Anda di halaman 1dari 6

Retensi Urine

Diagnosa Medik Retensi urine Definisi o Retensi urin merupakan ketidakmampuan untuk melakukan urinasi meskipun terdapat keinginan atau dorongan terhadap hal tersebut.

Etiologi o Retensi urin dapat disebabkan oleh kecemasan, pembesaran prostat, kelainan patologi uretra, trauma, disfungsi neurogenik kandung kemih, dan beberapa keadaan lain.

Tanda-tanda klinis retensi: Ketidaknyamanan daerah pubis. Distensi VU Ketidak sanggupan unutk berkemih. Sering berkeih dalam VU yang sedikit (25 50 ml) Ketidak seimbangan jumlah urine yang dikelurakan dengan intakenya. Meningkatnya keresahan dan keinginan berkemih.

Pemeriksaan Fisik o Kaji kapan klien terakhir kali buang air kecil dan berapa banyak urin yang keluar. o Kaji adanya nyeri. o Perkusi pada area supra pubik, apakah menghasilkan bunyi pekak yang menunjukkan distensi kandung kemih.

Diagnosa Keperawatan o Retensi urin b.d ketidakmampuan kandung kemih untuk berkontraksi dengan adekuat. o Gangguan rasa nyaman: nyeri o Intoleransi aktivitas o Ansietas b.d krisis situasi

Intervensi Keperawatan o Retensi urin b.d ketidakmampuan kandung kemih untuk berkontraksi dengan adekuat.

Kriteria evaluasi

: - Berkemih dengan jumlah yang cukup

Tidak teraba distensi kandung kemih

Intervensi

Rasional

Dorong pasien utnuk berkemih tiap 2-4 jam dan bila tiba-tiba dirasakan. Tanyakan pasien tentang inkontinensia stres. Observasi aliran urin, perhatikan ukuran dan ketakutan. Awasi dan catat waktu dan jumlah tiap berkemih.. Perkusi/palpasi area suprapubik

Meminimalkan retensi urin distensi berlebihan pada kandung kemih. Tekanan ureteral tinggi menghambat pengosongan kandung kemih. Berguna untuk mengevaluasi obsrtuksi dan pilihan intervensi. Retensi urin meningkatkan tekanan dalam saluran perkemihan atas. Distensi kandung kemih dapat dirasakan diarea suprapubik.

Gangguan rasa nyaman: nyeri Kriteria evaluasi : - Menyatakan nyeri hilang/ terkontrol - Menunjukkan rileks, istirahat dan peningkatan aktivitas Intervensi dengan tepat Rasional

Kaji nyeri, perhatikan lokasi, intensitas nyeri. Plester selang drainase pada paha dan kateter pada abdomen. Pertahankan tirah baring bila diindikasikan. Berikan tindakan kenyamanan

Memberikan informasi untuk membantu dalam menetukan intervensi.

Mencegah penarikan kandung kemih dan erosi pertemuan penis-skrotal. Tirah baring mungkin diperlukan pada awal selama fase retensi akut. Meningktakan relaksasi dan mekanisme koping.

Dorong menggunakan rendam duduk, sabun hangat untuk perineum.

Meningkatkan relaksasi otot.

Intoleransi aktivitas Kriteria evaluasi : - Menunjukkan peningkatan toleransi terhadap aktivitas

yang dapat diukur dengan tidak adanya dispnea, kelemahan, tanda vital dalam rentang normal. Intervensi Rasional

Evaluasi respon klien terhadap aktivitas.

Menetapkan kemampuan/kebutuhan pasien dan memudahkan pilihan intervensi.

Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung selama fase akut sesuai indikasi.

Menurunkan stres dan rangsangan berlebihan, meningkatkan istirahat.

Jelaskna pentingnya istirahat dalam rencana pengobatan dan perlunya keseimbangan aktivitas dan istirahat.

Tirah baring dapat menurunkan kebutuhan metabolik, menghemat energi untuk penyembuhan. Pembatasan aktivitas ditentukan dengan respons individual pasien terhadap aktivitas dan perbaikan kegagalan pernapasan.

Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan. Berikan kemajuan peningkatan aktivitas selama fase penyembuhan.

4. Meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen.

Ansietas b.d krisis situasi

Kriteria evaluasi : - Mengakui dan mendiskusikan takut/masalah Menunjukkan rentang perasaan yang tepat dan penampilan wajah tampak rileks/istirahat

Intervensi

Rasional

Identifikasi persepsi pasien tentang ancaman yang ada dari situasi.

Mendefinisikan lingkup masalah individu dan mempengaruhi pilihan intervensi.

Observasi respon fisik,seperti gelisah, tanda vital, gerakan berulang.

Berguna dalam evaluasi derajat masalah khususnya bila dibandingkan dengan pernyataan verbal.

Dorong pasien/orang terdekat untuk mengakui dan menyatakan rasa takut.

Memberikan kesempatan untuk menerima masalah, memperjelas kenyataan takut dan menurunkan ansietas.

4. Identifikasi pencegahan keamanan yang diambil, seperti marah dan suplai oksigen. Diskusikan.

4. Memberikan kayakinan untuk membantu ansietas yang tak perlu.

Daftar Pustaka Brunner & Suddarth. (2002). Keperawatan medikal bedah. Jakarta: EGC. Doenges. M. E. (2000). Rencana asuhan keperawatan. Jakarta: EGC. Hudak, C. M & Barbara, M. G. (1997). Keperawatan kritis: pendekatan holist