Anda di halaman 1dari 35

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Geologi struktur merupakan bagian dari ilmu geologi yang mempelajari tentang bentuk batuan sebagai hasil dari proses deformasi. Proses deformasi adalah perubahan bentuk dan ukuran pada batuan akibat dari gaya yang terjadi di dalam bumi. Semarang merupakan daerah yang memiliki proses struktural yg cukup kompleks. Di Semarang ini terdapat daerah vulkanik, yaitu gunung Ungaran. Dimana gunung Ungaran ini merupakan gunungapi yang masih aktif. Dilihat dari adanya aktifitas vulkanik ini, dapat diinterpretasikan bahwa daerah Semarang ini dapat terjadi proses endogen yang berupa tektonik. Berdasarkan hal tersebut maka penulis tertarik untuk mengetahui proses deformasi di daerah semarang dengan melakukan pemetaan.

1.2 Maksud dan Tujuan 1.2.1 Maksud Menganalisa tentang geologi struktur yang terdapat di lapangan, seperti kekar, sesar, dan lipatan Mempelajari geologi struktur yang ada Hubungan kekar, sesar, dan lipatan di lapangan dengan keadaan yang ada disekitarnya Menghitung nilai strike/dip di lapangan

1.2.2 Tujuan Dapat menganalisa tentang geologi struktur yang terdapat di lapangan seperti kekar, sesar, dan lipatan Dapat mempelajari geologi struktur yang ada
23

Dapat mengetahui hubungan kekar, sesar, dan lipatan di lapangan dengan keadaan yang ada disekitarnya Dapat menghitung nilai strike/dip di lapangan

1.3 Lokasi Pada praktikum lapangan Geologi Struktur ini melakukan pengamatan di daerah Kaligarang, Ungaran, Kab. Semarang. Terdapat 2 lokasi pengamatan, lokasi I adalah untuk pengamatan sesar, dan lokasi II adalah untuk pengamatan kekar. Jarak yang ditempuh untuk mencapai ke lokasi I (sesar) 20menit dengan menggunakan sepeda motor. Kemudian jarak antara lokasi I (sesar) menuju lokasi II (kekar) 6menit dengan menggunakan sepeda motor, kemudian kendaraan diparkirkan di sekitar lokasi pengamatan, setelah itu melanjutkan dengan perjalanan jalan kaki menuju ke lokasi pengamatan yang daerahnya menurun.

1.4 Metodologi 1.4.1 Alat dan Bahan Kompas geologi Alat tulis (pensil, pulpen, penggaris, busur) Buku Catatan Lapangan Clipboard HCL Kertas mika Drawing pen marker (3 warna)

1.4.2 Cara Kerja Persiapkan alat dan bahan Menuju lokasi pengamatan (STA 1, analisis kekar) Melakukan pendeskripsian di lapangan Mencatat data-data strike/dip, 25 pasang kekar berpasangan, 10 data kekar tensional, dan 10 buah data release
24

Menuju lokasi pengamatan selanjutnya (STA 2, analisis sesar) Melakukan pendeskripsian di lapangan Mencatat data-data strike/dip sesar dan kekar Membuat diagram rose, histogram, dan stereografis dari hasil data kekar yang didapat selesai

1.5 Batasan Masalah Dalam praktikum ini, penulis akan mencoba untuk membatasi masalah yang akan dibahas. Apa yang mempengaruhi dari faktor pembentukan kekar dan sesar tersebut. Mengapa kekar dan sesar tersebut mempengaruhi struktur disekitarnya. Menentukan arah gaya yang terbentuk karena kekar tersebut.

1.6 Diagram Alir Mulai

Persiapkan alat dan bahan

Menuju lokasi pengamatan (STA 1, menganalisis kekar)

Melakukan pendeskripsian di lapangan

Mencatat data-data strike/dip, 25 pasang kekar berpasangan, 10 data kekar tensional, dan 10 buah data release

Menuju lokasi pengamatan selanjutnya (STA 2, analisis sesar)

Melakukan pendeskripsian di lapangan


25

Mencatat data-data strike/dip sesar dan kekar

Membuat diagram rose, histogram, dan stereografis dari hasil data kekar yang didapat

Selesai

26

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Gambar 2.1 Kekar (atas) dan Sesar (bawah)

2.1 Kekar Kekar adalah bidang rekahan yang tidak memperlihatkan pergeseran yang berarti (bagian masanya masih berhubungan/bergabung). Kekar merupakan gejala yang umum dan sering dijumpai. Pada umumnya menunjukkan pola sistematik (prefered orientation) dan seringkali simetrik. Kekar merupakan bidang planar yang mempunyai kecenderungan gerak pada bidangnya. Dalam struktur geologi modern, mekanisme pembentukan kekar ditinjau dengan teori pembentukan rekahan berdasarkan failure envelop. Ada tiga jenis kekar utama, yaitu:

27

a. Meregang (dilation) tegak lurus permukaan b. Bergeser (Shear) sejajar permukaan c. Kombinasi dari keduanya Walaupun kebanyakan kekar terbentuk oleh proses tektonik, ada beberapa yang sama sekali tidak berhubungan dengan proses tersebut. Jenis khusus ini antara lain: Kekar lembar (sheet structure) atau exfoliation. Jenis ini sangat umum ditemui pada batuan granitik. Kekar lembar ini berbentuk tipis, melengkung dan umumnya berlapis cembung ke atas sejajar dengan topografi lokal. Kekar lembar umumnya mengalami tekanan gaya kompresi yang sejajar dengan panjangnya, sumber gaya kompresi saat ini tidak dimengerti. Secara umum, kekar ini terbentuk berkaitan dengan pelepasan beban gravitasi dari granit terrain. Pecahan-pecahan batuan akibat pertambangan. Dalam penambangan berat dari tutupan batuan dihilangkan secara tiba-tiba. Hal ini dapat menyebabkan batuan pecah melalui rekahan secara cepat pada singkapan yang baru. Kekar pendinginan pada batuan volkanik. Proses pembentukannya meliputi kontraksi thermal ketika batuan mendingin dan mengkerut, berakibat pada pecahnya batuan. Contohnya kekar kolom pada basalt. (Sumber: PRINSIP DASAR GEOLOGI STRUKTUR. 2008. ITB) Kekar merupakan salah satu struktur yang sulit untuk diamati, sebab kekar dapat terbentuk pada setiap waktu kejadian geologi, misalnya sebelum terjadinya lipatan, atau terbentuknya semua struktur tersebut. Hal ini yang juga merupakan kesulitan adalah tidak adanya atau relatif kecil pergeseran dari kekar, sehingga tidak dapat ditentukan kelompok mana yang terbentuk sebelum atau sesudahnya. 2.1.1 Klasifikasi Kekar Secara Geometris 1. Berdasarkan kedudukan terhadap lapisan batuan Strike joint dimana jurus kekar dan jurus perlapisan saling sejajar
28

