Anda di halaman 1dari 9

Eksergi Jurnal Teknik Energi Vol 7 No.

3 September 2011 ; 102 - 110

PERKIRAAN PERMINTAAN ENERGI LISTRIK


Agung Nugroho Jurusan Teknik Elektro FT UNDIP Jl. Prof. H. Sudarto, S.H., Tembalang, Kotak Pos 6199 SMS, Semarang 50329

Abstrak Perkiraan permintaan energi yang terus meningkat sejalan dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi nasional, diperlukan data kondisi pemakaian energi saat ini. Perkiraan diperlukan agar dapat menggambarkan kondisi konsumsi energi saat ini dan masa datang. Dengan diketahuinya perkiraan kebutuhan energi jangka panjang, akan dapat direncanakan pengembangan sarana penyediaan energi selama kurun waktu perkiraan. Analisa permintaan energi pada dasarnya terkait dengan pemakaian energi dan perekonomian, elastisitas dan intensitas permintaan energi, supply demand, energy final dan energy end use. Pengembangan model dan metode perkiraan dipengaruhi intuisi peramal, yang berhubungan dengan pengalaman keseharian. Model intuisi ini sulit dikomunikasikan dengan orang lain, karena asumsi-asumsi dan variabelnya tidak jelas. sehingga diperlukan model nyata/ekplisit. Kajian perkiraan permintaan energi dapat dilakukan dengan metode pertumbuhan, ekonometrik, intensitas, dan analisa sistem. Dalam mengekspresikan model ekplisit, beberapa institusi seperti BPS, DJLPE, Pertamina, dan PLN, mempunyai format yang didasarkan pemakai sektor energi. Perkiraan permintaan energi listrik menggunakan format PLN, yang didasarkan kelompok pelanggan sektor rumah tangga, bisnis/komersiel, industri, dan publik/sosial (umum). Metode yang digunakan PLN adalah ekonometrik, WASP; dengan model DKL, Simple-E. Makalah ini mengaplikasikan perkiraan permintaan energi listrik PT PLN (Persero) APJ Pekalongan menggunakan metode ekonometrik dan model DKL. Kata knci : perkiraan, energy listrik

1. PENDAHULUAN Energi adalah kemampuan untuk mengubah dari suatu kondisi ke kondisi yang lain. Jenis-jenis energi antara lain : energi kinetik, energi potensial, energi panas, energi listrik, energi kimia, energi cahaya, dan sebagainya. Energi dapat diperoleh dan digunakan secara langsung, seperti energi panas dan energi cahaya dari matahari, energi potensial air, dan sebagainya. Ada pula energi yang diperoleh dari hasil konversi energi bahanbahan pembawa energi. Bahan pembawa energi atau biasa disebut bahan bakar misalnya BBM, batubara, kayu, dan sebagainya. Semakin besar volume kegiatan manusia, berarti semakin besar pula kebutuhan energinya. Korelasi antara pemakaian energi dan PDB (produk domestik bruto) sebagai salah satu indikator perekonomian,

menunjukkan bahwa pemakaian energi berbanding lurus dengan tingkat PDB. 1.1. Elastisitas dan Intensitas Permintaan Energi (9) Dalam analisa perkiraan energi, dikenal istilah elastisitas dan intensitas permintaan energi (untuk yang sudah terjadi adalah elastisitas dan intensitas pemakaian energi). Elastisitas permintaan energi adalah suatu ukuran atau parameter yang menyatakan perubahan permintaan energi dengan adanya perubahan parameter yang lain, misalnya tingkat pendapatan, harga energi, dan sebagainya. Elastisitas permintaan energi merupakan besaran yang tidak berdimensi. Dalam skala nasional atau regional, pendapatan dapat berupa PDB atau produk domestik regional bruto (PDRB). Persamaan elastisitas () permintaan energi terhadap pendapatan adalah :

102

Perkiraan Permintaan Energi Listrik

(Agung Nugroho)

Sebagai contoh, elastisitas permintaan energi terhadap PDB di Indonesia adalah 1,1; artinya apabila PDB naik 1% maka permintaan energi akan meningkat sebesar 1,1%; pada saat PDB meningkat 5%, pemakaian energi meningkat 5,5%. Intensitas pemakaian energi adalah parameter yang menyatakan besarnya pemakaian energi untuk melakukan suatu aktifitas tertentu, yang mempunyai satuan volume energi dibagi volume kegiatan, misalnya liter/km, liter/orang, liter/rupiah. Persamaan intensitas (I) energi adalah :

