Untuk mengestimasi stok kapital, perubahan stok dalam PDRB dimasukkan sebagai komponen PMTB agar model ekonomi makro Y = C+G+I+X-M menjadi konsisten.

2.2.2.1. Perkiraan Besar Penyusutan dalam Upaya Estimasi Stok kapital Perkiraan penyusutan atas barang modal diperlukan dalam upaya mengestimasi stok kapital sesuai dengan rumusan yang diberikan pada bagian sebelumnya. Pada prinsipnya, besarnya penyusutan suatu barang modal dapat diperkirakan atas dasar perkiraan umur ekonomi atau atas dasar umur teknis dari suatu barang modal. Namun permasalahan yang menyangkut perkiraan besarnya penyusutan barang-barang modal relatif banyak. Sebagai contoh, perkiraan umur suatu barang modal ditentukan oleh jenis barang modal. Bangunan biasanya disusutkan lebih lama dari pada barang modal berupa mesin-mesin ataupun alat transportasi. Di samping itu, perbedaan besarnya penyusutan juga ditentukan berdasarkan siapa yang menggunakan barang modal walaupun barang modal yang digunakan adalah sejenis. Misalnya, lembaga swasta akan lebih cepat menyusutkan barang modal yang digunakan dari pada oleh rumahtangga karena lembaga swasta lebih mementingkan aspek (perubahan) teknologi dari pada rumahtangga.
Investasi dan ICOR Sumatera Barat 2000-2007 10

Metodologi

Dalam upaya memperkirakan besarnya penyusutan dalam mengestimasi stok kapital, sebagai dasar penghitungan estimasi penyusutan, digunakan tarif penyusutan yang ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan (SK) Menteri Keuangan RI untuk penentuan pajak nomor 961 tahun 1983 dan 826 tahun 1984. SK tersebut memuat penggolongan jenis harta tetap menurut tarif penyusutan, yaitu sebagai berikut : 1. 2. 3.
4.

Golongan 1 (ternak) : tarif penyusutan (TP) 50 %. Golongan 2 (mesin-mesin dan peralatan):TP 25 %. Golongan 3 (alat transportasi) : TP 10 %. Khusus golongan bangunan/konstruksi : TP 5 %. Namun, dalam melakukan rekonsiliasi dengan estimasi stok kapital yang dihasilkan,

besarnya penyusutan yang didasarkan kepada SK Menteri Keuangan, seperti telah dijelaskan sebelumnya perlu diperbaiki dan disesuaikan. Oleh karena itu, besarnya tarif penyusutan yang telah dihasilkan memerlukan penyesuaian, misalnya sebagai berikut : 1. 2. Untuk jenis barang modal bangunan dan konstruksi : TP diperkirakan 5 %. Untuk jenis barang modal mesin-mesin, alat komunikasi, kendaraan bermotor, pesawat terbang, peralatan untuk keperluan profesional dan musik : TP 15 %. 3. Untuk jenis barang modal berupa barang dari kaca, alat-alat dapur dan perkakas pertanian, perabotan rumahtangga dan kantor:TP : 20 %. 4. 5. 6. Untuk jenis barang modal sepeda motor dan alat angkutan lainnya : TP 30 %. Untuk jenis barang modal ternak dan perabotan rumahtangga dari kayu : TP 35 %. Untuk jenis barang modal alat listrik untuk rumahtangga, kapal, dan kereta api : TP 10 %.

2.2.2.2. Estimasi Stok Kapital menurut jenis Barang Modal dan Sektor Dengan menggunakan data yang diperoleh dari tahapan-tahapan estimasi sebagaimana dijelaskan di atas, maka estimasi stok kapital menurut jenis barang modal dapat diperoleh. Sedangkan untuk memperoleh estimasi stok kapital menurut jenis barang modal dan sektor, dilakukan destinasi menurut sektor (merinci jenis barang modal menurut sektor) terhadap stok kapital menurut jenis barang modal yang telah dihasilkan sebelumnya. Destinasi ini lebih banyak dengan menggunakan guesstimate terhadap pemakaian barang-barang modal pada tiaptiap sektor. Misalnya, barang modal berupa bangunan tempat tinggal akan lebih banyak menjadi pembentukan modal di sektor sewa rumah (real estate), barang modal berupa irigasi dialokasikan ke sektor pertanian, dan sebagainya.
Investasi dan ICOR Sumatera Barat 2000-2007 11

Metodologi

2.2.3. Estimasi Investasi Secara definisi, investasi adalah selisih stok kapital pada tahun ke-t dengan tahun sebelumnya (t-1) sebelum dikurangi dengan penyusutan. Investasi di sini merupakan konsepsi bruto, sedangkan stok kapital merupakan konsepsi investasi neto. Berdasarkan konsepsi Pendapatan Nasional, jumlah PMTB mencerminkan investasi domestik secara fisik yang telah direalisasi pada suatu tahun tertentu. Besarnya output suatu sektor yang menjadi barang modal disebut sebagai PMTB. Yang disebut sebagai barang modal adalah barang - barang yang digunakan dalam upaya

menghasilkan output (suatu sektor) dan masa pakai dari barang tersebut melebihi satu tahun. Barang-barang modal terdiri dari gedung dan output konstruksi lainnya (seperti jembatan, jalan raya, dam), mesin-mesin dan peralatan lainnya, dan alat-alat pengangkutan, seperti mobil (lihat juga penjelasan mengenai PMTB pada bagian sebelumnya). Output suatu sektor yang belum selesai diproses, dengan perkataan lain masih berbentuk output setengah jadi, atau input yang belum digunakan disebut sebagai stok. Dalam konsepsi stok di sini termasuk juga stok berupa barang jadi yang belum dijual. Selisih antara stok awal dengan stok akhir menggambarkan besarnya perubahan stok yang terjadi selama suatu periode tertentu. Pendekatan penghitungan investasi melalui konsepsi PMTB disebut juga sebagai pendekatan arus barang atau metode tidak langsung dalam menduga besarnya investasi. Dari hasil-hasil sebelumnya mengenai estimasi stok kapital (sebelum dikurangi penyusutan),

estimasi investasi dapat diperoleh. Namun, hasil ini masih perlu dibandingkan dan direkonsiliasi dengan data investasi yang ada dari berbagai instansi yang berkompeten mengenai data investasi, baik menurut sektor maupun menurut institusi yang melakukan investasi dilakukan.