Dip joint dimana jurus kekar dan arah kemiringan perlapisan batuan saling sejajar Diagonal/oblique joint dimana jurus kekar dan jurus perlapisan batuan saling memotong Bedding joint dimana bidang kekar dan bidang perlapisan saling sejajar

2. Berdasarkan pola kekar Kekar sistematik adalah sekelompok kekar yang saling sejajar jurusnya. Terbentuk karena gaya tektonik dan bisa tersusun lebih dari satu set kekar Kekar non-sistematik adalah sekelompok kekar yang tidak menunjukkan adanya pola yang sistematik, kedudukan kekar tidak beraturan dan terbentuk bukan oleh gaya tektonik Ukuran dimensi kekar dipakai sebagai salah satu dasar klasifikasi, tetapi sejauh ini belum ada ukuran pasti untuk klasifikasi ini Master joint adalah kekar yang berukuran puluhan sampai ratusan meter dan memotong beberapa lapisan batuan Major joint adalah kekar yang panjangnya lebih pendek dari master joint, memotong lapisan batuan yang tidak begitu tebal Minor joint adalah kekar yang panjangnya >1inch dan secara keseluruhan memiliki ukuran yang pendek Mikro joint adalah kekar yang panjangnya <1inch

2.1.2 Klasifikasi Kekar Secara Genetis Secara kejadiannya (genetik), kekar dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu: 1. Kekar gerus (shear fracture): adalah rekahan yang bidang-bidangnya terbentuk karena adanya kecenderungan untuk saling bergeser (shearing), dan terbentuk akibat gaya kompresi Ciri-cirinya adalah: Lurus Bidangnya rata
29

Tertutup rapat Memotong fragmen batuan Sudut lancip yang dibentuk kekar yang berpasangan kedudukannya berhadapan dengan utama (1), sudut tumpul berhadapan dengan tegasan terkecil (3), sedangkan tegasan intermediet (2) kedudukannya sejajar dengan garis hasil perpotongan bidang kekar yang berpasangan

2. Kekar tarik (extention fracture): adalah rekahan yang bidang-bidangnya terbentuk karena adanya kecenderungan untuk saling menarik (meregang), ciri-cirinya adalah: Tidak berpasangan Melengkung Terbuka dan sering mengalami pengisian Bidang tidak rata dan arahnya tegak lurus dengan arah tarikan Mengelilingi fragmen batuan

Extension fracture dapat dibedakan sebagai: Tension fracture: kekar tarik yang bidang rekahnya searah dengan arah tegasan Release fracture: kekar tarik yang terbentuk akibat hilangnya atau pengurangan tekanan dan tegak lurus terhadap gaya utama Didalam analisa, kekar dapat dipakai untuk membantu menentukan pola tegasan, dengan anggapan bahwa kekar-kekar tersebut pada keseluruhan daerah terbentuk sebelum atau pada saat pembentukan sesar. Cara ini sangat lemah dan umumnya dipakai di daerah yang lebih luas (regional) dan data yang dipakai tidak hanya kekar, tetapi juga sesar yang dapat diamati dari peta topografi, foto udara, dan citra landsat. 2.1.3 Analisis Kekar Dalam menganalisis kekar, dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu: a. Histogram b. Diagram rose
30

c. Stereografis Dalam analisis kekar dengan histogram dan diagram kipas yang dianalis hanyalah jurus dan kekar dengan mengabaikan besar dan analisis arah kemiringan, sehingga analisis ini akan mendekati kebenaran apabila kekarkekar yang dianalisis mempunyai dip yang cukup besar atau mendekati 900. Gaya yang bekerja dianggap lateral, karena arah kemiringan kekar diabaikan. Untuk analisis statistik, data yang diperkenankan umumnya 50 data, tetapi 30 data masih diperkenankan. (Sumber: Buku Panduan Praktikum Geologi Struktur. 2011. UNDIP)

2.2 Sesar

Gambar 2.2 Salah satu contoh sesar

Sesar

adalah

rekahan

atau

zona

rekahan

pada

batuan

yang

memperlihatkan pergeseran. Pergeseran pada sesar bisa terjadi sepanjang garis lurus (translasi) atau terputar (rotasi). 2.2.1 Klasifikasi Sesar Sesar dapat diklasifikasikan dengan pendekatan geometri yang berbeda. Beberapa klasifikasi diantaranya adalah: Berdasarkan hubungan dengan struktur lain (sesar bidang perlapisan, sesar longitudinal, sesar transversal) Berdasarkan pola kumpulan sesar (sesar radial, sesar paralel, dan sesar en echelon)

31

2.2.2 Sesar Translasi Kedudukan unsur-unsur struktur pada hangingwall dan footwall tidak berubah karena pergeseran sepanjang bidang sesar adalah sama. Untuk mengetahui orientasi dan besaran dari slip harus diketahui dua titik yang sama pada kedua blok yang tersesarkan. 2.2.3 Sesar Rotasi Berdasarkan kedudukan sumbu putar terhadap bidang sesar dapat dibedakan tiga macam gerak rotasi pada sesar: Sumbu putar sejajar bidang sesar Sumbu putar miring terhadap bidang sesar Sumbu putar tegak lurus terhadap bidang sesar (Sumber: Buku Panduan Praktikum Geologi Struktur. 2011. UNDIP)