Intensitas energi biasanya dinyatakan dalam SBM (setara barel minyak) per juta rupiah nilai tambah, yang menyatakan besarnya pemakaian energi untuk menghasilkan satu satuan nilai tambah. Semakin kecil intensitas energinya, berarti tingkat pemakaian energinya semakin efisien atau semakin hemat dalam menghasilkan nilai tambah. 1.2. Pendekatan Demand dan Pendekatan Supply(9) Perkiraan permintaan energi dapat dilakukan dengan pendekatan demand dan pendekatan supply. Pendekatan demand artinya permintaan energi dihitung dari permintaan energi oleh masing-masing sektor pemakai energi. Pendekatan supply adalah perhitungan permintaan energi yang didasarkan pada data perkembangan pemasokan energi. Pendekatan demand lebih sulit dilakukan dan lebih banyak membutuhkan data. Tetapi dapat lebih menggambarkan permintaan energi yang sesungguhnya dan dapat lebih rinci dalam menghitung permintaan energi per sektor pemakai.

1.3. Energi Final dan Energi End Use(9) Dalam analisa permintaan energi, dikenal istilah energi final dan energi end use. Sementara dalam analisa asokan energi, dikenal istilah energi primer dan energi sekunder. Energi final adalah energi yang siap digunakan di titik konsumen. Energi final dapat dibagi dua, yaitu energi final komersial dan energi final non-komersial. Pembagian ini tidak dapat dilakukan secara tegas, namun pada umumnya energi dari biomasa dikelompokkan dalam energi non-komersial. Jenis-jenis energi final komersial anta lain BBM, gas bumi, batubara, briket, listrik, LPG, dan sebagainya. Sementara yang nonkomersial adalah arang kayu, kayu bakar, biogas, sinar matahari, dan sebagainya. Energi end use adalah energi yang langsung digunakan oleh konsumen, misalnya energi panas untuk memasak, energi cahaya untuk lampu, dan sebagainya. Pembahasan energi end use akan sangat terkait dengan jenis teknologi dan efisiensi alat konversi energi. Alat konversi energi misalnya lampu listrik, kompor, dan sebagainya. Gambar 1 ditunjukkan bagan alir dari energi final menuju energi end use.
energi final alat konversi energi energi end use

Gambar 1. Energi Final dan Energi End Use 1.4. Pembagian Sektor Pemakai Energi Pembagian sektor pemakai energi dapat ditemukan dalam berbagai format. Format pembagian sektor pemakai energi di Indonesia antara lain : 1. format BPS 2. format DJLPE 3. format Pertamina 4. format PLN 1.4.1. Format BPS(3,9) Yang dimaksud format BPS adalah pembagian pemakaian energi berdasarkan

103

Eksergi Jurnal Teknik Energi Vol 7 No. 3 September 2011 ; 102 - 110

pembagian jenis kegiatan BPS (Badan Pusat Statistik), yaitu : a. sektor rumah tangga b. sektor komersial dan pemerintahan c. sektor industri pengolahan d. sektor transportasi e. sektor konstruksi f. sektor pertanian g. sektor pertambangan Pembagian sektor BPS ini tidak umum digunakan dalam kajian energi. Pembagian ini sangat lengkap, sehngga dapat menggambarkan seluruh kegiatan pemakaian energi. Pembagian ini cocok digunakan untuk kajian pemakaian energi dari sisi permintaan (demand). Dengan format ini, pembagian sektor akan dengan mudah dikaitkan dengan PDB. Kelemahan dari pembagian ini adalah datanya sulit ditemukan. 1.4.2. Format DJLPE Format DJLPE merupakan pembagian sektor yang paling umum dilakukan. Sektor pemakai energi dibagi empat, yaitu : a. sektor rumah tangga b. sektor komersial c. sektor industri d. sektor transportasi Data yang tersedia sampai saat ini masih dibagi menjadi tiga, dimana sektor ruamah tangga dan sektor komersial digabungkan. Sektor industry dalam klasifikasi ini mencakup semua sektor produksi, yaitu industry manufaktur, konstruksi, pertanian dan pertambangan. Pada umumnya data yang tersedia adalah data dari sisi pemasokan seperti data penjualan Pertamina, PLN, PGN, Dit Batubara. 1.4.3. Format Pertamina Format Pertamina adalah pembagian sektor berdasar pemasokan Pertamina. Bahan bakar yang dipasok Pertamina adalah BBM, gas Bumi, dan LPG. Pembagian sektornya : a. sektor rumah tangga b. sektor industri c. sektor transportasi