2.2.4. Estimasi Koefisien ICOR Setelah diperoleh nilai investasi dan peningkatan output atas dasar harga konstan 2000, maka langkah selanjutnya adalah mengestimasi koefisien ICOR. Data ICOR yang akan disajikan dalam publikasi ini, disusun sampai dengan sektor ekonomi. Untuk mendapatkan suatu koefisien ICOR yang bisa mewakili keadaan selama satu periode tertentu digunakan beberapa alternatif perhitungan, tergantung kepada sifat investasi di setiap sektor.
Investasi dan ICOR Sumatera Barat 2000-2007 12

Metodologi

Apabila investasi yang ditanamkan (I) pada tahun ke t akan memberikan tambahan output (Y) pada tahun ke t itu juga, maka digunakan rumus :

It ICOR = (Yt-Yt-1) ... Rumus (4)

Jika investasi yang ditanamkan pada tahun ke t menimbulkan kenaikan output setelah s tahun (lag = s tahun), maka Rumus (4) di atas dapat dimodifikasi menjadi :

It ICOR = (Yt+s-Yt+s-1) ... Rumus (5)

Dalam prakteknya data yang digunakan adalah data runtun berkala, maka untuk memperoleh satu nilai ICOR yang mewakili digunakan dua pendekatan, yaitu metode akumulasi dan metode standar. 2.2.4.1. Metode Akumulasi Pendekatan penghitungan ICOR dengan metode akumulasi berdasarkan suatu anggapan bahwa timbulnya peningkatan output selama periode waktu t1 sampai dengan tn (misal : 1989 sampai dengan 1998) disebabkan karena adanya akumulasi investasi tahunan selama periode waktu yang sama. Berkaitan dengan adanya masalah waktu yang dibutuhkan untuk meningkatkan output (time lag), maka secara matematis ditulis sebagai berikut :

t1 It ICOR = t1 (Yt+s-Yt+s-1)
tn

tn

. ..

Rumus (6)

Investasi dan ICOR Sumatera Barat 2000-2007 13

Metodologi

Kelebihan dari metode akumulasi ini adalah dalam penerapannya metode ini terkandung prinsip rata-rata tertimbang. Dengan digunakan rata-rata tertimbang, maka koefisien ICOR ekstrim yang terjadi pada tahun-tahun tertentu bisa dihindari. 2.2.4.2. Metode Standar Pada metode standar langkah perhitungan dilakukan terlebih dahulu dengan mencari ICOR pada masing-masing tahun untuk periode waktu t1 sampai tn, sehingga akan

didapatkan nilai ICOR sebanyak n buah. ICOR yang dianggap dapat mewakili untuk periode waktu tersebut (t1 s.d tn) diperoleh dengan jalan membagi antara jumlah nilai ICOR selama periode waktu dengan jumlah tahun yang ada, atau dengan mencari rata-rata nilai ICOR selama periode t1sampai tn. Prinsip dasar menghitung ICOR dengan metode standar ini adalah prinsip rata-rata sederhana. Penulisannya dalam bentuk matematis adalah sebagai berikut :

ICOR

1/n t1

tn

It ... (Yt+s-Yt+s-1) Rumus (7)

Rumus lain yang digunakan dalam penghitungan ICOR adalah dengan memodifikasi It menjadi bagian-bagian investasi tahun ke (t-1) dalam tahun ke (t). Dalam hal ini diasumsikan bahwa tambahan output yang diberikan pada suatu tahun, merupakan hasil dari penanaman investasi tahun ke (t-1) dan juga merupakan hasil dari penanaman investasi tahun ke (t). Besarnya porsi investasi tahun ke (t-1) dan tahun ke (t) diasumsikan sebesar 0,1 untuk tahun ke (t-1) dan 0,9 untuk tahun ke (t). Hal ini bisa terjadi apabila tambahan kapital yang ditanamkan pada tahun t+s-1 belum dimanfaatkan secara penuh pada tahun tersebut. Sehingga pada tahun t+s, investasi tersebut masih berdampak menaikkan output. Dengan demikian Rumus (7) dapat diperluas sebagai berikut :

ICOR = 1/n t1

tn

(0,1*It-1 + 0,9*It ) (Yt+s-Yt+s-1) Rumus (8)

Investasi dan ICOR Sumatera Barat 2000-2007 14

Metodologi

Seperti penjelasan di atas, tetapi It dimodifikasi menjadi bagian-bagian investasi tahun ke (t-2), (t-1) dan ke (t). Besarnya porsi investasi diasumsikan sebesar 0,1 untuk tahun ke(t-2), 0,2 untuk tahun ke(t-1) dan 0,7 untuk tahun ke(t). Dengan demikian Rumus (8) dapat diperluas lagi menjadi :

tn

(0,1*It-2 +0,2*It-1 +0,7*It ) Rumus (9) (Yt+s-Yt+s-1)

ICOR = 1/n t1

2.2.5. Data dan Keterbatasannya Data yang digunakan untuk penyusunan investasi ini berasal dari berbagai sumber, antara lain laporan keuangan APBD, SKTIR (Survei Khusus Tabungan dan Investasi Rumahtangga), publikasi-publikasi hasil survei dan sensus yang diterbitkan oleh BPS Pusat maupun Daerah, dan sumber lainnya. Total investasi dihitung dari jumlah PDRB yang digunakan untuk pembentukan modal dan perubahan stok. Nilai tersebut juga digunakan sebagai Control Total (CT) terhadap nilai investasi dan ICOR secara keseluruhan. Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa konsep output yang digunakan dalam penghitungan ICOR adalah nilai tambah bruto. Data mengenai kenaikan nilai tambah bruto ini diperoleh dari hasil penghitungan PDRB yang telah dipublikasikan. Mempertimbangkan keterbatasan data yang ada, maka penggunaan data seperti disebutkan di atas tidak dapat begitu saja dipakai, terutama dalam penghitungan koefisien ICOR. Perlu beberapa penyesuaian dan penghalusan terhadap data tersebut, karena batasan output dan investasi dalam publikasi ini sedikit berbeda dengan batasan yang baku di masyarakat.

Investasi dan ICOR Sumatera Barat 2000-2007 15

Penghitungan

BAB III PENGHITUNGAN

3.1. Perkembangan Investasi

Dalam proses kegiatan ekonomi, investasi merupakan salah satu komponen yang sangat diperlukan. Hal ini karena investasi berkaitan erat dengan kegiatan menanamkan uang dengan harapan mendapatkan keuntungan atau peningkatan kapasitas sistem produksi pada masa yang akan datang. Sebagai contoh menambah kapasitas produksi dengan membeli mesin/peralatan, meningkatkan kualitas sistem produksi, dan sebagainya.