2.3 Lipatan

Gambar 2.3 Lipatan

Lipatan adalah hasil perubahan bentuk atau volume dari suatu bahan yang ditunjukkan sebagai lengkungan atau kumpulan dari lengkungan pada unsur garis bidang di dalam bahan tersebut. Pembentukan lipatan dapat terjadi melalui proses: Buckling, karena proses penekanan lateral dari suatu bidang planar. Proses pelengkungan terjadi pada kedua sisi selama terjadi pemendekan.
32

Bending, karena pengaruh gerakan vertikal pada suatu lapisan, misalnya penurunan lapisan, pergeseran pada jalur gerus, atau pelengseran suatu masa batuan pada bidang yang tidak rata

Lipatan dapat terbentuk karena pengaruh tektonik, gaya berat, dan akibat pengaruh-pengaruh setempat (kompaksi, intrusi batuan beku dalam, dan injeksi garam). (Sumber: Prinsip Dasar Geologi Struktur. 2008. ITB) 2.3.1 Dasar Klasifikasi Lipatan Lipatan dapat diklasifikasikan didasarkan pada sifat yang dapat

dideskripsikan unsur-unsurnya secara geometri. Klasifikasi dan penamaan jenis lipatan umumnya juga secara tidak langsung akan mencerminkan sifat kejadian atau pembentukan lipatan tersebut dan jenis atau material yang terlibat. Misalnya lipatan yang ketat (tight) mencerminkan deformasi yang kuat, lipatan yang sejajar (paralel) umumnya terjadi pada lapisan yang kompeten dan sebagainya. a. Sudut antar sayap Sudut yang terkecil yang dibentuk oleh sayap-sayap lipatan, dan diukur pada bidang profil suatu lipatan. Sudut mencerminkan sifat keketatan dari lipatan. b. Sifat simetri Salah satu kriteria untuk menyatakan bentuk dari suatu permukaan silindris. c. Kedudukan lipatan Berdasarkan bentuknya, lipatan yang kemiringan bidang sayapnya menuju ke arah yang berlawanan, disebut sebagai antiklin, dan synform, kemiringan bidang sayapnya menuju ke arah satu arah disebut sebagai sinklin. (Sumber: Buku Panduan Praktikum Geologi Struktur. 2011. UNDIP)

33

BAB III GEOLOGI REGIONAL

3.1 Fisiografi Regional Pulau Jawa secara fisiografi dan struktural, dibagi atas empat bagian utama (Bemmelen, 1970) yaitu: Sebelah barat Cirebon (Jawa Barat) Jawa Tengah (antara Cirebon dan Semarang) Jawa Timur (antara Semarang dan Surabaya) Cabang sebelah timur Pulau Jawa, meliputi Selat Madura dan Pulau Madura Jawa Tengah merupakan bagian yang sempit di antara bagian yang lain dari Pulau Jawa, lebarnya pada arah utara-selatan sekitar 100 120 km. Daerah Jawa Tengah tersebut terbentuk oleh dua pegunungan yaitu Pegunungan Serayu Utara yang berbatasan dengan jalur Pegunungan Bogor di sebelah barat dan Pegunungan Kendeng di sebelah timur serta Pegunungan Serayu Selatan yang merupakan terusan dari Depresi Bandung di Jawa Barat. Pegunungan Serayu Utara memiliki luas 30-50 km, pada bagian barat dibatasi oleh Gunung Slamet dan di bagian timur ditutupi oleh endapan gunung api muda dari Gunung Rogojembangan, Gunung Prahu dan Gunung Ungaran. Gunung Ungaran merupakan gunung api kuarter yang menjadi bagian paling timur dari Pegunungan Serayu Utara. Daerah Gunung Ungaran ini di sebelah utara berbatasan dengan dataran aluvial Jawa bagian utara, di bagian selatan merupakan jalur gunung api Kuarter (Sindoro, Sumbing, Telomoyo, Merbabu), sedangkan pada bagian timur berbatasan dengan Pegunungan Kendeng (Gambar 2.1). Bagian utara Pulau Jawa ini merupakan geosinklin yang memanjang dari barat ke timur (Bemmelen, 1970).

34

Gambar 3.1 Sketsa fisiografi Pulau Jawa bagian tengah (Bemmelen,1943 vide Bemmelen, 1970, dengan modifikasi)

3.2 Stratigrafi Regional Secara lebih rinci, fisiografi Pegunungan Serayu Utara dibagi menjadi tiga bagian yaitu bagian barat (Bumiayu), bagian tengah (Karangkobar) dan bagian timur (Ungaran). Dalam Bemmelen (1970) diuraikan bahwa stratigrafi regional Pegunungan Serayu Utara bagian timur (Gunung Ungaran dan sekitarnya) dari yang tertua adalah sebagai berikut: 1. Lutut Beds Endapan ini berupa konglomerat dan batugamping dengan fosil berupa Spiroclypeus, Eulipidina, Miogypsina dengan penyebaran yang sempit. Endapan ini menutupi endapan Eosen yang ada di

bawahnya.endapan ini berumur Oligo-Miosen. 2. Merawu Beds Endapan ini merupakan endapan flysch yang berupa perselangselingan lempung serpihan, batupasir kuarsa dan batupasir tufaan dengan fosil Lepidocyclina dan Cycloclypeus. Endapan ini berumur Miosen Bawah. 3. Panjatan Beds Endapan ini berupa lempung serpihan yang relatif tebal dengan kandungan fosil Trypliolepidina rutteni, Nephrolepidina ferreroi
35

