Yurisprudensi Penipuan dalam Hukum Pidana
MAKALAH
disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Hukum Pidana Dalam Yurisprudensi
Disusun Oleh
Muhammad Azaria Kanigara Persada 1223050108
Navaratu Annisa Devi 1223050129
Salsabilla Firmanda 1223050161
Taufik Ismail Ramadhan 1223050178
Ujang Supian 1223050180
2024
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum [Link].
Puji syukur mari kita panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat serta hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Shalawat serta salam semoga selalu tercurah limpahkan kepada junjungan kita Nabi
Muhammad SAW. Makalah ini berjudul “Yurisprudensi Dalam Kasus Penipuan” disusun
untuk memenuhi tugas mata kuliah Hukum Pidana Dalam Yurisprudensi yang diampu oleh
Bapak Budi Tresnayadi, S.H., M.H.
Makalah ini mengupas tentang yurisprudensi dalam kasus penipuan. Semoga apa yang
disampaikan melalui makalah ini dapat menambah wawasan kepada para pembaca khususnya
untuk penulis sebagai penyusun makalah. Meski telah disusun secara maksimal, namun
penyusun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik
dan saran yang membangun dari pembaca sangat diharapkan.
Waalaikumsalam [Link].
Penulis
i
DAFTAR ISI
ii
BAB I
PENDAHULUAN
1
1.3 Tujuan
2
BAB II
PEMBAHASAN
Penipuan adalah kejahatan yang termasuk dalam golongan yang ditujukan terhadap hak
milik dan lain-lain hak yang timbul dari hak milik atau dalam bahasa belanda disebut
"misdrijven tegen de eigendom en de daaruit voortloeiende zakelijk rechten". Kejahatan ini
diatur Pasal 378 sampai dengan Pasal 394 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
(KUHP).Sebagaimana dirumuskan Pasal 378 KUHP, penipuan berarti perbuatan dengan
maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum dengan
memakai nama palsu, martabat palsu, tipu muslihat atau kebohongan yang dapat
menyebabkan orang lain dengan mudah menyerahkan barang, uang atau kekayaannya.1
Penipuan memiliki 2 (dua) pengertian, yaitu :
1. Penipuan dalam arti luas, yaitu semua kejahatan yang yang dirumuskan dalam
bab XXV KUHP.
2. Penipuan dalam arti sempit, yaitu bentuk penipuan yang dirumuskan dalam
Pasal 378 (bentuk pokok) dan Pasal 379 (bentuk khusus), atau biasa dengan
sebutan oplichting.2
Ketentuan Pasal 378 ini merumuskan tentang pengertian penipuan (oplichting) itu
sendiri. Rumusan ini adalah bentuk pokoknya, dan ada penipuan dalam arti sempit dalam
bentuk khusus yang meringankan. Karena adanya unsur khusus yang bersifat meringankan
sehingga diancam pidana sebagai penipuan ringan yakni dalam Pasal 379. Sedangkan
penipuan dalam arti sempit tidak ada dalam bentuk diperberat. Rumusan penipuan tersebut
terdiri dari unsur-unsur objektif yang meliputi perbuatan (menggerakkan), yang digerakkan
(orang), perbuatan itu ditujukan pada orang lain (menyerahkan benda, memberi hutang, dan
menghapuskan piutang), dan cara melakukan perbuatan menggerakkan dengan memakai
nama palsu, memakai tipu muslihat, memakai martabat palsu, dan memakai rangkaian
1
Setiyono Wahyu Wirawan, ‘ANALISIS YURIDIS MENGENAI TINDAK PIDANA PENIPUAN YANG DIPUTUS
BERDASARKAN PASAL 372 KUHPIDANA (STUDI PUTUSAN NOMOR 316/PID.B/2018/[Link])’, 6.1 (2018), 1–7
<[Link]
8%0A[Link]
[Link]/10.1016/[Link].2012.10.008%0A[Link]
2
AN Ilmi, ‘Kajian Hukum Tentang Delik Penipuan’, 2018, 1–12.
3
kebohongan. Selanjutnya adalah unsur-unsur subjektif yang meliputi maksud untuk
menguntungkan diri sendiri atau orang lain dan maksud melawan hukum.
Unsur Subjektif Penipuan
Penipuan Rumusan penipuan terdiri dari unsur-unsur objektif yang meliputi perbuatan
(menggerakkan), yang digerakkan (orang), perbuatan itu ditujukan pada orang lain
(menyerahkan benda, memberi hutang, dan menghapuskan piutang), dan cara melakukan
perbuatan menggerakkan dengan memakai nama palsu, memakai tipu muslihat, memakai
martabat palsu, dan memakai rangkaian kebohongan. Dan selain daripada unsur-unsur
objektif, maka dalam sebuah penipuan juga terdapat unsur-unsur subjektif dalam sebuah
kejahatan penipuan meliputi maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain dan
maksud melawan hukum. Berikut merupakan penjelasan singkat terkait unsur subjektif
dalam sebuah penipuan, yakni sebagai berikut :
➢ Maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain, dalam hal ini
maksud si pelaku dalam melakukan perbuatan menggerakkan harus ditujukan
pada menguntungkan diri sendiri atau orang lain, yakni berupa unsur kesalahan
dalam penipuan. Terhadap sebuah kesengajaan harus ditujukan pada
menguntungkan diri, juga ditujukan pada unsur lain di belakangnya, seperti
unsur melawan hukum, menggerakkan, menggunakan nama palsu dan lain
sebagainya. Kesengajaan dalam maksud ini harus sudah ada dalam diri si
pelaku, sebelum atau setidak-tidaknya pada saat memulai perbuatan
menggerakkan. Menguntungkan artinya menambah kekayaan dari yang sudah
ada. Menambah kekayaan ini baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain.