d. sektor pembangkit listrik Dalam format ini, dianggap semua minyak tanah untuk sektor rumah tangga, dan semua BBM dari SPBU dianggap digunakan untuk sektor transportasi 1.4.4. Format PLN Format PLN adalah pembagian berdasar kelompok pelanggan PLN, yang terdiri: a. sektor rumah tangga b. sektor komersiel c. sektor industri d. sektor publik e. sektor sosial Dari keempat format diatas, masing-masing pembagian sektor mempunyai perbedaan dalam mendefinisikan sektornya. Sehingga tidak dapat memperbandingkan secara langsung suatu sektor (misalnya rumah tangga) pada format yang satu dengan format yang lainnya. 1.5. Karakteristik Sektor-sektor Pemakai Energi(3,9) Pembahasan mengenai karakteristik sektor pemakai energi berkaitan erat dengan metode pembagian sektor. Pembahasan dalam tulisan ini dibahas sektor menurut pembagian PLN, yang dikaitkan dengan aplikasi perkiraan permintaan energi listrik Area Pelanggan dan Jaringan (APJ) Pekalongan. 1.5.1. Sektor Rumah Tangga Sektor rumah tangga umumnya dibagi dalam golongan tarif R1, R2, R3; mengacu batas kWh pelanggan energi listrik. Pemakaian energi perkapita akan eningkat sejalan dengan kenaikan pendapatan perkapita. Komposisi energi rumah tangga akan semakin mengarah ke energi komersiel dengan semakin naiknya pendapatan. 1.5.2. Sektor Komersiel/Bisnis Mencakup semua kegiatan yang menghasikan jasa. Termasuk jug jasa perdagangan, penginapan, keuangan, hiburan,

104

Perkiraan Permintaan Energi Listrik

(Agung Nugroho)

sosial. Jasa perdagangan mencakup rumah makan, dimana dalam rumah makan tercakup proses pengolahan makanan, yang sebetulnya termasuk dalam sektor industri pengolahan. 1.5.3. Sektor Industri Mencakup semua kegiatan yang mengolah bahan baku menjadi barang jadi atau setengah jadi. Industri dikelompokkan dalam industri makanan, tekstil, kayu, kertas, kimia, logam, non logam, permesinan, dan industri lainnya. Dalam industri, daya saing produk adalah hal yang utama. Sehingga upaya menekan biaya produksi terus dilakukan, demikian juga dalam hal biaya pemakaian energi listrik. 1.5.4. Sektor Publik dan Sosial (Umum) Mencakup semua kegiatan pelayanan masyarakat, dimana dalam pelaksanaan kegiatan memerlukan energi listrik. Termasuk dalam sektor ini adalah kantor pemerintah, rumah sakit, tempat ibadah, institusi pendidikan, lampu penerangan jalan umum dan pelayanan umum yang lain. Penggunaan energi dalam sektor ini pada umumnya untuk penerangan, pendinginan ruangan, pemanasan, dan penggerak motor listrik. Dalam institusi pendidikan dan rumah sakit sering dijumpai peralatan yang mengkonsumsi energi yang besar, seperti halnya peralatan laboratorium. 1.6. Perkiraan(4,8) Perkiraan adalah proses untuk memperkirakan berapa kebutuhan di masa datang, meliputi kebutuhan dalam ukuran kuantitas, kualitas, waktu dan lokasi yang dibutuhkan dalam rangka memenuhi permintaan. Perkiraan permintaan merupakan tingkat permintaan produkproduk yang diharapkan akan terealisasi untuk jangka waktu tertentu pada masa yang akan datang. Untuk menjamin efektivitas dan efisiensi dari sistem perkiraan permintaan, terdapat langkah-langkah :

1. Menentukan tujuan dari perkiraan 2. Memilih item independent demand yang diramalkan 3. Menentukan horizon waktu dari perkiraan 4. Memilih modelmodel perkiraan 5. Memperoleh data yang dibutuhkan untuk melakukan perkiraan 6. Validasi model perkiraan 7. Membuat perkiraan 8. Implementasi hasilhasil perkiraan 9. Memantau keandalan hasil perkiraan 1.6.1 Fungsi Perkiraan Dalam fungsi perkiraan tidak hanya teknik khusus dan model, tetapi termasuk input dan output subyek perkiraan. Pengembangan fungsi perkiraan dibutuhkan untuk mengidentifikasi output, karena spesifikasi output dapat menyederhanakan pemilihan model perkiraan, tetapi fungsi permalan tidaklah lengkap tanpa mempertimbangkan input. Perkiraan meliputi beberapa pertimbangan berikut : 1. Item yang diramalkan 2. Perkiraan dari atas (top-down) atau dari bawah (buttom-up) 3. Teknik perkiraan (model kuantitatif atau kualitatif) 4. Satuan yang digunakan 5. Interval/horison waktu 6. Komponen perkiraan 7. Ketepatan perkiraan 8. Pengecualian dan situasi khusus 9. Perbaikan parameter model perkiraan. 1.6.2. Faktor yang Mempengaruhi Perkiraan Permintaan suatu produk pada suatu perusahaan sangat dipengaruhi berbagai faktor lingkungan yang saling berinteraksi dan di luar kendali perusahaan. Faktorfaktor lingkungan tersebut akan mempengaruhi perkiraan. Beberapa faktor lingkungan yang mempengaruhi perkiraan kebutuhan tenaga listrik :