PROV., N. Angulosa Prov., Cycloclypeus sp., Radiocyclocypeus TAN., Miogypsina thecideae formis RUTTEN. Fosil yang ada menunjukkan Miosen Tengah. 4. Banyak Beds Endapan ini berupa batupasir tufaan yang diendapkan pada Miosen Atas. 5. Cipluk Beds Endapan ini berada di atas Banyak Beds yang berupa napal yang berumur Miosen Atas. 6. Kapung Limestone Batugamping tersebut diendapkan pada Pliosen Bawah dengan dijumpainya fosil Trybliolepidina dan Clavilithes sp. Namun fosil ini kelimpahannya sangat sedikit. 7. Kalibluk Beds Endapan ini berupa lempung serpihan dan batupasir yang mengandung moluska yang mencirikan fauna cheribonian yang berumur Pliosen Tengah. 8. Damar Series Endapan ini merupakan endapan yang terbentuk pada lingkungan transisi. Endapan yang ada berupa tuffaceous marls dan batupasir tufaan yang mengandung fosil gigi Rhinocerous, yang mencirikan Pleistosen awal-Tengah. 9. Notopuro Breccias Endapan ini berupa breksi vulkanik yang menutupi secara tidak selaras di atas endapan Damar Series. Endapan ini terbentuk pada Pleistosen Atas. 10. Alluvial dan endapan Ungaran Muda Endapan ini merupakan endapan alluvial yang dihasilkan oleh proses erosi yang terus berlangsung sampai saat ini (Holosen). Selain itu juga dijumpai endapan breksi andesit yang merupakan produk dari Gunung Ungaran Muda. Menurut Budiardjo et. al. (1997), stratigrafi daerah Ungaran dari yang tua ke yang muda adalah sebagai berikut: 1. Batugamping volkanik 2. Breksi volkanik III 3. Batupasir volkanik 4. Batulempung volkanik
36

5. Lava andesitik 6. Andesit porfiritik 7. Breksi volkanik II 8. Breksi volkanik I 9. Andesit porfiritik 10. Lava andesit 11. Aluvium

Gambar 3.2 Peta geologi regional daerah Ungaran (Budiardjo, et. al., 1997)

3.3 Tatanan Tektonik 3.3.1 Tektonik Regional Perkembangan tektonik pulau Jawa dapat dipelajari dari pola-pola struktur geologi dari waktu ke waktu. Struktur geologi yang ada di pulau Jawa memiliki pola-pola yang teratur. Secara geologi pulau Jawa merupakan suatu komplek sejarah penurunan basin, pensesaran, perlipatan dan vulkanisme di bawah pengaruh stress regime yang berbeda-beda dari waktu ke waktu. Secara umum, ada tiga arah pola umum struktur yaitu arah Timur Laut Barat Daya (NE-SW) yang disebut pola Meratus, arah Utara Selatan (N-S) atau pola Sunda dan arah Timur Barat (E-W). Perubahan jalur
37

penunjaman berumur kapur yang berarah Timur Laut Barat Daya (NE-SW) menjadi relatif Timur Barat (E-W) sejak kala Oligosen sampai sekarang telah menghasilkan tatanan geologi Tersier di Pulau Jawa yang sangat rumit disamping mengundang pertanyaan bagaimanakah mekanisme perubahan tersebut. Kerumitan tersebut dapat terlihat pada unsur struktur Pulau Jawa dan daerah sekitarnya. Pola Meratus di bagian barat terekspresikan pada Sesar Cimandiri, di bagian tengah terekspresikan dari pola penyebarab singkapan batuan praTersier di daerah Karang Sambung. Sedangkan di bagian timur ditunjukkan oleh sesar pembatas Cekungan Pati, Florence timur, Central Deep. Cekungan Tuban dan juga tercermin dari pola konfigurasi Tinggian Karimun Jawa, Tinggian Bawean dan Tinggian Masalembo. Pola Meratus tampak lebih dominan terekspresikan di bagian timur. Pola Sunda berarah Utara-Selatan, di bagian barat tampak lebih dominan sementara perkembangan ke arah timur tidak terekspresikan. Ekspresi yang mencerminkan pola ini adalah pola sesar-sesar pembatas Cekungan Asri, Cekungan Sunda dan Cekungan Arjuna. Pola Sunda pada Umumnya berupa struktur regangan. Pola Jawa di bagian barat pola ini diwakili oleh sesar-sesar naik seperti sesar Beribis dan sear-sear dalam Cekungan Bogor. Di bagian tengah tampak pola dari sesar-sesar yang terdapat pada zona Serayu Utara dan Serayu Selatan. Di bagian Timur ditunjukkan oleh arah Sesar Pegunungan Kendeng yang berupa sesar naik. Dari data stratigrafi dan tektonik diketahui bahwa pola Meratus merupakan pola yang paling tua. Sesar-sesar yang termasuk dalam pola ini berumur Kapur sampai Paleosen dan tersebar dalam jalur Tinggian Karimun Jawa menerus melalui Karang Sambung hingga di daerah Cimandiri Jawa Barat. Sesar ini teraktifkan kembali oleh aktivitas tektonik yang lebih muda. Pola Sunda lebih muda dari pola Meratus. Data seismik menunjukkan Pola

38

Sunda telah mengaktifkan kembali sesar-sesar yang berpola Meratus pada Eosen Akhir hingga Oligosen Akhir. Pola Jawa menunjukkan pola termuda dan mengaktifkan kembali seluruh pola yang telah ada sebelumnya (Pulunggono, 1994). Data seismik menunjukkan bahwa pola sesar naik dengan arah barat-timur masih aktif hingga sekarang. Fakta lain yang harus dipahami ialah bahwa akibat dari pola struktur dan persebaran tersebut dihasilkan cekungan-cekungan dengan pola yang tertentu pula. Penampang stratigrafi yang diberikan oleh Kusumadinata, 1975 dalam Pulunggono, 1994 menunjukkan bahwa ada dua kelompok cekungan yaitu Cekungan Jawa Utara bagian barat dan Cekungan Jawa Utara bagian timur yang terpisahkan oleh tinggian Karimun Jawa. Kelompok cekungan Jawa Utara bagian barat mempunyai bentuk geometri memanjang relatif utara-selatan dengan batas cekungan berupa sesar-sesar dengan arah utara selatan dan timur-barat. Sedangkan cekungan yang terdapat di kelompok cekungan Jawa Utara Bagian Timur umumnya mempunyai geometri memanjang timur-barat dengan peran struktur yang berarah timur-barat lebih dominan. Pada Akhir Cretasius terbentuk zona penunjaman yang terbentuk di daerah Karangsambung menerus hingga Pegunungan Meratus di Kalimantan. Zona ini membentuk struktur kerangka struktur geologi yang berarah timurlaut-baratdaya. Kemudian selama tersier pola ini bergeser sehingga zona penunjaman ini berada di sebelah selatan Pulau Jawa. Pada pola ini struktur yang terbentuk berarah timur-barat. Tumbukkan antara lempeng Asia dengan lempeng Australia

menghasilkan gaya utama kompresi utara-selatan. Gaya ini membentuk pola sesar geser (oblique wrench fault) dengan arah baratlaut-tenggara, yang kurang lebih searah dengan pola pegunungan akhir Cretasisus.