➢ Dengan melawan hukum, dalam hal ini unsur maksud sebagaimana yang
diterangkan di atas, juga ditujukan pada unsur melawan hukum. Maksud
menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan melakukan perbuatan
menggerakkan haruslah berupa maksud yang melawan hukum. Unsur maksud
dalam rumusan penipuan ditempatkan sebelum unsur melawan hukum, yang
artinya unsur maksud itu juga harus ditujukan pada unsur melawan [Link]
karena itu, melawan hukum di sini adalah berupa unsur subjektif.3
Dalam hal ini sebelum melakukan atau setidak-tidaknya ketika memulai perbuatan
menggerakkan, pelaku telah memiliki kesadaran dalam dirinya bahwa menguntungkan diri
sendiri atau orang lain dengan melakukan perbuatan itu adalah melawan hukum. Melawan
3
Tri Andrisman, Delik Tertentu Dalam KUHP (Bandar Lampung: Unila, 2011).
4
hukum di sini tidak semata-mata diartikan sekedar dilarang oleh undang-undang atau
melawan hukum formil, melainkan harus diartikan yang lebih luas yakni juga bertentangan
dengan apa yang dikehendaki masyarakat, suatu celaan masyarakat. Karena unsur melawan
hukum ini dicantumkan dalam rumusan tindak pidana, maka menjadi wajib dibuktikan
dalam persidangan. Perlu dibuktikan disini adalah si pelaku mengerti maksud
menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan menggerakkan orang lain dengan cara
tertentu dan seterusnya dalam rumusan penipuan sebagai hal yang dicela masyarakat.
Unsur Objektif Penipuan
Pasal 378 KUHP tentang penipuan merumuskan, yakni barang siapa dengan maksud
untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan melawan hukum, dengan
memakai nama palsu atau martabat palsu; dengan tipu muslihat ataupun dengan rangkaian
kebohongan menggerakkan orang lain untuk menyerahkan sesuatu benda kepadanya, atau
supaya memberi hutang maupun menghapuskan piutang, diancam karena penipuan dengan
pidana penjara paling lama 4 tahun. Rumusan penipuan tersebut terdiri dari unsur-unsur
objektif sebagai berikut:
Perbuatan menggerakkan (Bewegen). Kata bewegen dapat juga diartikan dengan istilah
membujuk atau menggerakkan [Link] KUHP sendiri tidak memberikan keterangan
apapun tentang istilah bewegen. Menggerakkan dapat didefinisikan sebagai perbuatan
mempengaruhi atau menanamkan pengaruh pada orang lain, karena objek yang
dipengaruhi yakni kehendak seseorang. Perbuatan menggerakkan juga merupakan
perbuatan yang abstrak, dan akan terlihat bentuknya secara konkrit bila dihubungkan
dengan cara melakukannya, dan cara melakukannya inilah sesungguhnya yang lebih
berbentuk, yang bisa dilakukan dengan perbuatan-perbuatan yang benar dan dengan
perbuatan yang tidak benar. Karena di dalam sebuah penipuan, menggerakkan diartikan
dengan cara-cara yang di dalamnya mengandung ketidakbenaran, palsu dan bersifat
membohongi atau menipu.
Yang digerakkan adalah orang. Pada umumnya orang yang menyerahkan benda, orang
yang memberi hutang dan orang yang menghapuskan piutang sebagai korban penipuan
adalah orang yang digerakkan itu sendiri. Tetapi hal itu bukan merupakan keharusan,
karena dalam rumusan Pasal 378 KUHP tidak sedikitpun menunjukkan bahwa orang yang
menyerahkan benda, memberi hutang maupun menghapuskan piutang adalah harus orang
yang digerakkan. Orang yang menyerahkan benda, memberi hutang maupun
menghapuskan piutang bisa juga oleh selain yang digerakkan, asalkan orang lain atau pihak
5
ketiga menyerahkan benda itu atas perintah atau kehendak orang yang digerakkan. Tujuan
perbuatan
Tujuan perbuatan dalam sebuah penipuan dibagi menjadi 2 (dua) unsur,yakni:
1) Menyerahkan benda, dalam hal ini pengertian benda dalam penipuan memiliki arti
yang sama dengan benda dalam pencurian dan penggelapan, yakni sebagai benda yang
berwujud dan bergerak. Pada penipuan benda yang diserahkan dapat terjadi terhadap
benda miliknya sendiri asalkan di dalam hal ini terkandung maksud pelaku untuk
menguntungkan diri sendiri atau orang lain. Pendapat ini didasarkan pada ketentuan
bahwa dalam penipuan menguntungkan diri tidak perlu menjadi kenyataan, karena
dalam hal ini hanya unsur maksudnya saja yang ditujukan untuk menambah kekayaan.
