Anda di halaman 1dari 29

MODUL 2 : MIKROMETER

Disusun Oleh : ADRI (1007133656) SUTARTO (1007135321) JOSSY KOLATA (1007121681) ALJALIIL ARDINATA (1007133599) KELOMPOK 5

LAPORAN PRAKTIKUM METROLOGI INDUSTRI

LABORATORIUM PENGUKURAN PROGRAM STUDI SARJANA JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS RIAU 2011

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Praktikum Metrologi Industri Mikrometer ini dengan sebaik-baiknya dan tepat pada waktunya. Ucapan terima kasih tidak lupa penulis ucapkan kepada dosen pembimbing mata kuliah dan asisten yang telah membimbing penulis dalam masa praktikum dan sampai dalam penyelesaian laporan ini. Penulis menyadari dalam pembuatan laporan praktikum ini masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan, hal ini karena keterbatasan ilmu pengetahuan penulis, karena itu kritik dan saran sangat penulis harapkan demi kesempurnaan laporan ini dimasa yang akan datang. Akhir kata penulis ucapkan semoga laporan ini berguna bagi kita semua khususnya bagi penulis sendiri.

Pekanbaru, November 2011

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ i DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ iii DAFTAR TABEL ................................................................................................ iv BAB I ...................................................................................................................... 1 PENDAHULUAN .................................................................................................. 1 1.1 Latar Belakang ...................................................................................... 1 1.2 Tujuan Praktikum ................................................................................. 1 1.3 Alat Alat ............................................................................................. 1 1.4 Benda Kerja .......................................................................................... 2 1.5 Pelaksanaan Praktikum ......................................................................... 2 BAB II .................................................................................................................... 3 TEORI DASAR ..................................................................................................... 3 2.1 Pengertian ............................................................................................. 3 2.2 Bagian-Bagian Umum Mikrometer ...................................................... 3 2.3 Jenis-Jenis Mikrometer ......................................................................... 4 2.4 Prinsip Kerja Mikrometer ..................................................................... 5 2.5 Kalibrasi Mikrometer Luar ................................................................... 7 2.5.1 Kalibrasi Sensor........7 2.5.2 Kalibrasi Kerataan Sensor Mikrometer............7 2.5.3 Pemeriksaan Kesejajaran Muka Ukur......9 2.5.4 Kalibrasi Skala....10 2.6 Prosedur Kalibrasi Mikrometer Pada Praktikum ............................... 12 2.7 Prosedur Penggunaan Mikrometer...................................................... 13 2.8 Prosedur Pengukuran .......................................................................... 14 BAB III ................................................................................................................. 15 DATA PENGAMATAN ..................................................................................... 15 3.1 Pengamat A ......................................................................................... 15 3.2 Pengamat B ......................................................................................... 16 3.3 Pengolahan Data ................................................................................. 17 BAB IV ................................................................................................................. 20 ANALISIS DAN KESIMPULAN ...................................................................... 20 4.1 Analisis Data ....................................................................................... 20 4.2 Kesimpulan ......................................................................................... 21 DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 22 PERTANYAAN ................................................................................................... 23 LAMPIRAN ......................................................................................................... 24

ii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. 1 Poros bertingkat tipe (1)..2 Gambar 1. 2 Poros bertingkat tipe (2)..2 Gambar 2. 1 Bagian-bagian umum mikrometer ..3 Gambar 2. 2 Mikrometer luar ..4 Gambar 2. 3 Mikrometer dalam ..4 Gambar 2. 4 Mikrometer Kedalaman ..5 Gambar 2. 5. Kalibrasi mikrometer dengan lensa rata (optical flat)........8 Gambar 2. 6 Pola bayangan pada lensa-rata dan penafsirannya ...10 Gambar 2. 7 Kurva kesalahan kumulatif .......11 Gambar 2. 8 Cara pembacaan skala mikrometer ......13 Gambar 4. 1 Mikrometer 0,01 mm dan 0,25 mm ..24 Gambar 4. 2 Poros bertingkat tipe (1) dan tipe (2)....24

iii

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Jumlah garis maksimum ( ketidak sejajaran maksimum ) yang diijinkan menurut standar jepang JIS B7502 ....................11 Tabel 2.2 Harga kesalahan kumulatif maksimum yang diijinkan..13 Tabel 3.1 Data pengamatan poros bertingkat tipe (1).16 Tabel 3.2 Data pengamatan poros bertingkat tipe (2).16 Tabel 3.3 Data pengamatan poros bertingkat tipe (1) ....17 Tabel 3.4 Data pengamatan poros bertingkat tipe(2)..17