39

Pada periode Pliosen-Pleistosen arah tegasan utama masih sama, utaraselatan. Aktifitas tektonik periode ini menghasillkan pola struktur naik dan lipatan dengan arah timur-barat yang dapat dikenali di Zona Kendeng. a. Volkanisme Posisi pulau Jawa dalam kerangka tektonik terletak pada batas aktif (zona penunjaman) sementara berdasarkan konfigurasi penunjamannya terletak pada jarak kedalaman 100 km di selatan hingga 400 km di utara zona Benioff. Konfigurasi memberikan empat pola busur atau jalur magmatisme, yang terbentuk sebagai formasi-formasibatuan beku dan volkanik. Empat jalur magmatisme tersebut menurut Soeria Atmadja dkk., 1991 adalah : 1. Jalur volkanisme Eosen hingga Miosen Tengah, terwujud sebagai Zona Pegunungan Selatan. 2. Jalur volkanisme Miosen Atas hingga Pliosen. Terletak di sebelah utara jalur Pegnungan Selatan. Berupa intrusi lava dan batuan beku. 3. Jalur volkanisme Kuarter Busur Samudera yang terdiri dari sederetan gunungapi aktif. 4. Jalur volkanisme Kuarter Busur Belakang, jalur ini ditempati oleh sejumlah gunungapi yang berumur Kuarter yang terletak di belakang busur volkanik aktif sekarang. b. Magmatisme Pra Tersier Batuan Pra-Tersier di pulau Jawa hanya tersingkap di Ciletuh, Karang Sambung dan Bayat. Dari ketiga tempat tersebut, batuan yang dapat dijumpai umumnya batuan beku dan batuan metamorf. Sementara itu, batuan yang menunjukkan aktifitas magmatisme terdiri atas batuan asal kerak samudra seperti, peridotite, gabbro, diabase, basalt toleit. Batuanbatuan ini sebagian telah menjadi batuan metamorf. c. Magmatisme Eosen Data-data yang menunjukkan adanya aktifitas magmatisme pada Eosen ialah adanya Formasi Jatibarang di bagian utara Jawa Barat, dike basaltik yang memotong Formasi Karang Sambung di daerah Kebumen Utara,
40

batuan berumur Eosen di Bayat dan lava bantal basaltik di sungai Grindulu Pacitan. Formasi Jatibarang merupakan batuan volkanik yang dapat dijumpai di setiap sumur pemboran. Ketebalan Formasi Jatibarang kurang lebih 1200 meter. Sementara di daerah Jawa Tengah dapat ditemui di Gunung Bujil yang berupa dike basaltik yang memotong Formasi Karang Sambung, di Bayat dapat ditemui di kompleks Perbukitan Jiwo berupa dike basaltik dan stok gabroik yang memotong sekis kristalin dan Formasi Gamping-Wungkal. d. Magmatisme Oligosen-Miosen Tengah Pulau Jawa terentuk oleh rangkaian gunungapi yang berumur OligosenMiosen Tengah dan Pliosen-Kuarter. Batuan penyusun terdiri atas batuan volkanik berupa breksi piroklastik,breksi laharik, lava, batupasir volkanik tufa yang terendapkan dalam lingkungan darat dan laut. Pembentukan deretan gunungapi berkaitan erat dengan penunjaman lempeng samudra Hindia pada akhir Paleogen. Menurut Van Bemmelen (1970) salah satu produk aktivitas volkanik saat itu adalah Formasi Andesit Tua. e. Magmatisme Miosen Atas-Pliosen Posisi jalus magmatisme pada periode ini berada di sebelah utara jalur magmatisme periode Oligosen-Miosen Tengah. Pada periode in aktivitas magmatisme tidak terekspresikan dalam bentuk munculnya gunungapi, tetapi berupa intrusi-intrusi seperti dike, sill dan volkanik neck. Batuannya berkomposisi andesitik. f. Magmatisme Kuarter Pada periode aktifitas kuarter ini magmatisme muncul sebagai kerucutkerucut gunungapi. Ada dua jalur rangkaian gunungapi yaitu : jalur utama terletak di tengah pulau Jawa atau pada jalur utama dan jalur belakang busur. Gunungapi pada jalur utama ersusun oleh batuan volkanik tipe toleitik, kalk alkali dan kalk alkali kaya potasium. Sedangkan batuan volkanik yan terletak di belakan busur utama berkomposisi shoshonitik dan ultra potasik dengan kandungan leusit.
41

g. Magmatisme Belakang Busur Gunung Ungaran merupakan magmatisme belakang busur yang terletak di Kota Ungaran, Jawa Tengah dengan ketinggian sekitar 2050 meter di atas permukaan laut. Secara geologis, Gunung Ungaran terletak di atas batuan yan tergabung dalam Formasi batuan tersier dalam Cekungan Serayu Utara di bagian barat dan Cekungan Kendeng di bagian utaratimur. Gunung Ungaran merupakan rangkaian paling utara dari deretan gunungapi (volcanic lineament) Gunung Merapi-Gunung MerbabuGunung Ungaran. Beberapa peneliti menyatakan bahwa fenomena itu berkaitan dengan adanya patahan besar yan berarah utara-selatan. Komposisi batuan yang terdapat di Gunung Ungaran cukup bervariasi, terdiri dari basal yang mengandung olivin, andesit piroksen, andesit hornblende dan dijumpai juga gabro. Pada perkembangannya, Gunung Ungaran mengalami dua kali pertumbuhan, mulanya menghasilkan batuan volkanik tipe basalt andesit pada kala Pleistosen Bawah. Perkembangan selanjutnya pada Kala Pleistosen Tengah berubah menjadi cenderung bersifat andesit untuk kemudian roboh. Pertumbuhan kedua mulai lagi pada Kala Pleistosen Atas dan Holosen yang menghasilkan Gunung Ungaran kedua dan ketiga. Saat ini Gunung Ungaran dalam kondisi dormant. 3.3.2 Tatanan Tektonik Daerah Ungaran Gunung Ungaran selama perkembangannya mengalami ambrolantektonik yang diakibatkan oleh pergeseran gaya berat karena dasarnya yang lemah (Gambar 2.3 dan 2.4). Gunung Ungaran tersebut memperlihatkan dua angkatan pertumbuhan yang dipisahkan oleh dua kali robohan (Zen dkk., 1983). Ungaran pertama menghasilkan batuan andesit di Kala Pliosen Bawah, di Pliosen Tengah hasilnya lebih bersifat andesit dan berakhir dengan robohan. Daur kedua mulai di Kala Pliosen Atas dan Holosen. Kegiatan tersebut menghasilkan daur ungaran kedua dan ketiga.

