Anda di halaman 1dari 8

Eksergi Jurnal Teknik Energi Vol 7 No.

3 September 2011 ; 84 - 91

Kajian Eksperimental Optimasi Jumlah Sudu Kincir Air Tipe Under Shot sebagai Upaya Pemanfaatan Potensi Aliran Head Rendah
Sunarwo dan Sahid
Program Studi Teknik Konversi Energi Politeknik Negeri Semarang Jl. Prof. Sudarto, SH Tembalang Semarang Fax.(024) 7472396 E-mail : Pakwo_57@yahoo.co.id

ABSTRAK Tujuan utama dari penelitian ini adalah mengkaji secara eksperimental optimasi jumlah sudu kincir air tipe undershot memanfaatkan energy aliran sungai head rendah. Tujuan khusus untuk mendukung tujuan utama tersebut adalah melakukan rekayasa model kincir air tipe undershot dengan berbagai jumlah sudu, melakukan rekayasa model aliran sungai, melakukan pengujian karakteristik kinerja kincir air dengan variable jumlah sudu, dan melakukan analisis hasil pengujian. Penelitian diawali dengan rekayasa model saluran terbuka dengan ukuran lebar 30 cm, tinggi 40cm, dan model-model kincir air tipe undershot berdiameter 90 cm dengan jumlah sudu 8, 10, dan 12 buah. Model-model tersebut dipasang pada saluran tebuka dan dilakukan uji kinerja kincir air. Parameter yang diukur dalam pengujian adalah head dan debit aliran, putaran dan torsi poros kincir. Sedang parameter yang ditentukan dan merupakan variable dalam penelitian adalah jumlah sudu. Data-data pengujian diolah untuk mendapatkan daya hidrolik aliran, daya mekanik kincir air, dan efisiensi kincir air. Data hasil pengolahan dipajangkan dalam grafik karakteristik kerja kincir air. Analisis dilakukan dengan cara membandingkan kinerja kincir secara diskriptif. Hasil uji menunjukkan bahwa kincir air dengan jumlah sudu 12 buah memiliki kinerja yang paling baik dengan efisiensi 89,67 %. Kata Kunci: kincir air undershot, jumlah sudu, efisiensi kincir air

1. PENDAHULUAN Krisis energi yang dikenal secara internasional sebagai Peak Oil yang disebabkan oleh kelangkaan bahan bakar minyak, telah mendorong pemerintah untuk mengambil kebijakan di bidang energi antara lain melalui Keppres Nomor 43 tahun 1991 tentang konservasi energi, Keppres Nomor 10 tahun 2005 tentang penghematan energi. Keppres ini mengisyaratkan perlunya segera mengembangkan dan menerapkan sumber energi terbarukan guna mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Salah satu sumber energy terbarukan adalah air. Dalam skala kecil sumber energy air disebut mikrohidro. Potensi mikrohidro di Indonesia diperkirakan sebesar 460 MV, sedang yang telah dimanfaatkan sekitar 64 M (Zulkarnain dkk, 2003). Aliran sungai juga termasuk sumber energy, namun pemanfaatan aliran sungai sebagai sumber energy belum optimum. Hal ini disebabkan aliran sungai memiliki head rendah. Selama ini aliran sungai hanya digunakan sebagai sumber air irigasi pada musim kemarau, dimana

pengambilan air sungai digunakan pompa air dengan penggerak mesin diesel atau bensin. Di pulau Jawa sediri, sumber air dari sungaisungai yang ada mampu mengairi sekitar 120.000 hektar lahan pertanian (Prabowo dkk, 2003). Sumber energi mikrohidro dapat dimanfaatkan dengan cara mengubah energi tersebut ke dalam bentuk energi mekanik. Energy mekanik kemudian digunakan untuk menggerakkan beban seperti generator listrik, pompa, dan lain-lain. Alat yang berfungsi untuk mengubah energy hidrolik air menjadi energy mekanik dikenal dengan turbin air. Kincir air adalah turbin air yang digunakan untuk memanfaatkan energy aliran head rendah menjadi energi mekanik. Kincir air merupakan turbin kuno yang sudah lama tidak digunakan. Hal ini disebabkan masih murah dan melimpah, namun sejak krisis energy pemanfaatan energy air mulai dikembangkan lagi. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengembangkan desain kincir air tipe undershot melalui kajian eksperimental optimasi jumlah sudu. 84

Kajian Eksperimental Optimasi Jumlah Sudu Kincir Air

(Sunarwo & Sahid)