iv

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Praktikum metrologi industri dijurusan teknik mesin adalah sebagai salah satu metoda pelatihan yang harus dioptimalkan baik dalam perencanaan, pelaksanaan maupun hasilnya untuk mencapai kompetensi. Metoda industri merupakan salah satu dasar dan merupakan keterampilan yang harus dikuasai oleh setiap mahasiswa teknik mesin, dengan menguasai penggunaan alat-alat ukur, diharapkan agar mahasiswa teknik mesin memiliki keahlian yang dapat diandalkan untuk mengimbangi keseimbangan teknologi.

1.2 Tujuan Praktikum Tujuan praktikum pengukuran dengan alat ukur mikrometer adalah sebagai berikut : a. Penulis dapat mengetahui prinsip kerja alat ukur mikrometer. b. Penulis dapat menggunakan alat ukur mikrometer untuk suatu proses pengukuran dengan prosedur yang benar. c. Penulis dapat melakukan pengukuran dengan alat ukur mikrometer serta dapat melakukan pembacaan hasil pengukuran dengan benar. d. Penulis dapat melakukan kalibrasi mikrometer luar dengan benar 1.3 Alat Alat Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah : a. Mikrometer luar 0-25 mm b. Mikrometer luar 25-50 mm c. Dudukan benda ukur (blok V)

1.4 Benda Kerja Benda kerja yang dikerjakan adalah dua buah poros bertingkat yang terbuat dari aluminium.

a. Poros bertingkat tipe (1)

Gambar 1. 1 Poros bertingkat tipe (1)

b. Poros bertingkat tipe (2)

Gambar 1. 2 Poros bertingkat tipe (2)

1.5 Pelaksanaan Praktikum Pelaksanaan praktikum dilakukan pada : Hari Pukul Tempat : Sabtu, 11 Desember 2010 : 08.00 12.00 Wib. : Laboratorium Pengukuran Teknik Mesin Universitas Riau.

BAB II TEORI DASAR

2.1 Pengertian Mikrometer adalah alat ukur yang dapat mengukur benda kerja dengan skala mikro. Mikrometer merupakan alat ukur langsung yang memiliki ketelitian/kecermatan yang sangat tinggi yaitu dapat mengukur dengan ketelitian sampai 0,01 mm bahkan ada yang mencapai 0,002 mm.

2.2 Bagian-Bagian Umum Mikrometer

Skala utama Rangka

Gambar 2. 1 Bagian-bagian umum mikrometer

Keteranagan : 1. Landasan (anvil) 2. Poros ukur (spindle) 3. Silinder tetap (sleeve) 4. Silinder putar (thimble) 5. Gigi gelincir (ratchet) 6. Skala putar (nonius) 7. Skala utama 8. Rangka

2.3 Jenis-Jenis Mikrometer

Mikrometer memiliki 3 jenis umum pengelompokan yang didasarkan pada aplikasi berikut a. Mikrometer Luar Mikrometer luar digunakan untuk ukuran memasang kawat, lapisan-lapisan,blok-blok dan batang-batang. Melihat kontruksi mikrometer yang berbentuk batang U sehingga memiliki

keterbatasan pengukuran, oleh karenanya dibuatlah mikrometer dengan jangkauan batas 0-25mm, 25-50mm, 50-75mm, dengan ketelitian 0,01 mm.

Gambar 2. 2 Mikrometer luar

b. Mikrometer dalam Mikrometer dalam digunakan untuk mengukur garis tengah dari lubang suatu benda.

Gambar 2. 3 Mikrometer dalam

c. Mikrometer kedalaman Mikrometer kedalaman digunakan untuk mengukur kerendahan dari langkah-langkah dan slot-slot.