2) Memberi hutang dan menghapuskan piutang, dalam hal ini perkataan hutang tidak
sama artinya dengan hutang piutang, melainkan diartikan sebagai suatu perjanjian atau
perikatan. Hoge Raad menyatakan bahwa yang dimaksud dengan hutang adalah suatu
perikatan, misalnya menyetor sejumlah uang jaminan. Oleh karenanya memberi hutang
tidak dapat diartikan sebagai memberi pinjaman uang belaka, melainkan diberi
pengertian yang lebih luas sebagai membuat suatu perikatan hukum yang membawa
akibat timbulnya kewajiban bagi orang lain untuk menyerahkan atau membayar
sejumlah uang tertentu. Demikian juga dengan istilah utang, dalam kalimat
menghapuskan piutang mempunyai arti suatu perikatan.
Sedangkan menghapuskan piutang mempunyai pengertian yang lebih luas dari sekedar
membebaskan kewajiban dalam hal membayar hutang atau pinjaman uang belaka, karena
menghapuskan piutang diartikan sebagai menghapuskan segala macam perikatan hukum
yang sudah ada, di mana karenanya menghilangkan kewajiban hukum penipu untuk
menyerahkan sejumlah uang tertentu pada korban atau orang lain.
Upaya - Upaya Penipuan
Upaya penipuan disini dibagi menjadi 2 (dua) unsur, yakni :
1) Dengan menggunakan nama palsu (valsche naam)
Dalam hal ini terdapat 2 (dua) pengertian nama palsu, antara lain: Pertama,
diartikan sebagai suatu nama bukan namanya sendiri melainkan nama orang lain
(misalnya menggunakan nama seorang teman). Kedua, diartikan sebagai suatu nama
yang tidak diketahui secara pasti pemiliknya atau tidak ada pemiliknya (misalnya orang
yang bernama A menggunakan nama samaran B). Nama B tidak ada pemiliknya atau
tidak diketahui secara pasti ada tidaknya orang tersebut. Dalam hal ini kita harus
berpegang pada nama yang dikenal oleh masyarakat luas. Misalkan A dikenal di
6
masyarakat dengan nama C, maka A mengenalkan diri dengan nama C itu adalah
menggunakan nama palsu. Kemudian bagaimana bila seseorang menggunakan nama
orang lain yang sama dengan namanya sendiri, tetapi orang yang dimaksudkan itu
berbeda. Misalnya seorang supir bernama A mengenalkan diri sebagai seorang pegawai
bank yang juga bernama A, si A yang terakhir benar-benar ada dan diketahuinya
sebagai seorang pegawai bank. Di sini tidak menggunakan nama palsu, akan tetapi
menggunakan martabat atau kedudukan palsu.
2) Menggunakan martabat atau kedudukan palsu (valsche hoedanigheid)
Dalam hal ini terdapat beberapa istilah yang sering digunakan sebagai
terjemahan dari perkataan valsche hoedanigheid yakni, keadaan palsu, martabat palsu,
sifat palsu, dan kedudukan palsu. Adapun yang dimaksud dengan kedudukan palsu itu
adalah suatu kedudukan yang disebut atau digunakan seseorang, kedudukan mana
menciptakan atau memiliki hak-hak tertentu, padahal sesungguhnya ia tidak
mempunyai hak tertentu itu. Jadi kedudukan palsu ini jauh lebih luas pengertiannya
daripada sekedar mengaku mempunyai suatu jabatan tertentu, seperti dosen, jaksa,
kepala, notaris, dan lain sebagainya. Sudah cukup ada kedudukan palsu misalnya
seseorang mengaku seorang pewaris, yang dengan demikian menerima bagian tertentu
dari boedel waris, atau sebagai seorang wali, ayah atau ibu, kuasa, dan lain sebagainya.
Hoge Raad dalam suatu arrest-nya (27- 3-1893) menyatakan bahwa perbuatan
menggunakan kedudukan palsu adalah bersikap secara menipu terhadap orang ketiga,
misalnya sebagai seorang kuasa, seorang agen, seorang wali, seorang kurator ataupun
yang dimaksud untuk memperoleh kepercayaan sebagai seorang pedagang atau seorang
pejabat.