Tabel 1. Nilai Investasi (Pembentukan Modal Tetap Bruto) Provinsi Sumatera Barat 2000 - 2007 (Rp. Milyar) Atas Dasar Harga Berlaku (Rp. Milyar) (2) 4.686,00 5.165,12 5.678,30 6.165,72 6.752,58 8.053,49 9.408,08 10.453,66 Atas Dasar Harga Konstan 2000 (Rp. Milyar) (3) 4.686,00 4.736,14 4.785,54 4.934,28 5.091,19 5.388.13 5.604,65 5.824,27

Tahun (1) 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 * 2007 **

Keterangan : * Angka diperbaiki ** Angka sementara

Tabel 1 menyajikan data mengenai investasi (Pembentukan Modal Tetap Bruto) atas dasar harga berlaku dan konstan 2000 yang terjadi di Provinsi Sumatera Barat selama 2000 2007. Secara konsep, investasi adalah total Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) dan Perubahan Stok (PS). Perubahan stok (PS) selama ini ditaksir sebagai residual, yaitu Produk Domestik Regional Bruto yang telah dihitung menurut lapangan usaha dikurangi dengan
Investasi dan ICOR Sumatera Barat 2000-2007 16

Penghitungan

konsumsi rumahtangga, konsumsi lembaga swasta nirlaba, konsumsi pemerintah, PMTB dan ekspor netto. Mulai tahun ini, penghitungan investasi didasarkan pada pembentukan modal tetap bruto (PMTB) dengan mengabaikan perubahan stok yang angkanya selalu berubah-ubah karena merupakan angka diskrepansi statistik (residual).

Nilai investasi yang ditanamkan di Provinsi Sumatera Barat selama periode 2000-2007 atas dasar harga berlaku terlihat perkembangan yang cukup menggembirakan, di mana pada tahun 2000 tercatat sebesar 4.686,00 milyar rupiah dan menjadi 5.165,12 milyar rupiah pada tahun 2001. Pada tahun 2002 nilai investasi yang ditanamkan tercatat sebesar 5.678,30 milyar rupiah, kemudian terus meningkat menjadi 6.165,72 milyar rupiah pada tahun 2003, 6.752,58 milyar rupiah pada tahun 2004, 8.053,49 milyar tahun 2005 naik cukup tajam (19,26 persen) dan pada tahun 2007 menjadi 10.453,66 milyar atau naik sebesar 11,11 persen. Grafik 1 Nilai Investasi yang ditananamkan selama Periode 2000 2007 (Milyar Rupiah)
12000 10000 Milyar Rupiah 8000 6000 4000 2000 0 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007

ADHB ADHK

Berdasarkan harga konstan 2000, nilai investasi yang ditanamkan pada tahun 2000 sebesar 4.686,00 milyar rupiah dan meningkat menjadi 4.736,14 milyar rupiah pada tahun 2001 (naik 1,07 persen). Pada tahun 2002 nilai investasi yang ditanamkan tercatat sebesar 4.785.54 milyar rupiah (naik1,04 persen) meningkat menjadi 4.934,28 milyar rupiah pada tahun 2003 (naik 3,11 persen), sementara pada tahun 2004 sebesar 5.091,19 milyar rupiah (naik 3,18 persen) meningkat menjadi 5.388.13 milyar rupiah pada tahun 2005 (naik 5,83 persen), tahun 2006 mencapai 5.604,65 milyar rupiah atau hanya naik sebesar 4,02 persen, dan pada tahun 2007 naik sebesar 3,92 persen menjadi 5.824,27 milyar rupiah. Hal ini menggambarkan secara
Investasi dan ICOR Sumatera Barat 2000-2007 17

Penghitungan

riil pertumbuhan investasi didaerah ini berkembang lambat, walaupun dilihat atas dasar harga berlaku menunjukkan perkembangan yang cukup pesat selama tiga tahun terakhir (2005 sampai 2007) sebagai akibat tingginya laju inflasi pada periode tersebut.

3.2. Struktur Investasi Menurut Lapangan Usaha

Dari Lampiran 3 dapat dilihat struktur investasi secara lengkap menurut lapangan usaha atas dasar harga berlaku. Secara rata-rata selama periode 2000-2007, sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran masih menjadi sektor yang paling dominan dalam penyerapan investasi Propinsi Sumatera Barat, yaitu sebesar 29,06 persen. Penyerapan investasi oleh sektor ini dari tahun ke tahun selama periode tersebut cendrung naik secara berfluktuasi. Pada tahun 2000 tercatat 27,79 persen, naik menjadi 28,13 persen pada tahun 2001 dan 29,04 persen pada tahun 2002, pada tahun 2003 dan 2004 turun masing-masing menjadi 28,61 persen dan 28,23 persen, sementara pada tahun 2005 naik kembali, menjadi 28,91 persen , 29,88 persen tahun 2006 dan 30.30 persen tahun 2007. Besarnya peranan sektor ini menunjukkan bahwa masyarakat Propinsi Sumatera Barat terutama di daerah perkotaan lebih cendrung menanamkan investasi di sektor ini, karena potensi geografis dan filosofis yang dimiliki daerah ini. Hal ini terlihat dengan banyaknya bermunculan tempat-tempat usaha Perdagangan, Hotel dan Restoran di Propinsi Sumatera Barat. Grafik 2 Struktur Investasi Provinsi Sumatera Barat Menurut Lapangan Usaha Kumulatif 2000-2007 (Persen)
12,72 4,24 9,51 1,54

8 7

3 5

18,77

11,24

6
29,06

1,4 11,51

Keterangan : 1. 2. 3. 4. 5. Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas & Air Minum Bangunan 6. 7. 8. 9. Perdagangan, Hotel dan Restoran Pengangkutan & Komunikasi Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan Jasa-jasa Investasi dan ICOR Sumatera Barat 2000-2007 18

Penghitungan

Sektor Industri Pengolahan berada pada urutan kedua. Investasi yang ditanamkan di sektor ini tercatat 18,77 persen dari total investasi yang ditanamkan selama periode 2000-2007. Di urutan ketiga adalah investasi di sektor Jasa-jasa (12,72 persen), keempat sektor Bangunan (11.51 persen), dan kelima sektor Angkutan dan Komunikasi (11,24 persen). Sektor-sektor lain selain yang telah disebutkan di atas hanya memiliki persentase investasi di bawah 10 persen terhadap total investasi yang ditanamkan selama periode 20002007 yaitu sektor Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan (9,51 persen), sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan (4,24 persen), sektor Pertambangan dan Penggalian (1,54 persen), dan sektor Listrik, Gas & Air Minum (1,40 persen).