Gambar 2. 4 Mikrometer Kedalaman

2.4 Prinsip Kerja Mikrometer Prinsip kerja mikrometer ialah pengubah mekanik semata-mata

berdasarkan prinsip kinematik yang meneruskan serta mengubah isyarat sensor yang berupa gerakan translasi (besaran panjang) menjadi gerakan rotasi (besaran panjang) yang relative lebih mudah untuk diproses/di ubah. Secara teoritik prinsip kinematik mudah di rancang akan tetapi secara praktis sulit di terapkan akibat kendala dalam proses pembuatan dan perakitan.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada mikrometer yaitu: 1. Meskipun ulir utama baut dan mur dibuat dengan ketelitian geometri yang tinggi, tetap saja akan terjadi kesalahan kisar. Hampir tidak mungkin membuat ulir dengan kesamaan harga pits sepanjang baut dan mur sampai dengan orde misalnya 0,1 m. Akibat ketidaksamaan harga pits sepanjang baut dan mur, satu kali putaran baut tidak mungkin menggeserkannya benar-benar sebesar 1 pits teoritik (misalnya 0,5 mm) melainkan akan menggeserkan sebesar 1 kisar yang harganya bias lebih atau kurang dari 0,5 mm. Akibatnya, n kali putaran baut akan menyebabkan kesalahan kisar kumulatif (kesalahan terjumlahkan) yang bisa cukup besar yang mungkin melebihi harga kecermatan pembacaan skala putar. 2. Satu kali putaran poros ukur (silinder putar) dapat dibagi 50 dengan cara menuliskan skala putar pada silinder putar. Karena ulir utama dirancang dengan harga pits sebesar 0,5 mm berarti satu kesatuan skala putar berharga

teoritik sebesar 0,01 mm. kecermatan sebesar 0,01 mm ini harus dijamin tak akan salah sampai dengan orde misalnya 0,001 mm untuk setiap satuan skala putar dan kesalahan kumulatif misalnya 0,04 mm untuk 50 kali putaran sepanjang geseran maksimum poros ukur untuk kapasitas ukur micrometer, misalnya 25 mm. Berdasarkan kenyataan ini, sangatlah sulit membuat mikrometer dengan kecermatan 0,001 mm dan menjamin kebenaran (ketelitian) pembacaan proses pengukuran dengan hasil suatu dimensi objek ukur dengan kecermatan tinggi itu, misalnya 4,167 mm. 3. Suatu kekuatan putaran (momen punter) yang relative ringan (kecil) akan memberikan gerakan translasi dengan gaya dorong yang cukup tinggi. Bagi benda ukur yang tipis tekanan pengukuran yang besar akan melenturkan benda ukur yang mengakibatkan terjadinya kesalahan pengukuran. Tangan manusia tidak sensitif terhadap pemutaran (kadang kuat, kadang ringan) hal ini akan membuat kita tidak mampu mengulang pemutaran dengan sama benar. Akibatnya, bila pengukuran diulang dan hal ini dilakukan dengan cara memutar secara langsung silinder putar, hasil pengukuran bisa tidak jadi sama. Oleh sebab itu, pengukuran harus dilakukan dengan memutar silinder putar lewat racer (gigi-gelincir). Racet ini akan menjamin ketepatan hasil penukuran yang diulang-ulang sebab kekuatan putaran silinder putar dijaga seringan mungkin dan tetap sama (sesuai dengan kekuatan pegas racet). 4. Jika mulut ukur ditutup yaitu memutar (memlaui racet) poros ukur sehingga berimpit dengan landasan, pada saat itu garis indeks (saris memanjang pada silinder tetap) harus persis menunjuk skala putar pada harag nol. Untuk memungkinkan hal ini, silinder tetap, diatas mana garis indeks dituliskan, harus bisa diatur posisinya. Hal ini dilaksanakan dengan merancang silinder tetap yang terpisahkan dari rangka dengan membuat suaian pas (transition pits) terhadap silinder mur utama. Dengan cara ini penyetelan 0 dimungkinkan dan terakit alat ukur terwuijudkan.

2.5 Kalibrasi Mikrometer Luar

Setelah digunakan dalam jangka waktu yang lama, mikrometer perlu dikalibrasi untuk mendapatkan tingkat kecermatan sesuai dengan standarnya.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mengkalibrasi mikrometer : 1. Gerakan silinder putar/poros ukur harus dapat berputar dengan baik dan tidak terjadi goyangan karena ausnya ulir utama. 2. Kedudukan nol. Apabila mulut ukur dirapatkan maka garis referensi harus menunjukan nol. 3. Kerataan dan kesejajaran muka ukur (permukaan sensor). 4. Kebenaran dari hasil pengukuran. Hasil pengukuran dibandingkan dengan standar yang benar. 5. Bagain-bagian seperti gigi gelincir dan pengunci poros ukur harus berfungsi dengan baik.

2.5.1

Kalibrasi Sensor

Sensor mikrometer ada dua buah, yaitu sensor diam pada silinder tetap dan sensor gerak pada silinder putar. Kedua sensor ini mrupakan sebuah bidang, sensor yang ideal adalah sensor yang rata dan kedua dan kedua bidang sensor harus sejajar di semua posisi.