42

Struktur geologi daerah Ungaran dikontrol oleh struktur runtuhan (collapse structure) yang memanjang dari barat hingga tenggara dari Ungaran. Batuan volkanik penyusun pre-caldera dikontrol oleh sistem sesar yang berarah barat laut-barat daya dan tenggara-barat daya, sedangkan batuan volkanik penyusun post-caldera hanya terdapat sedikit struktur dimana struktur ini dikontrol oleh sistem sesar regional (Budiardjo et al. 1997).

Gambar 3.3 Blok diagram struktur volkano-tektonik Ungaran Tua (akhir Pleistosen). (Bemmelen,1943 vide Bemmelen, 1970 dengan perubahan)

43

Gambar 3.4 Peta Ungaran fault System dan antiklinorium utara Candi (Bemmelen, 1943 vide Bemmelen, 1970 dengan perubahan)

44

BAB IV DATA LAPANGAN

4.1 STA 1 Kaligarang (Analisis Kekar)

Batupasir Tuffan

Gambar 4.1 STA 1 Kaligarang, Ungaran

Waktu Tempat Cuaca Morfologi

: 18 Desember 2011 : Kaligarang, Ungaran, Semarang : cerah : Bentang alam fluvial dengan stadia dewasa

Struktur geologi : kekar Dimensi Litologi Pelapukan Vegetasi Potensi : 10m x 15m : batupasir tuffan dan konglomerat : sedang : tanaman liar : positif = tempat study mehasiswa geologi negatif = banjir Data kekar Kekar Gerus N 353o E / 44o N 190o E / 49o N 240o E / 55o N 267o E / 68o
45

N 346o E / 75o N 17o E / 81o N 42o E /74 o N 30o E / 69o N 229o E / 54o N 295o E / 63o N 77o E / 59o N 8o E / 77o N 357o E / 62o N 175o E / 67o N 47o E / 65o N 70o E / 62o N 181o E / 51o N 170o E / 71o N 82o E / 77o N 280o E / 80o N 282o E / 74o N 279o E / 78o N 174o E / 72o N 176o E / 69o N 84o E / 82o N 302o E / 46o N 178o E / 71o -. Kekar Tensional 1. N 170o E / 83o 2. N 333o E / 43o 3. N 359o E / 41o 4. N 188o E / 67o 5. N 189o E / 61o

N 8o E / 76o N 334o E / 81o N 342o E / 64o N 324o E / 59o N 6o E / 70o N 5o E / 42o N 347o E / 71o N 305o E / 75o N 58o E / 65o N 86o E / 71o N 294o E / 75o N 130o E / 70o N 150o E / 70o N 121o E / 73o N 350o E / 67o N 330o E / 77o N 161o E / 76o N 170o E / 87o N 275o E / 73o N 174o E /83o N 280o E / 74o N 132o E / 62o N 128o E / 72o

6. N 178o E / 81o 7. N 178o E / 68o 8. N 190o E / 75o 9. N 163o E / 73o 10. N 170o E / 75o
46

-.

Kekar Release 1. N 72o E / 66o 2. N 270o E / 76o 3. N 242o E / 80o 4. N 295o E / 71o 5. N 287o E / 67o 6. N 258o E / 40o 7. N 295o E / 64o 8. N 302o E / 76o 9. N 262o E / 81o 10. N 254o E / 85o

Deskripsi

: STA 1 yang berlokasi di sungai Kaligarang daerah Pundak payung ini memiliki morfologi bentang alam fluvial dengan stadia dewasa. Pada daerah ini terdapat suatu struktur geologi berupa kekar dengan dimensi 10 m x 15 m. Setelah di amati kekar yang ada berupa kekar gerus, kekar release, dan kekar tensional. Dan dalam praktikum lapangan kali ini praktikan melakukan analisis gaya pembentuk kekar pada daerah ini. Analisis gaya dilakukan dengan mengumpulkan data dari 25 pasang kekar gerus dan masing masing 10 untuk kekar release dan tensional. Dan litologi yang terdapat di STA 1 ini berupa batupasir tuffan (tuff kasar) dengan warna coklat.

24

4.2 STA 1 Pudakpayung (Analisis Sesar)


U

Gambar 4.2 STA 2 Sesar Pudak Payung, Semarang

Waktu Tempat Cuaca Morfologi

: 18 Desember 2011 : Pudak Payung, Semarang : cerah : Bentang alam fluvial dengan stadia muda : N 140o E / 45o : 65o ( metode Busur ) : N1450E / 63o N 157o E / 65o N 188o E / 66o N 175o E 67o N 172o E / 71o

Struktur geologi : mikro lipatan, sesar, kekar Data Lapangan : - Bidang sesar - Gores garis - Gash Fracture

- sayap kanan lipatan : N 294o E / 76o N 281o E / 70o N 265o E / 65o N 262o E / 65o N 296o E / 75o

- sayap kiri lipatan N 126o E / 60o N 123o E / 50o N 124o E / 38o N 123o E / 45o N 135o E / 45o

24

Dimensi Litologi Pelapukan Vegetasi Potensi

: 15m x 20m : breksi vulkanik, konglomerat : tinggi : tanaman liar : positif = tempat study mehasiswa geologi negatif = banjir