3) Menggunakan tipu muslihat (listige kunstgreoen) dan rangkaian kebohongan
(zamenweefsel van verdichtsels)
Dalam hal ini kedua cara menggerakkan orang lain ini sama-sama bersifat
menipu atau isinya tidak benar atau palsu, namun dapat menimbulkan kepercayaan atau
kesan bagi orang lain bahwa semua itu seolah-olah benar adanya. Namun terdapat
perbedaan, yakni pada tipu muslihat berupa perbuatan, sedangkan pada rangkaian
kebohongan berupa ucapan atau perkataan. Tipu muslihat diartikan sebagai suatu
perbuatan yang sedemikian rupa dan yang menimbulkan kesan atau kepercayaan
tentang kebenaran perbuatan itu, yang sesungguhnya tidak benar. Karenanya orang bisa
menjadi percaya dan tertarik atau tergerak hatinya. Tergerak hati orang lain itulah yang
sebenarnya dituju oleh si penipu, karena dengan tergerak hatinya atau terpengaruh
7
kehendaknya itu adalah berupa sarana agar si korban berbuat menyerahkan benda yang
dimaksud.4
“Para pihak yang tidak memenuhi kewajiban dalam perjanjian yang dibuat secara sah
bukan penipuan, namun Wanprestasi yang masuk dalam ranah perdata, kecuali jika
perjanjian tersebut didasari dengan itikad buruk/tidak baik.“
4
Barda Nawawi Arief, Pembaharuan Hukum Pidana Dalam Perspektif Kajian Perbandingan (Bandung: Citra
Aditya, 2005).
5
Dr. Yahman, S.H., M.H., Karakteristik Wanprestasi Dan Tindak Pidana Penipuan Yang Lahir Dari Hubungan
Kontraktual (Jakarta: Prenadamedia Group, 2014).
8
Konsep perjanjian pada dasarnya merupakan keperdataan yang diatur dalam B.W.
Apabila seseorang tidak dapat memenuhi perjanjiannya, maka orang tersebut dapat
dikatakan melakukan wanprestasi berdasarkan Pasal 1365 B.W. Namun kenyataannya ada
orang - orang yang dilaporkan ke polisi karena sang pelapor merasa orang tersebut menipu
karena tidak memenuhi perjanjian yang ada. Melihat adanya kekosongan hukum atau
ketidakpastian pembeda antara penipuan dan wanprestasi, maka kemudian Mahkamah
Agung mengeluarkan Yurisprudensi. Mahkamah Agung berpendapat bahwa apabila
seseorang tidak memenuhi kewajiban dalam sebuah perjanjian, dimana perjanjian tersebut
dibuat secara sah dan tidak didasari itikad buruk, maka perbuatan tersebut bukanlah sebuah
penipuan, namun masalah keperdataan, sehingga orang tersebut harus dinyatakan lepas
dari segala tuntutan hukum. Pandangan ini dapat dilihat dalam Putusan No. 598
K/Pid/2016. 6
Pada tahun 2018, Mahkamah Agung Republik Indonesia menerbitkan putusan dengan
nomor perkara 4/Yur/Pid/2018 yang membahas kriteria atau elemen yang digunakan
dalam penentuan apakah suatu tindakan lebih cenderung merupakan penipuan atau
Wanprestasi. Dalam putusan tersebut, terdapat beberapa faktor yang dianggap penting
dalam menilai apakah suatu tindakan dapat diklasifikasikan sebagai penipuan atau
Wanprestasi. Berikut ini adalah pembahasan lengkap mengenai kriteria atau elemen yang
digunakan dalam penentuan hal tersebut:7
1) Unsur Kesengajaan atau Kelalaian: Salah satu kriteria yang digunakan dalam
menilai apakah suatu tindakan merupakan penipuan atau Wanprestasi adalah
adanya unsur kesengajaan atau kelalaian dari pelaku. Jika pelaku melakukan
tindakan dengan sengaja, maka cenderung untuk diklasifikasikan sebagai
penipuan. Namun, jika tindakan tersebut terjadi karena kelalaian atau kealpaan
dari pelaku, maka lebih cenderung untuk diklasifikasikan sebagai Wanprestasi.
2) Kehendak Pemenuhan Kewajiban: Dalam menentukan apakah suatu
tindakan merupakan penipuan atau Wanprestasi, MA juga mempertimbangkan
kehendak pelaku untuk memenuhi kewajiban yang telah disepakati. Jika pelaku
tidak memiliki niat untuk memenuhi kewajiban tersebut sejak awal, maka
tindakannya lebih cenderung dikategorikan sebagai penipuan.
6
Tania Winata and Ade Adhari, ‘Dasar Kriteria Dalam Menentukan Adanya Penipuan Dan Wanprestasi Dalam
Yurisprudensi Mahkamah Agung Nomor No . 4 / Yur / Pid / 2018’, 6.4 (2024), 10643–50.
7
MA No.4/YUR/PID/2018.
9
3) Unsur Kecurangan atau Penyimpangan: MA juga mempertimbangkan
apakah terdapat unsur kecurangan atau penyimpangan dalam tindakan yang
dilakukan oleh pelaku. Jika terdapat bukti bahwa pelaku melakukan tindakan
dengan maksud untuk menyesatkan atau menipu pihak lain, maka tindakannya
akan lebih cenderung diklasifikasikan sebagai penipuan.