3.3. Struktur Investasi Menurut Institusi

Dari Lampiran 5 dapat dilihat struktur investasi secara lengkap menurut institusi atas dasar harga berlaku. Setelah mengalami fluktuasi pada peride tahun 2000-2005, pada peride tahun 2000-2007 kembali investasi rumahtangga merupakan institusi yang paling dominan dalam penyerapan nilai investasi Provinsi Sumatera Barat, kemudian baru diikuti investasi BUMN/D dan institusi pemerintahan umum memiliki penyerapan investasi yang paling rendah. Grafik 3 Struktur Investasi Propinsi Sumatera Barat Menurut Institusi Kumulatif 2000-2007 (Persen)
12,04

1 3
44,58

2
43,39

Keterangan : 1. 2. Pemerintahan Umum BUMN/D dan Swasta 3. Rumahtangga

Investasi dan ICOR Sumatera Barat 2000-2007 19

Penghitungan

Penyerapan investasi oleh institusi rumahtangga pada periode tahun 2000-2007 tercatat 44,58 persen, dimana institusi ini pada peride tahun sebelumnya menempati urutan kedua dalam penyerapan investasi Sumatera Barat. Sementara institusi BUMN/D dan swasta mencapai 43,39 persen, dimana pada tahun sebelumnya instritusi ini merupakan institusi yang paling dominan pada penyerapan investasi. Institusi Pemerintahan umum dari tahun ke tahun menduduki urutan paling bawah dalam penyerapan investasi, dimana pada periode ini hanya mencapai 12,04 persen.

3.4. Incremental Capital Output Ratio (ICOR)

Untuk menghitung besaran ICOR, nilai investasi dan PDRB dibuat dalam harga konstan agar pengaruh fluktuasi harga dalam ukuran ICOR dapat dihilangkan (dalam hal ini akan digunakan harga konstan 2000). Untuk mendapatkan suatu koefisien ICOR yang benarbenar bisa mewakili keadaan selama satu periode, digunakan beberapa alternatif

perhitungan, tergantung kepada sifat investasi di setiap sektor. Perhitungan tersebut dapat diturunkan dari rumus-rumus yang ada pada Sub Bab 2.2 Landasan Teori, terutama Rumus 6 sampai dengan 9. Seperti terlihat pada Tabel 2, dengan menggunakan Rumus (9) diperkirakan ICOR Propinsi Sumatera Barat selama 2000-2007 sebesar 3,63 yang berarti bahwa secara rata-rata untuk meningkatkan output (dalam hal ini PDRB) Propinsi Sumatera Barat sebesar 1 unit moneter dibutuhkan investasi sekitar 3,63 unit moneter. Tetapi, angka ini belum bisa mewakili, karena dalam perhitungannya tidak melihat perilaku investasi di setiap sektor. Tambahan output/nilai tambah suatu kegiatan tidak hanya disebabkan oleh investasi tahun sebelumnya yang belum mencapai kapasitas penuh. Perilaku investasi juga tidak selamanya langsung menghasilkan pada tahun ketika investasi ditanamkan. Sebagai contoh tanaman kelapa sawit dan karet yang hanya bisa menghasilkan setelah umur tanaman sudah dewasa. Dengan kata lain, ada selang waktu (time lag) antara waktu penanaman investasi dengan output/nilai tambah yang dihasilkan. Penentuan alternatif mana yang dianggap tepat untuk suatu sektor dapat diterapkan prinsip mayoritas (modus) dalam sektor tersebut. Misalnya sektor Industri pengolahan yang dianggap paling beragam jenis dan klasifikasi usahanya, begitu juga faktor lagnya.
Investasi dan ICOR Sumatera Barat 2000-2007 20

Penghitungan

Dengan

mengacu beberapa referensi di daerah Propinsi Sumatera Barat, kita dapat saja

menyepakati rumus ICOR dengan lag 1 tahun dianggap mewakili rata-rata. Artinya, secara ratarata diasumsikan bahwa investasi baru akan menghasilkan output setelah satu tahun investasi ditanamkan. Oleh karena itu, hasil perhitungan dalam publikasi ini masih bisa dianalisis.

Tabel 2 Koefisien ICOR Propinsi Sumatera Barat 2000-2006 Menurut Lapangan Usaha (Lag 0) Menggunakan Metode Akumulasi *) Lapangan Usaha
(1)

Koefisien ICOR
(2)

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Pertanian, Peternakan, Kehutanan & Perikanan Pertambangan & Penggalian Industri pengolahan Listrik, gas dan air minum Bangunan Perdagangan, hotel & Restoran Pengangkutan & Komunikasi Keuangan, persewaan dan jasa perusahaan Jasa-jasa Propinsi Sumatera Barat

1,21 3,54 7,27 2,68 8,16 5,47 2,07 3,11 3,97 3,63

Ket :

*) Menggunakan Rumus (6)

Seperti terlihat pada Tabel 2 sektor Bangunan mencatat koefisien ICOR yang paling tinggi selama periode 2000-2007, yaitu sebesar 8,16. Sektor Industri Pengolahan menempati urutan ke dua dengan koefisien ICOR sebesar 7,27. Sedangkan sektor Pertanian, Peternakan, Kehutanan & Perikanan mencatat koefisien ICOR yang terkecil, yaitu sebesar 1,21. Tabel 2 di atas dapat disepakati sebagai koefisien ICOR sektoral untuk memperkirakan investasi di masa mendatang. Dengan asumsi pertama bahwa mayoritas investasi di setiap sektor selama periode tersebut mempunyai lag 0, artinya investasi yang ditanamkan pada tahun ke t akan

memberikan tambahan output pada tahun ke-t itu juga. Asumsi kedua, koefisien ICOR di masa mendatang sama dengan koefisien ICOR selama periode 2000-2007.

Investasi dan ICOR Sumatera Barat 2000-2007 21

Penghitungan

Pada dasarnya asumsi-asumsi di atas belum pernah diuji keberartiannya, karena perhitungan tersebut memerlukan waktu dan ketelitian yang tinggi. Untuk itu, hasil perhitungan koefisien ICOR ini masih bisa dikembangkan, tergantung kebutuhan perencanaan.

Grafik 4 Koefisien ICOR Propinsi Sumatera Barat 2000-2007 Menurut Lapangan Usaha (Lag 0)
Koefisien ICOR

9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 1 2 3 4 5
Lapangan Usaha

Keterangan : 1. 2. 3. 4. 5. Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas & Air Minum Bangunan 6. 7 8. 9. X Perdagangan, Hotel dan Restoran Pengangkutan & Komunikasi Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan Jasa-Jasa Propinsi Sumatera Barat

Investasi dan ICOR Sumatera Barat 2000-2007 22

Kesimpulan

BAB IV KESIMPULAN

Dari hasil pembahasan pada bab sebelumnya dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Berdasarkan harga berlaku, investasi Propinsi Sumatera Barat pada tahun 2007 mengalami kenaikan sebesar 11,11 persen, yaitu dari 9.408,08 milyar rupiah pada tahun 2006 menjadi 10.453,66 milyar rupiah pada tahun 2007.