Deskripsi

: STA 2 ini berlokasi di sungai Pudak Payung dengan

morfologi bentang alam fluvial. Pada daerah ini terdapat struktur geologi berupa sesar yang di sekitarnya terdapat kekar dan mikro lipatan dimana sesar ini terbagi oleh sungai. Pada sesar ini terlihat adanya gouge sesar dan stiriasi / gores garis. Litologi yang terdapat di STA 1 ini berupa breksi vulkanik dan konglomerat.
Bidang Sesar Stiriasi

Mikro Lipatan

Gambar 4.3 a Bidang kekar, b Stiriasi, c Mikro Lipatan

c
23

BAB V PEMBAHASAN
5.1 Analisis Kekar Pada observasi pertama praktium lapangan kali ini berada di daerah Kaligarang, Ungaran, Kab. Semarang. Pada daerah ini terdapat morfologi berupa bentang alam fluvial dengan stadia sedang menuju dewasa. Hal ini Nampak dari litologi yang ada di lokasi pengamatan tersebut. Pada lokasi ini didominasi oleh litologi berupa konglomerat yang berukuran kerikil (2 mm 4 mm) sampai dengan bongkah (>256 mm) dan batupasir tuffan yang berukuran pasir sedang (1/4 mm mm) sampai dengan lanau (1/256 mm 1/16 mm). selain dari kenampakan litologi, stadia sungai juga dapat dilihat dari masih sedikitnya meander dan erosi lateral yang belum begitu besar. Litologi berupa batupasir tuffan dan konglomerat. Batu pasir tuffan ini kemungkinan berasal dari hasil erupsi letusan gunung api purba. Pelapukan yang terjadi di STA 1 ini relatif sedang dengan vegetasi sekitar berupa semak dan pohon bambu. Potensi positif daerah ini adalah study mahasiswa geologi dan potensi negatifnya adalah banjir. Pada daerah ini terdapat suatu struktur geologi berupa kekar dengan dimensi 10 m x 15 m. Setelah di amati kekar yang ada berupa kekar gerus, kekar release, dan kekar tensional. Kekar gerus merupakan rekahan pada batuan yang di sebabkan oleh tenaga endogen, bentuknya berupa kekar yang berpasangan. Sedangkan kekar release merupakan rekahan pada batuan yang tegak lurus dengan arah gaya dan kekar tensional merupakan rekahan pada batuan yang searah dengan arah gaya pembentuk kekar. Semua kekar ini menunjukan bahwa gaya endogen yang bekerja pada lokasi ini sangatlah kompleks. Pada singkapan ini terdapat banyak kekar, dan pada praktikum lapangan ini praktikan mengambil data 25 pasang kekar gerus, 10 kekar release dan 10 kekar tensional. Dan dari data data yang ada di analisis untuk mengetahui
24

arah gayanya. Analisis dilakukan pada stereo net dengan memasukkan data data kekar gerus dan di cari arah gayanya, dan di dapat 1 N 2730E/740, 2 N 780E/230, dan 3 N 1720E. Dan dari hasil perhitungan diperoleh arah gaya pembentuk kekar dari Barat ke Timur. Hasil yang didapat dari analasis di laboratorium menunjukan hasil yang sesuai dengan analisis di lapangan berdasarkan letak sudut lancip dalam kekar gerus. 5.2 Analisa Sesar STA 2 ini berlokasi di Pudakpayung, Kab. Semarang. Pada daerah ini terdapat morfologi berupa bentang alam fluvial dengan stadia sedang menuju dewasa, terlihat dari arus sungai yang masih cukup deras dan adanya meander. Litologi yang terdapat pada STA 2 ini berupa breksi vulkanik dan konglomerat yang berukuran kerikil (2 mm 4 mm) sampai dengan berangkal (64 mm - 256 mm), serta ada pula yang berukuran lebih halus, yaitu batupasir yang berukuran pasir sedang (1/4 mm mm) sampai dengan pasir halus (1/8 mm 1/4 mm). Jarak transportasi material pembentuk litologi ini dekat, dengan energi transportasi yang tinggi. Pada daerah ini terdapat suatu struktur geologi berupa sesar, dengan struktur penyerta berupa mikro lipatan dan kekar. Pada sesar terlihat adanya gores garis, gouge sesar berukuran lempung dan gash fracture. Litologi yang tersesarkan ini antara breksi dan konglomerat, serta sesar yang terjadi berupa sesar turun. Sesar yang terjadi pada tebing ini terbagi oleh sungai sehingga di seberang sungai juga masih dapat dilihat sesarnya. Pada seberang sesar di sebelah sungai terlihat adanya gores garis yang mengindikasikan sesar itu benar. Dari gores garisnya terdapat pitch sebesar 65o dan setelah dilakukan pengukuran strike/dip sesarnya adalah N 140o E / 45o serta gash fracturenya dari 5 pengukuran adalah N1450E / 63o,N 157o E / 65o, N 188o E / 66o, N 175o E 67o,N 172o E / 71o. Pada sesar yang terdapat gores garisnya juga terlihat adanya rembesan minyak, ini mungkin karena di daerah semarang juga berpotensi adanya minyak. Dan rembesan minyak yang keluar itu berasal dari

25

source rock yang tersesarkan dan minyak merembes keluar melalui rekahan yang terbentuk dalam waktu migrasi yang lumayan lama. Pada struktur sesar ini juga terdapat struktur penyerta berupa mikro lipatan breksi yang terbentuk dari hasil tenaga endogen yang menekan lapisan batuan sehingga terbentuk lipatan dan semakin kuat sehingga menyebabkan patahan.