4) Kerugian yang Ditimbulkan: Dalam menilai apakah suatu tindakan
merupakan penipuan atau Wanprestasi, MA juga mempertimbangkan besarnya
kerugian yang ditimbulkan akibat dari tindakan tersebut. Jika tindakan pelaku
menyebabkan kerugian yang signifikan bagi pihak lain, maka lebih cenderung
untuk dikategorikan sebagai penipuan.
5) Keteraturan atau Rekayasa: MA juga mempertimbangkan apakah tindakan
yang dilakukan oleh pelaku merupakan bagian dari suatu pola atau rekayasa
untuk mendapatkan keuntungan secara tidak sah. Jika terdapat bukti bahwa
tindakan tersebut merupakan bagian dari suatu skema atau rencana yang
terorganisir dengan baik, maka lebih cenderung untuk diklasifikasikan sebagai
penipuan.
6) Kesepakatan yang Dilanggar: Jika tindakan pelaku melanggar kesepakatan
yang telah disepakati bersama, maka hal ini juga menjadi pertimbangan dalam
menentukan apakah tindakan tersebut merupakan penipuan atau Wanprestasi.
Jika pelaku melakukan tindakan yang bertentangan dengan kesepakatan yang
telah dibuat, maka lebih cenderung untuk dikategorikan sebagai Wanprestasi.
7) Bukti-Bukti Tambahan: Selain itu, MA juga mempertimbangkan bukti-bukti
tambahan yang mendukung atau menentang klaim bahwa suatu tindakan
merupakan penipuan atau Wanprestasi. Bukti-bukti tambahan ini dapat berupa
bukti dokumenter, saksi-saksi, atau bukti fisik lainnya yang dapat memberikan
gambaran lebih jelas mengenai tindakan yang dilakukan oleh pelaku.
10
menggunakan nama palsu atau tipu muslihat, dengan maksud untuk menguntungkan diri
sendiri atau orang lain, yang mengakibatkan kerugian bagi orang lain, dapat dipidana.8
Unsur tindak pidana penipuan diantara lain, yaitu:
1) Penggunaan Tipu Muslihat
Penggunaan tipu muslihat merupakan tindakan yang dilakukan pelaku untuk
memperdaya atau mengelabui korban agar korban percaya pada hal-hal yang tidak
benar. Dalam penipuan, tipu muslihat bisa berupa penyampaian informasi palsu,
menyembunyikan fakta yang penting, atau membuat situasi yang seolah-olah benar
padahal palsu.
2) Niat Jahat (Mens Rea)
Niat jahat, atau yang dikenal dengan istilah mens rea, adalah elemen mental atau
keadaan pikiran pelaku ketika melakukan tindak pidana. Dalam kasus penipuan, niat
jahat ini berarti pelaku memiliki kesadaran dan keinginan untuk menipu atau merugikan
korban demi keuntungan pribadi. Mens rea menunjukkan bahwa pelaku secara sadar
dan sengaja melakukan tindakan penipuan dan menyadari dampaknya pada korban.
Pentingnya mens rea dalam penipuan adalah untuk membuktikan bahwa pelaku
memang bertujuan untuk menipu, bukan karena kesalahan atau kelalaian. Tanpa adanya
niat jahat ini, sulit untuk membuktikan bahwa pelaku memiliki tujuan menipu, dan ini
bisa berdampak pada hasil perkara. Contohnya, jika seseorang tidak sengaja
memberikan informasi yang salah karena kurangnya pengetahuan, tindakan tersebut
mungkin tidak dikategorikan sebagai penipuan, karena tidak ada niat untuk menipu.
3) Kerugian bagi Korban
Kerugian bagi korban adalah akibat nyata dari tindakan penipuan yang
dilakukan pelaku. Dalam kebanyakan yurisdiksi, penipuan tidak dianggap lengkap
tanpa adanya kerugian nyata yang diderita korban. Kerugian ini bisa berupa kerugian
materiil (kehilangan uang, barang, atau aset) maupun imateriil (tekanan psikologis atau
trauma).9
Dalam putusan Nomor 70/PID.B/2020/PN MBN, Majelis Hakim Pengadilan
Negeri Muara Bulian menerapkan Pasal 378 KUHP terkait penipuan. Berdasarkan fakta
hukum dan alat bukti yang diatur dalam Pasal 184 KUHAP, seperti keterangan saksi,
ahli, surat, petunjuk, dan keterangan terdakwa, persidangan mengungkap beberapa
8
Tamboto Kevin Julio, ‘Pengaturan Dan Praktik Penerapan Pasal 378 Kuhp Tentang Penipuan (Kajian Putusan
Mahkamah Agung Nomor 519 K/Pid/2017)’, Lex Et Societatis, Vol. VI.7 (2018), 66–73.
9
Adami Chazawi, Hukum Pidana Materiil Dan Formil (Malang: Bayu Media, 2005).
11
fakta penting. Majelis Hakim selanjutnya mempertimbangkan apakah berdasarkan
fakta hukum yang ada, terdakwa dapat dinyatakan telah melakukan tindak pidana.