Diharapkan hasil kajian dapat mendorong kembali pemanfaatan energy aliran sungai menggantikan mesin-mesin berbahan bakar minyak. Kincir air, dikenal juga sebagai roda air (waterwheel), sudah sejak lama digunakan oleh manusia. Tidak diketahui penemu kincir air ini, namun kincir air tipe under shot dikenalkan oleh Vitruvius pada tahun 27 SM (Denny M, 2004). Pada awalnya kincir air digunakan untuk mengangkat air untuk keperluan irigasi, kemudian untuk penggerak pada mesin penggiling gandum. Perkembangan industry yang pesat pada abad pertengahan meningkatkan penggunaan kincir air. Tercatat lebih dari 5000 lokasi menggunakan kincir air untuk keperluan industry pada abad 11 (Goring O, 2004). Seiring dengan berkembangnya desain kincir air, minat industry terhadap alat ini mencapai puncaknya pada abad 19. Di Inggris terdapat 30.000 kincir air beroperasi pada tahun 1850, di Irlandia 6.400, dan di Jerman lebih dari 40.000 (Muller G, 2004). Awal abad 20 teknologi kincir air mulai ditinggalkan dengan ditemukannya mesin bensin dan diesel yang berbahan bakar minyak. Kelebihan mesin ini adalah kapasitas daya yang jauh lebih besar. Kincir air mulai di minati kembali setelah krisis energy minyak. Desain kincir air kemudian dikembangkan kembali. Kincir air Zuppinger (dipatenkan oleh Zuppinger 1883) yang telah beroperasi sejak 1886 diuji kembali pada tahun 1979 di Technical University Jerman. Pengujian dilakukan untuk menentukan laju aliran dan daya output pada putaran 4,85 rpm. Pengujian pada debit 1,48 m3/s dan 3,1 m3/s didapatkan efisiensi kincir air mencapai 70 % untuk Q/Qmax= 0,5 dan 71 % untuk Q/Qmax= 1 (Muller G & Kauppert K, 2004). Kincir Zuppinger mempunyai berdiameter roda 6,5 m dan lebar 2,3 m digunakan untuk membangkitkan listrik, memanfaatkan beda tinggi jatuh 1 m dapat menghasilkan 20 kW dengan efisiensi total 70 %. Hingga tahun 2001 telah terpasang 15 hydrowatt unit dengan penggerak kincir Zuppinger. Dengan head bervariasi 1 2,2 m,

power output yang dihasil mencapai 4-45 kW (Muller G & Kauppert K, 2002). Roda impuls adalah kincir air dengan sudu berbentuk plat rata digunakan untuk aliran sungai head rendah (zero head/very low head). Kincir jenis ini memiliki kelebihan pada desain yang lebih sederhana dibandingkan jenis lainnya dan tidak memerlukan bangunan sipil, sehingga tidak merubah bentuk asli sungai. Turbin tipe ini mulai diuji tahun 2005 untuk mendapatkan karakteristik desain antara lain daya output, speed, efisiensi total, serta beda kedalaman aliran pada bagian hulu maupun hilir (The Sustainable Energy Research Group, 2005) Klasifikasi Kincir Air Kincir air telah kita ketahui sejak jaman dahulu, kincir air adalah salah satu mesin hidrolis tertua yang kita ketahui dan telah digunakan sejak jaman dahulu. Pada masa itu kincir air telah banyak dibuat dengan menggunakan kayu, sejak diketahuinya perbedaan antara energi potensial dan energi kinetik yang tidak jelas, dimana efisiensi yang dihasilkan dari kincir air ini tidak begitu tinggi. Dengan perkembangan ilmu teknik hidrolis, dan dengan bahan yang baru, bentuk geometri yang baru, energi keluaran yang dihasilkan dan efisiensi dari kincir air dapat ditingkatkan. Sama halnya seperti mesin uap dan turbin air, kincir air telah dikembangkan lebih lanjut yaitu khususnya di negara Jerman dan Switzerland. Teknologi tentang kincir air ini dapat dicapai pada efisiensi dan bahan terbaik pada awal abad 20. Kincir air merupakan sarana untuk mengubah energi air menjadi energi mekanik berupa torsi pada poros kincir. Ada beberapa tipe kincir air yaitu : 1. Kincir air undershot Kincir air undershot bekerja bila air yang mengalir, menghantam dinding sudu yang terletak pada bagian bawah dari kincir air. Kincir air tipe undershot tidak mempunyai tambahan keuntungan dari head.Tipe ini cocok dipasang pada perairan dangkal pada daerah yang rata. Tipe ini disebut juga dengan Vitruvian. Disini aliran

85

Eksergi Jurnal Teknik Energi Vol 7 No. 3 September 2011 ; 84 - 91

air berlawanan dengan arah sudu yang memutar.

