Anda di halaman 1dari 5

KUSBINI

Kusbini (Desa Kemlagi, Mojokerto, Jawa Timur, 1 Januari 1910 Yogyakarta, 28 Februari 1991) adalah seorang komponis Indonesia. Pada masanya, Kusbini dikenal sebagai seorang pemusik keroncong. Kusbini lebih dikenal sebagai pencipta lagu nasional Bagimu Negeri. Kusbini meninggal dunia di Yogyakarta pada tahun 1991. Sebagai penghormatan, pemerintah daerah Yogyakarta mengubah nama jalan di depan rumahnya menjadi Jalan Kusbini. Kusbini mewariskan SOSI (Sekolah Olah Seni Indonesia) yang sekarang diasuh dan diteruskan oleh anak-anaknya.

Ismail Marzuki

Ismail Marzuki (lahir di Kwitang, Senen, Batavia, 11 Mei 1914 meninggal di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta, 25 Mei 1958 pada umur 44 tahun) adalah salah seorang komponis besar Indonesia. Namanya sekarang diabadikan sebagai suatu pusat seni di Jakarta yaitu Taman Ismail Marzuki (TIM) di kawasan Salemba, Jakarta Pusat.

Latar Belakang
Ismail Marzuki lahir dan besar di Jakarta dari keluarga Betawi.

Kontribusi bagi Musik Indonesia


Lagu ciptaan karya Ismail Marzuki yang paling populer adalah Rayuan Pulau Kelapa yang digunakan sebagai lagu penutup akhir siaran oleh stasiun TVRI pada masa pemerintahan Orde Baru. Ismail Marzuki mendapat anugerah penghormatan pada tahun 1968 dengan dibukanya Taman Ismail Marzuki, sebuah taman dan pusat kebudayaan di Salemba, Jakarta Pusat. Pada tahun 2004 dia dinobatkan menjadi salah seorang tokoh pahlawan nasional Indonesia.

Kontroversi pencipta lagu Halo, Halo Bandung


Ismail Marzuki selama ini diyakini sebagian besar masyarakat Indonesia sebagai pencipta lagu Halo, Halo Bandung yang terkenal. Lagu tersebut menggambarkan besarnya semangat rakyat Bandung dalam peristiwa Bandung Lautan Api. Namun sebenarnya siapa pencipta lagu tersebut yang sebenarnya masih diperdebatkan oleh sebagian masyarakat Indonesia.

Karya Lagu

Aryati Gugur Bunga Melati di Tapal Batas (1947) Wanita Rayuan Pulau Kelapa Sepasang Mata Bola (1946) Bandung Selatan di Waktu Malam (1948) O Sarinah (1931) Keroncong Serenata Kasim Baba Bandaneira Lenggang Bandung Sampul Surat Karangan Bunga dari Selatan Selamat Datang Pahlawan Muda (1949) Juwita Malam Sabda Alam Roselani Rindu Lukisan Indonesia Pusaka

K.P.H. Notoprojo
K.P.H. Notoprojo

K. P. H. Notoprojo

Biodata Nama lahir Nama lain Wasi Jolodoro Ki Cokrowasito K.R.T. Wasitodipuro K.R.T. Wasitodiningrat 17 Maret 1909
Yogyakarta, Hindia Belanda

Lahir Meninggal Genre Pekerjaan Instrumen Tahun aktif Label Associated acts

30 Agustus 2007 (umur 98)


Yogyakarta, Indonesia

Gamelan, Musik Rakyat, Tradisional Musisi karawitan, Komposer, Dosen, Penata Sendratari Gamelan, Rebab, Saron, Kendhang, Bonang 1934 - 1992 Nonesuch Records, CMP Records Orkes Gamelan Pura Paku Alaman, Daya Pradangga, Mardi Wirama

Wikiquote memiliki koleksi kutipan yang berkaitan dengan: Ki Cokrowasito

Kanjeng Pangeran Haryo (K.P.H.) Notoprojo, juga dikenal sebagai Ki Tjokrowasito, K.R.T. Wasitodipuro, K.R.T. Wasitodiningrat, di antara nama-nama lainnya (terlahir Wasi Jolodoro, lahir di Gunungketur, Paku Alaman, Yogyakarta, Indonesia, 17 Maret 1909 meninggal di Yogyakarta, Indonesia, 30 Agustus 2007 pada umur 98 tahun umur 104 menurut Kalender Jawa), adalah seorang empu (tokoh ahli) karawitan dan salah satu seniman gamelan Jawa yang paling dihormati. Dia memimpin gamelan Pura Paku Alaman serta gamelan untuk Radio Republik Indonesia Yogyakarta, dan mengajar gamelan di universitas-universitas di seluruh dunia. Ia juga adalah seorang komposer dan pemain rebab terkenal. Ia terkenal dengan karya komposisi gamelannya yang merakyat seperti "Kuwi Opo Kuwi", "Gugur Gunung" dan "Modernisasi Desa". [1] Berbagai penghargaan pernah ia raih termasuk dari UNICEF pada 2002. Pada 9 Maret 2004, ia menerima Penghargaan Nugraha Bhakti Musik Indonesia, sebuah penghargaan karya musik yang hanya diterima sedikit musisi di Indonesia.

Nama
Dia telah dikenal dengan sejumlah besar nama, sesuai dengan berbagai gelar penghargaan yang ia terima. Ia dilahirkan dengan nama Wasi Jolodoro. Nama Tjokrowasito didapatkannya setelah tiga tahun magang sebagai calon abdi dalem Langen Praja di Pura Pakualaman (19251927) dan pada tahun 1932 diangkat menjadi abdi dalem dengan nama Raden Bekel Tjokrowasito ("Cokrowasito" dalam EYD) [2], dan dikenal sebagai "Pak Cokro". Setelah ia menjadi mahir dan terkenal dalam bidang musiknya, teman-temannya memanggilnya "Ki Tjokrowasito" ("Ki" adalah gelar penghormatan tak resmi dalam budaya Jawa). Pada tahun 1960-an, Kraton Paku Alaman memberinya gelar "K.R.T. Wasitodipuro" (K.R.T. = Kanjeng Raden Tumenggung) karena kontribusi kesenian dan ketenarannya. Kemudian, ia dihormati sebagai "K.R.T. Wasitodiningrat". Pada tahun 2001 ia secara resmi diakui sebagai anak kandung Paku Alam VII, dan saudara seayah dari Paku Alam VIII, dan mendapat gelar mirip dengan Pangeran, yaitu K.P.H. Notoprojo (K.P.H. = Kanjeng Pangeran Haryo).