Untuk itu, perbuatan terdakwa harus memenuhi semua unsur pasal yang didakwakan.10
Terdakwa didakwa dengan:
1. Pasal 378 KUHP; atau
2. Pasal 372 KUHP.
Karena dakwaan Jaksa Penuntut Umum bersifat alternatif, Majelis Hakim
memiliki wewenang untuk memilih dakwaan yang paling sesuai dengan fakta-fakta
persidangan. Majelis Hakim memilih dakwaan alternatif pertama, yaitu Pasal 378
KUHP, sehingga pertimbangan selanjutnya berfokus pada pasal tersebut. Pasal 378
KUHP memiliki unsur-unsur sebagai berikut:
1. "Barang siapa";
2. "Dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara
melawan hukum";
3. "Dengan menggunakan nama atau kedudukan palsu, tipu muslihat, atau
rangkaian kebohongan, menggerakkan orang lain untuk menyerahkan
suatu barang kepadanya, memberi pinjaman, atau menghapuskan
utang."
1) Unsur Barangsiapa
Majelis Hakim mempertimbangkan bahwa unsur "barang siapa" merujuk pada
setiap orang yang berstatus sebagai subjek hukum, yang dihadapkan dalam persidangan
atas dugaan tindak pidana. Di persidangan, Jaksa Penuntut Umum menghadirkan
terdakwa bernama Siti Mutia Simatupang binti Burhanudin Simatupang. Terdakwa
mengakui identitasnya sesuai dengan dakwaan, dan selama proses pemeriksaan
terdakwa dinilai cakap serta mampu bertanggung jawab atas akibat perbuatan yang
didakwakan kepadanya.
Adapun mengenai kebenaran atas perbuatan yang didakwakan, akan
dipertimbangkan dalam unsur-unsur berikutnya. Berdasarkan uraian dan pertimbangan
tersebut, Majelis Hakim meyakini bahwa unsur ini telah terpenuhi.
2) Unsur Dengan Maksud Menguntungkan Diri Sendiri atau Orang Lain, Secara
Melawan Hukum
10
Zulkifli Z, Tahjul Mila, and Yusrizal Y, ‘Analisis Yuridis Putusan Hakim Terhadap Tindak Pidana Penipuan (Studi
Putusan Nomor : 70/Pid.B/2020/[Link])’, REUSAM: Jurnal Ilmu Hukum, 9.1 (2021), 13–24
<[Link]
12
Majelis Hakim mempertimbangkan pandangan Prof. Dr. Jur. Andi Hamzah
dalam bukunya ‘Delik-delik Tertentu (Speciale Delicten) Di Dalam KUHP’, yang
menjelaskan bahwa tindakan “menguntungkan diri sendiri atau orang lain”
mengandung unsur kesengajaan sebagai maksud (oogmerk). Prof. Van Bemmelem dan
Prof. Van Hattum mengartikan oogmerk sebagai niat utama pelaku untuk memperoleh
keuntungan bagi diri sendiri atau orang lain dengan cara melawan hukum. Hal ini tidak
harus diwujudkan langsung setelah tindak pidana terjadi, seperti dengan penerimaan
benda atau perjanjian utang. Selanjutnya, Majelis Hakim mengacu pada Prof. Van
Bemmelem dan Prof. Van Hattum yang mengartikan keuntungan sebagai perbaikan
keadaan yang diperoleh atau yang diharapkan, yang biasanya berkaitan dengan hak
milik, namun tidak terbatas pada aspek ini saja. “Melawan hukum” diartikan sebagai
tindakan yang bertentangan dengan kewajaran dalam pergaulan, tidak memiliki hak,
atau bertentangan dengan hukum.
Dalam ilmu hukum, konsep wederrechtelijk atau melawan hukum dibedakan
menjadi dua: secara formil (bertentangan dengan ketentuan undang-undang) dan
materil (bertentangan dengan asas-asas hukum tidak tertulis). Menurut Van
Bemmelem, melawan hukum mencakup tindakan yang tidak sesuai dengan norma
masyarakat, bertentangan dengan kewajiban hukum, tanpa hak, bertentangan dengan
hak orang lain, atau melawan hukum objektif.
Jika pandangan ini dikaitkan dengan fakta hukum dalam persidangan, diketahui
bahwa:
● Pada 6 Juli 2019, terdakwa datang ke rumah saksi dan menyatakan bekerja di
Kantor Warung Dana serta berniat membuka usaha koperasi. Ia meminjam
Rp15.000.000 dari saksi, yang diserahkan dengan kuitansi bermeterai.
● Dalam kuitansi, tertulis bahwa uang sebesar Rp15.000.000 dititipkan kepada
terdakwa.
● Terdakwa menjanjikan imbalan berupa bunga kepada saksi setiap tanggal 1,
namun tidak pernah diberikan.
● Bunga yang disepakati adalah 10%, dengan pengembalian pokok pinjaman
setelah enam bulan.
● Pada bulan September 2019, terdakwa kembali meminjam Rp16.500.000 dari
saksi untuk alasan yang sama, sebagian dipinjamkan ke anggota koperasi, dan
sebagian digunakan untuk kebutuhan pribadi.