3. Kincir air breastshot Kincir air Breastshot merupakan perpaduan antara tipe overshot dan undershot dilihat dari energi yang diterimanya. Jarak tinggi jatuhnya tidak melebihi diameter kincir, arah aliran air yang menggerakkan kincir air disekitar sumbu poros dari kincir air. Kincir air jenis ini memperbaiki kinerja dari kincir air tipe undershot.

Gambar 1. Kincir air tipe undershot 2. Kincir air overshot Kincir air overshot bekerja bila air yang mengalir jatuh ke dalam bagian sudusudu sisi bagian atas, dan karena gaya berat air roda kincir berputar. Kincir air overshot adalah kincir air yang paling banyak digunakan dibandingkan dengan jenis kincir air yang lain.

Gambar 3. Kincir air tipe breasthot

Kerja Poros Kincir Air

Gambar 4. Kincir air tipe undershot Kincir air undershot memanfaatkan energi kinetik dari aliran air sungai untuk membangkitkan generator listrik. Gaya yang terjadi pada sebuah blade pada kincir air dapat dituliskan : F = 0,5 Cd A Vr2....(1) (Jones, Z. 2005)

Gambar 2. Kincir air tipe overshot

86

Kajian Eksperimental Optimasi Jumlah Sudu Kincir Air

(Sunarwo & Sahid)

Dimana F adalah gaya pada sebuah balde atau sudu, adalah massa jenis air, Cd adalah Coefisien of discharge, A adalah Luas blade yang tercelup air, dan Vr adalah kecepatan relatif. Luasan sebuah blade yang tercelup didalam air tentunya berubah-ubah karena blade itu berputar dengan pusat rotasinya yaitu poros. Untuk perpindahan sebuah blade untuk secara matematisnya adalah dari posisi vertikal dalam air menjadi 90 derajat pada posisi awal. Jika = besarnya sudut antara pusat kincir dengan perpindahan blade yaitu dari =0 menjadi = 1 (ketika sebuah blade mulai meninggalkan air) hingga = L(ketika sebuah blade meninggalkan air penuh).

berkurang, dengan keadaan demikian dapat dituliskan rumus : A(x) = (L-(a(x)) f.........................(5) Dimana a(x) adalah jarak vertikal dari pusat kincir air ke permukaan air, y adalah jarak dari pusat kincir air ke ujung blade, DraftT adalah jarak dari pusat kincir air ke permukaan air, L adalah Jari-jari kincir air, d adalah tebal blade, dan f adalah lebar blade. Kecepan relative (Vr) dapat ditentukan berdasarkan gambar di bawah ini.

Gambar 5. Blade ketika sebuah blade tercelup dalam air Untuk menentukan besarnya a(x), kita dapat menggunakan teori trigoinometri yaitu:

Gambar 6. Diagram komponen kecepatan aliran menumbuk blade Untuk mengetahui besarnya Vc dapat kita ketahui dengan menggunakan teori trigonometri dengan berdasarkan gambar 6, dapat dituliskan : sin = opp : hyp sin(90- ) = Vair : Vc Vc = Vair sin(90- ) Vc = Vair cos .................... 6) Dan, Vb = Vair p..........................(7) Sehingga, Vr = Vc- Vb Vr = (Vai r sin(90- ))-(Vair p)...(8) Dimana Vb adalah kecepatan blade, Vc adalah komponen kecepatan pada blade, dan p adalah sebuah konstanta. Untuk nilai p(konstanta) pertama kali dikemukakan oleh Antoine Parent pada tahun 1740 yang telah memperkenalkan bahwa untuk nilai optimum nilai p adengan c,

Cos = DraftT : a(x)...........................(2) Jadi, a(x) = DraftT : cos .................(3) Jika a(x) L-d, ketika sebuah blade masih tercelup penuh maka luasan sebuah blade dapat dituliskan : A(x) = d f...............................(4) Walaupun sudut meningkat terhadap 1 (ketika sebuah blade mulai meninggalkan air) maka a(x) akan bertambah besar dan luasan sebuah blade yang tercelup akan