2. Secara riil investasi Propinsi Sumatera Barat pada tahun 2007 mengalami kenaikan sebesar 3,92 persen, yaitu naik dari 5.604,65 milyar rupiah pada tahun 2006 menjadi 5.824,27 milyar rupiah pada tahun 2007.

3. Dilihat dari struktur investasi menurut lapangan usaha selama periode 2000-2007, investasi yang terbesar ditanamkan berada pada sektor Perdagangan, Hotel & Restoran yaitu 29,06 persen dan terkecil di sektor Listrik, Gas dan Air Minum yang hanya mencapai nilai sebesar 1,40 persen dari total investasi yang ditanamkan selama periode tersebut.

4. Dari hasil penghitungan dengan beberapa metode diperoleh dugaan koefisien ICOR Provinsi Sumatera Barat selama periode 2000-2007 sebesar 3,63. Artinya untuk meningkatkan satu unit output di Provinsi Sumatera Barat dibutuhkan investasi sebesar 3,63

5. Selama periode 2000-2007, dugaan koefisien ICOR menurut lapangan usaha cukup bervariasi. Koefisien ICOR terkecil terjadi di sektor Pertanian, Peternakan, Kehutanan & Perikanan yaitu sebesar 1,21. Sedangkan koefisien ICOR terbesar terjadi di sektor Bangunan yaitu sebesar 8,16.

Investasi dan ICOR Sumatera Barat 2001-2007 23

Lampiran 1

Investasi (Pembentukan Modal Tetap Bruto) Propinsi Sumatera Barat Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha 2000-2007 (Jutaan Rupiah)

Lapangan Usaha (1)

2000 (2) 465,730.30

2001 (3) 503,362.69

2002 (4) 562,738.74

2003 (5) 592,731.43

2004 (6) 635,998.30

2005 (7) 771,894.41

2006* (8) 881,246.90

2007** (9) 948,693.18

2000-2007 (10) 5,362,395.95

1. PERTANIAN, PETERNAKAN, KEHUTANAN & PERIKANAN 2. PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN 3. INDUSTRI PENGOLAHAN 4. LISTRIK,GAS & AIR MINUM

32,346.63

60,694.18

89,575.36

102,427.73

108,088.32

123,506.99

168,363.83

185,293.94

870,296.98

1,022,568.41 65,855.85

1,102,176.95 66,822.41

1,137,253.16 77,222.89

1,262,988.93 87,780.43

1,353,522.72 99,173.28

1,487,776.05 112,931.91

1,487,334.06 133,946.29

1,669,408.83 142,613.65

10,523,029.11 786,346.71

5. BANGUNAN 6. PERDAGANGAN, HOTEL & RESTORAN 7. PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI 8. KEUANGAN,PERSEWAAN DAN JASA PERUSAHAAN 9. JASA - JASA

545,314.72 1,302,411.24

608,036.62 1,452,862.35

596,082.09 1,649,115.00

648,386.75 1,764,098.24

766,938.53 1,906,576.26

954,359.23 2,327,924.79

1,137,744.74 2,810,906.33

1,284,943.70 3,167,807.10

6,541,806.38 16,381,701.29

436,625.93

475,729.12

598,572.59

676,233.44

728,539.28

931,313.85

1,186,220.68

1,302,067.53

6,335,302.42

182,602.69

201,819.99

242,780.06

257,224.96

289,207.76

336,943.63

418,755.25

460,818.61

2,390,152.95

632,539.42

693,619.86

724,955.59

773,849.37

864,531.55

1,006,834.22

1,183,566.00

1,292,014.90

7,171,910.93

Propinsi Sumatera Barat

4,685,995.18

5,165,124.17

5,678,295.48

6,165,721.29

6,752,576.00

8,053,485.09

9,408,084.08

10,453,661.43

56,362,942.72

Keterangan : * Angka diperbaiki ** Angka sementara

Lampiran 2

Investasi (Pembentukan Modal Tetap Bruto) Propinsi Sumatera Barat Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha 2000-2007 (Jutaan Rupiah)

Lapangan Usaha (1)


1. PERTANIAN, PETERNAKAN, KEHUTANAN & PERIKANAN 2. PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN 3. INDUSTRI PENGOLAHAN 4. LISTRIK,GAS & AIR MINUM

2000 (2) 465,730.30

2001 (3) 447,215.15

2002 (4) 446,709.31

2003 (5) 460,593.63

2004 (6) 455,865.40

2005 (7) 459,321.81

2006* (8) 461,406.35

2007** (9) 472,567.13

2000-2007 (10) 3,669,409.08

32,346.63

56,572.01

76,243.85

78,613.59

77,208.45

76,070.86

90,976.56

93,110.82

581,142.77

1,022,568.41 65,855.85

1,052,626.51 62,575.21

1,000,371.01 63,854.79

1,031,463.84 65,839.47

1,028,223.67 71,130.86

1,016,051.80 73,278.29

1,022,846.21 75,547.34

1,050,800.11 78,796.63

8,224,951.55 556,878.45

5. BANGUNAN 6. PERDAGANGAN, HOTEL & RESTORAN 7. PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI 8. KEUANGAN,PERSEWAAN DAN JASA PERUSAHAAN 9. JASA - JASA

545,314.72 1,302,411.24

534,645.83 1,329,067.09

508,273.21 1,362,300.19

524,071.02 1,404,642.23

566,299.66 1,429,653.86

616,659.49 1,568,203.08

637,850.28 1,643,385.95

660,512.53 1,714,972.29

4,593,626.73 11,754,635.92

436,625.93

443,262.52

504,972.26

520,667.45

540,375.64

585,598.36

627,702.43

669,574.67

4,328,779.25

182,602.69

185,146.44

207,315.72

213,759.37

232,802.70

249,988.72

269,133.41

281,417.13

1,822,166.17

632,539.42

625,024.56

615,499.70

634,630.18

689,630.65

742,962.19

775,797.34

802,522.14

5,518,606.18

Propinsi Sumatera Barat

4,685,995.18

4,736,135.33

4,785,540.03

4,934,280.76

5,091,190.89

5,388,134.59

5,604,645.87

5,824,273.46

41,050,196.11

Keterangan : * Angka diperbaiki ** Angka sementara

Lampiran 3

Distribusi Persentase Investasi (PMTB) Propinsi Sumatera Barat Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha 2000-2007

Lapangan Usaha (1)