26

BAB V ANALYSIS AND DISCUSSION


5.1 Joint Analysis In the first observation time praktium field is located in the area Kaligarang, Ungaran, Kab. Semarang. In this area there are landscapes of fluvial morphology of the stadia are heading up. It appears from the lithology of existing on-site observation. At this location is dominated by the lithology of the pebble-sized conglomerate (2 mm - 4 mm) to boulders (> 256 mm) and sand-sized sandstone tuff medium (1 / 4 mm - mm) to silt (1 / 256 mm - 1 / 16 mm). Apart from the appearance lithology, stadia can also be seen from the river is still at least meanders and lateral erosion that has not been so great. Lithology of sandstone and conglomerate tuffan. Tuff sandstone is probably derived from the eruption of ancient volcanic eruptions. Weathering that occurs at STA 1 is relatively moderate with vegetation such as bushes and trees around the bamboo. Positive potential of this area is the study of geology students and the potential downside is flooding. In this area there is a form of muscular geological structure with dimensions 10 m x 15 m. After observing that there is a stocky muscular Crush, muscular release, and muscular tensional. Stump Crush is a fissure in the rocks caused by endogenous energy, muscular shape of the pairs. While the muscular release is on the rocks fracture perpendicular to the direction of the force and muscular tensional fractures in the rock which is in the direction of forming the style of stout. All this shows that the muscular force acting on the endogenous location is very complex. At this outcrop there are a lot of stout, and in this field practicum I retrieve data pairs of stout Crush 25, 10 and 10 burly burly tensional release. And of data - data that is in the analysis to determine the direction of his style. Analyses were performed on a stereo net by entering the data - the data is stout Crush and looking for direction in his style, and can 1 2730E/740 N, N
27

780E/230 2, and 3 N 1720E. And the calculation results obtained from the direction of forming muscular style from West to East. The results obtained from the laboratory showed analyzing in accordance with the analysis results in the field based on the location of the acute angle in the muscular Crush. 5.2 Fault Analysis STA 2 is located in Pudakpayung, Kab. Semarang. In this area there are landscapes of fluvial morphology of the stadia are heading up, visible from the river that is still quite heavy and the presence of meanders. Lithology contained on the STA 2 is a volcanic breccia and conglomerate-sized gravel (2 mm - 4 mm) up to berangkal (64 mm - 256 mm), and some are more subtle measures, ie sand-sized sandstone which is (1 / 4 mm - mm) to fine sand (1 / 8 mm - 1 / 4 mm). Lithology-forming material transportation distance is close, with a high-energy transport. In this area there is a fault in the form of geological structure, with the accompanying form of micro-structure folds and muscular. At the fault lines seen any scratch, gouge and clay-sized fault fracture Gash. Lithology of these tersesarkan between breccia and conglomerate, as well as faults that occur in the form of fault down. Faults that occur on the cliff is divided by the river so well across the river can still be seen sesarnya. On the opposite side of the river visible faults in scratch lines that indicate the presence of faults is true. From scratch there is a pitch line of 65o and after measurements were taken strike / dip sesarnya is N 140o E / 45o and Gash fracturenya of 5 measurements was N1450E / 63o, 157o E N / 65o, 188o E N / 66o, 175o E 67o N, N E 172o / 71o. On the fault line also contained scratches visible presence of oil seeps, this may be due in Semarang area is also a potential presence of oil. And oil seepage coming out it comes from the source rock tersesarkan and oil seeping out through cracks formed in the migration of a fairly long time.

28

In this section the structure there are also accompanying the form of micro-structure folds breccias formed from the energy output that suppresses endogenous rock layers to form folds and the stronger the resulting fracture.

29

BAB VI KESIMPULAN
Dari hasil pembahasan dan data lapangan yang telah didapatkan, dapat disimpulkan: STA 1 berlokasi di Kaligarang, Ungaran, Kab. Semarang dengan morfologi fluvial stadia dewasa. Litologi terdapat konglomerat dan batupasir tuffan kasar. Terdapat kekar berpasangan, kekar tension, dan kekar release. 1 N 2730E/740, 2 N 780E/230, dan 3 N 1720E serta arah gaya pembentuk kekarnya adalah dari Barat ke Timur. STA 2 berlokasi di Pudakpayung, Ungaran, Kab. Semarang dengan morfologi fluvial stadia muda. Litologi terdapat breksi vulkanik dan konglomerat. Terdapat sesar, kekar, dan mikrolipatan. Dari gores garisnya terdapat pitch sebesar 65o dan setelah dilakukan pengukuran strike/dip sesarnya adalah N 140o E / 45o serta gash fracturenya dari 5 pengukuran adalah N1450E / 63o,N 157o E / 65o, N 188o E / 66o, N 175o E 67o,N 172o E / 71o. Gaya yang membentuk struktur geologi tidak hanya terdiri dari satu gaya saja tetapi banyak sekali gaya yang turut membentuknya.

30

DAFTAR PUSTAKA
http://ptbudie.wordpress.com/2009/01/25/21/ http://thejugul.wordpress.com/2011/03/08/sesar-turun-normal-fault/ http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://1.bp.blogspot.com/_fVSi23xndF8/ TP5QieVf54I/AAAAAAAAAVM/r2_bi27UHcM/s1600/fidshjls.jpg&imgrefur l=http://geologi-dokterbumi.blogspot.com/p/geologistruktur_12.html&usg=__vsPXwNF39OxaH72BrM8LxBQ1hg=&h=250&w=830&sz=45&hl=id&start=17&sig2=DoBlrQ ReS8pxoyEmctF7LA&zoom=1&tbnid=B2yaVpIn4rt9M:&tbnh=43&tbnw=144&ei=85_bTuDZN43qrQe_0aHUCA&prev=/search %3Fq%3Dstruktur%2Blipatan%26hl%3Did%26biw%3D1024%26bih%3D677 %26gbv%3D2%26tbm%3Disch&itbs=1 http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://i536.photobucket.com/albums/ff32 1/capullet/sesarrdankekar1.jpg&imgrefurl=http://thejugul.wordpress.com/2011/03/&usg=__sCurjzMF9E wq1jLsBjAc6WJqW4M=&h=600&w=800&sz=42&hl=id&start=8&sig2=ce5S ee7IO2bI1BkjUwEgvQ&zoom=1&tbnid=VjCCGw9YR6d3M:&tbnh=107&tbnw=143&ei=gZjbTt2ZKMntrAfIv5XWBw&prev=/search %3Fq%3Danalisis%2Bkekar%26hl%3Did%26sa%3DN%26biw%3D1024%26 bih%3D597%26gbv%3D2%26tbm%3Disch&itbs=1 Staff Asisten Geologi Struktur. 2011. Buku Panduan Praktikum Geologi Struktur. UNDIP: Semarang Sapiie, Benyamin & Harsolumakso, Agus. 2008. Prinsip Dasar Geologi Struktur. FTTB-ITB: Bandung

31