87

Eksergi Jurnal Teknik Energi Vol 7 No. 3 September 2011 ; 84 - 91

dengan daya output dan input telah diketahui dengan efisiensi adalah daya output dibagi dengan daya input, maka untuk nilai p ditemukan 1/3 dan efisiensi maksimum 33%. Torsi pada pusat kincir air dapat dituliskan rumus : M() = F LeverArm................(9) Dimana LeverArm adalah jarak pusat kincir air ke pusat luasan blade yang tercelup air. Berdasarkan momen torsi tersebut kerja kincir air dapat tuliskan sebagai, Work done = 2 dx(10) Kerja sebuah blade antara = 0 dan = L, sehingga untuk persamaan diatas untuk batasan integral adalah =0 dan = L. Dikarenakan nilai kerja total blade pada suatu kincir air dalam pengukurannya tidak menggunakan parameter derajat, maka untuk besaran derajat dapat diubah terlebih dahulu, sehingga persamaannya dapat dituliskan : Total Work Done = N Work Done (/180.........................................(11)

Dimana Total Work Done adalah Kerja total blade dan N adalah Jumlah blade. Untuk perhitungan jumlah blade pada sebuah kincir air tidak terdapat persamaan yang digunakan untuk menentukan jumlah blade, namun demikian jumlah blade dapat ditentukan melalui eksperimental. 2. METODE PENELITIAN Penelitian diawali dengan rekayasa model saluran terbuka dengan ukuran lebar 30 cm, tinggi 40cm, dan model-model kincir air tipe undershot berdiameter 90 cm dengan jumlah sudu 8, 10, dan 12 buah. Modelmodel tersebut dipasang pada saluran tebuka dan dilakukan uji kinerja kincir air. Parameter yang diukur dalam pengujian adalah head dan debit aliran, putaran dan torsi poros kincir. Sedang parameter yang ditentukan dan merupakan variable dalam penelitian adalah jumlah sudu. Data-data pengujian diolah untuk mendapatkan daya hidrolik aliran, daya mekanik kincir air, dan efisiensi kincir air. Data hasil pengolahan dipajangkan dalam grafik karakteristik kerja kincir air.

Gambar 7. Desain kincir air jumlah sudu 8, 10, dan 12 buah Kincir air air aliran Pompa air

Gambar 8. Desain model saluran untuk uji kerja kincir air

88

Eksergi Jurnal Teknik Energi Vol 7 No. 3 September 2011 ; 84 - 91

3. HASIL DAN PEMBAHASAN Desain kincir air tipe undeshot seperti gambar 10 merupakan modifikasi dari kincir air tipe undershot yang telah ada. kincir air tipe ini memanfaatkan energy aliran air. Oleh sebab itu, tidak memerlukan tinggi jatuh air (head) karena hanya memanfaatkan energy aliran mengalir saja. Pada kincir air lebih sederhana dalam pembuatanya apabila dibandingkan dengan tipe-tipe kincir air yang telah ada. Pada kincir air yang dibuat ini adalah hasil modifikasi dari kincir air yang pernah dibaut yaitu penekananya adalah pada bentuk blade dari kincir air tipe undershot yang sudah ada. Bentuk dari bladenya dibuat mempunyai kelengkungan sehingga mempunyai daya tampung air yang lebih banyak dibandingkan bentuk blade yang hanya datar saja. Prinsip kerja dari kincir air tipe undershot adalah ketika aliran air sungai menumbuk salah satu dari blade maka blade akan bergerak dan secara bergantian masingmasing blade akan tertumbuk oleh aliran air sehingga kincir air akan memutarkan poros dan kincir ini menimbulkan torsi putaran yang akan dipakai untuk memutarkan pompa torak dengan menggunakan system trasmisi yaitu berupa pulley sehingga pompa torak dapat memompakan fluida. Menentukan suatu diameter kincir air dapat dilakukan dengan pendekatan pada

head air yang tersedia. Berdasarkan gambar 2.5 dengan mengetahui terlebih dahulu H yang ada. tetapi dalam penelitian ini kita menentukan Diameter kincir air yaitu dengan terlebih dahulu membuat saluran terbukanya yang berukurran, Lebar = 0,3 m Tinggi 0,4 m dan Panjang 4 m. Berdasarkan keadaan dinding saluran yang ada sehingga kita membuat kincir yang berdiameter 0,9 m . Desain blade pada kincir air tipe undershot kali ini dibuat mempunyai kelengkungan. Dalam pembuatan blade kincir air menggunakan bahan plat, dimana pemilihan bahan ini dikarenakan bahan ini relative murah mudah dalam pengerjaan, ringan dan ulet dan untuk kelengkungan yang di gunakan pada kincir air di dapat dari diameter kincir air yaitu 0,9 m dari diameter tersebut di potong menjadi 8 bagian, dan hasil yang di dapatkan dari potongan itulah yang di gunakan sebagai lengkungan pada kincir air, begitupula pada kincir yang bersudu 10 dan 12 buah. Untuk perhitungan jumlah blade pada sebuah kincir air tidak terdapat persamaan yang digunakan untuk menentukan jumlah blade, untuk penggunaan kincir air ini dibuat untuk jumlah blade yaitu 8, 10 dan 12 buah. Selanjutnya hasil desain kincie air dapat dilihat pada gambar 11.