1. PERTANIAN, PETERNAKAN, KEHUTANAN & PERIKANAN 2. PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN 3. INDUSTRI PENGOLAHAN 4. LISTRIK,GAS & AIR MINUM

2000 (2) 9.94

2001 (3) 9.75

2002 (4) 9.91

2003 (5) 9.61

2004 (6) 9.42

2005 (7) 9.58

2006* (8) 9.37

2007** (9) 9.08

2000-2007 (10) 9.51

0.69

1.18

1.58

1.66

1.60

1.53

1.79

1.77

1.54

21.82 1.41

21.34 1.29

20.03 1.36

20.48 1.42

20.04 1.47

18.47 1.40

15.81 1.42

15.97 1.36

18.67 1.40

5. BANGUNAN 6. PERDAGANGAN, HOTEL & RESTORAN 7. PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI 8. KEUANGAN,PERSEWAAN DAN JASA PERUSAHAAN 9. JASA - JASA

11.64 27.79

11.77 28.13

10.50 29.04

10.52 28.61

11.36 28.23

11.85 28.91

12.09 29.88

12.29 30.30

11.61 29.06

9.32

9.21

10.54

10.97

10.79

11.56

12.61

12.46

11.24

3.90

3.91

4.28

4.17

4.28

4.18

4.45

4.41

4.24

13.50

13.43

12.77

12.55

12.80

12.50

12.58

12.36

12.72

Propinsi Sumatera Barat

100.00

100.00

100.00

100.00

100.00

100.00

100.00

100.00

100.00

Keterangan : * Angka diperbaiki ** Angka sementara

Lampiran 4

Investasi (Pembentukan Modal Tetap Bruto) Provinsi Sumatera Barat Menurut Institusi 2000-2007 (Jutaan Rupiah)

Institusi (1)

2000 (2)

2001 (3)

2002 (4)

2003 (5)

2004 (6)

2005 (7)

2006* (8)

2007** 9.00

2000-2007 10.00

Atas Dasar Harga Berlaku


1. PEMERINTAHAN UMUM

511,873.12

549,624.35

680,236.18

728,408.13

843,222.74

1,014,675.68 1,163,483.52

1,292,035.09

6,783,558.80

2. BUMN/D DAN SWASTA

1,857,236.43

1,944,550.11

2,536,442.32

2,737,174.41

3,017,589.47

3,638,911.68 4,162,865.50

4,558,840.08

24,453,610.00

3. RUMAHTANGGA

2,316,885.63

2,670,949.71

2,461,616.98

2,700,138.75

2,891,763.79

3,399,897.73 4,081,735.06

4,602,786.27

25,125,773.92

Propinsi Sumatera Barat

4,685,995.18

5,165,124.17

5,678,295.48

6,165,721.29

6,752,576.00

8,053,485.09

9,408,084.08

10,453,661.43

56,362,942.72

Atas Dasar Harga Konstan 2000


1. PEMERINTAHAN UMUM

511,873.12

532,563.96

569,694.19

588,889.65

642,605.38

689,455.34

731,770.51

765,968.46

5,032,820.61

2. BUMN/D DAN SWASTA

1,857,236.43

1,770,039.68

1,991,057.97

2,051,067.71

2,131,561.94

2,282,883.46

2,379,069.07

2,406,327.17 16,869,243.43

3. RUMAHTANGGA

2,316,885.63

2,433,531.68

2,224,787.87

2,294,323.40

2,317,023.57

2,415,795.80

2,493,806.29

2,651,977.83 19,148,132.06

Propinsi Sumatera Barat

4,685,995.18

4,736,135.33

4,785,540.03

4,934,280.76

5,091,190.89

5,388,134.59

5,604,645.87

5,824,273.46

41,050,196.11

Keterangan : * Angka diperbaiki ** Angka sementara

Lampiran 5

Distribusi Persentase Investasi Propinsi Sumatera Barat Menurut Institusi 2000-2007

Institusi (1)

2000 (2)

2001 (3)

2002 (4)

2003 (5)

2004 (6)

2005 (7)

2006* (8)

2007** 9.00

2000-2007 10.00

1. PEMERINTAHAN UMUM

10.92

10.64

11.98

11.81

12.49

12.60

12.37

12.36

12.04

2. BUMN/D DAN SWASTA

39.63

37.65

44.67

44.39

44.69

45.18

44.25

43.61

43.39

3. RUMAHTANGGA

49.44

51.71

43.35

43.79

42.82

42.22

43.39

44.03

44.58

Propinsi Sumatera Barat

100.00

100.00

100.00

100.00

100.00

100.00

100.00

100.00

100.00

Keterangan : * Angka diperbaiki ** Angka sementara

Lampiran 6

Koefisien ICOR Propinsi Sumatera Barat Periode 2000-2007 Menggunakan Metode Akumulasi

Lapangan Usaha
(1)

Lag 0
(2)

Lag 1
(3)

Lag 2
(4)

1. PERTANIAN, PETERNAKAN, KEHUTANAN & PERIKANAN

1.21

1.14

1.17

2. PERTAMBANGAN & PENGGALIAN

3.54

2.84

2.53

3. INDUSTRI PENGOLAHAN

7.27

6.91

6.37

4. LISTRIK,GAS & AIR MINUM

2.68

2.73

2.73

5. BANGUNAN

8.16

7.21

6.36

6. PERDAGANGAN, HOTEL & RESTORAN

5.47

5.07

4.69

7. PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI

2.07

1.81

1.62

8. KEUANGAN, PERSEWAAN DAN JASA PERUSAHAAN

3.11

2.78

2.36

9. JASA - JASA

3.97

3.61

3.15

Propinsi Sumatera Barat

3.63

3.32

3.09

Lampiran 7

Koefisien ICOR Propinsi Sumatera Barat Periode 2000-2007 Menggunakan Metode Standar 1)

Lapangan Usaha
(1)

Lag 0
(2)

Lag 1
(3)

Lag 2
(4)

1. PERTANIAN, PETERNAKAN, KEHUTANAN & PERIKANAN

3.07 2.72 8.14 2.93 10.30 6.02 2.49 3.77 4.57

1.24 2.21 8.56 2.90 9.86 5.53 2.26 3.53 4.44

1.16 2.94 8.34 2.99 7.85 5.09 1.79 3.18 4.00

2. PERTAMBANGAN & PENGGALIAN

3. INDUSTRI PENGOLAHAN

4. LISTRIK,GAS & AIR MINUM

5. BANGUNAN

6. PERDAGANGAN, HOTEL & RESTORAN

7. PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI

8. KEUANGAN, PERSEWAAN DAN JASA PERUSAHAAN

9. JASA - JASA

Propinsi Sumatera Barat

4.09

3.72

3.31

Keterangan : 1) Menggunakan Rumus (7)