Dalam mengkalibrasi sensor mikrometr ini, maka pengujian yang harus diilakukan pada pengecekan pada variabel kerataan dan kesejajaran untuk kedu sensor tersebut.

2.5.2

Kalibrasi Kerataan Sensor Mikrometer Uji kerataan pada sensor mikrometer dilakukan dengan

rnenggunakan lensa rata (optical flat).

Gambar 2. 5. Kalibrasi sensor mikrometer dengan lensa rata (optical flat)

Kaca rata (optical flat) yang mempunyai kerataan sebesar 0,2 prn sampai 0,05 pm diletakkan dengan hati hati diatas permukaan salah satu sensor(muka ukur)tentu saja setelah muka ukur tersebut dibersihkan terlebih dahulu. Hati hati jangan sekali-kali sampai menekan dan menggosokkan lensa ke muka ukur sebab ini dapat merusak permukaan kaca rata. Menggunakan prinsip interferensi cahaya, gunakan lampu sumber cahaya monokromatis atau kalau tidak ada dapat menggunakan lampu biasa untuk memeriksa kerataan permukaan muka ukur. Menggunakan prinsip interferensi cahaya, gunakan lampu sumber cahaya Untuk muka ukur yang rata maka melaui kaca rata ini kita melihat permukaan muka ukur dengan jelas tanpa ada garis-garis berwarna. Sebaliknya untuk muka ukur yang tidak rata maka akan terlihat garis-garis berwarna dengan pola tertentu yang menandakan ketidakrataan permukaan muka ukur tersebut. Satu garis berwarna menyatakan ketidakrataan sebesar 0,35 m.

Mikrometer diangap masih baik jika terlihat paling banyak 2 garis (4 garis untuk mikrometer besar dengan kapasitas lebih besar dari 250 mm). Pemeriksaan dilakukan pada kedua muka ukur (sensor).

2.5.3

Pemeriksaan Kesejajaran Muka Ukur Selain harus rata maka kedua muka ukur mikrometer harus

sejajar. Untuk memeriksa kesejajaran clapat digunakan sejenis kaca datar yang mempunyai dua permukaan yang rata dan sejajar, oleh sebab itu disebut dengan kaca parallel (optical paralle). Kaca parallel ini biasanya tersedia dalam beberapa ketebalan misalnya = 12,00 mm, 12,12 mm, 12,25 mm, 12,37 mm. Kaca parallel ini digunakan secara berurutan untuk mengecek kesejajaran kedua muka ukur pada beberapa posisi atau kedudukan dari silinder putar (poros ukur). Caranya adalab sebagai berikut: Kedua muka ukur dibersihkan, kemudian salah satu kaca parallel diletakkan di antara kedua muka ukur. Kemudian kaca parallel ini dijepit dengan memutar silinder putar (melalui gigi gelincir) dengan sangat hati-hati. Dengan bantuan suatu sumber cahaya, maka pada kedua muka ukur akan terlihat (melalui kaca parallel) satu atau bebeapa garis berwarna dengan pola tertentu seperti pada gambar. Untuk memeriksa kesejajaran kedua muka ukur mikrometer dengan kapasitas lebih dan 25 mm maka digunakan bantuan balok ukur sebagai penambah ketebalan kaca parallel. Balok ukur ini diapit oleh dua bush kaca parallel sebelum kemudian balok ukur disertai kedua kaca parallel tersebut dijepit oleh kedua muka ukur. Penjepitan dilakukan oleh kedua muka tepat di tengah kaca parallel. Setelah pola dan jumlah garis interferensi diamati, maka lakukan prosedur yang sama dengan mengubah posisi penjepitan muka ukur empat posisi di sekeliling pusat (kedudukan pertama) pada jarak kurang lebih 1,5 mm. Dan kelima posisi pengamatan interferensi ini ambit harga (jumlah) yang terbesar, kemudian bandingkan dengan standar kesejajaran yaitu jumlah garis maksimum yang diijinkan.