105

Eksergi Jurnal Teknik Energi Vol 7 No. 3 September 2011 ; 102 - 110

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Kondisi umum bisnis dan ekonomi Tindakan pemerintah Kecenderungan pasar Siklus hidup produk Gaya dan mode Perubahan permintaan konsumen Inovasi teknologi

1.6.3. Beberapa Sifat Hasil Perkiraan Dalam membuat perkiraan atau menerapkan hasil perkiraan, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan, yaitu : 1. Perkiraan pasti mengandung kesalahan, artinya peramal hanya bisa mengurangi ketidakpastian yang akan terjadi tetapi tidak dapat menghilangkan ketidakpastian tersebut. 2. Perkiraan seharusnya memberikan informasi mengenai berapa ukuran kesalahan. 3. Perkiraan jangka pendek lebih akurat dibandingkan dengan perkiraan jangka panjang. Kelemahan : tidak cocok untuk pola data trend atau pola data musiman. 1.6..4. Perkiraan Kebutuhan Energi Listrik di Indonesia(1,6,7,10) Perkiraan kebutuhan energi listrik termasuk dalam ranah perencanaan energi terpadu, dalam kontek rencana pembangunan sosial ekonomi. Pengembangan sumber daya energi didasarkan pada Kebijakan Energi Umum, yang memperhitungkan pertumbuhan permintaan energi, baik untuk ekspor dan keperluan dalam negeri, dan kemampuan untuk menyediakan pasokan energi dalam negeri yang strategis dalam jangka panjang. Perencanaan perkiraan kebutuhan tenaga listrik pada umumnya dipisahkan untuk area kecil dan area yang luas. Pemisahan tersebut diperlukan untuk perencanaan pengembangan sarana penyediaan tenaga listrik. Untuk menyesuaikan dengan programprogram ekonomi pemerintah, pembangunan nasional dan untuk memenuhi persyaratan permintaan pasar yang meningkat dengan

pesat, maka dalam perkiraan kebutuhan energi listrik, dilakukan survei kekuatan pasar dan analisa data permintaan pasar dari tahun-tahun sebelumnya, dan juga mempelajari metodologi perkiraan beban yang digunakan di negara-negara lain. Perencanaan energi listrik tidak lepas dari program pengembangan pembangkit dan perluasan jaringan, yang disusun berdasarkan perkiraan beban, dan diproyeksikan dengan metode yang dikembangkan. Metode yang dikembangkan oleh PLN, disesuaikan dengan kondisi sosial ekonomi di setiap wilayah, dan revisi dilakukan setiap tahun dengan memperhatikan pertumbuhan ekonomi yang sebenarnya. Program-program pemerintah yang mempengaruhi kebijakan perencanaan energi listrik antara lain : 1. Ketidaktergantungan penggunaan minyak bumi, dan dapat melakukan diversifikasi sumber energi lainnya seperti tenaga air, batubara, energi panas bumi, nuklir, dan sumber energi lainnya; dilanjutkan dan dikembangkan. Penggunaan energi non minyak dalam rencana pengembangan tenaga listrik didasarkan pada pilihan biaya operasi terkecil. Seperti contoh PLTGU, yang mengkobinasi bahar bakar batubara dan gas, dapat memberikan efisiensi yang lebih baik daripada pembangkit konvensional lainnya. 2. Dalam mengelola pasokan listrik bagi masyarakat, harus diperhatikan bahwa kualitas layanan terus ditingkatkan dengan menjaga kualitas tegangan, frekuensi, keandalan layanan, dan sebagainya. 3. Ketidakpastian perkiraan permintaan energi listrik, meliputi : a. Situasi ekonomi internasional b. Situasi ekonomi dalam negeri c. Harga minyak dunia

106

Perkiraan Permintaan Energi Listrik

(Agung Nugroho)