Lampiran 8

Koefisien ICOR Propinsi Sumatera Barat Periode 2000-2007 Menggunakan Metode Standar 2)

Lapangan Usaha
(1)

Lag 0
(2)

Lag 1
(3)

Lag 2
(4)

1. PERTANIAN, PETERNAKAN, KEHUTANAN & PERIKANAN

1.24

1.16

1.18

2. PERTAMBANGAN & PENGGALIAN

1.87

3.53

3.07

3. INDUSTRI PENGOLAHAN 4. LISTRIK,GAS & AIR MINUM

8.59 2.99

8.29 3.05

7.61 3.10

5. BANGUNAN 6. PERDAGANGAN, HOTEL & RESTORAN

9.96 5.71

7.99 5.26

6.51 4.86

7. PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI

2.38

1.89

1.66

8. KEUANGAN, PERSEWAAN DAN JASA PERUSAHAAN

3.75

3.33

2.40

9. JASA - JASA

4.54 3.82

4.09 3.40

3.29 3.13

Propinsi Sumatera Barat

Keterangan : 2) Menggunakan Rumus (8)

Lampiran 9

Koefisien ICOR Propinsi Sumatera Barat Periode 2000-2007 Menggunakan Metode Standar 3)

Lapangan Usaha
(1)

Lag 0
(2)

Lag 1
(3)

Lag 2
(4)

1. PERTANIAN, PETERNAKAN, KEHUTANAN & PERIKANAN

1.16

1.18

1.23

2. PERTAMBANGAN & PENGGALIAN

3.75

3.40

2.32

3. INDUSTRI PENGOLAHAN

8.28

7.52

5.66

4. LISTRIK,GAS & AIR MINUM

3.14

3.17

2.66

5. BANGUNAN

8.13

6.69

6.48

6. PERDAGANGAN, HOTEL & RESTORAN

5.41

5.00

4.46

7. PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI

1.99

1.74

1.57

8. KEUANGAN, PERSEWAAN DAN JASA PERUSAHAAN

3.53

2.54

2.24

9. JASA - JASA

4.19

3.38

3.08

Propinsi Sumatera Barat

3.48

3.20

2.98

Keterangan : 3) Menggunakan Rumus (9)

Lampiran 10

PDRB Propinsi Sumatera Barat Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha 2000 - 2007 ( Jutaan Rupiah )

Lapangan Usaha (1)

2000 (2)

2001 (3)

2002 (4)

2003 (5)

2004 (6)

2005 (7)

2006* (8)

2007** (9)

1. PERTANIAN, PETERNAKAN, KEHUTANAN & PERIKANAN

5,385,595.71

6,169,340.45

6,998,194.57

8,012,509.54

9,066,534.50

11,433,001.38

13,396,523.71

14,754,867.69

2. PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN

873,887.57

976,429.98

1,115,590.55

1,188,626.36

1,315,145.21

1,514,207.22

1,829,475.26

2,059,937.26

3. INDUSTRI PENGOLAHAN

3,218,470.01 210,962.36

3,583,194.45 259,945.04

3,935,454.44 380,350.04

4,172,362.06 487,217.42

4,575,623.92 549,321.62

5,084,342.79 666,706.05

6,055,971.48 754,790.19

7,179,242.77 822,189.05

4. LISTRIK,GAS & AIR MINUM

5. BANGUNAN

1,131,101.81
4,147,024.46

1,300,136.83
4,981,281.18

1,436,900.54
5,645,470.30

1,636,974.38
6,226,084.69

2,006,972.31
7,022,554.87

2,472,641.03
7,799,756.56

2,972,397.17
8,992,233.41

3,290,146.38
10,367,999.17

6. PERDAGANGAN, HOTEL & RESTORAN

7. PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI

2,650,332.56

3,081,988.46

3,821,651.56

4,172,436.93

4,587,877.32

6,167,342.76

8,022,487.00

9,009,321.18

8. KEUANGAN,PERSEWAAN DAN JASA PERUSAHAAN

1,164,508.32

1,337,504.31

1,539,678.31

1,745,187.41

1,931,357.88

2,249,279.97

2,632,088.73

2,963,365.97

9. JASA - JASA

4,107,731.25

4,464,314.11

5,025,839.50

5,489,284.16

6,303,258.31

7,287,291.49

8,373,621.16

9,351,975.83

Propinsi Sumatera Barat

22,889,614.05

26,154,134.82

29,899,129.81

33,130,682.95

37,358,645.93

44,674,569.24

53,029,588.10

59,799,045.30

Keterangan : * Angka diperbaiki ** Angka sementara

Lampiran 11

PDRB Propinsi Sumatera Barat Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha 2000 - 2007 ( Jutaan Rupiah )

Lapangan Usaha (1)

2000 (2)

2001 (3)

2002 (4)

2003 (5)

2004 (6)

2005 (7)

2006* (8)

2007** (9)

1. PERTANIAN, PETERNAKAN, KEHUTANAN & PERIKANAN

5,385,595.71

5,648,004.31

6,091,915.61

6,557,510.72

6,937,172.92

7,293,205.65

7,658,394.83

8,038,919.12

2. PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN

873,887.57

868,572.82

884,878.74

894,245.03

923,379.06

951,882.62

980,826.77

1,028,828.26

3. INDUSTRI PENGOLAHAN

3,218,470.01 210,962.36

3,318,632.53 243,639.82

3,404,309.81 271,084.90

3,472,186.00 284,293.97

3,629,455.72 301,070.70

3,808,287.01 338,722.91

3,978,641.07 368,981.69

4,209,069.40 394,432.98

4. LISTRIK,GAS & AIR MINUM

5. BANGUNAN

1,131,101.81 4,147,024.46

1,157,117.15 4,332,173.03

1,194,839.17 4,543,977.61

1,278,358.43 4,755,166.34

1,375,769.34 5,006,640.26

1,440,337.58 5,305,757.21

1,544,889.64 5,662,879.36

1,627,195.26 6,056,682.55

6. PERDAGANGAN, HOTEL & RESTORAN

7. PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI

2,650,332.56

2,749,038.34

2,928,943.45

3,165,005.33

3,419,244.73

3,754,819.81

4,140,569.92

4,526,737.30

8. KEUANGAN,PERSEWAAN DAN JASA PERUSAHAAN

1,164,508.32

1,204,302.67

1,230,509.41

1,294,725.54

1,376,937.68

1,464,102.75

1,579,347.52

1,692,546.42

9. JASA - JASA

4,107,731.25

4,205,893.26

4,289,729.05

4,445,290.27

4,608,466.14

4,802,364.99

5,035,414.31

5,338,557.30

Propinsi Sumatera Barat

22,889,614.05

23,727,373.93

24,840,187.76

26,146,781.64

27,578,136.56

29,159,480.53

30,949,945.10

32,912,968.59

Keterangan : * Angka diperbaiki ** Angka sementara

Lampiran 12

PDRB Propinsi Sumatera Barat Atas Dasar Berlaku Menurut Penggunaan 2000 - 2007 ( Jutaan Rupiah )