13
● Pada 30 September 2019, saksi mentransfer Rp6.500.000 ke rekening terdakwa,
sehingga total dana yang dipinjamkan mencapai Rp38.000.000.
● Seluruh pinjaman belum dikembalikan, dan bunga pun belum diterima saksi,
dengan alasan bahwa bunga tersebut dipinjamkan kepada orang lain.
Majelis Hakim menilai bahwa terdakwa menggunakan alasan membuka usaha
simpan pinjam agar saksi percaya dan meminjamkan uang. Namun, dana tersebut
digunakan untuk kepentingan pribadi, bukan untuk tujuan yang dijanjikan. Berdasarkan
fakta ini, Majelis Hakim berpendapat bahwa terdakwa telah menguntungkan diri secara
melawan hukum, yang memenuhi unsur-unsur dalam tindak pidana ini. Berdasarkan
uraian tersebut, Majelis Hakim yakin bahwa unsur ini terpenuhi.
3) Unsur Dengan memakai nama palsu atau martabat palsu, dengan tipu muslihat,
ataupun rangkaian kebohongan, menggerakkan orang lain untuk menyerahkan
barang sesuatu kepadanya atau supaya memberi hutang maupun menghapuskan
piutang
Majelis Hakim mempertimbangkan bahwa unsur ini bersifat alternatif. Artinya,
jika salah satu kondisi dari unsur tersebut terbukti, maka unsur tersebut sudah dianggap
terpenuhi tanpa memerlukan pembuktian atas keadaan lainnya. Hakim menjelaskan
bahwa “nama palsu” merujuk pada penggunaan nama yang bukan nama asli pelaku;
“martabat palsu” meliputi klaim palsu atas status tertentu, seperti mengaku sebagai
agen, notaris, atau petugas, meskipun pelaku sebenarnya tidak memiliki posisi tersebut.
“tipu muslihat” mengacu pada cara licik yang bisa menipu orang yang berakal sehat,
sementara "rangkaian kebohongan" adalah susunan kebohongan yang saling menutupi
untuk membentuk cerita yang tampak meyakinkan.
Dalam bukunya, Prof. Dr. Jur. Andi Hamzah menjelaskan bahwa memakai
nama palsu bisa berarti mengaku dengan nama yang dikenali oleh korban, atau martabat
palsu, seperti mengaku sebagai tokoh tertentu. Sedangkan rangkaian kebohongan
merujuk pada kebohongan berulang sebagai bagian dari upaya penipuan. Majelis
Hakim mengaitkan konsep ini dengan kasus terdakwa, di mana terdakwa, pada waktu
dan tempat yang telah dipaparkan, menyatakan kepada saksi Yesi bahwa uang yang ia
pinjam akan digunakan untuk modal usaha simpan pinjam. Namun, di persidangan
terungkap bahwa uang tersebut sebagian digunakan untuk pengobatan anak terdakwa
yang sakit dan belum dikembalikan kepada saksi, walaupun terdakwa berjanji akan
mengangsur pembayarannya setiap bulan.
14
Majelis Hakim berpendapat bahwa terdakwa menggunakan alasan pembukaan
usaha untuk membuat saksi percaya dan meminjamkan uang. Berdasarkan hal ini,
Majelis Hakim menyatakan unsur ini telah terpenuhi. Mengingat bahwa seluruh unsur
dalam dakwaan utama Pasal 378 KUHP sudah terbukti melalui lebih dari dua alat bukti
yang sah, Majelis Hakim menyatakan terdakwa secara sah dan meyakinkan telah
melakukan tindak pidana penipuan. Majelis Hakim menemukan bahwa tidak ada alasan
yang dapat membebaskan terdakwa dari tanggung jawab pidana, baik sebagai alasan
pembenar maupun pemaaf. Karena terdakwa dinilai mampu bertanggung jawab atas
perbuatannya, ia harus dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman.
Dalam menentukan hukuman, meskipun Jaksa Penuntut Umum menuntut
pidana penjara satu tahun, Majelis Hakim menilai hukuman tersebut tidak sebagai
balasan, melainkan sebagai upaya menyadarkan terdakwa atas tindakannya, apalagi
terdakwa belum pernah dihukum sebelumnya. Majelis Hakim memutuskan untuk
menjatuhkan pidana yang memenuhi rasa keadilan bagi korban, masyarakat, dan
terdakwa, yang akan dicantumkan dalam amar putusan. Pidana terhadap terdakwa
merupakan tindakan represif atas pelanggaran hukum, sedangkan bagi masyarakat,
hukuman ini bersifat preventif agar kasus serupa tidak terulang dan memberi pelajaran
agar tidak melakukan tindakan yang sama. Majelis Hakim berpendapat bahwa pidana
yang akan dijatuhkan sudah sesuai dengan rasa keadilan.