Landasan tetap :

Poros Ukur Penafsiran dari bentuk & jumlah garis-garis ke-parallel an

a. Kedua permukaan rata/datar dan parallel. Keparallel-an : 0,32 m x 2 = 0,6 m b. Kedua permukaan rata/datar dan ke-parallel-an adalah 0,32 m x 3 = 0,96 m = 1 m c. Landasan tetap berbentuk bulat sebesar 0,32 m x 2 = 0,64 m. Poros ukur berbentuk lengkungan dengan kemiringan terhadap landasan tetap sebesan 0,32 m x 3 = 1 m. Keparallel-an : 0,32 m, x 5 = 1,6 m d. Landasan tetap berbentuk bulat sebesar 0,6 m dan poros ukur berbentuk bulat pada ujungnya. Ke-parallel-an : 0,32 m x 4 = 1,3 m

Gambar 2. 6 Pola bayangan pada lensa-rata dan penafsirannya

Tabel 2.1 Jumlah garis maksimum (ketidak sejajaran maksimum) yang diijinkan menurut standar jepang JIS B7502 Kapasitas mikrometer (mm) s.d 75 Diatas 75 s.d 175 Diatas 175 s.d 275 Diatas 275 s.d 375 Diatas 375 s.d 475 Diatas 475 s.d 500 6 9 13 16 19 22 2 3 4 5 6 7 Jumlah garis Kesejajaran

2.5.4

Kalibrasi Skala Untuk memeriksa kebenaran dari skala mikrometer digunakan satu

atau susunan dan beberapa balok ukur dari kelas 1 atau 2 sebagai ukuran standar. Seluruh daerah ukuran mulai dan nol sampai ukuran maksimum (25 mm) harus diperiksa dengan cara bertingkat, yaitu memilih beberapa balok ukur dengan kenaikkan ukuran sebesar 0,5 mm. Setelah posisi

10

nol diperiksa (kalau perlu disetel dahulu) maka kalibrasi dimulai dengan mengukur balok ukur 0,5 mm dan kesalahan (kesalahan sistematis) yang mungkin tedadi adalah sebesar:

Kesalahan = Pembacaan mokrometer - Ukuran blok ukur

Harga kesalahan ini di catat sampai akhirnya di capai kapasitas maksimum mikrometer (25 mm). kemudian pengukuran diulangi lagi dimulai dan kapasitas ukur maksimum dan diturunkm 0,5 mm sampai ke nol. Setelah kedua harga kesalahan (dari pengamatan naik dan pengamatan turun) dirataratakan, maka dapat dibuat grafik kesalahan kumulatif (cumulative error) seperti pada gambar 2.7, berikut:

Gambar 2. 7 Kurva kesalahan kumulatif

Jarak antara titik teratas dan titik terbawah pada kurva kesalahan kumulatif disebut dengan kesalahan total (Total Error). Jika perlu,kurva disekitar titik teratas dan titik terbawah (0,5 mm sebelah kirinya dan 0,5 mm sebelah kanannya) diperjelas dengan cara mengambil tingkatan ukuran balok ukur sebesar 0,1 mm.

Dalam cara kalibrasi diatas, kedudukan silinder putar selalu diputar penuh satu kali putaran, dengan demikian untuk kedudukan yang lain tidak diperiksa, Supaya kedudukan lain dapat diperiksa juga maka dapat dipilih ukuran balok ukur dengan tingkatan kenaikan ukuran-ukuran sebagai berikut: 2,5; 5,1; 7,7; 10,3; 12,9; 15,0; 17,6; 20,2; 22,8; dan 25,0 mm.
11

Tabel 2.2 Harga kesalahan kumulatif maksimum yang diijinkan Kapasitas mikrometer(mm) s.d 75 Diatas 75 s.d 175 Diatas 175 s.d 275 Diatas 275 s.d 375 Diatas 375 s.d 475 Diatas 475 s.d 500 Kesalahn kumulatif(mm 2 3 4 5 6 7

2.6 Prosedur Kalibrasi Mikrometer Pada Praktikum Ini 1. Periksa kedudukan nol (rapatkan sensor), bila kedudukan tidak nol, mintalah bantuan asisten untuk menyetelnya. 2. Periksalah kedataran kedua permukaan sensor (muka ukur), dengan memakai optical flat dan sumber cahaya monokromatis. Hati-hati dalam memakai optical flat sampai permukaannya tergores. 3. Periksa kesejajaran kedua permukaan sensor dengan memakai optical parallel clan sumber cahaya monokromatis. Hati-hati dalam memakai optical parallel jaga permukaan lensa agar tidak tergores. Berapa jumlah garis interferensi, bandingkan dengan standar 4. Periksa kebenaran skala mikrometer dengan menggunakan bantuan blok ukur. Set blok ukur yang dipakai (satuan mm) 27,5 29,9 32,3 34,8 37,4 40,1 42,6 45,1 47,7 50,0

hati-hatilah dalam meriyusun blok ukur untuk mendapatkan angkaangka diatas (muka ukur harus bersih dan jangan dipegang).