Jenis Penggunaan/
(1)

2000 (2)

2001 (3)

2002 (4)

2003 (5)

2004 (6)

2005 (7)

2006* (8)

2007** (9)

1. PENGELUARAN KONSUMSI RUMAHTANGGA A. MAKANAN B. NON MAKANAN

13,599,034.37

15,725,540.54

17,943,555.43

19,595,032.66

21,848,356.52

26,005,973.86

30,288,933.27

33,367,201.79

8,823,430.56 4,775,603.81

10,072,828.33 5,652,712.21

11,410,598.19 6,532,957.24

12,382,444.34 7,212,588.32

13,475,171.63 8,373,184.89

15,929,424.35 10,076,549.51

18,498,004.90 11,790,928.37

20,548,393.52 12,818,808.27

2 PENGELUARAN KONSUMSI LEMBAGA SWASTA NIRLABA

230,517.84

263,235.16

307,605.61

370,058.81

413,639.47

472,683.23

549,092.58

588,667.06

3 PENGELUARAN KONSUMSI

3,104,862.38

3,369,289.40

3,689,034.98

4,013,616.56

4,395,399.22

5,150,365.09

6,045,139.36

6,713,057.83

PEMERINTAH
4 PEMBENTUKAN MODAL TETAP BRUTO 4,685,995.18 5,165,124.17 5,678,295.48 6,165,721.29 6,752,576.00 8,053,485.09 9,408,084.08 10,453,661.43

5 PERUBAHAN STOK

764,947.00

809,985.14

706,980.91

584,758.39

-52,707.53

-111,893.06

-371,190.65

-582,042.78

6 EKSPOR BARANG-BARANG DAN JASA-JASA A. LUAR NEGERI B. ANTAR PROPINSI

2,802,029.55

3,024,230.02

3,755,081.28

4,328,297.70

6,075,589.67

8,281,198.07

10,975,117.66

15,268,345.25

2,030,350.34 771,679.21

2,111,701.79 912,528.23

2,824,881.44 930,199.84

3,276,140.58 1,052,157.12

4,924,671.06 1,150,918.61

6,960,383.28 1,320,814.79

9,426,392.13 1,548,725.53

13,068,713.24 2,199,632.01

7 DIKURANGI IMPOR BARANGBARANG DAN JASA-JASA A. LUAR NEGERI B. ANTAR PROPINSI

2,297,772.27

2,203,269.63

2,181,423.88

1,926,802.46

2,074,207.42

3,177,243.04

3,865,588.20

6,009,845.28

1,449,553.65 848,218.62

1,254,887.79 948,381.84

1,120,148.03 1,061,275.85

776,351.68 1,150,450.78

731,521.11 1,342,686.31

1,590,215.89 1,587,027.15

1,962,939.19 1,902,649.01

3,343,078.06 2,666,767.22

Propinsi Sumatera Barat

22,889,614.05

26,154,134.81

29,899,129.81

33,130,682.95

37,358,645.93

44,674,569.24

53,029,588.10

59,799,045.30

Keterangan : * Angka diperbaiki ** Angka sementara

Lampiran 13

PDRB Propinsi Sumatera Barat Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Penggunaan 2000 - 2007 ( Jutaan Rupiah )

Jenis Penggunaan/
(1)

2000 (2)

2001 (3)

2002 (4)

2003 (5)

2004 (6)

2005 (7)

2006* (8)

2007** (9)

1. PENGELUARAN KONSUMSI RUMAHTANGGA A. MAKANAN B. NON MAKANAN

13,599,034.37

14,048,584.34

14,558,415.44

15,030,491.04

15,605,371.33

16,361,887.82

17,037,910.03

17,738,699.95

8,823,430.56 4,775,603.81

9,174,603.09 4,873,981.25

9,446,550.84 5,111,864.60

9,754,535.59 5,275,955.45

10,007,178.06 5,598,193.27

10,463,596.50 5,898,291.32

10,891,557.60 6,146,352.43

11,312,341.49 6,426,358.46

2 PENGELUARAN KONSUMSI LEMBAGA SWASTA NIRLABA

230,517.84

235,220.41

244,447.84

267,533.62

276,067.94

279,333.89

289,965.08

300,978.17

3 PENGELUARAN KONSUMSI

3,104,862.38

3,186,192.73

3,196,460.43

3,282,955.96

3,354,524.41

3,496,420.79

3,658,086.90

3,829,040.88

PEMERINTAH
4 PEMBENTUKAN MODAL TETAP BRUTO 4,685,995.18 4,736,135.33 4,785,540.03 4,934,280.76 5,091,190.89 5,388,134.59 5,604,645.87 5,824,273.46

5 PERUBAHAN STOK

764,947.00

779,427.71

633,152.03

465,287.91

-39,467.26

-76,035.62

-237,346.87

-493,203.02

6 EKSPOR BARANG-BARANG DAN JASA-JASA A. LUAR NEGERI B. ANTAR PROPINSI

2,802,029.55

2,862,200.39

3,390,675.97

3,843,191.44

4,973,311.80

6,027,591.91

7,125,583.22

9,185,145.44

2,030,350.34 771,679.21

2,050,856.87 811,343.52

2,571,056.75 819,619.22

2,934,295.20 908,896.24

4,032,785.97 940,525.83

5,048,340.14 979,251.77

6,096,132.24 1,029,450.98

7,863,230.64 1,321,914.80

7 DIKURANGI IMPOR BARANGBARANG DAN JASA-JASA A. LUAR NEGERI B. ANTAR PROPINSI

2,297,772.27

2,120,386.97

1,968,503.97

1,676,959.08

1,682,862.55

2,317,852.85

2,528,899.13

3,471,966.29

1,449,553.65 848,218.62

1,217,571.75 902,815.22

1,015,597.52 952,906.45

688,804.12 988,154.96

606,819.67 1,076,042.88

1,165,518.53 1,152,334.32

1,287,739.62 1,241,159.51

1,992,566.80 1,479,399.49

Propinsi Sumatera Barat

22,889,614.05

23,727,373.94

24,840,187.76

26,146,781.64

27,578,136.56

29,159,480.53

30,949,945.10

32,912,968.59

Keterangan : * Angka diperbaiki ** Angka sementara