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan ini, hakim menjatuhkan pidana
penjara selama tujuh bulan, dengan mengutamakan teori ratio decidendi (alasan utama
dalam mengambil keputusan) dan teori keseimbangan. Penjatuhan pidana ini
mempertimbangkan kedua unsur tersebut, mengingat sanksi diberikan meskipun
terdakwa menunjukkan beberapa faktor yang meringankan. Analisis Terhadap Putusan
Pengadilan Tinggi Jambi Berdasarkan Teori Pertimbangan dan Penjatuhan Putusan
Hakim Majelis hakim Pengadilan Tinggi Jambi memiliki pandangan yang sedikit
berbeda, yang tercermin dalam pertimbangan mereka:
1. Majelis hakim menemukan fakta hukum baru bahwa terdakwa sudah membayar
sebagian dari bunga pinjaman. Pembayaran tersebut dilakukan dalam beberapa
kali cicilan dan ada juga pembayaran yang dipotong langsung oleh korban saat
pinjaman diberikan.
2. Majelis hakim berpendapat bahwa meskipun perbuatan terdakwa memenuhi
unsur dalam Pasal 378 KUHP, tindakan tersebut lebih tepat dikategorikan
sebagai masalah perdata, bukan tindak pidana.
15
Dengan menggunakan teori pendekatan seni dan intuisi, majelis hakim
Pengadilan Tinggi Jambi menyatakan bahwa meskipun semua unsur Pasal 378 KUHP
terpenuhi, perbuatan terdakwa tidak dapat dianggap sebagai tindak pidana. Mereka
memutuskan untuk membebaskan terdakwa dari segala tuntutan hukum, sesuai dengan
Pasal 191 ayat (2) KUHAP, yang menyatakan bahwa jika suatu perbuatan terbukti
namun bukan tindak pidana, maka terdakwa harus dibebaskan dari tuntutan pidana.
Majelis hakim di Pengadilan Tinggi Jambi, dalam pertimbangannya, mengakui
bahwa terdakwa terbukti melanggar Pasal 378 KUHP, tetapi juga mengarah pada
pelanggaran perdata terkait wanprestasi.11 Fakta-fakta yang berbeda di antara kedua
pengadilan tersebut seperti pembayaran bunga oleh terdakwa dapat diterima dan sah,
karena terkait dengan fakta yang ada di pengadilan pertama.
11
Munir Fuady, Teori Hukum Pembuktian Pidana Dan Perdata (Bandung: Citra Aditya, 2006).
16
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kriteria yang digunakan untuk membedakan antara penipuan dan wanprestasi sangat
bergantung pada niat pelaku saat membuat perjanjian. Yurisprudensi, seperti yang
tercantum dalam Putusan Mahkamah Agung, menegaskan bahwa jika suatu perjanjian
didasari oleh itikad buruk dengan tujuan merugikan pihak lain, maka tindakan tersebut
dapat dikategorikan sebagai penipuan. Sebaliknya, jika kegagalan memenuhi kewajiban
bersifat tidak disengaja dan tidak ada niat jahat, maka hal tersebut merupakan wanprestasi.
17
DAFTAR PUSTAKA
Barda Nawawi Arief, Pembaharuan Hukum Pidana Dalam Perspektif Kajian Perbandingan
(Bandung: Citra Aditya, 2005)
Chazawi, Adami, Hukum Pidana Materiil Dan Formil (Malang: Bayu Media, 2005)
Dr. Yahman, S.H., M.H., Karakteristik Wanprestasi Dan Tindak Pidana Penipuan Yang
Lahir Dari Hubungan Kontraktual (Jakarta: Prenadamedia Group, 2014)
Fuady, Munir, Teori Hukum Pembuktian Pidana Dan Perdata (Bandung: Citra Aditya, 2006)
Ilmi, AN, ‘Kajian Hukum Tentang Delik Penipuan’, 2018, 1–12
Kevin Julio, Tamboto, ‘Pengaturan Dan Praktik Penerapan Pasal 378 Kuhp Tentang
Penipuan (Kajian Putusan Mahkamah Agung Nomor 519 K/Pid/2017)’, Lex Et
Societatis, Vol. VI.7 (2018), 66–73
MA No.4/YUR/PID/2018.
Tri Andrisman, Delik Tertentu Dalam KUHP (Bandar Lampung: Unila, 2011)
Wahyu Wirawan, Setiyono, ‘ANALISIS YURIDIS MENGENAI TINDAK PIDANA
PENIPUAN YANG DIPUTUS BERDASARKAN PASAL 372 KUHPIDANA (STUDI
PUTUSAN NOMOR 316/PID.B/2018/[Link])’, 6.1 (2018), 1–7
<[Link]
0543-
8%0A[Link]
1.007%0A[Link]
1598-018-2212>
Winata, Tania, and Ade Adhari, ‘Dasar Kriteria Dalam Menentukan Adanya Penipuan Dan
Wanprestasi Dalam Yurisprudensi Mahkamah Agung Nomor No . 4 / Yur / Pid / 2018’,
6.4 (2024), 10643–50
Z, Zulkifli, Tahjul Mila, and Yusrizal Y, ‘Analisis Yuridis Putusan Hakim Terhadap Tindak
Pidana Penipuan (Studi Putusan Nomor : 70/Pid.B/2020/[Link])’, REUSAM: Jurnal
Ilmu Hukum, 9.1 (2021), 13–24 <[Link]
18