2. METODOLOGI 2.1. Metode Perkiraan Permintaan Energi(3) Kajian perkiraan permintaan energi dapat dilakukan dengan berbagai metode, yaitu : a. Metde pertumbuhan b. Metode ekonometrik c. Metode intensitas d. Metode analisa sistem 2.1.1. Metode Pertumbuhan Untuk melakukan perkiraan dengan metode ini diperlukan data pemakaian energi selama beberapa tahun. Selanjutnya dari data tahunan tersebut dapat ditemukan suatu pola pertumbuhannya. Perkiraan permintaan energi masa mendatang adalah data pemakaian tahun dasar dikalikan suatu angka pertumbuhannya. Pola pertumbuhan dapat berupa : a. Pertumbuhan tahunan dan rerata pertumbuhan tahunan. b. Pertambahan tahunan dan rerata pertambahan tahunan. Kelebihan metode ini adalah kesederhanaannya. Kelemahannya adalah perkiraan ini bersifat statis, sehingga tidak mampu merepresentasikan hal-hal yang mempengaruhi permintaan energi. 2.1.2. Metode Ekonometrik Metode Ekonometrik lebih sempurna dibanding metode pertumbuhan, yaitu dengan membuat korelasi besarnya permintaan energi dengan besaran-besaran lain, seperti jumlah penduduk, pendapatan, harga energi, dan sebagainya. Berdasarkan korelasi antara besaran-besaran tersebut selama beberapa tahun (korelasi historis), kemudian dibuat suatu persamaan matematis yang menggambarkan hubungan antara besaranbesaran tersebut. Kelebihan metode ekonometrik kemampuannya mengkorelasikan permintaan energi dengan besaran-besaran yang mempengaruhinya, sehingga dapat memperkirakan dampak perubahan besaran-

besaran tersebut terhadap permintaan energi di masa mendatang. Kelemahannya adalah diperlukan data yang lebih banyak, ketepatan perkiraan akan sangat ditentukan oleh ketersediaan dan kualitas data. 2.1.3. Metode Intensitas Disebut juga metode akunting energi (energy accounting) merupakan perhitungan atau perkiraan permintaan energi secara bottom-up. Permintaan energi total merupakan penjumlahan dari permintaan energi per sektor atau per kegatan. Permintaan energi adalah perkalian dari volume kegiatan dikalikan intensitas pemakaian energi per kegiatan. Permintaan energi = Aktifitas Intensitas x

Langkah perhitungan dalam metode adalah : a. Menentukan pembagian sektor pemakai energi b. Menentukan besaran aktifitas pemakaian energi masing-masing sektor pemakai energi c. Menghitung intensitas pemakaian energi masing-masing sektor d. Menghitung permintaan energi masingmasing sektor e. Menghitung permintaan energi total. Perkiraan permintaan energi di masa mendatang dapat dilakukan dengan membuat suatu skenario pertumbuhan aktifitas pemakaian energi, misalnya dengan adanya pertumbuhan penduduk, pertumbuhan PDB, pertumbuhan jumlah kendaraan, dan sebagainya. Parameter intensitas energi juga dapat diskenariokan, misalnya intensitas akan tumbuh sekian persen dengan tumbuhnya perekonomian. Kelebihan metode ini adalah kemampuannya untuk merinci permintaan energi per kegiatan. Sehingga dapat mengkaji perilaku pemakaian energi per kegiatan secara rinci dan dapat memberikan pemahaman yang lebih baik. Kekurangannya

107

Eksergi Jurnal Teknik Energi Vol 7 No. 3 September 2011 ; 102 - 110

adalah kebutuhan datanya yang banyak, berarti a waktu yang dibutuhkan lebih lama. 2.1.4. Metode Analisa Sistem Metode analisa sistem atau system dynamics atau system thinking sebetulnya lebh ditujukan untuk memberikan pemahaman terhadap sistem permintaan energi, namun demikian metode ini juga dapat digunakan untuk melakukan perkiraan atau peramalan. Jika pada ketiga metode sebelumnya teknis perhitungannya adalah straight forward (maju terus), maka pada metode ini ada mekanisme umpan balik. System thinking memodelkan suatu kejadian seperti sebagimana kejadian tersebut sesungguhnya terjadi. Contoh dalam sistem permintaan dan penawaran suatu komoditas. Permintaan akan mempengaruhi penawaran dan sebaliknya penawaran mempengaruhi besarnya permintaan. Permintaan energi ditentukan kegiatan perekonomian, dan kegiatan perekonomian berjalan karena adanya pasokan energi. Kelebihan metode ini adalah kemampuannya mengaktualisasikan dunia nyata ke dalam suatu model. Kemampaunnya merepresentasikan mekanisme umpan balik memungkinkannya melakukan analisa terhadap struktur suatu sistem. Metode ini cocok untuk melakukan analisa perilaku sistem jangka panjang. 2.1.5. Model Sistem Energi(9) Model adalah suatu representasi/gambaran dari dunia nyata. Bentuk-bentuk model diantaranya model matematis, model visual, dan sebagainya. Model diperlukan untuk memahami suatu fenomena. Dengan memahami struktur suatu fenomena, maka dapat memanfaatkan, mengatur dan memperkirakan perilaku fenomena tersebut. Model juga digunakan untuk mengkomunikasikan suatu masalah dengan orang lain secara lebih terstruktur.