12

2.7 Prosedur Penggunaan Mikrometer

Mikrometer terdiri dari sekrup yang berskala samapi 50 dimana setiap skala bernilai 0,01 mm. Disamping itu terdapat skala linier pada barrel yang mempunyai skala 1 mm untuk bagian bawah dan 0,5 mm untuk bagian atas. Cara menggunakan mikrometer : 1. Pastikan pengunci dalam keadaan terbuka 2. Buka rahang dengan cara diputar kekiri pada skala putar hingga benda ukur dapat dimasukkan ke rahang. 3. Letakkan benda yang akan diukur pada rahang dan putar kembali sampai tepat. 4. Pengunci diputar sampai skala putar tidak dapat digerakkan dan terdengar bunyi klik

Cara membaca skala pada mikrometer : 1. Perhatikan skala putar berada pada angka berapa pada skala utama. Benda yang akan diukur memiliki panjang skala utama x mm. 2. Perhatikan penunjukan pada skala putar. Angka pada skala putar berimpit dengan garis mendatar pada skala utama.

Misal : Hasil pengukuran mikrometer seperti gambar berikut

Gambar 2. 8 Cara pembacaan skala micrometer

13

Cara pembacaan : Pertama-tama perhatikan bilangan bulat pada skala utama barrel, lalu perhatikan apakah terbaca skala setengah milimeter pada bagian atas skala utama (ada kalanya dibawah), dan akhirnya bacalah skala perseratusan pada lingkaran. Nilai ukuran dari gambar dibaca sbb : - Skala utama - Skala minor - Skala pemutar Nilai 2.8 Prosedur Pengukuran Prosedur dalam melakukan praktikum pengukuran dengan mikrometer antara lain sebagai berikut : 1. Alat dan bahan yang diperlukan disiapkan. 2. Mikrometer diperiksa terlebih daluhu kebenarannya dengan cara periksa kedudukan nol dengan cara merapatkan kedua sensor, pada saat kedua sensor dirapatkan lihat pada skala apakah menunjukan harga nol. 3. Benda ukur diposisikan pada blok-V. 4. Benda ukur dilakukan pengukuran oleh pengamat A. 5. Diameter benda ukur diukur dengan mikrometer dengan urutan yang telah ditentukan. 6. Pembacaan mikrometer sesuai dengan keterangan yang telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya. 7. Setelah dilakukan pengukuran pada setiap sisi benda ukur, hasil pengukuran dicatat. 8. Benda ukur dilakukan pengukuran kembali oleh pengamat B seperti prosedur pengukuran yang dilakukan oleh pengamat A. Kemudian hasil pengukuran dicatat. 9. Hasil pengukuran antara pengamat A dan pengamat B dibandingkan. 10. Setelah proses pengukuran selesai, alat ukur dibersihkan dan disimpan pada tempatnya. = 12 x 1,00 mm = 0 x 0,50 mm = 32 x 0,01 mm = 12,00 mm = 0,00 mm = 0,32 mm = 12,32 mm

14

BAB III DATA PENGAMATAN


3.1 Pengamatan A
Tabel 3.1 Data pengamatan poros bertingkat tipe (1) TOLERANSI PENGAMAT A NO UKURAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 8 8 18 18 25 25 18 18 10 10 MIN 7,85 7,85 17,82 17,82 24,79 24,79 17,82 17,82 9,85 9,85 MAX 8 8 18 18 25 25 18 18 10 10 7,99 8,02 17,97 17,97 25,03 25,02 18,04 18,04 9,95 9,95 ALJALIL 7,98 8,09 17,96 18,01 25,03 25,02 18,05 18,04 9,96 9,97 7,98 8,05 17,96 18,07 25,03 25,02 18,04 18,04 9,95 9,96 8,08 8,03 18,07 17,97 25,03 25,02 18,04 18,04 9,96 9,95 7,99 7,99 17,97 18,04 25,03 25,02 18,04 18,04 9,95 9,95 JOSSY 8,03 8,01 18,02 18,00 25,03 25,02 18,04 18,04 9,95 9,95 mm