Gambar 9. Hasil desain kincir air jumlah sudu 8, 10, dan 12 buah

89

Eksergi Jurnal Teknik Energi Vol 7 No. 3 September 2011 ; 84 - 91

Performansi Kincir Air

Gambar 10. Grafik hubungan antara Daya Mekanik Dengan Rpm Dari gambar grafik 10 yang di tunjukan hubungan antara Daya Mekanik vs Rpm, kincir dengan jumlah sudu 12 menunjukan daya mekanik yang paling besar dan daya yang di hasilkan yaitu 2,028 watt, sedangkan saat mengunakan kincir dengan jumlah sudu 8 yaitu 1,641 watt, dan saat mengunakan kincir dengan jumlah sudu 10 yaitu 1,887 watt. Maka yang paling baik di gunakan untuk mengerakan pompa torak yaitu kincir dengan jumlah sudu 12.

4. KESIMPULAN Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil penelitian ini adalah 1. Dimensi kincir air sebagai berikut : Diameter kincir : 0,9 m Lebar saluran : 0,3 m Tingi saluran : 0,4 m Panjang saluran :4m 2. Kecepatan aliran sangat mempengaruhi terhadap putaran kincir air, dan jumlah sudu yang di gunakan juga mempengaruhi putaran dari kincir, dari hasil pengujian di tunjukan kincir air dengan jumlah sudu 12 paling baik, memiliki efisiensi 89,67 %. DAFTAR PUSTAKA Denny, M, 2004, The efficiency of overshot and undershot waterwheels, European Journal of Physics, March 2004, Issue 2 Goring, O, 2004, Potential power?, International Water Power and Dam Construction, 7th September 2004, http://www.waterpowermagazine. com/story.asp?storyCode=2024514

Gambar 11. Grafik hubungan antara Efisiensi Kincir Dengan Rpm Dari gambar grafik 11 yang di tunjukan di atas di dapat hubungan antara Efisiensi Kincir vs Rpm, Saat mengunakan kincir dengan jumlah sudu 8 Efisiensi kincir di dapatkan paling besar yaitu 89,67%, mengunakan kincir dengan jumlah sudu 10 yaitu 87,4%, dan mengunakan kincir dengan jumlah sudu 12 yaitu 80,47

Muller,G, Himmelsbach,G, Frohle,P, Carmer, C.v, 2004, Small River ReNaturalization and Cultural Heritage, http://www.muehlendeutschland.de/AllerleiUbersicht/Artikel-Wasser/AllerleiVerschiedenes/AllerleiProtestaktion/1_-_Small_River_renaturalization.html Muller, G, Kauppert, K (2002) Old watermills- Britains new source of energy?, Proceedings of ICE, Civil Engineering 150, November 2002, pgs 178-186

Muller, G, Kauppert, K (2004) Performance characteristics of waterwheels, Journal of Hydraulic Research, Vol 42, No 5, pgs 451-460 Prabowo A, A Hendriadi, Novi S, Hari G, dan Affifudin. 2003. Metode

90

Kajian Eksperimental Optimasi Jumlah Sudu Kincir Air

(Sunarwo & Sahid)

Perbaikan Disain Pompa Sentrifugal Diterapkan Untuk Pompa Buatan Lokal. Temu Ilmiah Pengembangan Mekanisasi Pertanian. Bogor, 16 Desember 2003 The Sustainable Energy Research Group, 2005, Southampton University, MicroHydropower, http://www.energy.soton.ac.uk/ then click on Current Research Work followed by Micro HydropowerMore about the Programme. Zo Jones, 2005, Domestic electricity generation using waterwheels on moored barge, School of the Built Environment, Heriot-Watt University Zulkarnain, Soekarno, H., Berlian A., 2002, Sistem Piko Hidro untuk Daerah terpencil, Majalah P3TEK, http://www.p3tek.com/conten/publik asi/2002 /publikasi04.htm.

91