Tahapan pemodelan secara umum terdiri atas lima tahapan, yaitu definisi masalah, konseptualisasi sistem, representasi model, evaluasi model, dan analisis kebijakan. Gambar 2 memperlihatkan ilustrasi tahapan pemodelan serta keterkaitannya. Definisi Masalah Konseptualisasi Sistem Representasi Model Evaluasi Model Analisa Kebijakan Gambar 2. Tahapan proses pengembangan model 3. HASIL DAN PEMBAHASAN Perkiraan Energi Listrik APJ Pekalongan. Wilayah kerja PT PLN (Persero) APJ Pekalongan meliputi wilayah administrasi pemerintahan Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Batang, dan Kota Pekalongan. Perkiraan kebutuhan energi listrik APJ Pekalongan dilakukan menggunakan metode ekonometrik, dengan model DKL. Dalam tulisan ini tidak dituangkan persamaanpersamaan model DKL yang digunakan dalam proses perkiraan ini. Data-data runtun waktu yang digunakan adalah : 1. Data Pengusahaan PT PLN APJ Pekalongan tahun 2006 2010. (Tabel 2)(5) 2. Data PDRB Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Batang, Kota Pekalongan. (Tabel 3, 4, 5)(2) 3. Data jumlah Rumah Tangga Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Batang, Kota Pekalongan. (Tabel 6, 7., 8)(2) Hasil perkiraan kebutuhan energi listrik APJ Pekalongan ditampilkan dalam Tabel 9. Berbagai macam model energi digunakan sesuai dengan karakteristik permasalahan dan tujuan dari suatu kajian. Model adalah alat yang tingkat kemanfaatannya sangat 108

Perkiraan Permintaan Energi Listrik

(Agung Nugroho)

bergantung keahlian pemodel dan keakuratan data yang tersedia. Beberapa model energi

yang dikembangkan di Indonesia ditunjukkan dalam Tabel 1.

Tabel 1. Model Energi di Indonesia


Model /Metode Ekonometrik Cakupan Analisa Didasarkan perilaku permintaan energi sebelumnya, dikaitkan variabel-variabel makroekonomi Contoh Pemakai Model DKL-LN Model Simple-E-PLN Model Perencanaan Energi DJLPE Model Indoceem-PIE DESDM

Input Output/ Keterkaitan pemakaian energi dengan makroekonomi, perubahan struktur General pemakaian energi terhadap PDB, inflasi, dsb. Diperlukan data input-output dan data Equilibrium elestisitas yang sangat banyak Analisa supply-demand energi dengan optimasi teknologi supply energi yang MARKAL sangat rinci. Diperlukan data rinci spesifikasi teknis dan keekonomian teknologi yang akan dianalisis. Analisa supply-demand energi dengan prinsip optimasi, dengan titik berat analisa ENPEP supply listrik. Diperlukan data rinci spesifikasi teknis dan keekonomian teknologi yang akan dianalisis. WASP Analisa pembangkitan listrik dengan prinsip optimasi. Diperlukan data rinci spesifikasi teknis dan keekonomian yang akan dianalisis. LEAP Analisa supply-demand energi, dengan sistem modular dan kebutuhan data yang fleksibel System Dynamycs Metodologi analisa sistem dengan mekanisme umpan balik. Stuktur fleksibel, dengan kebutuhan data yang fleksibel.

BPPT

BATAN PLN Outlook Energi IndonesiaDESDM Model Energi Ekonomi PPE ITB

Tabel 2. Data Pengusahaan APJ Pekalongan


TAHUN RUMAH TANGGA Jumlah Rumah Tangga Rasio Elektifikasi (%) Jumlah Pelanggan Daya Tersamb (kVA) Kons Energi (MWh) BISNIS Jumlah Pelanggan Daya Tersamb (kVA) Kons Energi (MWh) UMUM Jumlah Pelanggan Daya Tersamb (kVA) Kons Energi (MWh) INDUSTRI Jumlah Pelanggan Daya Tersamb (kVA) Kons Energi (MWh) 2006 2007 2008 2009 2010 419.618 60,05 251.990 168.318 277.688,66 9.154 34.149 49.500,75 9.853 18.853 48.612,64 232 55.204 222.102 434.238 61,00 264.903 182.109 295.079,31 9.820 37.344 58.196,44 9.733 20.319 50.313,57 234 54.429 232.762 434.238 62,70 272.278 190.688 307.493,53 10.524 40.683 65.642,66 10.440 22.536 53.396,59 236 55.930 238.012 417.104 67,91 283.261 203.318 331.444,68 11.616 44.471 74.802,16 11.221 25.050 56.760,58 239 55.727 231.766 431.724 69,95 302.012 223.279 361.514,09 11.951 46.003 81.188,54 12.063 27.446 62.852,65 248 58.014 252.437