Tabel 3.2 Data pengamatan poros bertingkat tipe (2) TOLERANSI NO UKURAN MIN 1 2 3 4 5 6 10 10 10 25 25 25 9,85 9,85 9,85 24,79 24,79 24,79 MAX 10 10 10 25 25 25 9,81 9,80 9,79 23,96 23,94 23,93 9,81 9,81 9,79 23,96 23,96 23,93 PENGAMAT A ALJALIL 9,81 9,80 9,79 23,96 23,95 23,93 9,81 9,80 9,79 23,96 23,96 23,93 9,81 9,80 9,79 23,96 23,94 23,94 JOSSY

mm

9,81 9,86 9,76 23,96 23,94 23,93

15

3.2 Pengamatan B
Tabel 3.3 Data pengamatan poros bertingkat tipe (1) TOLERANSI PENGAMAT B NO UKURAN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 8 8 18 18 25 25 18 18 10 10 MIN 7,85 7,85 17,82 17,82 24,79 24,79 17,82 17,82 9,85 9,85 MAX 8 8 18 18 25 25 18 18 10 10 7,99 7,98 17,98 17,98 25,04 25,04 18,06 18,04 9,97 9,96 ADRI 7,98 7,98 17,98 17,97 25,03 25,03 18,04 18,04 9,96 9,96 7,98 7,98 17,97 17,97 25,03 25,03 18,05 18,04 9,96 9,96 7,98 7,98 17,97 17,98 25,03 25,05 18,02 18,04 9,98 9,96 7,97 7,97 17,98 17,99 25,03 25,04 18,03 18,03 9,97 9,96 SUTARTO 7,97 7,97 17,98 17,98 25,03 25,04 18,02 18,03 9,97 9,96 mm

Tabel 3.4 Data pengamatan poros bertingkat tipe (2) TOLERANSI NO UKURAN MIN 1 2 3 4 5 6 10 10 10 25 25 25 9,85 9,85 9,85 24,79 24,79 24,79 MAX 10 10 10 25 25 25 9,83 9,80 9,79 23,97 23,94 23,94 9,82 9,80 9,79 23,97 23,94 23,94 ADRI 9,82 9,80 9,79 23,97 23,94 23,94 9,82 9,80 9,79 23,96 23,99 23,98 9,81 9,80 9,79 23,96 23,99 23,96 PENGAMAT B SUTARTO

mm

9,81 9,80 9,79 23,96 23,99 23,97

16

3.3 Pengolahan Data

a. Poros bertingkat tipe (1)

1. Ukuran Max = 8 + 0 = 8 mm ukuran Min = 8 + (-15)= 7,85 mm Toleransi = 8 7,85 = 15 mm

2. Ukuran Max = 8 + 0 = 8 mm Ukuran Min = 8 + (-15) = 7,85 mm Toleransi = 8 7,85 = 15 mm

3. Ukuran Max = 18 + 0 = 18 mm Ukuran Min = 18 + (-18)= 17,82 mm Toleransi = 18 17,82 = 18 mm

4. Ukuran Max = 18 + 0 = 18 mm Ukuran Min = 18 + (-18)= 17,82 mm Toleransi = 18 17,82 = 18 mm

5. Ukuran Max = 25 + 0 = 25 mm Ukuran Min = 25 + (-21)= 24,79 mm Toleransi = 25 24,79 = 21 mm

17

6. Ukuran Max = 25 + 0 = 25 mm Ukuran Min = 25 + (-21)= 24,79 mm Toleransi = 25 24,79 = 21 mm

7. Ukuran Max = 18 + 0 = 18 mm Ukuran Min = 18 + (-18)= 17,82 mm Toleransi = 18 17,82 = 18 mm

8. Ukuran Max = 18 + 0 = 18 mm Ukuran Min = 18 + (-18)= 17,82 mm Toleransi = 18 17,82 = 18 mm

9. Ukuran Max = 10 + 0 = 10 mm Ukuran Min = 10 + (-15)= 9,85 mm Toleransi = 18 9,85 = 15 mm

10. Ukuran Max = 10 + 0 = 10 mm Ukuran Min = 10 + (-15)= 9,85 mm Toleransi = 18 9,85 = 15 mm

b. Poros bertingkat tipe (2) 1. Ukuran Max = 10 + 0 = 10 mm Ukuran Min = 10 + (-15)= 9,85 mm Toleransi = 18 9,85 = 15 mm