Tabel 4 Data PDRB (juta Rp) Kab Batang


No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Tahun Pertanian Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan Listrik. Gas & Air Minum Bangunan Perdagangan. Hotel & Resto Pengangkutan & Komunikasi Keuangan. Persewaan & Jasa Persh Jasa-Jasa TOTAL Pertumbuhan % 2006 528.506 26.901 580.360 15.230 115.423 329.633 73.929 2007 541.316 27.435 583.043 18.857 120.804 337.360 75.669 2008 563.316 28.090 593.024 19.720 127.569 348.461 77.696 2009 588.955 28.673 606.302 20.053 133.589 357.797 79.935 2010 605.312 29.960 619.606 21.258 139.410 373.744 84.963

69.827 73.400 77.715 82.337 85.668 232.963 244.412 257.414 271.759 290.691 1.972.777 2.022.301 2.093.010 2.169.405 2.250.617 2,51 3,50 3,65 3,74

Tabel 5 Data PDRB (juta Rp) Kota Pekalongan


No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Tahun Pertanian Pertambangan Dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik. Gas/Air Minum Bangunan 2006 220.482 17.059 199.211 439.455 174.126 2007 196.939 19.590 214.767 460.252 179.297 2008 183.003 20.887 229.650 477.190 189.792 2009 171.591 21.641 241.426 512.140 193.741 2010 165.803 22.180 259.539 538.457 199.664

Tabel 3. Data PDRB (juta Rp) Kab Pekalongan


No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Tahun Pertanian Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan Listrik. Gas & Air Minum Bangunan Perdagangan. Hotel & Resto Pengangkutan & Komunikasi Keuangan. Persewaan & Jasa Persh Jasa-Jasa TOTAL Pertumbuhan % 2006 577.118 29.697 711.186 24.717 141.563 502.554 101.131 116.056 382.044 2.586.072 2007 599.481 30.660 740.214 27.123 151.693 522.413 106.530 117.861 414.400 2.710.378 4,81 2008 621.845 31.622 769.242 29.528 161.822 542.272 111.928 2009 644.614 32.878 792.563 32.886 177.833 562.807 118.866 2010 675.343 33.828 803.973 35.121 194.255 577.030 120.838

Perdagangan. Hotel & Resto 113.163 121.280 129.662 133.848 138.603 Pengangkutan Dan Komunikasi 183.219 195.208 207.339 219.426 246.524 Keuangan. Persewaan/Jasa Perusahaan 17.059 19.590 20.887 21.641 22.180 Jasa-Jasa 199.211 214.767 229.650 241.426 259.539 TOTAL 1.701.324 1.753.406 1.820.001 1.887.854 1.978.086 Pertumbuhan % 3,06 3,80 3,73 4,78

119.665 126.210 134.449 446.757 481.553 523.231 2.834.685 2.970.215 3.098.073 4,59 4,78 4,30

109

Eksergi Jurnal Teknik Energi Vol 7 No. 3 September 2011 ; 102 - 110

Tabel 6. Jumlah Rumah Tangga Kab Pekalongan


Tahun No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Keterangan Bojong Kesesi Siwalan Sragi Tirto Wirodesa Wonokerto Talun Doro Krnganyar Wnpringgo Kdungwuni Lbakbarang Buaran Kajen Kndngsrang JUMLAH DS 22 23 13 17 34 15 11 10 14 15 14 20 12 12 24 13 269 2006 RT 15,966 19,542 11,256 19,584 24,236 11,485 10,069 8,745 12,644 10,225 12,114 25,123 3,654 11,254 15,477 8,455 219.829 2007 RT 16,521 20,056 15,261 21,211 25,541 11,498 11,011 9,877 12,315 10,988 11,564 25,669 3,845 11,987 16,845 8,977 233.166 2008 2009 2010 RT 18,021 26,419 21,541 29,558 30,254 24,134 15,098 9,977 12,577 9,521 16,547 28,954 3,987 16,541 20,145 9,854 293.128 RT RT 16,588 17,258 21,048 24,598 18,874 19,854 24,145 26,514 28,102 28,026 13,052 17,454 14,231 14,997 9,546 9,752 14,256 13,256 10,997 9,877 12,025 14,598 26,012 27,546 3,899 4,015 13,201 15,412 19,877 19,987 8,995 9,562 254.848 272.706

dengan 2015 menggunakan metode ekonometrik dan model DKL, menunjukkan kuantitas penyediaan energi listrik yang harus disiapkan PLN APJ Pekalongan. DAFTAR PUSTAKA 1. Abdul Kadir, et.al. (1992). The Electric Future of Indonesia. Resource Systems Institute Working Paper. East-West Center Honolulu, Hawaii, USA. 2. Annonymus. (2005, 2006, 2007, 2008, 2009). Jawa Tengah Dalam Angka. BPPS, Jawa Tengah 3. Annonymous. (1992). Penyusunan Perkiraan Kebutuhan Listrik. Dinas Penelitian Kebutuhan Listrik, PT PLN (Persero), Pusat, Jakarta. 4. Annonymous. (2004). Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional. Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomer : 0954 K/30/MEM/2004, Jakarta. 5. Annonymus. (2005, 2006, 2007, 2008, 2009). Tata Usaha Langganan III-07 dan III-09. PT PLN (Persero) APJ Pekalongan 6. DESDM. (2004). Kebijakan Energi Nasional 2003-2020, Rancangan. Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. 7. Herman, D.I. (2006). Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2006 2015. PT PLN (Persero) Pusat, Jakarta. 8. http://mukhyi.staff.gunadarma.ac.id. Forecasting Model 9. Oetomo, TW. (2007). Perencanaan Energi dan Profil Energi. CAREPI, Indonesia. 10. Rahardjo. (2006). Merencanakan Pengembangan Sistem Keistrikan PLN ke Depan Secara Lebih Baik dan Lebih Efisien. PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Tabel 7. Jumlah Rumah Tangga Kab Batang


Tahun No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Keterangan Batang Wnotnggal Bandar Blado Reban Bawang Tersono Limpung Subah Tulis Warngasem Grinsing Kandeman Pecalungan Banyuputih JUMLAH DS 21 16 20 21 21 20 23 22 18 16 18 15 13 10 11 265 2006 RT 24,948 8,073 15,167 21,150 10,142 11,950 10,950 15,005 16,697 14,890 9,894 14,862 9,846 7,031 8,066 198,671 2007 RT 24,930 8,091 15,305 11,078 10,177 12,016 10,971 15,044 16,736 14,996 9,978 14,849 9,896 7,043 8,087 189,197 2008 RT 25,167 7,443 13,365 9,074 8,734 12,080 9,148 10,043 12,262 8,412 10,057 14,249 9,945 7,051 8,145 165,175 2009 RT 25,258 7,508 13,480 9,140 8,771 12,162 9,192 10,062 12,285 8,472 10,117 14,275 10,012 7,078 8,210 166,022 2010 RT 25,194 7,499 13,443 9,140 8,788 12,127 9,228 10,057 12,254 8,415 10,072 14,283 9,992 7,081 8,149 165,722

Tabel 8. Jumlah Rumah Tangga Kota Pekalongan


Tahun No 1 2 3 4 Keterangan Pkl Timur Pkl Barat Pkl Utara Pkl Selatan Jumlah DS 12 12 10 12 34 2006 RT 15,506 20,928 17,666 12,456 66,556 2007 RT 15,643 20,924 17,698 12,513 66,778 2008 RT 15,742 21,056 17,810 12,592 67,200 2009 RT 15,853 21,205 17,936 12,681 67,675 2010 RT 16,029 21,443 18,136 12,824 68,432

Tabel 9. Perkiraan Kebutuhan Energi APJ Pekalongan


Tahun Jumlah RT PDRB (%) Rasio Elektrifisi (%) Kons Energi (MWh) -- Rumah Tangga -- Bisnis -- U m u m -- Industri Daya Tersbg (kVA) -- Rumah Tangga -- Bisnis -- U m u m -- Industri Jumlah Pelanggan -- Rumah Tangga -- Bisnis -- U m u m -- Industri 2011 529,815 4,28 62,07 777,512 375,491 82,345 64,183 255,493 367,118 234,983 46,302 27,751 58,083 328,845 304,380 12,044 12,173 248 2012 532,564 4,28 62,36 800,486 391,282 83,549 65,623 260,032 370,036 237,122 46,657 28,105 58,152 332,096 307,381 12,157 12,310 249 2013 535,532 4,28 62,75 825,335 408,586 84,802 67,182 264,765 373,508 239,703 47,072 28,512 58,221 336,042 311,029 12,291 12,473 249 2014 538,718 4,28 63,24 852,214 427,535 86,107 68,870 269,703 377,556 242,742 47,548 28,975 58,291 340,708 315,346 12,448 12,665 250 2015 542,124 4,28 63,85 881,294 448,278 87,466 70,697 274,853 382,205 246,257 48,090 29,497 58,361 346,122 320,357 12,629 12,887 250

4. KESIMPULAN a. Analisa permintaan energi terkait perekonomian, elastisitas dan intensitas, supply demand, energy final dan energy end use. b. Kajian perkiraan permintaan energi dilakukan dengan metode pertumbuhan, ekonometrik, intensitas, dan analisa sistem. c. Perkiraan permintaan energi listrik PLN APJ Pekalongan tahun 2011 sampai

110