18

2. Ukuran Max = 10 + 0 = 10 mm Ukuran Min = 10 + (-15)= 9,85 mm Toleransi = 18 9,85 = 15 mm

3. Ukuran Max = 10 + 0 = 10 mm Ukuran Min = 10 + (-15)= 9,85 mm Toleransi = 18 9,85 = 15 mm

4. Ukuran Max = 25 + 0 = 25 mm Ukuran Min = 25 + (-21)= 24,79 mm Toleransi = 25 24,79 = 21 mm

5. Ukuran Max = 25 + 0 = 25 mm Ukuran Min = 25 + (-21)= 24,79 mm Toleransi = 25 24,79 = 21 mm

6. Ukuran Max = 25 + 0 = 25 mm Ukuran Min = 25 + (-21)= 24,79 mm Toleransi = 25 24,79 = 21 mm

19

BAB IV ANALISIS DAN KESIMPULAN


4.1 Analisis Data Analisa data yang dapat diperoleh setelah melakukan praktikum antara lain :

1. Setelah melakukan pengukuran dengan menggunakan mikrometer dari masing-masing pengamat (pengamat A dan B) diperoleh hasil pengukuran yang berbeda. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan tingkat kecermatan dari masing-masing pengamat dalam menggunakan dan membaca alat ukur. 2. Adanya perbedaan hasil harga pengukuran antara pengamat A dan B juga diakibatkan karena posisi pengukuran antara pengamat A dan B yang tidak sama. 3. Adanya ketidakcermatan alat ukur mengakibatkan kesalahan pengukuran.

a. Poros bertingkat tipe (1) Setelah dilakukan pengukuran, terdapat perbedaan ukuran diameter antara posisi 1 dengan posisi 2. Hal ini disebabkan kesalahan pada proses pemesinan. Pada titik 1 hasil pengamatan berada dalam toleransi atau diantara batas maksimum dan minimum yang di perbolehkan. Pada titik 2-4 hasil pengukuran juga berada dalam toleransi. Namun pada titik 5-6 hasil pengamatan di luar dari batas maksimum dan minimum yang di perbolehkan. Pada titik 9-10 hasil pengamatan juga berada dalam toleransi. Hasil pengukuran yang didapat berada diluar batas toleransi disebabkan karena praktikan kurang teliti dalam pengukuran.

20

Hasil pengukuran berada diluar batas toleransi juga disebabkan karena tidak melakukan kalibrasi dan tidak membersihkan alat ukur dan

benda kerja yang akan di ukur.

b. Poros bertingkat tipe (2) Pada poros ini, hasil pengukuran pada setiap titik 1-6 berada didalam batas toleransi. Karena pada saat pengukuran selalu melakukan kalibrasi alat ukur sebelum melakukan pengukuran. Karena benda kerja memiliki permukaan yang halus (tingkat kekasarannya rendah)

4.2 Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diperoleh setelah melakukan praktikum

pengukuran dengan mikrometer antara lain : 1. Pada setiap melakukan pengukuran hendaknya alat ukur yang akan digunakan dikalibrasi terlebih dahulu. 2. Kecermatan operator/pengamat alat ukur sangat menentukan hasil pembacaan alat ukur yang digunakan. 3. Setiap pengamat/operator alat ukur memiliki tingkat kecermatan yang berbeda-beda. 4. Posisi alat ukur pada saat proses pengukuran benda ukur sangat menentukan harga hasil pengukuran.

21

DAFTAR PUSTAKA

Rochim Taufik. 2001. Spesifikasi, Metrology Dan Control Kualitas Geometric I. Bandung : ITB Modul praktikum metrologi dan kontrol kualitas. 2011. Fakultas Teknik Universitas Riau. http://id.wikipedia.org/wiki/Mikrometer http://abi.unila@yahoo.co.id http://m.abihamid@students.unila.ac.id http://www.mustofaabihamid.blogspot.com

22

Pertanyaan
1. Jelaskan beberapa toleransi geometri poros yang terdapat pada benda ukur berdasarkan ISO. Jawaban : Toleransi untuk poros yaitu dilambangkan dengan huruf kecil. Poros yang di ukur pada wktu praktikum merupakan hasil pengerjaan dari mesin bubut. Pada benda kerja terdapat suai longgar, suain pas, suain paksa. Contoh untuk suain pas pada poros : 1. Ukuran dasar = 25 mm Penyimp. Atas = 0 mm Penyimp. Bawah= 0,21 mm Ukuran Max = 25 + 0 = 25 mm Ukuran Min = 25 + (-21)= 24,79 mm Toleransi = 25 24,79 = 21 mm

23

Lampiran
Alat Mikrometer 0,01 mm dan 0,25 mm

Gambar 4. 1 Mikrometer 0,01 mm dan 0,25 mm

Bahan Poros bertingkat tipe (1) dan tipe (2)

Gambar 4. 2 Poros bertingkat tipe (1) dan tipe (2)

24